Kenikmatan Kontribusi

Kenikmatan Kontribusi


Ketika kita kecil, kita merasa bahwa bahagia itu ketika diberi. Namun ketika dewasa, barulah kita sadar bahwa kebahagiaan itu kita memberi. Ketika kita kecil kita menyangka bahwa memberi itu dengan uang. 

Ketika kita dewasa, kita sadar bahwa memberi yang hakiki itu adalah memberikan motivasi, pandangan, metode, dukungan. Dan inilah yang dipersembahkan oleh para Nabi sepanjang sejarahnya. 

Jikalau Anda belum merasakan kenikmatan memberi dan membantu orang lain, kenikmatan memotivasi, maka berusahalah untuk merasakan kenikmatan ini. Ini adalah kenikmatannya orang DEWASA. 

Kita berdiri membela orang yang dizalimi. Kita berdiri membela yang lemah. Kita memotivasi untuk sukses. Kita memotivasi untuk melakukan kebaikan. Inilah kebahagiaannya orang-orang DEWASA. Dan seninya orang-orang DEWASA. 

Denis Arifandi Pakih Sati
Dari ceramah DR. Abdul Karim Bakkar
Amanah Majelis

Amanah Majelis


Nabi Muhammad Saw bersabda: 

إِذا حدث الرجل حَدِيثا فَالْتَفت، فَهُوَ أَمَانَة

"Jikalau seseorang menyampaikan sesuatu, kemudian ia melirik, maka itu adalah amanah." 

(HR Abu Daud)

Makhul menjelaskan, sebagaimana dikutip Imam al-Baghawi dalam Syarh al-Sunnah, melirik disini untuk melihat ke kiri dan kanan tentang ada tidaknya yang mendengar. Jikalau itu dilakukan, maka pembicaraan tadi adalah amanah. Tidak halal menyebarkannya. 

Dalam riwayat lainnya juga dijelaskan: 

الْمجَالِس أَمَانَة، وإفشاؤها خِيَانَة

"Majelis itu amanah, dan menyebarkannya khianat." 

Maksudnya, apa yang disampaikan dalam Majelis, yang memang ditegaskan untuk tidak disampaikan keluar Majelis. 


Denis Arifandi Pakih Sati

@dapakihsati

Jangan Rendahkan Fakir

Jangan Rendahkan Fakir


Ada Syair Zaman Jahiliyah berucap


Laa Tahin al-Faqir

Jangan menghina (merendahkan) orang fakir


'Allaka Tarka' Yauman

Bisa jadi suatu hari Anda merendahkan diri


Wa al-Dahr Yarfa'ahu

Dan Zaman mengangkatnya (meninggikanya)


Jikalau diperhatikan kata-kata yang ada dalam syair, secara akidah mungkin ada beberapa kata yang bermasalah. Maklum saja, syair jahiliyyah. Namun maknanya, benar.

Jangan pernah kita merendahkan siapa pun. Sebab, Allah SWT mempergilirkan hari. Tilka al-Ayyam-u Nudawiluha Bain al-Nas; Itulah hari-hari yang kami pergilirkan di antara manusia. 

Bisa jadi sekarang kita di atas,  namun besok di bawah. Begitu sebaliknya. Tidak ada yang abadi di satu keadaan. 

Dalam riwayat dijelaskan: “Cukup bagi seseorang menjadi keburukan baginya ketika ia merendahkan muslim lainnya.”


IG: @dapakihati