Denis Arifandi Pakih Sati, Lc. M.H
***

Catatan kita kali ini akan menjawab masalah seputar doa menyembelih kurban (qurban) yang sesuai sunnah Rasulullah Saw, doa yang dibaca ketika menyembelih kurban sendiri atau kurban milik orang lain, untuk satu orang pemilik kurban maupun 7 orang.

***


Banyak orang yang tidak mau menyembelih kurbannya sendiri. Alasannya bermacam-macam. Ada yang bilang “takut lihat darah. Ada yang bilang “tidak tega.” Bagi saya, itu semua alasan tidak jelas saja. Kalau laki, ya tidak usah takut. Masalah utamanya bukan itu, tapi doanya tidak tahu. Hehe… (tau aja nih) ^_^

Pada dasarnya, kita disunnahkan ketika menyembelih kurban untuk membaca doa berikut ini:
بسم الله ، والله أكبر ، اللهم هذا منك ولك ، هذا عني (هذا عن فلان ) اللهم تقبل من فلان وآل فلان (ويسمي نفسه
Bismillāh. Wallāhu Akbar. Allāhumma Hadzā Minak wa Laka. Hadzā ‘Annī/ Hadzā ‘an Fulān. Allāhumma Taqabbal min Fulān wa Âli Fulān
“Dengan nama Allah. Allah Maha Besar. Ya Allah, ini dari-Mu dan untuk-Mu. Ini dariku (Jikalau ia sendiri yang menyembelihnya. Jikalau bukan ia yang lansung menyembelihnya, diwakilkan panitia kurban, diganti dengan: Ini dariku - Hadzā ‘an Fulān) Ya Allah, terimalah dari Fulan (sebutkan nama Shāhibul Qurbān) dan Keluarga (sebutkan nama Shāhibul Qurbān)

Hukum dan Doa yang Dibaca Ketika Menyembelih Hewan Kurban

Doa yang sunnah dibaca, itu seperti diatas. Wajibnya, ini batas minimal yang dibaca oleh orang yang akan menyembelih, baik yang menyembelih itu adalah pemilik kurban itu sendiri maupun panitia kurban adalah:
Bismillah. Dengan nama Allah SWT.
Kalau sudah membaca Bismillah, hokum kurbannya sudah sah. Halal. Dan sudah sesuai dengan Syariat Islam.

Hadits-Hadits yang Menjelaskan Tentang Doa Ini

***

Ada beberapa hadits yang menjelaskan doa yang dibaca ketika akan menyembelih kurban ini, di antaranya diriwayatkan oleh Anas bin Mālik radhiyallahu anhu:
ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا
Nabi Saw berkurban dengan dua domba yang berwarna putih yang ada hitamnya dan bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangannya, menyebut nama Allah dan bertakbir, dan meletakkan kakinya di atas samping kambing.” (HR al-Bukhāri 5565, Muslim 1966)

Diriwayatkan dari ‘Âisyah radhiyallahu anha baha Rasulullah Saw memerintahkan untuk diambil domba yang bertanduk, kemudian dibawakanlah kepadanya untuk dikurbankan, kemudian beliau bersabda:
يَا عَائِشَةُ هَلُمِّي الْمُدْيَةَ
 “Wahai Aisyah, bawa pisau kesini.”

Kemidian beliau berkata lagi:
اشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ
“Asahlah ia dengan batu.”

Kemudian Aisyah mengasahnya. Setelah itu, beliau mengambil pisau dan mengambil dombanya, kemudian membaringkannya dan menyembelihnya seraya membaca:
بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ
“Dengan nama Allah. Ya Allah, Terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad, serta dari Umat Muhammad.”
Beliau berkurban dengan itu. (Hr Muslim 1967)

Diriwayatkan oleh Jābir bin Abdullāh radhiyallahu anhu bahwa ia menyaksikan Nabi Muhammad Saw di Hari Raya Idul Adha mengerjakan shalat di lapangan. Ketika beliau selesai berkhutbah, maka beliau turun dari mimbarnya, kemidian dibawalah kepadanya seekor domba dan menyembelihnya dengan tangannya sendiri, seraya membaca:
بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي
“Dengan nama Allah. Allah Maha Besar. Ini dariku dan dari orang yang belum berkurban dari umatku.” (Hr al-Turmudzi, dishahihkan oleh al-Albāni)

Dalam beberapa riwayat, ada tambahan:
اللهم إن هذا منك ولك
“Ya Allah, ini dari-Mu dan untuk-Mu.”
(Lihatlah Irwā al-Ghalīl 1138, 1152)

Nah, itu sejumlah hadits atau sunnah yang menjelaskan doa yang kita baca ketika akan menyembelih kurban. Gampangkan?

Masalah-Masalah yang Sering Dipertanyakan

***


Ada beberapa pertanyaan yang sering dipertanyakan terkait masalah ini.

Pertama, Apakah doa menyembelih kurban (qurban) yang sesuai sunnah Rasulullah Saw?
Inilah doa menyembelih kuban yang sesuai dengan sunnah Rasulullah Saw, sesuai dengan Manhaj Salaf, Ahli Sunnah wal Jamaah. Jikalau kita bisa membaca bentuk sempurna sebagaimana di atas, itu lebih baik. Jikalau tidak, cukup dengan Bismillah. Dengan Nama Allah SWT.

Kedua, Bagaimana Doa yang dibaca ketika menyembelih kurban sendiri atau kurban milik orang lain?
Masalah ini juga sudah kita jelaskan di atas. Jikalau kita lansung sendiri yang menyembalihnya, maka dibaca ‘Annī (dariku). Jikalau kita panitia yang menyembelih sebagai wakil dari pemilik kurban, maka kita baca:
“Hadzā ‘Annī/ Hadzā ‘an Fulān. Allāhumma Taqabbal min Fulān wa Âli Fulān”
Kata-kata Fulan diganti saja dengan nama pemilik kurban. Kalau namanya Jono,maka sebut namanya sebagai ganti Fulan.

Ketiga, Bagaimana Doanya jikalau pemilik kurbannya ada 7 orang?
Gampang, bagian doa yang ini:
“Hadzā ‘Annī/ Hadzā ‘an Fulān. Allāhumma Taqabbal min Fulān wa Âli Fulān“
Kata-kata Fulan, Anda ganti dengan nama-nama para pemilik kurban yang berjumlah 7 orang. Sebutkan satu-satu.

***


Oke. Begitu catatan kita kali ini. Semoga bermanfaat bagi semuanya. Jikalau ada pertanyaan lebih lanjutkan, silahkan sampaikan di komentar atau silahkan kirim pesan WhatsApp. Agar konek, silahkan ikut Facebook saya. Di menu atas adalah di “Follow Me”. []

Hukum dan Doa yang Dibaca Ketika Menyembelih Hewan Kurban

admin
,
Denis Arifandi Pakih Sati, Lc. M.H
***

Melamar adalah langkah pertama menuju pernikahan. Ketika laki-laki sudah merasa cocok dengan seorang perempuan dan mengetahui semua seluk-beluk tentang dirinya, maka hendaklah dia melamarnya kepada walinya. Taktala Rasululllah Saw ingin menikahi Khadijah Radhiyallahu 'Anha, maka beliau melamarnya terlebih dahulu kepada walinya. Begitu juga halnya ketika beliau akan menikahi para Ummul Mukminin lainnya.

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya, Jumhur Ulama mengatakan bahwa hukumnya tidaklah wajib. Namun para Ulama Mazhab Zhahiriyah mengatakan, bahwa hukumnya wajib, sehingga harus dilakukan oleh siapapun yang ingin menjalankan pernikahan.

Dalam menentukan pasangan, tentu tidak boleh asal pilih saja. Ada rambu-rambu dan aturan-aturan yang harus dipatuhi. Pernikahan itu adalah ikatan suci yang hendaknya tidak menimbulkan penyesalan di kemudian hari. Oleh karena itu, perhatikanlah kriteria-kriteria yang telah ditentukan oleh Rasulullah Saw.

Hukum Khitbah (Melamar) & Kriteria Calon Ideal Untuk Suami dan Istri Menurut Islam

Bagi seorang laki-laki, istri itu adalah orang yang akan mendidik anak-anaknya, menjaganya dan menyusuinya. Jangan sampai seorang anak disusui oleh seorang perempuan yang tidak mengenal agamanya sendiri dan tidak pernah menjalankan ajarannya sama sekali, karena semua itu akan menentukan masa depan yang dijalaninya.

Begitu juga halnya bagi seorang perempuan, suaminya akan mengajarkannya dan menuntunnya di jalan kebenaran. Jikalau suami itu sama sekali tidak mengenal agama dan lalai menjalankan ajarannya, maka apa jadinya rumah tangga yang akan mereka bina. Tentu, akan larut dalam suasana yang tidak agamis sama sekali. 

Kriteria Calon Istri Menurut Islam

***


Dalam memilih istri, kriteria-kriteria yang harus diperhatikan:

1)Agama
Agama adalah fithrah manusia, dan ia merupakan syarat fundamental yang harus dijadikan sebagai acuan utama dalam memilih pasangan.
Rasulullah Saw bersabda:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
Artinya:
"Perempuan itu dinikahi karena empat hal; Harta, kedudukannya, kecantikannya dan agamanya. Carilah perempuan yang beragama, maka engkau akan beruntung." [Diriwayatkan oleh Muslim]

Dalam Hadits ini, Rasulullah Saw menceritakan kriteria-kriteria yang biasanya di jadikan acuan oleh sebahagaian besar manusia dalam menentukan pasangan, mulai dari harta, kedudukan, kecantikan dan agama. Dan kriteria yang paling utama, sebagaimana beliau tegaskan, adalah agama.

Jikalau harta, maka ia akan segera lenyap dan tidak bisa dipastikan sampai kapan bertahannya. Begitu juga halnya dengan kedudukan, ia bisa berubah dalam sekejap, karena roda kehidupan itu akan selalu berputar. Jikalau kecantikan, maka ia akan memudar seiring bertambahnya usia. Tinggallah agama, ia akan abadi selama keimanan masih ada.
Biasanya, perempuan yang mengenal agamanya akan mengenal hak-hak suaminya. Ia tidak akan membangkang, durhaka, selingkuh dan menjaga perasaan suaminya.

Dalam hadist lainnya, Rasulullah Saw menegaskan:
"Janganlah menikahi perempuan karena kecantikan, karena bisa jadi itu akan membuatnya menjelek-jelekkanmu. Jangan menikahinya karena harta, karena bisa itu akan membuatnya mendurhakaimu. Nikahilah dirinya karena agamanya." [Diriwayatkan oleh Ibn Majah] 

"Barangsiapa yang menikahi perempuan karena hartanya, maka Allah Swt tidak akan menambahkannya kecuali kefakiran. Barangsiapa yang menikahi perempuan karena kedudukannya, maka Dia akan tidak menambahkannya kecuali kehinaan. Barangsiapa yang menikahi seorang perempuan untuk menundukkan pandangannya dan menjaga kehormatannya, atau menyambung silaturrahimnya, semoga Dia memberkahi keduanya." [Diriwayatkan oleh Ibn Hibban]

sebenarnya, tidak ada perhiasan yang paling indah di dunia ini melebihi seorang wanita shalehah. Jikalau suaminya hanya mampu memberi sedikit harta, maka ia akan ridho. Jikalau suaminya mampu memberikan kelebihan harta, maka ia akan bersyukur. Tidak ada dalam kamus kehidupannya, kecuali mencari ridho Allah Swt.

Rasulullah Saw bersabda:
"Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah perempuan yang shalehah." [Diriwayatkan oleh Muslim]

2)Berasal dari lingkungan yang baik
Kriteria berikutnya yang perlu diperhatikan adalah lingkungan tempatnya berasal. Sebagaimana dikatakan oleh Ibn Khaldhun, bahwa seseorang itu adalah anak lingkungannya. Jikalau lingkungannya baik, maka ia akan baik. Jikalau buruk, maka ia pun akan buruk. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dengan perempuan cantik yang tumbuh di lingkungan yang buruk dan kurang nilai-nilai akhlaknya.

Rasulullah Saw bersabda:
"Hati-hatilah kalian dengan Khadra' Ad-Diman?" Mereka bertanya, "Apakah maksudnya wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Perempuan yang cantik di tempat tumbuh yang buruk." [Diriwayatkan oleh Ad-Dar Quthny]

3)Subur
Kriteria berikutnya adalah kesuburan. Hal itu bisa dilihat dari para bibinya, saudara-saudaranya dan keturunannya. Jikalau keluarga mereka adalah keluarga yang memiliki banyak anak dan keturunan, maka bisa dipastikan dia adalah perempuan yang subur. Ini bertujuan, agar tidak ada penyesalan kelak, karena setiap manusia pasti merindukan keturunan dan generasi yang akan melanjutkan eksistensinya di muka bumi.

Pada suatu hari, seorang sahabat mendatangi Rasulullah Saw dan mengadu bahwa dia akan menikahi seorang wanita berkedudukan tinggi, akan tetapi tidak bisa melahirkan, maka beliau bersabda:
"Nikahilah perempuan yang penyayang dan subur, karena saya akan berbangga dengan jumlah kalian yang banyak pada Hari Kiamat kelak." [Diriwayatkan oleh Abu Daud]

4)Kecantikan
Islam tidak menafikan kecantikan, bahkan menempatkannya sebagai salah satu unsur penting dalam menentukan pasangan hidup. Allah Swt itu indah, dan sangat mencintai keindahan.
Ketika Mughirah bin Syubah melamar seorang perempuan, maka Rasulullah Saw bersabda kepadanya, "Lihatlah, karena hal itu akan lebih melanggengkan di antara kalian berdua."
Kecantikan itu akan menyebabkan langgengnya rasa cinta dan kasih-sayang di antara pasangan suami-istri.

5)Lebih utama jikalau masih gadis
Kriteria berikutnya adalah, hendaklah memilih gadis. Biasanya, seorang gadis belum terpaut hatinya secara mendalam kepada siapapun, sehingga cintanya akan diberikan sepenuhnya kepada suaminya. Selain itu, dia lebih bisa menerima keadaan apa adanya, karena baginya yang penting adalah dicintai dan diperhatikan.
Ketika Jabir bin Abdullah melamar seorang janda, maka Rasulullah Saw bersabda, "Kenapa engkau tidak melamar gadis, sehingga engkau bisa bermain-main dengannya, dan dia bisa bermain-main denganmu."

6)Kedekatan usia, pengetahuan dan ekonomi
Sebenarnya, ini bukanlah kriteria mutlak. Namun biasanya, kedekatan usia, pengetahuan dan ekonomi akan membuat masing-masing pasangan lebih siap memahami pasangannya. Dahulu, ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab melamar Fathimah, anak Rasulullah Saw, maka beliau menolaknya dan berkata, "Dia masih kecil." Namun ketika Ali bin Thalin yang melamarnya, maka beliau menerimanya, karena usia keduanya tidak terpaut jauh.
Itulah beberapa kriteria yang mesti diperhatikan oleh laki-laki ketika mencari perempuan yang akan menjadi teman hidupnya.

Kriteria Calon Suami Menurut Islam

***


Sekarang, marilah kita bahas kriteria laki-laki yang harus diperhatikan oleh perempuan dalam menentukan pasangan hidupnya:

1)Agama
Kriteria pertama dan utama yang harus diperhatikan oleh seorang perempuan atau wali adalah agama. Janganlah memilih laki-laki yang buruk agamanya, karena ia akan menjadi pemimpin yang membimbing istrinya meniti jalan Allah Swt. Ibn Taimyah Rahimahullah mengatakan:
"Barangsiapa yang terus-terusan melakukan kefasikan, maka dia tidak layak dinikahkan."

Seorang laki-laki yang baik agamanya, maka istrinya akan selalu aman di bawah naungannya. Jikalau ia menggaulnya, maka ia akan menggaulinya dengan baik. Jikalau ia menceraikannya, maka ia juga akan menceraikannya dengan baik-baik. Tidak ada kata-kata kezhaliman dalam rumah tangganya. 

Pada suatu hari, seorang laki-laki mendatangi Hasan Al-Bashry dan bertanya, "Saya memiliki anak perempuan. Menurutmu, dengan siapakah saya harus menikahkannya?" Beliau menjawab, "Nikahkanlah dengan orang yang bertakwa kepada Allah Swt. Jikalau dia mencintainya, maka dia akan memuliakanya. Jikalau dia membencinya, maka dia tidak akan menzhaliminya."

2)Akhlak
Akhlak yang baik tentu tidak bisa dipisahkan dari keluarga bahagia dan penuh kasih-sayang. Jikalau ia tiada, maka hubungan antara suami-istri akan retak dan renggang. Bahkan bisa jadi suami akan bertindak kasar kepada istrinya. Inilah yang harus diperhatikan oleh perempuan atau walinya dalam memlih pasangan hidup.

Imam Al-Ghazali mengatakan:
"Berhati-hati dalam menjalankan hak perempuan adalah penting, karena dia lemah dalam pernikahan dan tidak memiliki kekuatan; sedangkan suaminya bisa menceraikannya kapanpun. Barangsiapa yang menikahkan anak perempuannya dengan laki-laki yang zhalim, atau fasiq, atau jauh dari agama, atau peminum khamar, maka dia telah melakukan kriminal terhadap dirinya sendiri dan menghadapkan dirinya untuk mendapatkan kemurkaan Allah Swt, karena memutus silaturrahim dan memilih pasangan yang buruk."

3)Keturunan
 Keturunan yang baik akan melahirkan anak-anak yang baik. Begitu sebaliknya, keturunan yang buruk juga akan melihat anak-anak yang buruk tingkah lakunya. Buah tidak akan jatuh, jauh dari pohonnya. Oleh karena itu, sebelum memilih laki-laki yang akan menjadi suami, hendaklah perhatikan dulu siapa keturunannya, sehingga tidak ada penyesalan kelak.
Itulah beberapa kriteria yang harus diperhatikan oleh seorang perempuan dan walinya dalam menentukan pasangan rumah tangga.  []

Hukum Khitbah (Melamar) & Kriteria Calon Ideal Untuk Suami dan Istri Menurut Islam

admin
,
Denis Arifandi Pakih Sati, Lc. M.H
***

Jikalau kita di masyarakat yang homogen agamanya, maka membaca masalah ini tidaklah begitu urgen. Sebab, praktek di lapangannya tidak akan begitu berjalan. Kalau pun dibaca, cukup sebagai ilmu dan pengetahuan saja jikalau suatu kali menemui masalah serupa.

Berbeda halnya dengan seseorang yang tinggal di masyarakat yang agamanya heterogen. Di Solo, misalnya. Atau di sebagian wilayah di Jogjakarta. Dalam satu keluarga, kadangkala ada dua agama sekaligus. Ada sebagiannya yang beragama Islam, dan ada sebagiannya yang beragama Non Islam, baik Kristen Protestan, Katolik, maupun Budha atau Hindu.

Hukum Melihat Salib Menurut Islam

Masalah yang kita bahas ini, memang akan menjadi buah masalah dan buah pertanyaan bagi yang tinggal di lingkungan seperti yang kita jelaskan di atas. Maka, tulisan kita kali ini hadir untuk mengurai masalah tersebut.

Hukum Melihat Salib Menurut Islam

***


Pada dasarnya tidak ada masalah dengan melihat Salib dalam Islam. Hukumnya boleh-boleh saja. Anda mau melihat Salib, mau melihat patung, silahkan saja. Ia tidak akan menyebabkan Anda menjadi kafir, tidak akan menyebabkan Anda keluar dari Islam.

Ketika Nabi Muhammad Saw berada di Makkah, beliau berulang kali melihatnya. Bahkan, ketika perisiwa Fath Makkah (Penaklukan Makkah), beliau menyaksikan patung-patung yang digantung disekitar Kabah yang jumlahnya mencapai 360 buah, kemudian beliau menusuknya dengan panahnya secara berucap:
: جاء الحق، وزهق الباطل
 “Sudah datang kebenaran, dan lenyaplah kebatilan.”
Hadist ini panjang, mencerita detail kisahnya yang terdapat dalam al-Shahīhain, diriwayatkan oleh al-Bukhāri  dan Muslim.

Jadi, tidak ada masalah secara hokum syariat dengan sekadar melihat dan menyaksikan saja, baik salib maupun patung.

Jikalau Ada Muslim yang Memakai Salib

***


Kalau Anda melihat seorang Muslim atau Muslimah menggunakan dan memakai salib, ini baru masalah. Sama saja masalahnya ketika ia menggunakannya dalam bentuk kalung maupun dalam bentuk  gambar di bajunya.

Dalam beberapa riwayat dijelaskan bahwa Rasulullah Saw sangat tidak menyukai hal ini. Ia jelas merupakan symbol keagamaan Non Muslim. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhāri dan selainnya dijelaskan bahwa Rasulullah Saw tidak membiarkan sesuatu pun di rumahnya yang ada salibnya, kecuali beliau membuangnya.

Umm Abdurrahmān bin Azniyyah meriwayatkan bahwa ia bersama ‘Aisyah berjalan-jalan, kemudian Aisyah melihat seorang perempuan menggunakan selendang yang ada tanda salibnya, kemudian ia mengatakan:
اطرحيه، اطرحيه، فإن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا رأى نحو هذا في الثوب قضبه
 “Buanglah, buanglah. Jikalau Rasulullah Saw melihat seperti ini di pakaian, maka beliau akan mengambilnya.” (Hr Ahmad)

Kemudian ada riwayat lainnya dari Ady bin Hātim radhiyallahu anhu bahwa ia mendatangi Nabi Muhammad Saw, di lehernya ada Salib Emas, kemudian beliau bersabda:
يا عدي، اطرح عنك هذا الوثن
 “Wahai Ady, jauhkan darimu berhala ini.” (Hr al-Turmudzi)

Hanya saja, ketika Anda menyaksikan Salib atau Gambar Salib pada seorang Muslim, jangan lansung main banting saja. Tugas Anda adalah menasehatinya dengan baik, menjelaskan hukumnya sampai ia paham. Sebab bisa jadi ia tidak paham hukumnya dan hanya pahamnya sebagai gaya. Tugas kita adalah Tabligh, menyampaikan kebenaran.

Jangan sampai menggunakan kekerasan. Mencegah kemungkaran dengan kekuatan adalah domainnya pemerintah. Jangan sampai mencegah kemungkuaran melahirkan kemungkaran lainnya, yang jauh lebih besar mafsadatnya.

Jikalau yang Menggunakan Salib adalah Kristiani

***


Jikalau yang menggunakan Salib adalah Non Muslim (Kristiani), maka itu merupakan syiar agamanya. Anda tidak bisa mengingkarinya. Itu kepercayaannya. Itu akidahnya. Hukumnya jelas berbeda jikalau yang memakainya adalah seorang Muslim.

Dalam kondisi ini, Tugas Anda adalah berdakwah, mengajaknya masuk Islam, menjelaskan Islam itu dengan baik kepadanya, dialog dengan cara yang baik. Tidak ada larangan untuk Anda berhubungan dan bermumalah dengannya. Jikalau ia penjual, maka Anda bisa membeli barangnya. Jikalau ia seorang dokter, maka Anda bisa berobat dengannya. Jikalau ia pakar ilmu-ilmu keduniaan, maka Anda bisa duduk belajar kepadanya. Pokoknya, selama masalahnya tidak  menyentuk akidah, berada dalam ruang Muamalah, silahkan Anda berhubungan dengannya.

Apakah Benar Salib itu ada Jin Kafirnya?

***


Sebenarnya, yang paling kompeten menjawab masalah ini adalah pakar-pakar masalah akidah dan ruqyah syariyyah. Sebab jikalau Anda bertanya masalah ini dan menanyakan juga dalilnya, maka tidak ada dalil spesifik yang menjelaskan masalah ini.

Tapi, sependek pengetahuan saya, setiap patung, patung siapa pun itu, maka bisa dijadikan tempat tinggal oleh Jin. Makanya, dalam Islam, patung yang sifatnya manusia utuh, ada larangannya. Dalilnya banyak, silahkan Anda rujuk masalah Patung dalam Islam. Insya Allah, suatu hari kita akan membahas masalah ini secara detail. []

Hukum Melihat Salib Menurut Islam

admin
,
Denis Arifandi Pakih Sati, Lc. M.H
***

Pernikahan memiliki kedudukan penting dalam Syariat Islam. Ia merupakan jalan keluar dari berbagai jenis Fahisyah yang berkembang pesat di tengah-tengah masyarakat. Ia mampu membuat sesuatu yang haram menjadi halal, sesuatu yang selama ini terlarang menjadi boleh. Jikalau bukan karena itu, maka anak-anak yang tidak jelas orangtuanya akan semakin banyak, karena syahwat manusia akan terus mendorong pemiliknya untuk menyalurkan hasratnya. Di sisi lain, setan akan terus memanas-manasi, sehingga lengkaplah dua elemen utama dalam perzinaan.

Banyak dalil yang terdapat dalam Al-Quran dan Sunnah yang memerintahkan umat Islam untuk menjalankan pernikahan, bahkan ini adalah Ijma' kaum muslimin yang tidak boleh diselisihi siapapun.

Hukum dan Tujuan (Hikmah) Pernikahan Menurut Islam

Allah Swt berfirman:
"Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat." [An-Nisa': 3]

Hukum, Makna dan Tujuan (Hikmah) Pernikahan Menurut Islam

admin
,
Denis Arifandi Pakih Sati, Lc. M.H
***

Berkurban adalah salah satu sunnah Rasulullah Saw. Hukumnya sunnah Muakkadah menurut Jumhur Ulama, bahkan Mazhab Hanafi menyatakannya wajib. Jikalau ada kemampuan, hendaklah kita melakukannya. Sebab dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa jikalau seseorang memiliki kelapangan untuk berkurban, kemudian ia tidak berkurban, maka jangan dekati Masjid kami dan Mushallah kami, kata Rasulullah Saw. Ini adalah ancaman yang serius.

Hanya saja, untuk terwujudnya kurban yang benar dan sesuai syariat, ada beberapa syarat yang perlu kita perhatikan ketika kita berniat untuk ikut serta berkurban di Hari Raya Idul adha atau Hari Raya Kurban.

Hukum dan Syarat-Syarat Hewan yang akan Dikurbankan

Apa sajakah itu?

Pertama, Hewannya Berjenis Bahīmah al-An’ām
Bahīmah al-An’ām itu adalah unta, sapi, dan domba atau kambing, baik yang berjenis al-Dha’n atau yang berjenis al-Ma’z, berdasarkan firman Allah Swt:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ
Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)." (Surat al-Hajj: 34)

Artinya, jikalau ada yang mau kurban selain dengan jenis di atas, maka hukumnya tidak sah dan juga merupakan jawaban bagi orang yang bertanya pertanyaan serupa. Kalau ada yang berkurban dengan ayam atau pitik atau burung unta, hukumnya tidak sah. Apalagi berkurban dengan telurnya, jelas tidak sah.

NB: Mungkin ada yang bertanya perbedaan antara al-Dha’n dengan al-Ma’z. Begini perbedaannya, al-Dha’n adalah Domba atau biri-biri adalah ruminansia dengan rambut tebal dan dikenal oleh banyak orang. Domba dipelihara untuk dimanfaatkan rambut, daging, dan susunya. Yang paling dikenal orang adalah domba peliharaan, yang diduga keturunan dari moufflon liar dari Asia Tengah bagian Selatan dan Barat Daya. Sedangkan al-Ma’z, itu adalah jenis yang bulu saja. Kita lebih mengenalnya dengan nama Kambing Jawa, bukan Domba. 

Kedua, Mencapai Usia Tertentu
Kalau mau Kurban, Anda harus memastikan usianya sudah memenuhi syarat yang ditentukan oleh Syariat. Jikalau jenis al-Dha’n, maka sudah berjenis al-Jaz’ah, yaitu sudah berusia setengah tahun. Sedankan untuk yang lainnya, harus sudah berjenis al-Tsaniyyah, yaitu jikalau unta maka sudah berusia lima tahun, jikalau sapi sudah berusia dua tahun, jikalau kambing sudah berusia setahun.

Ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw:
لا تذبحوا إلا مسنة إلا أن تعسر عليكم فتذبحوا جذعة من الضأن
“Janganlah kalian menyembelih kecuali yang Musinnah, kecuali kalian sulit mendapatkanya. Hendaklah kalian menyembelih al-Dha’n yang jenis al-Jaz’ah.” (Hr Muslim)

Ketiga, Hewan Terbebas dari Cacat atau Aib yang Menyebabkannya Tidak Memenuhi Syarat Sebagai Kurban.
Ada beberapa cacat dalam ketentuan syariat yang menyebabkan hewan yang akan dikurbankan tidak layak:

  • 1- Nyata Butanya, yaitu tidak memiliki mata sama sekali, atau matanya bengkak layaknya tombol remote atau matanya memutih yang menunjukkan kebutaannya.
  • 2-Nyata Sakitnya, yaitu sakit yang efeknya nyata pada hewan yang akan dikurbankan, seperti demam yang menyebabkanna tidak bisa berjalan dan dikembalakan, serta membuatnya tidak mau makan. Atau bisa juga luka parah yang benar-benar mempengaruhi kesehatannya.
  • 3-Nyata Pincangnya, yaitu cacat yang menyebabkan hewan tersebut tidak bisa berjalan dengan normal.
  • 4-Nyata Tidak Berfungsi Akalnya dengan Normal atau Tidak ada Otaknya, sehingga hewan tersebut berlaku tidak keras, layaknya orang gila.

Semua hal di atas, berdasarkan sabda Rasulullah Saw yang suatu hari ditanya tentang kurban apa saja yang harus dihindari, kemudian beliau menjawab:
أربعاً : العرجاء البين ظلعها ، والعوراء البين عورها ، والمريضة البين مرضها ، والعجفاء التي لا تنقى
“Ada empat; pincang yang jelas pincanng; celek yang nyata celeknya; sakit yang jelas sakitnya; gila yang tidak bisa diselamatkan.” (Diriwayatkan oleh Imām Mālik dalam al-Muwattha’ dari hadits al-Barrā’bin ‘Âzib.”

Dalam riwayat lainnya dalam al-Sunan, juga diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda dengan lafadz:
أربع لا تجوز في الأضاحي
“Empat yang tidak boleh dijadikan kurban…” Kemudian beliau menyebutkan jenis-jenis di atas. Hadits ini dishahihkan oleh al-Albāny dalam Kitab Irwā’ al-Ghalīl (1148)

Jikalau 4 jenis cacat ini ada pada hewan yang akan dikurbankan, maka ia menjadi tidak layak untuk dikurbankan. Kemudian jikalau ada cacat semisalnya atau lebih parah, maka ia juga berhukum sama, tidak boleh dijadikan korban, yang mencakup beberapa cacat berikut ini:

  • 1- Buta yang tidak bisa melihat sama sekali
  • 2-Hewan tamak yang makan tidak berbatas, semua dimakannya. 
  • 3-Hewan betina yang akan melahirkan, yang susah melahirkannya sampai selesai bahaya tersebut
  • 4-Mengalami sesuatu yang bisa membunuhnya, seperti tercekik atau jatuh dari ketinggian, sampai selesai masalahnya.
  • 5-Tidak mampu berjalan dengan baik karena sakit yang dideritanya. 
  • 6-Terputus salah satu tangannya atau kakinya.

Jikalau ditambahkan dengan 4 cacat yang ada di dalam hadits, maka jumlah catatnya menjadi 10. Semua cacat ini menyebabkan tidak layaknya seekor hewan dijadikan sebagai kurban.

Keempat, Hewan Tersebut Milik Orang yang akan Berkurban
Hewan yang akan dijadikan kurban harus milik orang yang akan berkurban, atau ia memiliki izin secara syariat untuk menjadikan hewan tersebut sebagai kurban. Tidak sah jikalau ia berkurban dengan hewan yang dicurinya atau dirampoknya atau dibelinya dengan barang haram. Tidak boleh beribadah kepada Allah SWT dengan cara bermaksiat kepada-Nya.


Kelima, Hewan yang akan Dikurbankan, Tidak ada Kaitan dengan Hak Orang Lain
Dalam kasus ini, contohnya, adalah hewan yang digadaikan. Walaupun hewan itu ada bersamanya, dititipkan kepadanya, tapi hewan tersebut tetaplah milik orang yang menggadaikan. Sehingga, jikalau ia menjadikannya sebagai hewan kurban, hukumnya tidak sah.

Keenam, Waktu Penyembelihan Kurban Sesuatu dengan Ketentuan Syariat
Kurban haruslah disembelih di waktu-waktu yang sudah ditentukan oleh Syariat, yaitu dimulai setelah shalat Hari Raya Idul Adha di hari ke-10 bulan Dzulhijjah, dan berakhir di Maghrib hari ke-13 bulan Dzulhijjah. Jadi, ada 4 hari waktu yang bisa digunakan untuk menyembahkan, yaitu 10, 11, 12, 13 di bulan Dzuhijjah. Sehingga, jikalau ada yang menyembelih sebelum shalat Hari Raya Idul Adha dikerjakan atau setelah Maghrib di hari ke-13 bulan Dzulhijjah, maka kurbannya tidak sah. Hukumnya sama dengan sembelihan biasa.

Dalilnya adalah sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh al-Bukhāri, dari al-Barrā’ bin al-‘Âzib radhiyallahu anhu bahwa  beliau bersabda:
من ذبح قبل الصلاة فإنما هو لحم قدمه لأهله وليس من النسك في شيء
“Siapa yang menyembelih sebelum shalat, maka ia adalah daging yang dipersembahkannya untuk keluarhanya, bukan kurban sama sekali.”

Dalam hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Jundab bin Sufyān al-Bajaly radhiyallahu anhu bahwa ia menyaksikan Rasulullah Saw bersabda:
من ذبح قبل أن يصلي فليعد مكانها أخرى
“Siapa yang menyembelih sebelum shalat, hendaklah ia mengulangnya dengan yang lainnya.”

Diriwayatkan oleh Nabīsyah al-Hazaly bahwa Rasulullah Saw bersabda:
أيام التشريق أيام أكل وشرب وذكر لله عز وجل
“Hari Tasyriq (11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah) adalah hari makan, minum, dan dzikir mengingat Allah SWT.” (Hr Muslim)

Jikalau sampai penyembelihan kurban dari waktu yang sudah ditentukan oleh Syariat, karena alasan-alasan yang sesuai dengan Syariat, seperti hewannya kabur dan tidak ditemukan kecuali setelah berlalunya hari Tasyriq, dan itu tidak dilakukan secara sengaja, maka tidak masalah menyembelihnya setelah itu dan dianggap sebagai kurban.

Sama kasusnya dengan seseorang yang dititipi hewan kurban, kemudian orang yang dititipi lupa menyembelihnya sampai berlalu hari Tasyriq. Maka, tidak masalah menyembelihnya dan dianggap sebagai kurban.

Masalah atau kasus ini diqiyaskan dengan kasus orang yang ketiduran atau shalat, maka ketika sadar atau bangun, hendaklah ia segera mengerjakan shalat. Dan Hukumnya sah.


***


Oke. Begitulah catatan singkat kita seputar hokum dan syarat-syarat yang harus diperhatikan untuk hewan yang akan kita jadikan sebagai kurban. Tujuannya jelas, agar kurban kita sah dan diterima oleh Allah SWT. []

Hukum dan Syarat-Syarat Hewan yang akan Dikurbankan

admin
,
Denis Arifandi Pakih Sati, Lc. M.H
***

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang mulia dalam Islam. Ada sejumlah dalil yang menjelaskan masalah ini, salah satunya adalah firman Allah SWT dalam al-Quran al-Karim, Surat al-Fajr ayat 1-2:
والفجر وليال عشر
“Demi fajar. Demi malam yang sepuluh.”

Ibn Abbas, Ibn al-Zubair, Mujâhid dan banyak lagi para Ulama Salaf dan Khalaf lainnya menjelaskan bahwa ia adalah sepuluh hari Dzulhijjah. Ibn Katsîr menjelaskan dalam Tafsirnya Tafsir Ibn Katsîr (8/ 413) bahwa itulah pendapat yang benar.

Takbiran di Bulan Dzulhijjah dan Idul Adha (Antara al-Takbîr al-Muthlaq dengan al-Takbîr al-Muqayyad)

Beramal di sepuluh hari di awal bulan Dzulhijjah ini sangat dianjurkan sekali oleh Rasulullah Saw, sebagaimana terdapat dalam haditsnya.

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ .
فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ : وَلا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ؟
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَلا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ . إِلا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ
“Tidak ada suatu hari pun, amal shaleh ketika itu lebih dicintai oleh Allah SWT dari hari-hari ini. Para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad di jalan Allah wahai Rasulullah?”Beliau menjawab, “Tidak juga berjihad di jalan Allah SWT. Kecuali seseorang yang berangkat dengan jiwanya dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan apapun.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari 969, al-Turmudzi 757)


Sunnahnya Takbiran di Bulan Dzulhijjah

***


Salah satu sunnah yang hendaklah kita jalankan di bulan Dzulhijjah ini adalah Takbiran, berdasarkan sejumlah dalil dari al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw. Dalam firman-Nya dijelaskan:

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ
supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir." (Surat al-Hajj: 28)

Bagian yang dihitamkan dan digaris bawahi dari ayat di atas, maksudnya adalah sepuluh hari di awal bulan Dzulhijjah. Di hari-hari ini, kita diperintahkan untuk mengingat Allah SWT dengan bertakbir, yang kita kenal dengan istilah Takbiran.

Dalam ayat lainnya dijelaskan:
وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ لِمَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya." (Surat al-Baqarah: 203)

Maksudnya adalah hari Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Di ketiga hari ini, kita juga diperintahkan oleh Allah SWT untuk berdzikir mengingat-Nya, dengan bertakbir atau Takbiran.

Rasulullah Saw bersabda:
أيام التشريق أيام أكل وشرب وذكر الله عز وجل
Hari-Hari Tasyriq adalah hari-hari untuk makan, minum, dan berdzikir mengingat Allah SWT.” (Hr Muslim 1141)
Kita diperintahkan untuk makan dan minum, haram berpuasa. Kemudian kita diperintahkan untuk mengingat Allah SWT dengan bertakbir atau Takbiran. Ada unsur bersenang, tapi harus tetap bernuansa ibadah.

Bentuk dan Lafadz Takbir atau Takbiran di Bulan Dzulhijjah, Khususnya Hari Raya Idul Adha

***


Takbiran di bulan Dzulhijjah khususnya, dan para hari raya secara umum,ada beberapa bentuk. Para ulama berbeda pandangan dalam masalah ini. Ini beberapa bentuk di antaranya:

Pertama:
الله أكبر .. الله أكبر .. لا إله إلا الله ، الله أكبر .. الله أكبر .. ولله الحمد
Allâhu Akbar… Allâhu Akbar… Lâ Ilâha Illallah… Allâhu Akbar… Allâhu Akbar … Walillâhil Hamd…

Kedua:
الله أكبر .. الله أكبر .. الله أكبر .. لا إله إلا الله ، الله أكبر .. الله أكبر .. الله أكبر .. ولله الحمد
Allâhu Akbar… Allâhu Akbar… Allâhu Akbar… Lâ Ilâha Illallah… Allâhu Akbar… Allâhu Akbar … Allâhu Akbar … Walillâhil Hamd…

Ketiga:
الله أكبر .. الله أكبر .. الله أكبر .. لا إله إلا الله ، الله أكبر .. الله أكبر .. ولله الحمد
Allâhu Akbar… Allâhu Akbar… Allâhu Akbar… Lâ Ilâha Illallah… Allâhu Akbar… Allâhu Akbar … Walillâhil Hamd…

Masalah ini sebenarnya masalah yang lapang. Sebab, memang tidak ada Nash dari Nabi Muhammad Saw yang menjelaskan bentuknya harus begini dan begini. Makanya, variasinya banyak sekali yang kita dengar di tengah masyarakat.

Waktu Untuk Takbiran di Bulan Dzulhijjah; Antara al-Takbîir al-Muthlaq dengan al-Takbîr al-Muqayyad

***


Takbiran itu ada dua jenis:

Pertama, Takbir Muthlaq
Maksudnnya, Takbiran yang tidak terikat dengan apapun, selalu disunnah baik pagi maupun sore, siang maupun malam, sebelum shalat dan setelah shalat, di setiap waktu.

Kedua, Takbir Muqayyad
Maksudnya, Takbir yang dikumandangkan terikat dengan selesainya shalat lima waktu.

Untuk Bulan Dzulhijjah, Takbir Muthlaq disunnahkan di sepuluh hari bulan Dzulhijjah dan Hari Tasyriq, dimulai dengan masuknya bulan Dzulhijjah, yaitu dengan terbenamnya matahari di hari terakhir bulan Dzul Qa’dah, sampai hari terakhir Hari Tasyriq, yaitu dengan terbenamnya matahari di hari ke-13 bulan Dzulhijjah.

Sedangkan Takbir Muqayyad, dimulai dari fajar hari Arafah sampai terbenamnya matahari di akhir hari Tasyriq, digabungkan dengan Takbir Muthlaq. Jikalau imam sudah salah di shalat wajib, setelah ia beristighfar 3 kali dan membaca:
اللهم أنت السلام ومنك السلام تباركت يا ذا الجلال والإكرام
Allâhumma Antas Salâm wa minkas Salâm Tabârakta Yâ Dzal Jalâli wal Ikrâm
Maka, setelahnya, mulailah ia bertakbir. Ini bagi yang bukan haji, ya! Jikalau hati, maka Takbir Muqayyad dimulai ketika Zuhur di hari al-Nahr.

***


Itulah sedikit catatan kita seputar Takbir atau Takbiran di Bulan Dzulhijjah secara umum, dan Idul Adha secara khususnya, yang dalam bahasa tulisan ini dikenal dengan nama Takbir Muthlaq dan Takbir Muqayyad. []

Hukum Takbiran di Bulan Dzulhijjah dan Idul Adha (Antara al-Takbîr al-Muthlaq dengan al-Takbîr al-Muqayyad)

admin
,
Denis Arifandi Pakih Sati, Lc. M.H
***

Ketika bulan Dzulhijjah sudah masuk, kemudian salah seorang di antara kita ingin ikur serta berkurban nantinya di tanggal 10 Dzulhijjah atau di Hari Tasyriq, maka ia diharamkan untuk memotong rambutnya atau bagian rambutnya atau memotong kukunya atau bagian yang mengelupas kulitnya.

Ada yang mengatakan bahwa yang terlarang itu memotong kuku dan bulu hewannya. Ini ngawur. Salah tenan.  Saya juga mendapatkan pesan serupa dalam pesan-pesan yang viral di WhastApp, dan banyak juga yang menanyakannya kepada saya mengenai kebenarannya. Kita akan membantahnya dengan penjelasan yang ada di bagian selanjutnya.

Tapi tidak masalah jikalau ia mau memakai pakaian baru, menggunakan Hena dan wewangian atau Parfum, tidak masalah jikalau berhubungan suami istri atau segala hal yang menjadi mukaddimah hubungan tersebut.

Hal-Hal yang Terlarang Dilakukan bagi yang Ingin Berkurban

Tapi perlu diingat dengan baik, keharaman ini berlaku bagi Shāhib al-Qurbān, yaitu yang menjad atas nama kurban. Keharamannya tidak berlaku bagi keluarganya, tidak juga bagi bagi panitia atau orang yang diwakilkan untuk mengurus kurban tersebut.

Hukum tersebut berlaku bagi laki-laki dan perempuan, baik berstatusnya suami maupun istri, menikah maupun belum. Haram bagi mereka untuk memotong kukunya, memotong rambutnya, dan sejenisnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits.

Apa dalilnya?

Sabda Rasulullah Saw:
إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ ، فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ
Jikalau kalian melihat hilal Dzulhijjah, kemudian salah seorang di antara kalian ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri untuk tidak memangkas rambutnya dan kukunya.” (Riwayat Muslim, Nomor 1977)

Para Ulama dari al-Lajnah al-Dāimah mengatakan:
يشرع في حق من أراد أن يضحي إذا أهل هلال ذي الحجة ألا يأخذ من شعره ولا من أظافره ولا بشرته شيئاً حتى يضحي ؛ لما روى الجماعة إلا البخاري رحمهم الله ، عن أم سلمة رضي الله عنها أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ( إذا رأيتم هلال ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضحي فليمسك عن شعره وأظفاره ) ولفظ أبي داود ومسلم والنسائي : ( من كان له ذِبح يذبحه فإذا أهل هلال ذي الحجة فلا يأخذنَّ من شعره ومن أظفاره شيئاً حتى يضحي ) سواء تولى ذبحها بنفسه أو أوكل ذبحها إلى غيره ، أما من يضحِّي عنه فلا يشرع ذلك في حقه ؛ لعدم ورود شيء بذلك ، ولا يسمى ذلك إحراماً ، وإنما المحرم هو الذي يحرم بالحج أو العمرة أو بهما " انتهى .
“Disyariatkan bagi siapa yang ingin berkurban, jikalau melihat hilal Dzulhijjah untuk tidak memotong rambutnya, tidak memotong kukunya dan mengambil kulitnya sedikit pun sampai ia berkurban, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Jamā’ah selain al-Bukhāri, dari Umm Salamah radhiyallahu anha bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Jikakalau kalian melihat hilal Dzulhijjah, dan salah seorang di antara kalian ingin berkurban, maka tahanlah diri untuk memotong rambut dan kukunya.” Kmeudian hadits denan lafadz riwayat Abu Daud, Muslim, dan al-Nasāi, “Siapa yang memiliki sembelihan yang akan disembelihnya, kemudian sudah tampak hilal Dzulhijjah, maka janganlah ia memotong sedikit pun rambutnya dan kukunya, sampai ia berkurban. “ Baik ia sendiri yang akan menyembelihnya maupun akan diwakilkkannya penyembelihannya kepada orang lain. Sedangkan jikalau orang yang disembelihkan atas namanya, maka tidak disyariatkan baginya karena tidak adanya dalil yang menjelaskannya. Ini sama sekali bukan Ihrām, sebab ia hanya berlaku untuk haji dan umrah.”

(Lihatlah Fatāwa al-Lajnah al-Dāimah, 11/ 397, 398)

Kalau Melanggar Aturan di atas, Apa Hukumannya?

***


Jikalau ada yang ingin berkurban, kemudian melanggar aturan di atas, dengan memotong kukunya atau memangkas rambutnya, maka tidak ada kewajiban apapun di pundaknya. Hanya saja, ia harus bertaubat dan beristighfar memohon ampunan Allah SWT.

Ibn Hazm mengatakan dalam kitabnya al-Muhalla (6/3):
من أراد أن يضحي ففرض عليه إذا أهل هلال ذي الحجة أن لا يأخذ من شعره ولا من أظفاره شيئا حتى يضحي , لا بحلق , ولا بقص ولا بغير ذلك , ومن لم يرد أن يضحي لم يلزمه ذلك .
Siapa yang ingin berkurban, maka wajib baginya jikalau sudah tampak Hilal Dzulhijjah untuk tidak memotong rambutnya dan rambutnya sedikit pun sampai ia berkurban. Siapa yang tidak ingin berkurban, maka tidak ada kewajibannya.”

Ibn Quddamah al-Maqdisy mengatakan dalam Kitabnya al-Mughny (9/ 346):
إذا ثبت هذا , فإنه يترك قطع الشعر وتقليم الأظفار , فإن فعل استغفر الله تعالى ، ولا فدية فيه إجماعا , سواء فعله عمداً أو نسياناً
“Jikalau sudah jelas, maka ia tidak memangkas rambutnya dan memotong kukunya. Jikalau ia melakukannya, maka ia beristighfar memohon ampunan Allah SWT. Tidak ada fidyah atasnya karena hal itu berdasarkan Ijma’, baik dilakukannya dengan sengaja maupun karena lupa.”

Apa Hikmah Larangan Tersebut?

***


Mungkin salah satu pertanyaan terakhir yang sering kita tanyakan, atau sering dipertanyakan oleh orang lain kepada kita, apa hikmah di balik larangan tersebut? Kepana kita tidak boleh memangkas rambut dan memotong kuku?

Masalah ini dijawab oleh Imam al-Syaukāni dalam Kitabnya Nail al-Awthār (5/ 133):
والحكمة في النهي أن يبقى كامل الأجزاء للعتق من النار
Hikmah larangannya, agar semua anggota tubuh, semuanya tetap bebas dari Neraka.”

Maknanya, semua bagian yang kita tahan untuk memotongnya, mudah-mudahan semuanya akan masuk surga Allah SWT bersama bagian tubuh yang lainnya.

***


Baik, itulah catatan kita seputar hal-hal yang terlarang dilakukan bagi orang yang ingin berkurban atau ikut berkurban. Semoga kurban-kurban yang kita sembelih, kita tumpahkan darahnya, diterima oleh Allah SWT. Sebab, sebagaimana firman-Nya, inti kurban sebenarnya adalah Takwa dan Ikhlas. []

Hukum dan Hal-Hal Terlarang Dilakukan bagi Orang yang Ingin Berkurban (Shāhib al-Qurbān)

admin
,
Denis Arifandi Pakih Sati, Lc. M.H
***

“Bagaiana cara menghadapi tetangga yang jahat menurut islam? Apa hukum tetangga berisik dalam islam? Bagaimana akhlak terhadap tetangga dan masyarakat? Apa hadits tentang tidak boleh menyakiti tetangga? Bagaimana cara bergaul dengan tetangga menurut islam? Cara memuliakan tetangga menurut islam?


***


Ada tiga kebutuhan asasi seorang manusia, yaitu sandang, pangan, dan papan. Nah, dalam bahasa mudahnya, papan itu adalah rumah. Semua kita membutuhkannya sebagai tempat berteduh dan bermalam, tempat beristirahta dan bercanda bersama keluarga. Tidak masalah jikalau statusnya kontrakan. Kalau mampu beli itu malah lebik baik lagi. Jangan ngutang apalagi pakai riba, jangan deh!

Tapi, ada satu prinsip yang diperhatikan. Kata orang Arab “al-Jār Qabla al-Dār”, tetangga dulu sebelum rumah. Kenapa? Sebab betah atau tidaknya kita di suatu rumah, itu tergantung dengan tetangganya. Jikalau tetangganya baik, kita akan betah sekali. Apalagi kalau sampai tetangganya sudah kayak saudara. Itu nikmat yang luar biasa. Sebaliknya, kalau tetangganya resek, jahat, culas, dan sebagainya, maka kehidupan kita akan bak di Neraka. Tidak betah. Pengen pindah.

Hukum Berbuat Baik (al-Ihsān) Kepada Tetangga Menurut Islam

Oke. Dalam catatan kali ini, kita akan melihat bagaimana keutamaan berbaik baik kepada tetangga dalam Islam, apa hak-hak mereka yang harus ditunaikan, apa makna tetangga dalam Islam. Dan masih banyak lagi masalah yang kita bahas dalam tulisan ini, lengkap dengan dalilnya dari al-Quran dan hadits atau sunnah.


***

Keutamaan Berbuat Baik Kepada Tetangga Dalam Islam


Masalah “Hak Tetangga” merupakan salah satu masalah agung dan besar dalam Islam. Jibril alaihissalam terus-menerus menasehati Rasulullah Saw masalah tetangga ini, sampai Nabi Muhammad Saw menduga bahwa seorang tetangga akan mewarisi tetangga.

Beliau bersabda:
مازال جبريل يوصيني بالجار ، حتى ظننت أنه سيورثه
“Jibril selalu menasehati masalah tetangga, sampai saya menduga bahwa seorang tetangga akan mewarisi tetangganya.”

Masalah ini, juga dijelaskan dalam al-Quran al-Karim:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri." (Surat al-Nisa: 36)

Nabi Muhammad Saw mendorong umatnya untuk berbuat baik kepada tetangganya dan memuliakannya dalam sabdanya:
ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم جاره
“Siapa yang beriman kepada Allah SWT dan Hari Akhir, maka muliakanlah tetangganya.” (Muttafaq alaihi)

Dalam riwayat Muslim dijelaskan:
فليحسن إلى جاره
“Maka, berbuat baiklah kepada tetangganya.” (Hr Muslim)

Bahkan, berbuat baik kepada tetangga itu merupakan bagian dari keimanan dalam Islam, sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
والذي نفسي بيده لا يؤمن عبد حتى يحب لجاره ما يحب لنفسه
“Demi jiwaku yang berada dalam genggamannya, tidak beriman seorang hamba sampai ia mencintai tetangganya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (Hr Muslim)

Orang yang berbuat baik kepada tetangganya, maka ia merupakan manusia terbaik di sisi Allah SWT:
خير الأصحاب عند الله خيرهم لصاحبه، وخير الجيران عند الله خيرهم لجاره
“Sebaik-baik sahabah di sisi Allah SWT adalah orang yang terbaik di antara mereka kepada sahabatnya. Dan sebaik-baik tetangga di hadapan Allah SWT adalah orang yang paling baik kepada tetangganya di antara mereka.” (HR al-Turmudzi)


***

Siapakah Tetangga itu Dalam Islam?


Tetangga adalah orang yang berada di sampingmu, baik muslim maupun non muslim. Pengertian detailnya di kalangan ulama, itu banyak sekali. Namun makna yang paling dekat dengan kebenaran adalah “sesuai dengan ‘Urf atau adat atau kebiasaan yang berlaku di suatu masyarakat.” Artinya, jikalau di masyarakat Jogja itu makna tetangga adalah satu RT, maka itulah maknanya. Begitu. Beda budaya, beda pula mengartikannya.

Tetangga itu sudah bertingkat-tingkat. Hak antara yang satu dengan yang lainnya, berbeda sesuai dengan tingkatannya. Ada tetangga muslim yang  masih ada ikatan kerabat. Ada tetangga non muslim namun masih ada hubungan kekerabatan. Ada tetangga non Muslim yang tidak ada hubungan kekerabatan sama sekali.

Secara umum, hak bertetangga itu sama saja berlakunya. Namun, jikalau ditambah dengan hubungan kekerabatan dan hubungan akidah, maka haknya bertambah di sisi lainnya.

***

Deskripsi Tetangga atau Bertetangga


Ada orang yang menyangka bahwa tetangga itu hanyalah orang yang rumahnya berada di dekatnya. Pendapat ini memang tidak salah. Namun, juga tidak sepenuhnya benar. Ia hanyalah salah satu bentuk tetangga. Banyak bentuk lainnya yang masuk dalam makna kata-kata tetangga. Ada tetangga dalam kerja, tetangga di pasar, tetangga di sawah dan kebun, tetangga di bangku sekolah dan kuliah. Dan lain-lain.

***

Hak-Hak Bertetangga Menurut Islam


Tetangga memiliki banyak hak. Kita akan membahas beberapa di antaranya.

1#Menjawab Salam dan Menghadiri Undangan

Pada dasarnya, ini adalah hak umum kaum muslimin.Hanya saja, jikalau yang mengucapkan salam adalah tetangga Anda, maka kewajiban menjawabnnya jauh lebih wajib. Sama dengan undangan, jikalau yang mengundang tetangga Anda, maka menghadirinya jauh lebih wajib. Moso, tetangga Anda ada acara, Anda diam saja di rumah.

2#Tidak Menyakiti Tetangga

Ini merupakan salah satu hak terbesar dalam hidup bertetangga. Jikalau ia diharamkan kepada manusia lainnya, maka kepada manusia jauh lebih haram lagi. Nabi sudah mewanti-wanti masalah ini dalam berbagai haditsnya.

Beliau bersabda:
“Demi Allah, tidak beriman. Demi, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman.”

Para sahabat bertanya:
“Siapa ya Rasulullah?”

Beliau menjawab:
مَن لا يأمن جاره بوائقه
“Orang tang tetangganya tidak merasa aman dari keburukan-keburukannya.” (Hr al-Bukhari)

Ada yang berkata kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, Fulanah mengerjakan shalat sepanjan malam dan berpuasa sepanjang siang. Namun, lisannya menyaikiti tetangganya.”

Beliau menjawab:
لا خير فيها، هي في النار
“Tidak ada kebaikannya. Ia di Neraka.” (Hr Ahmad)

Pada suatu  hari, seseorang mendatangi Nabi Muhammad Saw mengadukan kejahatan tetangganya, kemudian beliau menjawab, “Buanglah barangmu di jalan.”

Kemudia ia melakukannya. Orang-orang yang lewat bertanya kepadanya. Ketika mereka tahu kejahatan tetangganya, maka mereka melaknatnya. Kemudian datanglah tetangga yang jahat ini kepada Nabi Muhammad Saw mengadu tentang orang-orang yang melaknatnya.

Beliau menjawab:
فقد لعنك الله قبل الناس
“Allah sudah melaknatmu sebelum mereka.” (Hr al-Baihaqi)

3# Siap Menghadap Keburukan Tetangga

Point ketiga ini hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kehormatan diri dan memiliki cita tinggi. Banyak orang yang mampu menahan dirinya untuk tidak menyakiti yang lainnya. Namun untuk bersabar dan ikhlas menerima kezhaliman orang lain, yang dalam hal ini adalah tetangga, merupakan sesuatu yang maha sulit.

Allah SWT berfirman:
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ ۚ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ
Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan." (Surat al-Mukminun: 96)

Dalam ayat lainnya dijelaskan:
وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (Surat al-Syura: 43)

Hasan al-Bashri mengatakan:
“Bertetangga yang baik itu bukan tidak menyakiti yang lainnya. Bertetangga yang baik adalah bersabar menghadapi kejahatan yang lainnya.”

4# Menanyakan Kondisinya dan Menunaikan Hajatnya/ Kebutuhannya

Rasulullah Saw bersabda:
ما آمن بي من بات شبعانًا وجاره جائع إلى جنبه وهو يعلم
“Tidaklah beriman kepadaku, seseorang yang tidur dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya, sedangkan ia mengetahuinya.” (Hr al-Thabrani)

Orang-orang yang shaleh di zaman dahulu selalu menanyakan kondisi tetangga mereka dan berusaha menunaikan hajat mereka. Para sahabat biasanya suka memberikan hadiah kepada tetangganya, kemudian tetangganya memberikan hadiah lagi kepada yang lainnya, sampai berpuluh-puluh tetangga, sampai hadiah itu juga didapatkan oleh yang pertama melakukannya. Masya Allah.

Suatu hari, Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu menyembelih seekor domba, kemudian ia mengatakan kepada budaknya:
“Jikalau engkau menyembelih, maka mulailah membaginya kepada tetangga kita yang Yahudi.”

Suatu hari, Aisyah radhiyallahu anha bertanya kepada Nabi Muhammad Saw:
“Saya mempunyai dua tetangga. Siapakah yang paling berhak saya berikan hadiah?”

Beliau menjawab:
إلى أقربهما منكِ بابًا
“kenapa tetangga yang pintunya terdekat darimu.” (Hr al-Bukhari)

5# Menutupi Aibmu dan Menjaga Kehormatanmu
Ini juga merupakan salah satu hak besar yang tidak kalah penting dari yang lainnya. Ketika kita hidup bertetangga dengan seseorang, maka kita akan mengetahui keburukannya. Maka, tugas kita adalah menjaga kehormatannya dan menutupi aibnya. Jangan menyebarkannya kepada orang lain, menjadikannya sebagai bahan candaan dan guyonan.


***

Catatan-Catatan Tambahan


Ada beberapa catatan tambahan yang ingin penulis jelaskan disini.

  • # Bagaimana cara menghadapi tetangga yang jahat menurut islam? Bersabarlah. Itu yang sudah kita jelaskan di atas. Ujian ini memang berat. Jikalau Anda bisa, maka bawakanlah kepadanya catatan ini. Tunjukkan kepadanya link ini, biar ia membacanya. Sebab, bisa jadi tetangga Anda tidak paham masalah bertetangga dalam Islam.
  • #Apa hukum tetangga berisik dalam islam? Jawabannya sama dengan yang di atas. Plek. Sama. Persis. Silahkan dibaca lagi.
  • #Bagaimana akhlak terhadap tetangga dan masyarakat? Itu sudah kita jelaskan di atas.
  • #Apa hadits tentang tidak boleh menyakiti tetangga? Ada hadits-haditsnya, dan sudah kita paparkan di atas.
  • #Bagaimana cara bergaul dengan tetangga menurut islam? Semua jawabannya sudah ada di catatan di atas.
  • #Cara memuliakan tetangga menurut islam? Sudah kita jawab di atas dengan lengkap dan detail.

Oke. Itulah catatan singkat kita seputar masalah bertetangga dalam Islam. Semoga bermanfaat ya. Salam. []

Hukum Berbuat Baik (al-Ihsān) Kepada Tetangga Menurut Islam

admin
,
Denis Arifandi Pakih Sati, Lc. M.H
***

Anak-anak adalah nikmat dari Allah SWT dan karunia agung yang wajib disyukuri, bergembira mendapatkannya, berjanji akan menjaganya, merawatnya, dan mendidiknya dengan baik agar menjadi tumbuhan yang baik di Taman Islam.

Islam memberikan perhatian besar terhadap fase anak-anak, semenjak dilahirkan, bahkan sebelum dilahirkan, yaitu ketika baru berpikir untuk menikah. Islam mewasiatkan kepada umatnya untuk memilih dengan baik siapa yang akan menjadi suami atau istri, demi menjamin keturunan yang baik dan ikatan kekeluaraan yang kuat. Bukan dari sisi akhlak saja, namun juga dari paras tubuh dan psikologi. Dan perhatian in uterus diberikan oleh Islam sampai masuk fase kehamilan, ketika melahirkan dan menyusui, fase mendidik dan tumbuh kembang.

Hukum Taknik (al-Tahnīk) Anak yang Baru Lahir & Manfaatnya dari Segi Kesehatan

Islam mensyariatkan sejumlah hak untuk anak-anak dalam semua fase yang dilaluinya. Sebagiannya dijelaskan dalam Kitabullah, kemudian dirinci dengan detail oleh sunnah Rasulullah Saw, kemudian Islam menjadikannya sebagai sunnah yang harus dijalankan sebagai bentuk bakti orangtua kepada anak-anaknya.

Di antara amalan yang disyariatkan semenjak hari pertama kehidupan sang anak adalah memberitahukan kabar gembira atas kelahirannya, ucapan selamat atas kelahirannya, mendoakannya, mengazankan dan mengiqamahkan di kedua telingannya, kemudian mentahniknya.  Hukumnya Sunnah.

***

Dengan Kurma atau Dengan Madu


Tahnik atau al-Tahnīk, merupakan sunnah Rasulullah Saw. Maksudnya, mengunyah kurma atau sesuatu yang manis di mulut seseorang yang sehat tidak sakit, kemudian meletakkannya di mulut sang anak, memijitnya dan mentahniknya, yaitu dengan memasukkan sebagian kurma yang sudah dikunyah, menggunakan jari yang bersih memasukkannya ke dalam mulut sang anak, kemudian digerakkan kiri dan kanan dengan lembut, sampai masuk semuanya ke dalam mulutnya. Tidak masalah memasukkan sedikit kurma yang segar tadi ke dalam mulut sang anak agar ia bisa mengunyahnya dan merasakan faedahnya.

Jikalau tidak ada kurma, maka al-Tahnīk juga bisa dilakukan dengan sesuatu yang manis. Lebah madu lebih utama dalam hal ini. Bisa juga yang lainnya, asalkan sesuatu yang tidak tersentuh api (tidak dimasak).

***

Tahnik (al-Tahnīk) Menurut Sunnah Rasulullah Saw


Banyak hadits Nabi Muhammad Saw yang berbicara tentang al-Tahnīk. Salah satunya adalah riwayat Asmā binti Abū Bakar. Ketika itu, ia sedang hamil Abdullāh bin al-Zubair. Kemudian ia ikut hijrah ke Madinah, dengan usia kandungannya yang sudah mencapai Sembilan bulan. Dalam perjalanan ke Madinah, maka semuanya singgah di Quba. Dan disanalah ia melahirkan seorang  bayi laki-laki. Pasca melahirkan, ia segera membawa anaknya kepada Nabi Muhammad Saw dan meletakkannya di kamarnya.

Beliau meminta kurma. Setelah diberikan, beliau memasukkan ke dalam mulutnya dan mengunyahnya, kemudian memasukkannya ke dalam mulut sang anak. Sehingga, yang pertama kali masuk ke dalam keronkongannya adalah air liur Nabi Muhammad Saw.

Kemudian beliau menatahniknya dengan kurma dan mendoakan kebaikan baginya. Anak tersebut mendapatkan keberkahan. Ia adalah anak pertama yang dilahirkan dalam Islam. Semuanya berbahagia, sebab itu bukti kedustaan ungkapan yang ketika itu menyebar luas, “Orang-orang Yahudi sudah menyihir kalian. Kalian tidak akan berketurunan.”

***

Manfaat al-Tahnīk dari Sisi Kesehatan


Dr. Muhammad Alī al-Bār, pakar al-I’jāz al-Ilmy di situs Islamway menjelaskan bahwa keilmuan kontemporer sudah membuktikan mamfaat kesehatan al-Tahnīk ini untuk tubuh sang  anak yang baru dilahirkan dan tumbuh kembangnya. Ia memaparkan tafsir ilmiah yang memuaskan akal dan logika.

Ia menjelaskan:
“Hadits-hadits seputar al-Tahnīk menjelaskan bahwa kurma atau makanan manis merupakan hal pertama yang masuk ke dalam kerongkongan sang anak. Kemudian juga menjelaksan sunnahnya membawanya kepada orang yang baik lagi shaleh, baik laki-laki maupun perempuan, untuk dilakukan al-Tahnīk atas dirinya, kemudian juga agar mendaparkan keberkahan dari orang-orang shaleh.”

Ilmu kontemporer sudah mampu menyingkap hikmah dari al-Tahnīk semenjak 14 abad yang lalu. Semua anaknya, khususnya yang baru dilahirkan dan masih menyusu, terancam kematian jikalau mengalami salah satu dari dua hal berikut: Pertama, turunnya kadar gula di dalam darah. Kedua, turunnya derajat panas tubuh ketika udara yang ada di sekitarnya menjadi dingin.

Kadar Gula (Glukosa) di dalam darah anak yang baru lahir itu rendah. Semakin ringan beratnya, maka semakin rendahlah kadar gulanya. Sehingga anak yang lahir premature, yang beratnya kurang dari 2,5 kg, maka kadar gula darahnya rendah sekali. Biasanya kurang dari 20 mg dalam setiap 100 ml darah. Rata-rata, anak yang lahir dengan berat di atas 2,5 kg, kadar darah mereka biasanya di atas 30 mg.

Kadar gula yang rendah, bisa menyebabkan beberapa hal  berbahaya:
•    Bayi menolak untuk menyusu
•    Lemahnya otot-otot
•    Sering berhenti bernafas
•    Kejang-kejang

Bahkan, jikalau diabaikan, bisa menyebabkan hal-hal berbahaya lainnya yang akan terus dialami sang anak sampai ujung usianya.
•    Temlambatnya pertumbuhan
•    Keterbelakangan mental
•    Lumpuh otak
•    Tidak bisa melihat atau mendengar atau keduanya
•    Epilepsy

Jikalau tidak diobati, bisa menyebabkan kematian. Padahal obatnya gampang, yaitu cukup dengan memberikan Glukosa yang sudah dilarutkan di dalam air, bisa dengan mulut dan bisa dengan impus. Inilah yang dilakukan oleh al-Tahnīk.

Al-Tahnīk adalah pengobatan perenventif dari segala penyakit yang disebabkan oleh kurangnya gula di dalam darah, sebab bahan al-Tahnīk mengandung gula Glukosa dengan ukuran besar, apalagi ketika bercampu dengan liur yang mengandung enzim-enzim khusus yang mampu mengubah Sokrosa menjadi Monosakarida.

Kandungan air liur akan memudahkan proses pelarutan gula, agar sang anak bisa mendapatkan faedahnya. Karena itulah, banyak rumah sakit, khususnya Rumah Sakit Ibu dan Anak, yang memberikan sari Glukosa kepada sang anak, lansung setelah kelahirannya, sebelum disusui ibunya. Ini menjadi petunjuk nyata hikmah di balik sunnah al-Tahnīk.

Penelitian ilmiah juga menegaskan bahwa al-Tahnīk menguatkan otot-otot mulut dengan gerakan lidah ketika al-Tahnīk dilakukan, sehingga anak siap menyusu, menghisap ASI dengan kuat, membantu pencernaan, menggerakkan darah, memancing nalurinya untuk menyusu. Kemudian, tekanan di bagian langit-langit mulut sang anak ketika al-Tahnīk akan sangat membantunya melafalkan huruf dengan lurus ketika nanti ia sudah masuk usia berbicara.

***


Referensi:
Artikel Khidmah al-Markaz al-I’lām al-Araby, yang berjudul Tahnīk al-Maulūd; Sunnah Nabawiyyah wa Fawāid Shihhiyah

Hukum Taknik (al-Tahnīk) Anak yang Baru Lahir & Manfaatnya dari Segi Kesehatan

admin
,
Previous PostOlder Posts Home