Tampilkan postingan dengan label Seri Pengurusan Jenazah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seri Pengurusan Jenazah. Tampilkan semua postingan

Fadhilah (Keutamaan) Shalat Jenazah

Setiap amalan yang diperintahkan oleh Allah Swt memiliki fadhilah-fadhilah luar biasa yang kadang-kadang tidak pernah terlintas di jiwa atau fikiran. Begitupun dengan shalat jenazah, ia memiliki fadhilah-fadhilah agung yang jikalau diketahui oleh seorang mukmin, maka ia akan segera mengerjakannya. 


Di antaranya adalah: 


1)Mendapatkan pahala yang besar. 

Sebagaimana kita ketahui, shalat jenazah itu hukumnya Fardhu Kifayah. Artinya, jikalau sebahagian kaum muslimin telah menunaikannya, maka hukumnya gugur dari sebahagian lainnya. Sebaliknya, jikalau tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengerjakannya, maka semuanya berdosa. 


Walaupun demikian, shalat jenazah itu memiliki ganjaran pahala luar biasa yang akan membuat seorang mukminn tergiur untuk mendapatkannya. 


Rasulullah Saw bersabda: 

مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ وَمَنْ شَهِدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيرَاطَانِ قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ

Artinya: 

"Barangsiapa yang menyaksikan jenzah samapi menyolatkannya, maka dia mendapatkan satu Qirath. Barangsiapa menyaksikannya sampai menguburkannya, maka dia mendapatkan dua Qirath." Beliau melanjutkan, "Ia seperti dua gunung yang besar." [Diriwayatkan oleh Muslim] 


Coba Anda bayangkan jikalau pahala konkrit, bukan abstrak, tentu orang-orang akan berbondong-bondong menyolatkan jenazah. Bahkan, Mesjid akan melimpah ruah dan tidak mampu menampuang jenazah. Namun Allah Swt menguji para hamba-Nya dengan bentuk abstrak tersebut, sehingga hanya orang-orang beriman saja yang tergerak hatinya untuk ikut serta menunaikan shalat jenazah. 


Marilah kita menengok bagaimana lobanya para sahabat Radhiyallahu 'Anhum untuk mendapatkan pahala dari Allah Swt. Tidak ada suatu kesempatan untuk mendapatkannya, kecuali mereka bersegera meraihnya. 


Ibn Umar Radhiyallahu 'Anhu mengatakan: 

"Kami berusaha keras untuk mendapatkan banyak Qirath." 


Artinya, mereka berusaha untuk menyolatkan jenazah muslim manapun selagi mampu. Dahulu, jikalau ada salah seorang sahabat yang meninggal, maka para sahabat lainnya akan datang menyolatkannya, sehingga Mesjid dipenuhi oleh Jamaah. 


Sebagaimana penulis jelaskan sebelumnya, di satu sisi kita mendapatkan pahala yang banyak. Di sisi lain, jenazah pun mendapatkan keuntungan karena dishalatkan oleh kaum muslimin dengan jumlah yang banyak. Tentu, di antara mereka itu ada yang diijabah doanya oleh Allah Swt. 


Yah, itulah fadhilah utama yang bisa kita peroleh jikalau menunaikan shalat jenazah.

 

2)Mengingat kematian

Di antara Fadhilah lainnnya yang bisa dipetik dari shalat jenazah adalah mengingat kematian. Bukankah ketika mengerjakan shalat itu, Anda teringat bagaimana jikalau seandainya Anda yang dishalatkan. 


Umar bin Khatab Radhiyallahu 'Anhu mengatakan: 

"Shalatlah kalian sebelum dishalatkan."


Nasehat ini begitu dalam. Kita disuruh untuk rajin beribadah dan mengingat kematian. Dan shalat jenazah adalah salah satu sarananya. 


Mungkin tidak ada salahnya, jikalau di bagian ini penulis membahas sedikit lagi masalah mengingat kematian; walaupun di Bab I penulis telah menyinggung konklusi yang bisa diperoleh dari mengingatnya.


Jikalau kita berbicara lebih dalam mengenai kematian, maka manusia itu sebenarnya terbagi tiga: 

-Orang yang sama sekali tidak mau menngingat kematian. Jikalau pun mengingatnya, maka itu hanya karena menyesali dunia dan sibuk dengan kehinaannya. Jenisnya seperti ini akan semakin jauh dari Allah Swt. 

-Orang yang sering mengingat kematian, agar dalam dirinya tumbuh rasa takut dan bisa menyempurnakan taubatnya. Bisa jadi juga dia takut menghadapi kematian sebelum taubatnya itu sempurna. 

-Orang yang menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah Swt. Baginya, hidup dan mati itu sama, serta yang paling utama adalah ridho Allah Swt. 


Jadi, marilah kita ikut menunaikan shalat jenazah, agar kita bisa mengambil pelajaran bagaimana seandainya jikalau kita yang mengalami kematian dan dishalatkan. Sebagaimana kita ketahui, kematian itu tidak pandang bulu. Tua dan muda, miskin dan kaya, baginya sama saja. Walaupun Anda adalah penguasa dunia, namun kematian tetap akan menghampiri dan tidak akan takut sama sekali mencaplok kehidupan Anda. 


Yah, jikalau shalat itu tidak mampu membuat Anda ingat kepadanya, berarti hati Anda kasar dan keras. Obatnya hanyalah bertaubat kepada-Nya. Namun jikalau hal itu mampu membuat Anda menangis dan intropeksi diri, maka bisa dipastikan Anda akan lebih baik menuju langkah berikutnya. 

  

3)Interaksi sosial

Hidup di tengah masyarakat, memang tidak dapay menyendiri atau menghindari pergaulan. Mau tidak mau, kita akan berhadapan dengan probelama dan pergaulan di dalamnya. Jikalau ada acar walimah, pasti orang akan mengundang. Begitu juga sebaliknya, jikalau kita ada acara, misalnya Aqiqahan anak, maka mau tidak mau kitapun harus mengundang masyarakat sekitar. 


Fadhilah lainnya yang bisa diperoleh dari shalat berjenazah adalah interaksi sosial dengan masyarakat lainnya. Ketika kita menunaikan shalat jenazah, tentu warga masyarakat sekitar akan berdatangan juga. Mereka ikut menyolatkannya. Nah, ketika itulah kita bisa mempererat ikatan sosial. Jikalau Ada di antara mereka yang tidak kita kenal, maka kita bisa bertanya atau berkenalan lansung. 


Selain mendaparkan pahala, Anda juga mendapatkan relasi/teman baru. 


Rasulullah Saw bersabda: 

 مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ أَوْ يُنْسَأَ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Artinya: 

"Barangsiapa yang ingin diluaskan rezkinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah silaturrahim." [Diriwayatkan oleh Muslim] 


Semakin luas pergaulan Anda dengan masyarakat, maka akan semakin tinggi kedudukan Anda di tengah-tengah mereka. Baiklah, penulis merasa tidak ada salahnya jikalau membahas mamfaat-mamfaat yang bisa diperoleh dari silaturrahmi.


Abu Laits Samarqandi menerangkan, bahwa silaturahmi itu memiliki  sepuluh macam manfaat, yaitu:

-Mendapatkan ridho Allah SWT.

Setiap amalan yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah Swt, tentukan akan mendapatkan ridho-Nya dan ganjaran pahala. Begitu juga silaturrahmi, ia diperintahkan oleh Allah Swt semenjak dahulu kala, baik sesama muslim dan non muslim. 


-Membuat orang yang dikunjungi berbahagia.

Salah satu ibadah yang utama di sisi Allah Swt adalah membahagiakan orang lain. Mungkin Anda sering mendapati, misalnya, ketika Anda membantu orang yang membutuhkan, maka dia akan mendoakan Anda. Begitu juga halnya dengan silaturrahmi, ketika Anda melakukan ini, maka orang tersebut akan merasa bahagia karena masih dikunjungi temannya dan dianggap keberadaannya. 


-Menyenangkan malaikat, karena malaikat juga sangat senang bersilaturahmi.

Bukan hanya orang yang diajak silaturrahimi saja yang berbahagia, namun para Malaikat pun ikut merasa bahagia. Kenapa?!


Karena para Malaikat pun suka bersilaturrahim kepada para Nabi, Rasul dan orang-orang shaleh. Dalam sejarah Islam, kita sering mendengarkan kisah ketika Rasulullah Saw dikungjungi oleh Malaikat Jibril dan Malaikat lainnya untuk menyampaikan salam dari Allah Swt maupun keperluan lainnya. Begitu juga ketika para Malaikat bertemu kepada Ibrahim dan memberitahunya kabar gembira tentang kelahiran anaknya, Ishaq 'Alaihissalam. 

Jadi, jikalau Malaikat saja suka melakukannya, tentu kita sebagai manusia lebih utama lagi. 


-Disenangi oleh manusia.

Salah satu tabiat manusia adalah ingin dihormati dan dihargai. Ketika kita mengajaknya berkenalan atau bersilaturahmi mengunjunginya, maka dia akan merasa bahagia. Sebagaimana penulis jelaskan, silaturrahim ini membuat mereka merasa dihargai. Penulis yakin, tentu Anda pun ingin dihargai orang lain. Ketika, misalnya, tidak ada seorang pun yang ingin berkenalan dengan Anda, atau tidak ada seorang teman pun yang ingin menyalami Anda dan bersilatturrahim, tentu Anda akan sedih dan merasa ada sesuatu yang janggal.


-Membuat iblis dan setan marah.

Jikalau Malaikat mencintai dan menyukai silaturrahmi, maka setan dan iblis justru sebaliknya. Taktala manusia melakukan perbuatan, maka mereka akan geram dan berusaha untuk menghentikannya. Sejak kecil kita diajarkabn oleh orang tua, bahwa setan adalah musuh manusia. Ia akan selalu berusaha menjauhkan manusia dari jalan kebenaran. Ibarat sebuah organisasi, maka setan selalu berusaha merekrut anggota agar bisa menemaninya di Neraka kelak. Dan salah satunya adalah dengan menghalanginya bersilaturrahmi. 


-Memanjangkan usia.

Maksud panjang usia disini ada dua: Bisa jadi panjang usia dengan arti sebenarnya, dan bisa jadui panjang usia dengan arti dikenang lama. 


Sebagimana kita ketahui, jikalau seseorang memiliki banyak relasi, maka bisa dipastikan orang akan mengenangnya sepanjang masa. Dalam istilah lain dikenal, umur psikologisnya lebih lama dari umur biologisnya. Ada sebahagian orang yang umurnya hanya 30 tahun, namun dikenal orang sampai ribuan tahun. Imam Nawawi misalnya, beliau hanya berumur 40-an tahun, namun sampai sekarang orang masih mengenangnya. Nah, inilah mamfaat silaturrahmi lainnya. 


-Menambah banyak dan berkah rejekinya.

Berkenalan dengan banyak orang, berarti kita berkenal dengan banyak profesi. Jikalau misalnya Anda seorang pengangguran, maka silaturrahmi bisa jadi adalah pintu pembuka untuk mendaparkan rezki yang lebih banyak. 


Sering kita mendengar orang-orang yang memiliki kemampuan biasa-biasa aja, namun bisa menduduki jabatan tinggi di perusahaan tertentu hanya karena memiliki hubungan baik dengan pemiliknya. 


Penulis tidak mengajarkan sikap menjilat disini, namun hanya menegaskan bahwa silaturahmi itu penting untuk memperluas rezki. 


Contoh lainnya bisa kita lihat dari para pedagang. Jikalau meraka diam-diam saja dan tidak kenal orang lain, maka tidak ada orang yang akan menghampiri tokonya dan berbelanja. Orang hanya akan mau menjadi pelanggannya jikalau ia baik dan bersahabat dengan orang lain.  


-Membuat senang orang yang telah wafat.

-Memupuk rasa cinta kasih terhadap sesama. 

Ini sesuai dengan kata-kata silaturrahim sendiri. Menurut bahasa Arab, Silah artinya adalah menyambung. Sedangkan rahim adalah kasih sayang. Jadi, silatrurrahmi adalah menyambung kasih sayang di antara manusia. Selama ini masih ada, berarti ikatan hati akan tetap eksis. Jikalau tiada, artinya hubunganpun lenyap. 

Makanya, silaturrahim itu penting untuk menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang kita kepada orang yang dicintai. 


-Menambah pahala setelah kematiannya. 

Orang yang rajin bersilaturrahim, tentu akan selalu dikenang kebaikannya. Ujung-ujungnya, dia akan selalu didoakan, bahkan setelah kematiannya. Pahala akan terus mengalir menyelamatkannya dari pedihnya azab kubur. 


Itulah di antara mamfaat silaturrahmi. Di antara moment yang tepat untuk memperluasnya adalah ketika ikut menunaikah shaalat jenazah berjamaah. Sebagaimana penulis jelaskan sebelumnya, ketika itu Anda akan bertemu dengan orang yang belum Anda kenal sebelumnya. Atau bisa jadi Anda bertemu dengan orang yang sudah kenal, namun di pertemuan tersebut dia memberitahukan berita gembira lainnya. 


Perlu diingat, ajang silaturrahmi disini bukan berarti berbahagia di atas penderitaan keluarga yang tertimpa musibah kematian, tapi ini hanyalah sisi lain yang bisa diperoleh. Selain, tentunya, mamfaat Akhirat yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia yang beragama. 


4)Memperkuat Silaturrahmi dengan keluarga mayat

Penulis sengaja tidak membahas masalah ini ketika membahas mamfaat silaturrahim, karena ia berhubungan erat dengan fadhilah shalat jenazah. 


Ketika shalat berjenazah, biasanya keluarga mayat memperhatikan siapa saja para pelayat yang hadir. Mereka memperhatikan, apakah para sahabat mayat memperhatikannya setelah kematiannya? Apakah persahabatan mereka benar-benar sejati? 


Nah, ikatan persahabatan atau kekeluargaan itu bukan hanya dengan si mayat, namun juga dengan keluarga mayat. Jikalau, misalnya, sahabat atau kerabat tersebut telah meninggal, maka kita harus menyambung silaturrahmi dengan keluarga yang ditinggalkannya. Kedudukan mereka sama dengan kedudukan si mayat. Keluarga yang ditinggalkanya adalah orang-orang yang dicintainya ketika hidup di dunia. 


Jikalau Anda ikut menyolatkannya, maka keluarga si mayat pun dengan senang hati akan menyambut Anda jikalau bertamu ke rumahnya. Atau mereka akan menghadiri undangan Anda jikalau ada acara-acara tertentu. Atau mereka juga akan ikut menyolatkan Anda jikalau misalnya Anda telah meninggal. Segudang mamfaat yang bisa diperoleh dari perbuatan mulia ini.[]

Menalqinkan Jenazah (Mayat)

Kadang-kadang orang keliru memahani Talqin ini, mereka menyangkanya dilakukan setelah kematian mayat. Tidak, sama sekali tidak. Talqin itu justru dilakukan sebelum kematian sampai di kerongkongan mayat. 


Rasulullah Saw bersabda: 

"Tuntunkanlah mayat kalian dengan kalimat La Ilaha Illallah." [Diriwayat oleh Muslim] 


Maksud mayat kalian dalam hadits ini adalah menjelang kematiannya. 


Ada juga sebahagian orang yang keliru dan marah, ketika ada tamu menuntun kerabatnya yang sakit untuk mengucapkan kalimat ssyahadat. Mereka menyangka, bahwa tamu ini mengharapkan kematian saudaranya. Ini adalah kesalahan fahaman. Tidak, itu adalah perbuatan yang benar dan ada sunnahnya dari Rasulullah Saw. 


Berzikir mengingat Allah Swt dapat menenangkan hati dan meringankan penyakit. Jikalaupun sakit ini akan mengantarkannya menuju kematian, maka dia akan meninggal dalam keadaan bertauhid. 


Rasulullah Saw bersabda: 

"Barangsiapa yang perkataan terakhirnya adalah La Ilaha illallah, maka dia akan masuk surga." [Diriwayatkan oleh


Perlu diingat, katika ketika menalqinkan mayat, maka janganlah menggunkan kata-kata perintah, karena jikalau dia menjawab "tidak", maka dia akan meninggal dalam keadaan menolak kalimat syahadat. Tuntunlah dengan baik, agar ia mau mengikuti ucapan syahadat tersebut. 


Talqin ini sangat diperlukan olah mayat. Jikalau ia meninggal dalam keadaan seperti ini, maka ia meninggal dalam keadaan Husnul Khatimah, dan jaminannya adalah surga. Jikalau ia sehat, maka ia mendapatkan pengampunan dosa. 


Pada suatu hari, Rasulullah Saw ditanya, "Apakah mamfaat kalimat (syahadat ini) bagi orang yang hidup?" Beliau menjawab, "Ia dapat melebur dosa-dosa mereka." [Diriwayatkan oleh Muslim] 


Kesimpulannya: Talqin itu dilakukan sebelum kematian menghampiri si mayat, bukan sesudahnya. 


Ada satu lagi amalan yang sunnah dilakukan kepada orang yang akan meninggal, yaitu membaca Al-Quran, terutama surat Yasin. 


Rasulullah Saw bersabda: 

"Bacakanlah surat Yasin kepada orang yang akan meninggal dunia." [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan Ibn Hibban." 


 Lebih lanjut Imam Ahmad mengatakan: 

"Yasin adalah qalbu Al-Quran. Tidaklah seseorang membacanya dengan ikhlas karena Allah Swt dan mengharapkan kebahagiaan di Akhirat, kecuali Dia akan mengampuni dosanya. Bacalah ia untuk orang yang sakit di antara kalian." 


Jadi, itulah di antara amalan-amalan yang bisa kita lakukan untuk mengantarkan mayat menuju kematiannya. Amalan ini bukan saja bermamfaat bagi si mayat, namun pelakunya juga akan mendapatkan ganjaran pahala. Selain itu, ia juga membantu saudaranya agar meninggal dalam keadaan Husnul Khatimah. []

Tazkiyah Kematian dalam Islam

Takziah itu tujuannya adalah menghibur, yaitu menghibur orang yang tertimpa musibah kematian agar bersabar menghadapinya. Ini adalah salah satu bentuk sikap simpati dan empati. Islam mendorong kaum muslimin untuk bertakziyah, menghibur saudara-saudaranya yang mengalami kemalangan. 


Semua kita tahu, bahwa seorang manusia pasti memiliki kekasih, istri, keluarga dan kerabat. Jikalau salah seorang di antara mereka meninggal, maka yang lainnya akan bersedih hati. Bagaimana tidak, mereka telah hidup bersama, saling canda-tawa, bersama dalam susah dan senang, namun sekarang memisahkan keduanya, sampai pertemuan kembali di surga kelak. 


Ketika bertakziyah, hendaklah kita mengucapkan kata-kata tanda ikut berduka cita dan menghiburnya. Hendaklah kita menabahkannya dengan pesan-pesan keagamaan. Pada saat seperti, biasanya perasaan orang yang terkena musibah sangat labil. Jikalau tidak hati-hati mengeluarkan kata-kata, maka dia akan tersinggung dengan mudah. Makanya, kita jangan tertawa ria di hadapannya. Perbuatan seperti ini mengisyaratkan, bahwa kita tidak ikut berduka cita. 


Rasulullah Saw jikalau bertakziyah, maka beliau akan menasehati orang yang tertimpa musibah tersebut. Dalam sebuah hadits dijelaskan, bahwa Usamah bin Zaid ditimpa musibah kematian anaknya. Dia benar-benar berharap agar Rasulullah Saw menjenguknya. Maka beliau mengutus seorang sahabat dan menyampaikan salam, kemudian berpesan: 

"Sesungguhnya Allah Swt berhak membuat keputusan. Dia berhak memberikan sesuatu, dan segala sesuatu yang ada dari sisi-Nya ada jangka waktunya. Hendaklah engkau bersabar dan mengintropeksi diri." [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari] 


Tentang keutamaan bertakziyah ini, Rasulullah Saw bersabda: 

"Tidaklah seorang mukmin menghibur saudaranya yang tertima musibah, kecuali Allah Swt akan mengenakan pakaian kemuliaan baginya pada Hari Kiamat kelak." [Diriwayatkan oleh Ibn Majah dan Al-Baihaqy] 


Marilah kita mengejar pahala besar ini dengan bertakziyah dan menghibur saudara-saudara kita yang tertimpa musibah kematian. Bagaimanapun, hukum Takziyah ini adalah sunnah berdasarkan hadits di atas. Bahkan, hal ini juga dianjurkan jikalau yang meninggal tersebut adalah seorang kafir Dzimmi. 


Hanya saja, ada perbedaan doa yang diucapkan ketika Takziyah antara seorang muslim dengan kafir. 


Jikalau kita bertakziyah kepada seorang muslim, karena saudarnya yang muslim meninggal, maka kita mengucapkan: 

أَعْظَمَ اللَّهُ أجْرَكَ وَأَحْسَنَ عَزَاءَكَ وَغَفَرَ لِمَيِّتِكَ

"Semoga Allah membesarkan pahalamu, memperbaiki kesabaranmu dan mengampuni mayatmu." 


Jikalau kita bertakziyah kepada seorang muslim, karena saudaranya yang kafir meninggal, maka kita mengucapkan: 

أَعْظَمَ اللَّهُ أجْرَكَ وَأَحْسَنَ عَزَاءَكَ

"Semoga Allah membesarkan pahalamu dan memperbaiki kesabaranmu." 


Jikalau kita bertakziyah kepada orang kafir, karena saudaranya yang muslim meninggal, maka kita mengucapkan: 

وَأَحْسَنَ اللَّهُ عَزَاءَكَ وَغَفَرَ لِمَيِّتِكَ

"Semoga Allah Swt memperbaiki kesabaranmu dan mengampuni mayatmu." 


Jikalau kita bertakziyah kepada orang kafir Dzimmi, karena saudaranya yang kafir meninggal, maka kita mengucapkan: 

أَخْلَفَ اللهُ عَلَيْكَ

"Semoga Allah Swt menggantinya untukmu." 


Sedangkan jawaban orang yang ditakziyahi adalah: 

آجَرَكَ اللَّهُ

"Semoga Allah Swt membalasmu." 


Jikalau bisa bersalaman, maka keduanya hendaklah bersalaman. Jikalau tidak bisa, maka tidak masalah. 


Nah, sekarang pertanyaannya, kapanlah Takziyah ini dllakukan?Apakah boleh dilakukan kapan saja, tanpa ada ikatan waktu? 


Sebenarnya, Takziyah itu sunnah dilakukan jikalau mayat telah dikubur. Kemudian Anda tidak perlu duduk-duduk disana meramaikan suanana, karena hal ini justru akan menambah kesedihan keluarga yang tertimpa musibah dan menamnbah biaya tanggungannya. Imam Syafii Rahimahullah membenci perbuatan seperti ini. Baginya, hukumnya Makruh. Pendapat ini juga disepakati oleh Imam Ahmad dan Imam Malik. 


Berbeda halnya dengan sebahagian pengikut Imam Hanafi, mereka membolehkan acara kumpul-kumpul setelah kematian selama tiga hari, asal tidak dilakukan di Mesjid dan tidak mengandung perbuatan yang diharamkan oleh Syariat. 


Perlu dicatat, ketika acara takziyah hendaklah dihindari perbuatan-perbuatan yang menunjukkan kemewahan dan kebahagiaan. Ini bukanlah moment kebahagiaan, tapi moment kesedihan. Kemudian hendaklah dijauhi tradisi-tradisi yang tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Saw. 


Di sebahagian daerah, kadang-kadang di adakan acara-acara yang justru memberatkan keluarga yang berduka. Ibarat pepatah: Sudah jatuh, tertimpa tangga. Naudzubillah Min Dzalik. Bahkan tidak jarang keluarga tersebut harus berhutang sana-sini, menggadaikan ini dan itu hanya untuk mengadakan acara doa bersama di rumahnya atau apapun namanya. 


Tidak selayaknya kita memaksa keluarga yang berduka membuatkan makanan untuk menjamu para pelayat. Sebahagian ulama memakruhkan hal ini, bahkan sebahagian lagi mengharamkannya. Namun Ibn Quddmah memberikan sedikit keringanan dalam masalah ini, yaitu jikalau yang datang adalah orang yang datang dari jauh dan wilayah pedalaman, kemudian mereka menginap di rumah, sehingga mereka harus dijamu. Jikalau keadaan tidak seperti itu, maka Imam Ibnu Quddamah tetap tidak membolehkannya.  


Seharusnya, orang yang bertakziyah tersebut harus membawakan makanan untuk keluarga yang berduka. Mereka sibuk dan larut dalam kesedihan, sehingga tidak bisa membuat makanan, memasak dan sebagainya. 


Taktala Jafar bin Abdul Muthalib meninggalkan, Rasulullah Saw memerintahkan kepada para sahabat lainnya: 

"Buatkanlah makanan untuk keluarga Jafar, karena mereka sibuk dengan musibah yang menimpanya." [Diriwayatkan oleh Abu Daud, Ibn Majah dan At-Turmudzi] 


Inilah yang seharusnya kita lakukan, bukan malah sebaliknya. Lebih lanjut, Imam Syafii Rahimahullah mengatakan: 

"Hendaknya mereka melayani keluarga mayat siang dan malam dengan membuatkan makanan yang akan mengenyangkan mereka. ini merupakan sunnah dan perbuatan orang-orang baik." []

Hal-Hal yang Dilarang Ketika Seseorang Meninggal

Jikalau sebelumnya kita membicarakan hal-hal yang dianjurkan untuk dilaksanakan ketika seseorang meninggal, maka di bagian ini kita akan membahas hal-hal yang dilarang ketika kematian itu menimpa seseorang, yaitu: 


1)Meratap

Maksudnya meratap disini adalah meninggikan suara ketika menangis dan berteriak-teriak. Fenomena seperti sering kita saksikan di masyarakat. Jikalau seorang suami meninggal, maka istrinya atau anak perempuannya akan menangis histeris sampai tidak sadarkan diri. 


Menangis dengan berteriak-teriak seperti ini tidak dibenarkan dalam Islam. Ia seolah-olah tidak ridho dengan ketentuan Allah Swt. Sebagaimana kita jelaskan sebelumnya, seorang mukmin itu justru bersabar menghadapi musibah kematian yang menimpa salah seorang kerabatnya dan keluarganya. Baginya, kehidupan dan kematian itu berada di tangan Dzat yang Maha Kuasa. 


Rasulullah Saw bersabda: 

"Empat yang dilakukan umatku; padahal itu merupakan perbuatan Jahiliyah dan mereka tidak meninggalkannya: Membangga-banggakan keturunan, mencela keturunan orang lain, meminta hujan kepada bintang dan meratap." [Diriwayatkan oleh Anas bin Malik] 


Biasanya, perbuatan meratap ini banyak dilakukan oleh para wanita. Mungkin karena mereka lemah secara psikologi, sehingga tidak mampu menerima kehilangan orang yang sangat dicintainya. 


Tapi bagaimanapun, Islam telah menggaris sebuah aturan, bahwa meratap tetap tidak dibolehkan. Apapun alasannya. 


Apakah Anda tahu, hukuman yang diterima oleh perempuan yang meratapi kematian seorang mayat?


Hukumannya sungguh luar biasa menyakitkan. Bayangkan Anda akan dipasangkan oleh Allah Swt pakaian besi dari api Neraka. Jikalau memegang api saja kita tidak sanggup, maka bagaimanakah keadaannya jikalau kita harus memakai pakaian besi dari api Neraka?! Sungguh, penulis tidak mampu membayangkannya. 


Rasulullah Saw bersabda: 

"Jikalau seorang wanita yang meratapi mayat belum bertaubat sebelum kematian menghampirinya, maka pada Hari Kiamat nanti dia akan dipasangkan baju kurung dari Tir dan baju perang dari api Neraka." [Diriwayatkan oleh Muslim] 


Jadi, jikalau sebelum Anda pernah meratapi mayat, atau bahkan sudah berkali-kali melakukannya, maka bersegeralah bertaubat sebelum pintunya tertutup, yaitu: 

-Jikalau nyawa telah sampai di tenggorokan. 

-Jikalau matahari belum terbit di sebelah Barat. 

Hanyalah itulah yang bisa Anda lakukan untuk membebaskan diri dari azab yang pedih tersebut. 


Pertanyaannya sekarang, jikalau tidak boleh meratap, berarti ga boleh menangis dunk?!


Hm,,, Bukan begitu. Anda harus bisa membedakan antara menangis dengan meratap. Jikalau ada salah seorang di antara kerabat kita yang meninggal, maka wajar saja jikalau kita bersedih. Kesedihan itu akan tampak dengan aliran air mata. 


2)Menjelek-jelekkan mayat

Penyakit berbahaya yang sering menjangkiti kita adalah suka mengghibah dan menjelek-jelekkan. Jikalau perbuatan dilarang kepada orang yang hidup, maka kepada orang yang sudah ,eninggal lebih dilarang lagi. 


Jangan sampai Anda mengungkit-ngungkit kesalahan mayat yang sudah berlalu. Jikalau kesalahan itu berhubungan dengan perbuatannya kepada Anda, maka maafkan. Jikalau kesalahan itu berhubunhgan dengan harta, maka tagihlah kepada Ahli Warisnya; sebagaimana penulis jelaskan sebelumnya. Jikalau Anda mampu untuk merelakan harta tersebut, maka relakanlah, karena itu lebih baik dan lebih sempurna di sisi Allah Swt. 


Oleh karena itu, kalaupun Anda harus membicarakan si mayat, maka bicarakanlah kebaikannya ketika hidup di dunia. Sedangkan keburukannya, cukuplah Anda yang menyimpanya. Tidak diusah disebarkan kepada orang lain. Persaksian Anda atas kebaikannya akan membantunya di Akhirat kelak.


Menjaga nama baiknya, berarti nama baik kita sendiri. Menjelek-jelekkannya, berarti kita  juga menjelek-jelekkan diri sendiri. 


Rasulullah Saw bersabda: 

وَمَنْ سَتَرَ عَوْرَةَ مُسْلِمٍ، سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Barangsiapa yang menutupi aib saudaranya, maka Allah Swt akan menutup aibnya pada Hari Kiamat kelak." [Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani] []

Hal-Hal yang Harus Disegerakan Jikalau Seseorang Meninggal

Jikalau seseorang meninggal, maka ada beberapa perkara yang harus segera dilakukan oleh kaum muslimin lainnya, baik kerabat maupun para pelayat, yaitu: 


1)Memejamkan mata jenazah dan mengikat janggutnya. 

Biasanya, jikalau nyawa melayang, maka mata akan terbuka, seolah-olah mengantar kepergian ruhnya menuju sang Khalik. Makanya, Rasulullah Saw memerintahkan umatnya untuk bersegera menutup mata jikalau terbuka dan mulut jikalau menganga. 


Beliau bersabda: 

"Sesungguhnya jikalau nyawa dicabut, maka mata akan mengikutinya." [Diriwayatkan oleh Muslim] 


Sebenarnya, kalau kita teliti, banyak sekali hikmah yang bisa diperoleh kenapa kita diperintahkan untuk menutup mata dan mulut jenazah jikalau ia meninggal. Di antaranya, agar air tidak masuk ke dalam mulut atau mata ketika memandikan. Atau dikhawatirkan serangga atau binatang kecil lainnya akan merasuk ke dalam tubuh jenazah. Inilah yang kita takutkan. Sebagaimana kita jelaskan sebelumnya, kehormatan orang yang meninggal itu sama dengan kehormatan orang yang hidupnya. Makanya, kita tidak boleh menyakiti mayat; sebagaimana kita tidak boleh menyakiti orang hidup. 


Selain itu, jikalau mayat dibiarkan matanya terbuka dan mulutnya menganga, maka tampang seperti itu akan menakutkan para pelayat, sehingga mereka akan dihantui rasa takut di malam hari. 


Umar bin Khatab Radhiyallahu 'Anhu berpesan kepada anaknya ketika menghadapi sakratul maut: 

"Jikalau engkau melihat ruhku berada di tenggorokanku, maka letakkanlah tangan kananmu di keningku, sementara tangan kirimu letakkan di bawah janggut, dan pejamkanlah mataku." 


2)Menunaikan wasiat jenazah

Biasanya, jikalau seseorang meninggal, maka dia meninggalkan wasiat. Maka tugas para kerabat dan walinya lah menunaikan wasiat ini. Selama wasiat itu sesuai dengan syariat dan sama sekali tidak bertentangan, maka mereka wajib menunaikannya. 


Misalnya, mayat berwasiat sebelum kematian agar dikuburkan di tempat tertentu, maka kaum muslimin harus menjalankannya. Atau mayat berwasiat memberikan memberikan sebahagian hartanya kepada seseorang atau yayasan tertentu, maka mereka juga harus melaksanakannya. Selama wasiat harta itu tidak lebih sepertiga, maka ia harus ditunaikan. Jikalau lebih, maka wasiat harta yang ditunaikan tetaplan sepertiga. 


3)Memberitahukan berita kematiannya kepada para kerabatnya dan para sahabatnya. 

Kita disunnahkan untuk memberitahukan kematian seseorang kepada para kerabatnya dan para sahabatnya. Tujuannya, agar  mereka ikut mengurusnya dan memperoleh pahala. Taktala Rasululah Saw diberitahukan kematian Najasy, maka beliau mengumpulkan para sahabatnya dan menyolatkannya. 


Disinlah keuntungannya, jikalau kerabatnya dan para sahabatnya berada jauh di negeri orang, maka mereka bisa menyolatkannya dengan shalat Ghaib dan mendoakannya. Semakin banyak kaum muslimin yang mendoakan, tentu semakin baik. Kita tidak tahu, siapa di antara kaum muslimin tersebut yang doanya Mustajab.

 

At-Turmudzi Rahimahullah mengatakan: 

"Tidak masalah jikalau seseorang memberitakan kematian seseorang kepada para kerabatnya dan para sahabatnya."

 

4)Mengucapkan Inna Lillahi Wa Inna Illaihi Raji'un (Datang dari Allah, dan kembali kepafa-Nya) 

Disunnahkan bagi orang yang mendengarkan berita kematian seseorang untuk mengucapkan Inna Lillahi Wa Inna Ilahi Raji'un. Tidak ada kalimat yang lebih diucapkannya melebihi kata-kata ini, baik yang meninggal itu adalah ibunya, ayahnya, saudaranya maupun anaknya. 


Kata-kata agung ini menunjukkan rasa ketawakkalan yang tinggi. Kita menyerahkan semua musibah yang menimpa kepada Dzat yang Menciptakan. Jikalau Allah Swt yang memberikan kepada manusia, maka Dia juga berhak mengambilnya.


Bagi seorang mukmin, musibah dan nikmatnya sama saja. Karena pada hakikatnya, musibah itu hanyalah di pandangan kita. Sedangkan di pandangan Allah Swt itu adalah nikmat. Hanya saja kita tidak mengetahui nikmat di balik semua itu dengan sekejap mata. Biasanya, kita menyadarinya justri beberapa saat setelah itu.

 

Rasulullah Saw bersabda: 

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

"Menakjubkan perkara seorang mukmin, seluruh urusannya mengandung kebaikan. Jikalau ia ditimpa kebaikan, maka ia bersyukur, dan itu lebih baik baginya. Jikalau ia tertimpa keburukan, maka ia bersabar, dan itu lebih baik baginya." [Diriwayatkan oleh Muslim]


5)Membayarkan hutangnya. 

Banyak di antara kita yang mudah sekali mengucapkan kata-kata berhutang. Jikalau ada sedikit masalah keuanga, berhutang. Padahal, hutang itu akan menimbulkan bahaya tersendiri bagi pelakunya kelak pada Hari Kiamat jikalau tidak mampu membayarnya. 


Mungkin jikalau hutangnya banyak, selalu diingatnya, dan itu memang baik. Namun yang paling mengejutkan, jikalau hutangnya sedikit, maka ia melalaikan pembayarannya. Tidak, ini adalah tindakan yang salah. Besar maupun kecil sebuah hutang akan dipertanggung jawabkan kelak di hadapan Allah Swt.


Ada salah seorang sahabat yang tidak mau dishalatkan oleh Rasulullah Saw, karena hutangnya belum dibayar kepada sahabatnya lainnya. Melihat hal ini, maka salah seorang sahabat, yaitu Abu Qatadah mengambil alih pembayarannya dan berjanji melunasinya. Mendengarkan pernyataan itu, maka beliau lansung berdiri di posisi Imam dan menyolatkannya. 


Ingat, jikalau Anda memiliki hutang dan belum sempat mebayarkannya, maka wasiatkanlah agar kerabat Anda membayarkannya. Sebaliknya, jikalau ada di antara kerabat Anda yang meninggal dan memiliki hutang yang belum dibayarkannya, maka lunasilah segera. Itu adalah tugas Ahli Waris. 


Tahukan Anda, apa akibat yang akan diterima oleh orang yang melalaikan pembayaran hutangnya? 


Yah, dia akan terhalangi memasuki surga Allah Swt. Walaupun dia mengerjakan shalat seumur hidupnya, berpuasa, rajin menunaikan shalat malam dan ibadah-ibadah lainnya, namun semua itu tidak akan membantunya memasuki surga Allah Swt, jikalau hutangnya belum terbayarkan. 


Pada suatu hari, Rasulullah Saw masuk ke dalam Mesjid dan berkata kepada para jamaahnya, "Apakah ada di antara kalian keluarga di Fulan? Saya melihatnya tertahan di [intu surga." [Diriwayatkan oleh Ahmad]


Dalam hadits lain dijelaskan, bahwa laki-laki yang dimaksud oleh Rasulullah Saw dalam hadits ini adalah seorang syahid. 


Perhatikankah, orang yang syahid di jalan Allah Swt adalah orang yang paling tinggi kedudukannya di sisi-Nya. Namun ia tidak bisa memasuki surga-Nya, hanya gara-gara hutang yang belum dibayarkannya. 


Selain itu, ada hadits lain yang menyatakan:

"Jiwa seorang mukmin tergantung dengan hutangnya, sampai dibayarkan." [Diriwayatkan oleh At-Turmudzi]


Maka, tidak ada yang bisa dilakukan sekrang ini, kecuali membayarkan hutang si mayat jikalau ia memang memilikinya dan belum membayarkannya. Bersegeralah membayarkannya, karena jikalau belum dibayar, maka ruhnya tidak akan tenang dan tidak mampu memasuki surga-Nya. []

Kewajiban Mengurus Jenazah dalam Islam

Jikalau seorang muslim telah meninggal, maka para kerabatnya dan kaum muslimin lainnya harus segara mengurus jenazahnya, baik memandikan, mengafani, menyolatkan dan menguburkan. Tidak selayaknya seorang muslim diperlambat atau diundur-undur penguburannya dengan alasan-alasan yang tidak bisa diterima oleh Syara'. 


Dahulu, ketika Thalhah bin Sa'ad meninggal, yaitu salah seorang sahabat, maka Rasulullah Saw memerintahkan kaum muslimin untuk segera menguburkannya. 


Beliau bersabda: 

"Tidak selayaknya jenazah seorang muslim dibiarkan berlama-lama di tengah keluarganya. Tidak perlu menunggu seorang pun kecuali walinya. Penundaan itu tidak apa-apa dilakukan selama tidak dikhawatirkan tidak perubahan pada jenazah."


Berdasarkan hadits di atas kita mengetahui, bahwa jikalau seseorang meninggal, maka harus segera di urus jenazahnya. Jangan ditunda-tunda. Hanya ada satu alasan yang menyebabkannya bisa tertunda, yaitu menunggu wali mayat. Penundaan seperti ini masih bisa ditolerir oleh Syariah selama mayat tidak mengalami perubahan. Jikalau seandainya dikhawatirkan mayat akan berubah, maka ia harus segera diurus; walaupun walinya belum hadir. 


 Rasulullah Saw bersabda kepada Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhu: 

"Wahai Ali, janganlah engkau menunda-nunda tiga perkara: Shalat jikalau telah tiba waktunya, menguburkan jenazah jikalau telah meninggal dan menikahkan orang yang belum berpasangan jikalau telah ada yang sekufu' dengannya." 


Jadi, jangan pernah melalaikan pengurusan jenazah sedikitpun. Bagaimanapun kehormatan orang yang meninggal sama dengan kehormatan orang masih hidup. Jangan biarkan ia terlunta-lunta dan dilalaikan. Kita harus mempersiapkannya menemui Tuhannya dengan sebaik-baik bentuk, dalam keadaan suci dan rapi. 


Siapa yang Lebih Utama Mengurus Jenazah


Sebenarnya, seorang muslim boleh mengurus jenazah muslim lainnya, bahkan disunnahkan. Hanya saja lebih utama jikalau yang mengurusnya adalah keluarganya atau kerabatnya. Selain mereka memiliki kedekatan emosi, mereka juga lebih bisa menjaga rahasia; jikalau ada sesuatu aib yang tidak boleh dibongkar kepada khalayak ramai. 


Sebagaimana kita ketahui, bahwa Ali Radhiyallahu 'Anhu ikut memandikan jenazah istrinya, Fathimah Radhiyallahu 'Anda, dan Rasulullah Saw tidak melarangnya sama sekali. Hubungan suami-istri menyebabkan mereka mahram, sehingga tidak masalah jikalau bersentuhan. 


Penulis kembali mengingatkan, bahwa seorang muslim berhak mengurus jenazah muslim lainnya. Siapapun orangnya, selama ia mengucapkan dua kalimat syahadat, maka ia berhak melakukannya. Syaratnya, ia harus amanah, tidak fasiq dan shaleh. []

Suul Khatimah: Tanda-Tanda & Sebab-Sebabnya

Suul Khatimah adalah ketika seseorang meninggal dalam keadaan bermaksiat kepada Allah Swt, jauh dari tuntunan-Nya dan lalai mengingat-Nya. Orang yang meninggal dalam keadaan seperti ini, hampir bisa dipastikan keberadaannya di Neraka. 


Di antara tanda-tanda nyata yang bisa mengungkapkan hal ini adalah ketika seseorang yang akan meninggal menolak mengucapkan dua kalimat syahadat. Perhatikanlah kematian orang-orang yang kehidupannya jauh dari Allah Swt, ketika dituntutan mengucapkan kalimat Thayyibah ini, maka dia akan berpaling. Atau ada juga ingin mengucapkannya, namun tidak mampu sama sekali. 


Sebab-Sebab Suul Khatimah

1-Aqidah yang rusak. 

Kita selalu memohon kepada Allah Swt di setiap waktu dan setiap kesempatan, agar meninggal dalam keadaan muslim. Jangan sampai hati ini berubah dan berbelok meninggalkan agama yang lurus. 


Alangkah meruginya seseorang yang mengakhiri hidupnya dalam keadaan Nashrani atau Yahudi. Jikalau mereka hidup kaya dan serba ada di dunia, maka itu tidak akan menolongnya sama sekali di Akhirat kelak. Parahnya lagi, jikalau ada yang hidup susah di dunia, namun sengsara pula di Akhirat kelak karena meninggal dalam keadaan non muslim. 


Allah Swt telah menjanjikan para hamba-Nya, bahwa barangsiapa yang meninggal dalam keadaan muslim dan tidak melakukan kemusyrikan sedikitpun selama hidup di dunia, maka dia akan masuk surga juga lambat laun; walaupun sebelumnya harus dipanaskan di api Neraka. 


Di setiap waktu hendaklah kita selalu mengucapkan doa: 

"Ya Allah, konsistenkanlah hatiku dalam agama-Mu dan mentaati-Mu, Maha Suci Engkau, sesungguhnya saya termasuk orang-orang yang zhalim." 


2-Loba terhadap dunia

Penyakit manusia yang paling parah adalah loba terhadap kehidupan dunia. Jikalau memiliki uanh sejuta, maka ingin menambahnya menjadi dua juta. Jikalau memiliki dua juta, maka ingin menambahnya terus sampai jumlah yang tidak ditentukan. Jikalau memiliki sepeda, maka ingin motor. Jikalau punya motor, maka ingin memiliki mobil. Begitulah seterusnya. 


Kehidupan dunia adalah kehidupan yang fana dan fatamorgana. Kita selalu membayangkan, bahwa harta yang melimpah mampu membuat kita bahagia. Padahal kenyataannnya, tidaklah seperti itu. 


Penulis pernah menemui seorang pengusaha yang telah memiliki omzet milyaran rupiah, memiliki rumah mewah, mobil mewah dan empat orang istri. Pada saat itu dia mengatakan, "Kehidupan ini rasanya sama saja. Dulu saya mengira, jikalau memiliki semua kemewahan, maka kehidupan akan lebih bahagia. Ternyata tidak sama sekali. Taktala saya memiliki mobil mewah, maka rasanya biasanya saja. Tidak ada yang istimewa. Sungguh sangat merugi jikalau kita tidak termasuk orang-orang shaleh di Akhirat kelak," Tuturnya. 


Yah, begfitulah kira-kira gambaran kehidupan dunia. Kadang-kadang kita juga berfikir, apa sih bedanya antara satu makanan dengan harga murah dengan makanan lain yang harganya mahal, namun ketika dimakan, maka enaknya hanya sampai kerongkongan saja?!!


Islam tidak melarang kita menjadi kaya dan menguasai dunia, namun yang dilarang itu adalah loba terhadap dunia, sehingga lalai beribadah kepada Allah Swt. 


Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhu mengatakan: 

"Ya Allah, biarkanlah dunia ini berada di tanganku, dan jangan sampai berada di hatiku." 


3-Tidak Istiqamah beragama, berpaling dari kebaikan dan hidayah. 

Hidayah adalah barang mahal yang tidak di jual di pasaran. Ia hanya diberikan oleh Allah Swt kepada orang-orang yang diinginkan-Nya. Tidak ada satu barang mewahpun di dunia ini yang mampu menandingi harga sebuah hidayah. Coba Anda bayangkan, jikalau Anda masih berada dalam kekufuran dan tidak mendapatkan hidayah-Nya, maka bisa dipastian kehidupan Anda akan sengsara di dunia dan Akhirat. 


Allah Swt berfirman: 

"Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan Barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman." [Al-An'Am: 125]


Anda adalah orang-orang pilihan. Berapa banyak orang di luar sana yang masih larut dalam kemaksiatannya. Maka, maamfaatkanlah hidayah yang diberikan-Nya. Hanya itulah cara satu-satunya agar Anda bisa meninggal dalam keadaan Husnul Khatimah dan menghindari Suul Khatimah ini. 


Marilah kita perhatikan kisah Firaun yang justru mengakui keesaan Allah Swt justru ketika berada di ujung kematiannya. Namun nyawa telah ada di tenggorokan, pintu taubat telah tertutup. Musa dan Harun telah mengantar hidayah ke hadapannya, namun ia menolak. Kesombongan dan keangkuhan menghalanginya memeluk hidayah Allah Swt. 


4-Gemar bermaksiat

Maksiat adalah kata umum. Semua bentuk atau perbuatan yang melanggar ketentuan Allah Swt disebut maksiat, baik besar maupun kecil. Begitu juga halnya dengan ketaatan. Ia adalah kata umum. Artinya, semua bentuk kebaikan yang diniatkan demi menggapai ridho Allah Swt disebut ketaatan, baik besar maupun kecil. 


Masalahnya sekarang, kadang-kadang orang meremehkan maksiat tersebut. Jikalau ia berzina, maka dia berdalih mumpung masih muda. Syukur-syukur jikalau umurnya panjang, tapi bagaimana jikalau ia meninggal dalam keadaan seperti itu?! Tentu ini masuk dalam kategori Suul Khatimah. 


Ada juga fenomena lainnya, yaitu menganggap remeh maksiat kecil, seperti biasa berdusta ketika bercanda atau meremehkan orang lain, dan lain-lain. Semua itu memang maksiat kecil, namun jikalau dilakukan terus menerus, maka bisa juga menjadi besar. 


Sebesar apapun sebuah maksiat itu, kita tetap harus menghindarinya. Jangan sampai ketika meninggal dalam keadaan seperti itu. Kita tidak tahu, kapan kematian itu menghampiri. Di bagian sebelumnya, penulis telah menceritakan kehidupan pelaku maksiat yang meninggal dengan membawa kemaksiaatannya. 


Biasanya, jikalau seseorang yang gemar berzina ketika hidupnya, maka dia akan meninggal dalam keadaan berzina pula. Jikalau ia gemar mencuri, maka ia juga akan meninggal dalam keadaan mencuri. Begitu seterusnya. Maksiat harus dihindari, agar kita bisa mendapatkan ridho Ilahi. []

Husnul Khatimah: Tanda-Tanda & Cara Mendapatkannya

Tiada seorang pun di dunia ini, kecuali ingin meninggal dalam keadaan Husnul Khatimah, yaitu meninggal dalam keadaan baik, berada di jalan ketaatan dan berada dalam naungan keridhoan Allah Swt. 


Kita sering menyaksikan orang-orang yang meninggal dalam keadaan sujud dalam shalatnya atau sedang membaca Al-Quran atau sedang berjihad di jalan Allah Swt. Sebaliknya, kita juga sering melihat kematian yang menggenaskan, misalnya meninggal ketika sedang mencuri atau berzina atau mabuk-mabukkan. 


Akhir kematian kita sebenarnya ditentukan oleh amalan-amalan yang kita lakukan selama hidup di dunia. Orang yang selama hidupnya rajin shalat, biasanya akan meninggal ketika mengerjakan shalat. Orang yang selama hidupnya rajin membaca Al-Quran, biasanya akan meninggal dalam keadaan membaca Al-Quran. Sebaliknya, jikalau dia seorang penjudi, biasanya dia akan meninggal dalam keadaan berjudi. Jikalau dia seorang pezina, maka dia akan meninggal di pangkuan pelacur atau ketika sedang berzina Na'udzubillah Min Dzalik. 


Nah, jikalau kita ingin tahu, apakah seseorang itu meninggal dalam keadaan Husnul Khatimah atau tidak, maka penulis akan membahasnya di bagian ini. 


Ciri-Ciri Husnul Khatimah


1-Ucapan terakhirnya La Ilaha Illallah

Rasulullah Saw bersabda: 

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلامِهِ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

"Barangsiapa yang ucapan terakhirnya La Ilaha Illallah, maka dia akan masuk surga." [Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani]


Ucapan terakhirnya ini membuktikan, bahwa dia benar-benar seorang muslim. Dia berhasil melewati godaan iblis yang berusaha menyelewengkan aqidahnya di ujung kehidupannya; sebagaimana penulis jelaskan sebelumnya. 


Kadang-kadang kita melihat seorang shaleh yang meninggal dengan ucapan kalimat Tauhdi. Namun tidak jarang pula kita menyaksikan, seorang muslim yang tidak mampu mengucapkan kata-kata ini di ujung hayatnya. Walaupun sudah puluhan orang yang menuntunnnya, namun lidahnya berat. Barangkali ini menunjukkan, bahwa ada sesuatu kesalahan fatal yang dilakukannya semasa hidup di dunia. 


Karena itu, marilah kita membiasakan diri mengucapkan kalimat Tauhid semenjak dini, sehingga kita mudah melafalkannya kelak, yaitu ketika kematian hampir berada di kerongkongan. Mudah-mudahan kita bisa memasuki surga Allah Swt dengan cepat dan lancar, tanpa ada halangan dan rintangan sedikitpun. 


2-Dahinya berkeringat. 

Rasulullah Saw bersabda: 

"Kematian seorang mukmin dengan dahi berkeringat." [Diriwayatkan oleh Ahmad]


3-Meninggal di malam Jum'at atau siangnya. 

Rasulullah Saw bersabda: 

"Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat, kecuali Allah menjaganya dari fitnah kubur." 


Sebagaimana kita ketahui, hari Jumat adalah hari mulia dan hari raya mingguan kaum muslimin. Jikalau seseorang meninggal pada hari ini, biasanya orang yang akan menyolatkannya akan melimpah ruah, karena biasanya dishalatkan lansung selesai shalat Jumat. Mungkin inilah berkah lainnya yang didapatkan oleh orang yang meninggal pada hari yang mulian ini . 


4-Meninggal dalam keadaan berjuang di jalan Allah Swt atau melahirkan atau terbenam. 

Pada suatu hari Rasulullah Saw bertanya kepada para sahabatnya, "Siapakah yang kalian anggap sebagai syahid (orang yang meninggal di jalan Allah Swt) di antara kalian?" Mereka menjawab, "Barangsiapa yang terbunuh di jalan Allah Swt, maka dia syahid." Beliau melanjutkan, "Jikalau begitu, maka orang yang syahid di kalangan umatku hanyalah sedikit saja." Mereka bertanya, "Jikalau begitu, siapakah mereka wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Barangsiapa yang dibunuh di jalan Allah Swt, maka dia syahid. Barangsiapa yang meninggal di jalan-Nya, maka dia syahid. Barangsiapa yang meninggal karena tha'un, maka dia syahid. Barangsiapa yang meninggal di dalam perut ibunya, maka dia syahid. Barangsiapa yang meninggal karena terbenam, maka dia syahid." [Diriwayatkan oleh Muslim] 


5-Orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan. 

Rasulullah Saw bersabda: 

"Orang yang syahid itu ada lima: Orang yang meninggal karena Tha'un, orang sakit perut, terbenam, orang yang tertimpa reruntuhan dan orang yang meninggal di jalan Allah Swt." [Diriwayatkan Al-Bukhari] 


6-Perempuan yang meninggal karena Nifas sehabis melahirkan atau karena hamil. 

Rasulullah Saw bersabda: 

"Perempuan yang meninggal karena melahir anaknya adalah syahid, anaknya akan menarik kainnya menuju surga." [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad]


7-Meninggal karena terbakar

8-Meninggal karena menjaga hartanya, dirinya dan darahnya.

Rasulullah Saw bersabda: 

"Barangsiapa yang dibunuh karena membela hartanya, maka dia syahid. Barangsiapa yang dibunuh karena membela agamanya, maka dia syahid. Barangsiapa yang dibunuh karena membela darahnya, maka dia syahid." [Diriwayatkan oleh Abu Daud, An-Nasai dan lain-lain]


9-Meninggal dalam keadaan Ribath di jalan Allah Swt. 

Ribath adalah menjaga perbatasan negeri Islam dari serangan musuh. 

Rasulullah Saw bersabda: 

"Melakukan Ribath di jalan Allah sehari semalam lebih baik dari puasa sebulan dan beribadah di malamnya. Jikalau dia meninggal, maka seluruh amalan yang dikerjakannya selama hidup akan mengalir kepadanya, rezkinya juga akan mengalir dan aman dari fitnah." [Diriwayatkan oleh Muslim] 


10-Meninggal dalam keadaan mengerjakan amal shaleh

Kita sering menyaksikan orang yang meninggal dalam keadaan sujud, berdakwah, rukuk dan lain sebagainya. Itu menunjukkan, bahwa kematiannya adalah Husnul Khatimah. 

Rasulullah Saw bersabda: 

"Barangsiapa yang mengucapkan La Ilaha Illallah demi menggapai ridho Allah Swt dan mengakhiri hidupnya dengan itu, maka dia akan masuk surga. Barangsiapa yang bersedekah dan mengakhiri hidupnya dengan itu, maka dia akan masuk surga." [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad]

Itulah beberapa tanda-tanda Husnul Khatimah yang bisa kita petik dari berbagai Hadits Rasulullah Saw. Namun perlu diingat, bahwa meninggal dalam keadaan demikian, bukan jaminan akan lansung masuk surga, karena itu hanyalah hak prerogatif Allah Swt yang tidak digugat oleh siapapun. 


CARA MENDAPATKAN HUSNUL KHATIMAH

Nah, sekarang pertanyaannya, bagaimana cara memperoleh Husnul Khatimah tersebut?

Sebenarnya ada beberapa cara untuk menggapainya, di antaranya: 

1-Selalu konsisten dalam ketaqwaan dan ketaatan kepada Allah Swt. 

Pondasi semua ini adalah Tauhid. Jikalau Tauhid kita benar, tentu amalan kita juga akan benar, dan jelas itu termasuk dalam ketaatan. Jangan sampai kita beribadah berpuluh-puluh tahun, namun semuanya hanya berakhir sia-sia, karena tidak sesuai dengan tuntunan Tauhid. Selain itu, jikalau Tauhid benar, maka ia akan menuntun kita menjalankan semua perintah Allah Swt dan menjauhi semua larangan-Nya. 


2-Selalu meminta kepada Allah Swt agar meninggal dalam keadaan beriman dan bertaqwa. 

Sebagaimana kita ketahui, bahwa Allah Swt lah yang membolak-balik hati hamba-Nya. Bisa jadi pada hari ini Anda begitu rajin beribadah, namun siapa tahu suatu hari nanti Anda begitu jauh melenceng dari jalan kebenaran. Hati itu selalu bolak-balik. Jikalau tidak, maka bukan hati namanya.  


Makanya, dalam keadaan apapun, kita harus selalu meminta kepada-Nya, agar kita konsisten dalam ber-Islam dan dijauhkan dari sifat munafik. Selain itu, kita juga memohon ampunan-Nya, meninggal dalam keadaan Husnul Khatimah dan ditempatkan di surga kelak. 


Jikalau telah dilakukan, maka berbaiksangkalah kepada Allah Swt, karena Dia selalu bersama dugaan hamba-Nya kepada-Nya. Jikalau Anda menyangka bahwa Anda akan meninggal dalam keadaan Husnul Khatimah, maka itu akan terjadi. Namun jikalau Anda tidak yakin, maka yang terjadi adalah sebaliknya. 


3-Berusaha keras memperbaiki lahir dan bathin. 

Masalah yang sering kita hadapi adalah mampu memperbaiki keadaan lahir, namun sulit memperbaiki bathin. Misalnya, jikalau kita berada di hadapan orang banyak, mungkin kita terdorong untuk berbuat amal baik dan ibadah sebanyak-sebanyaknya. Sebaliknya, ketika sendirian, justru rasa malas itu menimpa. Jikalau biasanya shalat di hadapan orang banyak dengan jangka waktu yang lama, maka jikalau shalat sendirian, biasanya super cepat. 


Hal seperti itu, biasa saja. Kadang-kadang iman mengalami kenaikan dan penurunan. Masalahnya, apakah kita melakukan itu (beribadah banyak di hadapan orang lain, dan sedikit jikalau sendirian) karena riya atau memang karena futur? 


Jikalau karena riya, maka segeralah bertaubat kepada Allah Swt, karena Anda telah mempersekutukan-Nya dalam ibadah. Namun jikalau Anda melakukannya karena rasa malas dan futur, maka berusahalah untuk memperbaiki diri, agar konsisten dalam keadaan sendirian maupun di hadapan orang banyak. Konsisten lahir dan bathin.[]

Dahsyatnya Sakaratul Maut

Sakratul maut adalah masa ketika ruh hampir meninggalkan badan, masa ketika nyawa hampir di kerongkongan. Pada waktu ini, seorang muslim akan mengalami berbagai cobaan, terurama cobaan keimanan yang akan didalangi oleh Iblis laknatullah. Jikalau nyawa telah sampai di kerongkongan, maka semua catatan kesalahan telah ditetapkan dan pintu taubatpun telah ditutup. 


Jikalau si mayat adalah seorang muslim yang taat, maka syetan akan menggodanya habis-habisan. Ibarat sebuah pertandingan, maka ini adalah finalnya. Di dalam kamusnya tertulis, bahwa dia harus berhasil menyesatkannya dari jalan kebenaran di ujung kehidupannya ini. 


Dalanm sebuah hadits, Rasulullah Saw menjelaskan bagaimana godaan yang akan diterima seorang muslim: 

"Ketika ajal akan mendatangi seorang hamba manusia, ada dua syetan yang duduk di sampingnya. Satu di sebelah kanan, dan satu lagi di sebelah kiri. Setelah sebelah kanan berwujud seperti ayah hamba tersebut, dan dia berkata, 'Anakku, saya dulu bersikap lemah-lembut dan menyayangimu, akan tetapi aku meninggalkan dengan agama Nashrani, dan memang agama Nashrani lah yang benar.' Sementara di sebelah kirinya berwujud ibundanya dan berkata, 'Anakku, perutku dulu adalah ruang tumbuhmu, susuku adalah air minummu dan kedua pahaku adalah tempat lahirmu. Akan tetapi saya meninggal dalam keadaan Yahudi, dan memang Yahudi lah agama yang paling baik." 


Artinya, hadits ini menjelaskan kepada kita, bahwa di ujung kematian itu iblis akan menghampiri dalam wujud orang-orang yang kita sayangi, baik ibu, ayah, kakek, nenek dan teman-teman. Mereka berusaha membujuk-rayu untuk melecehkan aqidah Islam yang selama ini kita anut. Sebagaimana penulis jelaskan tadi, bahwa saat seperti ini adalah saat menentukan bagi perjuangan Iblis dan antek-anteknya. 


Jikalau kita telah membahas tentang praha ketika sakratul maut, maka pertanyaannya sekarang: Apakah Anda mengetahui bagaimana dahsyatnya rasa kematian? 


Pada suatu hari, Nabi Musa Alaihissalam ditanya, bagaimana rasanya ketika ruh berpisah dengan badan. Maka beliau menjawab: 

"Diriku seperti burung pipit yang hidup ketika jatuh ke dalam penggorengan, tidak cepat mati agar bisa beristirahat dan tidak puula selamat agar bisa terbang." 


Apakah Anda bisa membayangkan, bagaimana rasanya seekor burung atau apapun digoreng dengan minyak panas dalam keadaan hidup?!


Pedih. Sama sekali tidak terkirakan. 


Dalam riwayat lain diceritakan, bahwa kematian itu seperti seekor kambing yang dikuliti tukang jagal hidup-hidup.


Kedua rasa tersebut benar-benar luar biasa menyakitkan. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang berani dikuliti hidup-hidup. Jikalau istilah sekarang, itu merupakan sebuah penganiayaan. Tidak berperikemanisiaa. Tapi, itulah rasanya sakratul maut. Mau tidak mau, senang tidak senang, Anda tetap akan merasakannya lambat laun.


Jenis sakratul maut di atas adalah jenis yang dialami oleh para Nabi, Rasul, wali dan orang-orang shaleh, maka bagaimanakah rasanya jikalau orang seperti kita yang mengalaminya? Bisa dipastikan, tentu lebih dahsyat. 


Jikalau Anda pernah melihat seseorang mengalami sakratul maut, maka Anda mengetahuinya. Biasanya, seorang pelaku maksiat akan menjerit-jerit dalam kebisuannya menahan pedihnya nyawa dicabut. Sebaliknya, seorang mukmin tetap adem ayem; walaupun rasa sakit itu menderanya. 


Nabi Isa 'Alaihissalam selalu mewanti-wanti para pengikutnya agar selalu berdoa kepada Allah Swt, sehingga kematiannya dimudahkan. 


Tanda-Tanda Dekatnya Kematian

Jikalau seseorang berada di ujung kehidupannya, tentu semua itu tidak lepas dari tanda-tanda. Jikalau dia seorang mukmin yang taat, maka dia akan melihat Malaikat Maut dalam sosok seorang laki-laki yang berperawakan tampan, harum dan membawa pengawet jenazah dari surga. Kemudian Malaikat itu berkata kepadanya, "Kembalilah keridhoan Allah Swt wahai jiwa yang mulia." Sebaliknya, jikalau dia seorang pelaku maksiat, maka Malaikat Maut akan menghampirinya dalam wujud seorang laki-laki buruk rupa, bau yang menjijikkkan dan membawa pengawet jenazah dari neraka. Kemudian Malaikat tadi berkata kepada si mayat, "Wahai jiwa yang hina, keluarlah menuju kemurkaan Tuhanmu." 


Yah, begitulah keadaannya ketika sakratul maut. Keadaan yang di alami seorang mukmin sangat kontras dengan seorang pelaku maksiat. Jikalau seorang mukmin selalu dipenuhi kesenangan dan kebahagiaan, maka pelaku maksiat mengalami sebaliknya, penuh dengan penderitaan dan kesengsaraan; padahal itu baru di ujung kematian, belum di alam Barzakh dan Neraka. 


Jikalau nyawa benar-benar telah berpisah dengan badan, maka ada beberapa tanda yang bisa kita jadikan petunjuk: 

1- Mata Melotot

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw: 

"Jikalau nyawa telah dicabut, maka mata akan mengikutinya." [Diriwayatkan oleh Muslim]

Kita sering menyaksikan fenomena ini ketika melihat seseorang mengalami kematian. Jikalau hal ini terjadi, maka tugas pertama yang harus kita lakukan adalah menutup matanya dengan mengusap wajahnya. 

2-Hidung membengkok ke kiri atau ke kanan. 

3-Rahang bawah kendor, karena anggota tubuh lainnya juga kendor. 

4-Jantung tidak bekerja dan detaknya berhenti. 

5-Sekujur tubuh menjadi dingin. 

6-Betis kanan bertaut dengan betis kiri atu sebaliknya. 

Itulah beberapa tanda-tanda yang bisa kita jadikan acuan. []

Keutamaan (Fadhilah) Mengingat Kematian

 Pertanyaannya sekarang, mengapa kita harus sering-sering mengingat kematian? 


Sebenarnya, ada beberapa faedah yang bisa diperoleh ketika kita banyak mengingatnya: 


1-Mematahkan nafsu kecendrungan kepada dunia

Salah satu kelebihan yang diberikan Allah Swt kepada manusia adalah hawa nafsu. Dengan ini, seorang manusia bisa mencapai tingkatan melebihi para Malaikat. Sebaliknya, ia juga bisa mengantarnya menuju posisi sehina-hinanya. Jikalau nafsu itu dikendalikan dan dimamfaatkan di jalan kebenaran yang sesuai dengan tuntutan Pencipnya, maka kita akan beruntung. Kedudukan kita di sisi Allah Swt akan melebihi kedudukan para Malaikat. Namun ketika kita melampiaskannya dalam kemaksiatan, sibuk dengan kenikmatan sesaat, maka kedudukan kita jauh lebih rendah dari binatang ternak yang tidak memiliki akal sama sekali. Na'udzubillah Min Dzalik. 


Nah, di antara mamfaat mengingat kematian itu adalah mematahkan nafsu jelek ini. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw bersabda: 

"Perbanyaklah mengingat hancurnya kenikmatan." [Diriwayatkan oleh At-Turmudzi]


2-Ciri Orang yang Pintar dan Mulia

Orang yang pintar bukanlah orang yang larut dengan segala angan-angannya. Sibuk melamun, tetapi tidak ada aplikasi. Orang yang pintar adalah orang yang mempersiapkan dirinya untuk kehidupan setelah kematian. Dia selalu berada di garus kebenaran. Baginya, kebenaran dan berada di jalan hidayah adalah harga mati yang tidak bisa di tawar-tawar lagi. Dia berusaha mencapai kemuliaan di dunia, namun tidak melalaikan kehidupan akhirat yang merupakan akhir segala episode kehidupan. 


Dalam sebuah hadits dijelaskan, bahwa seorang sahabat Rasullah Saw dari kalangan Anshar bertanya, "Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling banyak mempersiapkan diri. Merekalah orang-orang yang cerdas. Mereka berlalu dengan kemuliaan dunia dan keagungan akhirat." [Diriwayatkan oleh Ibn Majah]


3-Melembutkan hati

Salah satu tanda jauhnya seseorang dari Allah Swt adalah kerasnya hati. Jikalau hati membeku, maka tidak ada kebenaran yang akan mau diterimanya. Baginya, kebenaran hanyalah sesuatu yang memekakkan telinga dan merusaukan fikiran. Keadaannya akan terus seperti itu, sehingga jikalau tidak segera diobati, maka dia akan mengalami kerugian besar di dunia dan akhirat. 


Jikalau dirinci, maka kerugian dunia yang akan diperolehnya adalah jauhnya dari teman-teman yang baik. Biasanya, seseorang yang berhati kasar, tidak mau menerima nasehat dan kebenaran. Sedangkan orang yang baik selalu berusaha melakukan kebaikan dengan menasehati teman-temannya yang melenceng dari jalan kebenaran. Tentu tindakan seperti ini sangat tidak disenagi oleh orang yang jasar hatinya. 


Kerugian akhirat yang akan diperolehnya adalah neraka yang menyala-nyala. Kehidupannya yang bergelimang maksiat, menutup diri dari kebenaran dan nasehat para ulama, tentu akan mengantarkannya menuju panasnya neraka. Ujung-ujungnya, yang ada hanyalah penyesalah belaka. 


Itulah sebabnya, jikalau selama ini hati kita kasar dan selalu menolak kebenaran, maka ingat-ingatlah kematian. Ingatlah ketika Anda digiring ke dalam Api neraka. 


Dalam sebuah Atsar dijelaskan, bahwa pada suatu hari seorang perempuan menemui 'Aisyah Radhiyallahuu 'Anha seraya mengadukan kekasaran hatinya, maka dia berkata, "Perbanyaklah mengingat kematian, maka hatimu akan lembut." Kemudian perempuan itu melakukannya, sehingga hatinya menjadi lembut dan dia pun berterima kasih kepada 'Aisyah.  


Itulah di antara penyebab, kenapa kita harus mengingat kematian. Sikap dan gaya berfikir kita, menunjukkan kwalitas iman kita. 


Para Salaf & Mengingat Kematian (Dzikr al-Maut)


Jikalau kita melihat kehidupan para Salaf Shaleh, maka kita akan menemui begitu banyak nasehat mereka tentang pentingnya mengingat kematian, di antaranya: 

Ar-Rabi' bin Khasim mengatakan, "Tidak ada sesuatu ghaib yang ditunggu seorang mukmin, yang kebaikannya melebihi kematian." 


Sebahagian para Filosof menasehati saudaranya, "Wahai saudaraku, ingatlah kematian di negeri ini, sebelum engkau berada di negeri yang disana engkau mengharapkan kematian, namun tidak mendapatkannya sama sekali." 


Ibrahim At-Taimy mengatakan, "Ada dua perkara yang memutus kenikmatan dunia dari diriku: Mengingat kematian dan berdiri di hadapan Allah Swt." 


Jikalau kita meneliti dan mengkaji keadaan mereka, tentu kita akan merasa hina. Mereka benar-benar menghayati arti sebuah kematian. Bayangkanlah. 


Umar bin Abdul Aziz memiliki kebiasaan yang layak kita jadikan contoh. Biasanya, dia mengumpulkan para Ahli Fiqih setiap malam, kemudian mereka mengingatkannya kematian,  Hari Kiamat dan Akhifat, kemudian mereka menangis bersama-sama, seolah-olah di hadapan mereka ada jenazah yang terbaring." 


Dalam riwayat lainnya disebuatkan, pada suatu hari Umar bin Abdul Aziz meminta nasehat kepada para ulama. Dia bertaka, "Nasehatilah diriku ini?" Salah seorang di antara mereka berkata, "Engkau bukanlah khalifah pertama yang mengalami kematian." Dia berkata, "Tambahkanlah." Dia melanjutkan, "Tidak ada seorang pun nenek moyangmu semenjak Adam, kecuali merasakan kematian, dan masamu akan sampai tidak berapa lama lagi." Kemudia Umar menangis mendengarkannya. 


Ibn Sirin punya kisah lainnya. Jikalau dia mendengar tentang kematian, maka sekujur tubuhnya akan lumpuh. Seolah-olah, ia sedang berhadapan lansung dengan Malaikat Maut. 


Ar-Rabi' bin Al-Khasim menggali kubur di dekat rumahnya. Kemudian dia tidur disana berkali-kali dalam sehari, dan itu dilakukannya secara terus-menerus. Dia mengatakan, "Jikalau saja hatiku lalai mengingat kematian, maka ia akan rusak."[]