Sejarah Fatwa Nyeleneh (al-Fatâwâ al-Syâdzah) dan Efek Negatifnya Terhadap Fikih

Bagi kalangan awam yang sudah mencapai usia al-Taklîf, fatwa merupakan salah satu saran penting baginya untuk mengetahui hokum sebuah masalah dan sebuah kejadian. Kalau di zaman Nabi, kalau ada sebuah masalah, bisa lansung ke tanyakan kepadanya dan lansung dapat jaabannya. Setelah beliau meninggal, maka fatwa adalah jalannya. Dengan adanya fatwa, orang awam tidak perlu susah-susah lagi untuk mengkaji dan meneliti. Selain menyulitkan, mereka juga tidak memiliki perangkat mengkajinya dan menelitinya.

Fatwa itu mulai muncul setelah kematian Nabi Muhammad Saw, dengan tetap bersandar kepada salah satu Ushùl al-Syarî’ah, yang merupakan hasil saringan dari al-Ijtihâd dari orang-orang terpilih umat ini, yang sudah memenuhi syarat untuk melakukan al-Ijtihâd. Dan al-Ijtihâd itu sendiri, tidak akan pernag terputus sampai Hari kiamat kelak, sebagaimana dinyatakan dalam kajian Ushùl al-Fiqh.

Sejarah Fatwa Nyeleneh (al-Fatâwâ al-Syâdzah) dan Efek Negatifnya Terhadap Fikih

Fikih itu tidak pernah lepas dari perbedaan. Itulah tabiat fikih. Sebab, pangkalnya adalah al-Ijtihâd; beda kepala beda pula hasil Ijtihadnya. Tapi, mereka berbeda bukan asal berbeda. Ada dalilnya dan Ushulnya yang menjadi tempat mereka berpijak. Hanya saja kadang-kadang, ada pendapat fikih yang terasa jauh sekali dari tabiat asli fikih, perbedaannya terlalu kentara jikalau dibandingkan pendapat-pendapat fikih kebanyakan.

Dalam kondisi seperti ini, pendapat fikihnya tidak bisa dianggap lagi wujudnnya. Ia sudah masuk ke dalam apa yang dinamakan dengan Pendapat al-Syâdz (al-Fatwa al-Syâdzah)

Nah, masalah ini yang akan kita bahas dalam catatan kali ini. Semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian.

***

Pengertian Fatwa Nyeleneh (al-Fatâwâ al-Syâdzah)


Ibn Manzhùr mengatakan, “Memberikannya fatwa dalam suatu masalah ketika ia menjawab pertanyaannya. Bentuk isimnya adalah al-Fatwâ. Dan al-Fatwâ itu sendiri adalah menjelaskan hokum-hukum yang sulit. Kata asalnya adalah al-Fatâ, yaitu pemuda yang berusia muda lagi kuat, seakan-akan ia menguatkan sesuatu yang sulit menjelaskannya. Seorang pemberi fatwa (al-Muftí) dikatakan berfatwa apabila ia menghasilkan hokum.” (Lihatlah Lisân al-‘Arab karya Ibn Manzhùr, Materi “Fatâ”)


***

Makna al-Syâdz Secara Bahasa


Ibn Fâris berkata, “Al-Syín dan al-Dzâl yang menunjukkan al-Infirâd (sendirian) dan al-Mufâraqâh (memisahkan diri).” (Lihat Maqâyis al-Lughah, Materi Syadzza)

Ibn Manzhùr mengatakan, “Syadzza – Yasudzzu – Sudzzuzan. Maknanya, jikalau menyendiri dari banyak orang. Jarang itu disebut al-Syâdz.” (Lihat Kitab Lisân al-Arab, Materi Sya-Dza-Dza)


***

Makna al-Syâdz Menurut Istilah


Untuk mengartikan al-Syâdz, harus diperhatikan bidang penggunaannya. Sebab, Deskripsi yang dimaksud di kajian Ushùl al-Fiqh, berbeda dengan Deskripsi yang dimaksudkan oleh para Ahli Hadits (al-Muhadditsín), Ahli Nahwu (al-Nuhâh), dan Para Pakar Bacaan (al-Qurrâ’).

Bagi Ahli Hadits, al-Syâdz memiliki sejumlah makna:
Pertama, Seorang perawi yang terpercaya (al-Tsiqah) meriwayatkan hadits yang menyelisihi orang banyak. (Lihatlah Kitab Muqaddimah Ibn al-Shalâh, halaman 55)
Kedua, Hadits yang tidak memiliki kecuali satu pensanadan saja. (Lihatlah Kitab Muqaddimah Ibn al-Shalâh, halaman 56)

Bagi Para Pakar Bacaan (al-Qurrâ’), al-Syâdz adalah:
Ibn al-Jazrí mengatakan, “Semua bacaan yang sesuai dengan Bahasa Arab walaupun satu wajah, sesuai dengan salah satu sunnah Mushaf al-Utsmâniyah walaupun kemungkinan, kemudian sanadnya shahih, maka ia adalah Bacaan yang Benar (al-Qirâah al-Shahíhah). Jikalau salah satu rukunnya bermasalah, maka ia disebut al-Syâdz.” (Lihatlah Kitab al-Nasyr fí al-Qirâat al-‘Asyr, 1/ 9)
Jadi, makna al-Syâdz bagi para Pakar Bacaan (al-Qurrâ’) adalah ketika seorang al-Qâri menyelisihi salah satu dari tiga rukun di atas.

Bagi Para Pakar Bahasa (Ahli al-Lughah), al-Syâdz adalah seperti perbedaan Ibn Jinní dengan Para Pakar Bahasa lainnya dalam masalah penetapan al-Majâz di sebagian besar bahasa. (Lihatlah Kitab al-Khashâis, 2/ 449)

Sedangkan pengertian Fatwa yang Nyeleneh (al-Fatwâ al-Syâdz), maka harus dilihat dua hal:
Pertama, Melihat pendapat para Ahli Fikih (al-Fuqâhâ’) dan pandangan fikih mereka.
Kedua, Mengkaji kitab para para Ushùl al-Fiqh (al-Ushùliyyùn).

Kita mulai dulu dari yang kedua. Al-Âmidí mengatakan, “al-Syâdz adalah orang yang melakukan penyelisihan (al-Mukhâlif) setelah setuju (al-Muwâfaqah). (Lihat Kitab al-Ihkâm fí Ushùl al-Ahkâm, 1/ 238)

Al-Ghazâli Abù Hâmid menjelaskan, “al-Syâdz adalah ungkapan untuk sesuatu yang keluar dari Ijmâ’ setelah memasukinya.” (Lihat Kitab al-Musthashfa: 371)

Biasanya, kajian tentang al-Syâdz seringkali didapatkan dalam masalah-masalah al-Ijmâ’ di kitab-kitab Ushùl al-Fiqh. Khususnya masalah apakah al-Ijmâ’ itu hujjah terhadap perbedaan? Masalah ini adalah masalah Ushùliyah. Tujuan kita dalam hal ini adalah menjelaskan al-Fatwa al-Syâdzah dari sisi Fikih.

Pengkaji masalah ini, tidak mendapatkan pengertian yang konprehensif  tentang al-Fatwa al-Syâdzah di kalangan ulama terdahulu. Semuanya terpencar, berada di luar standar syariat, maqâshidnya, dan ushùlnya. Maka, Anda mendapati para Ahli Fikih menyajikan hokum al-Syâdz di berbagai bahasan dengan bentuk yang berbeda-beda. Kadangkala, mereka menyajikan masalah ini ketika membahas konksekwensi orang yang menyelisihi al-Nash al-Sharíh Ghair Mansùkh wa Lâ Muhtamal (Nash yang jelas, tidak Mansukh dan Tidak Muhtamal). Kadangkala, mereka menyajikannya terhadap orang yang menyelisihi al-Qiyâs al-Jalí yang memiliki al-‘Illat al-Manshùshah. Kadangkala juga menyajikannya terhadap orang yang pendapatnya menyelishi al-Ijmâ’ al-Sharíh.

Hampir bisa dipastikan Anda tidak akan mendapati Kitab yang khusus membahas al-Fatwâ al-Syâdzah di kalangan Ulama Terdahulu (al-Mutaqaddimín), Justru yang melakukannya adalah ulam a kontemporer (al-Mu’âshirín), seperti Syeikh Yùsuf al-Qarâdhawi dalam Kitabnya al-Fatwâ al-Syâdzah. Hanya saja, ia lebih konsen membahas masalah al-Syudzùz saja layaknya para ulama lainnya yang mengkaji masalah ini.

Tujuan Artikel ini adalah membuat pengertian yang tepat untuk al-Fatwâ al-Syâdzah, bukan sekadar mengartikan masing-masing katanya.


***

Pengertian al-Fatwâ al-Syâdzah


Pengertian al-Fatwâ al-Syâdzah adalah, pendapat fikih yang bertentangan dengan al-Ijmâ’ al-Sharíh, tidak sejalan dengan Maqâshid al-Syarí’ah, dan dimustahilkan oleh akal atau logika. Sebagian besar al-Fatwâ al-Syâdzah itu keluar dari al-Ijmâ’. Ini jelas. Sebab ia sama sekali tidak memperhatikan realita, muaranya, tidak menimbang-nimbang (al-Muwâzanah) antara al-Maslahah dengan al-Mafsadah yang merupakan kandungan Maqâshid al-Syarí’ah, atau dimustahilkan oleh akal dan tabiat yang benar.

Ini bukan bertujuan menyatakan bahwa sebuah fatwa atau pendapat fikih itu dikatakan al-Syâdz, dengan sekadar menimbang dengan tiga point di atas. Tapi, ketiga unsur di atas harus ada dalam sebuah fatwa, barulah ia layak disebut sebagai al-Fatwâ al-Syâdzah. Kalau sudah terdapat semuanya dalam sebuah fatwa, maka ia bisa dipastikan sebagai al-Fatwâ al-Syâdzah, walaupun dikeluarkan oleh seorang Mujtahid yang sudah rekomendid lagi terkenal.

Untuk mengetahui kemunculan al-Fatwâ al-Syâdzah, maka harus kembali melihat masa para sahabat radhiyallahu anhum, kemudian juga harus melihat apakah Nabi Muhammad Saw hadits bersama mereka atau tidak.

***

Pandangan-Pandangan Nyeleneh (al-Arâ’ al-Syâdzah) di Masa Kenabian


Peneliti buku –buku sejarah Nabi Muhammad Saw akan mendapati jarangnya pendapat-pendapat nyeleneh yang  berasal dari para sahabat. Sebab, mereka berada di masa kenabian. Masalah agama apa saja yang mereka rasakan sulit menemukan jawabannya, maka mereka bisa lansung  bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.

Di antara pendapat yang bisa dianggap al-Syâdz atau Nyeleneh adalah riwayat berikut ini, dari Abù Daùd dalam al-Sunan, dari Jâbir radhiyallahu anhu berkata, “Kami berangkat dalam suatu perjalanan, kemudian salah seorang di antara kami terkena batu, sehingga menyebabkan luka di kepalanya. Malamnya, ia bermimpi basakah. Ia bertanya kepada para sahabatnya, ‘Apakah pendapat kalian, saya bisa mendapatkan al-Rukhshah (keringanan) untuk bertayammum?’ Mereka menjawab, ‘Kami tidak mendapati keringanan untukmu, engkau mampu menggunakan air.’ Kemudian ia mandi dan meninggal. Ketika kami sampai kepada Nabi Saw dan beliau diberitahu masalah tersebut, beliau berkata:
قَتَلُوهُ قَتَلَهُمُ اللَّهُ، أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا، فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ، إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ وَيَعْصِرَ – أَوْ يَعْصِبَ شك الراوي – َعلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً، ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهَا وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ
“Mereka membunuhnya. Semoga Allah SWT membunuh mereka. Kenapa mereka tidak bertanya jikalau tidak tahu. Obat kebodoan adalah bertaya. Cukup baginya bertayammum dan mengambil perban ke lukanya, kemudian mengusap kain perban tersebut dan memandikan bagian tubuhnya yang lain.” (Diriwayatkan oleh Abù Daùd dalam Kitab al-Thahârah, Bab fí al-Majrùh Yatayammam)

Tujuan menyajikan hadits ini adalah menunjukkan bahwa pendapat Nyeleneh atau al-Syâdz yang bertentangan dengan kaedah-kaedah syariat dan Maqâshidnya sudah ada semenjak zaman kenabian. Hanya saja, nasehat kenabian segera meluruskan kesalahan tersebut.

***

Pandangan-Pandangan Nyeleneh (al-Arâ’ al-Syâdzah) di Masa Sahabat


Setelah masa kenabian, mulailah tampak tanda-tanda kemunculan pendapat-pendapat yang al-Syâdz dari kalangan para sahabat, seperti Fatwa Ibn Abbâs yang membolehken Ribâ al-Fadhl (Lihat Kitab Bidâyat al-Mujtahid karangan Ibn Rusydi, 3/ 148), kemudian membolehkan Nikâh al-Mut’ah (Lihatlah Kitab Bidâyat al-Mujtahid karangan Ibn Rusydi, 3/ 80). Ada pendapat yang menyatakan bahwa ia sudah menarik kembali pendapatnya. Kemudian, ia juga menjadikan Nenek berada di posisi ibu dalam warisan ketika tidak ada ibu. (Lihat Kitab Bidâyat al-Mujtahid karangan Ibn Rusydi, 2/ 258)

Di antara yang lainnya adalah Umar bin al-Khattâb yang ketika wudhu memasukkan air ke dalam matanya. Ibn Abd al-Barr mengatakan, “Ini adalah salah satu perbuatannya yang tidak diikuti. Ada sejumlah hal-hal al-Syâdz lainnya yang dilakukannya, berdasarkan sikap al-Wara’. (Lihatlah Kitab al-Istidzkâr karangan Ibn Abd al-Barr, 1/ 254). Hal yang sama juga berasal dari Aisyah radhiyallahu anha yang mengingkari Ibn Arqam melakukan perbuatan al-Syâdz ketika membolehkan Ba’I al-‘înah (Lihatlah Kitab Nail al-Awthâr karangan al-Syaukanî 8/ 335), yaitu seseorang menjual sebuah barang sampai jangka waktu yang ditentukan, kemudian membelinya lagi darinya dengan harga lebih murah dari harga jualnya, sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Mu’jam Lughah al-Fuqahâ’ karya Muhammad Qal’ajî, halaman 114)

Fenomena adanya pendapat-pendapat yang al-Syâdz pada masa ini, bisa dilihat dari cerita Ibn Khaldùn dalam catatan sejarahnya tentang Khalîfah Abu Ja’far al-Manshùr ketika memberikan titah kepada al-Imâm Mâlik agar menulis al-Muwattha’.

Ia berkata:
“Wahai Abu Abdillah, tidak ada seorang pun yang di muka bumi yang lebih alim dari pada saya dan dirimu. Saya sudah sibuk dengan kekhalifahan. Hendaklah engkau menulis sebuah Kitab yang bisa dimanfaatkan khalayak ramai. Dalam buku ini, jauhilah keringanan-keringan yang dibuat oleh Ibn Abbas, kekerasan-kekerasan (al-Syadâid) dalam hokum yang ditetapkan oleh Ibn Umar, dan pendapat-pendapat al-Syâdz dari Ibn Mas’ùd. Masukkanlah ia.”

Kemudian Mâlik berkata, “Demi Allah, hari itu ia sudah mengajarkanku tentang penulisan.” (Lihatlah Tarîkh Khaldùn, 1/ 18)

Pointnya disini, peringatan khalifah kepada Mâlik untuk tidak terjerumus ke dalam pendapat yang al-Syâdz, sebab ia adalah sesuatu yang dijauhi, yang perlu ditakwilkan oleh para pemilik pendapat tersebut, tidak masuk dalam kategori al-Masyhùr.

***

Pandangan-Pandangan Nyeleneh (al-Arâ’ al-Syâdzah) di Masa al-Tâbi’în


Di bagian ini, pengkaji kitab-kitab induk fikih bisa mendapati semakin bertambahnya pendapat-pendapat yang al-Syâdz. Secara ringkas, beberapa di antaranya akan dipaparkan disini. Tujuan memaparkannya bukan untuk membuatnya terkenal, tetapi sebagai contoh untuk permasahan yang sedang dibahas.

Di antara pendapat-pendapat yang al-Syâdz di masa ini adalah fatwa al-A’masy yang menyatakan bahwa azan subuh disyariatkan sampai masuk waktu pagi, yang dikomentari oleh al-Hâfifz Ibn Hajar, “Jikalau tidak azan sampai masuk pagi, maka lazimnya boleh makan setelah terbitnya fajar.” (Lihatlah Kitab Fath al-Bâri karangan Ibn Hajar, 2/ 422) Begitu juga dengan pendapat al-Sya’bi yang tidak mensyaratkan al-Thahârah untuk shalat Jenazah. (Lihatlah Kitab Fath al-Bâri karangan Ibn Hajar, 4/ 380)

Ibn Rusydi mengatakan, “Diriwayatkan dari al-Zuhri bahwa yang difardhukan  ketika berwudhu adalah sampai ke mata kaki. (Lihatlah Kitab Bidâyat al-Mujtahid, 1/ 59), kemudian ia melanjutkan, “Namun Asyhab berpendapat al-Syâdz, dengan menyatakan bahwa wajib mengusap bagian dalam perut dari al-Khuff.” (Lihatlah Kitab Bidâyat al-Mujtahid, 1/ 19)

***

Pandangan-Pandangan Nyeleneh (al-Arâ’ al-Syâdzah) di Tingkat Mazhab-Mazhab Fikih (al-Mazâhib al-Fiqhiyyah)


Bisa diktakan, Mazhab yang paling banyak pendapat al-Syâdz adalah Mazhab Ahli al-Zhâhir, yaitu Mazhab yang para pengikutnya berpegang dengan Zhawâhir al-Nash, tidak melampui al-Qiyâs dan semisalnya. Salah satu tokohnya yang terkenal adalah Ibn Hazm rahimahullah.

Sebagian besar pendapat Mazhab ini dalam masalah-masalah al-Furù’, bertentangan dengan Mazhab Jumhùr al-Ulâmâ. Pendapat-pendapat mereka menjadi al-Syâdz  karena mereka memakai Ushùl yang tidak pernah ditinggalkannya dan tidak boleh diabaikan.

Al-Hâfidz Ibn Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Sejumlah Ahli al-Zhâhir melakukan al-Syâdz. Mereka menyelisihi Jumhùr al-Ulâmâ dan jalan yang ditempauh kaum mukminin lainnya. Mereka menyatakan, ‘Orang yang sengaja meninggalkan shalat pada waktunya, tidak ada kewajiban baginya untuk mengerjakannya di selain waktunya, sebab ia bukanlah orang yang tidur dan tidak pula lupa. Sebab, Rasulullah Saw hanya bersabda, “Siapa yang ketiduran dari shalatnya atau lupa, maka hendaklah ia mengerjakan shalatnya jikalau ia ingat.” ( HR Abu Daud, Nomor 435, Kitab al-Shalât).” (Lihatlah Kitab al-Istidzkâr, 1/ 64)

Ia lebih lanjut mengatakan, “Daùd juga berpendapat al-Syâdz dan menyelisihi Jumhur Ulama, dengan membolehkan membaca al-Quran bagi yang dalam kondisi junub.” (Lihatlah Kitab al-Istidzkâr, 3/ 462)

Al-Syaukâni mengatakan, “Ibn Hazm berpendapat al-Syâdz, dengan mengatakan, ‘Kencing laki-laki mana pun, maka cukup dipercikkan air, baik anak-anak maupun sudah dewasa. Ia menafikan al-Qayyid (ikatan lafadz) yang menjadi muara al-Muthlaq alaihi.” (Lihatlah Kitan Nail al-Awthâr, 1/ 118)

Ibn Rusyd mengatakan, “Ahli al-Zhâhir berpandangan bahwa al-Rafats, kata-kata jelek, membatalkan puasa. Pendapat ini al-Syâdz.” (Lihatlah Kitab Bidâyat al-Mujtahid, 1/ 346)

Ada sejumlah pendapat fikih lainnya yang tersebar di sejumlah Kitab, pendapat berbagai Ahli Fikih. Beberapa di antaranya sebagai berikut:

Ibn Abd al-Barr mengatakan, “Sebagian ulama berpendapat al-Syâdz, dengan menyatakan bolehnya akikah bagi yang sudah tua.” (Lihatlah Kitab al-Istidzkâr, 9/ 315)

Ibn Rusyd mengatakan, “Ada sejumlah orang berpendapat al-Syâdz dengan mengatakan bahwa kedua telinga dibasih bersama muka.” (Lihatlah Kitab Bidâyat al-Mujtahid, 1/ 16)

Ia juga menjelaskan, “Ada sejumlah orang yang berpendapat al-Syâdz, dengan mengatakan bolehnye menyembelih hewan kurban sampai akhir bulan Dzu al-Hijjah. Ini adalah pendapat yang al-Syâdz.” (Lihatlah Kitab Bidâyat al-Mujtahid, 1/ 351)

Abù Hanîfah berpendapat al-Syâdz, dengan mengatakan bahwa yang membunuh dengan Palu, maka tidak ada diyatnya.” (Lihatlah Kitab Bidâyat al-Mujtahid, 2/ 332)

***

Sebab-Sebab Munculnya Fatwa yang Nyeleneh (al-Fatwa al-Syâdzah)


Jikalau melihat sejumlah kitab Ushùl al-Fiqh, kemudian sejumlah Kitab kontemporer seputar sebab kemunculan pendapat al-Syâdz (al-Fatwa al-Syâdzah), maka akan didapati tiga sebab utamanya:
Pertama, Faktor Ilmiah
Kedua, Faktor yang Berhubungan dengan Kepribadi al-Muftî (Orang yang Memberikan Fatwa)
Ketiga, Faktor Kondisi

1#Faktor-Faktor Ilmiah
Ada sejumlah faktor ilmiah yang membelakangnya:
Pertama, Bertentangan dengan al-Ijmâ’
Bertentangan dengan al-Ijmâ’ ini, pangkalnya adalah ketidaktahuan mengenai apa-apa saja yang sudah menjadi Ijma’para ulama, atau memang sengaja menyelisihinya. Imâm al-Ghazâlî mengatakan, “Disyaratkan bagi seoang Mujtahid, untuk mengetahui masalah-masalah yang sudah menjadi al-Ijmâ’, agar ia tidak berfatwa bertentangan dengan al-Ijmâ’, sebagaimana ia harus memahami Nash agar tidak menyelisihinya.” (Lihatlah Kitab al-Mustashfâ, 2/ 364)

Kedua, Lemahnya Kemampuan Ushùl al-Fiqh
Jikalau tidak memiliki kemampuan Ushùl al-Fiqh, seseorang akan menyelisihi al-Qiyâs al-Jalî, tidak bisa melakukan al-Jam’u antar Nash, baik Muqayyad maupun Muthlaq, dan sebagainya.

Ketiga, Lemahnya Kemampuan al-Maqâshid
Orang yang tidak memiliki kemampuan al-Maqâshid, maka ia akan terjerumus ke dalam kesalahan dan pendapat al-Syâdz. Itu bisa dipastikan. Sebab, ia sama sekali tidak mengetahui ikatan hokum dan al-Manâth, mengabaikan fakta dan realita fatwa.

Al-Syâthibî mengatakan, “Selayaknya seorang Mujtahid memperhatikan al-Maâlât sebelum menjawab  pertanyaan.” (Lihatlah Kitab al-Muwâfaqât, 4/ 332)

Keempat, Mengingkari Salah Satu Ushul, seperti mengingkari kehujjahan al-Qiyâs.
Orang yang mengingkarinya akan terjerumus ke dalam kegelapan al-Syâdz. Tidak diragui. Imâm al-Syâfii mengatakan, “al-Ijtihâs dan al-Qiyâs adalah dua nama untuk satu nama.” (Lihatlah Kitab al-Risâlah, halaman 477)

Abù Ma’âli al-Juwainî mengatakan, “Al-Qiyâs adalah Manâth al-Ijtihâd, pokok pandangan, ia yang menjadi pangkal cabang-cabang fikih, Uslùb al-Syarîah, ia yang mengantarkan ke independensi rincian hokum realita. Ia yang menjadi pokok yang menyentuh semua realita.” (Lihatlah Kitab al-Burhân, 2/ 3)

2#Faktor-Faktor Pribadi
Ada beberapa hal  yang terkait dengan faktor pribadi ini, yaitu:
Pertama, Hobi Menyelisihi yang lainnya dan Ingin Terkenal
Kedua, Tergesa-gesa menyampaikan hokum suatu masalah
Ketiga, Takjub dengan diri sendiri dan pendapat pribadi

3#Faktor-Faktor Kondisi
Ada sejumlah faktor kondisi yang melatarbelakangi lahirnya pendapat al-Syâdz (al-Fatwa al-Syâdzah), yaitu:
Pertama, Faktor Politik, seperti tekanan penguasa dan selainnya.
Kedua, Fatwa di Stasiun Televisi atau Radio atau via Telepon, sebab tidak diketahui dengan detail bagaimana kondisi orang yang meminta fatwa (a-Mustaftî) dan kebiasaan (al-Urf) di negerinya, serta kondisi yang melingkupinya.
Ketiga, Mengikuti pendapat public

***


Masalah pendapat al-Syâdz (al-Fatwa al-Syâdzah) akan selalu ada dan akan tetap ada. Entah sampai kapan, hanya Allah SWT saja yang tahu. Apalagi di masa-masa ketika Islam dan Umat Islam begitu inferior di hadapan peradaban-peradaban bangsa lainnya. Pendapat al-Syâdz (al-Fatwa al-Syâdzah) akan terus dimunculkan oleh orang-orang yang mengaku sebagai Pakar Agama, Intelektual Muslim atau Cendekiawan Muslim.

Maka, tugas kita adalah mengajarkan anak-anak kita dan generasi Umat Islam tentang ajaran Islam yang benar dan lurus, serta menjauhkan mereka dari pendapat al-Syâdz (al-Fatwa al-Syâdzah). Diberitahu, tentu harus. Tapi juga harus dijelaskan bahwa pendapat-pendapat seperti ini tidak boleh diikuti.

Catatan kita ini merujuk ke artikel yang ditulis oleh Nabîl al-Abdhulî, yang berjudul Tarîkh al-Fatâwa al-Syâdzah wa Atsaruha fi al-Fiqh al-Islâmî. Kemudian diterjemahkan, disusun ulang, dan dibahasakan, ditambahkan oleh Denis Arifandi Pakih Sati tanpa mengubah maksud penulis aslinya. []
Read More..

Kewajiban Berbuat Baik (al-Ihsān) Kepada Tetangga Menurut Islam

Ada tiga kebutuhan asasi seorang manusia, yaitu sandang, pangan, dan papan. Nah, dalam bahasa mudahnya, papan itu adalah rumah. Semua kita membutuhkannya sebagai tempat berteduh dan bermalam, tempat beristirahta dan bercanda bersama keluarga. Tidak masalah jikalau statusnya kontrakan. Kalau mampu beli itu malah lebik baik lagi. Jangan ngutang apalagi pakai riba, jangan deh!

Tapi, ada satu prinsip yang diperhatikan. Kata orang Arab “al-Jār Qabla al-Dār”, tetangga dulu sebelum rumah. Kenapa? Sebab betah atau tidaknya kita di suatu rumah, itu tergantung dengan tetangganya. Jikalau tetangganya baik, kita akan betah sekali. Apalagi kalau sampai tetangganya sudah kayak saudara. Itu nikmat yang luar biasa. Sebaliknya, kalau tetangganya resek, jahat, culas, dan sebagainya, maka kehidupan kita akan bak di Neraka. Tidak betah. Pengen pindah.


Kewajiban Berbuat Baik (al-Ihsān) Kepada Tetangga Menurut Islam

Oke. Dalam catatan kali ini, kita akan melihat bagaimana keutamaan berbaik baik kepada tetangga dalam Islam, apa hak-hak mereka yang harus ditunaikan, apa makna tetangga dalam Islam. Dan masih banyak lagi masalah yang kita bahas dalam tulisan ini, lengkap dengan dalilnya dari al-Quran dan hadits atau sunnah.


***

Keutamaan Berbuat Baik Kepada Tetangga Dalam Islam


Masalah “Hak Tetangga” merupakan salah satu masalah agung dan besar dalam Islam. Jibril alaihissalam terus-menerus menasehati Rasulullah Saw masalah tetangga ini, sampai Nabi Muhammad Saw menduga bahwa seorang tetangga akan mewarisi tetangga.

Beliau bersabda:
مازال جبريل يوصيني بالجار ، حتى ظننت أنه سيورثه
“Jibril selalu menasehati masalah tetangga, sampai saya menduga bahwa seorang tetangga akan mewarisi tetangganya.”

Masalah ini, juga dijelaskan dalam al-Quran al-Karim:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri." (Surat al-Nisa: 36)

Nabi Muhammad Saw mendorong umatnya untuk berbuat baik kepada tetangganya dan memuliakannya dalam sabdanya:
ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم جاره
“Siapa yang beriman kepada Allah SWT dan Hari Akhir, maka muliakanlah tetangganya.” (Muttafaq alaihi)

Dalam riwayat Muslim dijelaskan:
فليحسن إلى جاره
“Maka, berbuat baiklah kepada tetangganya.” (Hr Muslim)

Bahkan, berbuat baik kepada tetangga itu merupakan bagian dari keimanan dalam Islam, sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
والذي نفسي بيده لا يؤمن عبد حتى يحب لجاره ما يحب لنفسه
“Demi jiwaku yang berada dalam genggamannya, tidak beriman seorang hamba sampai ia mencintai tetangganya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (Hr Muslim)

Orang yang berbuat baik kepada tetangganya, maka ia merupakan manusia terbaik di sisi Allah SWT:
خير الأصحاب عند الله خيرهم لصاحبه، وخير الجيران عند الله خيرهم لجاره
“Sebaik-baik sahabah di sisi Allah SWT adalah orang yang terbaik di antara mereka kepada sahabatnya. Dan sebaik-baik tetangga di hadapan Allah SWT adalah orang yang paling baik kepada tetangganya di antara mereka.” (HR al-Turmudzi)


***

Siapakah Tetangga itu Dalam Islam?


Tetangga adalah orang yang berada di sampingmu, baik muslim maupun non muslim. Pengertian detailnya di kalangan ulama, itu banyak sekali. Namun makna yang paling dekat dengan kebenaran adalah “sesuai dengan ‘Urf atau adat atau kebiasaan yang berlaku di suatu masyarakat.” Artinya, jikalau di masyarakat Jogja itu makna tetangga adalah satu RT, maka itulah maknanya. Begitu. Beda budaya, beda pula mengartikannya.

Tetangga itu sudah bertingkat-tingkat. Hak antara yang satu dengan yang lainnya, berbeda sesuai dengan tingkatannya. Ada tetangga muslim yang  masih ada ikatan kerabat. Ada tetangga non muslim namun masih ada hubungan kekerabatan. Ada tetangga non Muslim yang tidak ada hubungan kekerabatan sama sekali.

Secara umum, hak bertetangga itu sama saja berlakunya. Namun, jikalau ditambah dengan hubungan kekerabatan dan hubungan akidah, maka haknya bertambah di sisi lainnya.


***

Deskripsi Tetangga atau Bertetangga


Ada orang yang menyangka bahwa tetangga itu hanyalah orang yang rumahnya berada di dekatnya. Pendapat ini memang tidak salah. Namun, juga tidak sepenuhnya benar. Ia hanyalah salah satu bentuk tetangga. Banyak bentuk lainnya yang masuk dalam makna kata-kata tetangga. Ada tetangga dalam kerja, tetangga di pasar, tetangga di sawah dan kebun, tetangga di bangku sekolah dan kuliah. Dan lain-lain.

***

Hak-Hak Bertetangga Menurut Islam


Tetangga memiliki banyak hak. Kita akan membahas beberapa di antaranya.

1#Menjawab Salam dan Menghadiri Undangan

Pada dasarnya, ini adalah hak umum kaum muslimin.Hanya saja, jikalau yang mengucapkan salam adalah tetangga Anda, maka kewajiban menjawabnnya jauh lebih wajib. Sama dengan undangan, jikalau yang mengundang tetangga Anda, maka menghadirinya jauh lebih wajib. Moso, tetangga Anda ada acara, Anda diam saja di rumah.

2#Tidak Menyakiti Tetangga

Ini merupakan salah satu hak terbesar dalam hidup bertetangga. Jikalau ia diharamkan kepada manusia lainnya, maka kepada manusia jauh lebih haram lagi. Nabi sudah mewanti-wanti masalah ini dalam berbagai haditsnya.

Beliau bersabda:
“Demi Allah, tidak beriman. Demi, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman.”

Para sahabat bertanya:
“Siapa ya Rasulullah?”

Beliau menjawab:
مَن لا يأمن جاره بوائقه
“Orang tang tetangganya tidak merasa aman dari keburukan-keburukannya.” (Hr al-Bukhari)

Ada yang berkata kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, Fulanah mengerjakan shalat sepanjan malam dan berpuasa sepanjang siang. Namun, lisannya menyaikiti tetangganya.”

Beliau menjawab:
لا خير فيها، هي في النار
“Tidak ada kebaikannya. Ia di Neraka.” (Hr Ahmad)

Pada suatu  hari, seseorang mendatangi Nabi Muhammad Saw mengadukan kejahatan tetangganya, kemudian beliau menjawab, “Buanglah barangmu di jalan.”

Kemudia ia melakukannya. Orang-orang yang lewat bertanya kepadanya. Ketika mereka tahu kejahatan tetangganya, maka mereka melaknatnya. Kemudian datanglah tetangga yang jahat ini kepada Nabi Muhammad Saw mengadu tentang orang-orang yang melaknatnya.

Beliau menjawab:
فقد لعنك الله قبل الناس
“Allah sudah melaknatmu sebelum mereka.” (Hr al-Baihaqi)

3# Siap Menghadap Keburukan Tetangga

Point ketiga ini hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kehormatan diri dan memiliki cita tinggi. Banyak orang yang mampu menahan dirinya untuk tidak menyakiti yang lainnya. Namun untuk bersabar dan ikhlas menerima kezhaliman orang lain, yang dalam hal ini adalah tetangga, merupakan sesuatu yang maha sulit.

Allah SWT berfirman:
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ ۚ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ
Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan." (Surat al-Mukminun: 96)

Dalam ayat lainnya dijelaskan:
وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (Surat al-Syura: 43)

Hasan al-Bashri mengatakan:
“Bertetangga yang baik itu bukan tidak menyakiti yang lainnya. Bertetangga yang baik adalah bersabar menghadapi kejahatan yang lainnya.”

4# Menanyakan Kondisinya dan Menunaikan Hajatnya/ Kebutuhannya

Rasulullah Saw bersabda:
ما آمن بي من بات شبعانًا وجاره جائع إلى جنبه وهو يعلم
“Tidaklah beriman kepadaku, seseorang yang tidur dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya, sedangkan ia mengetahuinya.” (Hr al-Thabrani)

Orang-orang yang shaleh di zaman dahulu selalu menanyakan kondisi tetangga mereka dan berusaha menunaikan hajat mereka. Para sahabat biasanya suka memberikan hadiah kepada tetangganya, kemudian tetangganya memberikan hadiah lagi kepada yang lainnya, sampai berpuluh-puluh tetangga, sampai hadiah itu juga didapatkan oleh yang pertama melakukannya. Masya Allah.

Suatu hari, Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu menyembelih seekor domba, kemudian ia mengatakan kepada budaknya:
“Jikalau engkau menyembelih, maka mulailah membaginya kepada tetangga kita yang Yahudi.”

Suatu hari, Aisyah radhiyallahu anha bertanya kepada Nabi Muhammad Saw:
“Saya mempunyai dua tetangga. Siapakah yang paling berhak saya berikan hadiah?”

Beliau menjawab:
إلى أقربهما منكِ بابًا
“kenapa tetangga yang pintunya terdekat darimu.” (Hr al-Bukhari)

5# Menutupi Aibmu dan Menjaga Kehormatanmu

Ini juga merupakan salah satu hak besar yang tidak kalah penting dari yang lainnya. Ketika kita hidup bertetangga dengan seseorang, maka kita akan mengetahui keburukannya. Maka, tugas kita adalah menjaga kehormatannya dan menutupi aibnya. Jangan menyebarkannya kepada orang lain, menjadikannya sebagai bahan candaan dan guyonan. []
Read More..

Fakta dan Keunikan Seputar al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj Menurut Islam

Ketika berbicara masalah al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj, kita seolah-olah sedang membicarakan sesuatu yang horror, menakutkan. Kalau saya bicara masalah ini ke anak saya, ia akan lansung menyahut, “Bi, ceritanya jangan seram-seram dunk.” Hehe…

Kisah, pasti menarik bagi setiap orang. Siapa pun itu pasti tertarik mendengarkannya. Termasuk kisah al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj ini; bagaimana awal mulanya dan bagaimana ceritanya nanti di akhir zaman, bagaimana bentuk mereka dan bagaimana mereka nanti dikalahkan. Hanya saja, yang sangat disayangkan, kisah ini seringkali disusupi khalayan, khurafat dan mitos yang tidak pada tempatnya. Jadinya, kisah yang aslinya nyata dan pasti akan terjadi di masa yang akan datang, berubah menjadi fantasi khalayan, layaknya film-film Hollywood, bukan Bollywodd ya  ^_^

Fakta dan Keunikan Seputar al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj Menurut Islam

Dalam catatan kali ini, kita akan melihat kisah al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj dalam al-Quran, kemudian juga dalam Sunnah dan Hadits Nabi, kemudian kita juga akan menyajikan seputar mitos dan khurafat seputar al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj.

***

Kisah al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj Dalam al-Qurân al-Karím


Penyebutan al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj dalam al-Qurân al-Karím terdapat dalam firman Allah SWT:
حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِنْ دُونِهِمَا قَوْمًا لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا
Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan." (Surat al-Kahfi: 93)

قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَىٰ أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا
Mereka berkata: "Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?" (Surat al-Kahfi: 94)

Serta beberapa ayat setelahnya.

Ayat-ayat ini menjelaskan kepada kita bagaimana al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj sudah menjadi pelaku kerusakan, kejahatan, dan memiliki kekuatan semenjak dahulu kala. Tidak ada sesuatu pun yang mampu melawan kezhaliman mereka terhadap orang-orang di sekitar mereka. Kenapa? Karena mereka kuat, karena mereka perkasa.

Sampai, datanglah raja yang shaleh, bernama Dzù al-Qarnain. Penduduk negeri mengadukan kepasdanya tentang kejahatan yang mereka dapatkan, memintanya untuk membuat dinding yang memisahkan mereka dengan al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj dan menjaga mereka dari kejahatan.

Raja tersebut mengabulkan permintaan mereka. Ia membuat dinding yang kuat dari potongan-potongan besi di antara dua gunung yang besar, kemudian dilelehkan timah di atasnya, sampai dindingnya benar-benar kokoh. Dengan dinding itu, terkurunglah al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj, terhalanglah kejahatan mereka terhadap penduduk negeri dan para hamba Allah SWT.

Ayat-ayat itu juga menunjukkan bahwa keberadaan al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj, masih terkurung di dingin yang dibuat oleh Raja Dzù al-Qarnain. Namun, itu hanyalah sampai waktu yang sudah ditentukan. Tidak selamanya. Dan waktu inilah yang dikabarkan oleh Rasulullah Saw dalam berbagai haditsnya, yaitu mereka akan keluar di akhir zaman, ketika hampir kiamat.

Penyebutan al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj juga terdapat dalam ayat lainnya di dalam al-Qurân al-Karím, yang menjelaskan banyaknya jumlah mereka dan cepatnya keluar mereka, yaitu firman-Nya:
حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ
Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya'juj dan Ma'juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi." (Surat al-Anbiya: 96) 

***

Kisah al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj Dalam Hadits/Sunnah Nabi Muhammad Saw


Hadits Nabi Muhammad Saw menjelaskan tanda-tanda  yang lebih jelas tentang dunia al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj ini, kemudian juga mengungkapkan banyak sisi gelap lainnya. Hadits-hadits tersebut menjelaskan bahwa mereka memiliki system dan petinggi yang dijadikan sebagai pusat perintah. Kemudian ia juga menjelaskan bahwa dinding yang dibuat oleh Raja Dzù al-Qarnain itu masih ada, yang menghalangi mereka untuk mewujudkan ketamakan mereka, yaitu untuk memerangi bumi dan merusaknya.

Karena itulah, di antara bentuk semangat mereka untuk menghancurkannya, mereka bergerak setiap paginya untuk melobangi dinding ini. Ketika hampir berhasil, mereka menunda kerjanya sampai besok lagi. Kemudian Allah SWT mengambalikannya menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

Dan, ketika Allah SWT nantinya mengizinkan mereka untuk keluar, maka sehari sebelumnya mereka melobangi dinding tersebut seperti biasanya. Ketika sudah hampir berhasil menghancurkannya, pemimpin mereka berkata, “Kembali lagi saja besok. Kalian akan berhasil menghancurkannya.”

Besoknya, mereka kembali lagi, dan dindingnya sesuai dengan kondisi ketika mereka tinggalkan. Tidak seperti sebelumnya, yang jikalau ditinggalkan, maka akan berubah seperti semula seolah-olah belum pernah tersentuh. Mereka melanjutkan kerjanya dan berhasil menghancurkannya.

Ketika berhasil, mereka keluar dengan cepatnya, meminum semua air sungai. Ketika sampai di Danau Tiberias, barisan yang ada di depan meminum airnya, dan ketika sampai giliran yang bagian belakang, ternyata airnya sudah habis, kemudian mereka berkata, “Tadi disini ada airnya.”

Orang-orang bersembunyi karena takut kepada mereka. Ketika itu, fitnah yang mereka buat semakin menjadi-jadi. Mereka menipu anak manusia, khususnya yang lemah keimanannya. Mereka menembahkkan anak panah ke langit, kemudian anak panah tersebut jatuh ke bumi dengan bercak darah. Ini merupakan cobaan dan ujian dari Allah SWT.

Mereka berkata, “Kita sudah berhasil menundukkan penduduk bumi, dan kita sudah berhasil mengalahkan penduduk langit.”

Kemudian, Allah SWT mengirimkan ulat yang keluar dari bagian belakang kepala mereka, menyebabkan kematian mereka. Kemudian mereka menjadi makanan bintang melata di muka bumi, sampai-sampai binatang itu menjadi gemuk karena saking banyaknya daging yang mereka makan, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Mâjah dalam sunannya.

Sejumlah hadits menjelaskan bahwa zaman keluarnya al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj, mereka sudah memiliki kekuatan yang luar biasa, jauh melampui seluruh anak manusia. Ada dua kemungkin dalam hal ini. Pertama, mereka lebih maju secara militer, sehingga mampu berkuasa dan mengalahkan yang lainnya. Kedua, ketika mereka keluar, peradaban materi yang ada sekarang ini sudah hilang, sehingga orang-orang berperang dengan cara klasik.

Sebagian riwayat  menjelaskan bahwa kaum muslimin akan menghadapi al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj dengan busur, panah, dan gear. Jangka waktunya selama tujuh tahun, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Mâjah dan selainnya.

Sejumlah hadits juga menjelaskan cirri fisik mereka, seperti wajah yang lebar, mata sipit, rambut pirang, dan wajah yang oval layaknya gear.

Sejumlah hadits juga menjelaskan bagaimana dahsyatnya kekufuran mereka, dan mereka adalah mayoritas penghuni neraka. Dalam hadits dijelaskan bahwa Allah SWT berfirman kepada Adam pada hari Kiamat, “Keluarkanlah para penghuni Neraka.” Beliau bertanya, “Siapa penghuni neraka?” Dia berfirman: “Dari seribu, ada Sembilan ratus Sembilan puluh Sembilan (penghuni neraka).” Para sahabat terkejut dan berkata, “Wahai Rasulullah, “Siapakah di atara kami yang seorang itu?” Beliau menjawab:
أبشروا فإن منكم رجلاً ومن يأجوج ومأجوج ألفاً
“Bergembiralah. Seorang laki-laki itu, dari kalian. Dan seribu, dari al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj.” (Hr al-Bukhari)

Sejumlah hadits juga menjelaskan bahwa mereka akan keluar di akhir zaman, dekat kiamat, ketika manusia dikuasai oleh kejahatan dan kerusakan. Rasulullah Saw bersabda:
لن تقوم الساعة حتى يكون قبلها عشر آيات؛ طلوع الشمس من مغربها، وخروج الدابة، وخروج يأجوج ومأجوج
“Kiamat tidak akan terjadi sampai terjadi sebelumnya sepuluh tanda-tanda; terbitnya matahari di barat, keluarnya al-Dâbbah, keluarnya al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj…” (Hr Abu Daud)

Suatu hari Rasulullah Saw menerima istrinya, Zainab binti Jahsy radhiyallahu anha, dengan penuh ketakutan seraya berkata:
لا إله إلا الله، ويل للعرب من شر قد اقترب، فتح اليوم من سدِّ "يأجوج ومأجوج" مثل هذه، وحلق بإصبعه الإبهام والتي تليها

“Tidak ada ilah  melainkan Allah. Celakalah orang-orang Arab karena kejahatan yang sudah mendekat. Pada hari ini, dibuka sudah dinding penghalang al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj seperti bulan ini.” (beliau melingkarkan jari jempolnya ke jari setelahnya)
Zainab berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kita akan  hancur, sedangkan di antara kita ada orang-orang shaleh?”
Beliau menjawab:
نعم إذا كثر الخبث
“Ya, jikalau banyak kekejian.” (Hr al-Bukhari)

Urutan keluarnya mereka, sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits tentang tanda-tanda kiamat, dimulai dengan keluarnya al-Dajjal, kemudian setelahnya turunlah Isâ al-Masíh alaihissalam, kemudian keluarlah setelahnya al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj.

Allah SWT memerintahkan Nabi Isâ alaihissalam untuk tidak memerangi mereka, tetapi dengan membawa orang-orang beriman bersama menuju Bukit Thursina, kemudian mereka dikepung disana. Mereka mengalami kelaparan yang luar biasa.

Kemudian, mereka berdoa kepada Allah SWT untuk diselamatkan dari kejahatan al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj. Allah SWT pun menurunkan ulat yang keluar dari tengkuk kepala mereka, sehingga mereka mati sendiri. Bumi dipenuhi bau busuk mereka. Setelahnya, Allah SWT kirimkan burung yang mirip leher unta, kemudian membawa al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj dan mencampakkan ke lokasi hanya diketahui-Nya.

Manusia pun mendapatkan kembali rasa aman mereka. Bumi mengeluarkan keberkahannya dan buah-buahannya. Sampai-sampai, semua anak manusia bisa makan bersama-sama dari satu tangkai anggur. Semua penduduk kampung bisa minum susu unta dengan sekali perah saja. Makmur sekali.

Setelah al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj dikalahkan, kaum muslimin menunaikan haji, sebagaimana djelaskan dalam hadits:
ليحجن البيت وليعتمرن بعد خروج يأجوج ومأجوج
“Mereka akan berhaji dan berumrah setelah keluarnya al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj.” (Hr Bukhari)


***

Hadits-Hadits yang Lemah (al-Dha’íf) dan Palsu (al-Maudhù’) Seputar al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj


Setelah dijelaskan sejumlah point seputar  dunia “al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj”, berdasarkan ayat-ayat al-Quran dan hadits-hadits Nabi, maka tidak salah pula jikalau dijelaskan juga sejumlah hadits lemah (al-Dha’íf) dan palsu (al-Maudhù’) yang mendeskripsikan mereka.

Hadits-hadits lemah (al-Dha’íf) dan palsu (al-Maudhù’) ini berperan melahirkan ketidakjelasan dan kekaburan seputar al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj. Di antaranya adalah…

Hadits:
يأجوج أمة، ومأجوج أمة، كل أمة أربعة آلاف أمة، لا يموت الرجل منهم حتى ينظر إلى ألف ذكر من صلبه كلهم قد حمل السلاح
“al-Ya’jùj adalah sebuah umat. al-Ma’jùj adalah sebuah umat. Setiap umat mencakup empat ribu umat. Tidak ada seorang laki-laki pun yang meninggal di antara merela, sampai diperlihatkan seribu laki-laki lainnya dari tulang punggungnya. Semuanya mengangkat senjata.”

Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Thabrâni dan Ibn ‘Adí dalam al-Kâmil dan berkata, “Ini adalah hadits yang Mungkar lagi Maudhù’”.

Kemudian Hadits:
إن يأجوج ومأجوج من ولد آدم، وإنهم لو أرسلوا إلى الناس لأفسدوا عليهم معايشهم، ولن يموت منهم أحد إلا ترك من ذريته ألفاً فصاعداً، وإن من ورائهم ثلاث أمم تاويل وتاريس ومنسك
“al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj dari anak Adam. Jikalau mereka dilepaskan kepada anak manusia, maka mereka akan merusak kehidupan mereka. Tidak ada seorang pun yang meninggal di antara mereka, kecuali akan meninggalkan keturunnya sebanyak seribu lebih. Di belakang mereka ada tiga umat; Tâwíl, Târís, dan Mansak.

Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Thayâlisí, kemudian al-Hâfidz Ibn Katsír mengtakan dalam kitabnya al-Bidâyah wa al-Nihâyah, “Hadits yang Gharíb sekali dan pensanadannya Dhâ’if. Ada derajat mungkar sekali dalam hadits ini.”

Hadits:
Hudzaifah bin al-Yamân radhiyallahu anhu bertanya kepada Rasulullah Saw tentang al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj, kemudian beliau menjawab:
يأجوج أمة ومأجوج أمة، كل أمة أربعمائة ألف أمة، لا يموت الرجل حتى ينظر إلى ألف ذكر بين يديه من صلبه، كل قد حمل السلاح
“al-Ya’jùj itu sebuah umat. Dan al-Ma’jùj itu sebuah umat. Setiap umat itu ada empat ratus ribu umat. Tidak ada seorang laki-laki pun yang meninggal di antara mereka, sampai diperlihatkan seribu laki-laki di hadapannya yang berasal dari tulang punggungnya. Semuanya membawa senjta.”

Saya bertanya, “Deskripsikan tentang mereka kepada kami?”
Beliau menjawab:
هم ثلاثة أصناف: فصنف منهم أمثال الأرز
“Mereka ada tiga kelompok. Di antara mereka adalah seperti al-Aruzz.”

Saya bertanya, “Apa itu al-Aruzz?”
Beliau menjawab:
شجر بالشام طول الشجرة عشرون ومائة ذراع في السماء، هؤلاء الذين لا يقوم لهم خيل ولا حديد، وصنف منهم يفترش بأذنه ويلتحف بالأخرى، لا يمرون بفيل ولا وحش ولا جمل ولا خنزير إلا أكلوه، ومن مات منهم أكلوه، مقدمتهم بالشام، وساقتهم بخراسان، يشربون أنهار المشرق وبحيرة طبرية
“Pohon di Syam yang tingginya seratus dua puluh hasta ke langit. Mereka tidak dibawa kuda, dan pula besi. Ada kelompok lainnya yang mereka yang telingannya menjuntai dan menutupi yang lainnya, tidaklah melewati gajah, binatang buas, unta, dan babi kecuali mereka memakannya. Siapa yang mati di antara mereka, maka yang lainnya akan memakannya. Kepala mereka ada di Syam, dan betis mereka ada di Khurasan. Mereka meminum air sungai-sungai yang ada di Timur dan Danau Tiberias.”

Al-Haitamí mengatakan, “Diriwayatkan oleh al-Thabrâni dalam Kitab al-Awsath. Dalam periwayatannya ada Yahyâ bin Sa’íd al-‘Atthâr. Kedudukannya Dha’íf. Ibn ‘Ady menghukumnya dalam al-Kâmil sebagai hadits Maudhù’ lagi Mungkar.”

***


Jadi, begitulah catatan seputar al-Ya’jùj dan al-Ma’jùj. Kita bisa melihat bagaimana turunnya makhluk itu menyebabkan dunia diliputi ketakutan yang luar biasa. Sampai-sampai, kemunculannya menyebabkan tidak ada yang berani berangkat haji dan umrah.

Kemudian setelah kematian mereka, dunia menjadi nyaman dan tentram. Nikmat melimpah. Dan itulah ujung masa kehidupan. Kiamat sudah dekat. []
Read More..

Masalah al-Nâsikh dan al-Mansùkh dalam al-Qurân al-Karím

Semua agama langit (al-Dín al-Samâwi ) turun untuk menegaskan akidah al-Tauhíd, mengesakan Allah SWT dalam peribadahan dan tidak menyembah selain-Nya. Semua Nabi dan Rasul membawa risalah ini kepada kaum mereka:
فَأَرْسَلْنَا فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata): "Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)." (Surat al-Mukminun: 32)

Hanya saja, untuk hokum syariat, antara satu Rasul dengan Rasul lainnya, ada perbedaannya, sebagaimana firman-Nya:
لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ ۖ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ ۚ وَادْعُ إِلَىٰ رَبِّكَ ۖ إِنَّكَ لَعَلَىٰ هُدًى مُسْتَقِيمٍ
Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari'at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari'at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus." (Surat al-Hajj: 67)

Masalah al-Nâsikh dan al-Mansùkh dalam al-Qurân al-Karím

Para Ulama mengkaji masalah al-Nâsikh dan al-Mansùkh ini di bawah kajian Ilmu al-Qurân al-Karím. Bahkan ada yang menulisnya secara khusus. Al-Naskh adalah mengangkat hokum syariat dengan al-Khitâb (risalah) syariat. Artinya, al-Naskh itu tidak bisa dilakukan dengan akal dan al-Ijtihâd.

Ruang terjadinya al-Naskh itu adalah perintah (al-Awâmir) dan larangan (al-Nawâhi) semata. Sedangkan untuk masalah akidah, akhlak, Ushùl al-Ibâdah, dan al-Akhbâr al-Sharíhah (berita-berita yang jelas) yang tidak ada kandungan perintah dan larangannya, maka tidak tersentuh oleh al-Naskh.

Mengetahui al-Nâsikh dan al-Mansùkh, sangat penting sekali bagi para ulama. Sebab, dengan mengetahuinya, hokum-hukum syariat bisa diketahui, bisa juga diketahui hokum apa yang masih berlaku dan hokum apa yang sudah disentuh al-Naskh.

Para ulama sudah menentukan metode-metode untuk mengetahui al-Nâsikh dan al-Mansùkh, di antaranya al-Naql al-Sharíh (penukilan yang jelas) dari Nabi Muhammad Saw, atau sahabat. Di antara contoh al-Nâsikh dan al-Mansùkh yang dinukil dari Nabi Saw:
كنت نهيتكم عن زيارة القبور ألا فزروها
“Dahulu saya melarang kalian untuk ziarah kubur. Maka, ziarahilah.” (Hr Muslim)

Di antara contoh al-Nâsikh dan al-Mansùkh yang dinukil dari sahabat adalah ucapan Anas bin Malik radhiyallahu anhu tentang kisah sumur Ma’ùnah. Ada al-Qurân yang turun tentang mereka, kemudian di-Naskh:
بلِّغوا عنا قومنا أن قد لقينا ربنا فرضيَ عنا ورضينا عنه
“Sampaikan tentang kami kepada kaum kami, kami sudah bertemu Rabb kami, kemudian Dia ridha dengan kita, dan kita ridha dengan-Nya.” (Hr al-Bukhari)

Di antara Metode al-Naskh lainnya adalah dengan Ijma’ umat, mengetahui sejarah hokum yang terdahulu dari yang kemudian. Namun perlu diingat dengan  baik bahwa al-Naskh tidak ditetapkan dengan al-Ijtihâd, tidak sekadar dengan kontradiksi antara al-Zhâhir dengan dalil. Semua hal ini dan semisalnya, tidak bisa menetapkan al-Naskh.

***

Jenis-Jenis  al-Nâsikh dan al-Mansùkh


Al-Nâsikh dan al-Mansùkh ada beberapa jenis.

Pertama, Naskh al-Qurân bi al-Qurân (Menaskh al-Qurân dengan al-Qurân)
Misalnya adalah firman Allah SWT:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا ۗ وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir." (Surat al-Baqarah: 219)

Kemudian dinaskh oleh ayat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan." (Surat al-Maidah: 90)

Jenis yang pertama ini adalah jenis yang disepakati oleh para ulama. Tidak ada perbedaan di antara mereka dalam masalah ini.

Kedua, Naskh al-Sunnah bi al-Qurân (Menaskh sunnah dengan al-Qurân)
Contohnya, Naskah menghadap shalat ke arah Baitul Maqdis yang ditetapkan dengan sunah, kemudian dinaskh dengan firman Allah SWT:
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." (Surat al-Baqarah: 144)

Ada juga kewajiban puasa hari ‘asyurâ yang ditetapkan denan sunnah, yang dinaskh dengan puasa Ramadhan dalam firman-Nya:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (Surat al-Baqarah: 185)

Ketiga, Naskh al-Sunnah bi al-Sunnah
Contohnya, Naskh bolehnya menikah al-Mut’ah yang awalnya boleh, kemudian di-Naskh. Diriwayatkan oleh Iyâs bin Salamah, dari bapaknya berkata:
رخص رسول الله صلى الله عليه وسلم عام أوطاس في المتعة ثم نهى عنها
“Rasulullah Saw memberikan keringnan di Tahun Awthâs untuk melakukan al-Mut’ah, kemudian dilarang.” (Hr Muslim)

Imâm al-Bukhâri membuat Bab masalah ini, dengan judul “Bâb Nahâ Rasùlullah Shallâhu alaihi wa Sallam ‘an Nikâh al-Mut’ah”.

***

Bentuk-Bentuk al-Nâsikh dan al-Mansùkh dalam al-Qurân al-Karím


Dalam al-Qurân al-Karím, ada beberapa bentuk.

Pertama, Naskh al-Tilâwah dan al-Hukm Bersamaan
Contohnya adalah hadits Aisyâh radhiyallahu anha yang mengatakan:
كان فيما أنزل عشر رضعات معلومات يحُرمن، ثم نُسخن بخمس معلومات
“Dahulu diturunkan sepuluh susuan tertentu yang menyebabkan mahram, kemudian dinaskh menjadi lima susuan.” (Hr Muslim)

Kedua, Naskh al-Hukum dan tetapnya al-Tilâwah
Contohnya, firman Allah SWT:
الْآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا ۚ فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ
Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (Surat al-Anfal: 66)

Ayat berikut ini menghapus hokum ayat sebelumnya, namun al-TilâwaH atau bacaannya tetap ada, yaitu:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ ۚ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ
Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti." (Surat al-Anfa;: 65)

Ketiga, Naskh al-Tilâwah dan tetapnya al-Hukm
Contohnya adalah hadits Asyah radhiyallahu anha “Kemudian dinaskh dengan lima susuan”. Ditentukannya al-Radhâ’ah dengan lima kali susuan sebagai penyebab Mahram, hukumnya tetap namun tidak al-Tilâwah.

***

Hikmah dan Tujuan al-Nâsikh dan al-Mansùkh dalam al-Qurân al-Karím


Adanya al-Naskh dalam Syariah, memiliki sejumlah hikmah. Di antaranya menjaga kemaslahatan para hamba Allah SWT. Tidak diragui, sejumlah maskah dakwah Islam di awal kemunculannya, berbeda setelah konsis dan tegaknya. Hal itu menuntut diubahnya sejumlah hokum, demi menjaga kemaslahatan tersebut. Ini jelas termaktub dalam sejumlah hokum-hukum yang terdapat di masalah Makkah )al-Marhalah al-Makkiyah) dan masa Madinah (al-Marhalah al-Madaniyah), begitu juga ketika awal masa di Madinah dan ketika wafatnya Nabi Muhammad Saw.

Hikmah atau tujuanlainnya adalah untuk ujian untuk para Mukallaf, apakah akan menjalankannya atau tidak? Juga untuk kebaikan umat ini dan memudahkanmereka. Sebab, walaupun al-Naskh itu dialihkan ke sesuatu yang lebih sulit, namun ada tambahan pahalanya. Jikalau dialihkan ke yang lebih ringan, maka ada kemudahannya. []
Read More..

Manhaj al-Hiwār (Metode Dialog) Dalam al-Qurān al-Karím

Perbedaan di antara manusia adalah sesuatu yang sunnatullah, yang sudah di-Qadha oleh Allah SWT semenjak zaman Azali. Semua itu sebagai ujian bagi anak manusia dan sebagai al-Taklíf bagi mereka yang ditunjuk sebagai khalifah di muka bumi.

Allah SWT berfirman:
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu." (Surat al-Maidah: 48)

Manhaj al-Hiwār (Metode Dialog) Dalam al-Qurān al-Karím

Dalam ayat lainnya dijelaskan:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ أَنْ تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَىٰ مِنْ أُمَّةٍ ۚ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ اللَّهُ بِهِ ۚ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu." (Surat al-Nahl: 92)

Dan firman-Nya:
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَلَتُسْأَلُنَّ عَمَّا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan." (Surat al-Nahl: 93)
Read More..

Dialektika Fikih (al-Takyíf al-Fiqhí) Terhadap Seni

Entah bahasa apa yang cocok untuk mengartikan al-Takyíf ini dalam bahasa Indonesia. Ada yang mengartikannya dengan “Adaptasi”. Ada juga yang mengartikannya dengan “Dialektika”. Ada juga yang saya dapati mengartikannya dengan “Rekayasa”.  Untuk yang terakhir, maknanya terlalu peyoratif. Saya tidak setuju. Sebab, makna al-Takyíf al-Fiqhí  itu positif.

Entah mana yang cocoh. Tapi nanti kita bisa menentukan artinya yang cocoknya atau mendati makna aslinya setelah membaca Artikel berikut.

Al-Takyíf merupakan istilah undang-undang, kemudian dipinjam dan digunakan dalam kajian fikih. Inilah awal mula digunakannya istilah al-Takyíf al-Fiqhí di kalangan ulama kontemporer, yang sepadan dengan makna yang digunakan ketika menyebut al-Takyíf al-Qanùni (al-Takyíf atas Undang-Undang).

Dialektika Fikih (al-Takyíf al-Fiqhí) Terhadap Seni

Maksud al-Takyíf al-Fiqhí atau al-Takyíf al-Qanùni adalah menentukan pengertian al-Tasharruf (tindakan) atau masalah atau kejadian yang dilihat dengan pandangan fikih atau undang-undang atau peradilan, kemudian membaginya dan menempatkannya di bab yang sesuai, agar bisa diolah dan ditetapkan hukumnya sesuai dialektikanya dan susunannya.

Misalnya, apakah tindakan ini masuk dalam bab Ibadah atau Muamalah atau Adat Kebiasaan?  Apakah ini wajib atau Haram, dianggap salah satu hak Allah SWT atau hak para hamba? Apakah ini criminal yang masuk ke dalam bab al-Hudùd atau bab al-Qishâs atau bab al-Ta’zír? Apakah pembunuh ini jenisnya al-‘Amd atau Khata’ atau Syibh ‘Amd? Apakah menguasai harta orang lain dalam kondisi ini dengan deskripsi seperti ini dianggap pencurian, atau diangggap pengkhiatan terhadap amanah atau Perampokan?

Jawaban terpilih dari setiap pertanyaan dan pemisalanya ini, dianggap sebagai Dialektika dan Pembagian awal masalah , yang akan menjadi pondasi hokum-hukum fikih atau undang-undang atau peradilan.

Read More..

Metode Dakwah Menakut-nakuti Umat dengan Pandangan Fikih (al-Takhwíf al-Fiqhí)

Dalam kehidupan sehari-hari, Metode Menakut-nakuti (al-Takwíf) atau Mengancam dan sejenisnya, menjadi sesuatu  yang lumrah dilakukan. Ini berlaku dalam semua bidang kehidupan. Jikalau ancamannya sesuatu yang tidak menghilangkan nyawa atau tidak membahayakan, maka mungkin tidak begitu masalah. Walaupun mungkin dari sisi Teori Pendidikan, tetap masalah. Tapi jikalau ancamannya sampai menghilangkan nyawa, atau menakutkan, jelas ini tidak boleh. Haram dilakukan.

Kita mulai contohnya dari kehidupan keluarga. Ada suami yang menakut-nakuti istrinya, “Kalau kamu tidak nurut, saya ceraikan kamu.” Atau “Kalau kamu tidak turuti perintahku, saya tidak akan memberikan uang bulanan.” Dan banyak lagi cara lainnya.

Metode Dakwah Menakut-nakuti Umat dengan Pandangan Fikih (al-Takhwíf al-Fiqhí)

Ada juga bapak yang menakut-nakuti anaknya, “Jikalau kamu tidak belajar dengan baik, kamu akan bapak kirim ke kampung, tinggal bersama Mbahmu.” Atau “Kalau kamu masih malas-malasan, kamu tidak akan Bapak kasih uang jajan.” Itu baru sedikit.

Di kantor juga ada, yaitu ketika Direktur atau pimpinan menakut-nakuti bawahannya, “Jikalau pekerjaan ini tidak beres, kamu akan saya pecat.” Atau “Jikalau kamu datang telat lagi, maka gaji kamu akan saya potong.” Dan banyak lagi.

Di sekolah atau di kampus, juga berlaku. Dosen kepada Mahasiswanya. Atau Guru kepada muridnya. “Kalau kamu masih bicara dalam kelas, saya akan keluarkan kamu.” Atau “Jikalau kamu tidak bisa diam ketika belajar, nilai kamu akan saya kasih ‘D’.” Dan banyak lagi.

Hehe…

Hanya saja, ada jenis menakut-nakuti yang paling dahsyatnya dan paling berbahaya, yaitu menakut-nakuti dengan dalih (ingat dalih, bukan dalil) agama, sebab orang yang melakukannya merampas kesucian para pengucapkannya, melakukan cap halal dan haram. Sehingga, seorang orang yang berbeda pendapat dengannya, dicap sebagai pelaku maksiat, durhakan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, bahkan bisa jadi ia mengklaim orang yang  bertentangan dengannya sudah keluar dari ajaran Islam, atau disebut ahli bidah minimal.

Semakin rendah tingkat keilmuan seseorang, maka semakin kuat jugalah nepotismenya dan semakin sering juga ia menggunakan metode menakut-nakuti dengan dalih agama. Seolah-olah ia beranggap bahwa pandangannya dan pendapatnya adalah agama dan wahyu, dan yang lainnya hanyalah pengikut hawa nafsu.

***

Realita dan Fakta di Masyarakat


Bukan sekali dua kali, saya beberapa kali mendengar dan juga mendengar aduan dari beberapa teman, ada sejumlah Ustad, Khatib, Dai, Muballigh, yang menyampaikan kepada khalayak ramai dan jamaah bahwa Zakat Fitrah tidak boleh dengan Uang.

Ia menjelaskan bahwa Nabi Muhamamd Saw tidak ada riwayat yang tsabit darinya yang menjelaskan bahwa beliau mengeluarkannya dalam bentuk uang, tidak ada juga riwayat dari sahabat, kemduian ia paparkan sejumlah hadits.

Sampai disini tidak ada masalah. Sebab saya juga pernah menyampaikan seperti di tengah masyarakat. Bedanya, saya tidak menyatakan “tidak boleh” secara mutlak. Saya cuman bilang “asalnya zakat fitrah itu dengan makanan pokok” bukan dengan uang. Kalau dengan kata “tidak boleh”, saya tidak melakukannya.

Oke. Kita balik lagi. Sampai disini, tidak masalah. Khatib atau Ustadz atau Dai ini berpegang dengan pendapat Jumhur Ulama yang menyatakan Zakat fitrah dengan Makanan Pokok. Masalahnya muncul, ketika ucapannya itu disambung dengan merendahkan danmenghinakan pendapat Imam Abu Hanifah, dengan mengatakan:
“Jikalau ada wakyu, kemudian ada pendapat manusia, mana yang akan diikuti? Apakah akan mengikuti wahyu Allah SWT dan pendapat Rasulullah Saw atau pendapat Fulan atau Fulan, walaupun banyak ilmunya?”

Gila juga nih. Jikalau ia menguatkan pendapat Jumhur Ulama, silahkan saja. Tidak masalah. Hanya saja tidak usah pakai menakut-nakuti umat denga pandangan fikih. Jadinya apa? Orang-orang berpikir bahwa pendapat Abu Hanifah bertentangan dengan waktu, menyelisihi wahyu. Padahal, Abu Hanifah, siapa yang meragukan ilmunya? Beliau memang dikenal Ahli Ra’yi, tapi bukan logika kosong tanpa dalil. Antara si Dai atau Ustadz dengan Abu Hanifah, bagaimana bumi dan langit? Jauuhh…

Apakah orang ini tidak tahu bahwa mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang adalah pendapat Mu’âwiyah radhiyallahu anhu, yang diamalkan di zaman para sahabat banyak yang masih hidup dan bernafas.  Ia juga merupakan pendapat Amír al-Mukminín Umar bin Abdul Aziz, kemdian juga pendapat ulama besar di kalangan Salaf al-Hasan al-Bashri, juga merupakan pendapat al-Imâm al-Bukhâri, salah satu riwayat dari al-Imâm Ahmad, dan merupakan pendapat yang dipilih oleh Syeikh al-Islâm Ibn Taimiyah ketika memang dibutuhkan. Nah, apakah mereka semuanya menyelisihi wakyu!

Jono… Jono… ^_^

Tidak masalah jikalau sesoerang menguatkan suatu pendapat atas pendapat lainnya, kemudian  menjelaskan dalil-dalil yang menjadi sandaranya, dengan syarat jangan membuat orang lain takut dengan pendapat ulama lainnya yang berbeda dengan pendapatnya, tidak menuduh ulama lainnya menyelisihi wahyu dan agama, tidak menuduhnya berdasarkan logika semata dan hawa nafsu. Semua itu tentu akan berpengaruh negative ke masyarakat awam.

***

Metode Lainnya Untuk Menakut-nakuti Atas Nama Agama


Ada juga Metode menakut-nakuti Umat dengan mencomot hokum dari sebuah ayat atau sebuah hadits, tanpa melihat al-Ta’wíl (kontekstual) yang ada padanya; apakah maknanya al-Haqíqah atau al-Majâz? Apakah ada indikasi yang memalingkannya dari makna al-Zhâhir atau tidak? Apakah ia Muthlaq atau Muqayyad? Apakah hukummya al-‘Umùm atau al-Khusùs? Apakah hubungan dengan dalil-dalil iannya dari al-Qurân dan Sunnah? Bagaimana menggunakan perangkat al-Tarjíh jikalau al-Zhâhir mengalami kontradiksi? Kemudian juga perlu diperhatikan adab perbedaan pendapat (Adâb al-Khilâf), tidak merendahkan yang lainnya dan tidak meremehkan pendapat mereka. Tetapi, sebagaimana dikatakan oleh al-Imâm al-Syâfii, “Pendapat saya benar, namun ada kemungkinan salah. Dan pendapat selain saya salah, tetapi ada kemungkinan benarnya.”

Ketika melakukan al-Ijtihâd, hal pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan dalil-dalil dalam satu amsalah, kemudian berusaha menyatukannya. Jikalau tidak bisa, maka dilakukan al-Naskh. Jikalau tidak bisa, maka dilakukan al-Tarjíh dengan perangkat-perangkatnya.

Itulah sebabnya mengapa para ulama memberikan perhatian khusus ke masalah yang dinamakan dengan al-Wahdah al-Maudhù’iyyah dalam al-Qurân al-Karím. Sebab ketika semua ayat dikumpulkan dalam satu tema, ia akan memberikan deskripsi sempurna tentang tema terkait.

Ada juga Metode untuk menakut-nakuti dengan pandangan fikih, dengan cara melakukan al-Istihzâ’ dan al-Sukhriyah (Merendahkan dan Meremehkan). Caranya, dengan menuduh orang lain atau Ustadz lain atau Ulama lain atau Dai lainnya bukanlah orang yang berilmu atau bukan ulama, bukan ahli fikih, atau sekadar cendekiawan saja yang ilmunya parsial, atau ia tidak layak dijadikan sebagai standar Islam dan ahli fikih, atau ia sesat dan pelaku bidah, atau ia lebih buruk dari Yahudi dan Nasharni. Dan masih banyak sebutan menakutkan lainnya, yang tujuannya merendahkan dan menghinakan.

Metode selanjutnya, yang sering digunakan untuk menakut-nakuti umat dengan pandangan fikih adalah dengan mengatakan “jikalau kalian tidak mau mengamalkan pendapat ini, yang sesuai dengan al-Quran dan Sunnah (kata mereka), maka Allah SWT akan menyiksa kalian.”

Jelas saja, yang mereka lakukan itu memudharatkan Islam dan umat Islam. Mereka menyempitkan ruang Islam yang luas, menyulitkan umat dengan sesuatu yang sudah dimudahkan oleh Allah SWT. Dan yang paling berbahaya lagi, mereka melayani para musuh Islam di sisi lainnya. Kenapa? Sebab umat Islam menjadi rigid, kaku. Tidak berkembang. Kolot.

Metode selanjutnya untuk menakut-nakuti umat dengan pandangan fikih adalah menggosipkan dan mengghibah mereka dalam majelis-majelis yang mereka adakan. Mereka mengklaim bahwa gossip seperti ini bukanlah sesuatu yang diharamkan, sebab ia al-Tahdzír agar tidak masuk ke jurang bidah dan kemungkaran, walaupun mereka benar.

Parahnya, ada juga yang lansung menyebut subjeknya. Padahal Nabi Muhammad Saw saja, jikalau melihat sebuah kemungkaran yang dilakukan oleh salah seorang sahabatnya, maka beliau hanya akan mengatakan di depan khalayak ramai, “Mâ Bâlu Aqwâm Yaf’alùn Hakadza (apa yang terpikir oleh suatu kaum yang melakukan ini?” Jikalau ini dilakukannya dalam al-Mukhâlafah al-Sharíhah (penyelisihan yang jelas dan nyata), maka bagaimana seharusnya tindakan kita dalam hal-hal yang khilâfiyah, yang kedua pendapat tegak di atas dalil dan al-Ijtihâd?!

Efeknya tidak sampai disitu, masalah-masalah furu’ fikih ini masuk ke ruang lowongan kerja. Jikalau memang instansinya khusus miliki suatu kelompok, ya tidak ada masalah. Usaha miliki Muhammadiyah, untuk kader Muhammadiyah. Usaha milik NU, untuk kader NU. Tidak ada masalah. Tapi, kalau sampai Instansi milik pemerintah, namun dikhususkan untuk suatu kelompok, itu jelas masalah. Pemerintah milik rakyat. Dan rakyat itu terdiri dari semua kelompok. Ini semakin membuat perpecahan saja. 

***


Kita harus mempu membedakan antara al-Ikhtilâf al-Mahmùd (perbedaan yang terpuji) yang tegak di atas dalil dan al-Intishâr li al-Ra’yi (memenangkan pendapat) selama kita meyakininya, dengan menggunakan al-Takhwíf al-Fiqhí (menakut-nakuti dengan fikih) berdasarkan sangkaan demi memenangkan kebenaran.

Itu beda.[]
Read More..

Ciri-Ciri Fuqahā’ al-Ummah (Ahli Fikih/ Ulama Umat Islam)

Ulama atau Ahli Fikih memiliki kedudukan mulai di masa lalu, dan juga di masa sekarang ini. Hanya saja, pengertian al-Fuqahā’ atau al-Ulamā’ perlu diulang dan dikaji lagi.

Para ulama mengartikan al-Fuqahā’ adalah ulama yang paham hokum-hukum syariat. Ada syarat-syaratnya agar terwujud sifat paham ini, di antaranya:

  • Al-Istizhār (Mampu Memaparkan). Para Ulama mensyaratkan seorang Ahli Fikih adalah seorang yang mampu memaparkan atau menampilkan al-Quran al-Karím, Sunnah Nabi Muhammad Saw, Ijmā’ ulama, pendapat para sahabat, paham dengan Bahasa Arab, paham kaedah-kaedah fikih dan ushul Istidlāl.
  • Al-Fahm (Paham) dan al-Istidlāl (Mampu Berdalil). Maksudnya, alat logika ketika mengkaji hokum fikih haruslah benar dan istimewa, membuatnya mampu mengetahui Metode al-Istidlāl, terlatih menggunakan al-Qiyās al-Shahíh, memahami al-Quran dan sunnah dengan cara yang diinginkan oleh syariat, terlatih menggunakan metode al-Ijtihād seperti al-Istihsān, al-Istishāb, dan al-Istislāh, mampu mengkadar al-Mashālih, melakukan al-Tarjíh di antara Maslahah-Maslahah dan Mudharat-Mudharat yang saling kontradiksi, kemudan melakukan al-Muwāzanah dengan menggunkan al-Maqāshid dalam teks-teks syariat.

Maksud al-Fuqahā’ dalam bahasan ini, ia adalah seorang yang Mujtahid, bukan al-Muqallid, tidak terpenjara oleh konklusi fikih yang terkait dengan masa lalu. Ini bukan berarti meninggal warisan al-Fuqahā’ masa lalu yang luar biasa, tapi warisan tersebut bukanlah warisan suci. Kita mengambil darinya apa yang bermanfaat. Hal paling agung dari Ijtihad-Ijtihad Fikih masa lalu adalah Minhaj al-Ijtihād (Metode Ijtihad) di kalangan ulama masa lalu. Dan inilah yang kurang dimiliki oleh kalangan kontemporer.

Ciri-Ciri Fuqahā’ al-Ummah (Ahli Fikih/ Ulama Umat Islam)

Peran al-Fuqahā’ pada hari ini dan batasan al-Madlùl, tidaklah sekadar untuk ilmiah semata, tapi juga untuk moral dan etika yang nilainya tidak kalah penting dibandingkan dengan ilmiah. Salah satu tanggung jawab al-Fuqahā’ pada hari ini adalah mengetahui muara pendapat-pendapatnya, fatwa-fatwanya, dan kalamnya yang sudah disampaikannya kepada khalayak.

Al-Quran al-Karim menggambarkan tanggung jawab ini dengan firman-Nya:
قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya." (Surat al-Qashash: 26)

Kemudian ungkapan Nabi Yusuf alaihissalam:
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan." (Surat Yusuf: 55)

Orang-orang awam menduga bahwa semua orang yang berbicara masalah agama adalah Ulama, Ustadz, dan sejenisnya adalah orang yang berbicara masalah agama, bisa berkhutbah, dan bisa bertabligh. Apalagi di zaman sekarang ini, ketika begit banyak channel youtube, channel televise, dan media social.

Semua orang, sekarang ini, bisa berbicara masalah agama dan atas nama agama, yang sebenarnya masalah menjad aib bagi Islam itu sendiri. Harus dibedakan antara dai pemberi nasehat atau ustadz dengan ulama Ahli Fikih yang mampu berijtihad. Harus dibedakan antara orang yang spesialisasinya Tafsir dengan yang spesialisasinya ilmu hadits, antara yang spesialisasinya ilmu social politik Islam denganyang spesialisasinya ilmu akidah atau ilmu syariah. Semua tidaklah sama dalam kemampuan. Masing-masing ada lebihnya, ada kurangnya.

Dalam catatan kali ini, kita akan mengurai tulisan menarik yang berjudul ‘Alāmāt Faqíh al-Ummah, karangan Syeikh Mas’ùd Shabri. Sebuah catatan menarik dan patut dibaca dengan sebaik-baiknya.


***

Peran al-Fuqahā’ atau al-Ulamā’ di Tengah Masyarakat


Peran al-Fuqahā’ atau al-Ulamā’ di Tengah Masyarakat muslim bukan sekadar menjelaskan halal dan haram atas masalah-masalah baru, atau masalah-masalahyang terjadi di tengah masyarakat. Seorang Ahli Fikih yang Mujtahid adalah dokter umat ini, ahli pikir peradabannya, arsitek peradabannya, dan penasehat rakyatnya menuju jalan kebaikan dan ketakwaan, serta mengamalkan yang Allah SWT ridhai.

Masalahnya, proses pembentukan al-Fuqahā’ pada hari ini, tidak membentuk sosok yang seperti itu, tidak mampu menjalankan peran-peran yang jauh lebih sulit dari sebelumnya, karena kondisi-kondisi yang ada di sekitarnya, kondisi-kondisi peradaban dan global yang dijalani umat Islam pada hari ini, seperti kondisi yang lemah, rendah, tidak mampu mengambiil berbagai keputusan.

Semua itu artinya, kita membutuhkan reinstall proses pembentukan al-Fuqahā’ di tengah umat, agar bisa menyatukan antara ilmu dengan amal, hafalan dan pemahaman, al-Tarbiyah dan al-Harakah, al-Shalāh dengan al-Ishlāh, agama dan dunia, bergabung dan menyendiri.

***

Ciri-Ciri al-Fuqahā’ yang Benar


Di antara tanda-tanda al-Fuqahā’ adalah sebagai berikut:

1# Menjaga Diri (al-Wara’) dari Segala Hal yang Diharamkan oleh Allah SWT

Sifat pertama seorang al-Fuqahā’ adalah menjauhi semua yang diharamkan oleh Allah SWT, khususnya hal-hal yang berhubungan dengan dosa besar.

Al-Sya’bi mengatakan, “Kita bukanlah ulama dan bukan pula ahli fikih, namun kita hanyalah kaum yang mendengar sebuah hadits, kemudian kami menyampaikan apa yang kami dengar. Orang yang Ahli Fikih adalah menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT. Dan ulama itu adalah orang yang takut kepada Allah SWT.

Imām Ahmad bin Hanbal dalam al-Zudh, halaman 306, mengatakan, “Orang yang Ahli Fikih adalah orang yang takut terhadap Allah SWT.”

Ahli Fikih yang benar adalah orang yang paling takut kepada Allah SWT di antara sekalian anak manusia, paling konsisten menjalankan segala perintah-Nya, sebagaimana dijelaksan oleh Ibn al-Jauzi dalam kitabnya Ighāsat al-Lahfān min Mashāyid al-Syaithān (1/343):
“Orang yang Ahli Fikih adalah orang yang takut kepada Allah SWT dengan menjaga segala aturan-Nya, mengagungkan segala haram-Nya, dan konsisten menjalankannya, bukan orang yang melakukan kilah untuk membolehkan hal-hal yang diharamkan-Nya dan menggugurkan hal-hal yang diwajibkan-Nya.”

Sebagian sahabat menasehati sebagian lainnya untuk menjaga Fiqh al-Kahsyah (Rasa Takut kepada Allah SWT) sebelum Fiqh al-Qirthās (Fikih di atas Kertas), sebagaimana riwayat dari Abu al-Qamah al-Laitsi berkata, “Umar bin al-Khattāb menulis surat Abu Musa al-Musy’ari rahimahullah bahwa Ahli Fikih bukanlah dengan banyaknya pemaparan, luasnya penjelasan, banyaknya riwayat, namun fikih tersebut adalah rasa takut kepada Allah SWT.”

Dari Laits berkata, “Saya bertanya kepada al-Sya’bi, kemudian ia menghadap kepadaku dan menyerangnya dengan pertanyaan. Kemudian ia berkata, ‘Wahai sekalian ulama, kalian menahan hadits-hadits kalian dari kami, dan kalian menyerang kami dengan pertanyaan? Kemudian al-Sya’bi menjawab, ‘Wahai sekalian ulama, wahai sekalian Ahli Fikih. Kami bukanlah ulama, dan bukan pula Ahli Fikih. Tetapi, kami adalah kamu yang mendengar sebuah hadits, kemudian kami memberitahukan apa yang kami dengar. Ahli Fikih itu adalah orang yang menjaga diri (al-Wara’) dari segal hal yang diharamkan oleh Allah SWT. Dan orang yang Alim adalah orang yang takut kepada-Nya.”

2# Tidak menyebabkan Orang Lain Putus Asa dari rahmat Allah SWT

Orang yang Ahli Fikih bukan sekadar menyingkap hokum-hukum fikih, tetapi menggengam tangan anak manusia menuju Allah SWT, kemudian membuat mereka berharap rahmat-Nya, karunia-Nya, dan keampunan-Nya; mendekatkan mereka kepada Rabb mereka, dan membuat mereka mencintai-Nya. Itulah tujuan fikih paling agung, bahkan agama.

Imam Ibn Taimiyah mengatakan dalam Kitab al-Istiqāmah (2/ 190):
“Orang yang Ahli Fikih sebenarnya, tidak membuat orang lain berputus asa dari rahmat Allah SWT, tidak membuat mereka berani bermaksiat kepada-Nya. Menganggap halal segala hal yang diharamkan-Nya adalah kekufuran, dan putus asa dari rahmat-Nya adalah kekufuran.”

Makna serupalah yang dinukil oleh al-Ajiry dalam Akhlāq al-Ulamā’, halaman 72), dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata, “Apakah kalian ingin saya beritahukan dengan Ahli Fikih sebenarnya? Orang yang tidak membuat orang lain beroutus asa dari rahmat Allah SWT, tidak meringankanmereka untuk bermaksiat kepada-Nya, tidak membuat mereka merasa aman dari hukuman-Nya, tidak membiarkan al-Quran untuk selainnya. Tidak ada kebaikan dalam ibadah yang tidak ada kefakihannya. Tidak ada kebaikan dalam kefakihan, yang tidak ada kepahamannya. Dan tidak ada kebaikan dalam bacaan yang tidak ada tadabburnya.”

3# Mampu Menimbang-nimbang di antara yang Terburuk dari Dua hal yang Buruk

Ahli Fikih sebenarnya tidak tegak bersama teks setengah-tengah, atau tegas di atas pehaman yang rusak terhadap cabang-cabang masalah agama tanpa melihat masalah-masalah kuliyyahnya. Tetaoi, ia melakukan al-Muwāzanah (timbang-menimbang) untuk memilih mana yang terburuk di antara dua hal yang buruk, tidak melarang kemungkaran yang akan melahirkan kemungkaran yang lebih besar.

Sebagaimana dijelaskan oleh Syeikh al-Islām Ibn Taimiyah dalam al-Majmù al-Fatāwa (30/ 223):
“Bukanlah Ahli Fikih, seseorang yang sengaja melakukan larangan Nabi Muhammad Saw untuk menolak sebuah kerusakan, kemudian ia  berpalong ke kerusakan yang lebih dahsyat. Ini sama saja dengan orang yang menyewa pasir panas dengan api.”

4#Beretika

Keahlian Fikih yang membuat pikiran seorang Ahli Fikih berkutat di seputar Istikhrāj hokum syariah, mengetahui batas-batas yang jelas seputar hokum perbuatan manusia; wajib, sunnah, haram, makruh, dan boleh, bisa jadi membuatnya akhlaknya dan etikanya menjadi kering. Makanya, wajib bagi seorang Ahli Fikih memperhatika akhlaknya dan etikanya, agar menjadi teladan orang lain dalam akhlak dan interaksi, sebagaimana ia juga menjadi teladan dalam ilmu dan pengetahuan.

Di antara akhlak yang paling penting dalam hal ini adalah al-Tawādhu’ (Rendah Hati) kepada orang lain dan para pengkaji ilmu, sebab ilmu yang merupakan pintu menuju kebaikan dan ridha Allah SWT, juga bisa menjadi pintu yang membuat seseorang bersikap somboong dan angkuh kepada yang lainnya, karena merasa memiliki apa yang tidak dimiliki selainnya.

Generasi Salaf memahami makna ini. Abu Hazim menjelaskan, “Seorang ulama tidaklah disebut ulama sampai ada pada dirinya tiga hal; tidak merendahkan ulama yang keilmuannya berada di bawahnya, tidak mendengki orang yang keilmuannya di atasnya, dan tidak mengambil dunia atas ilmunya.”

Mathar al-Warāq mengatakan, “Saya bertanya kepada al-Hasan tentang suatu masalah yang difatwakannya, kemudian sata berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Said, para Ahli Fkih enggan akan dirimu.’ Ia menjawab, “Apa maksudnya wahai Mathar? Apakah engkau tidak melihat seorang Ahli Fikih pun dengan matamu? Apakah engkau tahu apakah Ahli Fikih? Orang yang Ahli Fikih adalah orang yang wara’, zuhud, menjalankan sunnah Rasulullah Saw, tidak merendahkan orang yang lebih rendah darinya, tidak mencela orang yang di atasnya, dan tidak mengambil gandum atas ilmu yang Allah SWT ajarkan atas dirinya.”

5# Bagus Ibadahnya

Suatu hal yang lumrah di kalangan Ahli Fikih jikalau mereka sibuk dengan ilmu dibandingkan ibadah. Ini sesuatu yang salah. Sebab, bagaimana ia akan mendapakan kemenangan jikalau tidak bisa menjalankan shalat beberapa rakaat di malam hari? Berapa banyak masalah rumit yang tidak mampu diurai dengan perangkat-perang Ijtihad sama, bamu dengan futuhāt Allah SWT atas diri Ahli Fikih.

Makna inilah yang diriwayatkan dari al-Hasan, yang suatu hati didatangi seseorang bertanya meminta fatwa, “Wahai Abu Said, pada Ahli Fikih lainnya memfatwakan sesuatu yang berbeda dengan pendapatmu.” Kemudian al-Hasan marah dan berkata, “Apa maksudnya? Apakah engkau melihatnya sebagai Ahli Fikih?” Laki-laki itu terdiam dan berkata, “Wahai Abu Said, siapakah Ahli Fikih itu?” Ia menjawab, “Orang yang zuhud atas dunianya, mengejar akhiratnya, mengetahui agamanya, rajin beribadah. Itulah Ahli Fikih.”


6#Menyebarkan Ilmunya

Bukanlah Ahli Fikih, seseorang yang hidup di antara buku-buku dan goresa tinta semata, agar bisa menulis dan mengkaji, tanpa berperan menyebarkan ilmunya. Karena itulah kita mendapati Nabi Saw melarang seseorang untuk menyembunyikan ilmnya, sebagaimana terdapat dalam hadits shahih Ibn Mājah, “Siapa yang menyembunyikan ilmu bermanfaat, maka ia akan datang pada hari kiamat dengan ditombak tombak neraka.”

Kemudian al-Hasan al-Bashri mengatakan, “Saya tidak melihat seoran Ahli Fikih yang berdebat dan bertikai. Ia hanya menyebarkan ilmnya. Jikalai diterima, segala puji bagi allah SWT. Jikalau tidak, segala puji bagi-Nya.”

7#Mengamalkan apa yang Diketahuinya

Para ulama berpandanganbahwa salah satu sifat Ulama adalah lazim menjalankan fatwanya dan menyampaikannya kepada khalayak. Mengamalkan ilmu merupakan salah satu sifat wali Allah SWT yang bertakwa kepada-Nya dan para hamba-Nya yang shaleh. Allah SWT akan memakaikannya pakaian amal atas ilmunya dengan rasa takutnya kepada-Nya, sehingga ilmu itu menjadi cahaya di hati mereka dan akal mereka.

Abdullah bin al-Mubārak ditanya, “Apakah para ulama memiliki ciri yang dikenali?” Ia menjawab, “Ciri Ulama: Orang yang mengamalkan ilmu, menganggap sedikit ilmunya yang banyak, beramal, ilmu belajar ilmu yang dimiliki orang lain, menerima kebenaran dari siapapun, mengambil ilmu dimana pun didapatkannya. Inilah tanda ulama dan sifatnya.”

Ibrāhim bin al-Junaid berkata, “Ada seorang intelektual dicela karena meninggalkan majelis. Ia ditanya, ‘Kenapa engkau tidak menulis hadits?’ Ia menjawab, ‘Saya sudah mendengar dua hadis. Saya akan dihisab nanti atas keduanya.”

Bagus sekali catatan al-Imām Ahmad tentang sifat seorang Ahli Fikih yang Mujtahid, “Tidak layak seseorang melakukan fatwa sampai terkumpul di dalam drinya lima hal:
Pertama, Ada niatnya. Jikalau tidak ada niatnya, maka tidak ada cahanya, dan tidak ada cahaya dalam kalamnya.
Kedua, Beretika, berwibawa, dan tenang.
Ketiga, Kuat ilmunya dan kuat pengetahuannya.
Keempat, Kapabel. Jikalau tidak, maka ia akan dikunyah orang lain.
Kelima, Mengenal orang lain.

8# Takut Jikalau Ilmunya Tidak Diterima

Di antara cirri Ahli Fikih, tidak menganggap dirinya ulama. Ia takut jikalau tidak diterima ilmunyan, kemudian ilmunya menjadi penyesalan atas dirinya, walaupun orang-orang menganggapnya sebagai salah seorang petinggi ulama, sebagaimana firman Allah SWT:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka." (Surat al-Mu'minun: 60)

9# Tidak Tamak Berhubungan dengan Para Pejabat dan Para Penguasa

Banyak bertemu para pejabat dan para penguasa adalah sesuatu yang menghancurkan. Ini merupakan fakta dan sejarah. Ini bukan berarti menjauhi tolak para penguasa. Sebab, mereka juga membutuhkan para ulama. Maksudnya, tidak bermesra-mesraan dengan penguasa, tetapi cukup menjawab saja jikalau mereka bertanya suatu masalah ilmu. Ketika ada bersama mereka, tujuan ulama tersebut adalah mengingatkan mereka terhadap Allah SWT, agar  bersikap adil di antara rakyatnya, serta beramal untuk kemenangan Islam dan kaum muslimin.

Ibn al-Jauzy mengatakan dalam Kitabnya Talbís Iblís, halaman 109:
“Di antara Talbís Iblís kepada para Ahli Fikih adalah bergabungnya mereka dengan para pejabat dan para penguasa, toleran kepada mereka, tidak melakukan inkār al-Munkar padahal mampu melakukannya, bahkan mungkin memberikan keringanan hokum kepada mreka agar bisa mendapatkan tujuan duniawi, sehingga menyebabkan tiga kerusakan. Pertama, al-Amír (Penguasa). Ia akan mengatakan, ‘Jikalau saya tidak berada di atas kebenaran, maka Ahli Fikih itu akan mengingkariku. Bagaimana saya tidak berada di atas kebenaran, sedangkan ia makan hartaku?!’ Kedua, Orang Awam yang akan mengatakan ‘Tidak masalah penguasa tersebut. Tidak masalah hartanya dan perbuatannya. Sebab, Fulan yang Ahli Fikih ada bersamanya.’ Ketiga, merusak agamanya sendiri.”

10# Mewakafkan Dirinya dan Ilmunya untuk Umat Islam

Pada hari ini, banyak kita saksikan para ulama yang menjauhkan diri mereka dari peran sebenarnya. Pikiran mereka hanyalah mendapatkan jabatan untuk bisa mengisi kantongnya dan kantong keluarganya, atau mendapatkan harta sebanyak-banyaknya, atau ingin mendapatkan ketenaran, atau memiliki banyak murid dan followers, atau dikenal sebagai ulama, agar bisa menghadiri berbagai acara dan seminal, dan lain-lain.

***


Pada Hari ini, kita membutuhkan Fuqahā’ al-Ummah atau Ulamā’ al-Ummah, yang paham penyakit-penyakit ulamat ini dan paham juga obatnya, paham dengan krisis yang pernah dilalui umat, mampu menyingkap mutiara umat ini, menunjukkan wajah peradaban Islam, yang lebih banyak memikirkan agamanya dan umatnya dari dirinya sendiri, menasehat para ulama lainnya dan para penuntut ilmu, mendorong mereka untuk mengamalkan agama Allah SWT, menyebarkan ilmu bermanfaat dan amal shaleh, ikhlas untuk ilmu dan agama dengan ilmu Allah SWT yang dititipkan di dalam dadanya.

Selain itu tentunya, ia juga menjelaskan kepada umat Islam mengenai hokum Allah SWT terkait masalah-masalah baru dan kontemporer yang terjadi di tengah umat, tidak terikat kepentingan ke penguasa, tidak juga ke kalangan awam. Ia hanyalah penyampaikan risalah Allah SWT dan Rasul-Nya.

Ulama itu layaknya pohon, tidak memberikan kepada yang lainnya kecuali buah terbaiknya. []
Read More..

Ushul Fikih, dari Metode al-Ijtihâd al-Syar’i Menuju Metode al-Tafkír al-Insāni

Ilmu Ushùl al-Fiqh dilahirkan di abad kedua hijriyah. Mayoritas ulama berpandangan bahhwa Imam al-Syāfii adalah orang yang pertama kali mengkodifikasinya. Sebagian lainnya berpandangan, seperti Ibn al-Nadím dalam Kitabnya al-Fahrasat bahwa orang yang pertama kali mengkodifikasinya adalah al-Qādhi Abù Yùsuf muridnya Abù Hanífah. Tapi satu hal yang pasti, bahwa kitab al-Risālah karya Imam al-Syāfii adalah kitab pertama yang sampai kepada kita tentang Ushùl al-Fiqh.

Dalam studi Ushùl al-Fiqh dikenal bahwa Ushùl al-Fiqh sudah ada bersamaan dengan al-Tasyri’ dan al-Tanzíl, sebagai sebuah Keahlian dan Metode. Sebagaimana juga dikenal Ilmu al-Fiqh lebih dahulu kelahirannya sebagai ilmu dibandingkan dengan Ushùl al-Fiqh.

Ushul Fikih, dari Metode al-Ijtihâd al-Syar’i Menuju Metode al-Tafkír al-Insāni

Sebagian kaum muslimin mengenal ilmu Ushùl al-Fiqh sebagai ganti dari logika Aristoteles, yang merupakan ilmu pengantar menuju al-Ijtihād al-Fiqhí, untuk mengetahui hokum-hukum Allah SWT mengenai halal dan haram, sebagaimana ia merupakan sebuah ilmu yang bisa digunakan untuk melakukan al-Tarjíh atas berbagai pendapat yang berbeda-beda.

Sebagian besar kitab para pakar Ushùl al-Fiqh membatasi konklusi Ushùl al-Fiqh hanya sebagai jalan atau metode untuk mengetahui hokum syariah. Namun sebenarnya tidak begitu juga.

Ada tulisan menarik yang berjudul Ushùl al-Fiqh min al-Ijtihād al-Syar’í ila al-Tafkír al-Insāní, karya Syeikh Mas’ùd Shabrí. Dalam tulisannya dijelaskan bahwa ilmu Ushùl al-Fiqh tidak sesempit itu. Walaupun ilmu ini tumbuh di lingkungan syariah dan hanya digunakan untuk al-Ijtihād al-Fiqhí, hanya saja ilmu ini dengan dalil, ushul, kaedah dan metode Istinbāth yang dimilikinya, ia semestinya tidak hanya berada di ruang syariah, tapi juga harus masuk ke ruang al-Insāniyah (kemanusiaan), sehingga ilmu ini beralhir menjadi keahlian yang bisa dipelajari, yang bisa digunakan untuk Berpikir dengan Benar di seluruh bidang kehidupan.

Melatih diri dengan keahlian-keahlian yang ada di dalam Ushùl al-Fiqh, akan membuat seseorang mampu berpikir dengan cara yang benar dalam seluruh sisi kehidupannya. Ushùl al-Fiqh adalah Filsafat Islam, ia adalah jalan untuk membentuk seorang pemikir. Sehingga, seorang muslim tidak bisa disebut sebagai pemikir kecuali jikalau ia mengenal Ushùl al-Fiqh, bukan sekadar dengan studi biasa, menunjukkan mukaddimah, dalil, dan metode Istinbāth, mengetahui syarat-syarat al-Mujtahid dan al-Ijtihād, taklid, fatwa, dan selainnya, tapi dengan bermesra dengan Ushùl al-Fiqh dengan semua bahasannya, mengubahnya dari teori menjadi pemikiran, dari pemikiran menjadi keahlian.

Dalam catatan berikut, kita akan menjelaskan sejumlah keahlian (al-Mahārat) dalam Ushùl al-Fiqh yang bisa digunakan sebagai Metode Berpikir seorang anak manusia dalam kehudipannya sehari-hari, apapun bidang yang ditekuninya.


***

Memahami Tema Artikel


Sebelum melangkah lebih jauh,mari pahami dulu dua makna di atas. Maksud al-Ijtihâd al-Syar’i adalah, upaya berpikir yang dilakukan oleh seorang al-Mujtahid untuk menghasilkan hokum. Namun, untuk disebut Mujtahid, bukan perkara gampang. Banyak syarat yang harus dipenuhi. Dan juga, untuk disebut sebuah Ijtihad dengan label Syar’i, harus terpenuhi syarat-syarat yang lumayan berat untuk dipenuhi.

 Al-Tafkír al-Insāni atau Metode Berpikir yang kita maksud disini adaah metode berpikir manusia biasa pada umumnya, bukan dalam rangka al-Ijtihâd untuk menghasilkan hokum dalam Syariat.

Jadi, maksud judul artikel di atas adalah, bagaimana menjadikan al-Ijtihâd al-Syar’I yang merupakan salah satu metode untuk menghasilkan hokum syariat, sebagai Metode Berpikir alami seorang anak manusia. Ia tidak lagi terkunkung untuk suatu hal, namun bersifat umum.

Semuanya tentu tidak bisa. Hanya ada beberapa unsur dalam Ushùl al-Fiqh yang bisa dijadikan sebagai pengkat pikir.

***

Teori Pembuktian (Nazhariyyah al-Burhān)


Salah satu keistimewaan Ushùl al-Fiqh adalah Teori Pembuktian, yang bahasa kerennya Nazhariyyah al-Burhān . Maknanya, ucapan atau pendapat seseorang itu tidak bisa bebas begitu saja, tetapi harus ada dalil-dalilnya, bukt-buktinya, dan hujjah-hujjahnya yang menunjukkan kebenaran pendapatnya, yaitu dalil al-Quran.

Masalah ini banyak diungkapkan dalam al-Quran, sebagaimana firman Allah SWT:
وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ ۗ تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani". Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar." (Surat al-Baqarah: 111)

Dalam ayat lainnya dijelaskan:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)." (Surat al-An'am: 116)

Dalam ayat lainnya:
وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا ۚ إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ
Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan." (Surat Yunus: 36)

***

Jenis-Jenis al-Idrāk (Pengetahuan)


Di antara keahlian yang berhubungan dengan Ushùl al-Fiqh yang bisa digunakan dalam Metode Berpikir Manusia pada umumnya adalah jenis-jenis al-Idrāk. Maksudnya, menganalogikan Metode Pengetahuan kita dengan Fakta-Fakta dan Pengetahuan-Pengetahuan yang ada. Pengetahuan yang menghampiri kita, statusnya tidaklah sama. Ada yang sifatnya al-Ilm (Ilmu) dan al-Yaqín (keyakinan), kemudian ada juga yang sifatnya al-Zhann (Dugaan). Dan al-Zhaan sendiri juga bertingkat-tingkat. Ada al-Zhann al-Qawí (Dugaan Kuat, ada al-Zhann al-Mutawassith (Dugaan Pertengahan), dan ada al-Zhann al-Dha’íf (Dugaan Lemah).

Penerimaan kita terhadap segala macam pendapat dan pengetahuan itu tidak selalu bersifat al-Qath’I (Pasti). Kita harus menghargai perbedaan pendapat dengan yang lainnya. Bisa jadi kita tidak sependapat dengan mereka, namun kita berusaha saling memahami dan saling mengenal, agar bisa mengetahui kenama mereka berbeda dnegan kita dan agar bisa tahu juga kenapa kita bisa berbeda dengan mereka.

Di antara bentuk al-Idrāk adaah al-Syakk (Ragu-Ragu), yaitu berdiam diri untuk melakukan al-Tarjíh (Menguatkan) di antara dua masalah, untuk lebih mengkaji lagi.

Ini merupakan salah satu keahlian social yang sudah hilang dalma dialog-dialog yang sering kita lakukan dan kita saksikan. Jarang kita mendengar seseorang mengatakan, “Masalah ini membutuhkan penelitian lebih lanjut.” Biasanya, mereka tergesa-gesa menyampaikan pendapat dan berusaha memenangkan pendapatnya tanpa mengkaji dahulu atau berpikir atau meneliti.

Ada juga jenis al-Wahm (Mitos), yaitu Metode penyampaian ilmu dan pengetahuan yang membuatnya berstatus lemah atau al-Dha’íf, tidak bisa naik kecuali sampai derajat al-Zhann (Ragu-Ragu). Pengetahuan yang berasal dari Metode al-Wahm, sama sekali tidak dianggap wujudnya.

***

Tafsír al-Nushùs (Menafsirkan Teks)


Di antara keahlian berpikir yang bisa didapatkan dari Ushùl al-Fiqh adalah Nazhariyyah Tafsír al-Nushùs (Metode Menafsirkan Teks). Para Pakar Perundang-undangan memanfaatkan teori Ushul ini untuk menafsirkan teks Undang-Undang. Inti teori ini, membuat kaedah untuk memahami kalam Allah SWT dan kalam Rasulullah Saw, atau yang dikenal oleh para Pakar al-Maqāshid dengan sebutan Maqāshid al-Khithāb. Teori ini mampu melahirkan berbagai macam ilmu, seperti Ilmu al-Tafsír, Ilmu al-Quran, dan Ilmu Syarh al-Hadíts.

Kaedah-kaedah itu bisa digunakan untuk memahami kalam manusia, baik yang tertulis maupun yang didengar, sehingga al-Maqāshid yang ingin disampaikan oleh al-Mutakallim (orang yang bicara) bisa dibedakan antara al-‘Aām (Umum) dan al-Khās (Khusus), antara al-Muthlaq dengan al-Muqayyad, antara al-Sharíh dengan al-Muawwal, antara yang al-Mu’tabar dan al-Mulghā, kalam yang bisa ditakwilkan dengan kalam yang tidak bisa ditakwilkan, serta berbaagai kaedah lainnya.

***

Mahārat al-Tarjíh (Keahlian Menimbang-nimbang Mana yang Paling Kuat)


Di antara keahlian Ushùl al-Fiqh yang juga bisa digunakan dalam berpikir adalah Mahārat al-Tarjíh, yang biasanya digunakan oleh seorang pakar Ushul untuk memilih pendapat terkuat di antara dua pendapat atay lebih dalam masalah-masalah yang menjadi ruang perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Keahlian ini penting untuk menjelaskan maksud al-Mutakallim (orang yang berbicara) ketika kalammnya mengandung banyak pandangan atau sudut pandang. Dengan cara ini, kita bisa mengetahui maksudnya dengan melakukan al-Tarjíh di antara dua interpretasi.

Bukan al-Tarjíh asal al-Tarjíh saja, namun berdasarkan al-Qarínah (indikasi), dalil, tanda, alamat, dan uslub yang digunakan dalam kalam, kemudian waktunya, serta berbagai unsure lainnya yang membuat kita menetapkan al-Tarjíh atas suatu pendapat di bandingkan pendapat lainnya.

***

Mahārat al-Takhríj


Para Pakar Ushùl al-Fiqh mengartikannya, menjelaskan hokum Allah SWT tentang masalah-masalah baru berdasarkan Ushul dan Masalah-Masalah Terdahulu (al-Masāil al-Qadímah).

Mahārat al-Takhríj berperan melahirkan makna-makna, melahirkan pandangan-pandangan dan keputusan-keputusan, menyelesaikan masalah-masalah, dan melahirkan pandangan-pandangan baru, berdasarkan tumpukan pengalaman masa lalu. Ia sama dengan Metode atau system berpikir yang membuat seseorang mampu menetapkan hokum atas sesuai berdasarkan Ushuh dan Kaedah Berpikir.

***

Mahārat al-Istisqrā’


Para Pakar Ushùl al-Fiqh dan Ahli Mantiq mengartikan al-Istisqrā’, dengan meneliti al-Juziyyāt al-Far’iyyāt (masalah cabang) untuk masalah al-Kulliyyah, untuk menetapkan hokum al-Kuliyyah tersebut dan menguatkannya, seperti mengkaji ayat-ayat dan hadits-hadits yang menunjukkan al-Taysír (kemudahan) dan Raf’i al-Harj (menghilangkan kesulitan). Dengan begitu, kita menetapkan bahwa agama itu tegak di atas al-Taysír (kemudahan) dan Raf’i al-Harj (menghilangkan kesulitan), dan ini menjadi al-Hukm al-Kulli.

Pengkajian ini tidak berhenti sampai di batas Ijtihād semata, tetapi bisa juga digunakan untuk masalah-masalah politik atau social atau ekonomi, atau budaya, atau sastra atau seni atau masalah-masalah kehidupan lainnya. Tujuannya, untuk mengetahui dan memastikan adanya al-Hukm al-Kulli (Hukum Global) yang bisa digunakan untuk masalah-masalah besar.

***

Mahārat al-Ta’líl


Para Pakar Ushùl al-Fiqh mengartikan al-‘Illah adalah sifat yang al-Zhāhir (nyata) tidak tersembunyi, jelas yang tidak ada perbedannya, lazim menyusun hokum dengannya demi kemaslahatan al-Mukallaf, baik hal tersebut mendatangkan al-Maslahah atau menolak al-Madharrah.

Al-‘Illah dikenal dengan berbagai nama, di antara yang paling terkenal adalah al-Sabab, al-Bā’its, al-Manāth, al-Dalíl, al-Muqatadhā, dan lain-lain.

Manfaat Teori al-Ta’líl adalah untuk mengatur cara berpikir seorang anak manusia, sehingga hukumnya tegak di atau al-Dzauq (taste) atau keinginan. Bahkan, setiap pikiran atau pandangan haruslah tegak di atas al-Ahsl (pondasi), yang memiliki sebab yang al-Zhāhir, untuk menjaga berpikir seoranga anak manusia dari kesalahan.

***


Itulah sejumlah kaedah Ushùl al-Fiqh yang kita paparkan di atas, yang menunjukkan kepada kita bahwa ilmu Ushùl al-Fiqh adalah ilmu Metode berpikir, bukan sekadar untuk al-Ijtihād al-Fiqhí.

Hal ini mendorong kita untuk memaparkan ilmu dengan sudut pandang baru. Tidak sekadar menggunakannya dalam studi agama, namun juga dalam studi logika. Semua tentunya ada tingkatannya. Ada yang sifatnya umum bagi setiap anak manusia. Ada yang sifatnya khusus hanya bagi para ulama yang sudah mencapai tingkatan Ijtihad.

Namun satu hal yang perlu kita tegaskan kepada masing-masing kita, mempelajari Ushùl al-Fiqh itu penting. []
Read More..