Hilangnya Kemudahan (Taufik) Allah SWT

 Suatu hari, seseorang bertanya kepada Abdullah bin al-Mubarak, "Nasehatilah aku." 


"Dengarkan," katanya

"Tinggalkanlah pandangan yang tidak penting, maka Anda akan dimudahkan untuk Khusyu'. Tinggalkanlah ucapan yang tidak penting, maka Anda akan dimudahkan untuk mendapatkan hikmah. Tinggalkanlah makan berlebih-lebihan, maka Anda akan dimudahkan untuk ibadah. Tinggalkan sikap suka mencari-cari kesalahan orang lain (al-Tajassus), maka Anda akan dimudahkan untuk melihat aib-aib Anda sendiri." 


Sekarang, kita bisa memahami pangkal masalah kita selama ini. 


Pertama, Hilangnya khusyu' dalam ibadah

Mungkin shalat yang kita kerjakan, sejak Takbiratul Ihram sampai Salam, seakan-akan tipis ruhiyyahnya dan kenikmatannya (jikalau bisa dibilang tidak ada). Mungkin, pangkal masalahnya adalah pandangan kita yang "jalang", tiada Ghadd al-Bashar. Ya Allah, ampunilah kami.


Kedua, Bicara tiada hikmah

Seringkali, kita sudah berbicara panjang-lebar; memberi nasehat, berkhutbah, dan bertabligh, namun seakan-akan masuk di telinga kanan dan keluar di telinga kiri, tidak ada bekasnya sama sekali. Mungkin, pangkalnya adalah seringnya berkata atau berbicara yang tidak penting sama sekali, sehingga hikmah hilang dari hati. 


Ketiga, Susah beribadah

Alarm sudah dipasang untuk bangun malam, namun tetap sulit untuk Qiyam; Dhuha sudah ditekadkan, namun tetap saja terlewat dan ditunda-tunda sampai waktu berlalu tanpa ada yang sempat dikerjakan. 

Mungkin, masalahnya ada di makan kita yang tidak terkontrol, puasa jarang, hati pun menjadi keras dan kasar. Ya Allah, ampunilah kami. 


Keempat, Tidak Kenal Aib Diri

Penyakit al-Kibr (sombong) dan merasa hebat, berpangkal dari ketidaksadaran terhadap aib diri. Dan ketidaksadaran akan aib diri karena terlalu sibuk dengan aib orang lain. Kita merasa lebih baik, padahal di hadapan Allah SWT kita jauh lebih buruk. 


Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami. []

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.