Kaum Dzimmi (Ahli al-Dzimmah) Dalam Masyarakat Islam Menurut Konteks Sejarah

Kalau Anda melihat dan mengkaji sejarah Islam, maka Anda akan mendapati bahwa masyarakat Islam bukanlah masyarakat yang homogen. Selalu Heterogen sepanjang sejarahnya. Pasti ada agama lainnya yang bersandingan dengan agama Islam, dalam kehidupan bermasyarakat.

Tidak ada masalah dalam hal ini. Sebab, Islam tidak pernah memaksa seseorang untuk masuk Islam, untuk beriman. Islam sama sekali tidak melarang umatnya untuk hidup berdampingan dengan orang-orang yang berbeda akidah dan berbeda agama. Menjadi manusia beriman kepada Allah SWT, bukan berarti kita memutus silaturrahim dengan Non Muslim dan tidak mau hidup bersama mereka dalam sebuah tatanan masyarakat.

Itulah sebabnya kenapa Islam menjelaskan hubungan antara Muslim dengan Non Muslim dalam kitab-Nya yang mulia, kemudian para Ahli Fikih menjelaskannya lebih dalam dan lebih detail seputar kaedah-kaedah umum tersebut. Sehingga, tidak ada satu kitab-kitab Fikih, kecuali mencakup Bab al-Jizyah, al-Kharraj, dan  Ahli al-Dzimmah.

Kaum Dzimmi (Ahli al-Dzimmah) Dalam Masyarakat Islam Menurut Konteks Sejarah

Walaupun begitu, masalah Non Muslim dalam sejarah Islam, masih saja menjadi sasaran kritikan dari para orientalis dan para pakar sejarah kontemporer, yang sebagian di antara mereka menganggap bahwa system Dzimmi dan Non Dzimmi adalah system Rasis.

Maka, dalam catatan ini kita akan melihat siapakah mereka Ahli al-Dzimmah? Apa saja hak-hak mereka? Apa saja kewajiban-kewajiban mereka? Dan apa esensi tekanan yang mereka dapatkan dalam masyarakat Islam?


***

Hak & Kewajiban Ahli al-Dzimmah


Ahli al-Dzimmah merupakan istilah yang digunakan oleh para Ahli Fikih untuk orang-orang Non Muslim yang tinggal di masyarakat Islam. Cakupannya lebih luas dari Ahli al-Kitāb. Sebab, ia juga mencakup Majusi, al-Shāibah, dan selainnya. Dinamakan Ahli al-Dzimmah, sebab mereka membayar al-Jizyah, menyerahkan keamanan jiwa mereka, kehormatan mereka, dan harta mereka di bawah tanggungan kaum muslimin.

Tradisi Islam menegaskan bahwa kaum Muslimin jikalau ingin menaklukkan suatu negeri, maka warganya diminta untuk masuk Islam. Siapa yan beriman dengan Islam, maka ia menjadi Muslim dan ditetapkan atas dirinya hokum Islam. Siapa yang tidak mau masuk Islam, maka ia berkewajiban membayar al-Jizyah, yaitu sejumlah uang  yang jelas nilainya, dibayarkan secara rutin per tahun, sebagai konsekwensi dari perlindungan yang mereka dapatkan. Hanya saja, ia dikecualikan dari para pendeta, para wanita, dan anak-anak.

Dalam masyarakat Islam, Ahli al-Dzimmah memiliki sejumlah kewajiban dan sejumlah hak yang wajib ditunaikan. Kewajiban mereka adalah membayar al-Jizyah, memuliakan al-Qurān dan sunnah, tidak menista agama Islam dengan cara apapun, tidak berzina dengan Muslimah atau menikahinya, tidak membantu orang-orang yang memerangi dan memberontak kepada umat Islam.

Mereka juga memiliki sejumlah kewajiban namun implementasinya bersifat sunnah, yaitu memakai pakaian bertambal, memakai Girdle (ikat punggung khusus), tidak terang-terangan mengkonsumsi minuman keras, makan daging babi, dan memukul lonceng, serta bangunan mereka tidak boleh lebih tinggi dari bangunan umat Islam. Silahkan untuk selanjutnya, dilihat Kitab al-Islām wa Ahli al-Dzimmah karya Ali Husni al-Kharbūthaly, terbitan al-Majlis al-A’lā li al-Syuūn al-Islāmiyah Kairo, Terbitan 1969, halaman 66.

Sedangkan untuk hak mereka, ada dua jenis: Hak Agama (al-Huqūq al-Dīniyyah), seperti kemerdekaan berkeyakinan, hak menjalankan syiar-syiar agama. Semua ini dijamin oleh firman Allah SWT:
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (256)
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Surat al-Baqarah: 256)

Dalam ayat lainnya:
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَن فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ (99)
Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?" (Surat Yunus: 99)

Hal itu juga mencakup mengatur urusan internel agamanya dan memilih pendeta tanpa intervensi Negara, serta menggunakan bahasa-bahasa agama. Hak kedua yang didapatkan oleh Ahli al-Dzimmah dalam Negara Islam adalah Hak Sipil (al-Huqūq al-Madaniyah), seperti hak bekerja, hak berdagang, hak Jaminan Sosial, Hak Menduduki Jabatan-Jabatan Umum, Hak Perlindungan Internal dan Eksternal.

***

Kritikan-Kritikan Orientalis


Banyak sekali orientalis yang mengkritik system Dzimmi ini, menganggapnya sebagai system rasis yang diterapkan oleh kaum Muslimin kepada para penganut agama lainnya. Oke…  Kita akan melihat sejumlah kritikan tersebut dan bagaimana fakta sebenarnya?

1- Masalah Pengambilan Jizyah

Banyak orientalis berpandangan bahwa al-Jizyah adalah hukuman yang diwajibkan kaum Muslimin kepada Ahli al-Dzimmah karena tidak mau memeluk Islam. Ini merupakan klaim yang mengandung banyak penafsiran. Sebab secara Teori, al-Jizyah tidak lain hanyalah Pajak Kecil yang dibayarkan oleh Non Muslim sebagai kompensasi dari sejumlah hak yang mereka dapatkan, yang bebannya ditanggung oleh masyarakat Muslim. Apalagi ia dikecualikan dari sebagian besar di antara mereka, seperti para Pendeta, para wanita, dan anak-anak, serta kaum Disabilitas.

Makna ini ditegaskan oleh Imam Mālik dalam Kitabnya al-Muwattha’ (Lihatlah Kitab al-Qawāid al-Qurāniyah wa al-Nabawiyah fī Tanzhīm al-Shilāt baina al-Muslimīn wa Ghairihim: al-Khādi’ūn wa al-Dzimmiyūn, karya Muhammad Ezzah Drozah, dalam Majalah al-Wa’yu al-Islāmy terbitan Kuwait, Tahun ke-5, Edisi ke-50, halaman 12):
“Sunnah menetapkan bahwa tidak ada al-Jizyah untuk para wanita Ahli al-Kitāb dan anak-anak mereka. Tidak diambil kecuali dari yang sudah baligh.”

Prakteknya justru lebih ringan lagi. Abū Ubaid al-Qāsim dalam Kitabnya al-Amwāl, Terbitan Dār al-Fadhīlah, Riyadh, Terbitan 2007, halaman 100, menjelaskan bahwa Umar bin al-Khattāb pernah membiayai orangtua/ sepih Ahli al-Kitāb dengan harta Baitul Mal. Ceritanya, ada seorang sepuh Ahli al-Kitāb yang lewat di hadapannya, yang mengemis dari satu pintu ke pintu lainnya. Umar memerintahkan para pegawainya untuk memberikan keringan kepadanya, dengan mengatakan:
“Siapa yang tidak mampu membayar al-Jizyah, maka ringankanlah. Siapa yang tidak kuasa maka bantulah. Saya tidak menginginkannya dari mereka selama setahun atau dua tahun.”

Abū Ubaidah meriwayatkan fakta lapangan lainnya dari Umar bin al-Khattāb tentang bagaimana kasih sayangnya dan kecintaannya kepada Ahli al-Kitāb, yaitu ketika salah seorang pegawainya menghampirinya membawa harta al-Jizyah. Ketika mendapati jumlahnya yang banyak, beliau berkata kepada pegawainya:
“Menurut saya, kamu ini sudah mencekik manusia?”
Ia menjawab:
“Demi Allah, kami tidak mengambil kecuali sedikit.”
Umar berkata:
“Tanpa cambuk tanpa teriakan?”
“Ya.”
“Segala puji bagi Allah SWT yang tidak membuat hal tersebut terjadi di kedua tangannya dan di bawah kekuasaanku.”

2- Cap Pundak (Khatm al-Riqāb) Sebagai Ahli al-Dzimmah

Banyak orientalis berpandangan bahwa masalah Cap Pundak Non Muslim adalah Tindakan Penghinaan. Klaim itu mereka dasarkan dengan Referensi-Referensi Arab Kuno yang menjelaskan bahwa Umar bin al-Khattāb mengutus Hudzaifah bin al-Yaman dan Utsmān bin Hanīf ke Irak untuk mengumpulkan al-Jizyah. Keduanya mengatakan:
“Siapa yang tidak mendatangi kami, kami akan cap pundaknya. Lepas sudah tanggungannya.”

Al-Ya’qūby menjelaskan bahwa ketika pertama kali diambil al-Jizyah masing-masing pribadi, memang ada Cap Pundak Ahli al-Dzimmah, kemudian Cap ini dibuang dan diganti dengan Kalung Salib sebagai tanda.

Sejarawan Alī Husny al-Kharbūthaly pernah menjawab klaim ini dalam kitabnya al-Islām wa Ahli al-Dzimmah, halaman 71, bahwa masalah ini hanyalah masalah temporer semata, tidak mungkin dibayangkan terjadi sepanjang tahun. Bukan kaum Muslimin yang memulainya pertama kali. Mereka hanya taklid mengikuti apa yang sebelumnya sudah dilakukan oleh orang-orang Byzantium. Ia sama sekali bukan bentuk tekanan atau penghinaan, sebagaimana dikatakan. Ia adalah metode untuk mengetahui dan membedakan antara orang yang membayar pajak dengan yang tidak membayar pajak yang sudah ditetapkan kewajiban membayarnya.

Alī Husny al-Kharbūthaly menjelaskan bahwa sejumlah Negara di masa sekarang juga mengadopsi metode ini dalam pemilu, dengan mewajiban para peserta untuk mencap jari mereka dengan tinta yang sudah dihilangkan, sehingga tidak ada yang bisa memberikan suaranya lebih dari sekali.

3- Gaya Berpakaian yang Berbeda

Masalah ini merupakan masalah yang palinh dieyeli oleh para Orientalis dalam karya-karya mereka. Mereka menganggap bahwa masalah ini adalah tekanan Islam yang paling kentara sekali terhadap Ahli al-Dzimmah. Ada dua penafsiran yang bisa dikemukakan untuk menjawab masalah ini, untuk menyingkap fakta sebenarnya dibaliknya.

Pertama, dikemukakan oleh Muhammad Ezzah Dorzah yang menyebutkan bahwa kaum muslimin pada awalnya tidak menerapkan aturan berpakaian kepada Ahli al-Dzimmah, berdalil dengan masa Umar bin  al-Khattāb terhadap kaum Nashrāni di al-Quds. Muhammad Ezzah dalam Kitabnya Qawāid al-Qurāniyah wa al-Nabawiyah fī Tanzhīm al-Shilāt baina al-Muslimīn wa Ghairihim: al-Khādi’ūn wa al-Dzimmiyūn bahwa aturan berpakaian itu muncul belakangan. Ada sejumlah sebab yang melatarbelakanginya,  yang berhubungan dengan dukungan mereka terhadap Roma yang ketikaitu memerangi kaum Muslimin, kemudian mereka juga melakukan pemberontakan di masa Pemerintahan Umawiyah, plus strategi mereka yang memanfaatkan krisis-krisis internal yang banyak terjadi di masa Dinasti Abbasiah.

Kedua, disematkan kepada Alī Husny al-Kharbūthaly yang berpandangan dalam kitabnya al-Islām wa Ahli al-Dzimmah, halaman 85, bahwa penentuan pakaian bertujuan untuk membedakan antara para pengikut agama-agama yang  berbeda-beda. Hanya sekadar itu. Apalagi di awal sejarah, tidak ada Kartu Pengenal (KTP) yang menjelaskan biodatanya dan agamanya. Dengan begitu, pakaian yang berbeda merupakan satu-satunya cara untuk menentukan agama yang memakainya. Jikalau ini merupakan bentuk tekanan, maka tekanan itu juga bagi kaum muslimin. Sebab, umat Islam diperintahkan untuk tidak menyerupai selain mereka.

***


Baik, itulah catatan kita seputar Kaum Dzimmi atau Ahli al-Dzimmah, dengan mengkaji apa saja kewajiban mereka dan hak yang mereka dapatkan dalam masyarakat Islam, kemudian juga kita paparkan syubhat-syubhat dan kritikan-kritikan yang disampaikan oleh para Orientalis, lengkap dengan jawabannya. []
Read More..

Impunitas Dalam Konteks Keadilan dan Hak Asasi Manusia (HAM) Menurut Islam

Dalam Aturan Internasional terkait Hak Asasi Manusia (HAM) dijelaskan bahwa Impunitas adalah tidak memberikan keadilan (baca: hukuman) kepada para pelanggar Hak Asasi Manusia (HAM), atau meniadakan hukuman. Dan ini, tentu saja, menafikan hak para korban untuk mendapatka keadilan hokum.

Di berbagai Negara, para Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) berusaha dan berjuang melawan Impunitas ini, demi memberikan hak para korban. Bagi mereka, ia sama saja dengan merusak Hak Asasi Manusia. Masalah ini merupakan salah satu tantangan paling besar yang dihadapan para aktivis HAM.

Impunitas Dalam Konteks Keadilan dan Hak Asasi Manusia (HAM) Menurut Islam

***

Kriminalitas dan Hukuman Menurut Agama-Agama Langit (al-Adyān al-Samāwiyah) Secara Umum, Menurut Islam Secara Khusus


Syeikh Muhammad Abū Zahrah mengatakan dalam Kitabnya Falsafah al-‘Uqūbah fī al-Fiqh al-Islāmy, “Hukuman (al-‘Uqūbah) dalam syariat agama-agama langit , semuanya bertujuan untuk mendapatkan keadilan, yaitu dengan setaranya hukuman dengan perbuatan criminal dan efeknya. Kriminal yang terjadi pada pribadi, yang tidak ada kaitannya dengan hak Allah SWT, yaitu berhubungan dengan hak social dan etika, maka hukumannya sesuai dengan kadar criminal yang terjadi terjadi korban.”

Dengan begitu jelaslah bahwa masalah Impunitas menurut Islam memiliki sejumlah tujuan, yang tidak jauh berbeda dengan agama-agamalainnya.

Inilah beberapa di antaranya yang paling penting.

Pertama, Mewujudkan Keadilan (Tahqīq al-‘Adālah)
Kehidupan seorang manusia, hartanya, dan kehormatannya, merupakan hal-hal yang wajib dimuliakan. Sama sekali tidak adil jikalau seseorang dibiarkan saja merusak semua ini tanpa ada pertanggungjawaban yang diminta darinya. Sebab, itu sama saja merusak Hak Asasi Manusia (HAM) dan mendorong orang lain untuk menyelematkan diri atas kriminalitas-kriminalitas yang dilakukannya.

Kedua, Mewujudkan Preventif (Tahqīq al-Rad’)
Preventif disini ada dua jenis:
1-Preventif Umum (al-Rad’ al-‘Aāmm), yaitu peringatan untuk khalayak umum dan seluruh warga negara bahwa perbuatan yang dilakukan pelaku adalah criminal di mata undang-undang. Siapapun, tidak boleh ada yang melakukannya. Hukuman ini berfungsi sebagai Ancaman (al-Tahdīd), yang ditujukan ke psikologi khalayak ramai atau masyarakat secara keseluruhan. Pesan yang ingin disampaikan, “siapa yang melakukannya, maka tangan hokum tidak akan diam. Ia akan dikejar sampai dapat.”

2-Preventif Khusus (al-Rad’ al-‘Khāsh), yaitu pedihnya hukuman yang diberikan kepaada pelaku kejahatan atau pelaku criminal, akan memberikan efek psikologi dan efek jera terhadap di pelaku, serta mencegahnya untuk tidak melakukannya lagi di lain waktu.

Ketiga, Membuat Pelaku Kriminal Semakin Baik (Islāh al-Jāny)
Hukuman itu ada, bukanlah untuk membalas dendam kepada pelaku criminal atau menyiksanya, tetapi untuk memperbaikinya dan mendidiknya agar menjadi manusia yang lebih baik ke depannya.

Dalam Islam, hukuman itu ada dua jenisnya. Pertama, Hukuman yang ditentukan kadarnya dan ukurannya oleh syariat, seperti al-Hudūd dan al-Qishās. Kedua, Hukuman yang ditentukan kadarnya dan ukurannya oleh Hakim atau al-Qādhy untuk criminal-kriminal yang memang berhak mendapatkan hukuman, yang tentunya sesuai dengan kaedah-kaedah umum dalam syariat Islam. Inilah dikenal dengan nama al-Ta’zīr.

Ketika hukuman al-Qishās diabaikan, maka itu sama saja artinya membolehkan kezaliman terhadap kehidupan pribadi di satu sisi, dan kezaliman terhadap system yang berlaku dalam masyarakat di sisi lainnya.

Hukuman, menurut undang-undang, adalah balasan yang ditetapkan oleh undang-undang criminal demi kemaslahatan masyarakat, demi menegakkan hukuman criminal terhadap orang yang bertanggungjawab melakukan suatu aksi criminal, agar criminal tersebut tidak dilakukan lagi oleh pelakunya sendiri maupun oleh warga negara lainnya.

***

Kriminal Pejabat dan Kriminal Rakyat Kecil (Jelata) Menurut Islam


Kaedah umum yang terdapat dalam Sunnah Nabi dan Sunnah para Khalafā al-Rāsyidīn menjelaskan bahwa seluruh kaum muslimin, sama kedudukannya di mata hokum. Semua harus tunduk di bawah aturan hokum yang menetapkan hukuman bagi setiap criminal. Tidak ada seorang pun yang memiliki hak Imunitas. Tidak ada bedanya antara satu kriminalitas dengan kriminalitas lainya. Semuanya sama kedudukannya. Semuanya sama hukumannya, sesuai dengan tingkat kriminalnya. Walaupun pelakunya adalah Presiden. Raja. Maupun Perdana Menteri.

Nabi Muhammad Saw adalah pemimpin umat. Kalau sekarang, bisa dibilang Presiden atau Raja. Kira-kita begitu, walaupun mungkin tidak tepat. Beliau secara terang-terangan menyatakan berhak mendapatkan hukuman jikalau ada kriminalitas yang dilakukannya. Bahkan, al-Qishās sekali pun.

Beliau pernah mengatakan di hadapan khalayak:
أيها الناس من كنت جلدت له ظهرًا فهذا ظهري فليستقد منه، ومن كنت شتمت له عرضاً فهذا عرضي فليستقد منه، ومن أخذت له مالاً فهذا مالي فليأخذ منه، ولا يخش الشحناء، فإنها ليست من شأني، ألا وإن أحبكم إلي من أخذ مني حقاً إن كان له، أو حللني القول  فلقيت ربي وأنا طيب النفس
“Wahai sekalian manusia, siapa yang saya cambuk punggungnya, maka inilah punggungku dan balaslah. Siapa yang caci kehormatannya, maka inilah kehormatanku dan balaslah. Siapa yang saya ambil hartanya, maka inilah hartaku dan ambillah. Tidak usah takut kebencian. Saya tidak begitu. Ketahuilah, orang yang paling saya cintai di antara kalian adalah orang yang mengambil haknya dariku, jikalau itu memang haknya. Atau ia menghalalkan bagiku dengan ucapannya. Agar, saya bisa bertemu Rabbku dengan jiwa yang baik.” (Diriwayatkan oleh al-Thabrāni)

Dalam hadits lainnya, beliau menjelaskan:
إنما أهلك الذين من قبلكم أنهم إذا سرق فيهم الشريف تركوه، وإذا سرق فيهم الضعيف أقاموا عليه الحد، والذي نفس محمد بيده، لو أن فاطمة بنت محمد سرقت لقطعت يدها
“Kehancuran orang-orang sebelum kalian, jikalau orang ternama mencuri di antara mereka, maka mereka membiarkannya. Jikalau orang lemah di antara mereka yang melakukannya, maka mereka menegakkan hukuman. Demi jiwa Muhammad yang berada dalam genggaman-Nya, jikalau Fāthimah binti Muhammad mencuri, maka saya akan potong tangannya.” (HR al-Bukhāry)

Dengan begitu, jelaslah aturannya dalam Islam. Semua pemimpin dalam Islam, di negeri Islam mana pun, walaupun mereka memiliki imunitas, namun jikalau melakukan tindak criminal yang sudah ada ketentuan hukumannya dalam syariat, maka ia harus tunduk di bawah hokum dan harus dihukum.

Dan artinya lagi, jikalau pemimpin tertinggi negara saja harus ditegakkan hokum atas criminal yang dilakukannya, maka orang-orang yang berada di bawahnya tentu lebih layak lagi mendapatkan hukuman, walaupun itu mentri, gubernur, pejabat, dan lain sebagainya. Hukum harus ditegakkan kepada siapapun. Semua perbuatan harus dipertanggungjawabkan.

***


Kesimpulannya, Impunitas itu tidak berlaku dalam Islam. Hukum harus ditegakkan. Ketika ada yang berbuat criminal, maka ia harus siap mempertanggungjawabkan perbuatannya. Mau pajabat, Mau rakyat jelata, kedudukannya saja. Tidak ada yang memiliki hak khusus di mata hokum.

Ketika hokum berlaku sepihak, maka negara akan hancur. Itu sudah sunnatullah. []
Read More..

Kebebasan (al-Hurriyyah) Menurut Fikih

Seringkali kader umat Islam dan cendekiawan muslim bertanya, “Apakah segala sesuatu dalam Islam, harus tunduk kepada ketentuan halal dan haram? Apakah agama mencekik manusia? Mereka tidak bisa bergerak dan bertindak kecuali setelah bertanya hokum perbuatan yang dilakukannya; apakah halal atau haram?”

Bukankah selayaknya seorang anak manusia itu bebas dalam semua tindakannya, semua perbuatannya, dan semua perilakunya? Ia tidak dipertanyakan segala sesuatu yang dilakukannya? Kecuali jikalau sesuatu itu ada kekaburan hukumnya atau ada sesuatu di baliknya? Agar, setiap anak manusia merasakan kebebasannya. Jikalau begini, maka orang-orang akan lebih mencintai agamanya, dan tidak akan apriori dengan kehidupan beragama.

Pernyataan ini benar. Tidak salah, dan tidak masalah. Hanya saja, jikalau ada yang berkata bahwa agama mencekik penganutnya dengan berbagai tuntutan dan kewajiban, maka pernyataan itu panggang jauh dari api.

Begini. Allah SWT membuat ruang kebebasan, jauh lebih luas di dalam syariat-Nya di bandingkan dengan ruang Perintah (al-Awāmir) dan Larangan (al-Nawāhy). Artinya, ketika seseorang melihat dan memperhatikan dengan baik segala perbuatannya dan segala tindak tanduknya, maka ia akan mendapati bahwa kekebasan (al-Hurriyyah) yang diberikan kepadanya, jauh lebih banyak dibandingkan yang lainnya.

Kebebasan (al-Hurriyyah) Menurut Fikih

Kejeniusan Fikih Islam (al-Fiqh al-Islāmy) tampak nyata, dengan apa yang dikenal dengan istilah Hukum Taklif (al-Hukum al-Taklīfy). Dengan hokum ini, jutaan perbuatan manusia bisa diklasifikasi dengan lima ruang, yaitu wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah. Semua perbuatan dan perkataannya, semuanya masuk ke dalam hokum lima ruang ini.

Jikalau kita mau mengkaji Hukum Islam dan membuat persentasinya, maka kita akan mendapati bahwa hokum haram adalah hokum yang paling sedikit jumlahnya. Hal-hal yang diharamkan dan dilarang dalam Islam, jumlahnya sedikit. Kemudian setelahnya, barulah hokum wajib. Perintah dalam Islam, jumlahnya juga sedikit. Kemudian setelahnya Hukum Makruh. Kemudian setelahnya, Hukum Sunnah. Kemudian setelahnya, hokum Mubah atau boleh. Kalau mau dipersentasikan, Mubah itu sekitar 80%.

Para Ahli Fikih dan Ulama sudah menetapkan kaedah bahwa Hukum Asal dalam Segala Sesuatu adalah Mubah, sampai Ada Nash yang Mengharamkannya (al-Ashl fī al-Asyya’ al-Ibāhah hattā Yarid al-Nash bi al-Tahrīm). Artinya, jikalau ada suatu masalah kontemporer, maka seorang Mujtahid tidak bisa lansung mengharamkannya, tetapi menegakkannya di atas hokum asalnya yang  membolehkan. Sebab pada dasanya, manusia itu bebas hokum (al-Taklīf). Kecuali ada dalil yang mengharamkannya, atau mewajibkannya atau memakruhkannya. Masalah yang terjadi, kadanglah hukumnya bisa kelimanya, sesuai dengan Ijtihad. Hanya saja, hokum asalnya tetap boleh atau al-Ibāhah.

Para Ahli Fikih membagi fikih beberapa bagian utama, yaitu Ibadah, Muamalah, Adab dan Adat.

Kewajiban yang paling banyak, berhubungan dengan Ibadah. Sebab, ia mengatur hubungan antara seorang hamba dengan Rabbnya.

Jenis kewajiban atau al-Furūdh yang banyak adalah ibadah. Sebab, ia mengatur hubungan seorang hamba dengan Rabbnya. Balasannya adalah balasan Ukhrākhi, di akhirat kelak. Di dunia tetap ada balasannya, walaupun kadangkala tidak tampak nyata. Hanya saja, setiap ibadah itu tidak akan pernah luput dari unsur kemaslahatan. Pasti ada kemaslahatannya. Dan tujuan utamanya, jelas al-Ta’abbud.

Kalau Muamalah, maka muaranya adalah Mashālih al-‘Ibād, kemaslahatan bagi para hamba Allah SWT. Muamalah ini ruangnya lebih bebas, tidak begitu didetail layaknya ibadah. Diisi oleh kaedah-kaedah umum. Masalah-masalah Muamalah selalu mengalami perkembangan antara satu masa dengan masa lainnya. Tapi bukan berarti isinya kaedah umum semua. Ada juga masalah-masalahnya yang sudah ada dalilnya, yang tidak boleh dilanggar dan dilangkahi oleh Ijtihād. Misalnya, jenis-jenis jual beli yang diharamkan, minuman yang diharamkan, masalah al-Hudūd, dan kriminalitas (al-Jināyah).  Banyak masalah-masalah Muamalah klasik dan kontemporer yang membutuhkan ijtihād baru. Tidak lazim masalah baru dalam Muamalah, ada dasarnya di studi klasik. Namun, sebuah Ijtihād tetaplah harus ditegak di atas Nash al-Qurān dan sunnah, serta Ijtihād umum. 

Kalau Adab, maka ia merupakan syariat yang minim sekali wajibnya dan haramnya, bahkan sebagian besarnya berkisar antara sunnah dan mubah. Ia menjelaskan celupan Islam terhadap kondisi manusia dan kebiasaan mereka, agar tidak sekadar menjadi kebiasaan. Atau Ia adalah perkara-perkara yang menggambarkan kebiasaan dan akhlak baik, seperti Adab Bekerja, Adab Hukum dan Pengadilan, atau Adab Hidup Secara Umum, Adab Berhubungan dengan Muslim dan Non Muslim, dan sejenisnya.

Jenis selanjutnya, berhubungan dengan Adat atau Kebiasaan, seperti melakukan perjalanan, berobat, berhias, pakaian, minuman, dan selainnya. Jenis ini tegak di atas pondasi kebiasaan yang berlaku, namun disertai dengan aturan-aturan yang memastikan kebiasaan atau adat tersebut, tidak menyebabkan mudharat bagi manusia itu sendiri maupun bagi masyarakat secara umum.

Agar Anda paham dengan baik makna “Kebebasan Dalam Fikih” ini, atau memahami bahwa fikih itu sama sekali tidak mencekik anak manusia, bahkan sebaliknya; sangat memberikan kelapangan, maka hendaklah setiap mereka melihat seluruh perbuatannya dan seluruh tindakannya. Hendaklah mereka memperhatikan berapa persentasi wajib yang diwajibkan oleh Allah SWT pada hari ini? Berapakah persentasi haram? Berapakah persentasi Mubah? Maka akan didapati bahwa Mubah itu menjadi hokum asal dalam perbuatan manusia dan tindak tanduknya.

Ketika seorang muslim mengetahui bahwa hokum sebagian besar perbuatannya dan tindakannya adalah Mubah, maka hendaklah ia mencintai Allah SWT dan mencintai Islam, mengetahui ketetapan Allah SWT dalam Kitab-Nya terhadap para hamba-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur." (Surat al-Maidah: 6)

Hendaklah ia yakin bahwa ketetapan Allah SWT dalam Kitab-Nya merupakan kaedah emas dalam masalah hokum, yaitu firman-Nya:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (Surat al-Baqarah: 185)

Atau meyakini ketetapan Nabi Muhammad Saw dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh al-Bukhāry dan Muslim:
إن هذا الدين يسر، ولن يشاد الدين أحد إلا غلبه، فسددوا وقاربوا، وأبشروا، واستعينوا بالغدوة والروحة، وشيء من الدلجة
“Agama ini mudah. Tidaklah seseorang mengetatkannya, kecuali ia akan kalah. Maka, luruskanlah dan dekatkanlah. Bergembiralah dan mohonlah bantuan di pagi dan sore hari, serta di waktu malam.”

Pengertian inilah yang difahami oleh Ahli Fikih Umat Islam, dan pengertian inilah yang mereka ungkapkan. Di antara buktinya adalah ucapan al-Imām Ibn al-Qayyim dalam Kitab Ighātsah al-Lahfan (1/ 158):
“Allah SWT menyatukan dalam syariat ini, antara kelurusan dan ketoleranan. Ia lurus dalam bertauhid, dan toleran dalam beramal.”

Bahkan, kebebasan dan kemudahan merupakan syiar umat ini yang membedakannya dengan umat-umat sebelumnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibn Katsīr dalam tafsirnya (2/ 254):
“Nabi Saw diutus dengan kemudahan (al-Taysīr) dan toleran (al-Samāhah). Syariat umat sebelum mereka, penuh dengan kesempitan. Maka, Allah SWT melapangkan perkara umat ini dan memudahkannya bagi mereka.”

Bahkan, salah satu keagungan syariat Islam, ia memberikan beban (al-Taklīf) kepada umatnya jauh lebih minim dari yang mungkin dilakukannya, sebagaimana dikatakan oleh al-Zamakhsyary:
“Allah SWT tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya dan mudah dilakukannya, bukan sesuai dengan puncak kemampuannya dan usahanya. Manusia itu mampu mengerjakan shalat lebih dari lima waktu, berpuasa lebih dari sebulan, dan berhaji lebih dari sekali.”

Kesimpulannya, Teori Pensyariatan (Nazhariyyat al-Tasyrī’) tegak di atas dasar “Kebebasan dalam Fikih”. Ruang kebebasan, jauh lebih luas dari ruang lainnya. Bahkan, kita tidak bisa menghitung kekebasan yang diberikan oleh Allah SWT karena saking banyaknya dan saking melimpahnya. Wajib dan Haram, ruangnya sangat sempit dalam syariat Islam. []
Read More..

Bagian Ke-2/ Dialetika Fikih (al-Takyíf al-Fiqhí) Terhadap Seni Menurut Islam

Oke. Ini ada tulisan bagian (II) atau Bagian Akhir. Agar Anda nyambung dengan tulisan ini, Anda terlebih dahulu harus membaca tulisan saya sebelumnya. Jikalau belum baca, silahkan dibaca dulu, agar bisa mendapatkan deskripsi yang paripurna. Silahkan disini: Bagian Ke-1/ Dialektika Fikih (al-Takyíf al-Fiqhí) Terhadap Seni Menurut Islam.

***


4# Seni Sebagai Degradrasi dan Hedonisme

Jenis atau al-Takyíf inilah yang menjadi patokan orang-orang yang mengharamkan seni dengan segala jenisnya. Tentu saja, ia berbeda dengan deskripsi yang sudah kita paparkan sebelumnya. Ia hanya bersandarkan kepada realita yang disaksikan dan fakta yang belum diurai.

Nyanyian, Musik, Tarian, Patung, Drama, Sinema atau Film, dan lain sebagainya, dipenuhi dengan berbagai fenomena kekotoran, hedonism, mengikui nafsu syahwat, mengandung berbagai kemungkaran, terjerumus ke dalam berbagai hal hina lagi menghancurkan. Bahkan sebagian orang mendeskripsikan seni sebagai kegilaan. Berdasarkan realita ini, tidak ada hokum yang layak disematkan kecuali haram.

Syeikh Abu Zaid dalam Kitab al-Tamtsíl, halaman 45 menjelaskan, “Kemudian ketahuilah bahwa kaedah Syariah menjelaskan bahwa sesuatu jikalau asalnya Mubah, kemudian mengandung hal haram atau menyebabkan keharaman, maka ia menjadi haram. Begitu juga dengan film/ drama. Jikalau dikatakan bahwa hokum asalnya digolongkan ke dalam jenis al-Lahwi yang dibolehkan (al-Mubâh), kemudian dicampuri oleh sesuatu yang haram atau menyebabkan yang haram, maka ia menjadi haram; baik pelaksaannya, pendapatannya, dan menontonnya, berdasarkan kaedah di atas.”

Bagian Ke-2/ Dialetika Fikih (al-Takyíf al-Fiqhí) Terhadap Seni Menurut Islam

Dalam kitab yang sama, di halaman 57, ia berkata lebih lanjut, “Nasehat dan keutamaan yang diklaim ada di dalamnya, tertutupi oleh tirai al-Lahwi yang membangunkan nafsu tertidur dan syahwat yang tenang, sebagaimana realita yang terjadi,  mengulang-ngulang perbuatan fahisy, kefasikan, dan kemaksiatan, menghancurkan rumah dari dalam. Semuanya merupakan hal yang berbahaya bagi akidah, akhlak, keutamaan, dan etika.”

DR. Ibrâhim Hilâl menulis sebuah artikel berjudul Ta’tsír al-Fann ‘ala a-Usrah, yang memaparkan sejumlah pengaruh negative seni kontemporer terhadap keluarga dan para anggotanya, seperti perceraian, degradasi moral, dan kerusakan keluarga, khususnya yang ditampilkan di stasiun-stasiun televise dan masuk ke setiap rumah.

Artikelnya ditutup dengan mengatakan, “Inilah seni. Dan itulah pengaruhnya terhadap dunia manusia dan kehidupan umat manusia. Dengan begitu, ia menjadi penghalang besar kemajuan kita dan peradaban kita. Jadi, kenapa harus ada lagi di dunia kita dan di lingkungan kita?

Semua Deskripsi seni di atas, bisa diterima dan bisa juga ditolak dalam satu waktu. Jikalau menyaksikan realita yang terjadi di sebagian besar kondisi, ia bisa diterima. Bahkan, mayoritasnya memang begitu. Lihat saja produksi dan aktifitas seni yang sudah disebutkan, kemudian lihat juga lingkungan yang menyelimutinya.

Akan tetapi, jikalau dilihat dari sisi percampurannya, globalnya, dan pelazimannya atas sesuatu yang tidak lazim, maka ia tertolak. Ini sama halnya dengan apa yang terjadi pada para pengkritik Ibn Hazm, yaitu ketika ia membolehkan nyanyian dan alat gendang. Mereka membawa masalahnya terhadap point-point yang tidak ada hubungannya, tidak ada kaitannya dengan pendapatnya.

Syeikh al-Zubair Dahhân mengatakan dalam Kitabnnya Tahqíq al-Arib bi Inshâf Ibn Hazm fí Mas-alah al-Ghinâ’ wa al-Mùsiqí wa Alât al-Tharb, “Pilihan Ibn Hazm ini, merupakan pilihan controversial, yang menyebabkannya diserang cacian dan celaan. Sebagian orang memandangnya sesat dan menyesatkan. Kadangkala, orang-orang yang berbeda dengannya, mengkritiknya dengan realita nyanyian, alat-alat gendang, dan video tak senonoh yang ada pada hari ini, seakan-akan orang yang membolehkan alat-alat gendang berarti membolehkan gambar-gambar tersebut, padahal sebenarnya orang yang berakal tidak akan meragui keharamannya. Jikalau Ibn Hazm ditanya, maka ia akan  menjawab dengan apa yang diriwayatkan dari seorang Salaf, ‘Tidak ada yang melakukannya kecuali orang-orang fasik di antara kami.’ Hanya saja, penyelewengannya dari makna sebenarnya, bukan berarti diharamkan hokum asalnya.”

Karena itulah, jikalau dikatakan, “seni nyanyian dan drama yang jelas deskripsinya dengan sifat-sifat yang sudah disebutkan, tidak boleh bagi siapapun menyibukkan diri dengannya, baik melaksanakannya, mendengarnya, maupun menyaksikannya”, maka ucapan tersebut adalah ucapan persial dan setengah-setengah. Sebab, sifat-sifat ini bukanlah sesuatu yang lazim, tidak juga global, tetapi semua itu hanyalah paparan/ eksternal, bukan dzatnya sendiri. Ia ada di sebagian seni, tapi tidak di sebagian seni lainnya. Di sebagian seni, ada perbuatan-perbuatan seperti itu, tapi tidak di sebagian seni lainnya. Bisa jadi di sebagian besar seni ada, tapi tidak semuanya.

Point paling pentingnya, seni yang mengandung hal-hal terlarang tersebut, bisa dilepaskan dan bisa diubah. Jikalau ada orang yang berseni dengan kekotoran dan ingin mengotorinya, ada sebagian lainnya yang justru ingin berseni dengan cara-cara yang agung dan bersih. Hanya saja, mereka kadangkala tidak mengusainya dengan baik.

Memisahkan antara seni apapun dengan hal-hal haram lagi kotor yang menempel padanya, hanya membutuhkan cita tinggi dan tujuan mulia. Sesuai dengan kadar azam, hasilnya akan tampak.

5# Seni Sebagai Sarana (al-Wasílah)

Ini jenis masalah seni lainnya, yang bisa dijadikan pondasi dalam Dialektika, yaitu fakta bahwa sebagian besar seni hanyala sarana yang mampu menarik hati khalayak dan bisa memberikan pengaruh kepada merek. Tujuannya tentu jelas, yaitu menasehati dan menyampaikan berbagai info. Dan itulah tujuan seni.

Wujud jenis ini tidak sedikit.  Dengan berbagai jenis seni dan kerjanya, ia seringkali ditampilkan kepada masyarakat, mulai dari Khat, lukisan, dan hiasan dinding, mulai dari seni sastra sampai ke produksi film, lagi religi dan nasional.

Secara umum, tujuan-tujuan yang ingin dicapai dengan kerja seni sebagai sarana, bisa jadi adalah perbaikan yang positif, dan  bisa jadi adalah pengrusakan yang menghancurkan. Bisa jadi perbaikan bagi sebagian orang, dan bisa jadi kehancuran bagi sebagian lainnya.

6# Seni Sebagai Kebutuhan Fitrah Manusia

Saya tidak mendapati, minimal saya tidak ingat buku yang pernah saya baca, yang mengkaji seni dari sudut ini atau melakukan Dialektika dengan jenis ini. Maksud jenis yang sedang dibahas ini, manusia dengan berbagai ras dan budaya, mereka berinteraksi dengan seni dan tertarik dengannya, serta sangat mencintainya sebagai bawaan yang sudah tertanam kuat di dalam dirinya.  Inilah yan menafsirkan eksistensi seni di semua suku di sepanjang masa, sebagaimana ia menafsirkan peralihan suatu seni dari satu suku ke suku lainnya, kemudian diterima dengan cepat di kalangan lainnya.

***

Cerita Syeikh Ahmad al-Raysùni


Ketika masih muda, saya meyakini haramnya nyanyian dan derivasinya. Saya bersikap keras dalam masalah ini. Dalam suatu jamuan yang disajikan kepada para peserta dalam Muktamar Islam di Kota Tetoun di Moroko (tahun 1974), ketika berada di istana sang Tuan Rumah, muncullah suara “al-Jauq al-Andalusi” (music klasik Moroko). Saya benar-benar terkejut mendapatinya. Saya merasa asing dan tidak menyukainya. Saya tidak mampu bertahan bersama “kemungkaran” ini, kemudian saya masa bodoh saja dengan orang-orang yang ada di sekitarku, menundukkan kepala dan segera keluar tanpa melihat kepada seorang pun.

Ketika kembali  ke Aula Muktamar, temanku segera menghampiriku, yaitu al-Akh Hammâd al-Zammùry, yang kebetulan saya duduk di dekatnya, “Dimana engkau tiba-tiba bersembunyi? Apa yang terjadi?” Ketika saya menjelaskan sikapku, ia berkata kepadaku,”Kalau saya, sendi-sendi saya menikmatinya, dan saya senang bersama dendang Andalusia.” Kemudian saya segera menjawab, “Kalau Saya, sendi-sendi saya sudah berkarat dan kering, tidak lagi menerima kerusakan.”

Teman saya tersebut mengungkapkan fitrahnya dan perasaannya secara spontan, sedangkan saya mengungkapkan sikap fikih sesuai dengan apa yang saya baca dan saya ingat, sampai-sampai saya kenyang karenanya.

Ada kejadian lainnya, yang saya saksikan bertahun-tahun setelahnya. Momentnya jauh lebih kecil dari sebelumnya. Suatu hari, saya berkumpul bersama keluarga di rumah kami, di desa kami. Dalam perkumpulan itu, ada kedua orangtua saya, sejumlah saudara laki-laki dan perempuan, serta sejumlah kerabat. Kemudian salah seorang yang hadur menghidupkan radio yang dibawanya. Kemudian terdengarlah suara nyanyian lembut. Ketika saya merasakan ketidaknyamanan, berdirilah seorang anak kecil berjoget bersama dengan iringan lagu dan syairnya. Padahal usianya baru tiga tahun.

Saya lama memikirkannya dan berkali-kali merenungi kejadian terakhir ini. Saya mendapati bahwa anak kecil ini tidak ada yang menggerakkannya untuk berjoget kecuali fitrahnya dan tabiatnya. Ketika itu, saya mulai mengkaji lagi dan lagi, saya meluruskan pendapat saya selama ini tentang masalah nyanyian dan music, sampai saya yakin bahwa semuanya sudah berakar dalam fitrah kita, penciptaan kita, dan kecenderungan kita. Allah SWT mensyariatkannya dan membolehkannya degan kadarnya, dengan bentuknya, atau dengan berbagai bentuknya.

Keyakinan ini semakin kuat ketika saya membaca tulisan menarik yang ditulis oleh al-Imâm Abù Bakar bin al-Arabí dalam Kitabnya ‘Aridhâh al-Ahwâzi syarh Shahíh al-Turmudzí, “Hal halal adalah sesuatu yang diizinkan melakukannya. Hal haram adalah sesuatu yang dilarang melakukannya. Allah SWT dengan keindahan hikmahya ketika menciptakan semua yang ada di bumi bagi kita, Dia membaginya menjadi tiga kondisi:
Ada yang dibolehkannya secara mutlak.
Ada yang dibolehkannya dalam satu kondisi, tidak pada kondisi lainnya.
Ada yang bolehnnya dalam satu bentuk, tidak bentuk lainnya.

Sedangkan jikalau dikatakan bahwa ada di bumi ini yang dilarang, tidak pernah tersentuh hokum al-Ibâhah kapan pun, dalam bentuk apapun, maka saya tidak mengetahuinya sama sekali. Segala sesuatu tersentuh oleh hokum halal dan haram kecuali al-Tauhíd, yang tidak dimasuki perubahan, tidak turun dari derajat fardhu dan tangga wajib apapun kondisinya.”

Rasa suka terhadap seni, juga tidak keluar dari bahasan di atas. Allah SWT tidak akan menempatkannya dalam tabiat kita, kemudian Dia mengharamkannya secara mutlak. Tindakan paling layak syariat terhadap kecenderungan fitrah manusia adalah al-Tahdzíb (mendidik) dan al-Tawjíh (mengarahkan), al-Taqyíd (membatasi), dan al-Tarsyíd (menasehati). Tidak ada larangan mutlak atau pengharaman di seluruh bagian.

Imam al-Ghazâli sudah memaparkan masalah ini dalam sebuah pembahasan dengan judul al-Samâ’ wa al-Wajd, menyertakan berbagai hadist dan atsar, di antaranya hadits yang terdapat dalam al-Shahíhain, dari Aisyah radhiyallahu anha, “… Pada hari raya, dua orang berkulit hitam bermain dengan kayu dan tombak. Kayaknya beliau bertanya atau berkata, ‘Apakah engkau melihat?’ Saya menjawab, ‘ya.’ Kemudian beliau menempatkanku di belakangnya, pipiku di pipinya. Beliau berkata, ‘Di hadapanmu wahai Bani Arfidah.’ Sampai saya merasa bosan, beliau berkata, ‘Cukup?’ Saya menjwab, ‘ya.’ Beliau berkata, ‘Pergila.”

Di antara hokum dan adab yang di Istinbathkan al-Ghazâli, serta fikih yang ditegaskannya adalah berdirinya Nabi Muhammad Saw dalam jangka waktu yang lama menyaksikannya dan mendengarkannya, untuk menemasi Aisyah radhiyallahu anha. Dan ini menunjukkan bahwa akhlak yang baik itu dengan menyenangkan hati istri dan anak-anak, dengan menyaksikan permainan. Dan itu jauh lebih baik dari sikap kering dan kasar.

Saya menukil hal ini untuk menguatkan bahwa keterikatan jiwa dengan sei, adalah kecendrungan fitrah seorang anak manusia dan kebutuhan alaminya, serta untuk menjelaskan bagaimana sikap Nabi Muhammad menghadapinya.

***


Oke. Itulah catatan mengenai Dialektika Fikih (al-Takyíf al-Fiqhí) Terhadap Seni Menurut Islam, yang diterjemahkan dan disusun ulang dari Makalah yang ditulis oleh Syeikh Ahmad al-Raysuní dengan judul “al-Masalah al-Fanniyah fí al-Nazhr al-Maqâshidí min Khilâl Madkhal al-Takyíf wa al-Tawzhífí”, disampaikan dalam seminar bertajuk “al-Funùn fi Dhau Maqâshid al-Syarí’ah”, yang diadakan oleh Pusat Studi Maqâshid al-Syaríah London, di tanggal 4-5 November 2016, di Kota Istanbul.

Semoga catatan ini memberikan wajah baru bagi kita bagaimana memandang masalah seni dalam Islam. Harus dilihat dengan detail, dari berbagai sudut pandangan. Agar, hasil pandangan fikih yang disampaikan, tidak parsial. []
Read More..

Bagian Ke-1/ Dialetika Fikih (al-Takyíf al-Fiqhí) Terhadap Seni Menurut Islam

Entah bahasa apa yang cocok untuk mengartikan al-Takyíf ini dalam bahasa Indonesia. Ada yang mengartikannya dengan “Adaptasi”. Ada juga yang mengartikannya dengan “Dialektika”. Ada juga yang saya dapati mengartikannya dengan “Rekayasa”.  Untuk yang terakhir, maknanya terlalu peyoratif. Saya tidak setuju. Sebab, makna al-Takyíf al-Fiqhí  itu positif.

Entah mana yang cocoh. Tapi nanti kita bisa menentukan artinya yang cocoknya atau mendati makna aslinya setelah membaca Artikel berikut.

Al-Takyíf merupakan istilah undang-undang, kemudian dipinjam dan digunakan dalam kajian fikih. Inilah awal mula digunakannya istilah al-Takyíf al-Fiqhí di kalangan ulama kontemporer, yang sepadan dengan makna yang digunakan ketika menyebut al-Takyíf al-Qanùni (al-Takyíf atas Undang-Undang).

Maksud al-Takyíf al-Fiqhí atau al-Takyíf al-Qanùni adalah menentukan pengertian al-Tasharruf (tindakan) atau masalah atau kejadian yang dilihat dengan pandangan fikih atau undang-undang atau peradilan, kemudian membaginya dan menempatkannya di bab yang sesuai, agar bisa diolah dan ditetapkan hukumnya sesuai dialektikanya dan susunannya.

Bagian Ke-1/ Dialetika Fikih (al-Takyíf al-Fiqhí) Terhadap Seni Menurut Islam

Misalnya, apakah tindakan ini masuk dalam bab Ibadah atau Muamalah atau Adat Kebiasaan?  Apakah ini wajib atau Haram, dianggap salah satu hak Allah SWT atau hak para hamba? Apakah ini criminal yang masuk ke dalam bab al-Hudùd atau bab al-Qishâs atau bab al-Ta’zír? Apakah pembunuh ini jenisnya al-‘Amd atau Khata’ atau Syibh ‘Amd? Apakah menguasai harta orang lain dalam kondisi ini dengan deskripsi seperti ini dianggap pencurian, atau diangggap pengkhiatan terhadap amanah atau Perampokan?

Jawaban terpilih dari setiap pertanyaan dan pemisalanya ini, dianggap sebagai Dialektika dan Pembagian awal masalah , yang akan menjadi pondasi hokum-hukum fikih atau undang-undang atau peradilan.

Al-Takyíf al-Fiqhí sama kedudukannya dengan Dokter yang memeriksa dan melakukan diagnosis awal kondisi pasiennya, sebelum mengobati atau melakukan diagnose lebih lanjut. 

Dari sisi ilmiah, al-Takyíf al-Fiqhí masuk dalam ruang yang dikenal ulama dengan nama Tahrír Mahall al-Nizâ’. Sebagaimana diketahui, jikalau tidak ada Tahrír Mahall al-Nizâ’, maka akan terjadi berbagai diskursus dan perdebatan di antara kalangan yang berbeda. Padahal, perbedaan itu bisa dilebur atau dipersempit dengan Tahrír Mahall al-Nizâ’, yaitu dengan Dialektika yang benar atas malah.

Ia juga bisa dinamalan dengan al-Munâthaqah bi al-Tashawwur (berbicara dengan deskripsi), didahulu oleh al-Tashdiq (pembenaran), sesuai dengan kaedah al-Hukm ‘ala Syai-in Far’un ‘an Tashawwurihi (hokum atas sesuatu, cabang dari deskripsinya). Hanya saja, al-Takyíf lebih khusus dari al-Tashawwur.

***

Dialetika Fikih (al-Takyíf al-Fiqhí) Terhadap Seni


Perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang masalah seni, kedudukannya, dan hokum-hukumnya dalam Islam, khususnya seni yang lebih dikenal dan lebih menyebar luas di tengah masyarakat, seperti nyanyian, music, dan patung, sebagian pangkal masalahnya adalah shahih atau tidaknya dalil-dalil yang ada seputar masalah tersebut dari sisi riwayatnya. Kemudian pangkal masalah lainnya adalah penggunaan dalil-dalil yang bisa dijadikan sandaran dalam masalah terkait dari sisi al-Dilâlah dan al-Muqtadhâ.

Padahal, ada sebab lainnya yang memyebabkan perbedaan ini, yang jarang diperhatikan dan dikaji, yaitu dialektika masalah dan penyusunannya.

Ketika kita membaca berbagai kitab dan fatwa yang terkait seni, baik lama maupun baru, maka kita biasanya akan mendapati masalah ini tidak begitu diperhatikan, atau disebutkan sebagiannya saja (al-Juz-i), atau kita mendapatinya ada al-Takyíf namun tidak jelas dan samar.

Masalah al-Takyíf Seni memiliki efek besar dalam pengkajiannya dan penting untuk didudukkan hukumnya. Atas dasar itulah perlu dijelaskan dan diperinci unsur-unsur penting yang terkandung di dalamnya dan pandangan-pandangan yang membentuknya, kemudian juga perlu ditunjukkan adanya titik temu di antara semua jenisnya.

1# Seni Sebagai al-Lahw (Permainan, Senda Gurau)

Jenis ini dikenal luas di kalangan ulama, khususnya nyanyian, dendang, dan tarian. Inilah yang dijelaskan oleh banyak sekali hadits Nabi Muhammad Saw, baik dalam bentuk al-Ibâhah (boleh) maupun dalam bentuk al-Taqyíd (dibatasi) dan al-Tawjíh (diarahkan).

Dalam Shahíh al-Bukhâri, ada Bâb al-Lahwi bi al-Hirâb wa Nahwiha. Dalam Sunan al-Turmudzí, ada Bâb al-Lahwi wa al-Ghinâi ‘inda al-‘Ars. Dan Bab sejenisnya, banyak didapati dalam Kitab-Kitab Sunnah. Dan maksud al-Lahwi disini adalah hiburan ketika pesta.

Tidak ada seorang pun yang berpandangan bahwa semua seni adalah al-Lahwi, atau berpandangan bahwa semua al-Lahwi adalah seni. Artiya, sebagian seni itu ada yang masuk dalam kategori al-Lahwi, dan sebagian lainnya kenikmatan (Imtâ’ al-Nafs).

Dengan al-Takyíf ini, masalah hokum kebolehan seni atau keharamannya, membutuhkan diskusi lebih lanjut mengenai hokum al-Lahwi secara umum; apakah ia al-Ibâh (boleh) kecuali yang dinafikan dalil, atau al-Hazhr (haram) kecuali yang dinafikan dalil?

Jikalau melihat banyaknya jenis al-Lahwi dan hiburan, kemudian sebarannya yang begitu luas di masa sekarang ini, di seluruh lapisan masyarakat, bahkan sudah ada semenjak zaman Nabi, maka tidak mungkin dan tidak layak berpendapat kecuali memastikan bahwa al-Lahwi itu boleh. Itu hokum asalnya dan berdasarkan nash-nash yang ada.

Artinya, yang perlu dikaji lebih lanjut adalah kondisi ketika al-Lahwi ini melampui batas, ketika ia memberikan pengaruh buruk atau tidak baik terhadap kewajiban.

Jikalau al-Lahwi itu mengandung atau melazimkan perbuatan-perbuatan yang haram, maka tidak diragui hukumnya haram. Tapi, jikalau dikatakan bahwa ia diharamkan sebagai hokum asalnya karena bercampur hal-hal yang diharamkan di beberapa kondisinya atau di sebagian besar kondisinya, maka ini tidak benar dan tidak layak. Kaedah Fikih yang menjadi pegangan Jumhur ulama menegaskan al-Harâm lâ Yuharrim al-Halâl, yang haram tidak mengharamkan yang halal. Atau lafadz lainnya: al-Hâlal lâ Yahrum bi Mulâqat al-Harâm, yang halal tidak akan haram dengan masuknya yang haram.

Jadi, al-Takyíf untuk Seni sebagai al-Lahwi, hokum asalnya adalah al-Ibâhah (boleh), sama dengan ucapan, perbuatan, dan hiburan lainnya. Kemudian, yang keluar dari makna ini atau pengertian, maka dilihat dengan dalil. Jikalau sekadar al-Lahwi atau permainan atau mendengarkan keduanya, maka hukumnya al-Ibâhah.

Hal yang mempengaruhi hokum adalah berlebih-lebihannya dalam al-Lahwi ini dan terus menerus melakukannya, sampai lalai menjalankan hak dan kewajiban, atau kecanduan, atau menghabiskan waktu dan usia dengan kesia-siaan. Dalam kondisi seperti ini, maka hokum al-Lahwi beralih dari al-Ibâhah (boleh) ke al-Karâhah (Makruh), atau ke al-Tahrím (haram), sesuai tingkat berlebih-lebihannya dan efeknya.

Imam al-Ghazali mengatakan dalam Kitab Ihyâ Ulùm al-Dín (2/ 282):
“Tidak semua kebaikan, akan menjadi kebaikan jikalau sering dilakukan. Dan tidak setiap Mubah, akan Mubah jikalau sering dilakujan. Roti itu Mubah, namun jikalau mengkomsumsinya kebaikan, hukumnya menjadi haram.”

Inilah yang dinamakan oleh al-Syâthibí dengan al-Mubâh bi al-Juz, al-Mathlùb al-Tark bi al-Kull (boleh sebagian, diminta untuk meninggalkan secara total). Ia memisalkannya dengan berjalan-jalan di taman, mendengarkan kicauan burung, nyanyian yang Mubah, permaianan yang Mubah dengan Merpati. Semua ini hukumnya al-Mubâh bi al-Juz. Jikalau suatu hari dilakukan, atau dalam kondisi tertentu, maka hukumnya tidak masalah. Jikalau terus-menerus dilakukan,  maka hukumnya Makruh,  pelakunya disebut kurang akal, bertentangan dengan tradisi baik, dan berlebihan melakukan kemubahan.” (Lihat Kitab al-Muwâfaqât: 1/ 209)

Inilah yang dimaksudkannya dengan al-Mubâh bi al-Juz, al-Mathlùb al-Tark bi al-Kull (boleh sebagian, diminta untuk meninggalkan secara total). Maksudnya, dilarang melakukannya terus-menerus.

2# Seni Sebagai Industri dan Pekerjaan

Ada sisi lainnya yang perlu dilihat dan dikaji ketika membahas masalah seni dan menetapkan hukumnya, yaitu sebagian besanya tumbuh dan berkembang sebagai pekerjaan dan industri jasa, yang dijadikan sebagai mata pencaharian oleh pelakunya. Seni itu bisa jadi adalah layanan yang diminta oleh para penggemarnya dan para penikmatnya, kemudian juga merupakan layanan dari orang yang menjadi menguasainya dan memproduksinya.

Seni Arsitektur masuk ke dalam bahasan ini, yang ditunjukkan oleh firman Allah SWT:
قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الصَّرْحَ ۖ فَلَمَّا رَأَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَكَشَفَتْ عَنْ سَاقَيْهَا ۚ قَالَ إِنَّهُ صَرْحٌ مُمَرَّدٌ مِنْ قَوَارِيرَ ۗ قَالَتْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Dikatakan kepadanya: "Masuklah ke dalam istana". Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: "Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca". Berkatalah Balqis: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam." (Surat al-Nam: 44)

Dan firman-Nya:
يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ ۚ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih." (Surat Saba': 13)

Intinya, semua seni, jikalau tidak mengkaji pekerjaan atau sumber rezeki, dan pemasukan buat pelakunya, maka ia akan terlindas dan hilang.

Ibn Khaldùn berpandangan dalam kitabnya Târikh Ibn Khaldun (1/ 401), karya seni dan karya Tersier hanya akan tampak, banyak memintanya dan banyak yang ingin mempelajarinya, di tengah masyarakat yang berperadaban sejahtera dan berarsitektur kemajuan:
“Jikalau lautan infrastruktur sudah berkembang dan hal-hal tersier sudah dipinta, maka secara umum sudah baguslah dunia industry dan sudah baik. Ia sudah sempurna dengan semua hal-hal yang menyempurnakannya, kemudian industry-industri lainnya akan bertambah banyak bersamanya. Semua itulah yang akan menjadi pondasi kesejahteraan dan derivasinya, seperti tukang jagal, tukang semak, tukang kikir, dan sejenisnya.

Semua jenis ini akan berujung jikalau pembangunan menyebabkan munculnya banyak tersier dan benar-benar bergantung dengannya, menjadi mata pencaharian bagi pelakunya di perkotaan, bahkan keuntunganya menjadi keuntungan paling besar yang mengantarkan kepada kesejahteraan di perkotaan, seperti tukang minyak rambut, tukang kepang rambut, tukang kamar mandi, tukang lilin, pengajar nyanyi, pengajar menari, pengajar pemukul gendang, kemudian juga seperti para pembuat kertas yang mengeluhkan mencetak buku, menjilidnya, dan membenarkannya. Industriini menyebabkan kesejahteraan di Kota, yang menyebabkab terlalaikannya masalah-masalah pemikiran dan semisalnya.

Bisa jadi keluar dari pengertian di atas jikalau pembangunannya tidak seperti yang dijelaskan di atas. Sebagaimana kami sampaikan tentang penduduk perkotaan, bahwa ada di antara mereka yang mengajarkan burung, mengajarkan orang-orang non Arab dan Afrika, kemudian membayangkan banyak hal-hal aneh dengan mengilhamkan pikiran, mengajarkan pengukuran, menari, berjalan di atas benang di udara, kemudian mengajarkan hewan memikul beban, batu, dan berbagai industry lainnya, yang tidak didapatkan di Maghrib, sebab pembangunan di perkotaan tidak mencapai pembangunan Mesir dan Kairo. Semoga Allah SWT mengekalkan keduanya bagi kaum muslimin.”

Industri dan kerja seni seperti ini, tidak ada seorang pun yang menyatakan keharamannya. Hal yang sama dengan seni lainnya, ketika ia dijadikan sebagai pekerjaan dan profesi.

3# Seni Sebagai Hiasan dan Barang Perhiasaan

Hubungan antara seni dan keindahan, banyak sekali. Khususnya bagi  kalangan pecinta seni, dari kalangan para intelektual dan ahli fikih kontemporer. Mereka berpandangan bahwa seni itu pada dasarnya dan idealnya adalah ungkapan keindahan tentang fenomena keindahan di alam semesta dan kehidupan. Seni itu akan sukses dan menarik, sesuai dengan kadar keindahan dan keelokan yang ada padanya.

Seni yang hakiki adalah seni yang menampilkan keindahan, fokusnya, dan unsurnya, dalam bentuk-bentuk yang indah lagi elok. Dengan begitu, ia menunjukkan pendidikan keindahan, merasakan taste keindahan untuk berbagai jenis ilmu dan indera manusia, baik yang tergores maupun tidak tergores.

Al-Ustâdz Muhammad Quthb mengatakan dalam Kitabnya Manhaj al-Fan al-Islâmi (halaman 6), “Seni Islam adalah seni yang menggariskan gambaran alam dari sudut pandangan Islam. Ini adalah ungkapan yang indah tentang alam, kehidupan danmanusia, melalui pandangan Islam terhadap alam, kehidupan, dan manusia. Ini adalah seni yang mempersiapkan pertemuan antara keindahan dan kebenaran. Maka, keindahan adalah hakikat alam semesta ini. Dan kebenaran adalah puncak keindahan. Di puncak, akan bertemu keduanya, yang ketika itu juga bertemu semua hakikat wujud.”

Berdasarkan hal ini, seni merupakan salah satu nikmat yang diberikan oleh Allah SWT, dan dibolehkan kepada para hamba-Nya.

***


Catatan kita ini belum selesai, ya. Ini baru bagian pertama. Baca juga bagian selanjutnya di: Bagian ke-2/ Dialetika Fikih (al-Takyíf al-Fiqhí) Terhadap Seni Menurut Islam.

Oke. Jangan kemana-mana, ya! []
Read More..

Metode Dakwah Menakut-nakuti Umat dengan Pandangan Fikih (al-Takhwíf al-Fiqhí)

Dalam kehidupan sehari-hari, Metode Menakut-nakuti (al-Takwíf) atau Mengancam dan sejenisnya, menjadi sesuatu  yang lumrah dilakukan. Ini berlaku dalam semua bidang kehidupan. Jikalau ancamannya sesuatu yang tidak menghilangkan nyawa atau tidak membahayakan, maka mungkin tidak begitu masalah. Walaupun mungkin dari sisi Teori Pendidikan, tetap masalah. Tapi jikalau ancamannya sampai menghilangkan nyawa, atau menakutkan, jelas ini tidak boleh. Haram dilakukan.

Kita mulai contohnya dari kehidupan keluarga. Ada suami yang menakut-nakuti istrinya, “Kalau kamu tidak nurut, saya ceraikan kamu.” Atau “Kalau kamu tidak turuti perintahku, saya tidak akan memberikan uang bulanan.” Dan banyak lagi cara lainnya.

Ada juga bapak yang menakut-nakuti anaknya, “Jikalau kamu tidak belajar dengan baik, kamu akan bapak kirim ke kampung, tinggal bersama Mbahmu.” Atau “Kalau kamu masih malas-malasan, kamu tidak akan Bapak kasih uang jajan.” Itu baru sedikit.



Di kantor juga ada, yaitu ketika Direktur atau pimpinan menakut-nakuti bawahannya, “Jikalau pekerjaan ini tidak beres, kamu akan saya pecat.” Atau “Jikalau kamu datang telat lagi, maka gaji kamu akan saya potong.” Dan banyak lagi.

Di sekolah atau di kampus, juga berlaku. Dosen kepada Mahasiswanya. Atau Guru kepada muridnya. “Kalau kamu masih bicara dalam kelas, saya akan keluarkan kamu.” Atau “Jikalau kamu tidak bisa diam ketika belajar, nilai kamu akan saya kasih ‘D’.” Dan banyak lagi.

Hehe…

Hanya saja, ada jenis menakut-nakuti yang paling dahsyatnya dan paling berbahaya, yaitu menakut-nakuti dengan dalih (ingat dalih, bukan dalil) agama, sebab orang yang melakukannya merampas kesucian para pengucapkannya, melakukan cap halal dan haram. Sehingga, seorang orang yang berbeda pendapat dengannya, dicap sebagai pelaku maksiat, durhakan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, bahkan bisa jadi ia mengklaim orang yang  bertentangan dengannya sudah keluar dari ajaran Islam, atau disebut ahli bidah minimal.

Semakin rendah tingkat keilmuan seseorang, maka semakin kuat jugalah nepotismenya dan semakin sering juga ia menggunakan metode menakut-nakuti dengan dalih agama. Seolah-olah ia beranggap bahwa pandangannya dan pendapatnya adalah agama dan wahyu, dan yang lainnya hanyalah pengikut hawa nafsu.

***

Realita dan Fakta di Masyarakat


Bukan sekali dua kali, saya beberapa kali mendengar dan juga mendengar aduan dari beberapa teman, ada sejumlah Ustad, Khatib, Dai, Muballigh, yang menyampaikan kepada khalayak ramai dan jamaah bahwa Zakat Fitrah tidak boleh dengan Uang.

Ia menjelaskan bahwa Nabi Muhamamd Saw tidak ada riwayat yang tsabit darinya yang menjelaskan bahwa beliau mengeluarkannya dalam bentuk uang, tidak ada juga riwayat dari sahabat, kemduian ia paparkan sejumlah hadits.

Sampai disini tidak ada masalah. Sebab saya juga pernah menyampaikan seperti di tengah masyarakat. Bedanya, saya tidak menyatakan “tidak boleh” secara mutlak. Saya cuman bilang “asalnya zakat fitrah itu dengan makanan pokok” bukan dengan uang. Kalau dengan kata “tidak boleh”, saya tidak melakukannya.

Oke. Kita balik lagi. Sampai disini, tidak masalah. Khatib atau Ustadz atau Dai ini berpegang dengan pendapat Jumhur Ulama yang menyatakan Zakat fitrah dengan Makanan Pokok. Masalahnya muncul, ketika ucapannya itu disambung dengan merendahkan danmenghinakan pendapat Imam Abu Hanifah, dengan mengatakan:
“Jikalau ada wakyu, kemudian ada pendapat manusia, mana yang akan diikuti? Apakah akan mengikuti wahyu Allah SWT dan pendapat Rasulullah Saw atau pendapat Fulan atau Fulan, walaupun banyak ilmunya?”

Gila juga nih. Jikalau ia menguatkan pendapat Jumhur Ulama, silahkan saja. Tidak masalah. Hanya saja tidak usah pakai menakut-nakuti umat denga pandangan fikih. Jadinya apa? Orang-orang berpikir bahwa pendapat Abu Hanifah bertentangan dengan waktu, menyelisihi wahyu. Padahal, Abu Hanifah, siapa yang meragukan ilmunya? Beliau memang dikenal Ahli Ra’yi, tapi bukan logika kosong tanpa dalil. Antara si Dai atau Ustadz dengan Abu Hanifah, bagaimana bumi dan langit? Jauuhh…

Apakah orang ini tidak tahu bahwa mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang adalah pendapat Mu’âwiyah radhiyallahu anhu, yang diamalkan di zaman para sahabat banyak yang masih hidup dan bernafas.  Ia juga merupakan pendapat Amír al-Mukminín Umar bin Abdul Aziz, kemdian juga pendapat ulama besar di kalangan Salaf al-Hasan al-Bashri, juga merupakan pendapat al-Imâm al-Bukhâri, salah satu riwayat dari al-Imâm Ahmad, dan merupakan pendapat yang dipilih oleh Syeikh al-Islâm Ibn Taimiyah ketika memang dibutuhkan. Nah, apakah mereka semuanya menyelisihi wakyu!

Jono… Jono… ^_^

Tidak masalah jikalau sesoerang menguatkan suatu pendapat atas pendapat lainnya, kemudian  menjelaskan dalil-dalil yang menjadi sandaranya, dengan syarat jangan membuat orang lain takut dengan pendapat ulama lainnya yang berbeda dengan pendapatnya, tidak menuduh ulama lainnya menyelisihi wahyu dan agama, tidak menuduhnya berdasarkan logika semata dan hawa nafsu. Semua itu tentu akan berpengaruh negative ke masyarakat awam.

***

Metode Lainnya Untuk Menakut-nakuti Atas Nama Agama


Ada juga Metode menakut-nakuti Umat dengan mencomot hokum dari sebuah ayat atau sebuah hadits, tanpa melihat al-Ta’wíl (kontekstual) yang ada padanya; apakah maknanya al-Haqíqah atau al-Majâz? Apakah ada indikasi yang memalingkannya dari makna al-Zhâhir atau tidak? Apakah ia Muthlaq atau Muqayyad? Apakah hukummya al-‘Umùm atau al-Khusùs? Apakah hubungan dengan dalil-dalil iannya dari al-Qurân dan Sunnah? Bagaimana menggunakan perangkat al-Tarjíh jikalau al-Zhâhir mengalami kontradiksi? Kemudian juga perlu diperhatikan adab perbedaan pendapat (Adâb al-Khilâf), tidak merendahkan yang lainnya dan tidak meremehkan pendapat mereka. Tetapi, sebagaimana dikatakan oleh al-Imâm al-Syâfii, “Pendapat saya benar, namun ada kemungkinan salah. Dan pendapat selain saya salah, tetapi ada kemungkinan benarnya.”

Ketika melakukan al-Ijtihâd, hal pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan dalil-dalil dalam satu amsalah, kemudian berusaha menyatukannya. Jikalau tidak bisa, maka dilakukan al-Naskh. Jikalau tidak bisa, maka dilakukan al-Tarjíh dengan perangkat-perangkatnya.

Itulah sebabnya mengapa para ulama memberikan perhatian khusus ke masalah yang dinamakan dengan al-Wahdah al-Maudhù’iyyah dalam al-Qurân al-Karím. Sebab ketika semua ayat dikumpulkan dalam satu tema, ia akan memberikan deskripsi sempurna tentang tema terkait.

Ada juga Metode untuk menakut-nakuti dengan pandangan fikih, dengan cara melakukan al-Istihzâ’ dan al-Sukhriyah (Merendahkan dan Meremehkan). Caranya, dengan menuduh orang lain atau Ustadz lain atau Ulama lain atau Dai lainnya bukanlah orang yang berilmu atau bukan ulama, bukan ahli fikih, atau sekadar cendekiawan saja yang ilmunya parsial, atau ia tidak layak dijadikan sebagai standar Islam dan ahli fikih, atau ia sesat dan pelaku bidah, atau ia lebih buruk dari Yahudi dan Nasharni. Dan masih banyak sebutan menakutkan lainnya, yang tujuannya merendahkan dan menghinakan.

Metode selanjutnya, yang sering digunakan untuk menakut-nakuti umat dengan pandangan fikih adalah dengan mengatakan “jikalau kalian tidak mau mengamalkan pendapat ini, yang sesuai dengan al-Quran dan Sunnah (kata mereka), maka Allah SWT akan menyiksa kalian.”

Jelas saja, yang mereka lakukan itu memudharatkan Islam dan umat Islam. Mereka menyempitkan ruang Islam yang luas, menyulitkan umat dengan sesuatu yang sudah dimudahkan oleh Allah SWT. Dan yang paling berbahaya lagi, mereka melayani para musuh Islam di sisi lainnya. Kenapa? Sebab umat Islam menjadi rigid, kaku. Tidak berkembang. Kolot.

Metode selanjutnya untuk menakut-nakuti umat dengan pandangan fikih adalah menggosipkan dan mengghibah mereka dalam majelis-majelis yang mereka adakan. Mereka mengklaim bahwa gossip seperti ini bukanlah sesuatu yang diharamkan, sebab ia al-Tahdzír agar tidak masuk ke jurang bidah dan kemungkaran, walaupun mereka benar.

Parahnya, ada juga yang lansung menyebut subjeknya. Padahal Nabi Muhammad Saw saja, jikalau melihat sebuah kemungkaran yang dilakukan oleh salah seorang sahabatnya, maka beliau hanya akan mengatakan di depan khalayak ramai, “Mâ Bâlu Aqwâm Yaf’alùn Hakadza (apa yang terpikir oleh suatu kaum yang melakukan ini?” Jikalau ini dilakukannya dalam al-Mukhâlafah al-Sharíhah (penyelisihan yang jelas dan nyata), maka bagaimana seharusnya tindakan kita dalam hal-hal yang khilâfiyah, yang kedua pendapat tegak di atas dalil dan al-Ijtihâd?!

Efeknya tidak sampai disitu, masalah-masalah furu’ fikih ini masuk ke ruang lowongan kerja. Jikalau memang instansinya khusus miliki suatu kelompok, ya tidak ada masalah. Usaha miliki Muhammadiyah, untuk kader Muhammadiyah. Usaha milik NU, untuk kader NU. Tidak ada masalah. Tapi, kalau sampai Instansi milik pemerintah, namun dikhususkan untuk suatu kelompok, itu jelas masalah. Pemerintah milik rakyat. Dan rakyat itu terdiri dari semua kelompok. Ini semakin membuat perpecahan saja. 

***


Kita harus mempu membedakan antara al-Ikhtilâf al-Mahmùd (perbedaan yang terpuji) yang tegak di atas dalil dan al-Intishâr li al-Ra’yi (memenangkan pendapat) selama kita meyakininya, dengan menggunakan al-Takhwíf al-Fiqhí (menakut-nakuti dengan fikih) berdasarkan sangkaan demi memenangkan kebenaran.

Itu beda.[]
Read More..

Ciri-Ciri Fuqahā’ al-Ummah (Ahli Fikih/ Ulama Umat Islam)

Ulama atau Ahli Fikih memiliki kedudukan mulai di masa lalu, dan juga di masa sekarang ini. Hanya saja, pengertian al-Fuqahā’ atau al-Ulamā’ perlu diulang dan dikaji lagi.

Para ulama mengartikan al-Fuqahā’ adalah ulama yang paham hokum-hukum syariat. Ada syarat-syaratnya agar terwujud sifat paham ini, di antaranya:

1-Al-Istizhār (Mampu Memaparkan). Para Ulama mensyaratkan seorang Ahli Fikih adalah seorang yang mampu memaparkan atau menampilkan al-Quran al-Karím, Sunnah Nabi Muhammad Saw, Ijmā’ ulama, pendapat para sahabat, paham dengan Bahasa Arab, paham kaedah-kaedah fikih dan ushul Istidlāl.

2-Al-Fahm (Paham) dan al-Istidlāl (Mampu Berdalil). Maksudnya, alat logika ketika mengkaji hokum fikih haruslah benar dan istimewa, membuatnya mampu mengetahui Metode al-Istidlāl, terlatih menggunakan al-Qiyās al-Shahíh, memahami al-Quran dan sunnah dengan cara yang diinginkan oleh syariat, terlatih menggunakan metode al-Ijtihād seperti al-Istihsān, al-Istishāb, dan al-Istislāh, mampu mengkadar al-Mashālih, melakukan al-Tarjíh di antara Maslahah-Maslahah dan Mudharat-Mudharat yang saling kontradiksi, kemudan melakukan al-Muwāzanah dengan menggunkan al-Maqāshid dalam teks-teks syariat.

Maksud al-Fuqahā’ dalam bahasan ini, ia adalah seorang yang Mujtahid, bukan al-Muqallid, tidak terpenjara oleh konklusi fikih yang terkait dengan masa lalu. Ini bukan berarti meninggal warisan al-Fuqahā’ masa lalu yang luar biasa, tapi warisan tersebut bukanlah warisan suci. Kita mengambil darinya apa yang bermanfaat. Hal paling agung dari Ijtihad-Ijtihad Fikih masa lalu adalah Minhaj al-Ijtihād (Metode Ijtihad) di kalangan ulama masa lalu. Dan inilah yang kurang dimiliki oleh kalangan kontemporer.

Ciri-Ciri Fuqahā’ al-Ummah (Ahli Fikih/ Ulama Umat Islam)

Peran al-Fuqahā’ pada hari ini dan batasan al-Madlùl, tidaklah sekadar untuk ilmiah semata, tapi juga untuk moral dan etika yang nilainya tidak kalah penting dibandingkan dengan ilmiah. Salah satu tanggung jawab al-Fuqahā’ pada hari ini adalah mengetahui muara pendapat-pendapatnya, fatwa-fatwanya, dan kalamnya yang sudah disampaikannya kepada khalayak.

Al-Quran al-Karim menggambarkan tanggung jawab ini dengan firman-Nya:
قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya." (Surat al-Qashash: 26)

Kemudian ungkapan Nabi Yusuf alaihissalam:
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan." (Surat Yusuf: 55)

Orang-orang awam menduga bahwa semua orang yang berbicara masalah agama adalah Ulama, Ustadz, dan sejenisnya adalah orang yang berbicara masalah agama, bisa berkhutbah, dan bisa bertabligh. Apalagi di zaman sekarang ini, ketika begit banyak channel youtube, channel televise, dan media social.

Semua orang, sekarang ini, bisa berbicara masalah agama dan atas nama agama, yang sebenarnya masalah menjad aib bagi Islam itu sendiri. Harus dibedakan antara dai pemberi nasehat atau ustadz dengan ulama Ahli Fikih yang mampu berijtihad. Harus dibedakan antara orang yang spesialisasinya Tafsir dengan yang spesialisasinya ilmu hadits, antara yang spesialisasinya ilmu social politik Islam denganyang spesialisasinya ilmu akidah atau ilmu syariah. Semua tidaklah sama dalam kemampuan. Masing-masing ada lebihnya, ada kurangnya.

Dalam catatan kali ini, kita akan mengurai tulisan menarik yang berjudul ‘Alāmāt Faqíh al-Ummah, karangan Syeikh Mas’ùd Shabri. Sebuah catatan menarik dan patut dibaca dengan sebaik-baiknya.

***

Peran al-Fuqahā’ atau al-Ulamā’ di Tengah Masyarakat


Peran al-Fuqahā’ atau al-Ulamā’ di Tengah Masyarakat muslim bukan sekadar menjelaskan halal dan haram atas masalah-masalah baru, atau masalah-masalahyang terjadi di tengah masyarakat. Seorang Ahli Fikih yang Mujtahid adalah dokter umat ini, ahli pikir peradabannya, arsitek peradabannya, dan penasehat rakyatnya menuju jalan kebaikan dan ketakwaan, serta mengamalkan yang Allah SWT ridhai.

Masalahnya, proses pembentukan al-Fuqahā’ pada hari ini, tidak membentuk sosok yang seperti itu, tidak mampu menjalankan peran-peran yang jauh lebih sulit dari sebelumnya, karena kondisi-kondisi yang ada di sekitarnya, kondisi-kondisi peradaban dan global yang dijalani umat Islam pada hari ini, seperti kondisi yang lemah, rendah, tidak mampu mengambiil berbagai keputusan.

Semua itu artinya, kita membutuhkan reinstall proses pembentukan al-Fuqahā’ di tengah umat, agar bisa menyatukan antara ilmu dengan amal, hafalan dan pemahaman, al-Tarbiyah dan al-Harakah, al-Shalāh dengan al-Ishlāh, agama dan dunia, bergabung dan menyendiri.

***

Ciri-Ciri al-Fuqahā’ yang Benar


Di antara tanda-tanda al-Fuqahā’ adalah sebagai berikut:

1# Menjaga Diri (al-Wara’) dari Segala Hal yang Diharamkan oleh Allah SWT

Sifat pertama seorang al-Fuqahā’ adalah menjauhi semua yang diharamkan oleh Allah SWT, khususnya hal-hal yang berhubungan dengan dosa besar.

Al-Sya’bi mengatakan, “Kita bukanlah ulama dan bukan pula ahli fikih, namun kita hanyalah kaum yang mendengar sebuah hadits, kemudian kami menyampaikan apa yang kami dengar. Orang yang Ahli Fikih adalah menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT. Dan ulama itu adalah orang yang takut kepada Allah SWT.

Imām Ahmad bin Hanbal dalam al-Zudh, halaman 306, mengatakan, “Orang yang Ahli Fikih adalah orang yang takut terhadap Allah SWT.”

Ahli Fikih yang benar adalah orang yang paling takut kepada Allah SWT di antara sekalian anak manusia, paling konsisten menjalankan segala perintah-Nya, sebagaimana dijelaksan oleh Ibn al-Jauzi dalam kitabnya Ighāsat al-Lahfān min Mashāyid al-Syaithān (1/343):
“Orang yang Ahli Fikih adalah orang yang takut kepada Allah SWT dengan menjaga segala aturan-Nya, mengagungkan segala haram-Nya, dan konsisten menjalankannya, bukan orang yang melakukan kilah untuk membolehkan hal-hal yang diharamkan-Nya dan menggugurkan hal-hal yang diwajibkan-Nya.”

Sebagian sahabat menasehati sebagian lainnya untuk menjaga Fiqh al-Kahsyah (Rasa Takut kepada Allah SWT) sebelum Fiqh al-Qirthās (Fikih di atas Kertas), sebagaimana riwayat dari Abu al-Qamah al-Laitsi berkata, “Umar bin al-Khattāb menulis surat Abu Musa al-Musy’ari rahimahullah bahwa Ahli Fikih bukanlah dengan banyaknya pemaparan, luasnya penjelasan, banyaknya riwayat, namun fikih tersebut adalah rasa takut kepada Allah SWT.”

Dari Laits berkata, “Saya bertanya kepada al-Sya’bi, kemudian ia menghadap kepadaku dan menyerangnya dengan pertanyaan. Kemudian ia berkata, ‘Wahai sekalian ulama, kalian menahan hadits-hadits kalian dari kami, dan kalian menyerang kami dengan pertanyaan? Kemudian al-Sya’bi menjawab, ‘Wahai sekalian ulama, wahai sekalian Ahli Fikih. Kami bukanlah ulama, dan bukan pula Ahli Fikih. Tetapi, kami adalah kamu yang mendengar sebuah hadits, kemudian kami memberitahukan apa yang kami dengar. Ahli Fikih itu adalah orang yang menjaga diri (al-Wara’) dari segal hal yang diharamkan oleh Allah SWT. Dan orang yang Alim adalah orang yang takut kepada-Nya.”

2# Tidak menyebabkan Orang Lain Putus Asa dari rahmat Allah SWT

Orang yang Ahli Fikih bukan sekadar menyingkap hokum-hukum fikih, tetapi menggengam tangan anak manusia menuju Allah SWT, kemudian membuat mereka berharap rahmat-Nya, karunia-Nya, dan keampunan-Nya; mendekatkan mereka kepada Rabb mereka, dan membuat mereka mencintai-Nya. Itulah tujuan fikih paling agung, bahkan agama.

Imam Ibn Taimiyah mengatakan dalam Kitab al-Istiqāmah (2/ 190):
“Orang yang Ahli Fikih sebenarnya, tidak membuat orang lain berputus asa dari rahmat Allah SWT, tidak membuat mereka berani bermaksiat kepada-Nya. Menganggap halal segala hal yang diharamkan-Nya adalah kekufuran, dan putus asa dari rahmat-Nya adalah kekufuran.”

Makna serupalah yang dinukil oleh al-Ajiry dalam Akhlāq al-Ulamā’, halaman 72), dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata, “Apakah kalian ingin saya beritahukan dengan Ahli Fikih sebenarnya? Orang yang tidak membuat orang lain beroutus asa dari rahmat Allah SWT, tidak meringankanmereka untuk bermaksiat kepada-Nya, tidak membuat mereka merasa aman dari hukuman-Nya, tidak membiarkan al-Quran untuk selainnya. Tidak ada kebaikan dalam ibadah yang tidak ada kefakihannya. Tidak ada kebaikan dalam kefakihan, yang tidak ada kepahamannya. Dan tidak ada kebaikan dalam bacaan yang tidak ada tadabburnya.”

3# Mampu Menimbang-nimbang di antara yang Terburuk dari Dua hal yang Buruk

Ahli Fikih sebenarnya tidak tegak bersama teks setengah-tengah, atau tegas di atas pehaman yang rusak terhadap cabang-cabang masalah agama tanpa melihat masalah-masalah kuliyyahnya. Tetaoi, ia melakukan al-Muwāzanah (timbang-menimbang) untuk memilih mana yang terburuk di antara dua hal yang buruk, tidak melarang kemungkaran yang akan melahirkan kemungkaran yang lebih besar.

Sebagaimana dijelaskan oleh Syeikh al-Islām Ibn Taimiyah dalam al-Majmù al-Fatāwa (30/ 223):
“Bukanlah Ahli Fikih, seseorang yang sengaja melakukan larangan Nabi Muhammad Saw untuk menolak sebuah kerusakan, kemudian ia  berpalong ke kerusakan yang lebih dahsyat. Ini sama saja dengan orang yang menyewa pasir panas dengan api.”

4#Beretika

Keahlian Fikih yang membuat pikiran seorang Ahli Fikih berkutat di seputar Istikhrāj hokum syariah, mengetahui batas-batas yang jelas seputar hokum perbuatan manusia; wajib, sunnah, haram, makruh, dan boleh, bisa jadi membuatnya akhlaknya dan etikanya menjadi kering. Makanya, wajib bagi seorang Ahli Fikih memperhatika akhlaknya dan etikanya, agar menjadi teladan orang lain dalam akhlak dan interaksi, sebagaimana ia juga menjadi teladan dalam ilmu dan pengetahuan.

Di antara akhlak yang paling penting dalam hal ini adalah al-Tawādhu’ (Rendah Hati) kepada orang lain dan para pengkaji ilmu, sebab ilmu yang merupakan pintu menuju kebaikan dan ridha Allah SWT, juga bisa menjadi pintu yang membuat seseorang bersikap somboong dan angkuh kepada yang lainnya, karena merasa memiliki apa yang tidak dimiliki selainnya.

Generasi Salaf memahami makna ini. Abu Hazim menjelaskan, “Seorang ulama tidaklah disebut ulama sampai ada pada dirinya tiga hal; tidak merendahkan ulama yang keilmuannya berada di bawahnya, tidak mendengki orang yang keilmuannya di atasnya, dan tidak mengambil dunia atas ilmunya.”

Mathar al-Warāq mengatakan, “Saya bertanya kepada al-Hasan tentang suatu masalah yang difatwakannya, kemudian sata berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Said, para Ahli Fkih enggan akan dirimu.’ Ia menjawab, “Apa maksudnya wahai Mathar? Apakah engkau tidak melihat seorang Ahli Fikih pun dengan matamu? Apakah engkau tahu apakah Ahli Fikih? Orang yang Ahli Fikih adalah orang yang wara’, zuhud, menjalankan sunnah Rasulullah Saw, tidak merendahkan orang yang lebih rendah darinya, tidak mencela orang yang di atasnya, dan tidak mengambil gandum atas ilmu yang Allah SWT ajarkan atas dirinya.”

5# Bagus Ibadahnya

Suatu hal yang lumrah di kalangan Ahli Fikih jikalau mereka sibuk dengan ilmu dibandingkan ibadah. Ini sesuatu yang salah. Sebab, bagaimana ia akan mendapakan kemenangan jikalau tidak bisa menjalankan shalat beberapa rakaat di malam hari? Berapa banyak masalah rumit yang tidak mampu diurai dengan perangkat-perang Ijtihad sama, bamu dengan futuhāt Allah SWT atas diri Ahli Fikih.

Makna inilah yang diriwayatkan dari al-Hasan, yang suatu hati didatangi seseorang bertanya meminta fatwa, “Wahai Abu Said, pada Ahli Fikih lainnya memfatwakan sesuatu yang berbeda dengan pendapatmu.” Kemudian al-Hasan marah dan berkata, “Apa maksudnya? Apakah engkau melihatnya sebagai Ahli Fikih?” Laki-laki itu terdiam dan berkata, “Wahai Abu Said, siapakah Ahli Fikih itu?” Ia menjawab, “Orang yang zuhud atas dunianya, mengejar akhiratnya, mengetahui agamanya, rajin beribadah. Itulah Ahli Fikih.”

6#Menyebarkan Ilmunya

Bukanlah Ahli Fikih, seseorang yang hidup di antara buku-buku dan goresa tinta semata, agar bisa menulis dan mengkaji, tanpa berperan menyebarkan ilmunya. Karena itulah kita mendapati Nabi Saw melarang seseorang untuk menyembunyikan ilmnya, sebagaimana terdapat dalam hadits shahih Ibn Mājah, “Siapa yang menyembunyikan ilmu bermanfaat, maka ia akan datang pada hari kiamat dengan ditombak tombak neraka.”

Kemudian al-Hasan al-Bashri mengatakan, “Saya tidak melihat seoran Ahli Fikih yang berdebat dan bertikai. Ia hanya menyebarkan ilmnya. Jikalai diterima, segala puji bagi allah SWT. Jikalau tidak, segala puji bagi-Nya.”

7#Mengamalkan apa yang Diketahuinya

Para ulama berpandanganbahwa salah satu sifat Ulama adalah lazim menjalankan fatwanya dan menyampaikannya kepada khalayak. Mengamalkan ilmu merupakan salah satu sifat wali Allah SWT yang bertakwa kepada-Nya dan para hamba-Nya yang shaleh. Allah SWT akan memakaikannya pakaian amal atas ilmunya dengan rasa takutnya kepada-Nya, sehingga ilmu itu menjadi cahaya di hati mereka dan akal mereka.

Abdullah bin al-Mubārak ditanya, “Apakah para ulama memiliki ciri yang dikenali?” Ia menjawab, “Ciri Ulama: Orang yang mengamalkan ilmu, menganggap sedikit ilmunya yang banyak, beramal, ilmu belajar ilmu yang dimiliki orang lain, menerima kebenaran dari siapapun, mengambil ilmu dimana pun didapatkannya. Inilah tanda ulama dan sifatnya.”

Ibrāhim bin al-Junaid berkata, “Ada seorang intelektual dicela karena meninggalkan majelis. Ia ditanya, ‘Kenapa engkau tidak menulis hadits?’ Ia menjawab, ‘Saya sudah mendengar dua hadis. Saya akan dihisab nanti atas keduanya.”

Bagus sekali catatan al-Imām Ahmad tentang sifat seorang Ahli Fikih yang Mujtahid, “Tidak layak seseorang melakukan fatwa sampai terkumpul di dalam drinya lima hal:
Pertama, Ada niatnya. Jikalau tidak ada niatnya, maka tidak ada cahanya, dan tidak ada cahaya dalam kalamnya.
Kedua, Beretika, berwibawa, dan tenang.
Ketiga, Kuat ilmunya dan kuat pengetahuannya.
Keempat, Kapabel. Jikalau tidak, maka ia akan dikunyah orang lain.
Kelima, Mengenal orang lain.

8# Takut Jikalau Ilmunya Tidak Diterima

Di antara cirri Ahli Fikih, tidak menganggap dirinya ulama. Ia takut jikalau tidak diterima ilmunyan, kemudian ilmunya menjadi penyesalan atas dirinya, walaupun orang-orang menganggapnya sebagai salah seorang petinggi ulama, sebagaimana firman Allah SWT:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka." (Surat al-Mu'minun: 60)

9# Tidak Tamak Berhubungan dengan Para Pejabat dan Para Penguasa

Banyak bertemu para pejabat dan para penguasa adalah sesuatu yang menghancurkan. Ini merupakan fakta dan sejarah. Ini bukan berarti menjauhi tolak para penguasa. Sebab, mereka juga membutuhkan para ulama. Maksudnya, tidak bermesra-mesraan dengan penguasa, tetapi cukup menjawab saja jikalau mereka bertanya suatu masalah ilmu. Ketika ada bersama mereka, tujuan ulama tersebut adalah mengingatkan mereka terhadap Allah SWT, agar  bersikap adil di antara rakyatnya, serta beramal untuk kemenangan Islam dan kaum muslimin.

Ibn al-Jauzy mengatakan dalam Kitabnya Talbís Iblís, halaman 109:
“Di antara Talbís Iblís kepada para Ahli Fikih adalah bergabungnya mereka dengan para pejabat dan para penguasa, toleran kepada mereka, tidak melakukan inkār al-Munkar padahal mampu melakukannya, bahkan mungkin memberikan keringanan hokum kepada mreka agar bisa mendapatkan tujuan duniawi, sehingga menyebabkan tiga kerusakan. Pertama, al-Amír (Penguasa). Ia akan mengatakan, ‘Jikalau saya tidak berada di atas kebenaran, maka Ahli Fikih itu akan mengingkariku. Bagaimana saya tidak berada di atas kebenaran, sedangkan ia makan hartaku?!’ Kedua, Orang Awam yang akan mengatakan ‘Tidak masalah penguasa tersebut. Tidak masalah hartanya dan perbuatannya. Sebab, Fulan yang Ahli Fikih ada bersamanya.’ Ketiga, merusak agamanya sendiri.”

10# Mewakafkan Dirinya dan Ilmunya untuk Umat Islam

Pada hari ini, banyak kita saksikan para ulama yang menjauhkan diri mereka dari peran sebenarnya. Pikiran mereka hanyalah mendapatkan jabatan untuk bisa mengisi kantongnya dan kantong keluarganya, atau mendapatkan harta sebanyak-banyaknya, atau ingin mendapatkan ketenaran, atau memiliki banyak murid dan followers, atau dikenal sebagai ulama, agar bisa menghadiri berbagai acara dan seminal, dan lain-lain.

***


Pada Hari ini, kita membutuhkan Fuqahā’ al-Ummah atau Ulamā’ al-Ummah, yang paham penyakit-penyakit ulamat ini dan paham juga obatnya, paham dengan krisis yang pernah dilalui umat, mampu menyingkap mutiara umat ini, menunjukkan wajah peradaban Islam, yang lebih banyak memikirkan agamanya dan umatnya dari dirinya sendiri, menasehat para ulama lainnya dan para penuntut ilmu, mendorong mereka untuk mengamalkan agama Allah SWT, menyebarkan ilmu bermanfaat dan amal shaleh, ikhlas untuk ilmu dan agama dengan ilmu Allah SWT yang dititipkan di dalam dadanya.

Selain itu tentunya, ia juga menjelaskan kepada umat Islam mengenai hokum Allah SWT terkait masalah-masalah baru dan kontemporer yang terjadi di tengah umat, tidak terikat kepentingan ke penguasa, tidak juga ke kalangan awam. Ia hanyalah penyampaikan risalah Allah SWT dan Rasul-Nya.

Ulama itu layaknya pohon, tidak memberikan kepada yang lainnya kecuali buah terbaiknya. []
Read More..

Ushul Fikih, dari Metode al-Ijtihâd al-Syar’i Menuju Metode al-Tafkír al-Insāni

Ilmu Ushùl al-Fiqh dilahirkan di abad kedua hijriyah. Mayoritas ulama berpandangan bahhwa Imam al-Syāfii adalah orang yang pertama kali mengkodifikasinya. Sebagian lainnya berpandangan, seperti Ibn al-Nadím dalam Kitabnya al-Fahrasat bahwa orang yang pertama kali mengkodifikasinya adalah al-Qādhi Abù Yùsuf muridnya Abù Hanífah. Tapi satu hal yang pasti, bahwa kitab al-Risālah karya Imam al-Syāfii adalah kitab pertama yang sampai kepada kita tentang Ushùl al-Fiqh.

Dalam studi Ushùl al-Fiqh dikenal bahwa Ushùl al-Fiqh sudah ada bersamaan dengan al-Tasyri’ dan al-Tanzíl, sebagai sebuah Keahlian dan Metode. Sebagaimana juga dikenal Ilmu al-Fiqh lebih dahulu kelahirannya sebagai ilmu dibandingkan dengan Ushùl al-Fiqh.

Sebagian kaum muslimin mengenal ilmu Ushùl al-Fiqh sebagai ganti dari logika Aristoteles, yang merupakan ilmu pengantar menuju al-Ijtihād al-Fiqhí, untuk mengetahui hokum-hukum Allah SWT mengenai halal dan haram, sebagaimana ia merupakan sebuah ilmu yang bisa digunakan untuk melakukan al-Tarjíh atas berbagai pendapat yang berbeda-beda.

Ushul Fikih, dari Metode al-Ijtihâd al-Syar’i Menuju Metode al-Tafkír al-Insāni

Sebagian besar kitab para pakar Ushùl al-Fiqh membatasi konklusi Ushùl al-Fiqh hanya sebagai jalan atau metode untuk mengetahui hokum syariah. Namun sebenarnya tidak begitu juga.

Ada tulisan menarik yang berjudul Ushùl al-Fiqh min al-Ijtihād al-Syar’í ila al-Tafkír al-Insāní, karya Syeikh Mas’ùd Shabrí. Dalam tulisannya dijelaskan bahwa ilmu Ushùl al-Fiqh tidak sesempit itu. Walaupun ilmu ini tumbuh di lingkungan syariah dan hanya digunakan untuk al-Ijtihād al-Fiqhí, hanya saja ilmu ini dengan dalil, ushul, kaedah dan metode Istinbāth yang dimilikinya, ia semestinya tidak hanya berada di ruang syariah, tapi juga harus masuk ke ruang al-Insāniyah (kemanusiaan), sehingga ilmu ini beralhir menjadi keahlian yang bisa dipelajari, yang bisa digunakan untuk Berpikir dengan Benar di seluruh bidang kehidupan.

Melatih diri dengan keahlian-keahlian yang ada di dalam Ushùl al-Fiqh, akan membuat seseorang mampu berpikir dengan cara yang benar dalam seluruh sisi kehidupannya. Ushùl al-Fiqh adalah Filsafat Islam, ia adalah jalan untuk membentuk seorang pemikir. Sehingga, seorang muslim tidak bisa disebut sebagai pemikir kecuali jikalau ia mengenal Ushùl al-Fiqh, bukan sekadar dengan studi biasa, menunjukkan mukaddimah, dalil, dan metode Istinbāth, mengetahui syarat-syarat al-Mujtahid dan al-Ijtihād, taklid, fatwa, dan selainnya, tapi dengan bermesra dengan Ushùl al-Fiqh dengan semua bahasannya, mengubahnya dari teori menjadi pemikiran, dari pemikiran menjadi keahlian.

Dalam catatan berikut, kita akan menjelaskan sejumlah keahlian (al-Mahārat) dalam Ushùl al-Fiqh yang bisa digunakan sebagai Metode Berpikir seorang anak manusia dalam kehudipannya sehari-hari, apapun bidang yang ditekuninya.

***

Memahami Tema Artikel


Sebelum melangkah lebih jauh,mari pahami dulu dua makna di atas. Maksud al-Ijtihâd al-Syar’i adalah, upaya berpikir yang dilakukan oleh seorang al-Mujtahid untuk menghasilkan hokum. Namun, untuk disebut Mujtahid, bukan perkara gampang. Banyak syarat yang harus dipenuhi. Dan juga, untuk disebut sebuah Ijtihad dengan label Syar’i, harus terpenuhi syarat-syarat yang lumayan berat untuk dipenuhi.

 Al-Tafkír al-Insāni atau Metode Berpikir yang kita maksud disini adaah metode berpikir manusia biasa pada umumnya, bukan dalam rangka al-Ijtihâd untuk menghasilkan hokum dalam Syariat.

Jadi, maksud judul artikel di atas adalah, bagaimana menjadikan al-Ijtihâd al-Syar’I yang merupakan salah satu metode untuk menghasilkan hokum syariat, sebagai Metode Berpikir alami seorang anak manusia. Ia tidak lagi terkunkung untuk suatu hal, namun bersifat umum.

Semuanya tentu tidak bisa. Hanya ada beberapa unsur dalam Ushùl al-Fiqh yang bisa dijadikan sebagai pengkat pikir.

***

Teori Pembuktian (Nazhariyyah al-Burhān)


Salah satu keistimewaan Ushùl al-Fiqh adalah Teori Pembuktian, yang bahasa kerennya Nazhariyyah al-Burhān . Maknanya, ucapan atau pendapat seseorang itu tidak bisa bebas begitu saja, tetapi harus ada dalil-dalilnya, bukt-buktinya, dan hujjah-hujjahnya yang menunjukkan kebenaran pendapatnya, yaitu dalil al-Quran.

Masalah ini banyak diungkapkan dalam al-Quran, sebagaimana firman Allah SWT:
وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ ۗ تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani". Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar." (Surat al-Baqarah: 111)

Dalam ayat lainnya dijelaskan:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)." (Surat al-An'am: 116)

Dalam ayat lainnya:
وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا ۚ إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ
Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan." (Surat Yunus: 36)

***

Jenis-Jenis al-Idrāk (Pengetahuan)


Di antara keahlian yang berhubungan dengan Ushùl al-Fiqh yang bisa digunakan dalam Metode Berpikir Manusia pada umumnya adalah jenis-jenis al-Idrāk. Maksudnya, menganalogikan Metode Pengetahuan kita dengan Fakta-Fakta dan Pengetahuan-Pengetahuan yang ada. Pengetahuan yang menghampiri kita, statusnya tidaklah sama. Ada yang sifatnya al-Ilm (Ilmu) dan al-Yaqín (keyakinan), kemudian ada juga yang sifatnya al-Zhann (Dugaan). Dan al-Zhaan sendiri juga bertingkat-tingkat. Ada al-Zhann al-Qawí (Dugaan Kuat, ada al-Zhann al-Mutawassith (Dugaan Pertengahan), dan ada al-Zhann al-Dha’íf (Dugaan Lemah).

Penerimaan kita terhadap segala macam pendapat dan pengetahuan itu tidak selalu bersifat al-Qath’I (Pasti). Kita harus menghargai perbedaan pendapat dengan yang lainnya. Bisa jadi kita tidak sependapat dengan mereka, namun kita berusaha saling memahami dan saling mengenal, agar bisa mengetahui kenama mereka berbeda dnegan kita dan agar bisa tahu juga kenapa kita bisa berbeda dengan mereka.

Di antara bentuk al-Idrāk adaah al-Syakk (Ragu-Ragu), yaitu berdiam diri untuk melakukan al-Tarjíh (Menguatkan) di antara dua masalah, untuk lebih mengkaji lagi.

Ini merupakan salah satu keahlian social yang sudah hilang dalma dialog-dialog yang sering kita lakukan dan kita saksikan. Jarang kita mendengar seseorang mengatakan, “Masalah ini membutuhkan penelitian lebih lanjut.” Biasanya, mereka tergesa-gesa menyampaikan pendapat dan berusaha memenangkan pendapatnya tanpa mengkaji dahulu atau berpikir atau meneliti.

Ada juga jenis al-Wahm (Mitos), yaitu Metode penyampaian ilmu dan pengetahuan yang membuatnya berstatus lemah atau al-Dha’íf, tidak bisa naik kecuali sampai derajat al-Zhann (Ragu-Ragu). Pengetahuan yang berasal dari Metode al-Wahm, sama sekali tidak dianggap wujudnya.

***

Tafsír al-Nushùs (Menafsirkan Teks)


Di antara keahlian berpikir yang bisa didapatkan dari Ushùl al-Fiqh adalah Nazhariyyah Tafsír al-Nushùs (Metode Menafsirkan Teks). Para Pakar Perundang-undangan memanfaatkan teori Ushul ini untuk menafsirkan teks Undang-Undang. Inti teori ini, membuat kaedah untuk memahami kalam Allah SWT dan kalam Rasulullah Saw, atau yang dikenal oleh para Pakar al-Maqāshid dengan sebutan Maqāshid al-Khithāb. Teori ini mampu melahirkan berbagai macam ilmu, seperti Ilmu al-Tafsír, Ilmu al-Quran, dan Ilmu Syarh al-Hadíts.

Kaedah-kaedah itu bisa digunakan untuk memahami kalam manusia, baik yang tertulis maupun yang didengar, sehingga al-Maqāshid yang ingin disampaikan oleh al-Mutakallim (orang yang bicara) bisa dibedakan antara al-‘Aām (Umum) dan al-Khās (Khusus), antara al-Muthlaq dengan al-Muqayyad, antara al-Sharíh dengan al-Muawwal, antara yang al-Mu’tabar dan al-Mulghā, kalam yang bisa ditakwilkan dengan kalam yang tidak bisa ditakwilkan, serta berbaagai kaedah lainnya.

***

Mahārat al-Tarjíh (Keahlian Menimbang-nimbang Mana yang Paling Kuat)


Di antara keahlian Ushùl al-Fiqh yang juga bisa digunakan dalam berpikir adalah Mahārat al-Tarjíh, yang biasanya digunakan oleh seorang pakar Ushul untuk memilih pendapat terkuat di antara dua pendapat atay lebih dalam masalah-masalah yang menjadi ruang perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Keahlian ini penting untuk menjelaskan maksud al-Mutakallim (orang yang berbicara) ketika kalammnya mengandung banyak pandangan atau sudut pandang. Dengan cara ini, kita bisa mengetahui maksudnya dengan melakukan al-Tarjíh di antara dua interpretasi.

Bukan al-Tarjíh asal al-Tarjíh saja, namun berdasarkan al-Qarínah (indikasi), dalil, tanda, alamat, dan uslub yang digunakan dalam kalam, kemudian waktunya, serta berbagai unsure lainnya yang membuat kita menetapkan al-Tarjíh atas suatu pendapat di bandingkan pendapat lainnya.

***

Mahārat al-Takhríj


Para Pakar Ushùl al-Fiqh mengartikannya, menjelaskan hokum Allah SWT tentang masalah-masalah baru berdasarkan Ushul dan Masalah-Masalah Terdahulu (al-Masāil al-Qadímah).

Mahārat al-Takhríj berperan melahirkan makna-makna, melahirkan pandangan-pandangan dan keputusan-keputusan, menyelesaikan masalah-masalah, dan melahirkan pandangan-pandangan baru, berdasarkan tumpukan pengalaman masa lalu. Ia sama dengan Metode atau system berpikir yang membuat seseorang mampu menetapkan hokum atas sesuai berdasarkan Ushuh dan Kaedah Berpikir.

***

Mahārat al-Istisqrā’


Para Pakar Ushùl al-Fiqh dan Ahli Mantiq mengartikan al-Istisqrā’, dengan meneliti al-Juziyyāt al-Far’iyyāt (masalah cabang) untuk masalah al-Kulliyyah, untuk menetapkan hokum al-Kuliyyah tersebut dan menguatkannya, seperti mengkaji ayat-ayat dan hadits-hadits yang menunjukkan al-Taysír (kemudahan) dan Raf’i al-Harj (menghilangkan kesulitan). Dengan begitu, kita menetapkan bahwa agama itu tegak di atas al-Taysír (kemudahan) dan Raf’i al-Harj (menghilangkan kesulitan), dan ini menjadi al-Hukm al-Kulli.

Pengkajian ini tidak berhenti sampai di batas Ijtihād semata, tetapi bisa juga digunakan untuk masalah-masalah politik atau social atau ekonomi, atau budaya, atau sastra atau seni atau masalah-masalah kehidupan lainnya. Tujuannya, untuk mengetahui dan memastikan adanya al-Hukm al-Kulli (Hukum Global) yang bisa digunakan untuk masalah-masalah besar.

***

Mahārat al-Ta’líl


Para Pakar Ushùl al-Fiqh mengartikan al-‘Illah adalah sifat yang al-Zhāhir (nyata) tidak tersembunyi, jelas yang tidak ada perbedannya, lazim menyusun hokum dengannya demi kemaslahatan al-Mukallaf, baik hal tersebut mendatangkan al-Maslahah atau menolak al-Madharrah.

Al-‘Illah dikenal dengan berbagai nama, di antara yang paling terkenal adalah al-Sabab, al-Bā’its, al-Manāth, al-Dalíl, al-Muqatadhā, dan lain-lain.

Manfaat Teori al-Ta’líl adalah untuk mengatur cara berpikir seorang anak manusia, sehingga hukumnya tegak di atau al-Dzauq (taste) atau keinginan. Bahkan, setiap pikiran atau pandangan haruslah tegak di atas al-Ahsl (pondasi), yang memiliki sebab yang al-Zhāhir, untuk menjaga berpikir seoranga anak manusia dari kesalahan.

***


Itulah sejumlah kaedah Ushùl al-Fiqh yang kita paparkan di atas, yang menunjukkan kepada kita bahwa ilmu Ushùl al-Fiqh adalah ilmu Metode berpikir, bukan sekadar untuk al-Ijtihād al-Fiqhí.

Hal ini mendorong kita untuk memaparkan ilmu dengan sudut pandang baru. Tidak sekadar menggunakannya dalam studi agama, namun juga dalam studi logika. Semua tentunya ada tingkatannya. Ada yang sifatnya umum bagi setiap anak manusia. Ada yang sifatnya khusus hanya bagi para ulama yang sudah mencapai tingkatan Ijtihad.

Namun satu hal yang perlu kita tegaskan kepada masing-masing kita, mempelajari Ushùl al-Fiqh itu penting. []
Read More..