Shalat-Shalat yang Difardhukan & Waktunya Menurut Mazhab Syafii

Shalat-Shalat yang Difardhukan & Waktunya Menurut Mazhab Syafii


(Shalat-Shalat yang Difardhukan & Waktunya Menurut Mazhab Syafii, berdasarkan Kitab Matan Abi Syuja’)


Shalat yang di-Fardhukan ada lima: (1)


Zhuhur: Awal waktunya adalah ketika Matahari tergelincir,(2) Akhirnya; jikalau bayangan segala sesuatu sama dengan bendanya setelah teduhnya tergelincir matahari.(3)


Ashar: Awal waktunya ketika bayangan lebih dari bendanya,(4) akhirnya: sesuai dengan pilihan(5) sampai bayangan benda dua kali panjangnya. Boleh mengerjakannya; sampai terbenam matahari.(6)


Maghrib: Waktunya hanya satu, yaitu ketika matahari terbenam. Kadarnya adalah kadar adzan, wudhu’, menutup aurat, iqamat dan shalat lima raka’at.(7)


Isya: Awal waktunya adalah apabila Syafaq merah hilang. Akhirnya sesuai dengan pilihan sampai sepertiga pertama malam. Boleh mengerjakannya; sampai terbit Fajar kedua.(8)


Shubuh: Awal waktunya adalah ketika terbitnya fajar kedua. Akhirnya sesuai dengan pilihan sampai hari terang. Boleh mengerjakannya sampai matahari terbit.(9)


(Syarh Syeikh Dr. Musthafa Dibb al-Bugha)

(1) Dasar pensyari’atan shalat: 

Ayat, di antaranya firman Allah Swt:

"Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." [Surat An-Nisa’: 103]


Hadits, di antaranya adalah Hadits Ibn Umar radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari (8) Muslim (16) dan selain keduanya, Rasulullah Saw bersabda: 

"Islam itu dibangun di atas lima perkara: Syahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan."


Dalam Hadits yang berbicara tentang Isra’ dikatakan:

"Allah mewajibkan kepada umatku lima puluh kali shalat… Saya kembali menghadap-Nya, maka Dia berfirman, ‘Shalat itu lima kali, akan tetapi pahalanya lima puluh kali shalat. Perkataan ini tidak akan Aku ganti lagi." [Riwayat Al-Bukhari (342) Muslim (163) dan selain keduanya]

  

(2) Hadits yang mengungkapkan kelima waktu shalat adalah Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim (614) dan selainnya, dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah Saw bahwa seseorang mendatanginya untuk bertanya tentang waktu shalat, akan tetapi beliau tidak menjawab apapun." Dia melanjutkan ceritanya, “Beliau melaksanakan shalat Fajar ketika fajar telah menampakkan sinar, sehingga sebagian orang hampir melihat sebagian lainnya. Kemudian beliau memerintahkannya (untuk adzan), maka beliau melaksanakan shalat Zhuhur ketika matahari tergelincir. Seseorang berkata, ‘Ini adalah pertengahan siang ‘; padahal beliau lebih mengetahui dari mereka. Kemudian memerintahkannya (untuk adzan), maka beliau melaksanakan shalat Ashar ketika matahari meninggi. Kemudian beliau memerintahkannya (untuk adzan), maka beliau melaksanakan shalat Maghrib ketika matahari terbenam. Kemudian beliau memerintahkannya (untuk adzan), maka beliau melaksanakan shalat Isya’ ketika Syafaq telah hilang."

 

Kemudian beliau mengakhirkan shalat Shubuh pada besok harinya, sehingga ketika beliau selesai; ada seseorang yang berkata, ‘Matahari telah terbit, atau hampir terbit.' Kemudian beliau mengakhirkan Zhuhur sampai dekat dengan waktu shalat Ashar yang kemarin. Kemudian beliau mengakhirkan, sehingga ketika beliau selesai; ada seseorang yang mengatakan, ‘Matahari telah merah.' Kemudian beliau mengakhirkan shalat Maghrib sampai waktu hilangnya Syafaq. Kemudian beliau mengakhirkan Isya’ sampai di awal sepertiga malam. Kemudian ketika berada di pagi hari, beliau memanggil orang yang bertanya dan berkata, “Waktunya di antara dua waktu ini."

 

Tergelincir : Maksudnya, condong dari tengah langit. 


Syafaq : Maksudnya, warna merah yang terlihat ketika matahari terbenam. 


Ada beberapa Hadits yang menjelaskan hal–hal global yang ada di dalam Hadits ini, atau menambahnya. Sebagaimana yang akan Anda saksikan. 

  

(3) Bayangan yang ada ketika tergelincir matahari.

  

(4) Seminimal–minimal kelebihan waktu; yang ketika itu diketahui masuknya waktu.

  

(5) Waktu yang dipilih; selama tidak mengakhirkan shalat.

  

(6) Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (554) dan Muslim (608) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Saw bersabda:

"Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat Shubuh sebelum matahari terbit, maka dia telah mendapatkan Shubuh. Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat Ashar sebelum matahari terbenam, maka dia telah mendapatkan Ashar." 

  

(7) Ini adalah Mazhab Jadid (baru) Imam Asy-Syai’I rahimahullah. Dalilnya adalah Hadits Jibril ‘alaihissalam yang diriwayatkan oleh Abu Daud (393) At-Turmudzi (149) dan selain keduanya, dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Di dalamnya disebutkan, bahwa Jibril ‘alaihissalam shalat Maghrib bersama Nabi Saw selama dua hari; ketika orang yang berpuasa sedang berbuka." Artinya, dalam satu waktu, yaitu setelah Maghrib.


Mazhab Qadim (lama) menyatakan, bahwa waktu Maghrib sampai dengan hilangnya Syafaq merah. Para ulama mazhab menguatkannya, karena dalil–dalilnya yang kuat. Seperti Hadits Muslim sebelumnya (catatan kaki ke-2 halaman 39) yang menceritakan kejadian di Medinah. Ini lebih kuat dari Hadits Jibril ‘alaihissalam yang terjadi di Mekkah, karena patokannya adalah kejadian yang terjadi terakhir kali. Di dalamnya disebutkan, “Kemudian beliau mengakhirkan Maghrib sampai hilangnya Syafaq." Rasulullah Saw bersabda, “Waktu shalat Maghrib, selama Syafaq belum hilang." [Diriwayatkan oleh Muslim (612)]

  

(8) Sesuai dengan riwayat Muslim (681) dan selainnya, dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Saw bersabda: 

"Ketahuilah, tidak ada kelalaian dalam tidur. Kelalaian itu adalah orang yang tidak shalat sampai datang waktu shalat yang lainnya." 


Hadits ini menunjukkan, bahwa waktu shalat tidak berakhir, kecuali dengan masuknya waktu shalat lainnya. Waktu Shubuh diluar dari keumuman ini dengan dalil (Lihatlah catatan kaki ke-1 halaman 39, serta catatan kaki ke-2 halaman 41). Tetap dengan waktunya. 


Fajar kedua: Sinarnya menyebar, membentang di sentero langit yang diiringi oleh cahaya. Berbeda dengan fajar pertama yang terbit memanjang, di atasnya ada sinar panjang seperti ekor srigala, dan diikuti oleh gelap.

  

(9) Lihatlah catatan kaki ke-1 halaman 39, dan catatan kaki ke-2 halaman 41.