Masalah-Masalah Seputar Wasiat (Al-Washiyyah)

 Masalah-Masalah Seputar Wasiat (Al-Washiyyah)


PENGERTIAN

Pengertiannya: Ia adalah janji untuk mengawasi sesuatu, atau berbuat kebajikan dengan hartanya setelah meninggal. Dengan pengertian seperti ini, ia memiliki dua jenis; Pertama, wasiat kepada orang yang akan membayarkan hutang, atau memberikan hak, atau mengawasi urusan anak-anak yang masih kecil sampai mereka baligh. Kedua, wasiat untuk melakukan al-Tasharruf terhadap sesuatu yang diwasiatkan. 


HUKUM

Hukumnya: Wasiat itu disyariatkan berdasarkan firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu." (Surat al-Maidah: 106) Dan firman-Nya, "(Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya." (Surat al-Nisa: 11) Dan berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Hak seorang Muslim yang memiliki sesuatu untuk diwasiatkannya, tidaklah ia tidur di dua malam, kecuali wasiatnya tertulis di dekatnya.”(1)

Wasiat itu wajib bagi orang yang memiliki hutang, atau ada titipan padanya, atau ada hak-hak yang dipegangnya dan dikhawatirkan jikalau ia meninggal maka harta orang lain dan hak-hak mereka akan hilang, kemudian ia akan ditanya mengenai hal itu pada Hari Kiamat. Sebagaimana wasiat disunnahkan bagi orang yang memiliki banyak harta, kemudian para ahli warisnya juga orang-orang kaya, untuk mewasiatkan sebagian hartanya; sepertiga atau kurang kepada para kerabatnya yang tidak masuk sebagai ahli waris, atau kepada Lembaga Sosial, berdasarkan riwayat bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Allah SWT berfirman, ‘Wahai anak Adam, dua hal yang tidak akan engkau dapatkan salah satu pun darinya; Aku menjadikan bagianmu dari hartamu setelah Aku mengambil nyawamu untuk menyucikanmu dan membersihkanmu; dan doa para hamba-Ku setelah berakhirnya ajalmu.”(2) 

Dan sabda Rasulullah Saw kepada Saad bin Abi Waqqash yang suatu kali bertanya kepadanya tentang wasiat, “Sepertiga… Sepertiga itu banyak. Jikalau engkau meninggalkan ahli warismu dalam kondisi kaya, itu lebik baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam kondisi miskin meminta-minta kepada orang lain.”(3) 


SYARAT-SYARAT

Syarat-syarat al-Washiyyah adalah sebagai berikut: 

a) Disyaratkan bagi orang yang diwasiatkan (al-Musha lahu) mengawasi sesuatu, adalah seseorang yang Muslim, berakal lagi Rasyid. Sebab jikalau selain itu, tidak ada jaminan, bisa jadi ia akan menyia-nyiakan sesuatu yang diwasiatkan kepadanya untuk diawasi; menunaikan hak atau menjaga anak-anak yang masih kecil. 

b) Disyaratkan bagi orang yang sakit, ia adalah orang yang berakal, Mumayyiz, dan pemilik dari sesuatu yang diwasiatkan. 

c) Disyaratkan untuk sesuatu yang diwasiatkan (al-Musha bihi) adalah sesuatu yang Mubah. Tidak disyaratkan wasiat untuk sesuatu yang diharamkan, seperti seseorang mewasiatkan untuk meratapinya setelah kematiannya, atau mewasiatkan hartanya agar diberikan ke Gereja atau untuk bidah yang dimakruhkan, atau untuk majelis senda gurau atau maksiat. 

d) Disyaratkan bagi orang yang diwasiatkan (al-Musha lahu) kepadanya sesuatu, untuk menerimanya. Jikalau ia menolaknya, maka wasiat itu batal, dan tidak ada haknya lagi. 


HUKUM-HUKUM

 Hukum-hukum al-Washiyyah, yaitu: 

a) Boleh bagi orang yang mewasiatkan sesuatu setelah kematiannya, untuk menarik kembali wasiatnya atau mengubahnya sesuai keinginanya, berdasarkan ucapan Umar radhiyallahu anhu, “Seseorang bisa mengubah wasiatnya sesuai keinginannya.”

b) Tidak boleh bagi seseorang yang memiliki ahli waris, untuk berwasiat lebih dari sepertiga hartanya, berdasarkan sabda Rasulullah Saw kepada Saad, yang suatu hari bertanya, “Apakah saya boleh bersedekah dengan dua pertiga hartaku?” Beliau menjawab, “Tidak.”  Ia berkata, “Setengah wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak.” Ia berkata, “Seperti?” Beliau menjawab, “Sepertiga… Sepertiga itu banyak. Jikalau engkau meninggalkan ahli warismu dalam kondisi kaya, itu lebik baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam kondisi miskin meminta-minta kepada orang lain.”(4)

c) Tidak boleh wasiat bagi ahli waris, walaupun itu sedikit, sampai seluruh Ahli Waris membolehkannya setelah kematian pihak yang mewasiatkan. Dan itu berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Allah SWT sudah memberikan hak kepada setiap yang berhak, sehingga tidak ada wasiat bagi ahli waris kecuali para ahli waris menginginkannya.”(5)

d) Jikalau sepertiga harta yang diwasiatkan tidak cukup untuk seluruh wasiat, maka dibagi secara merata ke bagian-bagian yang diwasiat, layaknya al-Muhashashah bagi para al-Ghurama’(Para pemberi piutang).

e) Wasiat tidak dilaksanakan kecuali setelah pelunasan hutang, berdasarkan riwayat Ali radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Saw membayarkan hutang setelah wasiat.”(6) Sebab, hutang itu wajib, dan wasiat itu kebajikan/ sunnah. Sesuatu yang wajib didahulukan dari sesuatu yang sunnah. 

f) Wasiat itu sah untuk sesuatu yang al-Majhul (tidak diketahui) atau sesuatu yang al-Ma’dum (sesuatu yang tidak ada). Sebab ia adalah sebuah kebajikan dan kebaikan. Jikalau ada, sungguh sebuah kebaikan. Jikalau tidak ada, tidak masalah. Misalnya, seseorang mewasiatkan hasil dombanya atau hasil pepohonannya. 

g) Boleh menerima wasiat ketika orang yang mewasiatkan (al-Mushi) masih hidup atau setelah kematiannya, sebagaimana orang yang diwasiatkan (al-Musha) boleh mengasingkan dirinya jikalau ia merasa khawatir hilangnya barang yang diwasiatkan, baik berupa harta atau hak atau anak-anak yatim.

h) Orang yang diwasiatkan sesuatu, maka ia tidak boleh melakukan al-Tasharruf untuk yang lainnya karena ketiadaan izin. Sebab dalam Syariat, tidak sah melakukan al-Tasharruf terhadap hak anak manusia tanpa izin mereka. 

i) Setelah wasiat dijalankan, kemudian ternyata si mayyit masih memiliki hutang, maka orang yang diwasiatkan tidak bertanggungjawab atas hutang tersebut. Sebab, ia sama sekali tidak mengetahuinya dan tidak sengaja melalaikannya, serta ia tidak pula mengabaikan apa yang dipercayakan kepadanya. 

j) Jikalau seseorang mewasiatkan sesuatu, kemudian yang diwasiatkan itu mengalami kerusakan, maka wasiat itu batal dan tidak ada keharusan baginya untuk melakukannya lagi di sisa hartanya yang lain. 

k) Jikalau seseorang berwasiat untuk salah seorang ahli waris, kemudian sebagian ahli waris tidak membolehkan dan sebagian lainnya membolehkan, maka wasiat itu dijalankan untuk bagian pihak ahli waris yang membolehkan dan tidak dijalankan untuk bagian pihak ahli waris yang tidak membolehkan, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Kecuali jikalau para ahli waris membolehkannya.”

l) Orang yang mengatakan dalam wasiatnya, “Saya berwasiat untuk anak-anak Fulan sejumlah ini dan ini…” Maka, pihak yang diwasiati (al-Musha) membaginya di antara mereka secara merata, baik laki-laki maupun perempuan, sebab kata “anak-anak” mencakup laki-laki dan perempuan, berdasarkan firman Allah SWT, “Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan.” (Surat al-Nisa: 11) Sebagaimana halnya jikalau ada yang mengatakan, “Saya berwasiat untuk Bani Fulan..” Maka, itu laki-laki saja, tidak perempuan. Dan orang yang mengatakan, “Saya berwasiat untuk Banat (anak-anak perempuan) Fulan segini…” Maka, itu para wanita saja. 

m) Orang yang menulis wasiat, kemudian tidak dipersaksikannya (tidak ada saksi), maka hukumnya boleh, selama tidak diketahui ia menarik kembali wasiatnya. Jikakau diketahui ia menarik kembali wasiatnya, maka wasiat itu batal dan tidak dijalankan. 


TATACARA PENULISAN WASIAT

Tatacara Penulisan al-Washiyyah

Setelah al-Basmallah dan memuji Allah SWT, “Inilah yang diwasiatkan oleh Fulan dan Fulan… Para saksinya mengetahui kesehatan akalnya dan kekokohan pemahamannya. Ia bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah saja yang tidak ada sekutu bagi-Nya, ia juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya. Kemudan ia bersaksi bahwa surga itu hak, neraka itu hak, Hari Kiamat itu akan terjadi dan tidak ada keraguannya, dan bersaksi bahwa Allah SWT akan membangkitkan semua yang ada di dalam kubur. Ia berwasiat kepada anaknya, keluarganya dan kerabatnya untuk bertakwa kepada Allah SWT dan menaati-Nya, menjalankan syariat-Nya dan menegakkan agama-Nya, serta meninggal dalam kondisi ber-Islam, sebagaimana ia berwasiat –semoga Allah SWT mengampunkannya dan mengasihinya, jikalau kematian yang ditetapkan oleh Allah SWT kepada sekalian makhluk-Nya menghampirinya, untuk berhati-hati dengan harta yang ditinggalkannya. Dimulai dengan pengurusan jenazahnya, pengafanannya dan penguburannya, kemudian melunasi hutang-hutangnya yang sesuai syariat dan berada dalam tanggungannya, serta ditetapkannya di hadapan para saksi, yaitu kepada Fulan… kemudian mengeluarkan sepertiga dari hartanya untuk Fulan… Kemudian yang tersisa, dibagikan kepada para ahli warisnya, mereka adalah Fulan dan Fulan, sesuai dengan kewajiban yang disyariatkan oleh Allah SWT. Ia mewasiatinya untuk melihat anak-anaknya yang masih kecil, mereka adalah Fulan dan Fulan, menjaga bagian warisan mereka sampai mencapai usia baligh dan berakal. Semuanya diwasiatkan kepadanya, dan diserahkan kepadanya sebagaimana disebutkan di atas, setelah pengawasan Allah SWT terhadapnya, berdasarkan pengetahuannya tentang agamanya, amanahnya, keadilannya, dan kecukupannya. Ia memberikan hak untuk menyandarkan mereka kepada siapa pun yang diinginkannya, dan menyerahkan mereka kepada siapapun yang disukainya . Orang yang diberikan wasiat tersebut menerimanya di Majelis wasiat dan di hadapan para saksi dengan penerimaan yang sesuai Syariat. Dan keduanya juga mempersaksikannya. Ditandatangani setelah diperiksa dan dibaca di tanggal ini… 


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (4/ 2), Muslim dalam al-Washiyyah (1, 4), al-Nasai (6/ 239), dan al-Imam Ahmad (2/ 80)

(2) Diriwayatkan oleh Abdullah bin Humaid dalam Musnadnya dengan sanad yang Shahih.

(3) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (2/ 103), Muslim dalam al-Washiyyah (5, 8, 9, 10), al-Turmudzi (2116), dan Abu Daud dalam al-Washaya (3)

(4) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (2/ 103), dan Muslim dalam Bab al-Washiyyah (5, 8, 9, 10)

(5) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (2120, 2121) dan dishahihkannya

(6) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi. Dalam pensanadannya ada yang dhaif. Ia mengomentarinya, “Ini diamalkan oleh para ulama.”

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.