Keahlian Berfatwa

Masyarakat Umum, kadang tidak peduli dengan spesialisasi ilmu. Utamanya dalam masalah agama. Bagi mereka, jikalau ada Ustadz atau Dai yang Vokal, itu sudah layak dijadikan Mufti. Maka, apapun masalah keagamaan yang mereka alami, maka mereka tujukan pertanyaan itu kepadanya. 


Buruknya lagi, Ustadz atau Dai ini juga Maghrur; tertipu dengan dirinya sendiri. Ia menjawab semua yang ditanyakan kepadanya, walaupun ia sendiri tidak Ahli atau bukan keahliannya.


"Semoga Allah SWT merahmati seseorang yang tahu kadar dirinya," kata Umar bin al-Khattab. 


Abu al-Farj Ibn al-Jauzi, sebagaimana dinukil oleh Ibn al-Qayyim menjelaskan, harusnya pemerintah sebagai Ulil Amri melarang orang-orang yang asal berikan fatwa padahal bukan ahlinya dan tidak memiliki keahlian melakukannya. 


Bagaimana seseorang akan menjadi penunjuk jalan, kalau ia sendiri tidak tahu jalan. Bagaimana seseorang akan mengobati, kalau ia sendiri tidak tahu masalah pengobatan. 


Ibn Taimiyah termasuk keras terhadap orang-orang seperti ini. 

"Apakah Anda ingin menjadi pengawas Fatwa," dikatakan kepadanya suatu hari. 

"Jikalau pembuat roti saja ada pengawasnya, tukang masak saja ada pengawasnya, masa' fatwa tidak ada pengawasnya?!" 


Ada tiga orang yang wajib diboikot dalam pandangan Abu Hanifah, salah satunya adalah Mufti yang bermain-main dalam fatwanya. 


Gurunya Imam Malik; Rabiah bin Abu Abdurrahman suatu hari menangis. 

"Apa yang membuat Anda menangis?" 

"Orang yang tidak berilmu diminta fatwanya," jawabnya. 

"Padahal," katanya lebih lanjut "sekarang banyak muncul masalah besar dalam Islam. Disini, ada sejumlah orang yang berfatwa, lebih layak dipenjara dari pencuri."[]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.