Sunnah Taknik (al-Tahnīk) Anak yang Baru Lahir & Manfaatnya dari Segi Kesehatan

Anak-anak adalah nikmat dari Allah SWT dan karunia agung yang wajib disyukuri, bergembira mendapatkannya, berjanji akan menjaganya, merawatnya, dan mendidiknya dengan baik agar menjadi tumbuhan yang baik di Taman Islam.

Islam memberikan perhatian besar terhadap fase anak-anak, semenjak dilahirkan, bahkan sebelum dilahirkan, yaitu ketika baru berpikir untuk menikah. Islam mewasiatkan kepada umatnya untuk memilih dengan baik siapa yang akan menjadi suami atau istri, demi menjamin keturunan yang baik dan ikatan kekeluaraan yang kuat. Bukan dari sisi akhlak saja, namun juga dari paras tubuh dan psikologi. Dan perhatian in uterus diberikan oleh Islam sampai masuk fase kehamilan, ketika melahirkan dan menyusui, fase mendidik dan tumbuh kembang.

Sunnah Taknik (al-Tahnīk) Anak yang Baru Lahir & Manfaatnya dari Segi Kesehatan

Islam mensyariatkan sejumlah hak untuk anak-anak dalam semua fase yang dilaluinya. Sebagiannya dijelaskan dalam Kitabullah, kemudian dirinci dengan detail oleh sunnah Rasulullah Saw, kemudian Islam menjadikannya sebagai sunnah yang harus dijalankan sebagai bentuk bakti orangtua kepada anak-anaknya.

Di antara amalan yang disyariatkan semenjak hari pertama kehidupan sang anak adalah memberitahukan kabar gembira atas kelahirannya, ucapan selamat atas kelahirannya, mendoakannya, mengazankan dan mengiqamahkan di kedua telingannya, kemudian mentahniknya.

______

Dengan Kurma atau Dengan Madu

______


Tahnik atau al-Tahnīk, merupakan sunnah Rasulullah Saw. Maksudnya, mengunyah kurma atau sesuatu yang manis di mulut seseorang yang sehat tidak sakit, kemudian meletakkannya di mulut sang anak, memijitnya dan mentahniknya, yaitu dengan memasukkan sebagian kurma yang sudah dikunyah, menggunakan jari yang bersih memasukkannya ke dalam mulut sang anak, kemudian digerakkan kiri dan kanan dengan lembut, sampai masuk semuanya ke dalam mulutnya. Tidak masalah memasukkan sedikit kurma yang segar tadi ke dalam mulut sang anak agar ia bisa mengunyahnya dan merasakan faedahnya.

Jikalau tidak ada kurma, maka al-Tahnīk juga bisa dilakukan dengan sesuatu yang manis. Lebah madu lebih utama dalam hal ini. Bisa juga yang lainnya, asalkan sesuatu yang tidak tersentuh api (tidak dimasak).

______

Tahnik (al-Tahnīk) Menurut Sunnah Rasulullah Saw

______


Banyak hadits Nabi Muhammad Saw yang berbicara tentang al-Tahnīk. Salah satunya adalah riwayat Asmā binti Abū Bakar. Ketika itu, ia sedang hamil Abdullāh bin al-Zubair. Kemudian ia ikut hijrah ke Madinah, dengan usia kandungannya yang sudah mencapai Sembilan bulan. Dalam perjalanan ke Madinah, maka semuanya singgah di Quba. Dan disanalah ia melahirkan seorang  bayi laki-laki. Pasca melahirkan, ia segera membawa anaknya kepada Nabi Muhammad Saw dan meletakkannya di kamarnya.

Beliau meminta kurma. Setelah diberikan, beliau memasukkan ke dalam mulutnya dan mengunyahnya, kemudian memasukkannya ke dalam mulut sang anak. Sehingga, yang pertama kali masuk ke dalam keronkongannya adalah air liur Nabi Muhammad Saw.

Kemudian beliau menatahniknya dengan kurma dan mendoakan kebaikan baginya. Anak tersebut mendapatkan keberkahan. Ia adalah anak pertama yang dilahirkan dalam Islam. Semuanya berbahagia, sebab itu bukti kedustaan ungkapan yang ketika itu menyebar luas, “Orang-orang Yahudi sudah menyihir kalian. Kalian tidak akan berketurunan.”

_____

Manfaat al-Tahnīk dari Sisi Kesehatan

_____


Dr. Muhammad Alī al-Bār, pakar al-I’jāz al-Ilmy di situs Islamway menjelaskan bahwa keilmuan kontemporer sudah membuktikan mamfaat kesehatan al-Tahnīk ini untuk tubuh sang  anak yang baru dilahirkan dan tumbuh kembangnya. Ia memaparkan tafsir ilmiah yang memuaskan akal dan logika.

Ia menjelaskan:
“Hadits-hadits seputar al-Tahnīk menjelaskan bahwa kurma atau makanan manis merupakan hal pertama yang masuk ke dalam kerongkongan sang anak. Kemudian juga menjelaksan sunnahnya membawanya kepada orang yang baik lagi shaleh, baik laki-laki maupun perempuan, untuk dilakukan al-Tahnīk atas dirinya, kemudian juga agar mendaparkan keberkahan dari orang-orang shaleh.”

Ilmu kontemporer sudah mampu menyingkap hikmah dari al-Tahnīk semenjak 14 abad yang lalu. Semua anaknya, khususnya yang baru dilahirkan dan masih menyusu, terancam kematian jikalau mengalami salah satu dari dua hal berikut: Pertama, turunnya kadar gula di dalam darah. Kedua, turunnya derajat panas tubuh ketika udara yang ada di sekitarnya menjadi dingin.

Kadar Gula (Glukosa) di dalam darah anak yang baru lahir itu rendah. Semakin ringan beratnya, maka semakin rendahlah kadar gulanya. Sehingga anak yang lahir premature, yang beratnya kurang dari 2,5 kg, maka kadar gula darahnya rendah sekali. Biasanya kurang dari 20 mg dalam setiap 100 ml darah. Rata-rata, anak yang lahir dengan berat di atas 2,5 kg, kadar darah mereka biasanya di atas 30 mg.

Kadar gula yang rendah, bisa menyebabkan beberapa hal  berbahaya:
•    Bayi menolak untuk menyusu
•    Lemahnya otot-otot
•    Sering berhenti bernafas
•    Kejang-kejang

Bahkan, jikalau diabaikan, bisa menyebabkan hal-hal berbahaya lainnya yang akan terus dialami sang anak sampai ujung usianya.
•    Temlambatnya pertumbuhan
•    Keterbelakangan mental
•    Lumpuh otak
•    Tidak bisa melihat atau mendengar atau keduanya
•    Epilepsy

Jikalau tidak diobati, bisa menyebabkan kematian. Padahal obatnya gampang, yaitu cukup dengan memberikan Glukosa yang sudah dilarutkan di dalam air, bisa dengan mulut dan bisa dengan impus. Inilah yang dilakukan oleh al-Tahnīk.

Al-Tahnīk adalah pengobatan perenventif dari segala penyakit yang disebabkan oleh kurangnya gula di dalam darah, sebab bahan al-Tahnīk mengandung gula Glukosa dengan ukuran besar, apalagi ketika bercampu dengan liur yang mengandung enzim-enzim khusus yang mampu mengubah Sokrosa menjadi Monosakarida.

Kandungan air liur akan memudahkan proses pelarutan gula, agar sang anak bisa mendapatkan faedahnya. Karena itulah, banyak rumah sakit, khususnya Rumah Sakit Ibu dan Anak, yang memberikan sari Glukosa kepada sang anak, lansung setelah kelahirannya, sebelum disusui ibunya. Ini menjadi petunjuk nyata hikmah di balik sunnah al-Tahnīk.

Penelitian ilmiah juga menegaskan bahwa al-Tahnīk menguatkan otot-otot mulut dengan gerakan lidah ketika al-Tahnīk dilakukan, sehingga anak siap menyusu, menghisap ASI dengan kuat, membantu pencernaan, menggerakkan darah, memancing nalurinya untuk menyusu. Kemudian, tekanan di bagian langit-langit mulut sang anak ketika al-Tahnīk akan sangat membantunya melafalkan huruf dengan lurus ketika nanti ia sudah masuk usia berbicara.

***


Begitu catatan kita seputar al-Tahnīk, merujuk ke Artikel Khidmah al-Markaz al-I’lām al-Araby, yang berjudul Tahnīk al-Maulūd; Sunnah Nabawiyyah wa Fawāid Shihhiyah, yang diterjemahkan, ditambahkan, disusun ulang oleh Denis Arifandi Pakih Sati, tanpa merubah maksud asli dari sang Penulis. []
Read More..

Impunitas Dalam Konteks Keadilan dan Hak Asasi Manusia (HAM) Menurut Islam

Dalam Aturan Internasional terkait Hak Asasi Manusia (HAM) dijelaskan bahwa Impunitas adalah tidak memberikan keadilan (baca: hukuman) kepada para pelanggar Hak Asasi Manusia (HAM), atau meniadakan hukuman. Dan tentu saja, menafikan hak para korban untuk mendapatkan keadilan hokum.

Di berbagai Negara, para Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) berusaha dan berjuang melawan Impunitas, demi memberikan hak para korban. Bagi mereka, impunitas sama saja dengan merusak Hak Asasi Manusia. Dan ini merupakan salah satu tantangan paling besar yang dihadapan para aktivis HAM.

Impunitas Dalam Konteks Keadilan dan Hak Asasi Manusia (HAM) Menurut Islam

______

Kriminalitas dan Hukuman Menurut Agama-Agama Langit (al-Adyān al-Samāwiyah) Secara Umum, Menurut Islam Secara Khusus

______


Syeikh Muhammad Abū Zahrah mengatakan dalam Kitabnya Falsafah al-‘Uqūbah fī al-Fiqh al-Islāmy, “Hukuman (al-‘Uqūbah) dalam syariat agama-agama langit , semuanya bertujuan untuk mendapatkan keadilan, yaitu kesetaraan antara hukuman dengan perbuatan criminal dan efeknya. Kriminal yang terjadi pada pribadi, tidak ada kaitannya dengan hak Allah SWT, berhubungan dengan hak social dan etika, maka hukumannya sesuai dengan kadar criminal yang terjadi terhadap korban.”

Dengan begitu jelaslah bahwa masalah Impunitas menurut Islam memiliki sejumlah tujuan, yang tidak jauh berbeda dengan tujuan-tujuan yang ada di agama-agama lainnya.

Inilah beberapa di antaranya yang paling penting.

Pertama, Mewujudkan Keadilan (Tahqīq al-‘Adālah)
Kehidupan seorang manusia, hartanya, dan kehormatannya, merupakan hal-hal yang wajib dimuliakan. Sama sekali tidak adil jikalau seseorang dibiarkan saja merusak semua ini tanpa ada pertanggungjawaban yang diminta darinya. Sebab, itu sama saja merusak Hak Asasi Manusia (HAM) dan mendorong orang lain untuk menyelematkan diri atas kriminalitas-kriminalitas yang dilakukannya.

Kedua, Mewujudkan Preventif (Tahqīq al-Rad’)
Preventif disini ada dua jenis:
  • Preventif Umum (al-Rad’ al-‘Aāmm), yaitu peringatan untuk khalayak umum dan seluruh warga negara bahwa perbuatan yang dilakukan pelaku adalah criminal di mata undang-undang. Siapapun, tidak boleh ada yang melakukannya. Hukuman ini berfungsi sebagai Ancaman (al-Tahdīd), yang ditujukan ke psikologi khalayak ramai atau masyarakat secara keseluruhan. Pesan yang ingin disampaikan, “siapa yang melakukannya, maka tangan hokum tidak akan diam. Ia akan dikejar sampai dapat.”

  • Preventif Khusus (al-Rad’ al-‘Khāsh), yaitu pedihnya hukuman yang diberikan kepaada pelaku kejahatan atau pelaku criminal, akan memberikan efek psikologi dan efek jera terhadap di pelaku, serta mencegahnya untuk tidak melakukannya lagi di lain waktu.

Ketiga, Membuat Pelaku Kriminal Semakin Baik (Islāh al-Jāny)
Hukuman itu ada, bukanlah untuk membalas dendam kepada pelaku criminal atau menyiksanya, tetapi untuk memperbaikinya dan mendidiknya agar menjadi manusia yang lebih baik ke depannya.

Dalam Islam, hukuman itu ada dua jenisnya. Pertama, Hukuman yang ditentukan kadarnya dan ukurannya oleh syariat, seperti al-Hudūd dan al-Qishās. Kedua, Hukuman yang ditentukan kadarnya dan ukurannya oleh Hakim atau al-Qādhy untuk criminal-kriminal yang memang berhak mendapatkan hukuman, yang tentunya sesuai dengan kaedah-kaedah umum dalam syariat Islam. Inilah dikenal dengan nama al-Ta’zīr.

Ketika hukuman al-Qishās diabaikan, maka itu sama saja artinya membolehkan kezaliman terhadap kehidupan pribadi di satu sisi, dan kezaliman terhadap system yang berlaku dalam masyarakat di sisi lainnya.

Hukuman, menurut undang-undang, adalah balasan yang ditetapkan oleh undang-undang criminal demi kemaslahatan masyarakat, demi menegakkan hukuman criminal terhadap orang yang bertanggungjawab melakukan suatu aksi criminal, agar criminal tersebut tidak dilakukan lagi oleh pelakunya sendiri maupun oleh warga negara lainnya.

______

Kriminal Pejabat dan Kriminal Rakyat Kecil (Jelata) Menurut Islam

______


Kaedah umum yang terdapat dalam Sunnah Nabi dan Sunnah para Khalafā al-Rāsyidīn menjelaskan bahwa seluruh kaum muslimin, sama kedudukannya di mata hokum. Semua harus tunduk di bawah aturan hokum yang menetapkan hukuman bagi setiap criminal. Tidak ada seorang pun yang memiliki hak Imunitas. Tidak ada bedanya antara satu kriminalitas dengan kriminalitas lainya. Semuanya sama kedudukannya. Semuanya sama hukumannya, sesuai dengan tingkat kriminalnya. Walaupun pelakunya adalah Presiden. Raja. Maupun Perdana Menteri.

Nabi Muhammad Saw adalah pemimpin umat. Kalau sekarang, bisa dibilang Presiden atau Raja. Kira-kita begitu, walaupun mungkin tidak tepat. Beliau secara terang-terangan menyatakan berhak mendapatkan hukuman jikalau ada kriminalitas yang dilakukannya. Bahkan, al-Qishās sekali pun.

Beliau pernah mengatakan di hadapan khalayak:
أيها الناس من كنت جلدت له ظهرًا فهذا ظهري فليستقد منه، ومن كنت شتمت له عرضاً فهذا عرضي فليستقد منه، ومن أخذت له مالاً فهذا مالي فليأخذ منه، ولا يخش الشحناء، فإنها ليست من شأني، ألا وإن أحبكم إلي من أخذ مني حقاً إن كان له، أو حللني القول  فلقيت ربي وأنا طيب النفس
“Wahai sekalian manusia, siapa yang saya cambuk punggungnya, maka inilah punggungku dan balaslah. Siapa yang caci kehormatannya, maka inilah kehormatanku dan balaslah. Siapa yang saya ambil hartanya, maka inilah hartaku dan ambillah. Tidak usah takut kebencian. Saya tidak begitu. Ketahuilah, orang yang paling saya cintai di antara kalian adalah orang yang mengambil haknya dariku, jikalau itu memang haknya. Atau ia menghalalkan bagiku dengan ucapannya. Agar, saya bisa bertemu Rabbku dengan jiwa yang baik.” (Diriwayatkan oleh al-Thabrāni)

Dalam hadits lainnya, beliau menjelaskan:
إنما أهلك الذين من قبلكم أنهم إذا سرق فيهم الشريف تركوه، وإذا سرق فيهم الضعيف أقاموا عليه الحد، والذي نفس محمد بيده، لو أن فاطمة بنت محمد سرقت لقطعت يدها
“Kehancuran orang-orang sebelum kalian, jikalau orang ternama mencuri di antara mereka, maka mereka membiarkannya. Jikalau orang lemah di antara mereka yang melakukannya, maka mereka menegakkan hukuman. Demi jiwa Muhammad yang berada dalam genggaman-Nya, jikalau Fāthimah binti Muhammad mencuri, maka saya akan potong tangannya.” (HR al-Bukhāry)

Dengan begitu, jelaslah aturannya dalam Islam. Semua pemimpin dalam Islam, di negeri Islam mana pun, walaupun mereka memiliki imunitas, namun jikalau melakukan tindak criminal yang sudah ada ketentuan hukumannya dalam syariat, maka ia harus tunduk di bawah hokum dan harus dihukum.

Dan artinya lagi, jikalau pemimpin tertinggi negara saja harus ditegakkan hokum atas criminal yang dilakukannya, maka orang-orang yang berada di bawahnya tentu lebih layak lagi mendapatkan hukuman, walaupun itu mentri, gubernur, pejabat, dan lain sebagainya. Hukum harus ditegakkan kepada siapapun. Semua perbuatan harus dipertanggungjawabkan.

***


Kesimpulannya, Impunitas itu tidak berlaku dalam Islam. Hukum harus ditegakkan. Ketika ada yang berbuat criminal, maka ia harus siap mempertanggungjawabkan perbuatannya. Mau pajabat, Mau rakyat jelata, kedudukannya saja. Tidak ada yang memiliki hak khusus di mata hokum.

Ketika hokum berlaku sepihak, maka negara akan hancur. Itu sudah sunnatullah. []
Read More..

Kerja Sosial (al-‘Amal al-Tathawwu’i) dan Relawan Sosial Menurut Islam

Kerja Sosial dan Menjadi Relawan (Suka Relawan) atau  Valounteer merupakan istilah yang banyak kita dengar pada hari ini di tengah khalayak, apalagi ditambah dengan banyaknya krisis dan ujian yang menimpa anak manusia, berupa perang dan bencana. Umat Islam dan Rakyat, dimana pun berada, berlomba-lomba melakukannya. Banyak lembaga dan yayasan yang berpacu menjalankannya. Dan selayaknya, kita sebagai umat Islam, menjadi terdepan dalam hal ini.

Dalam catatan ini, kita akan membahas apa itu Kerja Sosial atau al-‘Amal al-Tathawwu’I, apa fadhilah dan keutamaannya, apa saja jenis-jenis para pekerja social atau relawan social, apa saja efek-efeknya. Semua kita point-point penting yang akan kita bahas, yang seringkali juga menjadi banyak pertanyaan d antara kita.

Kerja Sosial (al-‘Amal al-Tathawwu’i) dan Relawan Sosial Menurut Islam

_____

Apa itu Kerja Sosial?

_____


 Ketika seseorang memutuskan menjadi relawan dalam kerja social atau amal kebajikan, maka artinya ia memberikan apa yang dimilikinya, dari dirinya sendiri. Tidak ada kewajiban yang mengharuskannya melakukan hal tersebut. Tidak ada fardhunya.

Jadi, kerja social itu adalah memberikan bantuan atau kemanfaatan kepada orang lain, baik pribadi maupun kelompok, dengan sesuatu yang mereka butuhkan, tanpa berharap balasan materi atau non materi.

______

Fadhīlah atau Keutamaan Kerja Sosial dan Amal Kebajikan

_____


Ada banyak fadhilah atau keutamaan yang bisa didapatkan seorang Muslim dari kerja social atau amal kebajikan, yaitu ketika ia memutuskan menjadi relawan. Banyak dalilnya dari al-Qurān dan sunnah.

Allah SWT berfirman:
وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ
Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah." (Surat al-Anbiya: 73)

Dalam ayat lainnya dijelaskan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ۩
Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan." (Surat al-Hajj: 77)

Dalam ayat lainnya dijelaskan:
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Surat al-Baqarah: 148)

Dalam ayat lainnya:
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu." (Surat al-Maidah: 48)

Rasulullah Saw bersabda:
كل سلامي من الناس عليه صدقة كل يوم تطلع فيه الشمس تعدل بين أثنين صدقة ، تعين الرجل على دابته فتحمله عليها أو ترفع عليها متاعه صدقة ، والكلمة الطيبة صدقة وبكل خطوة تمشيها الى الصلاه صدقة ، وتميط الاذى عن الطريق صدقة
“Setiap sendiri anak manusia ada sedekahnya setiap hari di setiap kali terbitnya matahari. Engkau berbuat adil di antara dua orang adalah sedekah. Engkau membantu kenderaan seseorang, dengan engkau menaikkanya ke atasnya atau mengangkat barangnya, ia adalah sedekah.  Kata-kata yang baik adalah sedekah. Setiap langah yang engkau langkahkan untuk mengerjakan shalat adalah sedekah. Engkau membuang duri di jalan adalah sedekah.” (Muttafaq alaihi)

Dalam hadits lainnya:
الإيمان بضع وسبعون أو بضع وستون شعبة فأفضلها قول لا اله الا الله وأدناها أماطة الأذى عن الطريق والحياء شعبة من الإيمان
“Keimanan itu ada sekitar tujuh puluh lima atau enam puluh lima cabang. Paling afdhalnya adalah ucapan “Tidak ada Tuhan melainkan Allah”, dan minimalnya adalah membuang duri di jalan. Dan rasa malu adalah bagian dari keimanan.” (Muttafaq alaihi)

Dalam hadits lainnya:
لقد رأيت رجلأً يتقلب في الجنة في شجرة قطعها من ظهر الطريق كانت تؤذي المسلمين
“Saya melihat seseorang yang berjalan kesana dan kemari di surge karena sebuah pohon yang di potongnya di badan jalan karena menghalangi jalan kaum muslimin.” (HR Muslim)

Dalam hadits lainnya:
الساعي على الأرملة والمسكين كالمجاهد في سبيل الله أو القائم الليل الصائم النهار
“Orang yang berusaha untuk janda dan orang miskin seperti Mujahid di jalan Allah SWT atau orang yang melakukan Qiyamullail dan berpuasa di siang hari.” (Muttafaq alaihi)

Dalam hadits lainnya:
المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يسلمه ،من كان في حاجة أخيه كان الله في حاجته ، ومن فرج عن مسلم كربه من كرب الدنيا فرج الله عنه كر به من كرب يوم القيامة ومن ستر مسلما سترة الله يوم القيامة
“Seorang muslim, saudara muslim lainnya. Tidak menzhaliminya, dan tidak pula mengabaikannya. Orang yang menunaikan hajat saudaranya, maka Allah SWT ada dalam hajatnya. Siapa yang melapangkan musibah dunia dari muslim lainnya, maka Allah SWT akan melapangkan juga musibahnya pada hari kiamat. Siapa yang menutupi aib Muslim lainnya, maka Allah SWT akan menutupi aibnya pada hari kiamat.” (Muttafaq alaihi)

Dalam hadits lainnya dijelaskan:
من مشى في حاجة أخيه كان خيراً له من اعتكاف عشر سنوات
“Siapa yang berjalan untuk menunaikan hajat saudaranya, maka itu lebih baik baginya dari itikaf selama sepuluh tahun.” (Diriwayatkan oleh al-Thabrāni dalam al-Kabīr, dan al-Hākim)

Dalam hadits lainnya:
مثل المومنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد اذا إشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى
“Pemisalan orang-orang beriman dalam kasih sayang mereka dan kelemah-lembutan mereka seperti satu tubuh yang jikalau merasa sakit salah satunya, maka akan menyebabkan seluruh tubuh begadang dan demam.” (HR Ahmad dan Muslim)

______

Bidang-Bidang Kerja Sosial

______


Kerja social disini mencakup banyak bidang yang bisa memberikan manfaat dan faedah kepada yang lainnya. Kita akan melihat beberapa di antaranya:

Pertama, Bidang Ibadah.
Dalam ibadahnya, seorang Muslim tidak mencukupkan diri dengan ibadah wajib saja, tetapi menambahkannya dengan hal-hal yang sunnah, baik shalat sunnah maupun amalan-amalan kebajikan lainnya. Ruang ini sangat luas sekali untuk dijadikan ruang berpacu, dengan berbagai jenisnya, mulai dari shalat, puasa, sedekah, haji, dan lain sebagainya.

Kedua, Bidang Ilmiah
Untuk bidang ini, banyak hal juga yang bisa dilakukan, seperti membuat perpustakaan, sekolah, kampus, dan berbagai lembaga ilmiah lainnya yang tujuannya bukanlah keuntungan materi, namun mengurusnya dan mendukungnya.

Ketiga, Bidang Finansial
Bidang ini berkaitan erat dengan pembiayaan. Kita sebagai donator atau relawan memberikan sejumlah uang dengan penuh kerelaan dan keikhlasan, tanpa mengharapkan apapun, demi kebaikan dan kemaslahatan khalayak ramai. Untuk bidang ini, banyak yang bisa dilakukan. Banyak sekali.

Keempat, Bidang Profesi
Untuk bidang ini, kita berkontribusi dalam kerja social dengan keahlian yang kita miliki. Selama bermanfaat dan berfaedah, tidak ada masalah.

Kelima, Bidang Administrasi
Bidang ini masuk ke dalam system apapun. Masalah administrasi itu adalah masalah profesionalitas dan keahlian. Seorang Manajer yang sukses dalam karirnya, jikalau ia mau berkontribusi dalam bidang social, itu sangat bermanfaat sekali dan akan mampu memberikan banyak hal.

Keenam, Bidang Pemikiran
Untuk bidang ini, kita bisa dengan memberikan ide-ide brilian, nasehat-nasehat yang baik, masukan-masukan yang bernas, dan rancangan-rancangan yang excellent.

_______

Pembagian dan Aneka Ragam Para Relawan Kerja Sosial

______


Kita bisa mengkasifikasi para relawan social menjadi beberapa jenis.

Pertama, Relawan yang Berkontribusi dengan Hartanya, dengan sedekah, infak, pinjaman, investasi, dan menjadi sponsor.

Kedua, Relawan yang Berkontribusi dengan Badannya, dengan keahlian dan kemampuan yang dimilikinya.

Ketiga, Relawan yang Berkontribusi dengan Jabatannya, dengan rekomendasi, koneksi, dan sebagainya.

Keempat, Relawan yang Berkontribusi dengan Waktunya; setiap hari atau beberapa jam dalam sehari atau beberapa jam dalam seminggu, ketika musim tertentu, ketika diminta dan ketika ada waktu lowong.

Kelima, Relawan yang Berkontribusi dengan Ide dan Pikirannya, dengan mengajukan ide yang benar, pertanyaan, kajian dan penelitian, perencanaan, kritikan, dan sebagainya.

______

Hasil dan Keuntungan Ikut Serta Dalam Kerja Sosial

______


Ada beberapa hasil dan efek yang akan dirasakan dari kerja social.

Pertama, Mendapatkan pahala dan balasan dari Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat.
Kedua, Mengurai masalah dan kerawutan yang terjadi, khususnya ketika terjadi krisis dan bencana.
Ketiga, Saling menguatkan dan saling mencintai sesame anak manusia, melebur teori permusuhan atau pesimisme terhadap orang lain dan terhadap kehidupan.
Keempat, Saling bantu-membantu dan saling selidaritas di antara anggota masyarakat.
Kelima, Meningkatkan kemampuan anak manusia untuk  saling berhubungan dan saling berkomunikasi dengan yang lainnya, membatasi pertikaian, dan menumbuhkan jiwa social.
Keenam, Mendidik kepribadian, menghilangkan logika kekikiran, mengubahnya menjadi logika kedermawanan, yang merupakan implementasi firman Allah SWT bahwa orang yang terjaga dari kekikiran dirinya, maka  ia lah orang yang beruntung.
Ketujuh, Kerja Sosial akan memberikan seseorang kesempatan untuk mempelajari berbagai keahlian baru atau lebih mempertajam keahlian yang sudah dimilikinya.

***


Sebagai penutup, kami mengajak seluruh anak manusia, khususnya kaum muslimin, untuk bisa berkontribusi dan mempersembahkan kebaikan dan kemanfaat kepada orang, khususnya orang-orang yang membutuhkan.

Kita memohon kebaikan kepada Allah SWT untuk semua amalan kita. []
Read More..

Hukum Bunuh Diri Menurut Islam

“Bagaimana hukum islam tentang orang mati bunuh diri dengan cara gantung diri? Bagaimana nasib arwahnya? Apa siksa kubur yang mereka dapatkan? Bagaimana jikalau dilakukan saat sedang hamil?


Salah satu fenomena yang paling banyak terjadi di saat sekarang ini adalah bunuh diri. Ada yang gantung diri. Ada yang minum racun. Ada yang terjun dari gedung tinggi. Ada yang menusuk badannya sendiri dengan senjata tajam. Ada yang menyilet urat nadinya sendiri. Bahkan ada aparat keamanan yang bunuh diri dengan senjata api yang dimilikinya.

Hukum Bunuh Diri Menurut Islam

Latar belakangnya pun macam-macam. Ada yang melakukannya karena masalah ekonomi. Ini yang paling dominan. Beban hidup yang berat, tidak mampu lagi dipikulnya. Tekanan ekonomi membuat akalnya stress. Jalan pintas pun di ambil. Bunuh diri. Tidak ingat dengan istri dan anak yang ditinggalkan. Tidak ingat bagaimana masa depan mereka.

Ada yang bunuh diri karena cinta. Ini bagi saya, alasan paling bodoh. Cinta boleh, buta jangan. Jikalau Anda kehilangan seseorang, masih banyak orang lain di luar sana. Jodoh itu sudah ada di tangan Tuhan. Anda tidak bisa mendikte masalah yang satu ini.

Ada juga yang bunuh diri karena ideology. Jarang sekali jenis yang satu ini. Tapi, ada. Ideologi mengajarkan seperti itu. Jikalau gagal mencapai sesuatu, maka jalan keluarnya adalah bunuh diri untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Harakiri di Jepang, mungkin bisa di masukkan di bagian ini.

Ada juga yang bunuh karena karena alasan politik. Gagal menjadi caleg, stress, uang sudah banyak yang dikeluarkan, tapi yang milih tidak mencukupi, maka jalan pintas pun dipilih; bunuh diri. Ini karena tidak siap diri. Politik di jadikan sebagai lahan cari hidup. Padahal, politik adalah  jalan pengabdian.

Dan… masih banyak lagi sebab lainnya.

Oke, kita kembali ke topic. Dalam catatan ini, kita akan membahas bagaimana hokum bunuh diri dalam Islam? Baik dengan cara gantung diri, minum racun, putus urat nadi, dan lain-lain?

_____

Hukum Bunuh Diri Dalam Islam

_____


Dalam Islam, Hukum Bunuh Diri adalah haram. Ia merupakan salah satu dosa besar. Pelakunya akan ditempatkan abadi di Neraka. Tidak ada ampunan dan kemaafan. Sebab, ia sendiri sudah menutup pintu taubat bagi dirinya.

Apa dalilnya?

Firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا (٢٩) وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (٣٠
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dengan jalan perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu. Dan barang siapa berbuat demikian dengan cara melanggar hukum dan zalim, akan Kami masukkan dia ke dalam neraka. Yang demikian itu mudah bagi Allah." (Surat al-Nisa: 29-30)

Dalam ayat lainnya dijelaskan:
وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Surat al-Baqarah: 195)

Dalam ayat lainnya:
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا
يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا
Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina." (Surat al-Furqan: 68-69)

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Saw bersabda:
من قتَل نفسه بحديدة، فحديدته فى يده يتوجأ بها فى بطنه فى نار جهنم خالدًا مخلدًا فيها أبدًا، ومَن شَرِب سُمًّا، فقتل نفسه، فهو يتحساه فى نار جهنم خالدًا مخلدًا فيها أبدًا، ومن تردَّى من جبل، فقتل نفسه، فهو يتردى فى نار جهنم خالدًا مخلدًا فيها أبدًا
“Siapa yang membunuh dirinya dengan pisau, maka pisaunya akan dipegangnya dan ditusuk-tusukkannya ke perutnya di Neraka Jahannam abadi selamanya. Siapa yang meminum rancun, kemudian membunuh dirinya, maka akan menenggaknya di Neraka Jahannam abadi selamanya. Siapa yang gantung diri, maka ia akan mengantung di Neraka Jahannam abadi selamanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lainnya:
الذى يخنق نفسه، يخنقها فى النار، والذى يطعنها، يطعنها فى النار
"Orang yang mencekik dirinya, maka ia akan mencekiknya di Neraka. Dan orang yang menusuk dirinya, maka ia akan menusunya di Neraka." (HR al-Bukhari)

Itulah beberapa dalil dari al-Quran dan hadits yang menjelaskan bahwa bunuh diri merupakan sesuatu yang terlarang dalam Islam. Hukumnya Haram. Dosa besar.

____

Arwah Orang yang Bunuh Diri

____


Arwah orang yang bunuh diri sama dengan arwah muslim lainnya. Jikalau Anda mendapati atau mendengar ada arwah orang bunuh diri yang gentangan, itu sebenarnya bukan arwah orang tersebut, tapi bisa jadi itu adalah Jin Qarinnya. Sebab, status orang yang bunuh diri tetaplah seorang Muslim; jikalau ia memang seorang Muslim sejak awal. Bunuh diri tidak menyebabkannya keluar dari Islam. Dosa besar, iya. Kafir, tidak.

Buktinya, orang yang bunuh diri tetap dimandikan, dishalatkan, dikuburkan, diurus layaknya kaum muslimin lainnya.

Jabir bin Samurah radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa ada sesoerang yang bunuh diri dihadapkan kepada Nabi Saw, kemudian beliau tidak mau menyolatkannya. (HR Muslim)

Hadits  ini dikomentari oleh Imam al-Nawawi dalam Syarh Muslim (7/ 47):
“Hadits ini dimaknai agar menjauhkan diri dari upaya bunuh diri, sebagaimana beliau tidak mau menyolatkan jenazah orang yang berhutang. Para sahabat tetap menyolatkan orang yang berhutang berdasarkan perintah Rasulullah Saw. Sebab itu bertujuan untuk menghindari hutang, bukan karena ia kafir. Menurut Imam Malik, hukumnya makruh menyolatkan orang yang meninggal karena rajam, fasik, sebagai peringatan bagi yang lainnya.”

Syeikh bin Abdullah Aziz bin Baz pernah ditanyakan, sebagaimana dimuat dalam Kitab Majmu Fatawa al-Syeikh bin Baz (13/ 122), tentang orang yang bunuh; apakah dimandikan dan dishalatkan?

Beliau menjawab:
“Orang yang bunuh diri, mandikan dan dishalatkan, serta dikuburkan di pekuburan kaum muslimin. Sebab ia hanyalah pelaku maksiat, bukan kafir. Bunuh diri itu maksiat, bukan kekufuran.
Namun, selayaknya bagi Imam Besar (pemimpin)dan orang yang memiliki peranan penting, untuk tidak menyolatkannya sebagai bentuk pengingkaran, agar tidak ada orang yang menduga bahwa ia ridha dengan perbuatan tersebut. Imam besar, atau pengauasa, atau Qadhi, atau kepala negara, atau Gubernur, jikalau meninggalkannya, kemudian menjelaskan bahwa ini adalah salah, maka itu lebih baik. Namun, orang yang bunuh diri tersebut, tetap dishalatkan oleh sebagian kaum muslimin.”

_____

Siksa Kubur dan Siksa Neraka Pelaku Bunuh Diri

_____


Siksa kuburnya sama dengan muslim lainnya pelaku dosa besar. Tidak ada dalil khusus yang menjelaskan masalah ini secara detail. Namun di akhirat kelak, ia abadi di Neraka, kemudian dihukum dengan cara yang sudah dijelaskan dalam hadits di atas; jikalau ia bunuh diri dengan cara menusuk diri, maka ia menusuk-nusuk dirinya di Neraka; jikalau ia bunuh diri dengan minum racun, maka ia menegak racun itu sedikit demi sedikit di Neraka; jikalau ia bunuh diri dengan cara gantung diri, itulah yang akan dijalaninya di Neraka kelak. Abadi selamanya.


_____

Catatan Tambahan

_____


Itulah hokum Islam tentang bunuh diri. Kita berlindung kepada Allah SWT dari segala bentuk maksiat. Jangan putus asa dari rahmat Allah SWT. Hidup di dunia ini, pasti akan selalu ada masalah. Semuanya akan silih berganti; bahagia, sedih, bahagia. Senang, derita, senang. Begitilah seterusnya. Tidak ada di dunia ini yang abadi dalam satu keadaan.

Kapan selesai dari masalah?
Ketika Anda melangkahkan kaki pertama kali di surga. Selesai sudah semua masalah.

Hidup hanya sementara. Mari mengabdikan diri kepada Allah SWT. Itu tugas utama kita di dunia. Masalah? Jalani dan serahkan keputusannya kepada Allah SWT, Zat yang Maha Menentukan segala. []
Read More..

Kebebasan (al-Hurriyyah) Menurut Fikih

Seringkali kader umat Islam dan cendekiawan muslim bertanya, “Apakah segala sesuatu dalam Islam, harus tunduk kepada ketentuan halal dan haram? Apakah agama mencekik manusia? Mereka tidak bisa bergerak dan bertindak kecuali setelah bertanya hokum perbuatan yang dilakukannya; apakah halal atau haram?”

Bukankah selayaknya seorang anak manusia itu bebas dalam semua tindakannya, semua perbuatannya, dan semua perilakunya? Ia tidak dipertanyakan segala sesuatu yang dilakukannya? Kecuali jikalau sesuatu itu ada kekaburan hukumnya atau ada sesuatu di baliknya? Agar, setiap anak manusia merasakan kebebasannya. Jikalau begini, maka orang-orang akan lebih mencintai agamanya, dan tidak akan apriori dengan kehidupan beragama.

Kebebasan (al-Hurriyyah) Menurut Fikih

Pernyataan ini benar. Tidak salah, dan tidak masalah. Hanya saja, jikalau ada yang berkata bahwa agama mencekik penganutnya dengan berbagai tuntutan dan kewajiban, maka pernyataan itu panggang jauh dari api.

Begini. Allah SWT membuat ruang kebebasan, jauh lebih luas di dalam syariat-Nya di bandingkan dengan ruang Perintah (al-Awāmir) dan Larangan (al-Nawāhy). Artinya, ketika seseorang melihat dan memperhatikan dengan baik segala perbuatannya dan segala tindak tanduknya, maka ia akan mendapati bahwa kekebasan (al-Hurriyyah) yang diberikan kepadanya, jauh lebih banyak dibandingkan yang lainnya.

Kejeniusan Fikih Islam (al-Fiqh al-Islāmy) tampak nyata, dengan apa yang dikenal dengan istilah Hukum Taklif (al-Hukum al-Taklīfy). Dengan hokum ini, jutaan perbuatan manusia bisa diklasifikasi dengan lima ruang, yaitu wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah. Semua perbuatan dan perkataannya, semuanya masuk ke dalam hokum lima ruang ini.

Jikalau kita mau mengkaji Hukum Islam dan membuat persentasinya, maka kita akan mendapati bahwa hokum haram adalah hokum yang paling sedikit jumlahnya. Hal-hal yang diharamkan dan dilarang dalam Islam, jumlahnya sedikit. Kemudian setelahnya, barulah hokum wajib. Perintah dalam Islam, jumlahnya juga sedikit. Kemudian setelahnya Hukum Makruh. Kemudian setelahnya, Hukum Sunnah. Kemudian setelahnya, hokum Mubah atau boleh. Kalau mau dipersentasikan, Mubah itu sekitar 80%.

Para Ahli Fikih dan Ulama sudah menetapkan kaedah bahwa Hukum Asal dalam Segala Sesuatu adalah Mubah, sampai Ada Nash yang Mengharamkannya (al-Ashl fī al-Asyya’ al-Ibāhah hattā Yarid al-Nash bi al-Tahrīm). Artinya, jikalau ada suatu masalah kontemporer, maka seorang Mujtahid tidak bisa lansung mengharamkannya, tetapi menegakkannya di atas hokum asalnya yang  membolehkan. Sebab pada dasanya, manusia itu bebas hokum (al-Taklīf). Kecuali ada dalil yang mengharamkannya, atau mewajibkannya atau memakruhkannya. Masalah yang terjadi, kadanglah hukumnya bisa kelimanya, sesuai dengan Ijtihad. Hanya saja, hokum asalnya tetap boleh atau al-Ibāhah.

Para Ahli Fikih membagi fikih beberapa bagian utama, yaitu Ibadah, Muamalah, Adab dan Adat.

Kewajiban yang paling banyak, berhubungan dengan Ibadah. Sebab, ia mengatur hubungan antara seorang hamba dengan Rabbnya.

Jenis kewajiban atau al-Furūdh yang banyak adalah ibadah. Sebab, ia mengatur hubungan seorang hamba dengan Rabbnya. Balasannya adalah balasan Ukhrākhi, di akhirat kelak. Di dunia tetap ada balasannya, walaupun kadangkala tidak tampak nyata. Hanya saja, setiap ibadah itu tidak akan pernah luput dari unsur kemaslahatan. Pasti ada kemaslahatannya. Dan tujuan utamanya, jelas al-Ta’abbud.

Kalau Muamalah, maka muaranya adalah Mashālih al-‘Ibād, kemaslahatan bagi para hamba Allah SWT. Muamalah ini ruangnya lebih bebas, tidak begitu didetail layaknya ibadah. Diisi oleh kaedah-kaedah umum. Masalah-masalah Muamalah selalu mengalami perkembangan antara satu masa dengan masa lainnya. Tapi bukan berarti isinya kaedah umum semua. Ada juga masalah-masalahnya yang sudah ada dalilnya, yang tidak boleh dilanggar dan dilangkahi oleh Ijtihād. Misalnya, jenis-jenis jual beli yang diharamkan, minuman yang diharamkan, masalah al-Hudūd, dan kriminalitas (al-Jināyah).  Banyak masalah-masalah Muamalah klasik dan kontemporer yang membutuhkan ijtihād baru. Tidak lazim masalah baru dalam Muamalah, ada dasarnya di studi klasik. Namun, sebuah Ijtihād tetaplah harus ditegak di atas Nash al-Qurān dan sunnah, serta Ijtihād umum. 

Kalau Adab, maka ia merupakan syariat yang minim sekali wajibnya dan haramnya, bahkan sebagian besarnya berkisar antara sunnah dan mubah. Ia menjelaskan celupan Islam terhadap kondisi manusia dan kebiasaan mereka, agar tidak sekadar menjadi kebiasaan. Atau Ia adalah perkara-perkara yang menggambarkan kebiasaan dan akhlak baik, seperti Adab Bekerja, Adab Hukum dan Pengadilan, atau Adab Hidup Secara Umum, Adab Berhubungan dengan Muslim dan Non Muslim, dan sejenisnya.

Jenis selanjutnya, berhubungan dengan Adat atau Kebiasaan, seperti melakukan perjalanan, berobat, berhias, pakaian, minuman, dan selainnya. Jenis ini tegak di atas pondasi kebiasaan yang berlaku, namun disertai dengan aturan-aturan yang memastikan kebiasaan atau adat tersebut, tidak menyebabkan mudharat bagi manusia itu sendiri maupun bagi masyarakat secara umum.

Agar Anda paham dengan baik makna “Kebebasan Dalam Fikih” ini, atau memahami bahwa fikih itu sama sekali tidak mencekik anak manusia, bahkan sebaliknya; sangat memberikan kelapangan, maka hendaklah setiap mereka melihat seluruh perbuatannya dan seluruh tindakannya. Hendaklah mereka memperhatikan berapa persentasi wajib yang diwajibkan oleh Allah SWT pada hari ini? Berapakah persentasi haram? Berapakah persentasi Mubah? Maka akan didapati bahwa Mubah itu menjadi hokum asal dalam perbuatan manusia dan tindak tanduknya.

Ketika seorang muslim mengetahui bahwa hokum sebagian besar perbuatannya dan tindakannya adalah Mubah, maka hendaklah ia mencintai Allah SWT dan mencintai Islam, mengetahui ketetapan Allah SWT dalam Kitab-Nya terhadap para hamba-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur." (Surat al-Maidah: 6)

Hendaklah ia yakin bahwa ketetapan Allah SWT dalam Kitab-Nya merupakan kaedah emas dalam masalah hokum, yaitu firman-Nya:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (Surat al-Baqarah: 185)

Atau meyakini ketetapan Nabi Muhammad Saw dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh al-Bukhāry dan Muslim:
إن هذا الدين يسر، ولن يشاد الدين أحد إلا غلبه، فسددوا وقاربوا، وأبشروا، واستعينوا بالغدوة والروحة، وشيء من الدلجة
“Agama ini mudah. Tidaklah seseorang mengetatkannya, kecuali ia akan kalah. Maka, luruskanlah dan dekatkanlah. Bergembiralah dan mohonlah bantuan di pagi dan sore hari, serta di waktu malam.”

Pengertian inilah yang difahami oleh Ahli Fikih Umat Islam, dan pengertian inilah yang mereka ungkapkan. Di antara buktinya adalah ucapan al-Imām Ibn al-Qayyim dalam Kitab Ighātsah al-Lahfan (1/ 158):
“Allah SWT menyatukan dalam syariat ini, antara kelurusan dan ketoleranan. Ia lurus dalam bertauhid, dan toleran dalam beramal.”

Bahkan, kebebasan dan kemudahan merupakan syiar umat ini yang membedakannya dengan umat-umat sebelumnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibn Katsīr dalam tafsirnya (2/ 254):
“Nabi Saw diutus dengan kemudahan (al-Taysīr) dan toleran (al-Samāhah). Syariat umat sebelum mereka, penuh dengan kesempitan. Maka, Allah SWT melapangkan perkara umat ini dan memudahkannya bagi mereka.”

Bahkan, salah satu keagungan syariat Islam, ia memberikan beban (al-Taklīf) kepada umatnya jauh lebih minim dari yang mungkin dilakukannya, sebagaimana dikatakan oleh al-Zamakhsyary:
“Allah SWT tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya dan mudah dilakukannya, bukan sesuai dengan puncak kemampuannya dan usahanya. Manusia itu mampu mengerjakan shalat lebih dari lima waktu, berpuasa lebih dari sebulan, dan berhaji lebih dari sekali.”

Kesimpulannya, Teori Pensyariatan (Nazhariyyat al-Tasyrī’) tegak di atas dasar “Kebebasan dalam Fikih”. Ruang kebebasan, jauh lebih luas dari ruang lainnya. Bahkan, kita tidak bisa menghitung kekebasan yang diberikan oleh Allah SWT karena saking banyaknya dan saking melimpahnya. Wajib dan Haram, ruangnya sangat sempit dalam syariat Islam.

---


Catatan ini merujuk kepada artikel yang ditulis oleh Syeijh Mas’ūd Shabry, dengan judul al-Huriyyah al-Fiqhiyyah. Kemudian diterjemahkan, disusun ulang, ditambahkan oleh Denis Arifandi Pakih Sati tanpa mengubah maksud dan tujuan yang ingin disampaikan penulis. []
Read More..

Hukum Mewarnai Rambut Menurut Islam

“Seperti Apakah cat rambut yang halal? Apa hukum mewarnai rambut yang belum beruban? Apa hokum mewarnainya dengan warna hitam? Apa hukum mewarnai rambut beruban? APa hukum mewarnai rambut pirang menjadi hitam, atau pirang menjadi warna-warna lainnya, seperti pink, cokelat, atau sebaliknya? Bagaimankah semir rambut hitam yang halal? Gimana hukumnya jikalau sudah terlanjur mengecat rambut warna hitam?

Semua pertanyaan di atas akan kita uraikan dalam artikel ini.

….


Mewarnai rambut itu trend di kalangan anak muda. Katanya sih, sunnah Nabi. Namun ketika ditanya, ‘Tadi shalat Subuh, ga?” Jawabnya, “Belum”. Hedeh… Padahal ini sudah jam 10 siang.  itu sama saja ente ninggalin yang wajib dan menikmati yang sunnah. Tuh… yang wajib bejibun udah pada dilakukan belum? Jangan kebanyakan gaya.

Hukum Mewarnai Rambut Menurut Islam

Mau tampil gagah atau cantik, merupakan sesuatu yang bernilai pahala di sisi Allah SWT. Dan rambut adalah salah satu karunia keindahan yang diberikan-Nya kepada para hamba, yang harus dijaga dan dirawat dengan sebaiknya.

Dalam haditsnya, Rasulullah Saw bersabda:
من كان له شَعرٌ فليُكرمه
“Siapa yang memiliki rambut, maka muliakanlah.” (HR Abu Daud)

“Muliakanlah”, maksudnya dijaga dengan sebaik-baiknya; dibersihkan, dishampooi, dirapikan. Jangan sampai rambut gondrong, katanya mengikuti sunnah Nabi, namun apek;; bau busuk; banyak kutu. Itu namanya menghinakan rambut, merendahkan sunnah Nabi.

Dalam hadits lainnya dijelaskan:
إن الله جميلٌ يحب الجمال
“Allah itu Indah, dan menyukai keindahan.” (HR Muslim)
Dan salah satu bentuk keindahan itu adalah mewarnai rambut. Tapi dilihat juga, ya; disesuaikan dengan bentuk muka. Sebab seringkali didapati, bukan bermaksud merendahkan; apa yang rambutnya dicat warna tertentu, ga cocok dengan mukanya, jadinya bukan malah tambah ganteng, tapi bikin geli hihi… *ini canda.

Oke… kita balik ke topic saja, tentang bagaimana hokum mewarnai rambut dalam Islam.

_____

Hukum Mewarnai Rambut Dalam Islam Dengan Semua Warna, Kecuali HITAM

_____


Ulama bersepakat, mewarnai rambut dengan warna apapun, menjadi merah atau kuning atau apapun itu, selain dengan warna hitam, maka hukumnya boleh. Tidak masalah, mau mewarnainya dengan henna, atau dengan zafaran, dan lain sebagainnya.

Mewakili fikih Mazhab Hanafi, dalam al-Fatawa al-Hindiyyah (44/45): “Para syeikh rahimahumullah bersepakat bahwa menginai bagi laki-laki dengan warna mereka adalah sunnah, dan ia merupakan salah satu cirri kaum muslimin dan tanda mereka.”

Kemudian dikatakan oleh al-Hashfaky al-Hanafy (Kitab al-Durr al-Mukhtar: 6/ 422): “Disunnahkan bagi laki-laki menginai rambutnya dan jenggotnya.”

Mewakili pendapat Mazhab Maliki, dijelaskan dalam al-Dzakhirah (Kitab al-Fawakih al-Dawani ala Risalah Ibn Abi Zaid al-Qayrawani: 8/ 191) dijelaskan, “Mereka bersepakat bolehnya mengubah uban dengan al-Shafrah, Inai, dan al-Katm. Mereka hanya berbeda pendapat tentang mana yang lebih baik; mengerjakannya atau meninggalkannya. Dalam hal ini, Imam Malik ada dua pendapat.”

Ibn Abdil Barr mengatakan (Kitab al-Istidzakar: 8/ 439): “Para ulama tidak berbeda pendapat tentang bolehnya berinai dengan henna, al-Katm, dan semisal keduanya.”

Mewakili pendapat Mazhab Syafii, dijelaskan dalam Kitab al-Majmu (1/ 293-294): “Disunnahkan menginai uban dengan kuning atau merah. Ini disepakati oleh para sahabat kami, di antara yang terang-terang menyatakannya adalah al-Shumairy, al-Baghawy, dan selainnya.”

Mewakili pendapat dalam Mazhab Hanbali, dijelaskan dalam Kitab al-Mughni (1/ 105): “Disunnahkan menginai uban dengan selain warna hitam. Ahmad mengatakan: Saya melihat orang tua yang menginai rambutnya, dan saya bahagia melihatnya.”

Apa dalil mereka?

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Saw bersabda:
إن اليهود والنصارى لا يصبغون فخالفوهم
“Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak berinai, maka bedalah dengan mereka.” (HR Bukhari)

Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah bahwa ketika Fathu Makkah dibawalah Abu Quhafah mendatangi Nabi Muhammad Saw; rambutnya dan jenggotnya sudah memutih. Kemudian beliau bersabda:
غيروا هذا بشيءٍ واجتنبوا السَّواد
“Ubahlah ini dengan sesuatu, dan jauhilah yang hitam.” (Hr Muslim)

Rasulullah Saw bersabda:
غيِّروا الشيب ولا تشبَّهوا باليهود
“Ubahlah uban dan janganlah kalian menyerupai yahudi.” (HR al-Turmudzi)
Abu Umamah radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw berjalan bersama sekelompok sepuh Anshar yang jenggot mereka sudah memutih, kemudian beliau bersabda:
يا معشر الأنصار، حَمِّّروا وصَفِّروا وخالفوا أهل الكتاب
“Wahai sekalian Ashar, merahkanlah dan kuningkanlah, berbedalah dengan Ahli Kitab.” (Hr Ahmad)

Umm Salamah radhiyallahu anha meriwayatakan bahwa ia melihat rambut Nabi Muhammad Saw merah. (HR Bukhari)

Abu Ramtsah meriwayatkan bahwa ia dan bapaknya mendatangi Nabi Muhammad Saw, dan mereka mendapati jenggot Nabi Muhammad Saw dipenuhi inai. (Hr Bukhari)

_____

Hukum Mewarnai Rambut dengan Warna Hitam

_____


Dalam masalah mewarnai rambut dengan warna hitam ini, ada point yang disepakati para ulama dan ada point yang mereka berbeda pendapat dalam menyikapinya.

Point yang disepakati itu ada dua:

Pertama, Mereka bersepakatkan bolehnya menginai atau mewarnai rambut dengan warna hitam ketika berjihad, sebagaimana dijelaskan dalam al-Fatawa al-Hindiyah(44/ 45): “Sedangkan menginai dengan hitam, siapa saja pasukan perang yang melakukannya, agar semakin ditakuti musuh, maka itu tindakan terpuji. Masalah ini disepakati oleh para syeikh.”

Hal yang sama juga diungkapkan oleh al-Syarwani al-Syafii: 9/ 375: “Menginai rambut dengan hitam, hukumnya haram, kecuali bagi yang berjihad melawan kaum kafirin, maka tidak masalah.”

Ada sejumlah pendapat ulama lain dari mazhab yang sama atau Mazhab lainnya, mengungkapkan pendapat serupa. Intinya, kenapa diizinkan di medan jihad, untuk menakuti para musuh, agar para pasukan kelihatan muda dan kuat. Kalau ubanan, khawatir akan membuat musuh semakin percaya diri, sehingga melahirkan kekuatan lebih.

Kedua, Mereka sepakat tidak bolehnya mewarnai rambut dengan warna hitam dengan al-Talbis (menyembunyikan fakta) dan al-Khada’ (menipu). Misalnya, orang yang sudah usia tua, mau menikahi gadis, maka ia sengaja menghitamkan rambutnya, agar sang gadis tertarik menikah dengannya dan menyangkanya masih muda. Ini jelas. Disepakati keharamannya oleh seluruh Mazhab.

Dalilnya sabda Rasulullah Saw:
من غشّنا فليس منّا
“Siapa yang menipu kami, bukan bagian dari kami.” (Hr Muslim)

Sedangkan point yang menjadi perbedaan di kalangan ulama adalah bagaimana hukumnya mewarnai rambut dengan warna hitam bagi yang tidak dalam kondisi berjihad, kemudian tidak juga ada niat untuk melakukan al-Talbis kepada orang lain atau al-Khada’.

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini:

Pertama: Makruh dengan warna hitam, kecuali bagi orang yang berjihad. Ini merupakan pendapat Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, dan Mazhab Syafii tapi pendapat ini tidak dijadikan pegangan alam Mazhab, serta juga merupakan pendapat Mazhab Hanbali.

Dalil mereka adalah hadits Abu Quhafah yang sudah kita paparkan di atas, yang disuruh untuk menjauhi warna hitam. Hanya saja, larangan disini, dipalingkan maknanya dari haram ke makruh. Karena kata-katanya “jauhilah” bukan “janganlah”.

Kedua, Haram mewarnai rambut dengan warna hitam. Inilah pendapat yang paling shahih dalam Mazhab Syafii, dan salah satu pendapat dalam Mazhab Hanbali.

Dalilnya sama dengan di atas, yaitu hadits mengenai Abu Quhafah. Hanya saja, larangan “jauhilah hitam” itu dimakna al-Tahrim; haram.

Ketiga, Boleh mewarnai rambut dengan warna hitam, selama tidak mengandung unsure al-Talbis dan al-Khada’. Ini adalah pendapat Abu Yusuf, Muhammad bin Sirin, dan Ishaq bin Rahawaih.

Dalilnya adalah sabda Rasulullah Saw:
إن أحسن ما اختضبتم به لهذا السَّواد، أرغب لنسائكم فيكم وأهيب لكم في صدور عدوِّكم
“Sebaik-baik yang kalian gunakan untuk ini adalah hitam, lebih menarik bagi para wanita kalian dan lebih ditakuti di hadapan musuh kalian.” (HR Ibn Majah)

Kemudian juga diriwayatkan banyak para sahabat dan para tabiin yang menginai rambut mereka dengan warna hitam, salah satu tokok utamanya adalah dua orang cucu Nabi; al-Hasan dan al-Husain. Ibn Qayyim al-Jauziyah menjelaskan dalam Kitabnya Zaad al-Maad (4/ 368):
“Memang benar riwayat yang menyatakan bahwa al-Hasan dan al-Husain menginai rambut mereka dengan warna hitam.”

Keempat, Boleh mewarnai rambut dengan warna hitam bagi wanita dengan seizing suaminya. Ini merupakan salah satu pendapat dalam Mazhab Syafii, namun tidak dijadikan sebagai pegangan dalam Mazhab. Artinya, bagi wanita yang belum menikah, tidak boleh. Bagi yang sudah menikah, tapi tidak ada izin suaminya, tidak boleh juga.

Tapi syaratnya harus berhijab ya. Kalau tidak berhijab, ya haram. Mutlak.

Kelima, Boleh bagi perempuan, tapi tidak laki-laki. Hanya saja pendapat ini lemah sekali. Ini merupakan pendapat al-Qary dalam kitabnya Mirqat al-Mafatih.

Kesimpulannya, mewarna rambut dengan warna hitam, hukumnya paling tinggi itu Makruh. Tidak sampai haram. Sebab, ada beberapa riwayat yang menjelaskan para sahabat yang menggunakan warna hitam untuk menginai rambutnya, salah satunya cucu nabi. Apalagi lafadz haditsnya “jauhilah” bukan “janganlah”.  Dan tidak masalah juga dengan pendapat Mubah atau boleh. Asalkan tidak ada niat al-Talbis atau al-Khada’, yaitu niat menipu orang lain, menampakkan diri masih muda padahal udah tua Bangka, pengen dapat gadis tidak sadar usia. ^_^

Namun untuk kehati-hatian; hindarilah mewarnai rambut dengan hitam, apalagi yang warna sudah memutih, usia sudah tua.

______

Catatan-Catatan

______


Oke, di ujung catatan ini, saya ada beberapa catatan:

  • Cat rambut atau mewarnai rambut itu halal-halal saja, baik laki-laki dan perempuan, tua maupun muda, selain warna hitam. Tapi.. sekali lagi tapi. Jangan sampai bermirip-miripan dengan non muslim atau kaum kafir atau kaum musyrikin ya, seperti nyatanya sekarang. Dikenal juga dengan istilah Tasyabbuh bi al-Kuffar Bagi perempuan, silahkan saja, tapi harus berjilbab. Rambut itu aurat, sis! Tapi kalau boleh saya sarankan, tidak usahlah pakai warna yang gimana gitu. Saya sendiri geli melihatnya.

  • Apa hukum mewarnai rambut yang belum beruban? Tidak masalah. Sudah dijelaskan di atas. Pahamkan?!

  • Menyemir uban dengan warna hitam, sudah kita jelaskan pendapat para ulama dalam masalah ini. Untuk kehati-hatian, ya tidak usah. Jikalau mau juga, niatnya jangan sampai al-Talbis dan al-Khada’. Jikalau sudah terlanjur di warnai dengan hitam, ya niatnya jangan sampai salah. Kalau niat awalnya salah, ya segera diperbaiki.


Oke.. begitu saja catatan saja. Salam []
Read More..

Manusia (al-Insân) Dalam Perspektif Islam

Islam memandang manusia (al-Insân) sebagai segenggam tanah (Qabdhah min Thîn al-Ardh) dan tipuan ruh Allah SWT (Rùh Allâh) yang keduanya saling terikat, saling menggenggam, dan saling berinteraksi, yang kemudian membentuk entitas ketauhidan.

Allah SWT berfirman:
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah." (Surat Shad: 71)

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya." (Surat Shad: 72)

Manusia (al-Insân) Dalam Perspektif Islam

Itulah penciptaan manusia; segenggam tanah, kemudian tipuan Ruh Allah SWT, keduanya menyatu sempurna, saling terikat, dan ada interaksi antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga konklusinya menjadi manusia yang kita kenal dan kita pergauli sehari-hari.

Ia bukan segenggam tanah murni, sebagaimana sebelum ditiupkannya ruh. Dan bukan ruh yang terbebas dari segenggam tanah. Keduanya berkumpul dalam satuan yang saling terikat, masing-masing memiliki keistimewaan yang berbeda-beda. Keduanya sangat dan sangat berbeda.

Ketika syahwat bergelora dan tidak terkontrol, maka ia lebih mendekati unsur segenggam tanah. Sebab, ia berhubungan dengan jasadnya lebih dominan dibandingkan dengan bagian-bagian lainnya. Tetapi, ia juga bukan sekadar badan saja layaknya hewan. Manusia juga memiliki kemampuan untuk berpikir, berkeinginan, dan memilih, sampai kegiatan yang berhubungan dengan tanah itu sendiri. Dan ini tidak mampu dilakukan dan tidak mampu dimiliki oleh hewan.

 Ketika bergetar dan bercahaya, maka ia lebih dekat ke unsur tiupan ruh. Sebab, ia bergerak dengan ruhnya menuju alam nyata yag terbatas. Hanya saja, ia bukanlah ruh murni layaknya malaikat. Ia memiliki jasad yang tidak bisa dilepaskannya dari eksistensinya. Perhatilah masa paling agung yang dikenal manusia dalam sejarah bumi, yaitu ketika diturunkannya wahyu kepada Rasulullah Saw; apakah ketika itu beliau adalah ruh murni yang mampu bersalaman dengan Jibril dan menerima wahyunya?

Dengarkanlah firman Allah SWT:
لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ
Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya." (Surat al-Qiyamah: 16)

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ
Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya." (Surat al-Qiyamah: 17)

فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ
Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu." (Surat al-Qiyamah: 18)

Akal bergerak. Lisan bergerak. Rasulullah Saw khawatir jikalau ada hafalan al-Qurannya yang luput. Kemudian Allah SWT menenangkannya bahwa tidak aka nada yang luput darinya. Sebab, Allah SWT sendiri menjamin wahyu tersebut akan dijaga, dikumpulkan, dan dibaca.

Inilah manusia (al-Insân) dengan kedua unsurnya; segenggam tanah dan tiupan ruh.

Setiap usaha untuk menafsirkan salah satu unsurnya tanpa melibat yang lainnya, akan berujung dengan kegagalan, tidak akan mengantarkan kepada fakta. Sama saja, baik unsur tanah maupun unsur ruh.

Kelompok yang batil dan pandangan yang salah, selalu menafsirkan manusia (al-Insân), baik teori maupun praktek atau kedua-keduanya, dengan salah satu sisinya saja, atau dominan satu sisi dan meminimalisir sisi lainnya.

Kaum Materialisme mengunggulkan unsur jasad dan materi, mengabaikan unsur ruh. Kemudian mereka membebaskan diri mereka menikmati segala bentuk syahwat, kenikmatan dan materi. Konklusinya, bangunan materi yang kosong dari percikan cahaya.

Kaum Rohani/ Batiniyah, mengunggulkan unsur ruh dan mengabaikan unsur jasad. Mereka menindasnya dan merendahkannya. Bahkan sebagiannya berusaha menyiksanya dan memenjarakannya, agar bisa melambungkan ruh. Begitulah klaim batil mereka. Inilah yang dilakukan para pendeta. Mereka abai memakmurkan bumi, tidak mau menjalankan tugas pemimpin yang ada di pundak setiap anak manusia.

Sedangkan dalam Islam, manusia diberikan tugas penting, sebagaimana firman Allah SWT:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Surat al-Baqarah: 30)

Islam memuliakan manusia dan mengejarkan mereka mengenai al-Bayân:
۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (Surat al-Isra': 70)

Tugas manusia dalam Islam, bukan sekadar makan dan minum, sama dengan bidang. Juga bukan sekadar memproduksi materi. Manusia adalah khalifah di muka bumi; memakmurkannya, menegakkan keadilan, dan meninggikan ruh. Tugasnya adalah Ibadah dengan pengertian yang konfrehensif, berupa akidah yang benar, menunaikan syiar-syiar agama, dan bersemangat menjalankan seluruh unsur kehidupan, agar dunia ini bisa tegak sebagaimana harusnya.

Dalam al-Quran dijelaskan:
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا
dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)." (Surat al-Syam: 7)

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya." (Surat al-Syam: 8)

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu." (Surat al-Syam: 9)

وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (Surat al-Syam: 10)

Seorang manusia tidak akan mendapatkan keistiqamahannya jikalau tidak ada upaya untuk mensinergikan antara ruh dan jasad. Ia harus mampu menerima jiwanya dan menyempurkan semua keutamaanya, dengan kedua unsurnya. []
Read More..

Sejarah Fatwa Nyeleneh (al-Fatâwâ al-Syâdzah) dan Efek Negatifnya Terhadap Fikih

Bagi kalangan awam yang sudah mencapai usia al-Taklîf, fatwa merupakan salah satu sarana penting baginya untuk mengetahui hokum sebuah masalah dan sebuah kejadian. Kalau di zaman Nabi, kalau ada sebuah masalah, bisa lansung ditanyakan kepadanya dan lansung dapat jawabannya. Setelah beliau meninggal, maka fatwa adalah jalannya. Dengan adanya fatwa, orang awam tidak perlu susah-susah lagi untuk mengkaji dan meneliti. Selain menyulitkan, mereka juga tidak memiliki perangkat pengkajinya dan menelitinya.

Fatwa itu mulai muncul setelah kematian Nabi Muhammad Saw, dengan tetap bersandar kepada salah satu Ushùl al-Syarî’ah, yang merupakan hasil saringan dari al-Ijtihâd orang-orang terpilih umat ini, yang sudah memenuhi syarat untuk melakukan al-Ijtihâd. Dan al-Ijtihâd itu sendiri, tidak akan pernah terputus sampai Hari kiamat kelak, sebagaimana dinyatakan dalam kajian Ushùl al-Fiqh.

Sejarah Fatwa Nyeleneh (al-Fatâwâ al-Syâdzah) dan Efek Negatifnya Terhadap Fikih

Fikih itu tidak pernah lepas dari perbedaan. Itulah tabiat fikih. Sebab, pangkalnya adalah al-Ijtihâd; beda kepala beda pula hasil Ijtihadnya. Tapi, mereka berbeda bukan asal berbeda. Ada dalilnya dan Ushulnya yang menjadi tempat mereka berpijak. Hanya saja kadang-kadang, ada pendapat fikih yang terasa jauh sekali dari tabiat asli fikih, perbedaannya terlalu kentara jikalau dibandingkan pendapat-pendapat fikih kebanyakan.
Read More..

Dialektika Fikih (al-Takyíf al-Fiqhí) Terhadap Seni Menurut Islam

Entah bahasa apa yang cocok untuk mengartikan al-Takyíf ini dalam bahasa Indonesia. Ada yang mengartikannya dengan “Adaptasi”. Ada juga yang mengartikannya dengan “Dialektika”. Ada juga yang saya dapati mengartikannya dengan “Rekayasa”.  Untuk yang terakhir, maknanya terlalu peyoratif. Saya tidak setuju. Sebab, makna al-Takyíf al-Fiqhí  itu positif.

Entah mana yang cocoh. Tapi nanti kita bisa menentukan artinya yang cocoknya atau mendati makna aslinya setelah membaca Artikel berikut.

Al-Takyíf merupakan istilah undang-undang, kemudian dipinjam dan digunakan dalam kajian fikih. Inilah awal mula digunakannya istilah al-Takyíf al-Fiqhí di kalangan ulama kontemporer, yang sepadan dengan makna yang digunakan ketika menyebut al-Takyíf al-Qanùni (al-Takyíf atas Undang-Undang).

Maksud al-Takyíf al-Fiqhí atau al-Takyíf al-Qanùni adalah menentukan pengertian al-Tasharruf (tindakan) atau masalah atau kejadian yang dilihat dengan pandangan fikih atau undang-undang atau peradilan, kemudian membaginya dan menempatkannya di bab yang sesuai, agar bisa diolah dan ditetapkan hukumnya sesuai dialektikanya dan susunannya.

Bagian (I) - al-Takyíf al-Fiqhí Terhadap Seni Menurut Islam

Misalnya, apakah tindakan ini masuk dalam bab Ibadah atau Muamalah atau Adat Kebiasaan?  Apakah ini wajib atau Haram, dianggap salah satu hak Allah SWT atau hak para hamba? Apakah ini criminal yang masuk ke dalam bab al-Hudùd atau bab al-Qishâs atau bab al-Ta’zír? Apakah pembunuh ini jenisnya al-‘Amd atau Khata’ atau Syibh ‘Amd? Apakah menguasai harta orang lain dalam kondisi ini dengan deskripsi seperti ini dianggap pencurian, atau diangggap pengkhiatan terhadap amanah atau Perampokan?

Read More..

Metode Dialog (Manhaj al-Hiwār) Dalam al-Qurān al-Karím

Perbedaan di antara manusia adalah sesuatu yang sunnatullah, yang sudah di-Qadha oleh Allah SWT semenjak zaman Azali. Semua itu sebagai ujian bagi anak manusia dan sebagai al-Taklíf bagi mereka yang ditunjuk sebagai khalifah di muka bumi.

Allah SWT berfirman:
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu." (Surat al-Maidah: 48)

Dalam ayat lainnya dijelaskan:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ أَنْ تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَىٰ مِنْ أُمَّةٍ ۚ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ اللَّهُ بِهِ ۚ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu." (Surat al-Nahl: 92)

Manhaj al-Hiwār (Metode Dialog) Dalam al-Qurān al-Karím

Dan firman-Nya:
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَلَتُسْأَلُنَّ عَمَّا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan." (Surat al-Nahl: 93)

Read More..