Masalah-Masalah Seputar Perlombaan & Memanah Menurut Mazhab Syafii

Masalah-Masalah Seputar Perlombaan & Memanah Menurut Mazhab Syafii


(Masalah-Masalah Seputar Perlombaan & Memanah Menurut Mazhab Syafii, berdasarkan Kitab Matan Abi Syuja’)


Boleh melakukan perlombaan dengan binatang ( untuk kenderaan perjalanan ) dan lomba memanah(1) : Jikalau jaraknya jelas,(2) dan sifat perlombaan memanahnya jelas.(3) 

‘Iwadh(4) dikeluarkan oleh salah seorang yang berlomba. Jikalau dia mendahului, maka dia mengambilnya kembali. Jikalau didahului, maka temannya-lah yang mengambil. Jikalau keduanya sama – sama mengeluarkan ‘Iwadh, maka ini tidak boleh(5) ; kecuali Muhallil ikut terlibat bersama keduanya.(6) Jikalau mendahului, maka dia mengambil ‘Iwadh.(7) Jikalau didahului, maka dia tidak berhutang. 


(Syarh Syeikh DR. Musthafa Dibb al-Bugha)


(1) Perlombaan adalah mendahului. Memanah adalah menembak. Orang – orang berlomba memanah untuk menampakkan keahlian memanah masing – masing mereka. 

Keduanya adalah Sunnah ; jikalau bertujuan untuk mempersiapkan diri berjihad. Jikalau tidak, maka hukumnya Mubah ; selama tidak bertujuan untuk hal – hal yang diharamkan, seperti merampok. Jikalau keinginannya seperti ini, maka keduanya diharamkan. Atau untuk berbangga – bangga diri dan sombong. 

Dasar pen-Syari’atan keduanya : 

Firman Allah Swt, “ Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi “. [ Al Anfaal : 60 ] Nabi Saw menafsirkan kekuatan dalam ayat ini dengan memanah. Beliau bersabda, “ Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, bahwa kekuatan itu adalah memanah. Ketahuilah, bahwa kekuatan itu adalah memanah “. [ Muslim : 1917 ]. 

Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 2743 ) dari Salamah bin Al Akwa’ Radhiyallahu ‘Anhu berkata : Nabi Saw melewati sekelompok Bani Aslam yang sedang berlomba memanah. Maka Nabi Saw bersabda, “ Panahlah wahai Bani Ismail, sesungguhnya bapak kalian adalah pemanah. Panahlah, dan saya bersama Bani Fulan “. Dia melanjutkan : Maka salah satu kelompok menahan diri, maka Rasulullah Saw bersabda, “ Kenapa kalian tidak memanah ? “. Mereka menjawab, “ Bagaimana kami memanah ; padahal engkau bersama mereka ? “. Maka Nabi Saw berkata, “ Panahlah, saya bersama kalian semuanya “. 

Sekelompok orang : Maksudnya, kumpulan laki – laki yang berjumlah tiga sampai sepuluh orang. 

Bani Aslam : Maksudnya, suatu kabilah yang terkenal. 

Ismail : Maksudnya, anak Ibrahim ‘Alaihissalam. Beliau adalah bapaknya orang – orang Arab. 

Menahan diri : Maksudnya, menahan diri untuk memanah. 

Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 410 ) dan Muslim ( 1870 ) dari Ibn ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Saw berpacu dengan kuda yang dikuruskan dari Hafya’ sampai ke Tsaniyyah Al Wada’. Dan berpacu dengan kuda yang tidak dikuruskan dari Tsaniyyah ke Mesjid Bani Ruzaiq. Abdullah bin ‘Umar adalah salah seorang yang ikut dalam pacuan ini. 

Dikuruskan : Maksudnya, digemukkan dulu, kemudian dikurangi makannya. Kemudian dimasukkan ke suatu tempat dan dipakaikan pakaian kudanya, sehingga banyak dagingnya dan mengering. Akhirnya, daging lembeknya akan hilang dan daging aslinya akan menguat, serta jalannya akan kuat. 

Hafya’ : Maksudnya, tempat di dekat Medinah. 

Ujungnya : Maksudnya, tujuannya dan akhir jarak perjalanan perlombaan. 

Tsaniyah Al Wada’ : Maksudnya, arti sebenarnya adalah jalan menuju gunung, atau di jalan di gunung itu sendiri. 

Perlombaan dan pertandingan itu boleh dengan syarat harta dengan syarat – syarat berikut ini. Ketika itu dinamakan Rihaan ( Untuk mendapatkan hadiah. Bukan taruhan judi, penrj ). Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya ( 3 / 160 ) dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa dirinya ditanya, “ Apakah kalian bertaruh pada masa Rasululullah Saw ? “. Dia menjawab, “ Ya, beliau mempertaruhkan kudanya yang dimakan Sabhah ( sebagai hadiah, penerj ) “. Maka orang – orang berlomba. Beliau tersenyum ( melihatnya ) dan membuatnya takjub. 

Beliau mempertaruhkan : Maksudnya, Rasulullah Saw. 

Sabhah : Maksudnya, kuda yang bagus jangkauan kaki depannya.   

Tersenyum : Maksudnya, tersenyum dan memperlihatkan kegembiraannya. 

Keduanya harus dilakukan untuk mendapatkan alat – alat perang, persiapan – persiapannya, serta apa yang bisa dimamfa’atkan untuk kepentingan perang tersebut. Berdasarkan Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud ( 2574 ) dan At Turmudzi ( 1700 ), serta selain keduanya, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata : Rasulullah Saw bersabda, “ Tidak ada pertandingan, kecuali untuk Khuff, atau Hafir, atau Nashl “. 

Pertandingan ; Maksudnya, harta yang disyaratkan dalam pertandingan. 

Khuff : Maksudnya, yang memiliki Khuff ( sepatu ), yaitu unta. 

Hafir : Maksudnya, yang memiliki kuku, yaitu kuda. 

Nashl : Maksudnya, jenis yang bisa membuat luka, seperti pedang, tombak, panah dan lain – lain. Maksudnya : Menggunakannya untuk memanah. 

Jadi Makna Hadits ini : Tidak boleh mengambil harta tersebut dengan Rihaan, kecuali dalam tiga perkara yang disebutkan. 

Bisa juga dengan alat – alat peperangan dan persiapannya. Semua yang seperti ini masuk ke dalam kategori ; sesuai dengan waktu dan tempat. 

Sedangkan barang – barang selain yang disebutkan, maka tidak boleh mengambilnya. Pertandingan tetap boleh dilakukan, tetapi tanpa disertai syarat harta. Juga disyaratkan : Tidak boleh menyakiti manusia atau menyiksa hewan. 

  

(2) Lihatlah Hadits Ibn ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhu dalam catatan kaki sebelumnya. 

  

(3) Seperti mengetahui sasaran, sifatnya dan cara menembaknya, serta lainnya. 

  

(4) Harta yang disyaratkan dalam perlombaan. 

  

(5) Karena keduanya berada dalam bahaya : Bisa beruntung dan bisa berhutang. Ini adalah perjudian dan tidak dibolehkan. Boleh dikeluarlah oleh salah seorang di antara keduanya karena ketiadaan bentuk perjudiaan yang disebutkan. 

‘Iwadh itu juga boleh disyaratkan oleh orang lain, selain keduanya. Seperti Imam yang mensyaratkan dari Baitul Mal, atau salah seorang pemimpin dari hartanya ; untuk orang yang menang di antara keduanya, atau salah seorang yang berlomba. 

  

(6) Maksudnya, orang ketiga yang menanggung keduanya dalam syarat – syarat perlombaan. Dinamakan Muhallil, karena ‘Aqad itu menjadi halal karena keberadaannya. Karena ketiadaan bentuk perjudiaan dengan bentuk yang disebutkan. 

  

(7) Harta yang disyaratkan dari keduanya ; jikalau dia mendahului keduanya. Jikalau dia mendahului bersama salah seorang di antara keduanya, maka dia mengambil harta yang disyaratkan dari lainnya. 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.