Kelompok Islam KTP Menurut Syeikh Rasyid Ridha Dalam Tafsir al-Manār

Ketika berbicara tentang Islam KTP, apa yang terlintas dalam pikiran Anda? Sinetron? Hehe….

Istilah serupa, hanya saja dalam Bahasa Arab, banyak digunakan oleh Syeikh Muhammad Rasyid Ridha dalam tulisan-tulisannya di majalah al-Manār. Yang kemudian dibukukan menjadi Tafsir al-Manār.

Istrilah yang beliau gunakan adalah al-Muslimin al-Jughrafiyyin, yang anonimnya adalah al-Muslimin al-Haqiqiyyin, yaitu Muslim Geografi dan Muslim Hakiki. Jenis yang pertama, merujuk kaum muslimin yang hanya Islam sekadar di kartu identitas saja, nama saja, tapi dengan tidak amalannya, ilmunya, akidahnya, dan lain-lain. Jumlahnya Mayoritas. 

Sedangkan Muslim hakiki, sebaliknya. Mereka adalah orang-orang yang memahami Islam dengan baik. Akidahnya, Ibadahnya, Muamalahnya, dan Sebagainya. Intinya, Islam itu menyatu dalam dirinya; ilmu dan amal. Jumlahnya sedikit.

Kelompok Islam KTP Menurut Syeikh Rasyid Ridha Dalam Tafsir al-Manār

Dalam salah satu Artikelnya di Jilid ke-29, bulan Syawwal 1346 H, halaman 15, dengan judul A’da al-Islām al-Muhāribùna lahu fí Hadza al-‘Ahd, menjelaskan bahwa musuh Islam  itu banyak, dari kalangan internal maupun eksternal. Semuanya berusaha memadamkan cahaya Islam dan memberikan kuasanya kepada yang lainnya. Ada yang melakukannya secara sadar, ada yang semi sadar, dan ada juga yang jahil sama sekali.

Ia menjelaskan bahwa jumlahnya itu ada Sembilan; tiga dari asing, dan lima dari dalam, kemudian satu lagi gabungan keduanya. Dari kelompok asing: *para penjajah *para Missionaris *Para pengajar asing di sekolah-sekolah mereka dan sekolah-sekolah negeri. Dari kelompok dalam: *Para Pembaca Buku nan Taklid *Para Syeikh Tarikat yang Ahli Bidah *Para penyeru Westernisasi * Para Atheis *Para Reformes yang berusaha menghapus masa lalu *Para Aktivis Feminis.

***

Peran al-Manār


Syeikh Rasyid Ridha menjelaskan peran al-Manār untuk menghadapi orang-orang tersebut, dengan berbagai metode sesuai dengan kelompok yang dihadapi, sesuai dengan perbedaan yang ada pada mereka.

Ia menjelaskan:
“Seharusnya, al-Manār berjuang melawan semua musuh-musuh Islam yang menyerang Islam, baik akidahnya, syariatnya, adabnya, kuasanya, dan bahasanya. Sejak awal al-Manār ini dibentuk, ia menjalankan beban kewajiban ini, walaupun sedikit yang membantunya dan minim yang menolongnya.

Di tahun-tahun pertama, kami mulai dengan berjihad menghadapi para musuh agama dan musuh Islam, yang mereka berasal dari kalangan umat Islam sendiri. Kami menyeru mereka untuk kembali ke jalan Allah SWT dengan cara hikmah dan nasehat yang baik, kemudian kami berjidal melawan mereka juga dengan cara yang baik.

Setelahnya, barulah kami melawan orang-orang asing, apalagi para missionaries Kristen. Di antara bab terbuka dalam al-Manār dalam setiap Juz nya adalah Bab berjudul Syubhāt al-Nashārā wa Hujaj al-Islām, sebagaimana juga ada salah satu babnya yang menjadi al-Bida’ wa al-Khurāfāt wa al-Taqālid wa al-‘Aādat.

Dalam waktu bersamaan, kami berkali-kali menjelaskan bahaya westernisasi yang bersifat semu. Maknawi, dan social. Kemudian muncullah berbagai kerusakan akibat atheism yang digemborkan kaum Westernisasi, dimana mereka secara terang-terangan menyerang agama dalam berbagai dialog dan pidato yang disampaikan dalam berbagai acara, serta juga dengan berbagai artikel yang disebarkan di koran-koran.

Maka, al-Manār bangkit untuk menjelaskan kesalahan-kesalahan mereka, menunjukkan hakikat diri mereka, memaparkan kerusakan-kerusakan dan mudharat yang akan mereka timbulkan.”

Syeikh Rasyid Ridha menjelaskan bahwa tenaga yang dibutuhkan dalam perjuangan ini, jauh di atas kemampuan yang dimiliki oleh al-Manār:

“Apa yang bisa dilakukan satu pena dalam satu lembar kertas, melawan jumlah mereka yang menyerang begitu banyak? Inilah upaya yang dilakukan, menunaikan fardhu kifayah, semua umat akan berdosa jikalau meninggalkannya. Tidak ada usaha yang bisa dilakukan al-Manār, kecuali menolak dosa ini dari semua anak manusia di seluruh bumi, yang penyimpangan-penyimpangan Kristen ada disitu, begitu juga dengan Atheisme dan Bidah.

Paling, ia menjadi wakil. Menolak sesuai dengan penyebarannya, yang sampai kepada siapa saja yang sampai atau diterjemahkan. Semua kerusakan ini tampak nyata di semua negeri atau semua wilayah dengan bentuk yang harus ditolak dan harus dijelaskan kebatilannya, dengan berbagai ungkapan dan hujjah yang berbeda hasilnya antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.”

Artinya, semua negeri itu menggunakan sarana dan penjelasan yang sesuai, menyesuaikan syubhat dan metode penyesatan yang digunakan.

***

Para Aktivis Westernisasi dan Atheisme


Kemudian Syeikh Rasyid Ridha menjelaskan bahwa orang-orang yang suka menyerang Islam dari kalangan pendukung Westernisasi dan para zindik atheis, mengkampanyekan syiarnya para Missionaris, yaitu mengajak umat Islam untuk mengabaikan agamanya dan berpikir atheis, serta derivasi keduanya berupa sikap zindik, menghalalkan kehormatan dan harta orang lain, melanggar nilai mulia kehormatan dan adab, mengurai semua ikatan yang dibentuk oleh umat Islam. Tidak ada satu pun lagi yang dijaga demi membumikan semua kerusakan ini, kecuali taktik agar tidak mendapatkan sanksi dari pemerintah ketika undang-undang dilanggar.”

Syeikh Rasyid Ridha menjelaskan bahwa tujuan para pengusung Westernisasi dan Atheis adalah menghancurkan Islam dan melemahkan semangatnya:
“Mereka berusaha menghancurkan agama Islam dari semua sisinya; akidah, syariah, adab, dan fadhilah. Selain itu, juga menghancurkan semua unsure-unsur umat Islam, khususnya Arab; bahasa dan fashion, agar tidak ada lagi sesuatu pun dari masa lalunya yang dijaga, bahkan kalau bisa tidak ada lagi yang namanya umat Islam. Sebab, umat itu ada karena ada masa lalunya, sejarahnya, unsure-unsurnya, baik semi-real maupun maknawi.”

Klaim batil yang menjadi sandaran mereka:
“Semua masa lalu yang ada pada diri umat Islam, itu sudah kuno, rusak dan tidak layak, wajib diganti dengan selainnya yang masih baru, yang diambil dari teori-teori, etika-etika, tradisi-tradisi dan fashion-fashion Eropa. Mereka menyerukan semua yang baru dan meninggal semua yang lama.”

Dan banyak lagi semisalnya lainnya di masa kita ini yang menyatakan bahwa al-Turats al-Islami adalah bagian dari masa lalu dan tidak layak untuk masa sekarang dengan segala hal barunya dan masalah-masalahnya. Tidak ada alternative lainnya, kecuali dengan peradaban barat dengan segala manisnya dan pahitnya.

Syeikh Rasyid Ridha mewanti-wanti dalam bahwa menyebarkan ide-ide mereka, mereka memanfaatkan para pemuda yang memiliki tenaga besar namun tidak memiliki kematangan yang sempurna, serta juga memanfaatkan orang-orang awam yang tidak memiliki filter yang membentengi dirinya dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan:
“Dalam kampanye mereka, mereka bergantung dengan generasi baru dari kalangan pemuda dan pemuda, yang biasanya bergantung dengan semua yang baru karena lucu dan nikmat, kemudian juga karena akidah mereka, adab mereka, dan akal mereka yang belum mengakar. Kemudian bagi orang awam, mereka menerimanya karena bisa menikmatinya, memutus rantai ikatan dan membebaskan syahwat.”


***

Ahli Fikih yang Taklid & Ahli Tasawuf yang Suka Melakukan Bidah


Selain itu, penulis al-Manār menjelaskan bahwa para Ahli Fikih yang Taklid dan Ahli Tasawwuf yang suka melakukan bidah, sudak berpaling dari tugas utama mereka dan kewajiban yang seharusnya mereka jalankan. Akibatnya, mereka terjerumus ke dalam perangkap  rancana-rencana non muslim:
“Jikalau bukan karena kekakuan/ rigid para ahli fikih yang taklid (yang menimbun ilmu-ilmu Islam di negeri-negeri Islam berabad-abad yang lalu), dan jikalau bukan karena ahli tarikat-tasawuf dan segala khurafat yang mereka lakukan (mereka adalah orang-orang yang pendahulu mereka sangat perhatian sekali dengan pendidikan agama, agar agama tersebut menjadi “rasa” di jiwa pemeluknya, tidak menerima perdebatan dan pertikaian, kemudian setelah mereka berubah menjadi upaya pengrusakan yang tidak menerima reformasi sedikit pun, dengan alasan apapun). Jikalau bukan karena mereka, maka para pelaku pengrusakan ajaran Islam dan para Missionaris, tidak akan memberikan pengaruh apapun dalam upaya mereka menyesatkan kaum muslimin.”

Ia menambahkan:
“Walaupun  para ahli fikih yang taklid terhadap mazhab-mazhab itu adalah sisa orang-orang yang menjalankan zahir Islam, maka itu bukan berarti mereka bebas dari tuduhan criminal atas Islam dan membuat orang lain lari meninggalkannya. Sebab, mereka memonopoli hokum segala sesuatu atas nama agama dan mewajibkan orang lain untuk mengikuti mereka. Mereka sudah terbiasa dengan kepemimpinan seperti ini semenjak berabad-abad yang lalu, yaitu kepemimpinan atas apa yang diturunkan oleh Allah SWT. Dahulu, mudharatnya itu kecil, sekarang besar.”

***

Manusia-Manusia yang Rigid dan Ilmu-Imu Kontemporer


 Kemudian Syeikh Rasyid Ridha membuat contoh fitnah yang kemunculannya disebabkan oleh para Ahli Fikih yang Rigid. Mereka, atas nama agama, menentang pembelajaran ilmu, pengetahuan, dan industri kontemporer, yang tidak mungkin bagi pemerintah menjaga kemerdekaannya dengan semua itu, kemudian tidak mungkin juga umat Islam ini akan maju dalam pertaniannya dan perdagangan tanpa semua itu.

Ia menjelaskan bahwa di antara industry-industri dan pengetahuan-pengatahuan ini, ada yang Qath’I yang tidak mungkin diragukan urgensinya. Namun, para Ahli Fikih yang Rigid menjudge orang-orang yang meyakini hal Qath’i ini dengan label “kufur”. Merekalah orang-orang yang menentang Daulah Utsmaniyah dan selainnya untuk mendapatkan manafaat dari ilmu dan pengetahuan ini. Mereka mengklaim bahwa ini bertentangan dengan agama dan menyelisihi al-Quran, sampai-sampai mereka mengharamkan ilmu Geografi, padahal objeknya dan bahasan-bahasannya sama sekali tidak ada kaitannya dengan ilmu-ilmu agama, kecuali sekadar menguakan bahwa bumi  itu bulat.

Masalah bentuk bumi bukanlah bagian dari masalah akidah, tidak juga masuk dalam kajian hukumnya dan adabnya. Allah SWT tidak mewajibkan para hamba-Nya untuk meyakini bahwa ia seperti roti atau datar atau bulat. Pada hari kiamat, tidak ada seorang pun yang akan ditanya iman seseorang tentang masalah bentuk bumi. Jikalau ketidaktahuannya masalah bentuk bumi tidak memudharatkan agamanya, maka tidak masalah ketika ia mengetahuinya dengan salah satu jalan pengetahuan, selama bermanfaat bagi dunianya?!

Penulis al-Manār ini menunjukkan bahwa Isrāiliyat memiliki pengaruh terhadap kemunculan pemahaman-pemahaman yang rigid atau kaku tersebut:
“Para Ahli Fikih yang memonopoli ilmu agama dan keukeuh membelanya tanpa ilmu, menginginkan sesuatu yang bukan bagian dari Islam, taklid terhadap para penulis terdahulu yang meracuni kitab-kitab tafsir dan hadits. Mereka membuat penambahan, yang jenis penambahannya paling parah adalah khurafat yang dibuat oleh para zindik Yahudi dan Persia tentang masalah Penciptaan dan Pembentukan Semesta, bentuk langit dan bumi, planet, petir dan kilat, bukit Qaf, sapi jantan, ikan paus, dan sebagainya. Kemudian mereka mengkafirkan orang yang tidak setuju dengan pendapat mereka. Mereka menjadikan mitos-mitos Israiliyat ini sebagai bagian dari rukun Iman yang menyebabkan keluarnya orang yang mengingkarinya dari Islam. Padahal para penulisnya yang menyebutkannya dalam kitab-kitab mereka dari kalangan ulama terdahulu, tidak menuliskannya demi hal ini yang sampai menyentuh Ushuluddin dan tidak juga Furu’nya. Bagaimana mungkin akan berkurang keislaman seseorang yang Allah SWT berikan ilmu yakin, bahwa semua itu adalah mitos-mitos yang batil?”

Syeikh Rasyid Ridho menunjukkan point penting bahwa para Ahli Fikih nan Rigid, bersekutu dengan para Atheis untuk menghancukan Islam dengan cara-cara yang tidak mreka sadari. Mereka merusak para pelajar dengan metode kontemporer yang independen (terbebas) dari Islam dari segala sisinya, memutus jalan dari para ahli agama yang ilmunya mendalam.

***

Solusi Masalah


Kemudian Syeikh Rasyid Ridha bertanya-tanya, “Apakah yang dilakukan oleh al-Manār dan orang yang menempuh Manhaj al-Manār?

Ia menjelaskan pentingnya menyebarluaskan kesadaran di tengah umat, agar opini umum bisa menolak semua mitos-mitos ini:
“Saya mendapati, banyak dari para pemimpin kita, baik dalam bidang ilmu, agama, dan intelektual, putus asa untuk melakukan reformasi dan perbaikan. Tetapi saya mengatakan, keburukan itu bisa dihilangkan jikalau orang-orang yang memiliki kemampuan mau bangkit segera dengan system yang lurus. Kekuatan yang mampu mengalahkan semua kekuatan yang ada di zaman ini adalah kekuatan opini umum umat Islam.”

Tidak diragui bahwa saran yang disampaikan oleh Syeikh Rasyid Ridha, masih relevan dengan kondisi kita sekarang ini. Relevan sekali. Kita masih mendapati banyak kaum muslimin yang sekadar KTP saja atau Islam KTP, yang jumlah mereka ada enam; *Para Ahli Fikih nan Taklid *Para Ahlu Tasawuf yang Ahli Bidah *Para Penyeru Westernisasi *Para Atheis *Para Pembaca Buku-Buku Kontemporer *Para Aktivis Feminis.

Maka, untuk menghadapi semua itu, kita membutuhkan solusi, yang secara global sebagai berikut:
-Kembali kepada al-Quran dan Sunnah Nabi. Dalam memahaminya, perlu dibedakan antara Tsabit lagi Muhkam Nafidz, dengan yang Furu’ Mutaghayyir Mutasyabih yang dbolehnya adanya perbedaan pendapat.
-Membebaskan Islam dari pemahaman-pemahaman yang salah, baik dalam bidang fikih, tafsir, dan selainnya, atau di bidang ruhiyah atau sense, sebagaiaman disebut oleh Syeikh al-Ghazali.
-Memfilter al-Turats al-Islami, tidak rigid memahaminya. Bangga memilikinya, namun tidak kaku.
-Menggunakan al-Maqāshid dan al-Kulliyyāt, dengan tidak melangkahi al-Tsawābit dan hokum-hukum yang Qath’i
-Menetapkan Mizan (Standar/ Timbangan) tentang bagaimana mengambil faedah dari apa yang ada pada orang lain, bukan eksklusif atau malah larut dengan yang lainnya.
-Memberikan kepada para wanita apa yang berhak didapatkannya; posisi dan kedudukan di masyarakat, dengan tetap menjaga aturan Islam.

***


Itulah jenis umat Islam. Dahulu ada, sekarang ada dan malah makin banyak. Hehe… Kita memohon ampunan kepada Allah SWT atas kelemahanan kita dalam berdakwah dan Islam. Saya mengingatkan diri sendri dan kita semua, marilah berIslam dengan baik. Jangan sekadar Islam KTP. Mari menjadi Islam atau Muslim yang hakiki, yang mengejawantahkan Islam dalam diri dan dalam kehidupan.

Semoga catatan ini bermanfaat. Salam []
Read More..

Qiyās al-Syabh Menurut Pakar Ushul Fikih dan Kalangan Umum (Awam)

Qiyas merupakan salah satu kajian dalam Ushul Fikih. Ketika para pakar Ushul Fikih menyebut Qiyas, maka itu Qiyas dalam artian yang sudah terperinci, yang maknya jelas, lengkap dengan syarat dan rukunya.

Hanya saja, kata-kata “Qiyas” ini juga sudah menjadi kata umum di kalangan masyarakat awam, namun dengan metode yang tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh pakar dan ulama Ushul Fikih.

Ushul Fikih itu bukanlah kajian yang gampang. Sulit. Kalau tidak percaya, Tanya saja orang yang pernah belajar Ushul Fikih. Apalagi masalah ‘Ilat. Itu tambah sulit lagi. Walaupun kita katakan sulit, ada sekelompok orang yang baru baca judul buku “Ushul Fikih” sudah mengakui menguasai Ushul Fikih. Hedeh….

Qiyās al-Syabh Menurut Pakar Ushul Fikih dan Kalangan Umum (Awam)

Dalam catatan ini, kita akan melihat suatu masalah menarik, yaitu masalah Qiyās al-Syabh di kalangan Pakar Ushul Fikih dan Kalangan Umum, yang penulis urai dan ambil dari tulisan menarik dari Syeikh Hamid al-Athhar, lewat artikelnya yang berjudul Qiyās al-Syabh ‘Inda al-Ushuliyyin wa al-‘Ammah.

Mari baca baik-baik…

***

Qiyās al-Syabh


Ada pertanyaan begini, “Apa sebabnya al-Qiyās dalam Ushul al-Fiqh begitu njlimet? Kenapa sudah mengkajinya dan sudah juga menerapkannya? Bukanlah semua manusia menggukan al-Qiyās dalam kehidupannya, dimana ia menghubungkan antara sesuatu yang serupa dengan yang lainnya, kemudian menetapkan hukumnya?”

Jawabannya, “al-Qiyās dengan makna arti seperti kebanyakan orang itu, dinamakan oleh pakar Ushul al-Fqh dengan sebuah Qiyās al-Syabh, yang merupakan sebuah jenis al-Qiyās yang batil dalam pandangan Ushul Fiqih dan batil juga dalam pandangan sejarah. Makanya, ketika menjelaskan masalah syarat-syarat al-Qiyās dan pengertian al-Qiyās yang benar, para pakar Ushul al-Fiqh menjelaskannya dengan panjang lebar, agar ia tidak bercampur dengan Qiyās al-Syabh yan batil.

***

Pengertian Qiyās al-Syabh


 Apa pengertian Qiyās al-Syabh? Para ulama menjelaskannya begini:
الجمع بين أمرين لاشتراكهما في  نوع من الشبه
“Menyatukan di antara dua perkara karena keduanya bersekutu di salah satu jenis kesamaan.”

Kebatilannya dalam sejarah, al-Quran sudah menyebutkan sejumla contong tentang Qiyās al-Syabh ini, yang banyak digunakan oleh kalangan awam. Jikalau kita memperhatikan contohnya, maka kita akan mendapati bahwa semua contoh ini menunjukkan batilnya Qiyās- Qiyās yang mereka melakukan, kemudian juga menunjukkan kepada kita bahwa Qiyās al-Syabh ini menjadi pintu bagi sebagian penganut kebatilan untuk menipu manusia, dengan menunjukkan kebatilan seolah-olah sebuah kebenaran.

***

Contoh-Contoh Qiyās al-Syabh


Di bagian ini, kita akan melihat beberapa contoh terkait Qiyās al-Syabh ini dalam al-Quran al-Karim.

1# “Apakah Mereka (Manusia) akan Menunjuki Kami?”
Di antara contoh yang disebutkan oleh al-Quran adalah al-Qiyās yang menjadipenyebab banyaknya anak manusia yang berpaling dari dakwah para Rasul. Dalam al-Quran dijelaskan:
فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَىٰ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ
Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta." (Surat Huud: 27)

Coba perhatikan ayat di atas. Bagian yang digarisi. Mereka melihat masalahnya dari sisi “sama-sama manusia, sama-sama anak cucu Adam.” Dengan metode Qiyās al-Syabh, mereka menetapkan hokum salah satu yang sama, dengan yang lainnya. Seolah-olah mereka mengatakan, “Kami manusia, kalian manusia. Sebagaimana kami bukanlah para Rasul, maka kalian juga begitu. Jikalau kita sama dalam hal ini, maka kalian sama seperti kami. Tidak ada keistimewaan bagi kalian.”

Ibn al-Qayyim menjelaskan maknanya:
“Ini merupakan salah satu betuk Qiyās paling batil. Faktanya menjelaskan bahwa sebagiannya lebih istimewa dari yang lainnya. Status social sebagian orang dan status kekayaan mereka, membuat mereka lebih mulia dan lebih terhormat di bandingkan yang lainnya dalam urusan duniawi. Sebagian manusia ada yang menjadi rakyat, dan sebagian lainnya ada yang menjadi pemimpin. Sebagiannya ada yang menjadi raja, dan sebagiannya lagi menjadi pelayan.”

 Hal itu ditunjukkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Surat al-Zukhruf: 32)

Para Rasul menjadi pernyataan ini dengan mengatakan:
قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ وَمَا كَانَ لَنَا أَنْ نَأْتِيَكُمْ بِسُلْطَانٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: "Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal." (Surat Ibrahim: 11)

Kemudian Allah SWT menjawab dengan firman-Nya:
وَإِذَا جَاءَتْهُمْ آيَةٌ قَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ حَتَّىٰ نُؤْتَىٰ مِثْلَ مَا أُوتِيَ رُسُلُ اللَّهِ ۘ اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ ۗ سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا صَغَارٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُوا يَمْكُرُونَ
Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: "Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah". Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya." (Surat al-An'am: 124)

Kemudian juga firman-Nya:
وَقَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِلِقَاءِ الْآخِرَةِ وَأَتْرَفْنَاهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا مَا هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُونَ مِنْهُ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُونَ
Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia: "(Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan dari apa yang kamu makan, dan meminum dari apa yang kamu minum." (Surat al-Mukminun: 33)

Kemudian firman-Nya:
وَلَئِنْ أَطَعْتُمْ بَشَرًا مِثْلَكُمْ إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُونَ
Dan sesungguhnya jika kamu sekalian mentaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian, kamu benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi." (Surat al-Mukminun: 34)

Para Rasul menjelaskan bahwa kesamaan dari "sisi manusia" yang mereka jadikan sebagai ukuran, dengan segala kekhususannya berupa makan dan minum, semua itu hanyalah Qiyās al-Syabh dan Jama' al-Shùry. Hal ini semisal denga firman Allah SWT:
ذَٰلِكَ بِأَنَّهُ كَانَتْ تَأْتِيهِمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالُوا أَبَشَرٌ يَهْدُونَنَا فَكَفَرُوا وَتَوَلَّوْا ۚ وَاسْتَغْنَى اللَّهُ ۚ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
 Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-Rasul mereka membawa keterangan-keterangan lalu mereka berkata: "Apakah manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami?" lalu mereka ingkar dan berpaling; dan Allah tidak memerlukan (mereka). Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (Surat al-Taghabun: 6)

2# “Jikalau ia Mencuri, Maka Saudaranya Mencuri juga Sebelumnya.”
Contoh kedua yang diceritakan al-Quran adalah hikayat al-Quran tentang saudara Nabi Yusuf alaihissalam, ketika mereka mengatakan ketika mendapati takaran di karung saudara mereka, “"Jika ia mencuri, maka sesungguhnya, telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu.” (Surat Yusuf: 77)

Ibn al-Qayyim menjelaskan, “Mereka sama sekali tidak menyatukan antara al-Ashl dengan al-Furu’ dengan ‘Ilatnya, dan tidak juga dengan dalilnya. Mereka hanya menggabungkan salah satu dari keduanya dengan yang lainnya tanpa ada dalil yang menyatukan selain sekadar kesamaan saja yang menyatukan antara dirinay dengan Yusuf. Mereka mengatakan, ‘Ini diqiyaskan dengan saudaranya. Di antara keduanya banyak kesamaan, yaitu ia juga pernah mencuri sebelumnya. Ini adalah al-Jam’ dengan kesamaan yang tdiak ada sama sekali. Qiyas yang hanya sekadar bentuk tanpa ‘Ilat kesamaan, maka ia adalah Qiyas yang Fasid (rusak). Sama dalam hal kekerabatan persaudaraan bukanlah ‘Ilat persamaan dalam “mencuri”, walaupun mencuri itu sebuah fakta. Tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa ada kesamaan dalam masalah. Al-Jam’ yang dilakukan adalah jenis al-Syabh yang kosong dari ‘Ilat dan juga tidak ada dalilnya.”

3# “Jual beli itu sama dengan riba.”
Dalam hal ini, orang-orang musyrik mengqiyaskan riba dengan jual beli, dengan sekadar al-Syabah al-Shury (kesamaan semu), seolah-olah orang yang melakukan riba hanyaah sekadar meminta tambahan sebagai kompensasi waktu, sama dengan penjual kredit yang meminta tambahan sebagai kompensasi waktu. Artinya, kata mereka, jikalau kalian membolehkan jual beli, maka kalian juga harus membolehkan riba. Itulah yang dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba." (Surat al-Baqarah: 275)

4# “Apa yang Allah bunuh, dan apa yang kalian Bunuh.”
Ketika Allah SWT mengharamkan bangkai, maka orang-orang musyrik mengatakan, “Apa yang dibunuh Tuhan kalian, janganlah kalian memakannya. Dan apa yang kalian bunuh dengan tangan kalian, maka makanlah.”

Mereka menganalogikan kematian bangkai/ tanpa sembelih dengan kematian akibat sembelih. Artinya, kata mereka, bangkai itu mati sendiri, Allah SWT yang menghilangkan nyawanya. Sedangkan sembelihan, kalian kalian menghilangkan nyawanya dengan pisau. Jadi, kenapa kalian menghalalkan yang kalian bunuh dengan tangan kalian dan tidak mau dengan apa yang dihilangkan nyawanya oleh Allah SWT? Kan sama saja, kata mereka.

***

Qiyās al-Syabh dan Fikihnya Orang Awam


Qiyas itu sulit. Ya, memang sulit. Studinya maupun prakteknya. Hanya saja, ia merupakan salah satu dalil syariat yang paling banyak digunakan di kalangan masyarakat awam. Makanya, seringkali kita mendapati ada seseorang yang awam ilmu agamanya, ketika ia mendapati atau mengetahui hokum suatu masalah dalam Islam, baik karena dibacanya maupun didengarkannya, maka ia akan mengqiyaskan puluhan masalah dengan masalah tadi, kemudian juga mengqiyaskan puluhan kondisi yang sebenarnya berbeda.

Orang awam tadi membuat furu’ puluhan masalahnya dengan dasar satu masalah yang sudah didapatinya hukumnya, hanya karena sekadar adanya al-Syabh antara masalah yang diketahuinya dengan masalah yang baru.

Makanya tidak heran, sering kita saksikan ada orang yang sudah kayak pakar Ushul, padahal baru tahu kata Ushul kemarens sore. Hehe…. ^_*

Para ulama tidak membolehkan seorang awam berfatwa untuk dirinya sendiri untuk masalah yang terjadi hari ini, dengan fatwa yang dikeluarkan kemaren, walaupun mungkin ia melihat ada kedekatan dan kemiripan dalam masalah.

Inilah yang ditegaskan oleh Imam al-Nawawi dalam Kitabnya Adab al-Fatwa wa al-Mufti wa al-Mustafti: 43:
“Begitu juga dengan orang awam. Jikalau ada suatu masalah yang menimpanya dan sudah dipertanyakannya sebelumnya, kemudian masalahnya terjadi lagi, maka lazim baginya untuk bertanya lagi, berdasarkan pendapat yang paling shahih. Kecuali masalahnya sudah sering terjadi dan sulit baginya bertanya lagi, maka hal itu tidak lazim baginya. Cukup baginya dengan jawaban dari pertanyaan sebelumnya karena kondisinya yang sulit.

***

Kesimpulan


Apa kesimpulan yang didapatkan dalam catatan ini?
Ushul Fikih itu tidak semudah membalik telapak tangan. Jangan disangka, Anda duduk bermajelis sekali, kemudian lansung menjadi pakar Ushul, yang mampu mengurai semua masalah fikih. Qiyas yang sering digunakan oleh orang awam adalah Qiyās al-Syabh.

Hukumnya? Jelas tidak boleh, sebab tidak terpenuhinya syarat-syarat yang sudah kita jelaskan di atas. Pelajari dulu Qiyas yang ada dalam Ushul Fikih dulu dengan baik. Pahami dengan sebenar-benarnya. Jangan asal saja.

Baca kalam Imam al-Nawawi di bagian akhir. Itulah fenomena yang banyak kita saksikan saat sekarang ini. Kita sering mengqiyaskan antara satu fatwa dengan fatwa lainnya, hanya karena kesamaan di satu sisi saja. Akibatnya, fatwanya ngawur bin ngawur bin nyeleneh.

Sip. Itu catatan saja. Semoga bermanfaat. []
Read More..

Haji Perlu Ditunda

(Dimuat di Opini Republika, Edisi 28/4/2015)
***

Wacana  yang  dihembuskan beberapa pengamat untuk menunda pelaksaan ibadah haji tahun 2015 ini, seperti yang disampai oleh pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara Dr Ansari Yamamah di Medan (Republika, 23/4) perlu untuk dikaji dan dilihat, terutama jikalau kondisi di Yaman terus memanas.  Keselamatan jiwa tentu lebih penting dan lebih diutamakan. Sebab, keberadaan syariat sendiri salah satunya untuk menjaga eksistensi jiwa (hifzd al-nafs).

Keadaan di Yaman sampai saat ini belum begitu stabil, masih penuh dengan gonjang-ganjing. Pada hari Rabu (22/4), pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi resmi mengumumkan berakhirnya operasi “Badai Pasir”, sebagaimana disampaikan oleh juru bicara koalisi, Brigadir Jenderal Ahmed al-Asiri,  kemudian menggantinya dengan operasi baru yang bernama “Harapan Baru”, yang merupakan gabungan dari upaya militer, politik, dan diplomatic untuk mengembalikan kondisi stabil di Yaman.

Haji Perlu Ditunda

Beberapa bulan ke depan, pemberangkatan jamaah haji asal Indonesia akan mulai dilakukan. Dan ini tentu harus menjadi perhatian pemerintah, terutama kondisi keamanan yang ada disana.Pemerintah harus bisa memberikan jaminan keamanan bagi orang-orang yang akan menunaikan ibadah haji. Jangan sampai ada yang berada dalam kondisi bahaya. Sebab, dalam kondisi tidak normal (perang), kemungkinan buruk bisa saja terjadi. Dan menolak kemudharatan itu harus lebih didahulukan dari mendatangkan kemaslahatan (dar-u al-mafasidawla min jalb al-mashalih).

Satu pertanyaan yang perlu direnungkan, jikalau kondisi tidak kondusif juga, apakah ibadah haji harus ditunda, sebagaimana disampaikan oleh sebagian pengamat?

Syeikh Ali Jumah, yang sekarang menjadi Syeikh al-Azhar,  pernah menulis dalam harian al-Ahram (3/10/2009)tentang beberapa sebab yang bisa dijadikan landasan untuk menunda haji.

Pertama, cuaca yang sangat ekstrim, yang menyebabkan para jamaah haji tidak mampu bertahan dalam kondisi seperti itu. Dalam artian, jikalau tetap dilakukan, maka dikhawatirkan akan membahayakan jiwanya. Ekstrim disini bisa saja dingin yang sangat luar biasa atau panas yang sangat menyiksa, yang tidak mampu lagi ditanggung oleh tubuh.

Kedua, Tersebarnya wabah penyakit yang berbahaya. Jikalau dalam suatu waktu, ada wabah yang tidak mampu dicegah, yang dikhawatirkan akan menjangkiti dan membunuh orang-orang yang menunaikan ibadah haji, maka dalam kondisi ini pemerintah atau lembaga yang berwenang bisa saja mengambil kebijakan untuk mencegah penyebaran penyakit yang membahayakan demi menjaga jiwa.

Ketiga, Bencana kekeringan. Jikalau di wilayah haram atau dalam safar menuju wilayah itu, tidak ada air untuk memenuhi dahaga sehingga dikhawatirkan akan menyebabkan kehausan yang berujung kematian, maka kebijaksaan harus diambil dalam kondisi seperti ini.

Keempat, Gejolak politik. Kondisi politik wilayah yang akan membahayakan orang-orang yang akan menunaikan ibadah haji, juga bisa dijadikan landasan bolehnya menunda pelaksaan ibadah haji sampai kondisi politik tersebut stabil.

Kelima, Gejolak keamanan. Jikalau di wilayah terjadi sesuatu yang mengguncang keamanan, misalnya terjadi pemberontakan dan sejenisnya, maka kebijakan untuk menunda pelaksaan ibadah haji sampai keamanan itu kembali kepada kondisi yang tenang adalah ijtihad yang bisa terima akal.

Keenam, Gejolak ekonomi. Kondisi ekonomi yang tidak baik dan harga yang meroket adalah salah satu point yang bisa menyebabkan tertunda pelaksanaan ibadah haji. Dalam kondisi seperti itu, tentu ada prioritas lain yang bisa didahulukan.

Ketujuh, Kondisi udara yang menyebabkan tidak amannya penerbangan, yang bisa berpangkal dari adanya pemberontakan atau ancaman alami seperti angin dan badai yang bisa membahayakan jiwa.

Kedelapan, perompak. Jikalau dalam perjalanan menuju wilayah haram ada ancaman perompak, yang menghadang orang-orang yang menunaikan haji di dalam perjalanan, dan pihak terkait tidak mampu mencegahnya dan menjamin keamanan, maka kondisi ini bisa dipertimbangan untuk menunda haji.

Itulah beberapa alasan yang disampaikan oleh Syeikh Ali Jumah yang bisa menyebabkan penundaan pelaksaan ibadah haji. Sebenarnya, itu hanyalah beberapa point saja dari sekian banyak point yang bisa dijadikan pertimbangan. Dan jikalau diperhatikan, semua itu kembali kepada satu point utama, yaitu menjaga jiwa.

Jikalau jiwa terancam oleh keadaan yang menyertai pelaksaannya, maka penundaan pelaksanaanya adalah kebijakan yang layak diambil. Dan muara utama dari semua ini adalah Istitha’ah (kemampuan). Kemampuan yang dimaksud dalam Islam bukan saja kemampuan Maali (harta) semata, namun juga kemampuan dari segi jaminan keamanan.

Dalam sejarahnya, tertundanya pelaksaan ibadah haji memang pernah terjadi, yang merupakan efek dari keamanan wilayah yang tidak kondusif dan membahayakan. Al-Zahaby (Tarikh al-Islami, 23/374) pernah menjelaskan kejadian tahun 316 H. Pada waktu itu tidak ada seorang pun yang menunaikan haji karena takut dengan Qaramithah, yaitu salah satu sekte syiah yang ekstrim dan radikal. Hal yang sama juga disampaikan oleh Ibn Tagharry Bardy (al-Nujum al-Zhahirah, 3/227). Bahkan ini berlansung sampai tahun 326 H. Ibn Katsir (al-Bidayah wa al-Nihayah, 11/265) menjelaskan tentang kejadian berbeda yang terjadi pada tahun 357 H. Pada waktu itu, ada penyakit menular berbahaya yang menewaskan banyak manusia, kemudian banyak unta orang-orang yang menunaikan haji meninggal dalam perjalanan karena kehausan dan tidak mendapatkan air. Tidak ada yang berhasil sampai ke Mekkah pada waktu kecuali sedikit. Dan yang sedikit itu, sebagian besarnya meninggal setelah menunaikan ibadah haji.

Keamanan dan keselamatan memang factor penting dalam pelaksaan ibadah haji. Tidak ada seorang pun yang menginginkan ibadahnya tertunda, apalagi ibadah haji yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin. Di beberapa wilayah, ada yang antri sampai dua puluh tahun. Namun, satu factor ini harus diperhatikan dengan baik. Sebab, menjaga jiwa adalah salah satu tujuan utama pensyariatan (hifdz al-nafs). Wallahua’lam. []
Read More..

Benteng Moral di Ujung Tanduk

(Dimuat di Opini Harian Haluan, Edisi 22 November 2014)
 ***

Menyedihkan memang, seseorang yang berada di ranah intelektual melakukan tindakan asusila. Yah, itulah seks bebas sebelum nikah yang oleh ZR (22) dan kekasihnya RF (21), yang merupakan mantan mahasiswa (fresh graduate) dan mahasiswa di salah satu pergurruan tinggi di Sumatera Barat. Mereka kemudian membuang bayi hasil hubungan gelapnya yang tidak berdosa itu dengan niat untuk berlepas diri dari tanggungjawab. Apesnya, mereka ketahuan oleh masyarakat sekitar dan lansung di giring untuk  berurusan dengan polisi.

Dan belum lama ini, kampus sebagai ranah para intelektual juga dinodai oleh kelakuan tidak bermoral yang dilakukan oleh Prof Musakkir SH, MH yang menjabat sebagai Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Hasanudin. Ia tertangkap basah bersama dua rekannya mengkomsumsi sabu-sabu di kamar 312 Hotel Grand Malibu, Jalan Pelita Raya, Makassar. Dan itu disertai dua orang perempuan yang berstatus mahasiswi.

Kedua kejadian ini memberikan tanda tanya besar di kepala kita; ada apa di balik semua ini? Apakah pendidikan Indonesia tidak mampu lagi menjalankan tugasnya membentuk manusia yang berilmu dan beretika?

Benteng Moral di Ujung Tanduk

Dalam dunia akademi, etika itu penting. Sebab, jikalau ilmu saja yang diperbanyak, dengan segudang ijazah, semuanya tidak akan bernilai jikalau etika (moral) tidak ada. Profesor yang sudah mencapai tingkatan akademis tertinggi, yang mungkin didapatkannya dengan susah payah dalam jangka waktu yang lama, semua itu rusak dalam jangka waktu singkat saja. Siapa yang akan mempercayainya lagi dan mempercayai keilmuannya?!

Dan lihat juga mahasiswa dan mahasiswi tadi. Laki-lakinya baru berstatus fresh graduate, yang artinya baru tamat “kemaren sore”, sedangkan perempuannya masih berstatus mahasiswa, berapa besar rasa malu yang harus mereka tanggung akibat perbuatan mereka sendiri. Bukan saja kepada teman-temannya, namun juga kepada orang-orang yang tahu kasusnya. Masa depan keduanya berada di tepi jurang kehancuran.

Kemudian coba bayangkan juga, siapa yang akan menanggung malu, apakah pelakunya saja? Tidak, tentu saja bukan mereka. Rasa malu itu juga akan menjangkiti keluarga. Alangkah malunya keluarga yang menyekolahkan anaknya susah payah, dengan harapan kelak menjadi orang yang berhasil. Namun, yang terjadi padi itu patah sebelum tumbuh dan berbuah.

***

Ilmu dan Moral


Kampus itu adalah banteng moral, yang menjadi tempat masyakat menaroh anak-anaknya untuk menjadi manusia sukses, yaitu manusia hakiki yang berperadaban dan beretika. Jikalau sampai kasus ini membuat masyarakat kehilangan kepercayaan mereka kepada institusi, maka siapa lagi yang layak dipercaya?

Dalam tulisan saya sebelumnya, saya pernah mengutip kata-kata Muhammad Abduh bahwa manusia itu tidak akan manusia manusia, kecuali dengan pendidikan. Dan pendidikan yang dimaksud disini adalah pendidikan berkeimanan dan beretika. Dalam artian, semakin seseorang berilmu, maka semakin besar rasa taatnya kepada hokum dan semakin besar rasa takutnya jikalau melakukan sebuah pelanggaran.

Ilmu dan moral adalah dua hal yang tidak akan mungkin dipisahkan selama-lamanya. Sebab, tujuan ilmu itu diajarkan adalah untuk membentuk manusia (tasykil al-Insan), kata Muhammad Quthb. JIkalau sebuah ilmu tidak dilandasi oleh etika, maka ia akan menjadi hampa. Tidak ada yang akan menghargainya. Akibatnya, ilmu yang sudah dipelajarinya tadi tinggalkan teori tanpa aplikasi.

Saya teringat dengan kata-kata Th. Sumartana ketika memberikan kata pengantar untuk buku kumpulan catatan pinggirnya, Goenawan Mohammad. Ia mengatakan bahwa jikalau idealism tanpa dilandasi realism, maka ia hanya akan membuat pelakunya menjadi pemimpi. Dan jikalau realism tanpa dilandasi nilai-nilai idealism, maka ia akan membuat pelakunya hidup tanpa martabat.

Nah, bagaimana seseorang akan menerapkan ilmunya tentang moral, jikalau keilmuan itu hanya adalah dalam kepala, yang realita perbuatanya jauh dari apa yang diketahuinya?

Ibn Badis, seorang pemikir muslim Aljazair menjelaskan bahwa pendidikan itu konklusinya harus ada muthabaqah baina az-zhahir wa al-bathin (kesesuaian antara zhahir dan bathin). Artinya, ilmu yang didapatkannya itu harus disatukan dengan dirinya agar hasilnya itu tampak nyata. Jadi, apa yang diketahuinya diterapkannya dalam kehidupan.

Dan saya yakin, seorang intelektual yang pernah bersentuhan dengan kampus pasti mengenal nilai-nilai moral. Hanya saja, adakah ia menyatukan dirinya dengan nilai-nilai itu atau tidak. Sebuah teori jikalau tidak membumi dalam diri, maka ia hanya akan menjadi omong kosong.

Dan yang saya khawatirkan jikalau sampai pepatah Belanda ini menjadi nyata dalam diri anak negeri, terutama yang terpelajar. Yah, ada pepatah Belanda yang menjelaskan bahwa jikalau ilmu seseorang semakin tinggi, maka keinginannya untuk melanggar hukum juga semakin tinggi. Dan kita semuanya berharap jangan sampai ada yang seperti itu. Wallahu a’lam. []
Read More..

Duka Gempa Lama dan Persiapan Selanjutnya

(Dimuat di Opini Harian Haluan, Edisi Kamis 2 Oktober 2014)
***

Sudah lima tahun berlalu. Tepatnya 30 September 2009, terjadilah gempa dahsyat yang meluluhkanlantakkan Padang dan wilayah sekitarnya. Gempa yang berkekuatan 7,6 Skala Richter (SR) itu membuat 1.128 jiwa melayang di tiga kota dan empat kabupaten di Sumatera Barat. Posisi gempanya pada waktu itu adalah 50 Km Barat Laut kota Padang, dan terjadi pukul 17.16 WIB.

Banyak duka yang menyayat hati anak minang. Ada anak yang kehilangan ibu atau bapaknya atau semua keluarganya. Ada saudara yang kehilangan saudara kandungnya. Ada orangtua yang kehilangan anaknya. Semua ini adalah kepiluan, yang tidak akan mungkin bisa diredam oleh pergantian zaman.

Duka Gempa Lama dan Persiapan Selanjutnya

Untuk mengenang peristiwa dahsyat ini, tidak salah jikalau Pemerintah Kota (pemkot) Padang membangun sebuah tugu dan museum gempa pada tanggal 30 September 2010 yang lalu di jalan Bundo Kanduang. Dan nama-nama kurban yang gugur pada peristiwa itu, semuanya ditulis disana. Paling tidak, usaha ini sedikit banyaknya bisa mengobati luka keluarga dan kerabat yang ditinggalkan.

***

Persiapan Agar Semakin Dimatangkan


Kejadian tahun 2009 itu bukanlah puncak gempa yang akan menimpa Minang. Ada kejadian besar lainnya, yang tentu membutuhkan persiapan lebih hebat lagi. Tentunya, persiapan ini bertujuan agar korban yang nantinya jatuh lebih sedikit. Bahkan, jikalau bisa (dan memang harus berusaha untuk bisa), tidak ada kurban lagi yang berjatuhan.

Menarik untuk melihat kembali pendapat Jamie Mc Lengley dari Easth Observatoring of Singapura dalam suatu acara yang diadakan oleh BPBD Padang di Rocky Hotel, yang beritanya dimuat salah satu media Sumatera Barat. Ia menjelaskan bahwa gempa dan tsunami yang akan menimpa Padang selanjutnya, jauh lebih besar dari sebelum-sebelumnya. Dan potensi tsunaminya juga tidak kalah hebatnya dari tsunami yang menimpa Aceh.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena benturan lempeng Indo-Australia, yang terus bergerak di bawah lempeng sunda. Kedua lempeng ini saling menekan dengan rata-rata kecepatannya 5.7 cm pertahun. Dan akibatnya, muncullah lengkungan yang menyimpan energi sangat besar dan dapat meledak kapan saja. Jikalau ini terjadi, maka akan terjadilah kejadian luar biasa sebab ia akan memuntahkan kekuatannya.

Itu hanyalah prediksi ahli, yang tentunya berdasarkan penelitian dan kajian ilmiah. Terlepas benar atau tidaknya, ia harus dijadikan cermin untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan. Tidak perlu terlalau galau, namun rasa waspada harus tetap ada. Untuk menghadapi hal ini, ada dua elemen penting yang harus berperan besar:

Pertama, Pemerintah
Pangkal dari segala kejadian buruk adalah kejahilan dan kurangnya pengetahuan. Jikalau diperhatikan, warga yang tinggal di zona merah di kota padang dan sekitarnya, sangat banyak sekali. Dan di antaranya jumlahnya yang segitu banyaknya, berapa persen sajakah di antara mereka yang melek dan paham dengan gempa dan tsunami? Seberapakah besarkah di antara mereka yang paham bagaimana menghadapi kondisi tersebut? Ini perlu diperhatikan pemerintah. Sosialisasi harus terus dilakukan dan digiatkan. Dengan adanya beberapa kali simulasi gempa, itu merupakan hal positif dan sangat baik sekali.

Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah jalur evakuasi. Jikalau tiba-tiba terjadi gempa besar, jalan mana yang harus ditempuh juga harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Semua tanda dan arah jalan harus disediakan dan dipastikan dalam kondisi baik dan terjaga. Begitupun dengan alat-alat pemberitaan dini terjadinya gempa dan tsunami, harus juga dipastikan keberadaannya. 

Dan yang juga penting untuk diperhatikan adalah persiapan tenda dan shelter jikalau bencana itu menimpa. Sejauh hari, harus dipersiapkan dengan sebaiknya. Sebab, yang namanya bencana alam, tidak ada yang bisa memastikan datangnya.

Kedua, warga atau rakyat
Warga harus lebih mandiri. Jangan hanya bergantung dengan pemerintah. Harus ada upaya bahu-membahu. Jikalau ada penyuluhan dari pemerintahan atau simulasi, maka ikutilah. Jangan malas-malasan. Bagaimana pun, apa yang dilakukan oleh pemerintah itu adalah untuk kebaikan rakyatnya juga. Kenali gempa dan tanda-tanda tsunami dengan sebaik-baiknya. Jikalau tanda-tanda itu sudah terlihat, maka segeralah bergerak. Tidak udah menunggu aba-aba terlebih dahulu.

Kemudian juga, yang tidak kalah pentingnya, jikalau ada yang berada di jalur/zona merah, maka kenalilah jalur evakuasi dengan sebaik-baiknya. Agar ketika gempa atau tsunami terjadi, jalan itu bisa ditempuh dengan lancar tanpa hambatan. Kemudian jikalau ada alat-alat peringatan dini yang dipasang oleh pemerintah, jangan ada yang merusaknya atau mencuri. Bagi saya, ini merupakan tindakan criminal yang bukan saja melukai pemerintah namun juga membahayakan rakyat lainnya.

Pada akhirnya, semuanya harus mempersiapkan diri. Bukan saja fisik dan mental, namun lebih dari itu adalah keimanan. Ini adalah ujian dari Allah SWT, agar warga Minang selalu waspada dan semakin memperbanyak ibadahnya kepada-Nya. Dalam setiap peristiwa, pasti ada hikmahnya. Tetaplah berbaik sangka kepada-Nya. Jangan pernah menganggap diri hina, sebab Dia sudah memuliakan para hamba-Nya. []
Read More..

Denis Arifandi Pakih Sati, Lc. M.H

Nama lengkap saya adalah Denis Arifandi Pakih Sati, Lc. M.H. Kadangkala, kalau menulis, saya menggunakan Nama Pena: D.A. Pakih Sati, ya sekadar singkatan nama saja.

Saya Asli Minang. Kedua Orangtua bersuku Minang. Besar dan kecil di Mingkabau. Ketika masuk usia kuliah, barulah saya meninggalkan Sumatera Barat untuk berpindah belajar di Jakarta. Kampung saya itu berada di Sijunjung, tepatnya Kecamatan Kupitan. Saya lahir disana.

Nama “Pakih Sati” yang ada di ujung nama saya itu adalah gelar adat di Minangkabau, yang didapatkan oleh seseorang ketika ia menikah. Atau bisa juga dapat sebelum menikah, dengan kesepakatan para pemimpin adat dengan syarat tertentu. Di dapatkan dari ninikmamak dari pihak ibu. Pakih itu berkaitan dengan kata FAQIH dalam bahasa Arab, yang artinya paham agama. Jadi, kecil punya nama besar punya gelar. Dan saya sendiri, lebih senang di panggil dengan gelar itu. Silahkan panggil PAKIH.

#Denis Arifandi Pakih Sati

***

Riwayat Pendidikan


 #TK Jihad Kampung Baru
 Inilah ruang sekolah yang pertama kali saya injak. Lokasinya tidak jauh dari rumah. Jikalau sedang Istirahat, saya bisa lansung pulang ke rumah. Saya masih ingat guru pertama saya di TK ini, panggilannya Bu Yet. Nama lengkapnya saya sudah lupa. Mohon maaf ya, bu!

#SD Negeri 08 Kampung Baru
Layaknya anak lainnya, saya menjalani masa studi disini selama 6 tahun. Nama awalnya adalah SD Inpres (Instruksi Presiden) Kampung Baru. Disinilah tempat awal saya belajar membaca dan memahami berbagai hal terkait ilmu pengetahuan. Guru ketika kelas satu adalah Bu Farida, dan guru Kelas enam adalah Bapak Harun. Itu yang masih teringat nyata dalam benak saya. Ada juga Bu Maysarah, Bapak Ibrahim, Bapak Umar, dan lain-lain. Semoga Allah SWT merahmati mereka semuanya.

#MtsN Padang Sibusuk
Tiga tahu berada di sekolah ini, banyak hal yang saya pelajari, terutama masalah kepemimpinan. Saya pernah menjadi Ketua OSIS di sekolah ini, dan pernah juga merasakan Juara Umum. Salam buat teman-teman yang dahulu sama-sama belajar disini, dan doa terbaik untuk para guru yang sudah mengajarkan kami.

#MAKN (MAPK) Koto Baru Padang Panjang
Sekolah yang satu ini merupakan sekolah Kaderisasi Ulama yang pertama kali diinisiasi oleh Menteri Agama Munawwir Syadzali. Sistemnya pembelajarannya sama seperti pesantrenan, tapi negeri. Setiap bulan, kita mendapatkan uang tunjangan pendidikan. Lumayanlah untuk ukuran anak SMA yang ingin menambah uang jajannya. Jumlah yang diterima disisi terbatas, hanya 40 orang siswa setiap tahunnya. Ketika zaman saya, yang mendaftar itu lumayan, yang berasal dari beberapa provinsi di Sumatera.

Satu hal yang saya ingat disini; Saya bisa Bahasa Arab, dimulai dari sini. Sebelumnya, saya bisa dikatakan tidak bisa bahasa Arab sama sekali. Sekadar tahu dhamir saja. Disinilah saya bisa membaca kitab, dengan berhasil menjuarai lomba Qiraatul Kutub di sejumlah lomba MTQ tingkat kabupaten di Sumatera Barat.

Kita tinggal di Asrama dari kelas satu sampai tamat. Gratis. Banyak pengalaman pembelajaran yang saya alami disini, yang tidak akan terlupakan. Salam bagi teman-teman MAPOKUS semua.

#Idad Lughawi LIPIA Jakarta & Takmili LIPIA Jakarta
Masih ingat jelas dalam ingatan saya, bagaiaman bersusah payaknya agar bisa menjadi bagian dari LIPIA Jakarta ini.  Ketika saya mendaftar, yang diterima hanyalah 60 orang untuk semester Genap dan 60 orang untuk semester Ganjil. Sedangkan jumlah pendaftarnya adalah 1.300 orang. Dan untuk semester Genap, jatah kuotanya yang 60 orang sudah diambil sebagiannya oleh para Mahasiswa dari Philipina. Jumlah mereka 30 orang. Jadi yang tersisa hanyalah 30 kursi. Itulah yang kami perebutkan; anak-anak Indonesia.

Di masa ini, tidak ada ceritanya lansung bisa Syariah atau Takmili. Semuanya  harus melalui tahapan yang ada. Walaupun aslinya kami sudah punya basic Bahasa Arab, tetapi tetap harus mengulang dari awal. Alhamdulillah, saya diterima dan bisa masuk di Semester Genap. Jikalau masuk di Semester Ganjil, itu artinya harus siap-siap menunggu selama 6 bulan. Dan sungguh tidak mengasyikkan.

Ketika berada di Program Idad ini, kami mendapatkan beasiswa setiap bulannya sebanyak 250 riyal, dan ketika di Takmili sebanyak 300 riyal, yang biasanya dirapel sekali dalam tiga bulan. Jikalau mau tinggal di Asrama, juga disediakan. Hanya saja daya tampungnya terbatas, dan diutamakan untuk para Mahasiswa yang berasal dari luar daerah atau luar Indonesia.

Setelah dua tahun menjalani masa I'dad, masa selanjutnya yang harus ditempuh adalah Takmili yang durasinya adalah setahun penuh. Bisa dipastikan,  tes untuk naik ke tingkat Takmiliki dari I'dad, lebih menyeramkan dan lebih sulit dari tes naik tingkat ke Fakultas Syariah. Ini kata saya, dan juga kata teman-teman yang ikut tes bersama saya. Maklum saja, tes yang diujikan berkaitan dengan sastra Arab, balaghah dengan segala variannya. Dan itu bukan sesuatu yang mudah, kawan!

Alhamduillah, saya berhasil menjalani tes ini dan duduk di bangku Takmili, lansung setelah selesai dari masa I'dad.


#Fakultas Syariah LIPIA Jakarta, Cabang Universitas Imam Ibn Saud, Riyadh Arab Saudi
Di Fakultas Syariah, saya belajar banyak tentang Fikih, Ushul Fikih, Tafsir, Hadits, dan lain-lain. Disinilah saya merasa benar-benar mendalami keilmuan Islam di bawah bimbingan Para Doktor dan Profesor dari Arab Saudi dan  Negara-Negara Timur Tengah lainnya. Masa-masa yang tidak akan pernah terlupakan.


#Magister Hukum Islam dengan konsentrasi Hukum Bisnis Syariah, UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta
Di Magister UIN Sunan Kalijaga, saya banyak belajar kepada para pakar keilmuan Islam di Tanah Air, seperti Prof. Dr. Syamsul Anwar, yang selain Dosen di UIN juga merupakan Ketua Majelis Tarjih PP Muhammadiyah; Prof. Dr. Abdus Salam Arif, yang ketika itu mengajar mengenai Fikih Ekonomi Islam; Prof Dr. al-Makin, yang ketika itu mengajar Metodologi Penelitian; Dr. Ali Shadiqin, yang mengajarkan Ushul Fiqih; Dr. Siti Anisah, yang mengajar Hukum Bisnis; Dr. Thomtowi; Dr. Abdul Mujib, yang menjadi pembimbing saya dalam penulisan Thesis. Dan banyak para Guru lainnya yang jasanya dan keilmuannya tidak akan terlupakan.

Mohon doanya agar segera bisa menjadi Doktor, ya!

***

Kontak Pakih Sati


Jikalau ada di antara Sahabat yang ingin menghubungi saya; untuk isi Pengajian atau Khutbah Jumat atau Ceramah, atau Sekadar Silaturrahim, silahkan kirim pesan lewat WhatsApp di 081392088702. Tapi, mohon maaf sebelumnya, hanya pesan WhatsApp.

Jikalau ada yang telepon, mungkin tidak saya angkat atau jarang saya angkat. Hehe... Itulah aturan privasi yang saya buat.

Kalau ke email juga bisa, silahkan email ke: denisarifandips@gmail.com. []
Read More..

Buku-Buku Karya Pakih Sati

Menulis  itu nikmat. Tidak ada yang bisa menikmatinya, kecuali orang yang melakukannya. Hampir setiap hari, saya selalu menyempatkan diri untuk menulis apa saja yang rasanya ingin ditulis. Paling tidak, mengasah otak saya untuk terus berpikir, dan mengasah bahasa saya agar semakin lentur dan terstruktur di baca oleh para pembaca.

Awal mengenal dunia tulis menulis adalah ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Ketika itu, saya berhasil menjuarai lomba menulis cerita tingkat kecamatan. Lumayan. Juara Pertama. Ada pialanya pula. Hehe…

Ketika masih SD suka banget baca buku-buku cerita. Dan komik yang paling saya suka adalah Komik Petruk. Maklum, hanya komik itu yang ada di pasar kampung. Itu pun cuman bisa dibeli sekali seminggu. Setiap hari selasa. Kami menamakanya “Hari Pasar”. Di Hari itu, ibu saya berangkat ke pasar untuk membeli kebutuhan seminggu. Saya tidak minta apa-apa, kecuali diberikan komik petruk; sebiji dua biji biasanya. Harganya kalau tidak salah seribu rupiah per komiknya.

Ketika sekolah di Tsanawiyah, saya beberapa kali mengisi tulisan di majalah dindng sekolah. Namun ketika di Aliyah, skill saya yang satu ini tidak berkembang. Karena memang saya tidak mengembangkannya. Namun di sisi lain, saya semakin senang membaca buku. Utamanya, buku-buku agama. Barulah ketika masuk masa kuliah, skill menulis ini masuk ke dunia nyata dan dunia yang lebih luas; dunia kolom dan opini, dunia buku, dan dunia terjemahan buku.

Sampai saat ini, saya masih menulis dan menerjemah. Lanjut terus, Pak Eko! ^_^

***

Buku-Buku Islam-Populer


Buku pertama yang saya tulis adalah buku “Jin Undercover”, diterbitkan oleh Gazza Media. Kalau membaca lagi naskah itu, saya tertawa. Kok jelek amat. Hihi… Namun, semua yang menjadi awal, memiliki cita rasa yang berbeda. Ada perasaan senang ketika menulisnya, sampai-sampai orangtua saya juga ikut senang.

Dan orang yang paling berhak saya haturkan terimakasih, yang menjadi Guru Menulis saya adalah Ustadz Burhan Shadiq. Beliau Mentor menulis yang luar biasa. Udah hebat, gratis pula. Plus, naskah saya diterbitkannya menjadi buku. Semoga Allah SWT memberikan beliau ganjaran pahala tidak terhingga.

Sampai tulisan saya rilis, sudah ada sejumlah buku yang saya tulis dengan nama D.A. PAKIH SATI. Silahkan Anda googling saja. Cari di Gramedia atau Toko Buku. Inilah beberapa penampakan buku saya.


Beberapa di antaranya juga diterjemahkan ke Bahasa Malaysia, kerjasama antara Penerbit Indonesia dengan Penerbit Malaysia.

Mohon doanya, agar saya bisa terus menulis. Walaupun sebenarnya dunia buku Islam Populer sudah mulai meredup, dimakan dunia Digital.

***

Buku-Buku Terjemahan dari Kitab Berbahasa Arab


Udah puluhan kitab berbahasa Arab yang saya terjemahkan, yang sudah saya tekuni semenjak masih duduk di bangku kuliah. Banyak manfaat yang saya dapatkan dari kegiatan terjemah ini. Mulai dari ilmu yang didapatkan. Sebab, kita dipaksa untuk membaca sebuah kitab secara utuh; kata demi kata, huruf demi huruf. Selanjutnya, kita juga mendapatkan sejumlah fee atau honor dari kerja terjemah tersebut. Untuk ukuran seorang mahasiswa, nilainya lumayan. Bahkan, sangat lumayan sekali.

Sampai sekarang saya masih menerjemah. Banyak kitab-kitab yang harus diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, agar bisa dibaca dan dipelajari oleh masyarakat muslim yang belum paham bahasa Arab. Insya Allah, banyak pahalanya.

Inilah beberapa karya saya yang sudah diterbitkan:


***

Opini/ Kolom/ Artikel


Sejak kuliah, saya juga sudah aktif menulis di Media. Tulisan pertama saya itu dimuat di Majalah Hidayatullah, di kolom Santri. Ketika itu, lumayan dapat honor 150 ribu. Hihi…. Sampai sekarang saya terus menulis, yang dimuat di koran Republika, koran Kedaulatan Rakyat, koran Harian Haluan, koran Riau Pos, Kolom Detik.Com, dan lain-lain. Selainnya, juga berbagi di blog ini. Udah puluhan tulisan saya yang dimuat media.

Ini beberapa penampakan karya saya:



***


Mohon doa sahabat sekalian, agar tetap bisa memberikan manfaat dengan jari-jemari yang diberikan oleh Allah SWT, dengan ilmu yang dititipkannya di hati. Ke depannya, saya bercita-cita ingin menulis buku-buku Islam ilmiah, yang serius untuk dipelajari di dunia akademik. Serta juga berhasrat menulis di jurnal-jurnal ilmiah; nasional dan internasional.

Mohon doanya, ya![]
Read More..