Barang Temuan (Luqathah) Menurut Mazhab Syafii

 Barang Temuan (Luqathah) Menurut Mazhab Syafii


(Barang Temuan (Luqathah) Menurut Mazhab Syafii, berdasarkan Kitab Matan Abi Syuja’)


( Pasal ) Jikalau seseorang mendapatkan Luqthah ( barang temuan ) di sebuah lapangan atau jalan, maka dia boleh mengambilnya atau membiarkannya. Mengambilnya lebih utama dari meninggalkannya ; jikalau dia adalah orang yang Tsiqah untuk memegangnya. 


Jikalau dia mengambilnya, maka dia harus mengetahui enam hal : Bejananya, kantongnya, talinya, jenisnya, jumlahnya dan timbangannya. 


Dia menjaganya dengan penjagaan standar. Jikalau dia ingin memilikinya, maka dia mengumumkannya selama setahun di pintu – pintu Mesjid dan di tempat mendapatkannya. Jikalau pemiliknya tidak ada, maka dia boleh memilikinya dengan syarat ; Tanggungan.(1)


Luqthah ada empat macam : 


Pertama : Tahan lama. Hukumnya seperti ini. 


Kedua : Tidak tahan, seperti makanan basah. Maka ini diberikan pilihan di antara memakannya dan menggantinya, atau menjualnya dan menjaga uang penjualannya. 


Ketiga : Bisa tahan lama dengan memakai obat / cara tertentu, seperti Ruthab ( kurma basah ). Maka dilakukan yang terbaik : Menjualnya dan menjaga harga penjualannya, atau mengeringkannya dan menjaganya. 


Keempat : Membutuhkan nafkah / biaya, seperti hewan. Ada dua macam :


Hewan yang tidak bisa menjaga dirinya. Maka orang ini diberi pilihan : Memakannya dan menanggung harganya, atau meninggalkannya dan berbuat baik dengan membiayainya, atau menjualnya dan menjaga harga penjualannya. 


Hewan yang mempu melindungi dirinya. Jikalau dia mendapatkannya di gurun, maka dia meninggalkannya. Jikalau dia mendapatkannya di pemukiman, maka dia diberi pilihan di antara tiga hal sebelumnya.(2)


(Syarh Syeikh DR. Musthafa Dibb al-Bugha)


(1) Dasar pen-Syari’atan Luqthah dan hukum – hukumnya adalah sejumlah Hadits. Di antaranya : Hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 2296 ) dan Muslim ( 1722 ) dari Zaid bin Khalid Al Jahany Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Saw di tanya tentang Luqthah : Emas atau perak ?. beliau menjawab, “ Kenalilah talinya dan kantongnya. Kemudian umumkanlah selama setahun. Jikalau engkau tidak tahu, maka belanjakannya. Dan itu menjadi titipan bagimu. Jikalau datang orang yang memintanya suatu hari, maka berikanlah kepadanya “. 


Dalam riwayat Al Bukhari ( 2294 ) dan Muslim ( 1732 ) dari Ubayy bin Ka’ab Radhiyallahu ‘Anhu : Beliau bersabda, “ Kenalilah jumlahnya, talinya dan bejananya. Jikalau datang pemiliknya, maka berikanlah. Jikalau tidak, maka nikmatilah “. 


Engkau tidak tahu : Maksudnya, pemiliknya. 


Maka belanjakannya : Maksudnya, milikilah atau pakailah. 

Dan itu : Maksudnya, harganya. 


Titipan : Maksudnya, tanggungan bagimu, seperti Wadi’ah. 

  

(2) Dalam Hadits Zaid bin Khalid Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa dia bertanya kepada Rasulullah Saw tentang unta yang tersesat ?. Maka beliau menjawab, “ Biarkanlah, karena tapalnya dan minumannya ada bersamanya. Biarkan ia meminum air dan memakan pepohonan sampai pemiliknya mendapatkannya “. Dia menanyakannya tentang domba, maka beliau menjawab, “ Ambillah, ia adalah milikmu, atau untuk saudaramu, atau untuk serigala “. 


Tapalnya dan minumannya ada bersamanya : Maksudnya, mampu melintasi gurun, sebagaimana ia mengisi lambungnya ( dengan air ) yang cukup untuk beberapa hari. 

Ia adalah untukmu : Maksudnya, engkau yang mengambilnya, atau orang lain yang akan mengambilnya, atau serigala yang akan memakannya. 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.