Bagian-Bagian Warisan yang dijelaskan dalam Kitabullah Menurut Mazhab Syafii

 Bagian-Bagian Warisan yang dijelaskan dalam Kitabullah Menurut Mazhab Syafii


(Bagian-Bagian Warisan yang dijelaskan dalam Kitabullah Menurut Mazhab Syafii, berdasarkan Kitab Matan Abi Syuja’)


( Pasal ) Bagian yang disebutkan dalam Kitabullah ada enam(1)  : Setengah, seperempat, seperdelapan, dua pertiga, sepertiga dan seperenam. 


Setengah adalah bagian dari lima orang : Anak perempuan,(2) anak perempuan dari anak laki – laki,(3) saudara perempuan seibu sebapak,  saudara perempuan sebapak,(4) suami yang tidak memiliki anak.(5) 


Seperempat adalah bagian dua orang : Suami jikalau memiliki anak atau anak dari anak laki – laki, bagian seorang istri atau beberapa orang istri ketika tidak ada anak atau anak dari anak laki – laki.(6)


Seperdelapan : Bagian seorang istri atau beberapa orang istri jikalau memiliki anak atau anak dari anak laki – laki.(7)


Dua pertiga adalah bagian empat orang : Dua orang anak perempuan, dan dua orang anak perempuan dari anak laki – laki.(8) Dua orang saudara perempuan seibu sebapak, dan dua orang saudara perempuan sebapak.(9) 


Sepertiga adalah bagian dua orang : Ibu jikalau tidak dihalangi,(10) dua orang lebih saudara laki – laki dan saudara perempuan dari anak ibu.(11) 


Seperenam adalah bagian tujuh orang : Ibu jikalau ada anak atau anak dari anak laki – laki, atau dua orang lebih dari saudara laki – laki dan saudara perempuan.(12) Nenek ketika tidak ada ibu.(13) Anak perempuan dari anak laki – laki jikalau bersama anak perempuan lansung.(14) Saudara perempuan sebapak jikalau bersama saudara perempuan seibu sebapak.(15) Bapak jikalau bersama anak atau anak dari anak laki – laki.(16) Kakek jikalau tidak ada bapak.(17) Seorang anak ibu.(18) 


Nenek gugur karena ibu, dan kakek karena bapak.(19) Anak ibu ( saudara laki – laki seibu ) gugur karena empat orang : Anak, anak dari anak laki – laki, bapak dan kakek.(20) Saudara seibu sebapak gugur jikalau bersama tiga orang : Anak laki – laki, anak laki – laki dari anak laki – laki dan bapak. Anak bapak ( saudara laki – laki sebapak ) dengan tiga orang sebelumnya, serta saudara laki – laki seibu sebapak.(21)


(Syarh Syeikh DR. Musthafa Dibb al-Bugha)


(1) Disebutkan dalam Surat An Nisaa’ ayat 10, 11, 176. Masing – masing akan dibahas di bagian berikutnya.

  

(2) Berdasarkan firman Allah Swt, “ Jikalau dia ( anak perempuan ) sendirian, maka baginya setengah “.

  

(3) Qiyas dengan anak perempuan berdasarkan Ijma’.

  

(4) Berdasarkan firman Allah Swt, “ jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya “. Maksud saudara perempuan adalah seibu sebapak, atau sebapak saja. 

  

(5) Berdasarkan firman Allah Swt, “ Dan bagimu ( suami – suami ) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri - isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak “.  

  

(6) “ jika Isteri - isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau ( dan)  seduah dibayar hutangnya. para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak “. 

   

(7) “ jika kamu tidak mempunyai anak. jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan “. 

  

(8) Berdasarkan firman Allah Swt tentang anak – anak perempuan, “ Allah mensyari'atkan bagimu tentang ( pembagian pusaka untuk ) anak - anakmu. yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan “. 

Di-Qiyaskan anak – anak perempuan dari anak laki – laki dengan anak – anak perempuan. 

  

(9) Berdasarkan firman Allah Swt tentang saudara – saudara perempuan, “ tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal “.

  

(10) Menhalanginya menjadi seperenam. Allah Swt berfirman, “ jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga “.  

  

(11) Berdasarkan firman Allah Swt tentang mereka, “ tetapi jika Saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu “. 

  

(12) Berdasarkan firman Allah Swt, “ dan untuk dua orang ibu - bapa, bagi masing - masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak “. Dan firman-Nya, “ jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam “. 

  

(13) Berdasarkan Khabat Abu Daud ( 2895 ) dari Buraidah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Saw memberikan seperenam kepada nenek ; jikalau tidak ada ibu yang menghalanginya “. 

  

(14) Berdasarkan ketetapan Rasulullah Saw tentang hal ini. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 6355 ) dari Ibn Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu. 

  

(15) Qiyas dengan anak perempuan dari anak laki – laki jikalau bersama anak perempuan lansung. 

  

(16) Lihatlah catatan kaki ke 2

  

(17) Di-Qiyaskan dengan bapak berdasarkan Ijma’.

  

(18) Berdasarkan firman Allah Swt, “ jika seseorang mati, baik laki - laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak ( Kalalah ), tetapi mempunyai seorang saudara laki - laki ( seibu saja ) atau seorang saudara perempuan ( seibu saja ), maka bagi masing - masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta “. 

Kalalah adalah orang yang memiliki ahli waris dari asal, akan tetapi tidak memiliki cabang. Atau orang yang tidak memiliki ahli waris, baik dari asal maupun cabang. 

Saudara laki – laki atau saudara perempuan dari ibu. Ini adalah tafsiran para sahabat. 

  

(19) Karena orang yang dekat dengan mayit melalui perantara, maka keberadaannya menghalangi. 

  

(20) Karena pewarisannya adalah Kalalah, yaitu bagi orang yang tidak memiliki asal dan cabang ; sebagaimana Anda ketahui. Maka dia tidak mewarisi ; jikalau ada asal dan cabang. 

  

(21) Berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “ Apa yang tersisa, maka itu untuk laki – laki yang utama “. Yaitu, yang lebih terdekat. [ Lihatlah catatan kaki ke-1 ].

  

(22) Berdasarkan firman Allah Swt, “ Allah mensyari'atkan bagimu tentang ( pembagian pusaka untuk ) anak - anakmu. yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan “. 

Anak – anak : Mencakup anak – anak dan cucu – cucu

Dan firman Allah Swt, “ dan jika mereka ( ahli waris itu terdiri dari ) saudara - saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki - laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan “. 

Saudara – Saudara : Mencakup saudara – saudara kandung dan saudara – saudara sebapak. 

  

(23) Berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “ Untuk laki – laki yang paling dekat “. Karena pewarisan ‘Ashabah dengan saling tolong menolong. Sedangkan perempuan bukanlah Ahli Nushrah.

Empat orang yang membuat saudara – saudara perempuan mereka menjadi ‘Ashabah : Anak laki – laki, anak laki – laki dari anak laki – laki, saudara laki – laki seibu sebapak, dan saudara laki – laki sebapak.  

Empat orang yang mewarisi menghalangi saudara – saudara perempuan mereka. Mereka adalah : Paman – paman, anak laki – laki paman, anak laki – laki dari saudara laki – laki, dan ‘Asahabah dari tuan yang memerdekakan budak.  

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.