Syarat-Syarat Shalat yang Perlu Diperhatikan Menurut Mazhab Syafii

Syarat-Syarat Shalat yang Perlu Diperhatikan Menurut Mazhab Syafii

(Syarat-Syarat Shalat yang Perlu Diperhatikan Menurut Mazhab Syafii, berdasarkan Kitab Matan Abi Syuja’)


( Pasal ) Syarat shalat sebelum mengerjakannya ada lima : Anggota – anggota badan suci dari hadats,(1) najis,(2) menutup aurat dengan pakaian yang suci,(3) berdiri di tempat yang suci,(4) mengetahui masuknya waktu,(5) menghadap kiblat.(6)
Boleh tidak menghadap kiblat dalam dua keadaan : Ketika rasa takut luar biasa,(7) dan ketika mengerjakan ibadah Sunnah dalam perjalanan di atas kenderaan.(8) 

(Syarh Dr. Musthafa Dibb al-Bugha)

(1) Hadast yang kecil dan besar. Sesuai dengan firman Allah Swt, “ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan ( basuh ) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah “. [ Al Maidah : 6 ] Lihatlah catatan kaki ke-1 halaman 20, dan catatan kaki ke-2 halaman 38. 
  
(2) Hal itu ditunjukkan oleh perintah Rasulullah Saw untuk membasuh najis, seperti sabdanya kepada Fathimah binti Abi Hubaisy Radhiyallahu ‘Anha, “ Jikalau haidh menghampirimu, maka tinggalkanlah shalat. Jikalau hitungan harinya sudah berlalu, maka basuhlah darahnya dan shalatlah “. Lihatlah catatan kaki ke-1 halaman 35. 
Dan Hadits ‘Ali Radhiyallahu ‘Anhu tentang membasuh Madzi. Lihatlah catatan kaki ke-1 halaman 31. 
di-Qiyasnya dengan kesucian pakaian yang diperintahkan oleh Allah Swt melalui firman-Nya, “ Dan pakaianmu sucikanlah “. [ Al Muddatsir : 5 ]
  
(3) Sesuai dengan firman Allah Swt, “ pakailah pakaianmu yang indah di setiap ( memasuki ) mesjid “. [ Al A’raaf : 31 ] Ibn ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata, “ Maksud pakaian disini adalah shalat “. [ Mughni Al Muhtaj : 1 / 184 ]
Diriwayatkan oleh At Turmudzi ( 377 ) dan di-Hasankannya, dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “ Rasulullah Saw bersabda, ‘ Shalat perempuan yang haidh tidak diterima, kecuali dengan Khimar “. Perempuan yang haidh adalah baligh. Khimar adalah sesuatu yang menutup 
haidh. Apakah yang harus saya lakukan ? “. Beliau menjawab, “ Jikalau engkau suci, maka kepala perempuan. Jikalau menutup kepala diwajibkan, maka menutup yang lainnya lebih utama. Hal ini ditunjukkan oleh Hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 365 ) dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “ Rasulullah Saw mengerjakan shalat Fajar, kemudian kaum mukminat ikut Tasyahud bersamanya. Mereka tertutup dengan pakaian mereka. Kemudian mereka kembali ke rumah masing – masing, tidak ada seorang-pun yang mengenali mereka “. 
Pakaian mereka menutupi seluruh badan. 
Dalilnya yang menunjukkan syarat suci adalah firman Allah Swt, “ Dan pakaianmu sucikanlah “. [ Al Muddatsir : 5 ] 
Diriwayatkan oleh Abu Daud ( 365 ) dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Khaulah binti Yasar mendatangi Nabi Saw dan berkata, “ Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki kecuali satu pakaian ; sedangkan saya dalam keadaan cucilah pakaian itu dan pakailah untuk shalat “. Dia berkata, “ Jikalau darahnya tidak keluar ? “. Beliau menjawab, “ Cukup bagimu membasuh darahnya, dan bekasnya tidak akan memudharatkanmu “. 
  
(4) Ini ditunjukkan oleh perintah Rasulullah Saw untuk menuangkan air ke tempat kencingnya orang Badui di Mesjid ( lihatlah catatan kaki ke-2 halaman 8 ), dan di-Qiyaskan dengan kesucian pakaian.
  
(5) Berdasarkan firman Allah Swt, “ Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang - orang yang beriman “. [ An Nisa’ : 103 ] Fardhu yang ditetapkan dengan waktu tertantu. Maka harus diketahui masuk waktunya. 
  
(6) Allah Swt berfirman, “ Sungguh kami ( sering ) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram “. [ Al Baqarah : 144 ]
Mukaku menengadah ke langit : Maksudnya, wajah berulang – ulang melihat dan memandang ke arah langit.  
Kami akan memalingkan kamu : Maksudnya, Kami akan mengarahkanmu. 
Kiblat : Yaitu, arah yang Anda tuju ketika shalat. 
Kamu sukai : Maksudnya, Anda senangi dan cintai. 
Palingkanlah mukamu : Artinya, hadapkanlah ke arah Mesjid. 
Haram : Artinya, tidak boleh menyakitinya dan menodainya.
Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 5897 ) dan Muslim ( 397 ) dalam Hadits tentang orang yang buruk shalatnya, bahwa Nabi Saw bersabda kepadanya, “ Jikalau engkau ingin mengerjakan shalat, maka sempurnakanlah wudhu’. Kemudian menghadaplah ke kiblat dan bertakbirlah “. ( Lihatlah catatan kaki ke-1 halaman 25 ) 
Maksud Mesjid Al Haram dalam ayat ini dan kiblat dalam Hadits adalah Ka’bah. 
Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 390 ) dan Muslim ( 525 ) dari Al Barra’ bin ‘Azib Radhiyallahu ‘Anhuma berkata, “ Dahulu Rasulullah shalat ke arah Baitul Maqdis sebanyak enam belas bulan atau tujuh belas bulan. Rasulullah Saw ingin menghadap ke arah Ka’bah, maka Allah Swt menurunkan, ‘ Sungguh kami ( sering ) melihat mukamu menengadah ke langit ‘. Kemudian beliau menghadap ke arah Ka’bah “. 
  
(7) Karena perang dan lainnya ; jikalau sebabnya Mubah. Sesuai dengan firman Allah Swt, “ Jika kamu dalam keadaan takut ( bahaya ), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan “. [ Al Baqarah : 239 ]
Jikalau kalian tidak mungkin shalat dengan sempurna, maka shalatlah sebisa kalian, baik dengan berjalan kaki atau berkenderaan. Ibn Umar Rdahiyallahu ‘Anhuma berkata, “ Baik menghadap kiblat maupun tidak “. Nafi’ berkata, “ Saya berpendapat ; Ibn Umar tidak akan mengucapkan hal itu, kecuali berasal dari Rasulullah Saw “. [ Al Bukhari : 4261 ]
  
(8) Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 391 ) dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “ Rasulullah Saw shalat di atas kenderaannya sesuai dengan arah menghadapnya kenderaan itu – dalam riwayat lainnya disebutkan : ke arah Timur. Jikalau beliau ingin menunaikan shalat Fardhu, maka beliau turun dan menghadap kiblat. Dalam riwayat lain ( 1045 ) dari Ibn Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, “ Beliau shalat dalam perjalanan…..”.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.