Tatacara Pembagian Ghanimah, Fa-i, Kharraj, Jizyah & Nafl

Tatacara Pembagian al-Ghanimah, al-Fai, al-Kharraj, al-Jizyah, dan anl-Nafl


Pembagian al-Ghanimah (Harta Rampasan Perang)

Al-Ghanimah adalah harta yang dimiliki di Dar al-Harb (Negeri Perang). Hukumnya, dijadikan lima bagian. Imam mengambil seperlimanya, kemudian menggunakannya(1) untuk kemaslahatan kaum Muslimin. Empat seperlima sisanya dibagikan kepada para personal pasukan yang terlibat dalam peperangan, baik terlibat dalam peran maupun tidak, berdasarkan ucapan Umar radhiyallahu anhu, “Al-Ghanimah bagi siapa yang menyaksikan peperangan.”(2) Pasukan yang  berkuda diberikan tiga saham, dan yang berjalan kaki diberikan satu saham. Allah SWT berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan." (Surat al-Anfal: 41)

[Peringatan] Semua pasukan diikutsertakan dalam al-Ghanimah yang didapatkan oleh Para Sariyah. Jikalau Imam mengutus Sariyyah dari pasukan, kemudian mereka mendapatkan al-Ghanimah, maka dibagikan kepada seluruh personal pasukan, tidak hanya untuk Sariyyah. 


Al-Fai

Al-Fai adalah harta yang ditinggalkan oleh orang-orang kafir dan orang-orang yang memerangi. Mereka pergi meninggalkannya sebelum diserang dan diperangi. Hukumnya, Imam menggunakannya untuk kemasalahan khusus dan kemaslahan umum kaum Muslimin, seperti seperlima dalam al-Ghanimah. Allah SWT berfirman, “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." (Surat al-Hasyr:7)


Al-Kharraj

Al-Kharraj adalah sesuatu yang ditetapkan untuk tanah-tanah yang kuasai oleh kaum Muslimin melalui perang. Ketika menguasainya, Imam diberikan pilihan antara membagikannya di antara para pasukan atau mewakafkannya kepada kaum Muslimin. Imam menetapkan kepada orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya al-Kharraj tahunan, baik kepada yang Muslim maupun kepada yang Dzimmi. Setelah dikumpulkan, digunakan untuk kemaslahatan kaum Muslimin secara umum, sebagaimana yang dilakukan oleh Umar radhiyallahu anhu ketika menaklukkan negeri Syam, Irak, dan Mesir (sebagaimana terdapat dalam al-Shahih). 

[Peringatan] Jikalau Imam berdamai dengan musuh dengan ketentuan mereka harus membayar al-Kharraj tertentu dari tanah mereka, kemudian setelahnya penduduk wilayah tersebut masuk Islam, maka al-Kharraj lansung menjadi gugur setelah mereka masuk Islam. Ini berbeda dengan negeri yang ditaklukkan dengan perang. Jikalau penduduknya masuk Islam setelahnya, maka mereka tetap dikenakan al-Kharraj di tanah tersebut. 


Al-Jizyah

Al-Jizyah adalah al-Dharibah al-Maliyah (Pajak Harta) yang diambil dari Ahli al-Dzimmah di akhir setiap Haul. Kadarnya, dari orang-orang yang negeri mereka ditaklukkan melalui perang adalah empat(3) dinar emas, atau empat puluh dirham perak. Al-Jizyah itu diambil dari para laki-laki yang sudah baligh, tidak dari anak-anak dan wanita. Hukumnya gugur dari orang fakir yang tidak berpunya, orang yang tidak mampu bekerja seperti orang yang sakit dan orang yang tua renta. Sedangkan untuk Ahli al-Shulh (yang berdamai), maka diambil sesuai dengan perjanjian yang dibuat dalam al-Shulh. Jikalau mereka masuk Islam, maka gugur semuanya. Al-Jizyah ini digunakan untuk kemaslahatan umum. Dasarnya adalah firman Allah SWT, “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk." (Surat al-Taubah: 29)


Al-Nafl

Al-Nafl adalah sesuatu yang diberikan oleh Imam kepada seseorang yang diminta untuk melakukan tugas perang (al-Muhimmah al-Harbiyah). Ia memberikan mereka tambahan saham dari al-Ghanimah setelah mengeluarkan seperlimanya. Hanya saja ketentuannya, al-Nafl ini tidak boleh lebih dari seperempat jika mereka diutus untuk bertugas setelah memasuki wilayah musuh. Kemudian al-Nafl tidak boleh lebih dari sepertiga jika diberikan setelah mereka kembali dari wilayah tersebut. Hal ini berdasarkan riwayat Habib bin Maslamah, “Saya menyaksikan Rasulullah Saw memberikan al-Nafl sebanyak seperempat di awal, dan sepertiga ketika kembali.”(4)


Catatan Kaki: 

(1) Pendapat yang menyatakan bahwa Imamlah yang menggunakannya adalah Mazhab Malik, kemudian dikuatkan oleh Syeikh al-Islam Ibn Taimiyah, begitu juga dengan Ibn Katsir –semoga Allah SWT merahmati mereka semuanya.

(2) Dipaparkan oleh al-Zulai’I dalam Nashb al-Rayah (3/ 408)

(3) Boleh menguranginya menjadi satu Dinar atau sepuluh dirham, sesuai dengan kondisi; kaya atau miskin. Dahulu, Rasulullah Saw mengambil dari penduduk Yaman sebanyak satu dinar, dan mengambil dari penduduk Syam sebanyak empat dinar.

(4) Diriwayatkan oleh Abu Daud (2750), dan Ibn Majah (2852)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.