Wakalah (Wakil) dalam Jual-Beli Menurut Mazhab Syafii

 Wakalah (Wakil) dalam Jual-Beli Menurut Mazhab Syafii


(Wakalah (Wakil) dalam Jual-Beli Menurut Mazhab Syafii, berdasarkan Kitab Matan Abi Syuja’)


( Pasal ) Segala sesuatu yang boleh dipakai oleh seseorang, maka boleh mewakilkannya atau mewakilinya.(1)

Wikalah adalah ‘Aqad Ja-iz.(2) masing – masing keduanya boleh membatalkannya ; jikalau ingin. Wikalah ini menjadi batal dengan meninggalnya salah seorang di antara merekaa. Wakiil dipercayai dengan apa yang dipegangnya dan dipakainya. Tidak ada baginya tanggungun, kecuali karena kezhaliman.

Tidak boleh menjual dan membeli, kecuali dengan tiga syarat : Menjual dengan harga standar, menggunakan  mata uang setempat, dan tidak menjual untuk kepentingan dirinya sendiri. Tidak boleh menetapkan kepada Muwakkil-nya, kecuali dengan idzinnya. 


(Syarh Syeikh DR. Musthafa Dibb al-Bugha)


(1) Hal itu ditunjukkan oleh banyak Hadits : Di antaranya tentang pembayaran hutang. Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 2182 ) dan Muslim ( 1601 ) dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “ Seorang laki – laki menghutangkan seekor unta dengan umur tertentu kepada Nabi Saw. Maka dia datang untuk memintanya. Beliau berkata, ‘ Berikanlah kepadanya ‘. Orang – orang mencari umur semisalnya, akan tetapi tidak mendapatkan kecuali unta yang umurnya lebih tua. Beliau berkata, “ Berikanlah kepadanya “. Dia berkata, “ Engkau melunasinya kepadaku. Mudah – mudahan Allah memenuhi kebutuhanmu “. Nabi Saw bersabda, “ Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik pembayarannya “. 

Tentang pembeliaan : Diriwayatkan oleh At Turmudzi ( 1258 ) dengan Sanad Shahih, dari ‘Urwah Al Bariqy Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “ Rasulullah Saw memberikan kepadaku satu Dinar untuk membeli seekor domba. Maka saya membeli dua ekor domba, dan menjual salah satunya dengan harga satu Dinar. Kemudian saya menyebutkan perkara itu, dan beliau berkata, “ Mudah – mudahan Allah memberkati perjanjian jual belimu “.

Tentang pernikahan : Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 2186 ) dan Muslim ( 1425 ) dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “ Seorang perempuan mendatangi Rasulullah Saw dan berkata, ‘ Wahai Rasulullah, saya menyerahkan urusanku kepadamu “. Seorang laki – laki berkata, “ Nikahkanlah diriku dengan dirinya “. Beliau berkata, “ Saya telah menikahkankanmu dengan dirinya, dengan Al Quran yang engkau miliki “. 

Menyerahkan urusanku kepadamu : Maksudnya, engkau menikahiku atau menikahkanku. 

Engkau miliki : Maksudnya, mengajarkan apa yang engkau hafal kepadanya, dan itu menjadi mahar baginya.    

  

(2) Tidak harus dilanjutkan oleh Wakiil dan Muwakkal.