Wakaf Menurut Mazhab Syafii

 Wakaf Menurut Mazhab Syafii


(Wakaf Menurut Mazhab Syafii, berdasarkan Kitab Mazhab Syafii)


( Pasal ) Hukum Waqaf itu boleh dengan tiga syarat : Bisa dimamfa’atkan dan barangnya tetap utuh, barang itu ada dan merupakan bagian yang tidak terpisah,(1) serta bukan termasuk dalam larangan.(2)


Syaratnya berada di tangan Waqif ( orang yang mewakafkan ) : Baik mendahulukannya, atau meng-akhirkannya, atau menyamakannya, atau melebihkannya.(3)


(Syarh Syeikh DR. Musthafa Dibb al-Bugha)


(1) Mauquf ‘Alaihi ( barang yang diwaqafkan ) atau bagiannya ada ketika di-Waqafkan, serta bukan merupakan sesuatu yang bagiannya terpisah ; kecuali ditentukan arah tertentu yang tidak terpisah. Sebagaimana seseorang ber-Waqaf kepada anak – anaknya, kemudian orang – orang fakir.  

  

(2) Maksudnya, diharamkan oleh Syara’.

  

(3) Dasarnya adalah Hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 2586 ) dan Muslim ( 1632 ) dari Ibn Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa Umar bin Al Khattab Radhiyallahu ‘Anhu mendapatkan tanah di Khaibar. Kemudian dia mendatangi Nabi Saw untuk meminta pendapatnya. Dia berkata, “ Wahai Rasulullah, saya mendapatkan tanah di Khaibar. Saya belum pernah mendapatkan harta yang lebih berharga darinya sekalipun. Apa yang engkau perintahkan kepadaku tentang hal ini ? “. Beliau menjawab, “ Jikalau engkau ingin, maka engkau dapat menahan asalnya dan menyedekahkannya “. Dia melanjutkan : Kemudian Umar menyedekahnya ; Bahwa tanah itu tidak dijual, tidak hibahkan dan tidak diwariskan. Disedekahkan kepada orang – orang fakir, karib kerabat, budak yang memerdekakan diri, di jalan Allah, Ibn Sabil dan tamu. Orang yang mengurusnya tidak berdosa ; jikalau memakannya dengan Ma’ruf dan memberi makan ( orang lain ), bukan untuk di-uangkan “. 


Mendapatkan : Maksudnya, mengambilnya dan menjadi miliknya ketika dibagi, yaitu ketika Khaibar di taklukkan dan tanahnya dibagi. 


Engkau dapat menahan : Maksudnya, me-Waqafkan.

Menyedekahkannya : Maksudnya, buah – buahannya dan hasilnya. 


Bukan untuk di-uangkan : Maksudnya, bukan untuk dijadikan harta. 


Islam memotivasi untuk ber-Waqaf. Hal ini ditunjukkan oleh Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim ( 1631 ) dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “ Jikalau seorang manusia meninggal, maka terputuslah amalannya ; kecuali tiga perkara : Sedekah Jariyyah, atau ilmu yang bermamfa’at, atau anak shaleh yang mendo’akannya “. Para ulama menafsirkan sedekah Jariyyah dengan Waqaf. 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.