Rasa Malu (al-Hayā’), Akhlak Mulia yang Seringkali Diabaikan

Rasa malu itu berkaitan erat dengan hati (al-Qalb). Jikalau hati hidup, dipenuhi cahaya Allah SWT, maka rasa malunya berbuat kemaksiatan dan keburukan akan semakin besar. Jikalau hati mati, maka rasa malu berbuat maksiat itu tidak aka nada sama sekali. Padam.

Kadangkala, kita tidak habis piker dengan seseorang yang begitu cueknya melakukan kemaksiatan di hadapan orang banyak. Santai. Tidak peduli. Padahal, kita yang melihatnya saja merasa malu.

___________

Esensi dan Hakikat Sikap Malu (al-Hayā’) Menurut Islam

___________


Sikap malu merupakan sikap yang mendorong seseorang melakukan semua perbuatan baik dan menjauhi semua perbuatan buruk. Ia merupakan salah satu sifat jiwa yang mulia. Ia adalah pangkal segala akhlak yang mulia. Ia adalah hiasan keimanan dan syiar Islam, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rasulullah Saw:
إن لكل دين خُلقًا، وخُلُقُ الإسلام الحياء
“Setiap agama ada akhlaknya, dan akhlak Islam adalah malu.” (HR Malik)

Rasa Malu (al-Hayā’), Akhlak Mulia yang Seringkali Diabaikan

Wahab bin Munabbih mengatakan:
الإيمان عريان، ولباسه التقوى، وزينته الحياء
“Iman itu tidak berpakaian. Pakaiannya adalah ketakwaan, dan perhiasannya adalah sikap malu.”

Ada juga ulama lainnya yang mengatakan:
من كساه الحياء ثوبه لم ير الناس عيبه
“Siapa yang dipakaiakan pakaian malu, maka manusia tidak akan melihat aibnya.”

Karena banyaknya keistimewaan dan keutamaan yang dimiliki oleh sikap malu, maka syariat memerintahkan untuk umat Islam untuk berakhlak dengan sifat ini dan mendorong mereka agar menjadikannya sebagai hiasan diri, bahkan menjadikannya sebagai bagian dari keimanannya.

Rasulullah Saw bersabda:
الإيمان بضعٌ وسبعون شعبة، فأفضلها قول: لا إله إلا الله، وأدناها: إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان
“Iman itu 75 cabang. Paling afdhalnya adalah ucapan La Ilāha Illallāh. Paling rendahnya adalah mencampakkan gangguan di jalan. Dan sikap malu merupakan salah satu cabang keimanan.” (Muttafaq alaihi)

Dalam riwayat lainnya dijelaskan:
الحياء والإيمان قرنا جميعًا، فإذا رفع أحدهما رفع الآخر
“Sikap malu dan keimanan itu satu tanduk. Jikalau salah satunya dicabut, maka yang lainnya ikut tercerabut.” (HR Abu Nuaim)

Rahasia kenapa malu itu bagian dari iman; sebab keduanya mengajak kepada kebaikan dan mendekatkan diri kepafa Alah SWT, menjauhkan dari keburukan dan kejahatan.

Jikalau Anda melihat seseorang yang asal berani aja, lisannya kotor dan suka berbuat keji, maka ketahuilah bahwa salah satu sebab ia berlaku seperti itu karena hilangnya rasa malu.

Rasulullah Saw bersabda:
إن مما أدرك الناس من كلام النبوة الأولى: إذا لم تستحِ فاصنع ما شئت
“Di antara kalam kenabian pertama yang diperoleh manusia adalah ‘Jikalau engkau tidak malu, maka berbuatlah sesuka hatimu.” (HR al-Bukhari)

__________

Ini Bukanlah Sikap Malu

__________


Ada orang yang tidak mau melakukan kebaikan, menyampaikan kebenaran, menjalankan amar makruf dan nahi mungkar, dengan alasan malu. Ini, tanpa perlu dipertanyakan dan diragui, merupakan pemahaman yang salah tentang makna sikap malu.

Sebaik-baik manusia, Nabi Muhamma Saw adalah manusia yang paling pemalu, bahkan lebih pemalu dari anak gadis yang biasanya dipingit. Namun, rasa malu tidak menghalanginya untuk menyampaikan kebenaran, melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, bahkan murka demi Allah SWT ketika aturan-Nya dilanggar.

Malu itu seharusnya tidak menghalangi seseorang menuntut ilmu dan bertanya masalah-masalah agama. Jikalau kita lihat sejarah, maka kita akan mendapati Umm Sulaim al-Anshāriyah radhiyallāhu anha bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, Allah SWT tidak malu dari kebenaran, apakah seseorang perempuan mandi jikalau bermimpi?”

Rasa malu sama sekali tidak menghalanginya untuk bertanya, dan rasa malu tidak menghalangi Nabi Muhammad Saw untuk menjawab, “Ya, jikalau ia melihat air.” (HR Muttafaq alaih)

_____________

Jenis-Jenis Malu

_____________


Para ulama membagi malu itu menjadi 4 bagian.

1# Malu Kepada Allah SWT

Ketika rasa malu tertanam dalam diri seorang hamba bahwa Allah SWT melihatnya dan bersamanya di setiap waktu, maka ia akan malu kepada-Nya jikalau sampai menyaksikanya bermalas-malasan menjalankan kewajiban dan melakukan kemaksiatan.

Allah SWT:
أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ
Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?" (Surat al-'Alaq: 14)

Dalam ayat lainnya dijelaskan:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (Surat Qaaf: 16)

Banyak lagi ayat-ayat lainnya yang menunjukkan bagaimana Allah SWT melihat para hamba-Nya dan selalu mengawasi-Nya.

Nabi Muhammad Saw bersabda kepada para sabahatnya:
استحيوا من الله حق الحياء
“Malulah kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya.”
Para sahabatnya berkata, “Wahai Rasulullah, kami merasa malu.”

Beliau melanjutkan:
ليس ذاكم، ولكن من استحيا من الله حق الحياء فليحفظ الرأس وما وعى، والبطن وما حوى، وليذكر الموت والبلى، ومن أراد الآخرة ترك زينة الدنيا، فمن فعل ذلك فقد استحيا من الله حق الحياء
“Bukan itu. Tapi, siapa yang malu kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya, maka jagalah kepalanya dan apa yang diakalinya, jagalah perutnya dan isinya, ingatlah kematian dan musibah. Siapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah ia meninggalkan perhiasandunia. Siapa yang melakukannya, maka ia sudah malu kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya.” (Hr al-Turmudzi)

Ada seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan untuk melakukan kemaksiatan, kemudian laki-laki tersebut berkata, “Tidak ada yang melihat kita kecuali bintang-bintang.” Kemudian perempuan itu menjawab,”Mana penciptanya?”

2# Malu kepada Para Malaikat


Ada sahabat yang mengatakan, “Bersama kalian, ada yang tidak meninggalkan kalian. Maka, malulah kepada mereka. Muliakanlah mereka.”

Allah SWT sudah mewanti-wanti makna ini dalam firman-Nya:
وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ
Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu)."

كِرَامًا كَاتِبِينَ
yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu)."

يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ
mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Surat al-Infithar: 10-12)

Ibn al-Qayyim al-Jauziyah menjelaskan, “Maksudnya, mereka malu dari para malaikat yang selalu menjaga, memuliakan mereka, mengagungkan mereka. Mereka malu layaknya orang semisal kalian melihat kalian. Para malaikat juga merasa terganggu dengan sesuatu yang membuat anak Adam terasa terganggu. Jikalau anak Adam terganggu dengan orang yang berbuat maksiat dan berlaku buruk di hadapannya, walaupun ia melakukan semisalnya, maka bagaimana menurut kalian dengan para malaikat yang mulia?!”

3# Malu Kepada Manusia

Hudzaifah bin al-Yaman mengatakan, “Tidak ada kebaikan pada diri orang yang tidak malu kepada orang lain.”

Mujāhid mengatakan, “Jikalau seorang muslim tidak mendapatkan dari saudaranta kecuali rasa malunya yang menghalanginya berbuat maksiat, maka itu sudah cukup baginya.”

Nabi Muhammad Saw menjadikan sifat malu ini sebagai hokum atas perbuatan seseotang, standar sekaligus ukuran, sebagaimana sabdanya:
ما كرهت أن يراه الناس فلا تفعله إذا خلوت
“Apa yang engkau tidak suka dilihat anak manusia, maka janganlah melakukanya ketika engkau sendirian.” (Hr Ibn Hibban)

4# Malu Terhadap Diri

Siapa yang malu kepada orang lain, namun tidak malu kepada dirinya sendiri, maka sama saja ia menganggap dirinya lebih hina dari orang lain. Selayaknya seorang anak manusia jikalau ingin melakukan keburkan, membayangkan bahwa itu adalah dirinya sendiri yang melakukannya dan dilihatnya dengan mata kepalanya.

Jikalau ia malu melihat dirinya melakukan maksiat, maka ia akan lebih malu dari orang lain yang menyaksikanya bermaksiat. Makanya, ada Ulama Salaf yang mengatakan, “Siapa yang melakukan ketika sendirian suatu amalan yang ia malu melakukannya di hadapan orang lain, maka dirinya tidak ada harganya.”

Astaghfirullah… kami memohon ampunan-Mu, ya Allah. Ampuni kami.

***


Sikap malu adalah sikap yang mulia, akhlak yang agung, etika yang seharusnya tertanam dalam diri setiap anak manusia, apalagi seoran muslim. Sebagai manusia yang Bergama, yang berislam, tidak selayaknya kita melepaskan sikap yang satu ini dalam setiap perbuatan kita.

Semoga Allah SWT mengkaruniakan kita sikap dan sifat malu  yang mulia ini, bukan malu yang tercela. Amin. []
Read More..

Hukum & Pentingnya Menjaga Lisan (Hifdz al-Lisān) Menurut Islam

“Apakah pengertian lisan dalam islam? Apa keutamaan menjaga lisan? Apa bahayanya? Apa kata bijak ulama mengenai hal ini? Hifdzul Lisan itu apa? Ada ga bahan untuk kultum tentang menjaga lisan? Apa manfaatnya menjaga lisan?

***


Lisan itu bahasa Arab. Sudah familiar dalam Bahasa Indonesia. Artinya lidah. Tidak bertulang. Namun lebih tajam dari pedang. Jikalau pedang hanya melukai,kemudian keluar darah, diobati, kemudian sembuh. Lisan tidak begitu. Jikalau dilukai oleh lisan. Lukanya dalam dan tidak terlihat. Walaupun sudah berusaha diobati dengan kata maaf, namun lukanya tidak akan sembuh. Sakitnya mungkin meredam, Namun, suatu hari nanti akan kambuh  kembali.

Hukum menjaganya wajib. Lazim. Banyak darah yang tumpah karena lisan yang tidak terjaga. Gara-gara bercanda yan tidak pada tempatnya, akhirnya pisau menancap di dada. Gara-gara sebutan yang tidak selayaknya, peluru sampai bersarang di kepala. Banyak sekali kasus yang berawal dari lisan ini.

Hukum & Pentingnya Menjaga Lisan (Hifdz al-Lisān) Menurut Islam

Maka, berhati-hatilah dengan lisan. Penting Hidzul Lisan atau menjaga lidah ini.

Lidah memang tidak bertulang, namun ketajamannya tidak bisa Anda bandingkan dengan pedang atau sejenisnya. Jikalau pedang hanya bisa membuat luka fisik, namun lidah mampu membuat luka dalam, yang tentunya kesembuhannya jauh lebih susah dari yang pertama. 

_____________

Hadits-Hadits Rasulullah Saw Tentang Menjaga Lisan (Hifdz al-Lisān)

_____________


Ada sejumlah hadits yang menjelaskan mengenai lisan ini. Kita akan memaparkan dalam tulisan ini beberapa di antaranya.

Rasulullah Saw bersabda:
“Sebahagian besar kesalahan anak Adam berada di lisannya.” [Diriwayatkan oleh At-Thabrany dan Ibn Abi Ad-Dunya]
Semakin banyak Anda berbicara, maka semakin banyak kesalahan Anda. Makanya, kata pepatah “diam itu emas.” Bukan berarti diam terus, ya! Adakalanya kita harus berbicara menyampaikan pendapat, apalagi jikalau statusnya darurat; wajib; kudu dilakukan. Hanya saja, dalam status tidak perlu, santai, banyak bicara akan membuat diri seringkali jatuh ke dalam jurang masalah.

Dalam hadits lainnya dijelaskan:
مَن كان يؤمن بالله واليوم الآخر، فليقُلْ خيرًا أو ليصمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka ucapkanlah kebaikan atau diam.” [Muttafaq Alaihi]

Imam al-Syafii mengatakan:
“Jikalau seseorang ingin berbicara, maka hendaklah ia berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara. Jikalau memang ada maslahatnya, maka ia silahkan berbicara. Jikalau ragu, maka tidak usaha berbicara sampai tampak ada maslahatnya.” (Kitab al-Azkar: 114)

Dalam bahasa lainnya, mungkin bisa kita katakana, orang yang asal bicara saja, asal melambe saja, tanpa memikirkan dahulu apa yang akan diucapkannnya, maka keimanannya yang ada di dalam hatinya perlu dipertanyakan.

Rasulullah Saw bersabda:
مَن يضمن لي ما بين لَحْيَيْهِ وما بين رِجْليه أضمن له الجنة
“Siapa yang menjamin bagiku apa yang ada di antara dua jenggotnya (kumis & jenggot) dan apa yang ada di antara kedua kakinya, maka saya menjamin surge baginya.” (HR al-Bukhari)

Di antara kumis dan jenggot itu adalah mulut. Dalam mulut itu ada lisan. Lisan itu lunak, tidak bertulang. Namun dosa yang dilahirkannya bisa banyak, sebagaimana pahala yang didapatkannya juga bisa banyak. Maka, mengarahkan lisan untuk selalu berada di jalan Allah SWT adalah sebuah kewajiban, sebagaimana wajibnya menjaga apa yang ada di antara kedua kaki dari dosa dan perzinaan.

Pada suatu hari, Musa Al-Asyary bertanya kepada Rasulullah Saw:
“Muslim manalah yang lebih baik?”
Beliau menjawab:
مَن سلِم المسلمون من لسانه ويده
“Orang yang kaum muslimin selamat dari lisannya dan tangannya.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari]
Ya, banyak yang mengaku muslim, namun lidahnya tajam. Tidak ada satu orang pun yang berbicara dengannya, kecuali akan luka; sakit hati. Muslim yang hakiki adalah muslim yang mampu menjaga lisannya melukai batin orang lain, dan menjaga tangannya menyakiti lahir.

Uqbah bin Amir bertanya kepada Rasulullah Saw:
“Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?”
Beliau menjawab:
أمسِكْ عليك لسانك، وليسَعْك بيتك، وابكِ على خطيئتك
 “Tahanlah lisanmu, maka rumahmu akan lapang, dan tangisilah kesalahanmu.” [Diriwayatkan oleh At-Turmudzi]

Hasan Al-Bashry meriwayatkan perkataan para sahabat, “Lisan seorang mukmin berada di belakang hatinya. Jikalau ia ingin bicara, maka ia memikirkannya dengan hatinya dan disampaikan dengan lisannya. Dan lisan orang munafik berada di hadapan hatinya. Jikalau ia ingin bicara, maka ia menyampaikannya dengan lisannya dan tidak memikirkan dengan hatinya.” [Diriwayatkan oleh Al-Kharaithy]
Imam An-Nawawi Rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah, bahwa seorang mukallaf harus menjaga lisannya dari semua pembicaraan, kecuali pembicaraan yang menampakkan kemaslahatan. Jikalau maslahah dan mudharatnya sama, maka meninggalkannya lebih utama.”

_____________

Bahaya Lisan (Afāt al-Lisān)

____________


Ada beberapa bahaya yang bisa ditimbulkan oleh lisan, yang harus Anda hindari dalam kehidupan sehari-hari:

  • 1-Ghibah
Ghibah atau gunjing adalah menyebut muslim lainnya dengan sesuatu yang dibencinya, baik berkaitan dengan agamanya, dunianya maupun badannya, atau berkaitan dirinya, atau bentuknya, atau akhlaknya, atau berkaitan dengan anaknya, atau bapaknya, atau hartanya, atau istrinya, atau pelayannya, atau budaknya, atau berkaitan dengan pakaiannnya, cara jalannya, senyumannya, keceriaannya, dan lain-lain, baik Anda menyebutnya dengan lafadz, atau isyarat, atau tulisan, atau media-media komunikasi lainnya.

Pada suatu hari, Rasulullah Saw bertanya kepada para sahabatnya:
أتدرون ما الغِيبة؟
“Apakah kalian mengetahui apa itu ghibah?”
Mereka menjawab;
الله ورسوله أعلم
 “Allah Swt dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.”
Beliau berkata:
ذكرك أخاك بما يكره
“Menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.”
Mereka bertanya:
أفرأيت إن كان في أخي ما أقول؟
“Bagaimana pendapatmu jikalau saya mengatakan apa yang ada pada dirinya?”
Beliau menjawab:
إن كان فيه ما تقول فقد اغتبته، وإن لم يكن فيه فقد بهَتَّه
“Jikalau apa yang engkau katakan itu ada dalam dirinya, maka engkau telah mengghibahnya. Jikalau tidak, maka engkau telah melakukan kebohongan besar.” [Diriwayatkan oleh At-Turmudzi]

Ada tiga point utama dalam hadits di atas:
Pertama, Ghibah atau gunjing itu artinya menyebut saudara Anda atau muslim lainnya dengan sesuatu yang memang ada pada dirinya. Lucunya, seringkali kita dengar pelaku Ghibah berkata, “Ini bukan Ghibah, ya.” Terus ia berkata ini dan itu tentang si Anu. Ya, itu Ghibah namanya. Jikalau mengatakan yang tidak benar, itu namanya fitnah. Hihi…

Kedua, Jangan ikut serta dalam pergunjingan atau ghibah.
Ini juga sering kita langgar. Bukannya meredakan suasana, malah ikut nimbrung nambahin. Hedeh… Itu mah sama saja ikut menambah dosa yang sudah bertumpuk-tumpuk. Lama-lama nanti bicaranya akan kemana-mana, menyebut ini itu yang seharusnya tidak dibahas.

Ketiga, Kalau sudah ikut Ghibah atau Gunjing, setelah tinggalkan.
Jikalau sudah terlanjur ikut Ghibah atau Gunjing, segera istighfar, taubat. Jangan malah nambahin lagi. “tanggung,” katanya. Hehe.. Istighfar. Mohon ampun Allah SWT. Jauhkan diri Anda segera dari perbuatan tidak baik ini.

  • 2-Namimah
Namimah adalah adu domba, yaitu menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lainnya dengan tujuan menimbulkan khusumat di antara mereka.

Kedua perbuatan ini diharamkan dalam Islam, dan merupakan Ijma’ umat. Banyak sekali dalil yang menunjukkan hal ini dalam Al-Quran dan Sunnah, seperti firman Allah Swt:

 “Janganlah sebahagian kalian mengghibah sebahagian lainnya.” [Al-Hujarat: 12]
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ Terjemah Arti: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (Surat al-Hujurat" 112)

Dan Rasulullah Saw bersabda:
لا يدخل الجنة نمام
“Tidak ada pernah masuk surga, seseorang yang suka mengadu domba.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim]

***

Jadi, marilah menjaga lisan. Banyak keutamaan dan fadilah, dan manfaat di balik penjagaannya. Susah memang. Tapi disitulah ujiannya. Manusia itu makhluk social, yang tidak bisa menahan dirinya untuk tidak berbicar. Apalagi wanita. Jangan ditanya. 

Catatan ini bisa Anda gunakan sebagai bahan kultum, ceramah, khutbah, dan sejenisnya. Sebab, bahaya lisan adalah bahaya yang mengintai setiap insane, setiap anak manusia. []
Read More..

Ushul Fikih, dari Metode al-Ijtihâd al-Syar’i Menuju Metode al-Tafkír al-Insāni

Ilmu Ushùl al-Fiqh dilahirkan di abad kedua hijriyah. Mayoritas ulama berpandangan bahhwa Imam al-Syāfii adalah orang yang pertama kali mengkodifikasinya. Sebagian lainnya berpandangan, seperti Ibn al-Nadím dalam Kitabnya al-Fahrasat bahwa orang yang pertama kali mengkodifikasinya adalah al-Qādhi Abù Yùsuf muridnya Abù Hanífah. Tapi satu hal yang pasti, bahwa kitab al-Risālah karya Imam al-Syāfii adalah kitab pertama yang sampai kepada kita tentang Ushùl al-Fiqh.

Dalam studi Ushùl al-Fiqh dikenal bahwa Ushùl al-Fiqh sudah ada bersamaan dengan al-Tasyri’ dan al-Tanzíl, sebagai sebuah Keahlian dan Metode. Sebagaimana juga dikenal Ilmu al-Fiqh lebih dahulu kelahirannya sebagai ilmu dibandingkan dengan Ushùl al-Fiqh.

Sebagian kaum muslimin mengenal ilmu Ushùl al-Fiqh sebagai ganti dari logika Aristoteles, yang merupakan ilmu pengantar menuju al-Ijtihād al-Fiqhí, untuk mengetahui hokum-hukum Allah SWT mengenai halal dan haram, sebagaimana ia merupakan sebuah ilmu yang bisa digunakan untuk melakukan al-Tarjíh atas berbagai pendapat yang berbeda-beda.

Ushul Fikih, dari Metode al-Ijtihâd al-Syar’i Menuju Metode al-Tafkír al-Insāni

Sebagian besar kitab para pakar Ushùl al-Fiqh membatasi konklusi Ushùl al-Fiqh hanya sebagai jalan atau metode untuk mengetahui hokum syariah. Namun sebenarnya tidak begitu juga.

Ada tulisan menarik yang berjudul Ushùl al-Fiqh min al-Ijtihād al-Syar’í ila al-Tafkír al-Insāní, karya Syeikh Mas’ùd Shabrí. Dalam tulisannya dijelaskan bahwa ilmu Ushùl al-Fiqh tidak sesempit itu. Walaupun ilmu ini tumbuh di lingkungan syariah dan hanya digunakan untuk al-Ijtihād al-Fiqhí, hanya saja ilmu ini dengan dalil, ushul, kaedah dan metode Istinbāth yang dimilikinya, ia semestinya tidak hanya berada di ruang syariah, tapi juga harus masuk ke ruang al-Insāniyah (kemanusiaan), sehingga ilmu ini beralhir menjadi keahlian yang bisa dipelajari, yang bisa digunakan untuk Berpikir dengan Benar di seluruh bidang kehidupan.

Melatih diri dengan keahlian-keahlian yang ada di dalam Ushùl al-Fiqh, akan membuat seseorang mampu berpikir dengan cara yang benar dalam seluruh sisi kehidupannya. Ushùl al-Fiqh adalah Filsafat Islam, ia adalah jalan untuk membentuk seorang pemikir. Sehingga, seorang muslim tidak bisa disebut sebagai pemikir kecuali jikalau ia mengenal Ushùl al-Fiqh, bukan sekadar dengan studi biasa, menunjukkan mukaddimah, dalil, dan metode Istinbāth, mengetahui syarat-syarat al-Mujtahid dan al-Ijtihād, taklid, fatwa, dan selainnya, tapi dengan bermesra dengan Ushùl al-Fiqh dengan semua bahasannya, mengubahnya dari teori menjadi pemikiran, dari pemikiran menjadi keahlian.

Dalam catatan berikut, kita akan menjelaskan sejumlah keahlian (al-Mahārat) dalam Ushùl al-Fiqh yang bisa digunakan sebagai Metode Berpikir seorang anak manusia dalam kehudipannya sehari-hari, apapun bidang yang ditekuninya.


_____

Memahami Tema Artikel

_____


Sebelum melangkah lebih jauh,mari pahami dulu dua makna di atas. Maksud al-Ijtihâd al-Syar’i adalah, upaya berpikir yang dilakukan oleh seorang al-Mujtahid untuk menghasilkan hokum. Namun, untuk disebut Mujtahid, bukan perkara gampang. Banyak syarat yang harus dipenuhi. Dan juga, untuk disebut sebuah Ijtihad dengan label Syar’i, harus terpenuhi syarat-syarat yang lumayan berat untuk dipenuhi.

 Al-Tafkír al-Insāni atau Metode Berpikir yang kita maksud disini adaah metode berpikir manusia biasa pada umumnya, bukan dalam rangka al-Ijtihâd untuk menghasilkan hokum dalam Syariat.

Jadi, maksud judul artikel di atas adalah, bagaimana menjadikan al-Ijtihâd al-Syar’I yang merupakan salah satu metode untuk menghasilkan hokum syariat, sebagai Metode Berpikir alami seorang anak manusia. Ia tidak lagi terkunkung untuk suatu hal, namun bersifat umum.

Semuanya tentu tidak bisa. Hanya ada beberapa unsur dalam Ushùl al-Fiqh yang bisa dijadikan sebagai pengkat pikir.

_____

Teori Pembuktian (Nazhariyyah al-Burhān)

_____

Salah satu keistimewaan Ushùl al-Fiqh adalah Teori Pembuktian, yang bahasa kerennya Nazhariyyah al-Burhān . Maknanya, ucapan atau pendapat seseorang itu tidak bisa bebas begitu saja, tetapi harus ada dalil-dalilnya, bukt-buktinya, dan hujjah-hujjahnya yang menunjukkan kebenaran pendapatnya, yaitu dalil al-Quran.

Masalah ini banyak diungkapkan dalam al-Quran, sebagaimana firman Allah SWT:
وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ ۗ تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani". Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar." (Surat al-Baqarah: 111)

Dalam ayat lainnya dijelaskan:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)." (Surat al-An'am: 116)

Dalam ayat lainnya:
وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا ۚ إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ
Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan." (Surat Yunus: 36)

_____

Jenis-Jenis al-Idrāk (Pengetahuan)

_____


Di antara keahlian yang berhubungan dengan Ushùl al-Fiqh yang bisa digunakan dalam Metode Berpikir Manusia pada umumnya adalah jenis-jenis al-Idrāk. Maksudnya, menganalogikan Metode Pengetahuan kita dengan Fakta-Fakta dan Pengetahuan-Pengetahuan yang ada. Pengetahuan yang menghampiri kita, statusnya tidaklah sama. Ada yang sifatnya al-Ilm (Ilmu) dan al-Yaqín (keyakinan), kemudian ada juga yang sifatnya al-Zhann (Dugaan). Dan al-Zhaan sendiri juga bertingkat-tingkat. Ada al-Zhann al-Qawí (Dugaan Kuat, ada al-Zhann al-Mutawassith (Dugaan Pertengahan), dan ada al-Zhann al-Dha’íf (Dugaan Lemah).

Penerimaan kita terhadap segala macam pendapat dan pengetahuan itu tidak selalu bersifat al-Qath’I (Pasti). Kita harus menghargai perbedaan pendapat dengan yang lainnya. Bisa jadi kita tidak sependapat dengan mereka, namun kita berusaha saling memahami dan saling mengenal, agar bisa mengetahui kenama mereka berbeda dnegan kita dan agar bisa tahu juga kenapa kita bisa berbeda dengan mereka.

Di antara bentuk al-Idrāk adaah al-Syakk (Ragu-Ragu), yaitu berdiam diri untuk melakukan al-Tarjíh (Menguatkan) di antara dua masalah, untuk lebih mengkaji lagi.

Ini merupakan salah satu keahlian social yang sudah hilang dalma dialog-dialog yang sering kita lakukan dan kita saksikan. Jarang kita mendengar seseorang mengatakan, “Masalah ini membutuhkan penelitian lebih lanjut.” Biasanya, mereka tergesa-gesa menyampaikan pendapat dan berusaha memenangkan pendapatnya tanpa mengkaji dahulu atau berpikir atau meneliti.

Ada juga jenis al-Wahm (Mitos), yaitu Metode penyampaian ilmu dan pengetahuan yang membuatnya berstatus lemah atau al-Dha’íf, tidak bisa naik kecuali sampai derajat al-Zhann (Ragu-Ragu). Pengetahuan yang berasal dari Metode al-Wahm, sama sekali tidak dianggap wujudnya.

_____

Tafsír al-Nushùs (Menafsirkan Teks)

_____


Di antara keahlian berpikir yang bisa didapatkan dari Ushùl al-Fiqh adalah Nazhariyyah Tafsír al-Nushùs (Metode Menafsirkan Teks). Para Pakar Perundang-undangan memanfaatkan teori Ushul ini untuk menafsirkan teks Undang-Undang. Inti teori ini, membuat kaedah untuk memahami kalam Allah SWT dan kalam Rasulullah Saw, atau yang dikenal oleh para Pakar al-Maqāshid dengan sebutan Maqāshid al-Khithāb. Teori ini mampu melahirkan berbagai macam ilmu, seperti Ilmu al-Tafsír, Ilmu al-Quran, dan Ilmu Syarh al-Hadíts.

Kaedah-kaedah itu bisa digunakan untuk memahami kalam manusia, baik yang tertulis maupun yang didengar, sehingga al-Maqāshid yang ingin disampaikan oleh al-Mutakallim (orang yang bicara) bisa dibedakan antara al-‘Aām (Umum) dan al-Khās (Khusus), antara al-Muthlaq dengan al-Muqayyad, antara al-Sharíh dengan al-Muawwal, antara yang al-Mu’tabar dan al-Mulghā, kalam yang bisa ditakwilkan dengan kalam yang tidak bisa ditakwilkan, serta berbaagai kaedah lainnya.

________

Mahārat al-Tarjíh (Keahlian Menimbang-nimbang Mana yang Paling Kuat)

________


Di antara keahlian Ushùl al-Fiqh yang juga bisa digunakan dalam berpikir adalah Mahārat al-Tarjíh, yang biasanya digunakan oleh seorang pakar Ushul untuk memilih pendapat terkuat di antara dua pendapat atay lebih dalam masalah-masalah yang menjadi ruang perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Keahlian ini penting untuk menjelaskan maksud al-Mutakallim (orang yang berbicara) ketika kalammnya mengandung banyak pandangan atau sudut pandang. Dengan cara ini, kita bisa mengetahui maksudnya dengan melakukan al-Tarjíh di antara dua interpretasi.

Bukan al-Tarjíh asal al-Tarjíh saja, namun berdasarkan al-Qarínah (indikasi), dalil, tanda, alamat, dan uslub yang digunakan dalam kalam, kemudian waktunya, serta berbagai unsure lainnya yang membuat kita menetapkan al-Tarjíh atas suatu pendapat di bandingkan pendapat lainnya.

___________

Mahārat al-Takhríj

__________


Para Pakar Ushùl al-Fiqh mengartikannya, menjelaskan hokum Allah SWT tentang masalah-masalah baru berdasarkan Ushul dan Masalah-Masalah Terdahulu (al-Masāil al-Qadímah).

Mahārat al-Takhríj berperan melahirkan makna-makna, melahirkan pandangan-pandangan dan keputusan-keputusan, menyelesaikan masalah-masalah, dan melahirkan pandangan-pandangan baru, berdasarkan tumpukan pengalaman masa lalu. Ia sama dengan Metode atau system berpikir yang membuat seseorang mampu menetapkan hokum atas sesuai berdasarkan Ushuh dan Kaedah Berpikir.

___________

Mahārat al-Istisqrā’

__________


Para Pakar Ushùl al-Fiqh dan Ahli Mantiq mengartikan al-Istisqrā’, dengan meneliti al-Juziyyāt al-Far’iyyāt (masalah cabang) untuk masalah al-Kulliyyah, untuk menetapkan hokum al-Kuliyyah tersebut dan menguatkannya, seperti mengkaji ayat-ayat dan hadits-hadits yang menunjukkan al-Taysír (kemudahan) dan Raf’i al-Harj (menghilangkan kesulitan). Dengan begitu, kita menetapkan bahwa agama itu tegak di atas al-Taysír (kemudahan) dan Raf’i al-Harj (menghilangkan kesulitan), dan ini menjadi al-Hukm al-Kulli.

Pengkajian ini tidak berhenti sampai di batas Ijtihād semata, tetapi bisa juga digunakan untuk masalah-masalah politik atau social atau ekonomi, atau budaya, atau sastra atau seni atau masalah-masalah kehidupan lainnya. Tujuannya, untuk mengetahui dan memastikan adanya al-Hukm al-Kulli (Hukum Global) yang bisa digunakan untuk masalah-masalah besar.

___________

Mahārat al-Ta’líl

__________


Para Pakar Ushùl al-Fiqh mengartikan al-‘Illah adalah sifat yang al-Zhāhir (nyata) tidak tersembunyi, jelas yang tidak ada perbedannya, lazim menyusun hokum dengannya demi kemaslahatan al-Mukallaf, baik hal tersebut mendatangkan al-Maslahah atau menolak al-Madharrah.

Al-‘Illah dikenal dengan berbagai nama, di antara yang paling terkenal adalah al-Sabab, al-Bā’its, al-Manāth, al-Dalíl, al-Muqatadhā, dan lain-lain.

Manfaat Teori al-Ta’líl adalah untuk mengatur cara berpikir seorang anak manusia, sehingga hukumnya tegak di atau al-Dzauq (taste) atau keinginan. Bahkan, setiap pikiran atau pandangan haruslah tegak di atas al-Ahsl (pondasi), yang memiliki sebab yang al-Zhāhir, untuk menjaga berpikir seoranga anak manusia dari kesalahan.

***


Itulah sejumlah kaedah Ushùl al-Fiqh yang kita paparkan di atas, yang menunjukkan kepada kita bahwa ilmu Ushùl al-Fiqh adalah ilmu Metode berpikir, bukan sekadar untuk al-Ijtihād al-Fiqhí.

Hal ini mendorong kita untuk memaparkan ilmu dengan sudut pandang baru. Tidak sekadar menggunakannya dalam studi agama, namun juga dalam studi logika. Semua tentunya ada tingkatannya. Ada yang sifatnya umum bagi setiap anak manusia. Ada yang sifatnya khusus hanya bagi para ulama yang sudah mencapai tingkatan Ijtihad.

Namun satu hal yang perlu kita tegaskan kepada masing-masing kita, mempelajari Ushùl al-Fiqh itu penting. []
Read More..

Hukum Jual Beli Lelang (Bai’ al-Muzāyadah) Menurut Islam

Lelang barang, sering dilakukan sejumlah Instansi. Paling sering banget adalah pegadaian. Biasanya, orang yang menggadai barangnya dalam batas waktu yang sudah ditentukan, kemudian tidak mampu menunaikan kewajibannya, maka barangnya akan dilelang.

Banyak barang yang biasanya digadai. Mulai dari Laptop, Handphone, Motor, Rumah, Mobil, dan Emas. Jikalau dibandingkan dengan harga yang ada di pasaran, harga yang ada di lelang memang jauh lebih murah. Apalagi jikalau tidak ada yang minat dengan barang tersebut. Otomatis harganya lebih murah.

Teman saya bercerita, ia membeli Laptop yang dilelang di pegadaian, dengan harga yang sangat murah sekali. Padahal, laptopnya masih bagus dan bermerk lagi. Jikalau harganya normalnya sekitar 5 juta di pasaran, dengan jenis yang  baru baru, dilelang ia bisa mendapatkannya dengan harga 2-3 juta dengan kwalitas barang yang masih gress, walaupun mungkin berstatus second.

Tapi kan ga masalah. Selama kinerja barangnya bagus, mau baru atau second, tidak masalah.

Kalau di Pegadaian sih, biasanya barangnya sudah dipatok harganya, tanpa berebutan dengan yang lainnya. Siapa duluan, itu yang dapat. Normalnya, kalau kita lihat, lelang itu seringkali ada prosesi saling menaikkan harga.

Hukum Jual Beli Lelang (Bai’ al-Muzāyadah) Menurut Islam

Misalnya, jual mobil.

“Saya beli 100 juta.” Kata Bapak A
Kemudian Bapak B menimpali, “Saya beli 150 juta.”
Kemudian ada lagi yang berteriak, “Saya beli 200 juta.”
Begitulah seterusnya. Sampai didapatkan harga yang paling tinggi. Dan tidak ada lagi yang menawar setelahnya.

Oke.. kita balik ke topic pembahasan kita; bagaimana hokum lelang dalam Islam?

Sebagaimana seorang Muslim, kita tentu harus memahami masalah ini dengan baik, agar kita tidak bermuamalah dengan keraguan, apalagi dengan kajahilan. Jangan sampai. Kita harus tegak di atas ilmu.

___________

Hukum Lelang Dalam Islam

___________


Dalam kajian Hukum Islam, Jual Beli Lelang itu dikenal dengan Istilah Bai’ al-Muzāyadah. Hukum asalnya dibolehkan (Mubāh), berdasarkan firman Allah SWT:
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (Surat al-Baqarah: 275)

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya, ucapan Atha’ bin Abi Rabah:
أدركت الناس لا يرون بأساً في بيع المغانم فيمن يزيد
“Saya mendapati orang-orang yang menganggap tidak masalah jual beli karapan bagi yang menambah (al-Muzayadah).”

Kemudian diseburkan sanadnya dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhu bahwa ada seseorang yang memerdekakan budaknya dengan cara Idbar, yaitu merdeka setelah kematiannya. Kemudian laki-laki tadi ada kebutuhan, Nabi Muhammad Saw memegangnya dan berkata:
من يشتريه مني ؟
“Siapa yang akan membelinya dariku?”
Kemudian Nuaim bin Abdullah membelinya dengan harga segini dan segini, kemudian membayarkanya. (Hr al-Bukhari)

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Saw menjual al-Halas (perangkat rumah) dan Gelas, kemudian bersabda:
“Siapa yang akan membeli al-Halas (perangkat rumah) dan Gelas?”
Ada yang berkata:
“Saya akan membeli keduanya seharga sedirham.”
Kemudian beliau berkata:
من يزيد على درهم ؟ من يزيد على درهم ؟
“Siapa yang mau melebihkan dari sedirham? Siapa yang mau melebihkan dari sedirham?”
Kemudian seorang laki-laki memberinya dua dirham, dan beliau menjual keduanya kepadanya.” (Hr al-Turmudzi)

__________

Catatan Penting Seputar Jual Beli Lelang/ Bai’ al-Muzayadah

__________


Ada dua catatan penting yang perlu menjadi perhatikan dalam masalah ini, agar orang yang terlibat dalam lelang tidak ragu atau tidak salah menjalaninya.

  • #Jual Beli Lelang bukanlah Bai’ ala Bai’ Akhihi (Jual beli atas Jual Beli Orang Lain)
Ada yang beranggap bahwa jual beli lelang ini masuk dalam kategori Bai ala Bai akhihi (Jual Beli atas Jual Beli Orang Lain), yang dilarang oleh sabda Rasulullah Saw:
لا يبع بعضكم على بيع أخيه
“Janganlah salah seorang di antara kalian berjual beli atas jual beli saudaranya.” (Hr al-Bukhari dan Muslim)

Ini tidaklah benar. Sebab, jenis ini berbeda dengan lelang. Misalnya untuk jenis yang dilarang ini: Si A membeli motor kepada si B. Mereka sudah sepakat dengan harganya, namun belum ada pembayaran. Tapi sudah sepakat, tinggal eksekusi. Kemudian tiba-tiba datang si C, yang juga tertarik dengan motor tersebut, seraya berkata:
“Batalkan jual belianya. Biar saya yang beli. Saya akan beli dengan harga yang lebih mahal.”
Ini yang dimaksudkan oleh hadits di atas. Ini haram. Dan ini tidak masuk dalam kategori akad lelang.

  • #Lelang bisa berubah menjadi jual beli al-Najasy yang diharamkan dalam Islam.
Jual beli Najasy adalah seseorang menaikkan harga barang padahal ia sama sekali tidak ingin membelinya. Ia hanya ingin membuat orang lain tertarik membeli dan menawarnya dengan harga yang lebih mahal. Biasanya, pelaku al-Najasy ini ada kesepakatan dengan penjual barang.

Hukumnya haram dalam Islam, karena mengandung unsur penipuan atau al-Gharar, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah saw melarang dari al-Najasy. (Hr al-Bukhari)
Dalam lelang, ini seringkali kita dapati. Bukan begitu?!

Ada beberapa kejanggalan lainnya yang biasanya dilakukan, dan hukumnya haram:
  • #Mempromosikan barang yang dilelang dengan cara dusta, lebay, menambah-nambahkan yang tidak seharusnya, baik dilakukan pemilik barang atau orang yang sama sekali tidak ingin  membelinya
  • #Barang tidak dilihat secara lansung, hanya diberikan deskripsi saja, atau gambaran aja, yang tidak sesuai dengan faktanya, yang mengandung unsure penipuan.

________

Hukum Lelang Tender Proyek Dalam Islam

________


Pada dasarnya, setiap lelang itu hukumnya boleh, halal, Mubah. Hanya saja, jikalau sudah terjadi hal-hal yang bertentangan dengan syariat, bertentang dengan hokum Islam, maka hukumnya beruba menjadi haram. Dalam kajian hokum Islam dikenal dengan nama al-Haram bi Ghairihi (haram karena sebab yang lainnya).

Sama kayak minum air putih. Hukumnya halal. Namun jikalau minum terus sampai kembung dan membahayakan keselamatan nyawanya, maka hukumnya berubah menjadi haram. Haramnya Haram bi Ghairi (haram karena selainnya).

Tender Proyek juga sama. Jikalau sudah dilakukan dengan cara al-Najsy, sebagaimana yang kita jelaskan di atas. Ada permainan. Ada penipuan. Maka, hukumnya haram.

Apalagi jikalau sampai ada suap-menyuap untuk mendapatkan lelang tender, itu sudah haram banget. Sekali lagi, haramnya pakai banget.

Rasulullah Saw bersabda:
الراشي والمرتشي في النار
“Penyuap dan yang disuap di Neraka.” (Hr al-Thabrani)

Pointnya, Jual Beli lelang atau Bai al-Muzayadah itu tidak masalah. Asalkan jangan sampai mengandung sesuatu yang diharamkan dalam syariat, seperti yang kita jelaskan di atas.

Oke… Demikian catatan kita kali. Semoga bermanfaat. []
Read More..

Kelompok (al-Firqah) Islam KTP Menurut Tafsir al-Manār

Ketika berbicara tentang Islam KTP, apa yang terlintas dalam pikiran Anda? Sinetron? Hehe….

Istilah serupa, hanya saja dalam Bahasa Arab, banyak digunakan oleh Syeikh Muhammad Rasyid Ridha dalam tulisan-tulisannya di majalah al-Manār. Yang kemudian dibukukan menjadi Tafsir al-Manār.

Istilah yang beliau gunakan adalah al-Muslimin al-Jughrafiyyin, yang anonimnya adalah al-Muslimin al-Haqiqiyyin, yaitu Muslim Geografi dan Muslim Hakiki. Jenis yang pertama, merujuk kaum muslimin yang hanya Islam sekadar di kartu identitas saja, nama saja, tapi dengan tidak amalannya, ilmunya, akidahnya, dan lain-lain. Jumlahnya Mayoritas. 

Sedangkan Muslim hakiki, sebaliknya. Mereka adalah orang-orang yang memahami Islam dengan baik. Akidahnya, Ibadahnya, Muamalahnya, dan Sebagainya. Intinya, Islam itu menyatu dalam dirinya; ilmu dan amal. Jumlahnya sedikit.

6 Kelompok Islam KTP Menurut Syeikh Rasyid Ridha Dalam Tafsir al-Manār

Dalam salah satu Artikelnya di Jilid ke-29, bulan Syawwal 1346 H, halaman 15, dengan judul A’da al-Islām al-Muhāribùna lahu fí Hadza al-‘Ahd, menjelaskan bahwa musuh Islam  itu banyak, dari kalangan internal maupun eksternal. Semuanya berusaha memadamkan cahaya Islam dan memberikan kuasanya kepada yang lainnya. Ada yang melakukannya secara sadar, ada yang semi sadar, dan ada juga yang jahil sama sekali.

Ia menjelaskan bahwa jumlahnya itu ada Sembilan; tiga dari asing, dan lima dari dalam, kemudian satu lagi gabungan keduanya.
  • para penjajah 
  • para Missionaris 
  • Para pengajar asing di sekolah-sekolah mereka dan sekolah-sekolah negeri. 
  • Para Pembaca Buku nan Taklid 
  • Para Syeikh Tarikat yang Ahli Bidah 
  • Para penyeru Westernisasi 
  •  Para Atheis 
  • Para Reformes yang berusaha menghapus masa lalu 
  • Para Aktivis Feminis.

_____

Peran al-Manār

_____


Syeikh Rasyid Ridha menjelaskan peran al-Manār untuk menghadapi orang-orang tersebut, dengan berbagai metode sesuai dengan kelompok yang dihadapi, sesuai dengan perbedaan yang ada pada mereka.

Ia menjelaskan:
“Seharusnya, al-Manār berjuang melawan semua musuh-musuh Islam yang menyerang Islam, baik akidahnya, syariatnya, adabnya, kuasanya, dan bahasanya. Sejak awal al-Manār ini dibentuk, ia menjalankan beban kewajiban ini, walaupun sedikit yang membantunya dan minim yang menolongnya.

Di tahun-tahun pertama, kami mulai dengan berjihad menghadapi para musuh agama dan musuh Islam, yang mereka berasal dari kalangan umat Islam sendiri. Kami menyeru mereka untuk kembali ke jalan Allah SWT dengan cara hikmah dan nasehat yang baik, kemudian kami berjidal melawan mereka juga dengan cara yang baik.

Setelahnya, barulah kami melawan orang-orang asing, apalagi para missionaries Kristen. Di antara bab terbuka dalam al-Manār dalam setiap Juz nya adalah Bab berjudul Syubhāt al-Nashārā wa Hujaj al-Islām, sebagaimana juga ada salah satu babnya yang menjadi al-Bida’ wa al-Khurāfāt wa al-Taqālid wa al-‘Aādat.

Dalam waktu bersamaan, kami berkali-kali menjelaskan bahaya westernisasi yang bersifat semu. Maknawi, dan social. Kemudian muncullah berbagai kerusakan akibat atheism yang digemborkan kaum Westernisasi, dimana mereka secara terang-terangan menyerang agama dalam berbagai dialog dan pidato yang disampaikan dalam berbagai acara, serta juga dengan berbagai artikel yang disebarkan di koran-koran.

Maka, al-Manār bangkit untuk menjelaskan kesalahan-kesalahan mereka, menunjukkan hakikat diri mereka, memaparkan kerusakan-kerusakan dan mudharat yang akan mereka timbulkan.”

Syeikh Rasyid Ridha menjelaskan bahwa tenaga yang dibutuhkan dalam perjuangan ini, jauh di atas kemampuan yang dimiliki oleh al-Manār:

“Apa yang bisa dilakukan satu pena dalam satu lembar kertas, melawan jumlah mereka yang menyerang begitu banyak? Inilah upaya yang dilakukan, menunaikan fardhu kifayah, semua umat akan berdosa jikalau meninggalkannya. Tidak ada usaha yang bisa dilakukan al-Manār, kecuali menolak dosa ini dari semua anak manusia di seluruh bumi, yang penyimpangan-penyimpangan Kristen ada disitu, begitu juga dengan Atheisme dan Bidah.

Paling, ia menjadi wakil. Menolak sesuai dengan penyebarannya, yang sampai kepada siapa saja yang sampai atau diterjemahkan. Semua kerusakan ini tampak nyata di semua negeri atau semua wilayah dengan bentuk yang harus ditolak dan harus dijelaskan kebatilannya, dengan berbagai ungkapan dan hujjah yang berbeda hasilnya antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.”

Artinya, semua negeri itu menggunakan sarana dan penjelasan yang sesuai, menyesuaikan syubhat dan metode penyesatan yang digunakan.

_____

Para Aktivis Westernisasi dan Atheisme

_____


Kemudian Syeikh Rasyid Ridha menjelaskan bahwa orang-orang yang suka menyerang Islam dari kalangan pendukung Westernisasi dan para zindik atheis, mengkampanyekan syiarnya para Missionaris, yaitu mengajak umat Islam untuk mengabaikan agamanya dan berpikir atheis, serta derivasi keduanya berupa sikap zindik, menghalalkan kehormatan dan harta orang lain, melanggar nilai mulia kehormatan dan adab, mengurai semua ikatan yang dibentuk oleh umat Islam. Tidak ada satu pun lagi yang dijaga demi membumikan semua kerusakan ini, kecuali taktik agar tidak mendapatkan sanksi dari pemerintah ketika undang-undang dilanggar.”

Syeikh Rasyid Ridha menjelaskan bahwa tujuan para pengusung Westernisasi dan Atheis adalah menghancurkan Islam dan melemahkan semangatnya:
“Mereka berusaha menghancurkan agama Islam dari semua sisinya; akidah, syariah, adab, dan fadhilah. Selain itu, juga menghancurkan semua unsure-unsur umat Islam, khususnya Arab; bahasa dan fashion, agar tidak ada lagi sesuatu pun dari masa lalunya yang dijaga, bahkan kalau bisa tidak ada lagi yang namanya umat Islam. Sebab, umat itu ada karena ada masa lalunya, sejarahnya, unsure-unsurnya, baik semi-real maupun maknawi.”

Klaim batil yang menjadi sandaran mereka:
“Semua masa lalu yang ada pada diri umat Islam, itu sudah kuno, rusak dan tidak layak, wajib diganti dengan selainnya yang masih baru, yang diambil dari teori-teori, etika-etika, tradisi-tradisi dan fashion-fashion Eropa. Mereka menyerukan semua yang baru dan meninggal semua yang lama.”

Dan banyak lagi semisalnya lainnya di masa kita ini yang menyatakan bahwa al-Turats al-Islami adalah bagian dari masa lalu dan tidak layak untuk masa sekarang dengan segala hal barunya dan masalah-masalahnya. Tidak ada alternative lainnya, kecuali dengan peradaban barat dengan segala manisnya dan pahitnya.

Syeikh Rasyid Ridha mewanti-wanti dalam bahwa menyebarkan ide-ide mereka, mereka memanfaatkan para pemuda yang memiliki tenaga besar namun tidak memiliki kematangan yang sempurna, serta juga memanfaatkan orang-orang awam yang tidak memiliki filter yang membentengi dirinya dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan:
“Dalam kampanye mereka, mereka bergantung dengan generasi baru dari kalangan pemuda dan pemuda, yang biasanya bergantung dengan semua yang baru karena lucu dan nikmat, kemudian juga karena akidah mereka, adab mereka, dan akal mereka yang belum mengakar. Kemudian bagi orang awam, mereka menerimanya karena bisa menikmatinya, memutus rantai ikatan dan membebaskan syahwat.”

_____

Ahli Fikih yang Taklid & Ahli Tasawuf yang Suka Melakukan Bidah

_____


Selain itu, penulis al-Manār menjelaskan bahwa para Ahli Fikih yang Taklid dan Ahli Tasawwuf yang suka melakukan bidah, sudak berpaling dari tugas utama mereka dan kewajiban yang seharusnya mereka jalankan. Akibatnya, mereka terjerumus ke dalam perangkap  rancana-rencana non muslim:
“Jikalau bukan karena kekakuan/ rigid para ahli fikih yang taklid (yang menimbun ilmu-ilmu Islam di negeri-negeri Islam berabad-abad yang lalu), dan jikalau bukan karena ahli tarikat-tasawuf dan segala khurafat yang mereka lakukan (mereka adalah orang-orang yang pendahulu mereka sangat perhatian sekali dengan pendidikan agama, agar agama tersebut menjadi “rasa” di jiwa pemeluknya, tidak menerima perdebatan dan pertikaian, kemudian setelah mereka berubah menjadi upaya pengrusakan yang tidak menerima reformasi sedikit pun, dengan alasan apapun). Jikalau bukan karena mereka, maka para pelaku pengrusakan ajaran Islam dan para Missionaris, tidak akan memberikan pengaruh apapun dalam upaya mereka menyesatkan kaum muslimin.”

Ia menambahkan:
“Walaupun  para ahli fikih yang taklid terhadap mazhab-mazhab itu adalah sisa orang-orang yang menjalankan zahir Islam, maka itu bukan berarti mereka bebas dari tuduhan criminal atas Islam dan membuat orang lain lari meninggalkannya. Sebab, mereka memonopoli hokum segala sesuatu atas nama agama dan mewajibkan orang lain untuk mengikuti mereka. Mereka sudah terbiasa dengan kepemimpinan seperti ini semenjak berabad-abad yang lalu, yaitu kepemimpinan atas apa yang diturunkan oleh Allah SWT. Dahulu, mudharatnya itu kecil, sekarang besar.”

_____

Manusia-Manusia yang Rigid dan Ilmu-Imu Kontemporer

_____


 Kemudian Syeikh Rasyid Ridha membuat contoh fitnah yang kemunculannya disebabkan oleh para Ahli Fikih yang Rigid. Mereka, atas nama agama, menentang pembelajaran ilmu, pengetahuan, dan industri kontemporer, yang tidak mungkin bagi pemerintah menjaga kemerdekaannya dengan semua itu, kemudian tidak mungkin juga umat Islam ini akan maju dalam pertaniannya dan perdagangan tanpa semua itu.

Ia menjelaskan bahwa di antara industry-industri dan pengetahuan-pengatahuan ini, ada yang Qath’I yang tidak mungkin diragukan urgensinya. Namun, para Ahli Fikih yang Rigid menjudge orang-orang yang meyakini hal Qath’i ini dengan label “kufur”. Merekalah orang-orang yang menentang Daulah Utsmaniyah dan selainnya untuk mendapatkan manafaat dari ilmu dan pengetahuan ini. Mereka mengklaim bahwa ini bertentangan dengan agama dan menyelisihi al-Quran, sampai-sampai mereka mengharamkan ilmu Geografi, padahal objeknya dan bahasan-bahasannya sama sekali tidak ada kaitannya dengan ilmu-ilmu agama, kecuali sekadar menguakan bahwa bumi  itu bulat.

Masalah bentuk bumi bukanlah bagian dari masalah akidah, tidak juga masuk dalam kajian hukumnya dan adabnya. Allah SWT tidak mewajibkan para hamba-Nya untuk meyakini bahwa ia seperti roti atau datar atau bulat. Pada hari kiamat, tidak ada seorang pun yang akan ditanya iman seseorang tentang masalah bentuk bumi. Jikalau ketidaktahuannya masalah bentuk bumi tidak memudharatkan agamanya, maka tidak masalah ketika ia mengetahuinya dengan salah satu jalan pengetahuan, selama bermanfaat bagi dunianya?!

Penulis al-Manār ini menunjukkan bahwa Isrāiliyat memiliki pengaruh terhadap kemunculan pemahaman-pemahaman yang rigid atau kaku tersebut:
“Para Ahli Fikih yang memonopoli ilmu agama dan keukeuh membelanya tanpa ilmu, menginginkan sesuatu yang bukan bagian dari Islam, taklid terhadap para penulis terdahulu yang meracuni kitab-kitab tafsir dan hadits. Mereka membuat penambahan, yang jenis penambahannya paling parah adalah khurafat yang dibuat oleh para zindik Yahudi dan Persia tentang masalah Penciptaan dan Pembentukan Semesta, bentuk langit dan bumi, planet, petir dan kilat, bukit Qaf, sapi jantan, ikan paus, dan sebagainya. Kemudian mereka mengkafirkan orang yang tidak setuju dengan pendapat mereka. Mereka menjadikan mitos-mitos Israiliyat ini sebagai bagian dari rukun Iman yang menyebabkan keluarnya orang yang mengingkarinya dari Islam. Padahal para penulisnya yang menyebutkannya dalam kitab-kitab mereka dari kalangan ulama terdahulu, tidak menuliskannya demi hal ini yang sampai menyentuh Ushuluddin dan tidak juga Furu’nya. Bagaimana mungkin akan berkurang keislaman seseorang yang Allah SWT berikan ilmu yakin, bahwa semua itu adalah mitos-mitos yang batil?”

Syeikh Rasyid Ridho menunjukkan point penting bahwa para Ahli Fikih nan Rigid, bersekutu dengan para Atheis untuk menghancukan Islam dengan cara-cara yang tidak mreka sadari. Mereka merusak para pelajar dengan metode kontemporer yang independen (terbebas) dari Islam dari segala sisinya, memutus jalan dari para ahli agama yang ilmunya mendalam.

_____

Solusi Masalah

_____


Kemudian Syeikh Rasyid Ridha bertanya-tanya, “Apakah yang dilakukan oleh al-Manār dan orang yang menempuh Manhaj al-Manār?

Ia menjelaskan pentingnya menyebarluaskan kesadaran di tengah umat, agar opini umum bisa menolak semua mitos-mitos ini:
“Saya mendapati, banyak dari para pemimpin kita, baik dalam bidang ilmu, agama, dan intelektual, putus asa untuk melakukan reformasi dan perbaikan. Tetapi saya mengatakan, keburukan itu bisa dihilangkan jikalau orang-orang yang memiliki kemampuan mau bangkit segera dengan system yang lurus. Kekuatan yang mampu mengalahkan semua kekuatan yang ada di zaman ini adalah kekuatan opini umum umat Islam.”

Tidak diragui bahwa saran yang disampaikan oleh Syeikh Rasyid Ridha, masih relevan dengan kondisi kita sekarang ini. Relevan sekali. Kita masih mendapati banyak kaum muslimin yang sekadar KTP saja atau Islam KTP, yang jumlah mereka ada enam;
  1. Para Ahli Fikih nan Taklid 
  2. Para Ahlu Tasawuf yang Ahli Bidah 
  3. Para Penyeru Westernisasi 
  4. Para Atheis 
  5. Para Pembaca Buku-Buku Kontemporer 
  6. Para Aktivis Feminis.

Maka, untuk menghadapi semua itu, kita membutuhkan solusi, yang secara global sebagai berikut:
  • -Kembali kepada al-Quran dan Sunnah Nabi. Dalam memahaminya, perlu dibedakan antara Tsabit lagi Muhkam Nafidz, dengan yang Furu’ Mutaghayyir Mutasyabih yang dbolehnya adanya perbedaan pendapat.
  • -Membebaskan Islam dari pemahaman-pemahaman yang salah, baik dalam bidang fikih, tafsir, dan selainnya, atau di bidang ruhiyah atau sense, sebagaiaman disebut oleh Syeikh al-Ghazali.
  • -Memfilter al-Turats al-Islami, tidak rigid memahaminya. Bangga memilikinya, namun tidak kaku.
  • -Menggunakan al-Maqāshid dan al-Kulliyyāt, dengan tidak melangkahi al-Tsawābit dan hokum-hukum yang Qath’i
  • -Menetapkan Mizan (Standar/ Timbangan) tentang bagaimana mengambil faedah dari apa yang ada pada orang lain, bukan eksklusif atau malah larut dengan yang lainnya.
  • -Memberikan kepada para wanita apa yang berhak didapatkannya; posisi dan kedudukan di masyarakat, dengan tetap menjaga aturan Islam.

***


Itulah jenis umat Islam. Dahulu ada, sekarang ada dan malah makin banyak. Hehe… Kita memohon ampunan kepada Allah SWT atas kelemahanan kita dalam berdakwah dan Islam. Saya mengingatkan diri sendri dan kita semua, marilah berIslam dengan baik. Jangan sekadar Islam KTP. Mari menjadi Islam atau Muslim yang hakiki, yang mengejawantahkan Islam dalam diri dan dalam kehidupan.

Semoga catatan ini bermanfaat. Salam []
Read More..

Qiyās al-Syabh Menurut Pakar Ushul Fikih & Orang Awam

Qiyas merupakan salah satu kajian dalam Ushul Fikih. Ketika para pakar Ushul Fikih menyebut Qiyas, maka itu Qiyas dalam artian yang sudah terperinci, yang maknya jelas, lengkap dengan syarat dan rukunya.

Hanya saja, kata-kata “Qiyas” ini juga sudah menjadi kata umum di kalangan masyarakat awam, namun dengan metode yang tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh pakar dan ulama Ushul Fikih.

Ushul Fikih itu bukanlah kajian yang gampang. Sulit. Kalau tidak percaya, Tanya saja orang yang pernah belajar Ushul Fikih. Apalagi masalah ‘Ilat. Itu tambah sulit lagi. Walaupun kita katakan sulit, ada sekelompok orang yang baru baca judul buku “Ushul Fikih” sudah mengakui menguasai Ushul Fikih. Hedeh….

Dalam catatan ini, kita akan melihat suatu masalah menarik, yaitu masalah Qiyās al-Syabh di kalangan Pakar Ushul Fikih dan Kalangan Umum, yang penulis urai dan ambil dari tulisan menarik dari Syeikh Hamid al-Athhar, lewat artikelnya yang berjudul Qiyās al-Syabh ‘Inda al-Ushuliyyin wa al-‘Ammah.

Qiyās al-Syabh Menurut Pakar Ushul Fikih & Orang Awam

Mari baca baik-baik…

_________________________

Qiyās al-Syabh

________________________


Ada pertanyaan begini, “Apa sebabnya al-Qiyās dalam Ushul al-Fiqh begitu njlimet? Kenapa sudah mengkajinya dan sudah juga menerapkannya? Bukanlah semua manusia menggukan al-Qiyās dalam kehidupannya, dimana ia menghubungkan antara sesuatu yang serupa dengan yang lainnya, kemudian menetapkan hukumnya?”

Jawabannya, “al-Qiyās dengan makna arti seperti kebanyakan orang itu, dinamakan oleh pakar Ushul al-Fqh dengan sebuah Qiyās al-Syabh, yang merupakan sebuah jenis al-Qiyās yang batil dalam pandangan Ushul Fiqih dan batil juga dalam pandangan sejarah. Makanya, ketika menjelaskan masalah syarat-syarat al-Qiyās dan pengertian al-Qiyās yang benar, para pakar Ushul al-Fiqh menjelaskannya dengan panjang lebar, agar ia tidak bercampur dengan Qiyās al-Syabh yan batil.

_________________________

Pengertian Qiyās al-Syabh

________________________


 Apa pengertian Qiyās al-Syabh? Para ulama menjelaskannya begini:
الجمع بين أمرين لاشتراكهما في  نوع من الشبه
“Menyatukan di antara dua perkara karena keduanya bersekutu di salah satu jenis kesamaan.”

Kebatilannya dalam sejarah, al-Quran sudah menyebutkan sejumla contong tentang Qiyās al-Syabh ini, yang banyak digunakan oleh kalangan awam. Jikalau kita memperhatikan contohnya, maka kita akan mendapati bahwa semua contoh ini menunjukkan batilnya Qiyās- Qiyās yang mereka melakukan, kemudian juga menunjukkan kepada kita bahwa Qiyās al-Syabh ini menjadi pintu bagi sebagian penganut kebatilan untuk menipu manusia, dengan menunjukkan kebatilan seolah-olah sebuah kebenaran.

_________________________

Contoh-Contoh Qiyās al-Syabh

________________________


Di bagian ini, kita akan melihat beberapa contoh terkait Qiyās al-Syabh ini dalam al-Quran al-Karim.

1# “Apakah Mereka (Manusia) akan Menunjuki Kami?”

Di antara contoh yang disebutkan oleh al-Quran adalah al-Qiyās yang menjadipenyebab banyaknya anak manusia yang berpaling dari dakwah para Rasul. Dalam al-Quran dijelaskan:
فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَىٰ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ
Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta." (Surat Huud: 27)

Coba perhatikan ayat di atas. Bagian yang digarisi. Mereka melihat masalahnya dari sisi “sama-sama manusia, sama-sama anak cucu Adam.” Dengan metode Qiyās al-Syabh, mereka menetapkan hokum salah satu yang sama, dengan yang lainnya. Seolah-olah mereka mengatakan, “Kami manusia, kalian manusia. Sebagaimana kami bukanlah para Rasul, maka kalian juga begitu. Jikalau kita sama dalam hal ini, maka kalian sama seperti kami. Tidak ada keistimewaan bagi kalian.”

Ibn al-Qayyim menjelaskan maknanya:
“Ini merupakan salah satu betuk Qiyās paling batil. Faktanya menjelaskan bahwa sebagiannya lebih istimewa dari yang lainnya. Status social sebagian orang dan status kekayaan mereka, membuat mereka lebih mulia dan lebih terhormat di bandingkan yang lainnya dalam urusan duniawi. Sebagian manusia ada yang menjadi rakyat, dan sebagian lainnya ada yang menjadi pemimpin. Sebagiannya ada yang menjadi raja, dan sebagiannya lagi menjadi pelayan.”

 Hal itu ditunjukkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Surat al-Zukhruf: 32)

Para Rasul menjadi pernyataan ini dengan mengatakan:
قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ وَمَا كَانَ لَنَا أَنْ نَأْتِيَكُمْ بِسُلْطَانٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: "Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal." (Surat Ibrahim: 11)

Kemudian Allah SWT menjawab dengan firman-Nya:
وَإِذَا جَاءَتْهُمْ آيَةٌ قَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ حَتَّىٰ نُؤْتَىٰ مِثْلَ مَا أُوتِيَ رُسُلُ اللَّهِ ۘ اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ ۗ سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا صَغَارٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُوا يَمْكُرُونَ
Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: "Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah". Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya." (Surat al-An'am: 124)

Kemudian juga firman-Nya:
وَقَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِلِقَاءِ الْآخِرَةِ وَأَتْرَفْنَاهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا مَا هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُونَ مِنْهُ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُونَ
Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia: "(Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan dari apa yang kamu makan, dan meminum dari apa yang kamu minum." (Surat al-Mukminun: 33)

Kemudian firman-Nya:
وَلَئِنْ أَطَعْتُمْ بَشَرًا مِثْلَكُمْ إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُونَ
Dan sesungguhnya jika kamu sekalian mentaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian, kamu benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi." (Surat al-Mukminun: 34)

Para Rasul menjelaskan bahwa kesamaan dari "sisi manusia" yang mereka jadikan sebagai ukuran, dengan segala kekhususannya berupa makan dan minum, semua itu hanyalah Qiyās al-Syabh dan Jama' al-Shùry. Hal ini semisal denga firman Allah SWT:
ذَٰلِكَ بِأَنَّهُ كَانَتْ تَأْتِيهِمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالُوا أَبَشَرٌ يَهْدُونَنَا فَكَفَرُوا وَتَوَلَّوْا ۚ وَاسْتَغْنَى اللَّهُ ۚ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
 Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-Rasul mereka membawa keterangan-keterangan lalu mereka berkata: "Apakah manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami?" lalu mereka ingkar dan berpaling; dan Allah tidak memerlukan (mereka). Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (Surat al-Taghabun: 6)

2# “Jikalau ia Mencuri, Maka Saudaranya Mencuri juga Sebelumnya.”

Contoh kedua yang diceritakan al-Quran adalah hikayat al-Quran tentang saudara Nabi Yusuf alaihissalam, ketika mereka mengatakan ketika mendapati takaran di karung saudara mereka, “"Jika ia mencuri, maka sesungguhnya, telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu.” (Surat Yusuf: 77)

Ibn al-Qayyim menjelaskan, “Mereka sama sekali tidak menyatukan antara al-Ashl dengan al-Furu’ dengan ‘Ilatnya, dan tidak juga dengan dalilnya. Mereka hanya menggabungkan salah satu dari keduanya dengan yang lainnya tanpa ada dalil yang menyatukan selain sekadar kesamaan saja yang menyatukan antara dirinay dengan Yusuf. Mereka mengatakan, ‘Ini diqiyaskan dengan saudaranya. Di antara keduanya banyak kesamaan, yaitu ia juga pernah mencuri sebelumnya. Ini adalah al-Jam’ dengan kesamaan yang tdiak ada sama sekali. Qiyas yang hanya sekadar bentuk tanpa ‘Ilat kesamaan, maka ia adalah Qiyas yang Fasid (rusak). Sama dalam hal kekerabatan persaudaraan bukanlah ‘Ilat persamaan dalam “mencuri”, walaupun mencuri itu sebuah fakta. Tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa ada kesamaan dalam masalah. Al-Jam’ yang dilakukan adalah jenis al-Syabh yang kosong dari ‘Ilat dan juga tidak ada dalilnya.”

3# “Jual beli itu sama dengan riba.” 

Dalam hal ini, orang-orang musyrik mengqiyaskan riba dengan jual beli, dengan sekadar al-Syabah al-Shury (kesamaan semu), seolah-olah orang yang melakukan riba hanyaah sekadar meminta tambahan sebagai kompensasi waktu, sama dengan penjual kredit yang meminta tambahan sebagai kompensasi waktu. Artinya, kata mereka, jikalau kalian membolehkan jual beli, maka kalian juga harus membolehkan riba. Itulah yang dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba." (Surat al-Baqarah: 275)

4# “Apa yang Allah bunuh, dan apa yang kalian Bunuh.” 


Ketika Allah SWT mengharamkan bangkai, maka orang-orang musyrik mengatakan, “Apa yang dibunuh Tuhan kalian, janganlah kalian memakannya. Dan apa yang kalian bunuh dengan tangan kalian, maka makanlah.”

Mereka menganalogikan kematian bangkai/ tanpa sembelih dengan kematian akibat sembelih. Artinya, kata mereka, bangkai itu mati sendiri, Allah SWT yang menghilangkan nyawanya. Sedangkan sembelihan, kalian kalian menghilangkan nyawanya dengan pisau. Jadi, kenapa kalian menghalalkan yang kalian bunuh dengan tangan kalian dan tidak mau dengan apa yang dihilangkan nyawanya oleh Allah SWT? Kan sama saja, kata mereka.

_______________________

Qiyās al-Syabh dan Fikihnya Orang Awam

_______________________


Qiyas itu sulit. Ya, memang sulit. Studinya maupun prakteknya. Hanya saja, ia merupakan salah satu dalil syariat yang paling banyak digunakan di kalangan masyarakat awam. Makanya, seringkali kita mendapati ada seseorang yang awam ilmu agamanya, ketika ia mendapati atau mengetahui hokum suatu masalah dalam Islam, baik karena dibacanya maupun didengarkannya, maka ia akan mengqiyaskan puluhan masalah dengan masalah tadi, kemudian juga mengqiyaskan puluhan kondisi yang sebenarnya berbeda.

Orang awam tadi membuat furu’ puluhan masalahnya dengan dasar satu masalah yang sudah didapatinya hukumnya, hanya karena sekadar adanya al-Syabh antara masalah yang diketahuinya dengan masalah yang baru.

Makanya tidak heran, sering kita saksikan ada orang yang sudah kayak pakar Ushul, padahal baru tahu kata Ushul kemarens sore. Hehe…. ^_*

Para ulama tidak membolehkan seorang awam berfatwa untuk dirinya sendiri untuk masalah yang terjadi hari ini, dengan fatwa yang dikeluarkan kemaren, walaupun mungkin ia melihat ada kedekatan dan kemiripan dalam masalah.

Inilah yang ditegaskan oleh Imam al-Nawawi dalam Kitabnya Adab al-Fatwa wa al-Mufti wa al-Mustafti: 43:
“Begitu juga dengan orang awam. Jikalau ada suatu masalah yang menimpanya dan sudah dipertanyakannya sebelumnya, kemudian masalahnya terjadi lagi, maka lazim baginya untuk bertanya lagi, berdasarkan pendapat yang paling shahih. Kecuali masalahnya sudah sering terjadi dan sulit baginya bertanya lagi, maka hal itu tidak lazim baginya. Cukup baginya dengan jawaban dari pertanyaan sebelumnya karena kondisinya yang sulit.

____________________

Kesimpulan

___________________


Apa kesimpulan yang didapatkan dalam catatan ini?
Ushul Fikih itu tidak semudah membalik telapak tangan. Jangan disangka, Anda duduk bermajelis sekali, kemudian lansung menjadi pakar Ushul, yang mampu mengurai semua masalah fikih. Qiyas yang sering digunakan oleh orang awam adalah Qiyās al-Syabh.

Hukumnya? Jelas tidak boleh, sebab tidak terpenuhinya syarat-syarat yang sudah kita jelaskan di atas. Pelajari dulu Qiyas yang ada dalam Ushul Fikih dulu dengan baik. Pahami dengan sebenar-benarnya. Jangan asal saja.

Baca kalam Imam al-Nawawi di bagian akhir. Itulah fenomena yang banyak kita saksikan saat sekarang ini. Kita sering mengqiyaskan antara satu fatwa dengan fatwa lainnya, hanya karena kesamaan di satu sisi saja. Akibatnya, fatwanya ngawur bin ngawur bin nyeleneh.

Sip. Itu catatan saja. Semoga bermanfaat. []
Read More..

Hukum Tato Menurut Islam

“Apa hukum tato dalam islam, baik bagi laki-laki mapuan perempuan/ wanita? Apa hukumnya jikalau ada tato dalam sholat? Sahkah sholatnya? Kemudian, apa hukum tato tidak permanen dalam islam? Apakah ada keharusan hokum menghapus tato dalam islam? Dalilnya apa? Bagaimana pula hukum memakai tato henna?”


Dulu, ketika masih kecil, kami sering didogma sama orang-orang yang sudah tua bahwa Tato itu adalah tanda orang yang baru keluar dari Penjara. Makanya, ketika kami mendapati ada orang yang memakai Tato, kami lansung ketakutan. Mereka penjahat. Mereka pelaku criminal. Dan nyatanya memang begitu. Itu catatan awalnya.

Seiring berjalannya waktu, Tato itu sudah menjadi seni tersendiri. Bukan mantan narapidana saja yang memakainnya, orang yang tidak pernah bersentuhan dengan criminal pun ikut membuat Tato di tubuhnya. Katanya seni. Katanya keindahan. Biar keren. Biar Gagah. Biar Ganteng. Dan tidak hanya laki-laki yang memakainya, tapi juga perempuan.

Di tengah tingginya tingkat spritualitas umat Islam sekarang, banyaklah anak-anak muda kaum muslimin yang  bertaubat. Sekarang dikenal dengan istilah “Hijrah”. Mereka menyesal sudah mentato tubuhnya. Mereka menyesal sudah jauh dari jalan Allah SWT.  Mereka berhasrat kembali ke jalan-Nya.

Hukum Tato Menurut Islam

Tato yang sudah ada di tubuh, banyak yang berusaha menghapusnya. Apalagi sekarang banyak layanan Gratis untuk menghabiskan Tato. Alhamdullah. Segala puji bagi Allah SWT.

Pertanyaannya sekarang; Bagaimana sih hokum Tato dalam Islam? Apa benar tidak dibolehkan secara total? Apa benar shalatnya tidak sah jikalau ada Tatonya?

Sebagai seorang Muslim, tentu kita harus beribadah dengan ilmu, beragama dengan pengetahuan. Maka, mengkaji masalah ini menjadi sebuah kewajiban. Dan dalam catatan ini, kita akan berusaha melihat masalahnya dengan baik dan detail.

_______________

Hukum Tato Dalam Islam

_____


Dalam kajian Syariah, Tato itu dikenal dengan istilah al-Wasym. Hukumnya haram. Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Pertama, mengubah ciptaan Allah SWT. Kulit sudah bagus, kok digambar-gambar? Permanen pula! Kedua, Menyakiti diri sendiri. Proses pembuatan Tato itu pakai Jarum. Otomatis menyakiti diri sendiri. Padahal tidak ada manfaatnya dan tidak ada gunanya. Hanya gaya-gayaan saja.

Dalilnya apa?

Allah SWT berfirman:
إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا إِنَاثًا وَإِنْ يَدْعُونَ إِلَّا شَيْطَانًا مَرِيدًا (117) لَعَنَهُ اللَّهُ وَقَالَ لَأَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا (118) وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا
Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka, (QS. 4:117) yang dilaknat Allah dan syaitan itu mengatakan: ‘Aku benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba-Mu bagian yang sudah ditentukan (untukku), (QS. 4:118) dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya dan akan aku suruh mereka (merubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya”. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. (QS. 4:119)

Sabda Rasulullah Saw;
  لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّه

"Allah melaknat perempuan yang membuat tato dan orang yang minta dibuatkan tato, orang yang minta dicabutkan bulu alisnya, orang-orang yang menghias giginya untuk mempercantik dirinya, dan orang yang mengubah ciptaan Allah." [HR. al-Bukhari]

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu bahwas Rasulullah saw melaknat perempuan yang menyambung rambutnya dan perempuan yang minta disambungkan rambutnya, perempuan yang membuat tato dan perempuan yang minta dibuatkan tato. [HR Muslim]

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu bahwa Nabi saw melaknat orang yang membuat tato dan orang yang minta dibuatkan tato, orang-orang yang meminta dicabutkan bulu alisnya untuk mempercantik dirinya, dan orang yang mengubah ciptaan Allah. [HR. at-Tirmidzi]

Kabar itu sampai kepada seorang perempuan dari kalangan Bani Asad, namanya Umm Yaqub. Ia berkata kepada Abdullah bin Umar:
“Saya mendengar, engkau melaknat ini dan ini.”
Ia menjawab:
“Kenapa saya tidak melaknat orang yang dilaknat oleh Rasulullah Saw dan orang yang dijelaskan dalam Kitabullah.”

Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu mengatakan:

لُعِنَتْ الْوَاصِلَةُ وَالْمُسْتَوْصِلَةُ وَالنَّامِصَةُ وَالْمُتَنَمِّصَةُ وَالْوَاشِمَةُ وَالْمُسْتَوْشِمَةُ

"Dilaknat perempuan yag menyambung rambutnya dan perempuan yang minta disambungkan rambutnya, perempuan yang mencabut bulu alisnya dan perempuan yang minta dicabutkan bulu alisnya, perempuan yang membuat tato dan perempuan yang minta dibuatkan tato." [HR. al-Bukhari]

Nah, hokum di atas, berlaku bagi laki-laki dan perempuan. Haram bukan saja bagi laki-laki, namun juga bagi perempuan.

______________

3 Metode Tato Permanen yang Diharamkan

____


Tato Permanen itu ada tiga cara melakukannya. Semua hukumnya haram. Perhatikan masing-masingnya dan penjelasan hukumnya.

Pertama, Cara Tradisional, yaitu menusuk-nusukkan jarum ke kulit, kemudian darahnya keluar, dipakaikan alcohol atau bahan tato. Hukumnya jelas.Haram. Ini al-Nawawi menjelaskan masalah kitab dalam Kitabnya Syarh al-Nawawi ala Muslim (14/ 106)

Kedua, Menggunakan Bahan Kimia atau Operasi untuk Mengubah sebagian warna kulit atau seluruhnya. Syeikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin menjelaskan dalam Kitabnya Majmu Fatawa al-Syeikh al-Utsaimin (17/ No.4) bahwa hukumnya Haram jikalau perubahan itu bersifat permanen.

Ketiga, Metode Tato Temporer, tapi dengan jangka waktu yang lama, sampai setahun. Syeikh Abdullah bin Jibrin pernah ditanya masalah ini, dan beliau menjawab bahwa hukumnya tidak boleh karena tercakup dalam hadits larangan untuk bertato.

Artinya, jikalau jenis Tato tadi masuk ke dalam ketiga jenis di atas, maka hukumnya Haram. Haram. Dan Haram.

______________

Hukum Tato dengan Henna Menurut Islam

_________


Menggunakan Henna, sebanarnya tidak tepat disebut Tato. Hukumnya tidak masuk di bagian ini. Ia adalah sesuatu yang dibolehkan dalam Islam. Sebab ia adalah ukiran dan pewarnaan dikulit yang sifatnya sementara, yang akan hilangnya setelah beberapa jangka.

Namun ada syaratnya yang  harus diperhatikan, kata Syeikh Muhammad Shaleh al-Munjid, sebagaimana dijelaskannya di situs pribadinya, yaitu:
>Ukirannya bersifat Temporer, bukan permanen
>Bukan ukiran yang bernyawa
>Tidak memperlihatkan hiasan tersebut ke laki-laki yang bukan mahramnya
>Bahannya tidak mengandung sesuatu yang membahayakan kulit
>Tidak menyerupai para wanita fasik dan Non Muslim
>Tidak membuat ukiran dengan symbol bermuatan kesesatan
>Tidak membuat ukirannya di aurat atau dekat aurat.

Imam al-Shanany menjelaskan dalam Kitabnya Subul al-Salam (1/ 150):
“Tato itu, dalam sejumlah hadits dijelaskan, sebabnya adalah mengubah ciptaan Allah SWT. Namun tidak dikatakan berhenna dan selainnya, tercakup dalam sebab ini. Jikalau memang tercakup, seharusnya ada Ijmanya. Sebab ia sudah ada di zaman Nabi Muhammad Saw.”

Dalam kitab Majmu Fatawa al-Syeikh al-Utsaimin (17/ NO. 4) dijelaskan ketika ditanya masalah ini:
“Jikalau perubahannya tidak permanen, seperti Henna, maka hukumnya tiak apa-apa, sebab ia bisa dihilangnya, sama dengan celak, blush on, bergincu.”

_______

Hukum Menghilangkan Tato & Hukum Shalat Orang Bertato

_______


Tato itu adalah sesuatu yang diharamkan dalam Syariat Islam, sebagaimana dijelaskan di atas, lengkap dengan dalil-dalinya dan pandangan para ulama dalam masalah ini.

Maka, tugas utama yang harus dijalankan adalah bertaubat nasuha kepada Allah SWT.  Kemudian jikalau bisa dihilangkan, maka dihilangnya. Jikalau tidak bisa, maka tidak masalah. Asalkan sudah ada usaha keras untuk menghilangnya.

Al-Rafii menjelaskan, “Tato dihilangnya dengan pengobatan. Jikalau tidak mungkin dilakukan kecuali dengan melukai, maka tidak usah dilukai. Dan tidak ada dosa atas dirinya.”

Intinya, selama tidak membahayakan, maka menghilangkannya tetap harus diusahakan. Apalagi sekarang sudah ada teknologi penghilang Tato. Gratis pula, yang diinisiasi beberapa pegiat hijrah. Berusahalah. Jikalau tidak bisa juga, karena sebab materi atau kesehatan atau uzur syari lainnya, tidak masalah.

Shalat dan wudhu yang Anda lakukan, insya Allah tetap sah. Sebab Anda sudah ada usaha untuk menuju lebih baik, yaitu usaha menghilangkannya. Hanya saja, belum mampu mewujudkannya karena sebab-sebab syari. []
Read More..

Krisis Karya Tulis/ Kepenulisan di Dunia Islam

Ketika kita berjalan menelusuri Toko Buku sejenis Gramedia atau Emperan Buku Kaki Lima, lihatlah buku-buku Islam yang ada disana! Apa yang Anda saksikan? Yah, buku-buku dengan judul yang mirip, hampir sama. Bahkan, kadangkala, ada yang kavernya saja berbeda, namun isinya sama.

Fenomena inilah yang dinamakan dengan Krisis Buku, Krisis Kepenulisan. Sebenarnya, bukan saja terjadi di Indonesia, namun juga terjadi di Dunia Islam secara keseluruhan. Ada satu tulisan menarik yang ditulis oleh DR. Abdul Karim al-Muslih, dengan judul Taškís Ibn al-Ašyùr li Mažâhir Fasâd al-Ta’líf Inda al-Mutaakkhirín. Dalam tulisan ini, dengan baik dijelaskan Diagnosis Ibn Ibn al-‘Asyùr tentang penyebab rusaknya Kepenulisan dan Karya Buku di Dunia Islam. Ada beberapa kondisi yang layak diperhatikan dalam catatannya ini:

________________

 Kepenulisan Dunia Islam yang Masih saja Rigid, Kaku, dan Jumud

________________


Dalam Kitabnya “Alaisa al-Subh bi al-Qaríb”, Ibn al-‘Asyùr menyayangkan kondisi kepenulisan Dunia Islam yang masih berada dalam kondisi rigid/ jumud/ kaku. Dalam diagnosisnya, itu terjadi semenjak 600 tahun yang lalu. Ia menyamakan kondisi ini dengan tawanan yang menunggu masa kebebasannya, dengan orang terzalimi yang menunggu orang yang akan membantunya. Ia menganggap kejumudan tersebut merupakan salah sebab terbelakangnya pendidikan Dunia Islam.

Dan mereformasi Kepenulisan Dunia Islam merupakan langkah awal untuk mereformasi Dunia Pendidikan. Ia mengatakan, “Ilmu-Ilmu berharap agar kita mereformasinya. Ia melihat kita layaknya pandangan tawanan terhadap orang yang akan menebusnya, layaknya pandangan orang yang terzalimi terhadap orang yang akan menolongnya. Memperbaiki Dunia Kepenulisan adalah langkah pertama. Bahkan, ia merupakan setengah dari jarak perjalanan yang harus ditempuh untuk melakukan reformasi ilmu. Ilmu itu tidak lain adalah makna-makna kepenulisan. Kemajuannya tidak akan pernah bisa diharapkan selama ia masih terpenjara dalam penulisan-penulisan masa lalu, semenjak 600 tahun yang lalu.”

Krisis Karya Tulis di Dunia Islam

 ___________________

Kita Masih Saja Hidup Di Masa Lalu, Padahal Masa Sudah Maju, Zaman Sudah Berbeda

___________________


Ibn ‘Asyùr juga menjelaskan kesenjangan yang semakin lebar antara karya kepenulisan dengan pergantian masa dan peradaban, “Perjalanan sudah terhenti, kepenulisan sudah menyempit, dan ilmu-ilmu sudah bercampur-baur. Sehingga, kita mengikuti apa yang kita dapati tanpa sensitifitas apakah ada kebaikan dalam apa yang kita ikuti atau keburukan dari apa yang kita jalankan. Masa sudah berganti, ilmu sudah semakin maju, umat lainya sudah terbang ke angkasa, sedangkan kita masih saja duduk dengan ilmu-ilmu kita dan kitab-kitab kita. Setiap kali kita merasakan cerita kejayaan masa lalu, kemajuannya, dan perubahan hebat yang diciptakannya, kita semakin berpegang kuat dengan masa lalu dan kita menutup semua pintu. Padahal hakikatnya, Anda sedang melihat sosok generasi abad ke-14, namun Anda merasa bahwa pengetahuanya, ilmunya, dan pemikirannya adalah generasi abad ke-9 atau ke-10, yang tidak mampu lagi untuk maju dan terhenti di batas yang pijakinya.

________________________

Tirani Kwanititas; Banyak Karya, Namun Tidak Bermutu

_______________________


Ibn al-Asyur mengidentifikasi bahwa awal mula ketidakseimbangan dalam Penulisan ini karena Tirani Kwantitas. Ia menjelaskan, "Karya-karya kepenulisan meningkat dan berkembang dalam lima ratus tahunan ini. Kelompok-kelompok aliran pun semakin bertambah banyak. Hanya saja, di hadapan gelombang besar ini, kaum muslimin tidak mendapatkan jalan terang untuk menentukan ulama yang kitab mereka dijadikan sebagai rujukan. Saking banyaknya, susah menentukan jumlah yang akan dibawa, namun di sisi lain kebutuhan menuntut untuk mengambil semuanya. Kemudian, masing-masing pihak sibuk meringkas, menambah, dan mengurangi bagian yang rasanya perlu.”

Tirani kwantitas non filterisasi ini melahirkan pengaruh-pengaruh negatif general dalam kepenulisan. Ia mengatakan, "Munculnnya kerancuan lisan dan upaya menyembunyikan banyak masalah di balik tabir lafadz, ditambahkan dengan sikap para penulis yang Anti Kritik, sibuk dengan editan satu huruf atau kekurangan satu kata, sampai-sampai para penulis mengkritik para penulis kitab-kitab al-Mukhtashar (ringkasan) dalam al-Tarkib (Uslub) yang digunakannya, dengan mengatakan bahwa jikalau al-Tarkib yang digunakannya seperti ini, maka akan lebih ringkas. Akibatnya, pemahaman yang ada semakin lemah, yang hanya siap menjelaskan hal-hal tersembunyi tersebut, menyia-nyiakan waktu yang ada, berdebat tentang makna kata; apakah ini yang dimaksudkan oleh penulis atau tidak? Orang ini mengatakan "ya", dan lawan bicaranya mengatakan "tidak". Kemudian ada kritikus lainnya yang mengkritik pengkritik dan pendukung sebelumnya.”

Ibn al-‘Asyùr lebih lanjut menjelaskan kondisi Kepenulisan di Abad Terakhir yang dikuasi oleh Tirani Taklid, dengan mengatakan, “Ruang Kepenulisan hanya berkisar dalam penukilan ucapan kaum terdahulu. Anda menyaksikan karya yang muncul antara yang satu dengan yang lainnya, namun Anda tidak mendapatkan sesuatu yang baru atau pandangan atau saripati.” Bahkan, fenomena yang satu ini di kalangan kontemporer sampai pada tingkat al-Tasâbuq (berpacu) untuk menampakkan hal-hal tidak berguna/ hal-hal sepele dalam Kepenulisan, sekadar menampakkan pencapaiannya dalam bacaan dan pendidikan.”

Kemudian Ibn al-‘Asyùr menjelaskan konsekwensi efek-efek negative dalam Dunia Kepenulisan dalam jangka waktu yang lama setelahnya berlalunya abad ke-8, berupa konklusi-konklusi Negatif yang sangat disayangkan terhadap logika dan pemahaman, bahkan terhadap etipa Generasi selanjutnya. Ia menjelaskan, “Setelah berlalu jangka waktu yang panjang, logika akan menjauh dari feadah ilmu, para penulis akan lupa dengan rancangan mereka, sehingga Anda tidak akan mendapati karya-karya tulis tersebut kecuali dialektika dan khusumat seputar lafadz dan ungkapan semata. Dan hal itu menyebabkan umur penuntut ilmu yang sia-sia dan pemikirannya yang merugi, ia akan menjadi laki-laki yang mampu membanggakan diri dan berdebat, namun tanpa hujjah. Tidak diragui, setelah abad ke-8, ia melahirkan manusia-manusia yang berbangga-bangga, tunduk dan taklid, namun mereka sama sekali tidak paham. Dan ini merupakan faktor utama semakin membesarnya taklid, semakin jauhnya dari hakikat dan sikap kritis.”

______________

 Hanya Sekadar Nukil-Menukil

________________

Dalam pandangan Ibn al-‘Asyùr, para penulis kontemporer yang memenuhi karya-karya mereka dengan nukilan dasri para ulama, hakikatnya sedang tertipu. Ia mengatakan, “Mereka tertipu ketika menyaksikan karya para pendahulu yang menukil kalam para ulama senior. Mereka menyangka bahwa itulah sebenarnya Hiasan Ilmu.” Padahal, kata Ibn al-‘Asyùr, ada perbedaan antara nukilan ulama terdahulu dengan ulama kontemporer. “Jikalau al-Sikâky menukil dari al-Zamakhsary dan Abd al-Qahhâr di bagian-bagian yang ingin dijelaskan kebenaran makna atau kejelasan tastenya, maka yang kita dapati hari ini berbeda, kita tidak mendengar kecuali Fulan berkata dan Fulan berkata.”
Ibn al-‘Asyùr menjelaskan keistimewaan metode kalangan terdahulu dengan metode yang ditempuh kalangan kontemporer yang tertipu oleh meteode kalangan terdahulu tanpa mengenal keistimewaan-keistimewaan manhaj mereka dan kelebihannya, "Karya-karya kaum terdahulu dipenuhi dengan pandangan baru dan percikan-percikan Ijtihad dalam setiap bidang ilmu. Di antara efeknya yang masih bisa disaksikan dalam karya mereka, yang karya tersebut masih ada di tengah Generasi Islam, adalah paparan pendapat-pendapat yang termaktub dalam kitab-kitab, bahkan Anda juga mendapati pendapat-pendapat yang di zaman sekarang mungkin tidak akan ditolerir karena saking lemahnya. Namun, demi Ihtirâm al-Fikr (memuliakan pikiran) mendorong para penulis untuk tetap menuliskannya dan memaparkannya agar dikritik para peneliti. Bahkan, manusia sekarang menyakini bahwa semua yang tertulis adalah benar dan tidak layak dikritik dan tidak masalah diambil saja."

Ibn al-‘Asyùr menyimpulkan konklusi-konklusi Negatif menyedihkan untuk karya-karya kalangan kontemporere ini, dengan mengatakan, "Efeknya, keterbelakangan ilmiah seperti sekarang ini."

____________________

Meneror Pikiran dan Ide Baru

___________________


Tidak sekadar banyak menukil, banyak mengulang-ngulang, taklid, dan Nepotisme terhadap pendapat kaum terdahulu, tidak ada kreatifitas, tidak ada penambahan dan sesuatu yang baru dalam karya, akal, dan pemahaman di kalangan kontemporer, banhkan Ibn al-‘Asyùr juga mendapatkan adanya beberapa kelompok menguatkan hubungannya dengan para pejabat dan para petinggi. Tujuannya, menghalangi orang-orang untuk melangkahi apa yang sudah dihasilkan oleh kaum terdahulu. Banyak faktor pendorongnya, seperti mencukupkan diri dengan derajat ulama tahqiq, atau iri kepada teman-teman sebayanya dan mematikan bakat kalangan kontemporer, atau Nepotisme terhadap kaum terdahulu. Ia menjelaskan, “Mereka membekukan sudut pandang, dan menakuti orang lain dengan hukuman yang akan didapatkan jikalau menyampaikan pendapat. Mereka membisikan kepada para pejabat dan para penguasa bahwa keluar dari pendapat kaum terdahulu, walaupun sejengkal, sama dengan Atheis, ingkar terhadap para ulama terdahulu. Serta dengan berbagai kata-kata lainnya mereka buat dan mereka palsukan. Mereka membuat bidah, dengan menyucikan kaum terdahulu.”

***


Kondisi keilmuan Dunia Islam memang menyedihkan. Gambaran yang disampaikan oleh Ibn al-‘Asyùr memang menukik dan lansung menghunjam ke hati Generasi Umat Islam. Kita berpikir jumud, kaku, rigid. Metode berpikir kita tidak kritis. Bisanya hanya menukil, tanpa mencerna. Kita menyucikan karya masa lalu, seolah-olah semua yang tertulis itu benar. Padahal yang mutlak benar itu hanyalah al-Quran dan Sunnah.

Jikalau ada yang memiliki pemikiran brilian, akal yang hebat, kita anggap sesat, liberal, pengekor barat dan sejenisnya. Akibatnya, akal kita mentok, tidak berkembang. Ungkapan “Menjaga Warisan Masa Lalu yang Baik, dan Mengambil Terbaik dari yang Baru” layak digunakan. []
Read More..

Hukum Bunuh Diri Menurut Islam

“Bagaimana hukum islam tentang orang mati bunuh diri dengan cara gantung diri? Bagaimana nasib arwahnya? Apa siksa kubur yang mereka dapatkan? Bagaimana jikalau dilakukan saat sedang hamil?


Salah satu fenomena yang paling banyak terjadi di saat sekarang ini adalah bunuh diri. Ada yang gantung diri. Ada yang minum racun. Ada yang terjun dari gedung tinggi. Ada yang menusuk badannya sendiri dengan senjata tajam. Ada yang menyilet urat nadinya sendiri. Bahkan ada aparat keamanan yang bunuh diri dengan senjata api yang dimilikinya.

Latar belakangnya pun macam-macam. Ada yang melakukannya karena masalah ekonomi. Ini yang paling dominan. Beban hidup yang berat, tidak mampu lagi dipikulnya. Tekanan ekonomi membuat akalnya stress. Jalan pintas pun di ambil. Bunuh diri. Tidak ingat dengan istri dan anak yang ditinggalkan. Tidak ingat bagaimana masa depan mereka.

Ada yang bunuh diri karena cinta. Ini bagi saya, alasan paling bodoh. Cinta boleh, buta jangan. Jikalau Anda kehilangan seseorang, masih banyak orang lain di luar sana. Jodoh itu sudah ada di tangan Tuhan. Anda tidak bisa mendikte masalah yang satu ini.

Hukum Bunuh Diri Menurut Islam

Ada juga yang bunuh diri karena ideology. Jarang sekali jenis yang satu ini. Tapi, ada. Ideologi mengajarkan seperti itu. Jikalau gagal mencapai sesuatu, maka jalan keluarnya adalah bunuh diri untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Harakiri di Jepang, mungkin bisa di masukkan di bagian ini.

Ada juga yang bunuh karena karena alasan politik. Gagal menjadi caleg, stress, uang sudah banyak yang dikeluarkan, tapi yang milih tidak mencukupi, maka jalan pintas pun dipilih; bunuh diri. Ini karena tidak siap diri. Politik di jadikan sebagai lahan cari hidup. Padahal, politik adalah  jalan pengabdian.

Dan… masih banyak lagi sebab lainnya.

Oke, kita kembali ke topic. Dalam catatan ini, kita akan membahas bagaimana hokum bunuh diri dalam Islam? Baik dengan cara gantung diri, minum racun, putus urat nadi, dan lain-lain?

_____________

Hukum Bunuh Diri Dalam Islam

________


Dalam Islam, Hukum Bunuh Diri adalah haram. Ia merupakan salah satu dosa besar. Pelakunya akan ditempatkan abadi di Neraka. Tidak ada ampunan dan kemaafan. Sebab, ia sendiri sudah menutup pintu taubat bagi dirinya.

Apa dalilnya?

Firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا (٢٩) وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (٣٠
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dengan jalan perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu. Dan barang siapa berbuat demikian dengan cara melanggar hukum dan zalim, akan Kami masukkan dia ke dalam neraka. Yang demikian itu mudah bagi Allah." (Surat al-Nisa: 29-30)

Dalam ayat lainnya dijelaskan:
وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Surat al-Baqarah: 195)

Dalam ayat lainnya:
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا
يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا
Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina." (Surat al-Furqan: 68-69)

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Saw bersabda:
من قتَل نفسه بحديدة، فحديدته فى يده يتوجأ بها فى بطنه فى نار جهنم خالدًا مخلدًا فيها أبدًا، ومَن شَرِب سُمًّا، فقتل نفسه، فهو يتحساه فى نار جهنم خالدًا مخلدًا فيها أبدًا، ومن تردَّى من جبل، فقتل نفسه، فهو يتردى فى نار جهنم خالدًا مخلدًا فيها أبدًا
“Siapa yang membunuh dirinya dengan pisau, maka pisaunya akan dipegangnya dan ditusuk-tusukkannya ke perutnya di Neraka Jahannam abadi selamanya. Siapa yang meminum rancun, kemudian membunuh dirinya, maka akan menenggaknya di Neraka Jahannam abadi selamanya. Siapa yang gantung diri, maka ia akan mengantung di Neraka Jahannam abadi selamanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lainnya:
الذى يخنق نفسه، يخنقها فى النار، والذى يطعنها، يطعنها فى النار
"Orang yang mencekik dirinya, maka ia akan mencekiknya di Neraka. Dan orang yang menusuk dirinya, maka ia akan menusunya di Neraka." (HR al-Bukhari)

Itulah beberapa dalil dari al-Quran dan hadits yang menjelaskan bahwa bunuh diri merupakan sesuatu yang terlarang dalam Islam. Hukumnya Haram. Dosa besar.

_____________

Arwah Orang yang Bunuh Diri

____


Arwah orang yang bunuh diri sama dengan arwah muslim lainnya. Jikalau Anda mendapati atau mendengar ada arwah orang bunuh diri yang gentangan, itu sebenarnya bukan arwah orang tersebut, tapi bisa jadi itu adalah Jin Qarinnya. Sebab, status orang yang bunuh diri tetaplah seorang Muslim; jikalau ia memang seorang Muslim sejak awal. Bunuh diri tidak menyebabkannya keluar dari Islam. Dosa besar, iya. Kafir, tidak.

Buktinya, orang yang bunuh diri tetap dimandikan, dishalatkan, dikuburkan, diurus layaknya kaum muslimin lainnya.

Jabir bin Samurah radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa ada sesoerang yang bunuh diri dihadapkan kepada Nabi Saw, kemudian beliau tidak mau menyolatkannya. (HR Muslim)

Hadits  ini dikomentari oleh Imam al-Nawawi dalam Syarh Muslim (7/ 47):
“Hadits ini dimaknai agar menjauhkan diri dari upaya bunuh diri, sebagaimana beliau tidak mau menyolatkan jenazah orang yang berhutang. Para sahabat tetap menyolatkan orang yang berhutang berdasarkan perintah Rasulullah Saw. Sebab itu bertujuan untuk menghindari hutang, bukan karena ia kafir. Menurut Imam Malik, hukumnya makruh menyolatkan orang yang meninggal karena rajam, fasik, sebagai peringatan bagi yang lainnya.”

Syeikh bin Abdullah Aziz bin Baz pernah ditanyakan, sebagaimana dimuat dalam Kitab Majmu Fatawa al-Syeikh bin Baz (13/ 122), tentang orang yang bunuh; apakah dimandikan dan dishalatkan?

Beliau menjawab:
“Orang yang bunuh diri, mandikan dan dishalatkan, serta dikuburkan di pekuburan kaum muslimin. Sebab ia hanyalah pelaku maksiat, bukan kafir. Bunuh diri itu maksiat, bukan kekufuran.
Namun, selayaknya bagi Imam Besar (pemimpin)dan orang yang memiliki peranan penting, untuk tidak menyolatkannya sebagai bentuk pengingkaran, agar tidak ada orang yang menduga bahwa ia ridha dengan perbuatan tersebut. Imam besar, atau pengauasa, atau Qadhi, atau kepala negara, atau Gubernur, jikalau meninggalkannya, kemudian menjelaskan bahwa ini adalah salah, maka itu lebih baik. Namun, orang yang bunuh diri tersebut, tetap dishalatkan oleh sebagian kaum muslimin.”

______________

Siksa Kubur dan Siksa Neraka Pelaku Bunuh Diri

________


Siksa kuburnya sama dengan muslim lainnya pelaku dosa besar. Tidak ada dalil khusus yang menjelaskan masalah ini secara detail. Namun di akhirat kelak, ia abadi di Neraka, kemudian dihukum dengan cara yang sudah dijelaskan dalam hadits di atas; jikalau ia bunuh diri dengan cara menusuk diri, maka ia menusuk-nusuk dirinya di Neraka; jikalau ia bunuh diri dengan minum racun, maka ia menegak racun itu sedikit demi sedikit di Neraka; jikalau ia bunuh diri dengan cara gantung diri, itulah yang akan dijalaninya di Neraka kelak. Abadi selamanya.

______________

Catatan Tambahan

_____


Itulah hokum Islam tentang bunuh diri. Kita berlindung kepada Allah SWT dari segala bentuk maksiat. Jangan putus asa dari rahmat Allah SWT. Hidup di dunia ini, pasti akan selalu ada masalah. Semuanya akan silih berganti; bahagia, sedih, bahagia. Senang, derita, senang. Begitilah seterusnya. Tidak ada di dunia ini yang abadi dalam satu keadaan.

Kapan selesai dari masalah?
Ketika Anda melangkahkan kaki pertama kali di surga. Selesai sudah semua masalah.

Hidup hanya sementara. Mari mengabdikan diri kepada Allah SWT. Itu tugas utama kita di dunia. Masalah? Jalani dan serahkan keputusannya kepada Allah SWT, Zat yang Maha Menentukan segala. []
Read More..