Sa’i: Syarat, Sunnah & Adab-Adabnya

Sa’i: Syarat, Sunnah & Adab-Adabnya


Sa’i adalah berjalan di antara Shafa dan Marwah, datang dan pergi, dengan niat ibadah kepada Allah SWT. Ia merupakan rukun Haji dan Umrah, berdasarkan firman Allah SWT, “Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah.” (Surat al-Baqarah: 158) Dan sabda Rasulullah Saw, “Bersailah, sebab Allah SWT mewajibkan Sai kepada kalian.”(1) Kemudian ada syarat-syaratnya, sunnah-sunnahnya, dan adab-adabnya. 


Syarat-Syarat Sai

1) Niat, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Amalan-amalan itu sesuai dengan niatnya.” Harus berniat ibadah dalam Sa’i tersebut, taat kepada-Nya dan menjalankan perintah-Nya.

2) Tertib (berurutan) antara Sai dan Tawaf, yaitu dengan mendahulukan Tawaf dari Sai.

3) Al-Muwalah (berurutan) dalam pelaksanaanya. Hanya saja untuk jarak waktu yang pendek, sama sekali tidak memudharatkan, apalagi karena darurat. 

4) Menyempurnakan bilangannya sebanyak tujuh kali. Jikalau kurang satu kali atau setengah kali, maka tidak mencukupi. Sebab hakikatnya itu tergantung dengan kesempurnaan hitungannya. 

5) Dilakukan setelah Tawaf yang benar, baik Tawaf itu bersifat wajib maupun bersifat sunnah. Hanya saja, utamanya dilakukan setelah Tawaf Wajib, seperti Tawaf Qudum, atau setelah rukun seperti Tawaf al-Ifadhah. 


Sunnah-Sunnah Sai

1) Al-Khabab, yaitu mempercepat jalan di antara dua tanda “dua Mil” berwarna hijau yang terdapat di antara dua sisi lembah, dahulu Hajar ibunya Ismail alaihassalam mempercepat langkah di tempat itu. Hukumnya sunnah bagi laki-laki yang memiliki kemampuan, tidak bagi orang-orang yang lemah dan para wanita.(2)

2) Wuquf di atas al-Shafa dan al-Marwa untuk berdoa di atas keduanya. 

3) Berdoa setiap kali berada di al-Shafa dan al-Marwah, setiap kali dari tujuh kali Sai

4) Mengucapkan “Allahu Akbar” setiap kali mendaki al-Shafa dan al-Marwa, setiap kali hitungan Sai. Selain itu, juga mengucapkan:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ, لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ, صَدَقَ وَعْدَهُ, وَنَصَرَ عَبْدَهُ, وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

“Tidak ada Tuhan melainkan Allah saja, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kuasa dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia mampu melakukan segala sesuatu. Tidak ada Tuhan melainkan Allah SWT semata, yang benar janji-Nya, yang menolong hamba-Nya, dan menghancurkan semua kelompok sendirian saja.”

5) Al-Muwalah (berurutan) antara Sai dengan Tawaf, tidak memisahkan di antara keduanya kecuali dengan udzur syar’i.


Adab-Adab Sai

1) Berangkat mengerjakannya dari pintu al-Shafa dengan membaca firman Allah SWT, “Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syiar agama Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sai di antara keduanya. Dan barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.” (Surat al-Baqarah: 158)

2) Orang yang ber-Sai dalam kondisi suci.

3) Melakukan Sai dengan berjalan jikalau ia mampu melakukannya tanpa ada kesulitan. 

4) Memperbanyak zikir,(3) dan berdoa, kemudian menyibukkan diri dengan keduanya, bukan dengan selainnya. 

5) Menundukkan pandangan dari orang-orang yang bukan Mahramnya, kemudian menahan lisannya dari segala dosa.

6) Tidak menyakiti seorang pun yang sedang ber-sai atau selain mereka dari orang-orang yang lewat, dengan cara apapun, baik dengan ucapan maupun perbuatan. 

7) Kemudian menghadirkan di dalam hari rasa hina kepada Allah SWT, rasa membutuhkan-Nya, dan rasa hajat kepada-Nya untuk menunjuki hatinya, menyucikan jiwanya, dan memperbaiki kondisinya. 


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (6/ 422), al-Syafii (372). Dan berkata dalam al-Fath, “Kedudukannya Hasan karena banyaknya jalur periwayatannya.”

(2) Diriwayatkan oleh al-Syafii bahwa Aisyah radhiyallahu anha melihat para wanita bersai dengan cepat, kemudian ia berkata, “Apakah kalian tidak mendapatkan teladan di antara kita? Bagi kalian tidak ada mempercepat jalan.”

(3) Berdasarkan riwayat al-Turmudzi dan dishahihkannya bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Melempar Jumrah, kemudian Sai di antara al-Shafa dan al-Marwa diadakan untuk menegakkan zikir kepada Allah SWT.”