Masalah-Masalah Seputar Talak Menurut Mazhab Syafii

 Masalah-Masalah Seputar Talak Menurut Mazhab Syafii


(Masalah-Masalah Seputar Talak Menurut Mazhab Syafii, berdasarkan Kitab Matan Abi Syuja’)


( Pasal ) Laki – laki yang merdeka memiliki tiga buah Thalaq,(1) dan seorang budak laki – laki memiliki dua buah Thalaq.(2) 


Istitsna’ ( Pengecualian ) hukumnya sah dalam Thalaq ; jikalau itu memungkinkan.(3) Dan sah ; jikalau dikaitkan dengan sifat dan syarat.(4) 


Thalaq tidak bisa terjadi sebelum pernikahan.(5) Empat orang yang Thalaqnya tidak sah : Anak kecil, orang gila, orang tidur, dan orang yang dipaksa.(6) 


(Syarh Syeikh DR. Musthafa Dibb al-Bugha)

  

(1) Berdasarkan firman Allah Swt, “ Talak ( yang dapat dirujuki ) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik “. [ Al Baqarah : 229 ] Dan firman-Nya setelah itu, “ Kemudian jika si suami mentalaknya ( sesudah Talak yang kedua ), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain “. [ Al Baqarah : 230 ]

Diriwayatkan oleh Abu Daud ( 2195 ) dari Ibn ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata, “  Wanita - wanita yang ditalak hendaklah menahan diri ( menunggu ) tiga kali quru'. tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. dan suami - suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka ( para suami ) menghendaki ishlah “. [ Al Baqarah : 228 ] Dia melanjutkan : Dahulu jikalau seorang laki – laki men-Thalaq istrinya, maka dia lebih berhak merujuknya ; walaupun telah men-Thalaqnya sebanyak tiga kali. Maka hal itu di-Naskh dan berkata, “ Thalaq itu dua kali “. 


Quru’ : Maksudnya, jarak waktu yang ada di antara dua haidh. Dan dimutlakkan dengan masa haidh. 

  

(2) Diriwayatkan oleh Ad Dar Quthny ( 4 / 39 ) bahwa Rasulullah Saw bersabda, “ Thalaq seorang budak adalah dua kali “….

  

(3) Seperti seseorang yang mengatakan kepada istrinya, “ Engkau thalaq tiga, kurang dua “. Ini sah, dan jatuh Thalaq satu. Rasulullah Saw bersabda, “ Barangsiapa yang memerdekakan budak, atau men-Thalaq dan mengecualikannya, maka pengecualiannya itu berlaku baginya “. Ibn Atsir menyebutkannya dalam An Nihayah, di bagian Tsana. 

  

(4) Contoh mengaitkannya dengan sifat : Seseorang berkata kepada istrinya, “ Engkau di-Thalaq pada bulan ini, atau jikalau hujan turun “. Maka dia di-Thalaq ketika sifat itu terjadi. Contoh mengaitkannya dengan syarat : Seseorang berkata kepada istrinya, “ Jikalau engkau memasuki rumah, maka engkau di-Thalaq “. Maka dia di-Thalaq ketika memasukinya. Hal ini ditunjukkan oleh sabda Rasulullah Saw, “ Kaum muslimin terikat dengan syarat – syarat mereka “. [ Al Hakim : 2 / 49 ]

  

(5) Diriwayatkan oleh Abu Daud ( 2190 ) dan At Turmudzi ( 1181 ), kemudian berkata : Hasan Shahih, dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya Radhiyallahu ‘Anhu berkata : Rasulullah Saw bersabda, “ Tidak ada nadzar bagi anak adam untuk sesuatu yang tidak dimilikinya. Tidak ada pemerdekaan budak untuk sesuatu yang tidak dimilikinya. Tidak ada Thalaq untuk sesuatu yang tidak dimilikinya “. Maksudnya, untuk sesuatu yang tidak dikuasainya. Dan dia tidak memiliki kekuasaan kepada seorang perempuan sebelum menikahinya. Dalam riwayat Al Hakim ( 2 / 205 ), “ Tidak ada Thalaq sebelum nikah “. 

  

(6) Berdasarkan Hadits, “ Pena diangkat…”. [ Lihatlah catatan kaki ke-2 halaman 42 ]. 


Berdasarkan Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud ( 2193 ) dan selainnya, dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata : Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda, “ Tidak ada Thalaq dan pemerdekaan budak ketika ‘Ghalaq “. Abu Daud berkata, “ Berdasarkan dugaanku, Ghalaq adalah marah “. 


Dalam riwayat Ibn Majah ( 2046 ) dengan lafadz : Ighlaq, dan ditafsirkan dengan Ikrah ( pemaksaan ), karena orang yang dipaksa ditutup perkaranya dan pergerakannya.


Berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “ Sesungguhnya Allah mema’afkan kesalahan, lupa dan keterpaksaan dari umatku “. Diriwayatkan oleh Ibn Majah ( 2045 ), di-Shahihkan oleh Al Hakim dan Ibn Hibban dari Ibn ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma. Maksudnya, menggugurkan hukumannya dari kalian, serta konklusinya. Bukan perkara itu sendiri, karena ia telah terjadi.