Sikap Lemah & Malas Menurut Islam

Seorang muslim tidak lemah dan tidak pula malas. Tetapi, ia bertekad kuat dan bersemangat, bekerja dan rajin. Sebab, sikap lemah dan malas merupakan dua sikap yang tercela. Nabi Muhammad Saw berlindung dari keduanya. Seringkali beliau mengucapkan, “Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dari pengecut, kesombongan, dan kekikiran.”(1) Nabi Saw menasehati umatnya agar beramal dan bersemangat mengerjakannya, “Bersemangatlah untuk sesuatu yang bermanfaat bagimu, minta pertolongan Allah SWT dan jangan lemah. Jikalau sesuatu menimpamu, maka janganlah katakanlah, ‘Jikalau saya melakukan begini, maka pasti hasilnya akan begini.’ Tetapi, katakanlah, ‘Allah SWT yang menakdirkan. Apa yang diinginkan-Nya, maka akan dilakukan-Nya.’ Sebab, kata-kata ‘seandainya’ akan membuka pintu setan.”(2)


Karena itulah, seorang muslim tidak boleh terlihat lemah dan malas, sebagaimana ia tidak boleh terlihat pengecut dan kikir. Bagaimana mungkin seorang muslim akan meninggalkan amalannya, atau tidak bersemangat mengerjakan sesuatu yang akan memberikan manfaat baginya? Sebab, ia merupakan seorang yang mempercayai teori kausalitas dan sunnatullah di alam semesta ini. Bagaimana mungkin seorang muslim akan malas? Sebab, ia mengimani seruan Allah SWT untuk berlomba-lomba, “Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi." (Surat al-Hadid: 21) Dan menyuruhnya untuk berpacu dalam firman-Nya, “dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba." (Surat al-Muthaffifin: 26)


Seorang muslim tidak akan bersikap pengecut atau penakut. Sebab, ia meyakini Qadha Allah SWT, mengimani Qadar-Nya, dan mengetahui bahwa apa yang menimpanya bukanlah untuk membuatnya tersalah, kemudian kesalahan yang dilakukannya bukanlah untuk membuatnya tertimpa musibah. Tidak, sama sekali. Seorang muslim tidak berpangku tangan dalam mengerjakan amal shaleh, sebab ia mendengar seruan al-Quran, “Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menenerima pahala)nya." (Surat Ali Imran: 115) Dan firman-Nya, "Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya." (Surat al-Muzammil: 20)


Tanda-Tanda Lemah dan Malas

1. Seseorang mendengarkan panggilan azan untuk mengerjakan shalat, kemudian ia pura-pura sibuk untuk menyambut panggilan itu dengan tidur, berbicara, dan mengerjakan pekerjaan yang tidak penting, sehingga hampir saja waktu shalat berlalu. Kemudian ia bangkit dan mengerjakan shalat sendirian di akhir waktu shalat. 

2. Seseorang menghabiskan waktu sejam atau berjam-jam di café-café dan kursi-kursi santai, atau berkeliling di jalan-jalan dan pasar-pasar, padahal ia memiliki sejumlah pekerjaan yang harus diselesaikannya segera, namun ia tidak juga menyelesaikannya. 

3. Seseorang meninggalkan amalan bermanfaat seperti mempelajari ilmu atau menanami lahan atau membangun rumah atau membangun gedung dan berbagai amalan-amalan bermanfaat lainnya di dunia dan di akhirat, dengan alasan sudah tua atau tidak layak melakukannya, atau amalan tersebut membutuhkan waktu yang lapang dan masa yang panjang, kemudian ia membiarkan hari-hari dan tahun-tahun berlalu tanpa mengerjakan amalan bermanfaat di dunia dan di akhirat. 

4. Dibukakan baginya salah satu pintu kebajikan dan kebaikan, seperti kesempatan menunaikan ibadah haji, ia mampu melakukannya, namun ia tidak mau menunaikannya. Atau seperti ada orang yang membutuhkan, ia mampu membantunya, kemudian ia tidak membantunya. Atau seperti kesempatan masuknya bulan Ramadhan, ia tidak memanfaatkan malam-malamnya untuk Qiyam. Atau seperti keberadaan kedua orangtuanya yang sudah tua, atau salah satu dari keduanya, ia mampu berbakti kepada keduanya, menyambung silaturrahim dengan keduanya, atau berbuat kebaikan kepada keduanya, kemudian ia tidak berbakti kepada keduanya dan tidak juga berbuat baik karena tidak mau dan malas-malasan, atau karena pelit dan bakhil, atau durhaka. Kita berlindung kepada Allah SWT dari segala keburukan. 

5. Seseorang bermukim di negerinya dengan kondisi hina dan rendah, ia tidak berusaha merantau mencari negeri lainnya karena enggan dan malas-malasan, yaitu negeri yang disana ia bisa menjaga agamanya, memelihara kehormatannya dan kemuliaannya. 


Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, kami berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut dan kebakhilan, dan kami berlindung kepada-Mu dari segala akhlak yang tidak diridhai, amalan yang tidak bermanfaat. Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam. 


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (4/28), (8/98), Muslim (2079), dan al-Nasai (8/257, 258)

(2) Diriwayatkan oleh Muslim (34) dalam Kitab al-Qadar