Masalah Nafkah Menurut Mazhab Syafii

 Masalah Nafkah Menurut Mazhab Syafii


(Masalah Nafkah Menurut Mazhab Syafii, berdasarkan Kitab Matan Abi Syuja’)


( Pasal ) Nafkah kakek dan nenek wajib diberikan oleh ibu bapak(1) dan anak – anak(2) :


Wajib memberikan nafkah kepada kedua orang tua dengan dua syarat : Fakir dan krisis, atau fakir dan gila. 


Wajib memberikan nafkah kepada anak – anak dengan tiga syarat : Fakir dan masih kecil, atau fakir dan krisis, atau fakir dan gila. 


Wajib memberikan nafkah kepada budak dan binatang ternak. Mereka tidak boleh dibebani pekerjaan yang tidak mampu dikerjakannya.(3)


Wajib memberikan nafkah kepada istri yang telah menyerahkan dirinya,(4)dan ini ada kadarnya : 


Jikalau suami adalah orang yang lapang / mudah kehidupannya, maka ukurannya dua Mud sesuai dengan mayoritas makanan yang dikomsumsinya.(5) Wajib memberikan lauk dan pakaian sesuai dengan adat ( kebiasaan ). 


Jikalau dia adalah orang yang susah, maka ukurannya satu Mud sesuai dengan mayoritas makanan yang dikomsumsi oleh penduduk negeri, serta sesuai dengan lauk dan pakaian yang dipakai oleh orang – orang yang susah. 


Jikalau dia adalah orang sederha ( pertengahan ), maka ukurannya satu setengah Mud. Lauk dan pakaian juga diberikan dari ukuran pertengahan.(6)


Jikalau istrinya adalah salah seorang yang dilayani dengan semisalnya, maka suaminya wajib melayaninya.(7)


Jikalau suaminya tidak mampu menafkahinya, maka dia memiliki hak untuk mem-Faskh nikah.(8) Begitu juga jikalau dirinya tidak mampu memberikan mahar sebelum menggaulinya. 


(Syarh Syeikh DR. Musthafa Dibb al-Bugha)

  

(1) Berdasarkan firman Allah Swt tentang hak kedua orang tua, “ Dan pergaulilah keduanya dengan baik di dunia “. [ Luqman : 15 ]. Memberikan nafkah kepada keduanya adalah bagian dari kebaikan.


Rasulullah Saw bersabda, “ Di antara makanan paling baik yang dikomsumsi oleh seorang laki – laki adalah dari usahanya, dan anaknya dari usahanya “. Diriwayatkan oleh Abu Daud ( 3528 ) At Turmudzi ( 1358 ) dan lain – lain, dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha. Dari Abu Daud ( 3530 ), “ Engkau dan hartamu adalah milik bapakmu. Sesungguhnya anak – anak kalian adalah salah satu usaha paling baik kalian. Maka makanlah dari usaha anak – anak kalian “. 

Diriwayatkan oleh An Nasa-I ( 5 / 61 ) dari Thariq Al Muhariby Radhiyallahu ‘Anhu berkata : Saya mendatangi Medinah. Ternyata pada sa’at itu Rasulullah Saw sedang berdiri di atas mimbar dan berkhutbah di hadapan orang banyak seraya berkata, “ Tangan orang memberi yang berada di atas. Mulailah dengan orang yang dekat dari dirimu : Ibumu dan bapakmu, saudara perempuanmu dan saudara laki – lakimu, yang lebih dekat dan yang lebih dekat “. 


Diriwayatkan oleh Abu Daud ( 1540 ) dari Kulaib bin Mamfa’ah, dari kakeknya Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa dirinya mendatangi Rasulullah Saw dan bertanya : Wahai Rasulullah, kepada siapakah saya berbuat baik ? “. Beliau menjawab, “ Ibumu dan  bapakmu, saudara perempuanmu dan saudara laki – lakimu, keluargamu yang berikutnya. Hak wajib dan silaturrahim “. 

  

(2) Allah Swt berfirman, “ Para ibu hendaklah menyusukan anak - anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf “. [ Al Baqarah : 233 ] dan berfirman, “ Kemudian jika mereka menyusukan ( anak – anak )mu untukmu, maka berikanlah kepada mereka upahnya “. [ Ath Thalaq : 6 ] 

Dua ayat ini menunjukkan dengan Manthuq-nya ( lafadz Zhahirnya ) bahwa seorang bapak wajib menafkahi perempuan yang menyusui anaknya. Ini menunjukkan bahwa memberikan kepada anak lebih utama. 

Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 5049 ) dan Muslim ( 1714 ) dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, bahwa Hind binti Utbah berkata, “ Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan laki – laki yang pelit. Tidak memberikan kepadaku perbekalan yang mencukupi diriku dan anakku, kecuali jikalau saya mengambil ( hartanya ) ; sedangkan dia tidak mengetahuinya “. Maka beliau menjawab, “ Ambillah perbekalan yang akan mencukupi dirimu dan anakmu dengan Ma’ruf “. Artinya, sesuai dengan standar nafkah orang lain yang sesuai dengan diri kalian, sesuai dengan keadaan suami, tanpa berlebih – lebihan dan kekurangan.  

  

(3) Diriwayatkan oleh Muslim ( 1662 ) dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “ Budak berhak mendapatkan makanannya dan pakaiannya. Tidak dibebani pekerjaan, kecuali mampu dilakukannya “. 

Dalam riwayat lain ( 996 ), “ Cukuplah bagi seseorang mendapatkan dosa ; jikalau dirinya menahan orang yang dimilikinya mendapatkan makanannya “. 


Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 30 ) dan Muslim ( 1661 ) dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu : Rasulullah Saw bersabda, “ Saudara – saudara kalian adalah para pembantu kalian. Allah menjadikannya berada di bawah kekuasaan kalian. Barangsiapa yang saudaranya berada di bawah kekuasaannya, maka hendaklah dia memberi makan dari makanannya, memberinya pakaian dari pakaiannya, dan janganlah kalian membebani mereka sesuatu yang tidak mampu dikerjakannya. Jikalau kalian membebani mereka, maka bantulah mereka mengerjakannya “. 


Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 3295 ) dan Muslim ( 2242 ) dari Ibn Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “ Seorang perempuan disiksa karena seekor kucing yang dikurungnya sampai meninggal, kemudian masuk ke dalam Neraka. Dia tidak memberinya makan dan minum. Bahkan dia mengurungnya dan tidak membiarkannya makan dari serangga – serangga tanah “. Hadist ini menunjukkan tentang wajibnya memberikan nafkah kepada hewan yang dikurung. Apalagi jikalau dimiliki dan bekerja untuk berbagai kepentingan si pemilik. 

  

(4) Allah Swt berfirman, “ Kaum laki - laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka ( laki – laki ) atas sebahagian yang lain ( wanita ), dan karena mereka ( laki – laki ) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka “. [ An Nisaa’ : 34 ] Ayat ini menunjukkan, bahwa nafkah bertanggung jawab memberikan nafkah. 


Dalam Hadits panjang yang diriwayatkan oleh Muslim ( 1218 ) dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu dikatakan, “ Bertakwalah kalian kepada Allah dalam perkara para wanita. 

Sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanah Allah, dan kalian menghalalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah. Hak kalian kepada mereka : Janganlah mereka memasukkan seseorang yang kalian benci ke kasur kalian ( Maksudnya, berkhalwat dengan laki – laki lain, bukan zina. Penerj ). Jikalau mereka melakukan hal itu, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakiti. Haknya atas kepada kalian : Rezki mereka dan pakaian mereka dengan Ma’ruf. Saya telah meninggalkan untuk kalian sesuatu yang tidak akan menyebabkan kalian tersesat setelahnya ; jikalau kalian berpegang dengannya : Kitabullah “. 


Di antara bentuk Ma’ruf : Memberinya makan sesuai dengan standar makanan penduduk negeri, dan memberinya pakaian sesuai dengan standar pakaian mereka. [ Lihatlah catatan kaki ke-1 halaman 186 ]. 

  

(5) Maksudnya, mayoritas makanan yang dikomsumsi oleh orang – orang seperti dirinya. 

  

(6) Allah Swt berfirman, “ Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan “. [ Ath Thalaq : 7 ]


Diriwayatkan oleh Abu Daud ( 2144 ) dari Mu’awiyah Al Qusyairy Radhiyallahu ‘Anhu berkata : Saya mendatangi Rasulullah Saw dan berkata, “ Apa yang engkau katakan tentang istri – istri kami ? “. Beliau menjawab, “ Berilah mereka makanan dari makanan yang kalian makan. Berilah mereka pakaian dari pakaian yang kalian pakai. Janganlah kalian memukul mereka, dan janganlah mencela mereka “. 

‘Urf ( kebiasaan ) memiliki pengaruh besar dalam menentukan nafkah berdasarkan waktu, tempat dan keadaan. Semua ini ; jikalau dia tinggal bersama suaminya dan makan bersamanya. Jikalau keadaannya tidak seperti itu, maka gugurlah nafkahnya. [ Lihatlah catatan kaki ke-1 halaman 186, catatan kaki ke- 2 halaman 188 ]. 

  

(7) Jikalau dia memintanya, karena ini adalah bagian dari pergaulan yang baik. 

  

(8) Diriwayatkan oleh Ad Dar Quthny ( 3 / 297 ) dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Saw bersabda tentang seorang laki – laki yang tidak mendapatkan apapun yang akan dinafkahkan kepada istrinya, “ Dipisahkan di antara keduanya “.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.