Nishab Zakat Pertanian & Buah-Buahan Menurut Mazhab Syafii

Nishab Zakat Pertanian & Buah-Buahan Menurut Mazhab Syafii


(Nishab Zakat Pertanian & Buah-Buahan Menurut Mazhab Syafii, berdasarkan Kitab Matan Abi Syuja’)


( Pasal ) Nishab pertanian dan buah – buahan  adalah lima Wasaq,(1) yaitu seribu enam ratus liter Irak.(2) Jikalau lebih, maka perhitungan seperti itu. 

Detailnya : Jikalau disirami dengan air langit ( hujan ) atau air yang mengalir, maka zakatnya sepersepuluh. Jikalau di-ari dengan kincir ( mesin ) atau disiram, maka zakatnya setengah dari sepersepuluh.(3)


(Syarh Syeikh DR. Musthafa Dibb al-Bugha)


(1) Berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “ Jikalau tidak sampai lima Wasaq, maka tidak ada zakatnya “. Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 1340 ) dan Muslim ( 979 ). Riwayat Muslim ( 979 ), “ Biji – bijian dan Tamar tidak ada sedekahnya, sehingga mencapai lima Wasaq “.

Ibn Hibban menambahkan, “ Wasaq itu adalah enam puluh Sha’ “.  

  

(2) Sekarang kira – kira setara dengan timbangan 715 Kilogram. 

  

(3) Air yang mengalir : Maksudnya, air yang mengalir di permukaan bumi, berasal dari gunung atau sungai besar. 

Disiram : Maksudnya,  dikeluarkan dengan alat dari sumur dan selainnya.

Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 1412 ) dari Ibn Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, dari Nabi Saw bersabda, “ Jikalau disirami oleh air langit dan mata air, atau di-ari hujan, maka zakatnya sepersepuluh. Jikalau di-ari dengan kincir, maka zakatnya setengah dari sepersepuluh “. 

Diriwayatkan oleh Muslim ( 981 ) dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa dia mendengar Rasulullah Saw bersabda, “ Jikalau di-ari oleh sungai, awan dan hujan, maka zakatnya sepersepuluh. Jikalau di-ari dengan kincir, maka zakatnya setengah dari sepersepuluh “. Dalam riwayat Abu Daud ( 1596 ), “ Atau jikalau di-ari hujan, maka zakatnya sepersepuluh “.

Zakat tumbuh – tumbuhan dikeluarkan setelah anggur berubah menjadi kismis. Dan zakat pertanian ketika memanennya. Allah Swt berfirman, “ Dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya ( dengan disedekahkan kepada fakir miskin ) “. [ Al An’am : 141 ]