Entah bahasa apa yang cocok untuk mengartikan al-Takyíf ini dalam bahasa Indonesia. Ada yang mengartikannya dengan “Adaptasi”. Ada juga yang mengartikannya dengan “Dialektika”. Ada juga yang saya dapati mengartikannya dengan “Rekayasa”.  Untuk yang terakhir, maknanya terlalu peyoratif. Saya tidak setuju. Sebab, makna al-Takyíf al-Fiqhí  itu positif.

Entah mana yang cocoh. Tapi nanti kita bisa menentukan artinya yang cocoknya atau mendati makna aslinya setelah membaca Artikel berikut.

#Dialektika Fikih (al-Takyíf al-Fiqhí) Terhadap Seni

Al-Takyíf merupakan istilah undang-undang, kemudian dipinjam dan digunakan dalam kajian fikih. Inilah awal mula digunakannya istilah al-Takyíf al-Fiqhí di kalangan ulama kontemporer, yang sepadan dengan makna yang digunakan ketika menyebut al-Takyíf al-Qanùni (al-Takyíf atas Undang-Undang).

Maksud al-Takyíf al-Fiqhí atau al-Takyíf al-Qanùni adalah menentukan pengertian al-Tasharruf (tindakan) atau masalah atau kejadian yang dilihat dengan pandangan fikih atau undang-undang atau peradilan, kemudian membaginya dan menempatkannya di bab yang sesuai, agar bisa diolah dan ditetapkan hukumnya sesuai dialektikanya dan susunannya.

Dialektika Fikih (al-Takyíf al-Fiqhí) Terhadap Seni

admin
,
Bagi kalangan awam yang sudah mencapai usia al-Taklîf, fatwa merupakan salah satu saran penting baginya untuk mengetahui hokum sebuah masalah dan sebuah kejadian. Kalau di zaman Nabi, kalau ada sebuah masalah, bisa lansung ke tanyakan kepadanya dan lansung dapat jaabannya. Setelah beliau meninggal, maka fatwa adalah jalannya. Dengan adanya fatwa, orang awam tidak perlu susah-susah lagi untuk mengkaji dan meneliti. Selain menyulitkan, mereka juga tidak memiliki perangkat mengkajinya dan menelitinya.

Fatwa itu mulai muncul setelah kematian Nabi Muhammad Saw, dengan tetap bersandar kepada salah satu Ushùl al-Syarî’ah, yang merupakan hasil saringan dari al-Ijtihâd dari orang-orang terpilih umat ini, yang sudah memenuhi syarat untuk melakukan al-Ijtihâd. Dan al-Ijtihâd itu sendiri, tidak akan pernag terputus sampai Hari kiamat kelak, sebagaimana dinyatakan dalam kajian Ushùl al-Fiqh.

#Sejarah Fatwa Nyeleneh (al-Fatâwâ al-Syâdzah) dan Efek Negatifnya Terhadap Fikih

Fikih itu tidak pernah lepas dari perbedaan. Itulah tabiat fikih. Sebab, pangkalnya adalah al-Ijtihâd; beda kepala beda pula hasil Ijtihadnya. Tapi, mereka berbeda bukan asal berbeda. Ada dalilnya dan Ushulnya yang menjadi tempat mereka berpijak. Hanya saja kadang-kadang, ada pendapat fikih yang terasa jauh sekali dari tabiat asli fikih, perbedaannya terlalu kentara jikalau dibandingkan pendapat-pendapat fikih kebanyakan.

Dalam kondisi seperti ini, pendapat fikihnya tidak bisa dianggap lagi wujudnnya. Ia sudah masuk ke dalam apa yang dinamakan dengan Pendapat al-Syâdz (al-Fatwa al-Syâdzah)

Sejarah Fatwa Nyeleneh (al-Fatâwâ al-Syâdzah) dan Efek Negatifnya Terhadap Fikih

admin
,
Seringkali kader umat Islam dan cendekiawan muslim bertanya, “Apakah segala sesuatu dalam Islam, harus tunduk kepada ketentuan halal dan haram? Apakah agama mencekik manusia? Mereka tidak bisa bergerak dan bertindak kecuali setelah bertanya hokum perbuatan yang dilakukannya; apakah halal atau haram?”

Bukankah selayaknya seorang anak manusia itu bebas dalam semua tindakannya, semua perbuatannya, dan semua perilakunya? Ia tidak dipertanyakan segala sesuatu yang dilakukannya? Kecuali jikalau sesuatu itu ada kekaburan hukumnya atau ada sesuatu di baliknya? Agar, setiap anak manusia merasakan kebebasannya. Jikalau begini, maka orang-orang akan lebih mencintai agamanya, dan tidak akan apriori dengan kehidupan beragama.

#Ruang Kebebasan di Dalam Fikih Islam

Pernyataan ini benar. Tidak salah, dan tidak masalah. Hanya saja, jikalau ada yang berkata bahwa agama mencekik penganutnya dengan berbagai tuntutan dan kewajiban, maka pernyataan itu panggang jauh dari api.

Begini. Allah SWT membuat ruang kebebasan, jauh lebih luas di dalam syariat-Nya di bandingkan dengan ruang Perintah (al-Awāmir) dan Larangan (al-Nawāhy). Artinya, ketika seseorang melihat dan memperhatikan dengan baik segala perbuatannya dan segala tindak tanduknya, maka ia akan mendapati bahwa kekebasan (al-Hurriyyah) yang diberikan kepadanya, jauh lebih banyak dibandingkan yang lainnya.

Kejeniusan Fikih Islam (al-Fiqh al-Islāmy) tampak nyata, dengan apa yang dikenal dengan istilah Hukum Taklif (al-Hukum al-Taklīfy). Dengan hokum ini, jutaan perbuatan manusia bisa diklasifikasi dengan lima ruang, yaitu wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah. Semua perbuatan dan perkataannya, semuanya masuk ke dalam hokum lima ruang ini.

Jikalau kita mau mengkaji Hukum Islam dan membuat persentasinya, maka kita akan mendapati bahwa hokum haram adalah hokum yang paling sedikit jumlahnya. Hal-hal yang diharamkan dan dilarang dalam Islam, jumlahnya sedikit. Kemudian setelahnya, barulah hokum wajib. Perintah dalam Islam, jumlahnya juga sedikit. Kemudian setelahnya Hukum Makruh. Kemudian setelahnya, Hukum Sunnah. Kemudian setelahnya, hokum Mubah atau boleh. Kalau mau dipersentasikan, Mubah itu sekitar 80%.

Para Ahli Fikih dan Ulama sudah menetapkan kaedah bahwa Hukum Asal dalam Segala Sesuatu adalah Mubah, sampai Ada Nash yang Mengharamkannya (al-Ashl fī al-Asyya’ al-Ibāhah hattā Yarid al-Nash bi al-Tahrīm). Artinya, jikalau ada suatu masalah kontemporer, maka seorang Mujtahid tidak bisa lansung mengharamkannya, tetapi menegakkannya di atas hokum asalnya yang  membolehkan. Sebab pada dasanya, manusia itu bebas hokum (al-Taklīf). Kecuali ada dalil yang mengharamkannya, atau mewajibkannya atau memakruhkannya. Masalah yang terjadi, kadanglah hukumnya bisa kelimanya, sesuai dengan Ijtihad. Hanya saja, hokum asalnya tetap boleh atau al-Ibāhah.

Para Ahli Fikih membagi fikih beberapa bagian utama, yaitu Ibadah, Muamalah, Adab dan Adat.

Kewajiban yang paling banyak, berhubungan dengan Ibadah. Sebab, ia mengatur hubungan antara seorang hamba dengan Rabbnya.

Jenis kewajiban atau al-Furūdh yang banyak adalah ibadah. Sebab, ia mengatur hubungan seorang hamba dengan Rabbnya. Balasannya adalah balasan Ukhrākhi, di akhirat kelak. Di dunia tetap ada balasannya, walaupun kadangkala tidak tampak nyata. Hanya saja, setiap ibadah itu tidak akan pernah luput dari unsur kemaslahatan. Pasti ada kemaslahatannya. Dan tujuan utamanya, jelas al-Ta’abbud.

Kalau Muamalah, maka muaranya adalah Mashālih al-‘Ibād, kemaslahatan bagi para hamba Allah SWT. Muamalah ini ruangnya lebih bebas, tidak begitu didetail layaknya ibadah. Diisi oleh kaedah-kaedah umum. Masalah-masalah Muamalah selalu mengalami perkembangan antara satu masa dengan masa lainnya. Tapi bukan berarti isinya kaedah umum semua. Ada juga masalah-masalahnya yang sudah ada dalilnya, yang tidak boleh dilanggar dan dilangkahi oleh Ijtihād. Misalnya, jenis-jenis jual beli yang diharamkan, minuman yang diharamkan, masalah al-Hudūd, dan kriminalitas (al-Jināyah).  Banyak masalah-masalah Muamalah klasik dan kontemporer yang membutuhkan ijtihād baru. Tidak lazim masalah baru dalam Muamalah, ada dasarnya di studi klasik. Namun, sebuah Ijtihād tetaplah harus ditegak di atas Nash al-Qurān dan sunnah, serta Ijtihād umum. 

Kalau Adab, maka ia merupakan syariat yang minim sekali wajibnya dan haramnya, bahkan sebagian besarnya berkisar antara sunnah dan mubah. Ia menjelaskan celupan Islam terhadap kondisi manusia dan kebiasaan mereka, agar tidak sekadar menjadi kebiasaan. Atau Ia adalah perkara-perkara yang menggambarkan kebiasaan dan akhlak baik, seperti Adab Bekerja, Adab Hukum dan Pengadilan, atau Adab Hidup Secara Umum, Adab Berhubungan dengan Muslim dan Non Muslim, dan sejenisnya.

Jenis selanjutnya, berhubungan dengan Adat atau Kebiasaan, seperti melakukan perjalanan, berobat, berhias, pakaian, minuman, dan selainnya. Jenis ini tegak di atas pondasi kebiasaan yang berlaku, namun disertai dengan aturan-aturan yang memastikan kebiasaan atau adat tersebut, tidak menyebabkan mudharat bagi manusia itu sendiri maupun bagi masyarakat secara umum.

Agar Anda paham dengan baik makna “Kebebasan Dalam Fikih” ini, atau memahami bahwa fikih itu sama sekali tidak mencekik anak manusia, bahkan sebaliknya; sangat memberikan kelapangan, maka hendaklah setiap mereka melihat seluruh perbuatannya dan seluruh tindakannya. Hendaklah mereka memperhatikan berapa persentasi wajib yang diwajibkan oleh Allah SWT pada hari ini? Berapakah persentasi haram? Berapakah persentasi Mubah? Maka akan didapati bahwa Mubah itu menjadi hokum asal dalam perbuatan manusia dan tindak tanduknya.

Ketika seorang muslim mengetahui bahwa hokum sebagian besar perbuatannya dan tindakannya adalah Mubah, maka hendaklah ia mencintai Allah SWT dan mencintai Islam, mengetahui ketetapan Allah SWT dalam Kitab-Nya terhadap para hamba-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur." (Surat al-Maidah: 6)

Hendaklah ia yakin bahwa ketetapan Allah SWT dalam Kitab-Nya merupakan kaedah emas dalam masalah hokum, yaitu firman-Nya:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (Surat al-Baqarah: 185)

Atau meyakini ketetapan Nabi Muhammad Saw dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh al-Bukhāry dan Muslim:
إن هذا الدين يسر، ولن يشاد الدين أحد إلا غلبه، فسددوا وقاربوا، وأبشروا، واستعينوا بالغدوة والروحة، وشيء من الدلجة
“Agama ini mudah. Tidaklah seseorang mengetatkannya, kecuali ia akan kalah. Maka, luruskanlah dan dekatkanlah. Bergembiralah dan mohonlah bantuan di pagi dan sore hari, serta di waktu malam.”

Pengertian inilah yang difahami oleh Ahli Fikih Umat Islam, dan pengertian inilah yang mereka ungkapkan. Di antara buktinya adalah ucapan al-Imām Ibn al-Qayyim dalam Kitab Ighātsah al-Lahfan (1/ 158):
“Allah SWT menyatukan dalam syariat ini, antara kelurusan dan ketoleranan. Ia lurus dalam bertauhid, dan toleran dalam beramal.”

Bahkan, kebebasan dan kemudahan merupakan syiar umat ini yang membedakannya dengan umat-umat sebelumnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibn Katsīr dalam tafsirnya (2/ 254):
“Nabi Saw diutus dengan kemudahan (al-Taysīr) dan toleran (al-Samāhah). Syariat umat sebelum mereka, penuh dengan kesempitan. Maka, Allah SWT melapangkan perkara umat ini dan memudahkannya bagi mereka.”

Bahkan, salah satu keagungan syariat Islam, ia memberikan beban (al-Taklīf) kepada umatnya jauh lebih minim dari yang mungkin dilakukannya, sebagaimana dikatakan oleh al-Zamakhsyary:
“Allah SWT tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya dan mudah dilakukannya, bukan sesuai dengan puncak kemampuannya dan usahanya. Manusia itu mampu mengerjakan shalat lebih dari lima waktu, berpuasa lebih dari sebulan, dan berhaji lebih dari sekali.”

Kesimpulannya, Teori Pensyariatan (Nazhariyyat al-Tasyrī’) tegak di atas dasar “Kebebasan dalam Fikih”. Ruang kebebasan, jauh lebih luas dari ruang lainnya. Bahkan, kita tidak bisa menghitung kekebasan yang diberikan oleh Allah SWT karena saking banyaknya dan saking melimpahnya. Wajib dan Haram, ruangnya sangat sempit dalam syariat Islam.[]

Ruang Kebebasan di Dalam Fikih Islam

admin
,
Dalam Aturan Internasional terkait Hak Asasi Manusia (HAM) dijelaskan bahwa Impunitas adalah tidak memberikan keadilan (baca: hukuman) kepada para pelanggar Hak Asasi Manusia (HAM), atau meniadakan hukuman. Dan ini, tentu saja, menafikan hak para korban untuk mendapatka keadilan hokum.

Di berbagai Negara, para Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) berusaha dan berjuang melawan Impunitas ini, demi memberikan hak para korban. Bagi mereka, ia sama saja dengan merusak Hak Asasi Manusia. Masalah ini merupakan salah satu tantangan paling besar yang dihadapan para aktivis HAM.

#Impunitas Dalam Konteks Keadilan dan Hak Asasi Manusia (HAM) Menurut Islam

Kriminalitas dan Hukuman Menurut Agama-Agama Langit (al-Adyān al-Samāwiyah) Secara Umum, Menurut Islam Secara Khusus


Syeikh Muhammad Abū Zahrah mengatakan dalam Kitabnya Falsafah al-‘Uqūbah fī al-Fiqh al-Islāmy, “Hukuman (al-‘Uqūbah) dalam syariat agama-agama langit , semuanya bertujuan untuk mendapatkan keadilan, yaitu dengan setaranya hukuman dengan perbuatan criminal dan efeknya. Kriminal yang terjadi pada pribadi, yang tidak ada kaitannya dengan hak Allah SWT, yaitu berhubungan dengan hak social dan etika, maka hukumannya sesuai dengan kadar criminal yang terjadi terjadi korban.”

Dengan begitu jelaslah bahwa masalah Impunitas menurut Islam memiliki sejumlah tujuan, yang tidak jauh berbeda dengan agama-agamalainnya.

Inilah beberapa di antaranya yang paling penting.

Pertama, Mewujudkan Keadilan (Tahqīq al-‘Adālah)
Kehidupan seorang manusia, hartanya, dan kehormatannya, merupakan hal-hal yang wajib dimuliakan. Sama sekali tidak adil jikalau seseorang dibiarkan saja merusak semua ini tanpa ada pertanggungjawaban yang diminta darinya. Sebab, itu sama saja merusak Hak Asasi Manusia (HAM) dan mendorong orang lain untuk menyelematkan diri atas kriminalitas-kriminalitas yang dilakukannya.

Kedua, Mewujudkan Preventif (Tahqīq al-Rad’)
Preventif disini ada dua jenis:
1-Preventif Umum (al-Rad’ al-‘Aāmm), yaitu peringatan untuk khalayak umum dan seluruh warga negara bahwa perbuatan yang dilakukan pelaku adalah criminal di mata undang-undang. Siapapun, tidak boleh ada yang melakukannya. Hukuman ini berfungsi sebagai Ancaman (al-Tahdīd), yang ditujukan ke psikologi khalayak ramai atau masyarakat secara keseluruhan. Pesan yang ingin disampaikan, “siapa yang melakukannya, maka tangan hokum tidak akan diam. Ia akan dikejar sampai dapat.”

2-Preventif Khusus (al-Rad’ al-‘Khāsh), yaitu pedihnya hukuman yang diberikan kepaada pelaku kejahatan atau pelaku criminal, akan memberikan efek psikologi dan efek jera terhadap di pelaku, serta mencegahnya untuk tidak melakukannya lagi di lain waktu.

Ketiga, Membuat Pelaku Kriminal Semakin Baik (Islāh al-Jāny)
Hukuman itu ada, bukanlah untuk membalas dendam kepada pelaku criminal atau menyiksanya, tetapi untuk memperbaikinya dan mendidiknya agar menjadi manusia yang lebih baik ke depannya.

Dalam Islam, hukuman itu ada dua jenisnya. Pertama, Hukuman yang ditentukan kadarnya dan ukurannya oleh syariat, seperti al-Hudūd dan al-Qishās. Kedua, Hukuman yang ditentukan kadarnya dan ukurannya oleh Hakim atau al-Qādhy untuk criminal-kriminal yang memang berhak mendapatkan hukuman, yang tentunya sesuai dengan kaedah-kaedah umum dalam syariat Islam. Inilah dikenal dengan nama al-Ta’zīr.

Ketika hukuman al-Qishās diabaikan, maka itu sama saja artinya membolehkan kezaliman terhadap kehidupan pribadi di satu sisi, dan kezaliman terhadap system yang berlaku dalam masyarakat di sisi lainnya.

Hukuman, menurut undang-undang, adalah balasan yang ditetapkan oleh undang-undang criminal demi kemaslahatan masyarakat, demi menegakkan hukuman criminal terhadap orang yang bertanggungjawab melakukan suatu aksi criminal, agar criminal tersebut tidak dilakukan lagi oleh pelakunya sendiri maupun oleh warga negara lainnya.


Kriminal Pejabat dan Kriminal Rakyat Kecil (Jelata) Menurut Islam


Kaedah umum yang terdapat dalam Sunnah Nabi dan Sunnah para Khalafā al-Rāsyidīn menjelaskan bahwa seluruh kaum muslimin, sama kedudukannya di mata hokum. Semua harus tunduk di bawah aturan hokum yang menetapkan hukuman bagi setiap criminal. Tidak ada seorang pun yang memiliki hak Imunitas. Tidak ada bedanya antara satu kriminalitas dengan kriminalitas lainya. Semuanya sama kedudukannya. Semuanya sama hukumannya, sesuai dengan tingkat kriminalnya. Walaupun pelakunya adalah Presiden. Raja. Maupun Perdana Menteri.

Nabi Muhammad Saw adalah pemimpin umat. Kalau sekarang, bisa dibilang Presiden atau Raja. Kira-kita begitu, walaupun mungkin tidak tepat. Beliau secara terang-terangan menyatakan berhak mendapatkan hukuman jikalau ada kriminalitas yang dilakukannya. Bahkan, al-Qishās sekali pun.

Beliau pernah mengatakan di hadapan khalayak:
أيها الناس من كنت جلدت له ظهرًا فهذا ظهري فليستقد منه، ومن كنت شتمت له عرضاً فهذا عرضي فليستقد منه، ومن أخذت له مالاً فهذا مالي فليأخذ منه، ولا يخش الشحناء، فإنها ليست من شأني، ألا وإن أحبكم إلي من أخذ مني حقاً إن كان له، أو حللني القول  فلقيت ربي وأنا طيب النفس
“Wahai sekalian manusia, siapa yang saya cambuk punggungnya, maka inilah punggungku dan balaslah. Siapa yang caci kehormatannya, maka inilah kehormatanku dan balaslah. Siapa yang saya ambil hartanya, maka inilah hartaku dan ambillah. Tidak usah takut kebencian. Saya tidak begitu. Ketahuilah, orang yang paling saya cintai di antara kalian adalah orang yang mengambil haknya dariku, jikalau itu memang haknya. Atau ia menghalalkan bagiku dengan ucapannya. Agar, saya bisa bertemu Rabbku dengan jiwa yang baik.” (Diriwayatkan oleh al-Thabrāni)

Dalam hadits lainnya, beliau menjelaskan:
إنما أهلك الذين من قبلكم أنهم إذا سرق فيهم الشريف تركوه، وإذا سرق فيهم الضعيف أقاموا عليه الحد، والذي نفس محمد بيده، لو أن فاطمة بنت محمد سرقت لقطعت يدها
“Kehancuran orang-orang sebelum kalian, jikalau orang ternama mencuri di antara mereka, maka mereka membiarkannya. Jikalau orang lemah di antara mereka yang melakukannya, maka mereka menegakkan hukuman. Demi jiwa Muhammad yang berada dalam genggaman-Nya, jikalau Fāthimah binti Muhammad mencuri, maka saya akan potong tangannya.” (HR al-Bukhāry)

Dengan begitu, jelaslah aturannya dalam Islam. Semua pemimpin dalam Islam, di negeri Islam mana pun, walaupun mereka memiliki imunitas, namun jikalau melakukan tindak criminal yang sudah ada ketentuan hukumannya dalam syariat, maka ia harus tunduk di bawah hokum dan harus dihukum.

Dan artinya lagi, jikalau pemimpin tertinggi negara saja harus ditegakkan hokum atas criminal yang dilakukannya, maka orang-orang yang berada di bawahnya tentu lebih layak lagi mendapatkan hukuman, walaupun itu mentri, gubernur, pejabat, dan lain sebagainya. Hukum harus ditegakkan kepada siapapun. Semua perbuatan harus dipertanggungjawabkan.

***


Kesimpulannya, Impunitas itu tidak berlaku dalam Islam. Hukum harus ditegakkan. Ketika ada yang berbuat criminal, maka ia harus siap mempertanggungjawabkan perbuatannya. Mau pajabat, Mau rakyat jelata, kedudukannya saja. Tidak ada yang memiliki hak khusus di mata hokum.

Ketika hokum berlaku sepihak, maka negara akan hancur. Itu sudah sunnatullah. []

Impunitas Dalam Konteks Keadilan dan Hak Asasi Manusia (HAM)

admin
,
Kalau Anda melihat dan mengkaji sejarah Islam, maka Anda akan mendapati bahwa masyarakat Islam bukanlah masyarakat yang homogen. Selalu Heterogen sepanjang sejarahnya. Pasti ada agama lainnya yang bersandingan dengan agama Islam, dalam kehidupan bermasyarakat.

Tidak ada masalah dalam hal ini. Sebab, Islam tidak pernah memaksa seseorang untuk masuk Islam, untuk beriman. Islam sama sekali tidak melarang umatnya untuk hidup berdampingan dengan orang-orang yang berbeda akidah dan berbeda agama. Menjadi manusia beriman kepada Allah SWT, bukan berarti kita memutus silaturrahim dengan Non Muslim dan tidak mau hidup bersama mereka dalam sebuah tatanan masyarakat.

#Kaum Dzimmi (Ahli al-Dzimmah) Dalam Masyarakat Islam Menurut Konteks Sejarah

Itulah sebabnya kenapa Islam menjelaskan hubungan antara Muslim dengan Non Muslim dalam kitab-Nya yang mulia, kemudian para Ahli Fikih menjelaskannya lebih dalam dan lebih detail seputar kaedah-kaedah umum tersebut. Sehingga, tidak ada satu kitab-kitab Fikih, kecuali mencakup Bab al-Jizyah, al-Kharraj, dan  Ahli al-Dzimmah.

Walaupun begitu, masalah Non Muslim dalam sejarah Islam, masih saja menjadi sasaran kritikan dari para orientalis dan para pakar sejarah kontemporer, yang sebagian di antara mereka menganggap bahwa system Dzimmi dan Non Dzimmi adalah system Rasis.

Maka, dalam catatan ini kita akan melihat siapakah mereka Ahli al-Dzimmah? Apa saja hak-hak mereka? Apa saja kewajiban-kewajiban mereka? Dan apa esensi tekanan yang mereka dapatkan dalam masyarakat Islam?



Hak & Kewajiban Ahli al-Dzimmah


Ahli al-Dzimmah merupakan istilah yang digunakan oleh para Ahli Fikih untuk orang-orang Non Muslim yang tinggal di masyarakat Islam. Cakupannya lebih luas dari Ahli al-Kitāb. Sebab, ia juga mencakup Majusi, al-Shāibah, dan selainnya. Dinamakan Ahli al-Dzimmah, sebab mereka membayar al-Jizyah, menyerahkan keamanan jiwa mereka, kehormatan mereka, dan harta mereka di bawah tanggungan kaum muslimin.

Tradisi Islam menegaskan bahwa kaum Muslimin jikalau ingin menaklukkan suatu negeri, maka warganya diminta untuk masuk Islam. Siapa yan beriman dengan Islam, maka ia menjadi Muslim dan ditetapkan atas dirinya hokum Islam. Siapa yang tidak mau masuk Islam, maka ia berkewajiban membayar al-Jizyah, yaitu sejumlah uang  yang jelas nilainya, dibayarkan secara rutin per tahun, sebagai konsekwensi dari perlindungan yang mereka dapatkan. Hanya saja, ia dikecualikan dari para pendeta, para wanita, dan anak-anak.

Dalam masyarakat Islam, Ahli al-Dzimmah memiliki sejumlah kewajiban dan sejumlah hak yang wajib ditunaikan. Kewajiban mereka adalah membayar al-Jizyah, memuliakan al-Qurān dan sunnah, tidak menista agama Islam dengan cara apapun, tidak berzina dengan Muslimah atau menikahinya, tidak membantu orang-orang yang memerangi dan memberontak kepada umat Islam.

Mereka juga memiliki sejumlah kewajiban namun implementasinya bersifat sunnah, yaitu memakai pakaian bertambal, memakai Girdle (ikat punggung khusus), tidak terang-terangan mengkonsumsi minuman keras, makan daging babi, dan memukul lonceng, serta bangunan mereka tidak boleh lebih tinggi dari bangunan umat Islam. Silahkan untuk selanjutnya, dilihat Kitab al-Islām wa Ahli al-Dzimmah karya Ali Husni al-Kharbūthaly, terbitan al-Majlis al-A’lā li al-Syuūn al-Islāmiyah Kairo, Terbitan 1969, halaman 66.

Sedangkan untuk hak mereka, ada dua jenis: Hak Agama (al-Huqūq al-Dīniyyah), seperti kemerdekaan berkeyakinan, hak menjalankan syiar-syiar agama. Semua ini dijamin oleh firman Allah SWT:
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (256)
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Surat al-Baqarah: 256)

Dalam ayat lainnya:
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَن فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ (99)
Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?" (Surat Yunus: 99)

Hal itu juga mencakup mengatur urusan internel agamanya dan memilih pendeta tanpa intervensi Negara, serta menggunakan bahasa-bahasa agama. Hak kedua yang didapatkan oleh Ahli al-Dzimmah dalam Negara Islam adalah Hak Sipil (al-Huqūq al-Madaniyah), seperti hak bekerja, hak berdagang, hak Jaminan Sosial, Hak Menduduki Jabatan-Jabatan Umum, Hak Perlindungan Internal dan Eksternal.

Kritikan-Kritikan Orientalis


Banyak sekali orientalis yang mengkritik system Dzimmi ini, menganggapnya sebagai system rasis yang diterapkan oleh kaum Muslimin kepada para penganut agama lainnya. Oke…  Kita akan melihat sejumlah kritikan tersebut dan bagaimana fakta sebenarnya?

1- Masalah Pengambilan Jizyah

Banyak orientalis berpandangan bahwa al-Jizyah adalah hukuman yang diwajibkan kaum Muslimin kepada Ahli al-Dzimmah karena tidak mau memeluk Islam. Ini merupakan klaim yang mengandung banyak penafsiran. Sebab secara Teori, al-Jizyah tidak lain hanyalah Pajak Kecil yang dibayarkan oleh Non Muslim sebagai kompensasi dari sejumlah hak yang mereka dapatkan, yang bebannya ditanggung oleh masyarakat Muslim. Apalagi ia dikecualikan dari sebagian besar di antara mereka, seperti para Pendeta, para wanita, dan anak-anak, serta kaum Disabilitas.

Makna ini ditegaskan oleh Imam Mālik dalam Kitabnya al-Muwattha’ (Lihatlah Kitab al-Qawāid al-Qurāniyah wa al-Nabawiyah fī Tanzhīm al-Shilāt baina al-Muslimīn wa Ghairihim: al-Khādi’ūn wa al-Dzimmiyūn, karya Muhammad Ezzah Drozah, dalam Majalah al-Wa’yu al-Islāmy terbitan Kuwait, Tahun ke-5, Edisi ke-50, halaman 12):
“Sunnah menetapkan bahwa tidak ada al-Jizyah untuk para wanita Ahli al-Kitāb dan anak-anak mereka. Tidak diambil kecuali dari yang sudah baligh.”

Prakteknya justru lebih ringan lagi. Abū Ubaid al-Qāsim dalam Kitabnya al-Amwāl, Terbitan Dār al-Fadhīlah, Riyadh, Terbitan 2007, halaman 100, menjelaskan bahwa Umar bin al-Khattāb pernah membiayai orangtua/ sepih Ahli al-Kitāb dengan harta Baitul Mal. Ceritanya, ada seorang sepuh Ahli al-Kitāb yang lewat di hadapannya, yang mengemis dari satu pintu ke pintu lainnya. Umar memerintahkan para pegawainya untuk memberikan keringan kepadanya, dengan mengatakan:
“Siapa yang tidak mampu membayar al-Jizyah, maka ringankanlah. Siapa yang tidak kuasa maka bantulah. Saya tidak menginginkannya dari mereka selama setahun atau dua tahun.”

Abū Ubaidah meriwayatkan fakta lapangan lainnya dari Umar bin al-Khattāb tentang bagaimana kasih sayangnya dan kecintaannya kepada Ahli al-Kitāb, yaitu ketika salah seorang pegawainya menghampirinya membawa harta al-Jizyah. Ketika mendapati jumlahnya yang banyak, beliau berkata kepada pegawainya:
“Menurut saya, kamu ini sudah mencekik manusia?”
Ia menjawab:
“Demi Allah, kami tidak mengambil kecuali sedikit.”
Umar berkata:
“Tanpa cambuk tanpa teriakan?”
“Ya.”
“Segala puji bagi Allah SWT yang tidak membuat hal tersebut terjadi di kedua tangannya dan di bawah kekuasaanku.”

2- Cap Pundak (Khatm al-Riqāb) Sebagai Ahli al-Dzimmah

Banyak orientalis berpandangan bahwa masalah Cap Pundak Non Muslim adalah Tindakan Penghinaan. Klaim itu mereka dasarkan dengan Referensi-Referensi Arab Kuno yang menjelaskan bahwa Umar bin al-Khattāb mengutus Hudzaifah bin al-Yaman dan Utsmān bin Hanīf ke Irak untuk mengumpulkan al-Jizyah. Keduanya mengatakan:
“Siapa yang tidak mendatangi kami, kami akan cap pundaknya. Lepas sudah tanggungannya.”

Al-Ya’qūby menjelaskan bahwa ketika pertama kali diambil al-Jizyah masing-masing pribadi, memang ada Cap Pundak Ahli al-Dzimmah, kemudian Cap ini dibuang dan diganti dengan Kalung Salib sebagai tanda.

Sejarawan Alī Husny al-Kharbūthaly pernah menjawab klaim ini dalam kitabnya al-Islām wa Ahli al-Dzimmah, halaman 71, bahwa masalah ini hanyalah masalah temporer semata, tidak mungkin dibayangkan terjadi sepanjang tahun. Bukan kaum Muslimin yang memulainya pertama kali. Mereka hanya taklid mengikuti apa yang sebelumnya sudah dilakukan oleh orang-orang Byzantium. Ia sama sekali bukan bentuk tekanan atau penghinaan, sebagaimana dikatakan. Ia adalah metode untuk mengetahui dan membedakan antara orang yang membayar pajak dengan yang tidak membayar pajak yang sudah ditetapkan kewajiban membayarnya.

Alī Husny al-Kharbūthaly menjelaskan bahwa sejumlah Negara di masa sekarang juga mengadopsi metode ini dalam pemilu, dengan mewajiban para peserta untuk mencap jari mereka dengan tinta yang sudah dihilangkan, sehingga tidak ada yang bisa memberikan suaranya lebih dari sekali.

3- Gaya Berpakaian yang Berbeda

Masalah ini merupakan masalah yang palinh dieyeli oleh para Orientalis dalam karya-karya mereka. Mereka menganggap bahwa masalah ini adalah tekanan Islam yang paling kentara sekali terhadap Ahli al-Dzimmah. Ada dua penafsiran yang bisa dikemukakan untuk menjawab masalah ini, untuk menyingkap fakta sebenarnya dibaliknya.

Pertama, dikemukakan oleh Muhammad Ezzah Dorzah yang menyebutkan bahwa kaum muslimin pada awalnya tidak menerapkan aturan berpakaian kepada Ahli al-Dzimmah, berdalil dengan masa Umar bin  al-Khattāb terhadap kaum Nashrāni di al-Quds. Muhammad Ezzah dalam Kitabnya Qawāid al-Qurāniyah wa al-Nabawiyah fī Tanzhīm al-Shilāt baina al-Muslimīn wa Ghairihim: al-Khādi’ūn wa al-Dzimmiyūn bahwa aturan berpakaian itu muncul belakangan. Ada sejumlah sebab yang melatarbelakanginya,  yang berhubungan dengan dukungan mereka terhadap Roma yang ketikaitu memerangi kaum Muslimin, kemudian mereka juga melakukan pemberontakan di masa Pemerintahan Umawiyah, plus strategi mereka yang memanfaatkan krisis-krisis internal yang banyak terjadi di masa Dinasti Abbasiah.

Kedua, disematkan kepada Alī Husny al-Kharbūthaly yang berpandangan dalam kitabnya al-Islām wa Ahli al-Dzimmah, halaman 85, bahwa penentuan pakaian bertujuan untuk membedakan antara para pengikut agama-agama yang  berbeda-beda. Hanya sekadar itu. Apalagi di awal sejarah, tidak ada Kartu Pengenal (KTP) yang menjelaskan biodatanya dan agamanya. Dengan begitu, pakaian yang berbeda merupakan satu-satunya cara untuk menentukan agama yang memakainya. Jikalau ini merupakan bentuk tekanan, maka tekanan itu juga bagi kaum muslimin. Sebab, umat Islam diperintahkan untuk tidak menyerupai selain mereka.


***


Baik, itulah catatan kita seputar Kaum Dzimmi atau Ahli al-Dzimmah, dengan mengkaji apa saja kewajiban mereka dan hak yang mereka dapatkan dalam masyarakat Islam, kemudian juga kita paparkan syubhat-syubhat dan kritikan-kritikan yang disampaikan oleh para Orientalis, lengkap dengan jawabannya. []

Ahli al-Dzimmah Dalam Masyarakat Islam Berdasarkan Konteks Sejarah

admin
,
Islam memandang manusia (al-Insân) sebagai segenggam tanah (Qabdhah min Thîn al-Ardh) dan tipuan ruh Allah SWT (Rùh Allâh) yang keduanya saling terikat, saling menggenggam, dan saling berinteraksi, yang kemudian membentuk entitas ketauhidan.

Allah SWT berfirman:
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah." (Surat Shad: 71)

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya." (Surat Shad: 72)

#Manusia (al-Insân) Dalam Perspektif Islam

Itulah penciptaan manusia; segenggam tanah, kemudian tipuan Ruh Allah SWT, keduanya menyatu sempurna, saling terikat, dan ada interaksi antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga konklusinya menjadi manusia yang kita kenal dan kita pergauli sehari-hari.

Ia bukan segenggam tanah murni, sebagaimana sebelum ditiupkannya ruh. Dan bukan ruh yang terbebas dari segenggam tanah. Keduanya berkumpul dalam satuan yang saling terikat, masing-masing memiliki keistimewaan yang berbeda-beda. Keduanya sangat dan sangat berbeda.

Ketika syahwat bergelora dan tidak terkontrol, maka ia lebih mendekati unsur segenggam tanah. Sebab, ia berhubungan dengan jasadnya lebih dominan dibandingkan dengan bagian-bagian lainnya. Tetapi, ia juga bukan sekadar badan saja layaknya hewan. Manusia juga memiliki kemampuan untuk berpikir, berkeinginan, dan memilih, sampai kegiatan yang berhubungan dengan tanah itu sendiri. Dan ini tidak mampu dilakukan dan tidak mampu dimiliki oleh hewan.

 Ketika bergetar dan bercahaya, maka ia lebih dekat ke unsur tiupan ruh. Sebab, ia bergerak dengan ruhnya menuju alam nyata yag terbatas. Hanya saja, ia bukanlah ruh murni layaknya malaikat. Ia memiliki jasad yang tidak bisa dilepaskannya dari eksistensinya. Perhatilah masa paling agung yang dikenal manusia dalam sejarah bumi, yaitu ketika diturunkannya wahyu kepada Rasulullah Saw; apakah ketika itu beliau adalah ruh murni yang mampu bersalaman dengan Jibril dan menerima wahyunya?

Dengarkanlah firman Allah SWT:
لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ
Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya." (Surat al-Qiyamah: 16)

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ
Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya." (Surat al-Qiyamah: 17)

فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ
Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu." (Surat al-Qiyamah: 18)

Akal bergerak. Lisan bergerak. Rasulullah Saw khawatir jikalau ada hafalan al-Qurannya yang luput. Kemudian Allah SWT menenangkannya bahwa tidak aka nada yang luput darinya. Sebab, Allah SWT sendiri menjamin wahyu tersebut akan dijaga, dikumpulkan, dan dibaca.

Inilah manusia (al-Insân) dengan kedua unsurnya; segenggam tanah dan tiupan ruh.

Setiap usaha untuk menafsirkan salah satu unsurnya tanpa melibat yang lainnya, akan berujung dengan kegagalan, tidak akan mengantarkan kepada fakta. Sama saja, baik unsur tanah maupun unsur ruh.

Kelompok yang batil dan pandangan yang salah, selalu menafsirkan manusia (al-Insân), baik teori maupun praktek atau kedua-keduanya, dengan salah satu sisinya saja, atau dominan satu sisi dan meminimalisir sisi lainnya.

Kaum Materialisme mengunggulkan unsur jasad dan materi, mengabaikan unsur ruh. Kemudian mereka membebaskan diri mereka menikmati segala bentuk syahwat, kenikmatan dan materi. Konklusinya, bangunan materi yang kosong dari percikan cahaya.

Kaum Rohani/ Batiniyah, mengunggulkan unsur ruh dan mengabaikan unsur jasad. Mereka menindasnya dan merendahkannya. Bahkan sebagiannya berusaha menyiksanya dan memenjarakannya, agar bisa melambungkan ruh. Begitulah klaim batil mereka. Inilah yang dilakukan para pendeta. Mereka abai memakmurkan bumi, tidak mau menjalankan tugas pemimpin yang ada di pundak setiap anak manusia.

Sedangkan dalam Islam, manusia diberikan tugas penting, sebagaimana firman Allah SWT:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Surat al-Baqarah: 30)

Islam memuliakan manusia dan mengejarkan mereka mengenai al-Bayân:
۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (Surat al-Isra': 70)

Tugas manusia dalam Islam, bukan sekadar makan dan minum, sama dengan bidang. Juga bukan sekadar memproduksi materi. Manusia adalah khalifah di muka bumi; memakmurkannya, menegakkan keadilan, dan meninggikan ruh. Tugasnya adalah Ibadah dengan pengertian yang konfrehensif, berupa akidah yang benar, menunaikan syiar-syiar agama, dan bersemangat menjalankan seluruh unsur kehidupan, agar dunia ini bisa tegak sebagaimana harusnya.

Dalam al-Quran dijelaskan:
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا
dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)." (Surat al-Syam: 7)

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya." (Surat al-Syam: 8)

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu." (Surat al-Syam: 9)

وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (Surat al-Syam: 10)

Seorang manusia tidak akan mendapatkan keistiqamahannya jikalau tidak ada upaya untuk mensinergikan antara ruh dan jasad. Ia harus mampu menerima jiwanya dan menyempurkan semua keutamaanya, dengan kedua unsurnya. []

Manusia (al-Insân) Dalam Perspektif Islam

admin
,
Kerja Sosial dan Menjadi Relawan (Suka Relawan) atau  Valounteer merupakan istilah yang banyak kita dengar pada hari ini di tengah khalayak, apalagi ditambah dengan banyaknya krisis dan ujian yang menimpa anak manusia, berupa perang dan bencana. Umat Islam dan Rakyat, dimana pun berada, berlomba-lomba melakukannya. Banyak lembaga dan yayasan yang berpacu menjalankannya. Dan selayaknya, kita sebagai umat Islam, menjadi terdepan dalam hal ini.

Dalam catatan ini, kita akan membahas apa itu Kerja Sosial atau al-‘Amal al-Tathawwu’I, apa fadhilah dan keutamaannya, apa saja jenis-jenis para pekerja social atau relawan social, apa saja efek-efeknya. Semua kita point-point penting yang akan kita bahas, yang seringkali juga menjadi banyak pertanyaan d antara kita.

#Sukarelawan Kerja Sosial Menurut Islam

Apa itu Kerja Sosial?


 Ketika seseorang memutuskan menjadi relawan dalam kerja social atau amal kebajikan, maka artinya ia memberikan apa yang dimilikinya, dari dirinya sendiri. Tidak ada kewajiban yang mengharuskannya melakukan hal tersebut. Tidak ada fardhunya.

Jadi, kerja social itu adalah memberikan bantuan atau kemanfaatan kepada orang lain, baik pribadi maupun kelompok, dengan sesuatu yang mereka butuhkan, tanpa berharap balasan materi atau non materi.

Fadhīlah atau Keutamaan Kerja Sosial dan Amal Kebajikan


Ada banyak fadhilah atau keutamaan yang bisa didapatkan seorang Muslim dari kerja social atau amal kebajikan, yaitu ketika ia memutuskan menjadi relawan. Banyak dalilnya dari al-Qurān dan sunnah.

Allah SWT berfirman:
وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ
Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah." (Surat al-Anbiya: 73)

Dalam ayat lainnya dijelaskan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ۩
Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan." (Surat al-Hajj: 77)

Dalam ayat lainnya dijelaskan:
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Surat al-Baqarah: 148)

Dalam ayat lainnya:
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu." (Surat al-Maidah: 48)

Rasulullah Saw bersabda:
كل سلامي من الناس عليه صدقة كل يوم تطلع فيه الشمس تعدل بين أثنين صدقة ، تعين الرجل على دابته فتحمله عليها أو ترفع عليها متاعه صدقة ، والكلمة الطيبة صدقة وبكل خطوة تمشيها الى الصلاه صدقة ، وتميط الاذى عن الطريق صدقة
“Setiap sendiri anak manusia ada sedekahnya setiap hari di setiap kali terbitnya matahari. Engkau berbuat adil di antara dua orang adalah sedekah. Engkau membantu kenderaan seseorang, dengan engkau menaikkanya ke atasnya atau mengangkat barangnya, ia adalah sedekah.  Kata-kata yang baik adalah sedekah. Setiap langah yang engkau langkahkan untuk mengerjakan shalat adalah sedekah. Engkau membuang duri di jalan adalah sedekah.” (Muttafaq alaihi)

Dalam hadits lainnya:
الإيمان بضع وسبعون أو بضع وستون شعبة فأفضلها قول لا اله الا الله وأدناها أماطة الأذى عن الطريق والحياء شعبة من الإيمان
“Keimanan itu ada sekitar tujuh puluh lima atau enam puluh lima cabang. Paling afdhalnya adalah ucapan “Tidak ada Tuhan melainkan Allah”, dan minimalnya adalah membuang duri di jalan. Dan rasa malu adalah bagian dari keimanan.” (Muttafaq alaihi)

Dalam hadits lainnya:
لقد رأيت رجلأً يتقلب في الجنة في شجرة قطعها من ظهر الطريق كانت تؤذي المسلمين
“Saya melihat seseorang yang berjalan kesana dan kemari di surge karena sebuah pohon yang di potongnya di badan jalan karena menghalangi jalan kaum muslimin.” (HR Muslim)

Dalam hadits lainnya:
الساعي على الأرملة والمسكين كالمجاهد في سبيل الله أو القائم الليل الصائم النهار
“Orang yang berusaha untuk janda dan orang miskin seperti Mujahid di jalan Allah SWT atau orang yang melakukan Qiyamullail dan berpuasa di siang hari.” (Muttafaq alaihi)

Dalam hadits lainnya:
المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يسلمه ،من كان في حاجة أخيه كان الله في حاجته ، ومن فرج عن مسلم كربه من كرب الدنيا فرج الله عنه كر به من كرب يوم القيامة ومن ستر مسلما سترة الله يوم القيامة
“Seorang muslim, saudara muslim lainnya. Tidak menzhaliminya, dan tidak pula mengabaikannya. Orang yang menunaikan hajat saudaranya, maka Allah SWT ada dalam hajatnya. Siapa yang melapangkan musibah dunia dari muslim lainnya, maka Allah SWT akan melapangkan juga musibahnya pada hari kiamat. Siapa yang menutupi aib Muslim lainnya, maka Allah SWT akan menutupi aibnya pada hari kiamat.” (Muttafaq alaihi)

Dalam hadits lainnya dijelaskan:
من مشى في حاجة أخيه كان خيراً له من اعتكاف عشر سنوات
“Siapa yang berjalan untuk menunaikan hajat saudaranya, maka itu lebih baik baginya dari itikaf selama sepuluh tahun.” (Diriwayatkan oleh al-Thabrāni dalam al-Kabīr, dan al-Hākim)

Dalam hadits lainnya:
مثل المومنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد اذا إشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى
“Pemisalan orang-orang beriman dalam kasih sayang mereka dan kelemah-lembutan mereka seperti satu tubuh yang jikalau merasa sakit salah satunya, maka akan menyebabkan seluruh tubuh begadang dan demam.” (HR Ahmad dan Muslim)

Bidang-Bidang Kerja Sosial


Kerja social disini mencakup banyak bidang yang bisa memberikan manfaat dan faedah kepada yang lainnya. Kita akan melihat beberapa di antaranya:

Pertama, Bidang Ibadah.
Dalam ibadahnya, seorang Muslim tidak mencukupkan diri dengan ibadah wajib saja, tetapi menambahkannya dengan hal-hal yang sunnah, baik shalat sunnah maupun amalan-amalan kebajikan lainnya. Ruang ini sangat luas sekali untuk dijadikan ruang berpacu, dengan berbagai jenisnya, mulai dari shalat, puasa, sedekah, haji, dan lain sebagainya.

Kedua, Bidang Ilmiah
Untuk bidang ini, banyak hal juga yang bisa dilakukan, seperti membuat perpustakaan, sekolah, kampus, dan berbagai lembaga ilmiah lainnya yang tujuannya bukanlah keuntungan materi, namun mengurusnya dan mendukungnya.

Ketiga, Bidang Finansial
Bidang ini berkaitan erat dengan pembiayaan. Kita sebagai donator atau relawan memberikan sejumlah uang dengan penuh kerelaan dan keikhlasan, tanpa mengharapkan apapun, demi kebaikan dan kemaslahatan khalayak ramai. Untuk bidang ini, banyak yang bisa dilakukan. Banyak sekali.

Keempat, Bidang Profesi
Untuk bidang ini, kita berkontribusi dalam kerja social dengan keahlian yang kita miliki. Selama bermanfaat dan berfaedah, tidak ada masalah.

Kelima, Bidang Administrasi
Bidang ini masuk ke dalam system apapun. Masalah administrasi itu adalah masalah profesionalitas dan keahlian. Seorang Manajer yang sukses dalam karirnya, jikalau ia mau berkontribusi dalam bidang social, itu sangat bermanfaat sekali dan akan mampu memberikan banyak hal.

Keenam, Bidang Pemikiran
Untuk bidang ini, kita bisa dengan memberikan ide-ide brilian, nasehat-nasehat yang baik, masukan-masukan yang bernas, dan rancangan-rancangan yang excellent.

Pembagian dan Aneka Ragam Para Relawan Kerja Sosial


Kita bisa mengkasifikasi para relawan social menjadi beberapa jenis.

Pertama, Relawan yang Berkontribusi dengan Hartanya, dengan sedekah, infak, pinjaman, investasi, dan menjadi sponsor.

Kedua, Relawan yang Berkontribusi dengan Badannya, dengan keahlian dan kemampuan yang dimilikinya.

Ketiga, Relawan yang Berkontribusi dengan Jabatannya, dengan rekomendasi, koneksi, dan sebagainya.

Keempat, Relawan yang Berkontribusi dengan Waktunya; setiap hari atau beberapa jam dalam sehari atau beberapa jam dalam seminggu, ketika musim tertentu, ketika diminta dan ketika ada waktu lowong.

Kelima, Relawan yang Berkontribusi dengan Ide dan Pikirannya, dengan mengajukan ide yang benar, pertanyaan, kajian dan penelitian, perencanaan, kritikan, dan sebagainya.

Hasil dan Efek dari Kerja Sosial


Ada beberapa hasil dan efek yang akan dirasakan dari kerja social.

  1. Mendapatkan pahala dan balasan dari Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat.
  2. Mengurai masalah dan kerawutan yang terjadi, khususnya ketika terjadi krisis dan bencana.
  3. Saling menguatkan dan saling mencintai sesame anak manusia, melebur teori permusuhan atau pesimisme terhadap orang lain dan terhadap kehidupan. 
  4. Saling bantu-membantu dan saling selidaritas di antara anggota masyarakat. 
  5. Meningkatkan kemampuan anak manusia untuk  saling berhubungan dan saling berkomunikasi dengan yang lainnya, membatasi pertikaian, dan menumbuhkan jiwa social. 
  6. Mendidik kepribadian, menghilangkan logika kekikiran, mengubahnya menjadi logika kedermawanan, yang merupakan implementasi firman Allah SWT bahwa orang yang terjaga dari kekikiran dirinya, maka  ia lah orang yang beruntung. 
  7. Kerja Sosial akan memberikan seseorang kesempatan untuk mempelajari berbagai keahlian baru atau lebih mempertajam keahlian yang sudah dimilikinya.

***


Sebagai penutup, kami mengajak seluruh anak manusia, khususnya kaum muslimin, untuk bisa berkontribusi dan mempersembahkan kebaikan dan kemanfaat kepada orang, khususnya orang-orang yang membutuhkan.

Kita memohon kebaikan kepada Allah SWT untuk semua amalan kita. []

Sukarelawan Kerja Sosial Menurut Islam

admin
,
Anak-anak adalah nikmat dari Allah SWT dan karunia agung yang wajib disyukuri, bergembira mendapatkannya, berjanji akan menjaganya, merawatnya, dan mendidiknya dengan baik agar menjadi tumbuhan yang baik di Taman Islam.

Islam memberikan perhatian besar terhadap fase anak-anak, semenjak dilahirkan, bahkan sebelum dilahirkan, yaitu ketika baru berpikir untuk menikah. Islam mewasiatkan kepada umatnya untuk memilih dengan baik siapa yang akan menjadi suami atau istri, demi menjamin keturunan yang baik dan ikatan kekeluaraan yang kuat. Bukan dari sisi akhlak saja, namun juga dari paras tubuh dan psikologi. Dan perhatian in uterus diberikan oleh Islam sampai masuk fase kehamilan, ketika melahirkan dan menyusui, fase mendidik dan tumbuh kembang.

#Sunnah Taknik (al-Tahnīk) Anak yang Baru Lahir & Manfaatnya dari Segi Kesehatan

Islam mensyariatkan sejumlah hak untuk anak-anak dalam semua fase yang dilaluinya. Sebagiannya dijelaskan dalam Kitabullah, kemudian dirinci dengan detail oleh sunnah Rasulullah Saw, kemudian Islam menjadikannya sebagai sunnah yang harus dijalankan sebagai bentuk bakti orangtua kepada anak-anaknya.

Di antara amalan yang disyariatkan semenjak hari pertama kehidupan sang anak adalah memberitahukan kabar gembira atas kelahirannya, ucapan selamat atas kelahirannya, mendoakannya, mengazankan dan mengiqamahkan di kedua telingannya, kemudian mentahniknya.  Hukumnya Sunnah.

Dengan Kurma atau Dengan Madu


Tahnik atau al-Tahnīk, merupakan sunnah Rasulullah Saw. Maksudnya, mengunyah kurma atau sesuatu yang manis di mulut seseorang yang sehat tidak sakit, kemudian meletakkannya di mulut sang anak, memijitnya dan mentahniknya, yaitu dengan memasukkan sebagian kurma yang sudah dikunyah, menggunakan jari yang bersih memasukkannya ke dalam mulut sang anak, kemudian digerakkan kiri dan kanan dengan lembut, sampai masuk semuanya ke dalam mulutnya. Tidak masalah memasukkan sedikit kurma yang segar tadi ke dalam mulut sang anak agar ia bisa mengunyahnya dan merasakan faedahnya.

Jikalau tidak ada kurma, maka al-Tahnīk juga bisa dilakukan dengan sesuatu yang manis. Lebah madu lebih utama dalam hal ini. Bisa juga yang lainnya, asalkan sesuatu yang tidak tersentuh api (tidak dimasak).

Tahnik (al-Tahnīk) Menurut Sunnah Rasulullah Saw


Banyak hadits Nabi Muhammad Saw yang berbicara tentang al-Tahnīk. Salah satunya adalah riwayat Asmā binti Abū Bakar. Ketika itu, ia sedang hamil Abdullāh bin al-Zubair. Kemudian ia ikut hijrah ke Madinah, dengan usia kandungannya yang sudah mencapai Sembilan bulan. Dalam perjalanan ke Madinah, maka semuanya singgah di Quba. Dan disanalah ia melahirkan seorang  bayi laki-laki. Pasca melahirkan, ia segera membawa anaknya kepada Nabi Muhammad Saw dan meletakkannya di kamarnya.

Beliau meminta kurma. Setelah diberikan, beliau memasukkan ke dalam mulutnya dan mengunyahnya, kemudian memasukkannya ke dalam mulut sang anak. Sehingga, yang pertama kali masuk ke dalam keronkongannya adalah air liur Nabi Muhammad Saw.

Kemudian beliau menatahniknya dengan kurma dan mendoakan kebaikan baginya. Anak tersebut mendapatkan keberkahan. Ia adalah anak pertama yang dilahirkan dalam Islam. Semuanya berbahagia, sebab itu bukti kedustaan ungkapan yang ketika itu menyebar luas, “Orang-orang Yahudi sudah menyihir kalian. Kalian tidak akan berketurunan.”

Manfaat al-Tahnīk dari Sisi Kesehatan


Dr. Muhammad Alī al-Bār, pakar al-I’jāz al-Ilmy di situs Islamway menjelaskan bahwa keilmuan kontemporer sudah membuktikan mamfaat kesehatan al-Tahnīk ini untuk tubuh sang  anak yang baru dilahirkan dan tumbuh kembangnya. Ia memaparkan tafsir ilmiah yang memuaskan akal dan logika.

Ia menjelaskan:
“Hadits-hadits seputar al-Tahnīk menjelaskan bahwa kurma atau makanan manis merupakan hal pertama yang masuk ke dalam kerongkongan sang anak. Kemudian juga menjelaksan sunnahnya membawanya kepada orang yang baik lagi shaleh, baik laki-laki maupun perempuan, untuk dilakukan al-Tahnīk atas dirinya, kemudian juga agar mendaparkan keberkahan dari orang-orang shaleh.”

Ilmu kontemporer sudah mampu menyingkap hikmah dari al-Tahnīk semenjak 14 abad yang lalu. Semua anaknya, khususnya yang baru dilahirkan dan masih menyusu, terancam kematian jikalau mengalami salah satu dari dua hal berikut: Pertama, turunnya kadar gula di dalam darah. Kedua, turunnya derajat panas tubuh ketika udara yang ada di sekitarnya menjadi dingin.

Kadar Gula (Glukosa) di dalam darah anak yang baru lahir itu rendah. Semakin ringan beratnya, maka semakin rendahlah kadar gulanya. Sehingga anak yang lahir premature, yang beratnya kurang dari 2,5 kg, maka kadar gula darahnya rendah sekali. Biasanya kurang dari 20 mg dalam setiap 100 ml darah. Rata-rata, anak yang lahir dengan berat di atas 2,5 kg, kadar darah mereka biasanya di atas 30 mg.

Kadar gula yang rendah, bisa menyebabkan beberapa hal  berbahaya:
  • Bayi menolak untuk menyusu
  • Lemahnya otot-otot
  • Sering berhenti bernafas
  • Kejang-kejang

Bahkan, jikalau diabaikan, bisa menyebabkan hal-hal berbahaya lainnya yang akan terus dialami sang anak sampai ujung usianya.
  • Temlambatnya pertumbuhan
  • Keterbelakangan mental
  • Lumpuh otak
  • Tidak bisa melihat atau mendengar atau keduanya
  • Epilepsy

Jikalau tidak diobati, bisa menyebabkan kematian. Padahal obatnya gampang, yaitu cukup dengan memberikan Glukosa yang sudah dilarutkan di dalam air, bisa dengan mulut dan bisa dengan impus. Inilah yang dilakukan oleh al-Tahnīk.

Al-Tahnīk adalah pengobatan perenventif dari segala penyakit yang disebabkan oleh kurangnya gula di dalam darah, sebab bahan al-Tahnīk mengandung gula Glukosa dengan ukuran besar, apalagi ketika bercampu dengan liur yang mengandung enzim-enzim khusus yang mampu mengubah Sokrosa menjadi Monosakarida.

Kandungan air liur akan memudahkan proses pelarutan gula, agar sang anak bisa mendapatkan faedahnya. Karena itulah, banyak rumah sakit, khususnya Rumah Sakit Ibu dan Anak, yang memberikan sari Glukosa kepada sang anak, lansung setelah kelahirannya, sebelum disusui ibunya. Ini menjadi petunjuk nyata hikmah di balik sunnah al-Tahnīk.

Penelitian ilmiah juga menegaskan bahwa al-Tahnīk menguatkan otot-otot mulut dengan gerakan lidah ketika al-Tahnīk dilakukan, sehingga anak siap menyusu, menghisap ASI dengan kuat, membantu pencernaan, menggerakkan darah, memancing nalurinya untuk menyusu. Kemudian, tekanan di bagian langit-langit mulut sang anak ketika al-Tahnīk akan sangat membantunya melafalkan huruf dengan lurus ketika nanti ia sudah masuk usia berbicara.

***


Begitu catatan kita seputar al-Tahnīk, merujuk ke Artikel Khidmah al-Markaz al-I’lām al-Araby, yang berjudul Tahnīk al-Maulūd; Sunnah Nabawiyyah wa Fawāid Shihhiyah, yang diterjemahkan, ditambahkan, disusun ulang oleh Denis Arifandi Pakih Sati, tanpa merubah maksud asli dari sang Penulis. []

Sunnah Taknik Anak yang Baru Lahir & Manfaatnya dari Segi Kesehatan

admin
,
Ada tiga kebutuhan asasi seorang manusia, yaitu sandang, pangan, dan papan. Nah, dalam bahasa mudahnya, papan itu adalah rumah. Semua kita membutuhkannya sebagai tempat berteduh dan bermalam, tempat beristirahta dan bercanda bersama keluarga. Tidak masalah jikalau statusnya kontrakan. Kalau mampu beli itu malah lebik baik lagi. Jangan ngutang apalagi pakai riba, jangan deh!

Tapi, ada satu prinsip yang diperhatikan. Kata orang Arab “al-Jār Qabla al-Dār”, tetangga dulu sebelum rumah. Kenapa? Sebab betah atau tidaknya kita di suatu rumah, itu tergantung dengan tetangganya. Jikalau tetangganya baik, kita akan betah sekali. Apalagi kalau sampai tetangganya sudah kayak saudara. Itu nikmat yang luar biasa. Sebaliknya, kalau tetangganya resek, jahat, culas, dan sebagainya, maka kehidupan kita akan bak di Neraka. Tidak betah. Pengen pindah.

#Kewajiban Berbuat Baik (al-Ihsān) Kepada Tetangga Menurut Ajaran Islam

Oke. Dalam catatan kali ini, kita akan melihat bagaimana keutamaan berbaik baik kepada tetangga dalam Islam, apa hak-hak mereka yang harus ditunaikan, apa makna tetangga dalam Islam. Dan masih banyak lagi masalah yang kita bahas dalam tulisan ini, lengkap dengan dalilnya dari al-Quran dan hadits atau sunnah.

Keutamaan Berbuat Baik Kepada Tetangga Dalam Islam


Masalah “Hak Tetangga” merupakan salah satu masalah agung dan besar dalam Islam. Jibril alaihissalam terus-menerus menasehati Rasulullah Saw masalah tetangga ini, sampai Nabi Muhammad Saw menduga bahwa seorang tetangga akan mewarisi tetangga.

Beliau bersabda:
مازال جبريل يوصيني بالجار ، حتى ظننت أنه سيورثه
“Jibril selalu menasehati masalah tetangga, sampai saya menduga bahwa seorang tetangga akan mewarisi tetangganya.”

Masalah ini, juga dijelaskan dalam al-Quran al-Karim:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri." (Surat al-Nisa: 36)

Nabi Muhammad Saw mendorong umatnya untuk berbuat baik kepada tetangganya dan memuliakannya dalam sabdanya:
ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم جاره
“Siapa yang beriman kepada Allah SWT dan Hari Akhir, maka muliakanlah tetangganya.” (Muttafaq alaihi)

Dalam riwayat Muslim dijelaskan:
فليحسن إلى جاره
“Maka, berbuat baiklah kepada tetangganya.” (Hr Muslim)

Bahkan, berbuat baik kepada tetangga itu merupakan bagian dari keimanan dalam Islam, sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
والذي نفسي بيده لا يؤمن عبد حتى يحب لجاره ما يحب لنفسه
“Demi jiwaku yang berada dalam genggamannya, tidak beriman seorang hamba sampai ia mencintai tetangganya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (Hr Muslim)

Orang yang berbuat baik kepada tetangganya, maka ia merupakan manusia terbaik di sisi Allah SWT:
خير الأصحاب عند الله خيرهم لصاحبه، وخير الجيران عند الله خيرهم لجاره
“Sebaik-baik sahabah di sisi Allah SWT adalah orang yang terbaik di antara mereka kepada sahabatnya. Dan sebaik-baik tetangga di hadapan Allah SWT adalah orang yang paling baik kepada tetangganya di antara mereka.” (HR al-Turmudzi)

Siapakah Tetangga itu Dalam Islam?


Tetangga adalah orang yang berada di sampingmu, baik muslim maupun non muslim. Pengertian detailnya di kalangan ulama, itu banyak sekali. Namun makna yang paling dekat dengan kebenaran adalah “sesuai dengan ‘Urf atau adat atau kebiasaan yang berlaku di suatu masyarakat.” Artinya, jikalau di masyarakat Jogja itu makna tetangga adalah satu RT, maka itulah maknanya. Begitu. Beda budaya, beda pula mengartikannya.

Tetangga itu sudah bertingkat-tingkat. Hak antara yang satu dengan yang lainnya, berbeda sesuai dengan tingkatannya. Ada tetangga muslim yang  masih ada ikatan kerabat. Ada tetangga non muslim namun masih ada hubungan kekerabatan. Ada tetangga non Muslim yang tidak ada hubungan kekerabatan sama sekali.

Secara umum, hak bertetangga itu sama saja berlakunya. Namun, jikalau ditambah dengan hubungan kekerabatan dan hubungan akidah, maka haknya bertambah di sisi lainnya.

Deskripsi Tetangga atau Bertetangga


Ada orang yang menyangka bahwa tetangga itu hanyalah orang yang rumahnya berada di dekatnya. Pendapat ini memang tidak salah. Namun, juga tidak sepenuhnya benar. Ia hanyalah salah satu bentuk tetangga. Banyak bentuk lainnya yang masuk dalam makna kata-kata tetangga. Ada tetangga dalam kerja, tetangga di pasar, tetangga di sawah dan kebun, tetangga di bangku sekolah dan kuliah. Dan lain-lain.

Hak-Hak Bertetangga Menurut Islam


Tetangga memiliki banyak hak. Kita akan membahas beberapa di antaranya.

1- Menjawab Salam dan Menghadiri Undangan

Pada dasarnya, ini adalah hak umum kaum muslimin.Hanya saja, jikalau yang mengucapkan salam adalah tetangga Anda, maka kewajiban menjawabnnya jauh lebih wajib. Sama dengan undangan, jikalau yang mengundang tetangga Anda, maka menghadirinya jauh lebih wajib. Moso, tetangga Anda ada acara, Anda diam saja di rumah.

2- Tidak Menyakiti Tetangga

Ini merupakan salah satu hak terbesar dalam hidup bertetangga. Jikalau ia diharamkan kepada manusia lainnya, maka kepada manusia jauh lebih haram lagi. Nabi sudah mewanti-wanti masalah ini dalam berbagai haditsnya.

Beliau bersabda:
“Demi Allah, tidak beriman. Demi, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman.”

Para sahabat bertanya:
“Siapa ya Rasulullah?”

Beliau menjawab:
مَن لا يأمن جاره بوائقه
“Orang tang tetangganya tidak merasa aman dari keburukan-keburukannya.” (Hr al-Bukhari)

Ada yang berkata kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, Fulanah mengerjakan shalat sepanjan malam dan berpuasa sepanjang siang. Namun, lisannya menyaikiti tetangganya.”

Beliau menjawab:
لا خير فيها، هي في النار
“Tidak ada kebaikannya. Ia di Neraka.” (Hr Ahmad)

Pada suatu  hari, seseorang mendatangi Nabi Muhammad Saw mengadukan kejahatan tetangganya, kemudian beliau menjawab, “Buanglah barangmu di jalan.”

Kemudia ia melakukannya. Orang-orang yang lewat bertanya kepadanya. Ketika mereka tahu kejahatan tetangganya, maka mereka melaknatnya. Kemudian datanglah tetangga yang jahat ini kepada Nabi Muhammad Saw mengadu tentang orang-orang yang melaknatnya.

Beliau menjawab:
فقد لعنك الله قبل الناس
“Allah sudah melaknatmu sebelum mereka.” (Hr al-Baihaqi)

3- Siap Menghadap Keburukan Tetangga

Point ketiga ini hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kehormatan diri dan memiliki cita tinggi. Banyak orang yang mampu menahan dirinya untuk tidak menyakiti yang lainnya. Namun untuk bersabar dan ikhlas menerima kezhaliman orang lain, yang dalam hal ini adalah tetangga, merupakan sesuatu yang maha sulit.

Allah SWT berfirman:
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ ۚ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ
Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan." (Surat al-Mukminun: 96)

Dalam ayat lainnya dijelaskan:
وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (Surat al-Syura: 43)

Hasan al-Bashri mengatakan:
“Bertetangga yang baik itu bukan tidak menyakiti yang lainnya. Bertetangga yang baik adalah bersabar menghadapi kejahatan yang lainnya.”

4- Menanyakan Kondisinya dan Menunaikan Hajatnya/ Kebutuhannya

Rasulullah Saw bersabda:
ما آمن بي من بات شبعانًا وجاره جائع إلى جنبه وهو يعلم
“Tidaklah beriman kepadaku, seseorang yang tidur dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya, sedangkan ia mengetahuinya.” (Hr al-Thabrani)

Orang-orang yang shaleh di zaman dahulu selalu menanyakan kondisi tetangga mereka dan berusaha menunaikan hajat mereka. Para sahabat biasanya suka memberikan hadiah kepada tetangganya, kemudian tetangganya memberikan hadiah lagi kepada yang lainnya, sampai berpuluh-puluh tetangga, sampai hadiah itu juga didapatkan oleh yang pertama melakukannya. Masya Allah.

Suatu hari, Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu menyembelih seekor domba, kemudian ia mengatakan kepada budaknya:
“Jikalau engkau menyembelih, maka mulailah membaginya kepada tetangga kita yang Yahudi.”

Suatu hari, Aisyah radhiyallahu anha bertanya kepada Nabi Muhammad Saw:
“Saya mempunyai dua tetangga. Siapakah yang paling berhak saya berikan hadiah?”

Beliau menjawab:
إلى أقربهما منكِ بابًا
“kenapa tetangga yang pintunya terdekat darimu.” (Hr al-Bukhari)

5- Menutupi Aibmu dan Menjaga Kehormatanmu
Ini juga merupakan salah satu hak besar yang tidak kalah penting dari yang lainnya. Ketika kita hidup bertetangga dengan seseorang, maka kita akan mengetahui keburukannya. Maka, tugas kita adalah menjaga kehormatannya dan menutupi aibnya. Jangan menyebarkannya kepada orang lain, menjadikannya sebagai bahan candaan dan guyonan. []

Kewajiban Berbuat Baik (al-Ihsān) Kepada Tetangga Menurut Ajaran Islam

admin
,
(Kajian Kitab Minhaj al-Muslim, Karya Syeikh Abu Bakar al-Jazairy)
__

Seorang muslim beriman kepada Allah SWT dengan membenarkan wujud-Nya, Dialah yang menciptakan langit dan bumi, mengetahui yang nyata dan yang ghaib, Rabb segala sesuatu dan Penguasanya, Tidak ada Ilah melainkan diri-Nya, tidak ada Rabb selain-Nya. Dia Maha Mulia yang disifati dengan segala kesempurnaan, suci dari segala kekurangan. Semua itu berdasarkan petunjuk (hidayah) Allah SWT sebelum petunjuk apapun,  kemudian berdasarkan dalil-dalil naqli dan aqli berikut ini.

Dalil Naqli; dari al-Quran dan Sunnah


 1-Allah SWT memberitahukan sendiri mengenai wujud-Nya, mengenai ketuhanan-Nya kepada para makhluk-Nya, tentang Asmâ’-Nya (nama-nama) dan Shifat-Nya (sifat-sifat). Dan itu tertera dalam al-Quran al-Karim:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
 “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (Surat al-A’râf: 54)

#Kewajiban Beriman Kepada Allah SWT

Kemudian firman-Nya ketika menyeru Musa alaihissalam di pinggir lembah di bagian paling kanannya, di pada tempat yang diberkahi dari sebatang pohon kayu:
فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ مِنْ شَاطِئِ الْوَادِ الْأَيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ أَنْ يَا مُوسَىٰ إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
 “Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.” (Surat al-Qašaš: 30)

Dan firman-Nya:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
 “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (Surat Ťaha: 14)

Dan firman-Nya yang mengagungkan diri-Nya sendiri, menyebut asmâ-Nya dan šifat-Nya:
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
 “Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. * Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. * Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Surat al-Hasyr: 22-24)

Kemudian firman-Nya yang memuji diri-Nya sendiri:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. * Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. * Yang menguasai di Hari Pembalasan.” (Surat al-Fâtihah: 2-4)

Dan firman-Nya untuk kita kaum muslimin:
إِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ
 “Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (Surat al-Anbiyâ’: 92)
Kemudian dalam ayat surat al-Mukminûn: “Dan Aku adalah Tuhanmu, maka Bertakwalah kepada Aku.”

Kemudian firman-Nya yang membantah tuduhahan adanya Rabb selain diri-Nya atau Tuhan selainnya di Bumi dan di Langit:
لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (Surat al-Anbiyâ’: 22)

2-Pemberitahun sekitar 124 ribu Nabi dan Rasul mengenai wujud Allah SWT dan tentang ketuhananya kepada seluruh alam, tentang makhluk-Nya, tentang apa yang dilakukan-Nya terhadap makhluk-Nya, tentang asmâ-Nya dan Ŝifat-Nya. Tidak ada seorang Nabi atau Rasul pun kecuali Allah SWT sudah berbicara kepadanya atau mengutus utusan kepadanya atau menetapkan di dalam hatinya sesuatu yang memastikan bahwa itu adalah Kalamullah atau wahyu-Nya yang ditujukan kepadanya.

Kabar yang disampaikan oleh jumlah yang besar ini, dari kalangan manusia-manusia yang suci dan terbaik, menjadi suatu kemustahilan dalam logika manusia untuk didustai, sebagaimana jumlah yang besar ini tidak mungkin bersepakat untuk berdusta. Kabar yang mereka sampaikan tentang sesuatu yang tidak mereka ketahui, kemudian mereka mewujudkannya, memastikan kebenarannya, dan meyakininya, merupakan sebuah bukti. Mereka adalah manusia terbaik, memiliki jiwa paling suci, logika paling kuat, dan pembicaraan yang paling layak dipercayai.


3-Berimannya milyaran manusia, mereka meyakini wujud Allah SWT, beribadah kepada-Nya dan menaati-Nya adalah bukti lainnya. Padahal biasanya, cukup dengan satu dua orang saja, sesuatu itu sudah layak dipercayai. Bagaimana dengan Jamaah, umat, dan jumlah manusia yang tidak terhitung? Ditambah dengan bukti logika dan fitrah manusia yang membenarkan apa yang mereka percayai dan diberitahukan tentangnya, yang mereka sembah dan mendekatkan diri kepada-Nya.

4-Pemberitahuan jutaan Ulama (Ilmuwan) mengenai wujud Allah SWT, Ŝifat-Nya, asmâ-Nya, dan ketuhanan-Nya terhadap segala sesuatu, serta kemampuan-Nya melakukan segala sesuatu, merupakan bukti selanjutnya. Dengan bukti itu, mereka menyembah-Nya dan menaati-Nya, mereka mencintai-Nya dan membenci karena-Nya.

Dalil Aqli; Logika


1-Wujud Alam yang beraneka ragam, kemudian wujud makhluk yang banyak dan beraneka jenis ini merupakan bukti wujud Penciptanya, dan ia adalah Allah SWT. Sebab, tidak ada di alam ini yang mengklaim penciptaannya selain diri-Nya. Logika manusia tidak bisa menerima jikalau sesuatu itu  ada tanpa ada yang mengadakannya. Bahkan, sesuatu yang sederhana saja, tidak mungkin ada tanpa ada yang mengadakannya, seperti makanan tanpa ada memasaknya, atau bentangan karpet di tanah tanpa ada yang membentangnya?

Maka, bagaimana dengan alam yang besar ini, berupa langit dan semua yang tercakup di dalamnya, berupa semesta, matahari, bulan, dan bintang-bintang; semuanya berbeda ukurannya, kadarnya, spektrumnya, dan perjalanannya, kemudian juga dengan bumi dan semua makhluk yang ada di dalamnya, berupa manusia, jin, dan hewan, dengan jenis dan pribadi yang berbeda warna dan bahasa, berbeda dalam pengetahuan dan pemahaman, kekhasan dan identitas, kemudian semua yang tersimpan di dalamnya berupa barang tambang yang  beraneka warna dan manfaatnya, kemudian semua yang mengalir di atasnya berapa sunga-sungai, kemudian laut-laut yang melingkupi daratannya, kemudian tumbuhan dan pepohohan yang tumbuh di atasnya yang buah-buahannya berbeda; berbeda jenisnya, rasanya, dan baunya, khasnya, dan manfaatnya.

2-Wujud kalam Allah SWT di hadapan kita, yang kita baca, kita tadabburi dan kita berusaha memahami makna-maknanya, merupakan bukti wujud-Nya. Mustahil, jikalau ada kalam tapi tidak ada yang mengucapkannya. Tidak mungkin ada kata jikalau tidak ada yang mengatakannya.

Kalam-Nya adalah bukti wujud-Nya. Apalagi, kalam-Nya itu mencakup pensyariatan paling kokoh yang dikenal umat manusia, undang-undang paling lurus yang mampu mewujudkan banyak kebaikan bagi kemanusiaan, sebagaimana ia mencakup teori-teori ilmiah yang paling bisa dipercaya, kemudian juga mencakup banyak perkara-perkara ghaib dan peristiwa-peristiwa sejarah. Ia benar dalam semua yang disampaikannya.

Sepanjang masa, tidak ada satu pun syariatnya yang tidak mampu mewujudkan kemaslahatan, walaupun masa dan tempatnya berbeda. Tidak ada satu teori terbaru pun dari sekian banyak teori ilmiyah yang mampu membantah kebenarannya, serta tidak ada satu kabar ghaib pun yang dikabarkan yang berbeda dengan kenyataan yang terjadi.

Sebagaimana, tidak ada seorang pun sejawaran, siapapun itu, yang berani mengkritik satu kisah saja dari sekian banyak kisah yang sudah disebutkannya dan menganggapnya dusta, atau berani mendustakannya atau menafikan salah satu kejadian dari sekian banyak kejadian sejarah yang ditunjukkannya atau dirincikan kejadiannya.

Kalam yang bijaksana seperti ini, mustahil bagi logika manusia untuk menuduhnya sebagai karya salah seorang anak manusia. Sebab, keberadaannya jauh di atas kemampuan manusia dan tingkat pengetahuan mereka. Jikalau ia bukanlah kalam manusia, maka itu artinya ia adalah kalam pencipta manusia. Ia adalah bukti wujud-Nya, ilmu-Nya, kemampuan-Nya, dan kebijaksanaan-Nya.

3-Adanya sistem yang detail dalam sunnah-sunnah kauniyah dalam penciptaan dan Takwîn, pertumbuhan dan perkembangan bagi seluruh makhluk hidup dalam alam ini. Semuanya tunduk terhadap sunnah ini, terikat dengannya, dan tidak bisa meninggalkannya sedikit pun.

Manusia, misalnya, dimulai dengan wujudnya sebagai mani di dalam rahim, kemudian melalui sejumlah tahapan menakjubkan yang tidak bisa diintervensi siapapun selain Allah SWT, sampai ia lahir sebagai manusia normal. Ini adalah hal penciptaan dan takwîn. Dalam hal pertumbuhan dan perkembangan, maka wujudnya dimulai dari masa bayi dan anak-anak, kemudian menjadi pemuda, kemudian menjadi dewasa dan tua.

Sunnah-sunnah umum yang berlaku bagi manusia dan hewan ini, berlaku juga untuk pepohonan dan tumbuh-tumbuhan. Begitu juga dengan planet-planet dan benda-benda langit. Semuanya tunduk dengan sunnah-sunnah yang sudah ditentukan, tidak bisa dilanggar dan keluar dari garis yang sudah ditetapkan. Jikalau keluar dari garisnya atau ada sejumlah planet keluar dari garis peredarannya, maka selesailah kehidupan ini.

Dengan dalil-dalil logika ini, dan dengan dalil-dalil Naqli ini, seorang muslim beriman kepada Allah SWT dan dengan Rububiyyah-Nya terhadap segala sesuatu, serta Ilahiyyah-Nya bagi yang terdahulu dan yang kemudian. Dengan dasar keimanan dan keyakinan ini, kehidupan seorang muslim menjalani semua urusan. []

Kewajiban Beriman Kepada Allah SWT

admin
,
Previous PostOlder Posts Home