Semua agama langit (al-Dín al-Samâwi ) turun untuk menegaskan akidah al-Tauhíd, mengesakan Allah SWT dalam peribadahan dan tidak menyembah selain-Nya. Semua Nabi dan Rasul membawa risalah ini kepada kaum mereka:
فَأَرْسَلْنَا فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata): "Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)." (Surat al-Mukminun: 32)

Hanya saja, untuk hokum syariat, antara satu Rasul dengan Rasul lainnya, ada perbedaan, sebagaimana firman-Nya:
لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ ۖ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ ۚ وَادْعُ إِلَىٰ رَبِّكَ ۖ إِنَّكَ لَعَلَىٰ هُدًى مُسْتَقِيمٍ
Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari'at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari'at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus." (Surat al-Hajj: 67)

Para Ulama mengkaji masalah al-Nâsikh dan al-Mansùkh di bawah kajian Ilmu al-Qurân al-Karím. Bahkan, ada yang menulisnya secara khusus. Al-Naskh adalah mengangkat hokum syariat dengan al-Khitâb (risalah) syariat. Artinya, al-Naskh tidak bisa dilakukan dengan akal dan al-Ijtihâd.

Ruang terjadinya al-Naskh adalah perintah (al-Awâmir) dan larangan (al-Nawâhi) semata. Sedangkan masalah akidah, akhlak, Ushùl al-Ibâdah, dan al-Akhbâr al-Sharíhah (berita-berita yang jelas) yang tidak ada kandungan perintah dan larangan, maka tidak tersentuh oleh al-Naskh.

Mengetahui al-Nâsikh dan al-Mansùkh, sangat penting sekali bagi para ulama. Sebab, dengan mengetahuinya, hokum-hukum syariat bisa diketahui, bisa juga diketahui hokum apa yang masih berlaku dan hokum apa yang sudah disentuh al-Naskh.

Para ulama sudah menentukan metode-metode untuk mengetahui al-Nâsikh dan al-Mansùkh, di antaranya al-Naql al-Sharíh (penukilan yang jelas) dari Nabi Muhammad Saw, atau sahabat. Di antara contoh al-Nâsikh dan al-Mansùkh yang dinukil dari Nabi Saw:
كنت نهيتكم عن زيارة القبور ألا فزروها
“Dahulu saya melarang kalian untuk ziarah kubur. Maka, ziarahilah.” (Hr Muslim)

Di antara contoh al-Nâsikh dan al-Mansùkh yang dinukil dari sahabat adalah ucapan Anas bin Malik radhiyallahu anhu tentang kisah sumur Ma’ùnah. Ada al-Qurân yang turun tentang mereka, kemudian di-Naskh:
بلِّغوا عنا قومنا أن قد لقينا ربنا فرضيَ عنا ورضينا عنه
“Sampaikan tentang kami kepada kaum kami, kami sudah bertemu Rabb kami, kemudian Dia ridha dengan kita, dan kita ridha dengan-Nya.” (Hr al-Bukhari)

Di antara Metode al-Naskh lainnya adalah Ijma’ umat, mengetahui sejarah hokum yang terdahulu dari yang kemudian. Namun perlu diingat dengan baik, al-Naskh tidak ditetapkan dengan al-Ijtihâd, tidak sekadar dengan kontradiksi antara al-Zhâhir dengan dalil. Semua hal ini dan semisalnya, tidak bisa menetapkan al-Naskh.

Jenis-Jenis  al-Nâsikh dan al-Mansùkh

Al-Nâsikh dan al-Mansùkh ada beberapa jenis.

Pertama, Naskh al-Qurân bi al-Qurân (Menaskh al-Qurân dengan al-Qurân)
Misalnya adalah firman Allah SWT:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا ۗ وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir." (Surat al-Baqarah: 219)

Kemudian dinaskh oleh ayat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan." (Surat al-Maidah: 90)

Jenis pertama ini adalah jenis yang disepakati oleh para ulama. Tidak ada perbedaan di antara mereka.

Kedua, Naskh al-Sunnah bi al-Qurân (Menaskh sunnah dengan al-Qurân)
Contohnya, Naskh menghadap shalat ke arah Baitul Maqdis yang ditetapkan dengan sunah, kemudian dinaskh dengan firman Allah SWT:
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." (Surat al-Baqarah: 144)

Ada juga kewajiban puasa hari ‘asyurâ yang ditetapkan dengan sunnah, kemudian dinaskh dengan puasa Ramadhan dalam firman-Nya:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (Surat al-Baqarah: 185)

Ketiga, Naskh al-Sunnah bi al-Sunnah
Contohnya, Naskh bolehnya menikah al-Mut’ah yang awalnya boleh, kemudian di-Naskh. Diriwayatkan oleh Iyâs bin Salamah, dari bapaknya berkata:
رخص رسول الله صلى الله عليه وسلم عام أوطاس في المتعة ثم نهى عنها
“Rasulullah Saw memberikan keringanan di Tahun Awthâs untuk melakukan al-Mut’ah, kemudian dilarang.” (Hr Muslim)

Imâm al-Bukhâri membuat Bab masalah ini, dengan judul “Bâb Nahâ Rasùlullah Shallâhu alaihi wa Sallam ‘an Nikâh al-Mut’ah”.

Bentuk-Bentuk al-Nâsikh dan al-Mansùkh dalam al-Qurân al-Karím

Dalam al-Qurân al-Karím, ada beberapa bentuk.

Pertama, Naskh al-Tilâwah dan al-Hukm Bersamaan

Contohnya adalah hadits Aisyâh radhiyallahu anha yang mengatakan:
كان فيما أنزل عشر رضعات معلومات يحُرمن، ثم نُسخن بخمس معلومات
“Dahulu diturunkan sepuluh susuan tertentu yang menyebabkan mahram, kemudian dinaskh menjadi lima susuan.” (Hr Muslim)

Kedua, Naskh al-Hukum dan tetapnya al-Tilâwah
Contohnya, firman Allah SWT:
الْآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا ۚ فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ
Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (Surat al-Anfal: 66)

Ayat berikut ini menghapus hokum ayat sebelumnya, namun al-TilâwaH atau bacaannya tetap ada, yaitu:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ ۚ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ
Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti." (Surat al-Anfa;: 65)

Ketiga, Naskh al-Tilâwah dan tetapnya al-Hukm

Contohnya adalah hadits Asyah radhiyallahu anha “Kemudian dinaskh dengan lima susuan”. Ditentukannya al-Radhâ’ah dengan lima kali susuan sebagai penyebab Mahram, hukumnya tetap namun tidak al-Tilâwah.

Hikmah dan Tujuan al-Nâsikh dan al-Mansùkh dalam al-Qurân al-Karím

Adanya al-Naskh dalam Syariah, memiliki sejumlah hikmah. Di antaranya menjaga kemaslahatan para hamba Allah SWT. Tidak diragui, sejumlah masalah dakwah Islam di awal kemunculannya, berbeda setelah eksis dan tegaknya. Hal itu menuntut diubahnya sejumlah hokum, demi menjaga kemaslahatan tersebut. Ini jelas termaktub dalam sejumlah hokum-hukum yang terdapat di masalah Makkah (al-Marhalah al-Makkiyah) dan masa Madinah (al-Marhalah al-Madaniyah), begitu juga ketika masa awal-awal di Madinah dan ketika wafatnya Nabi Muhammad Saw.

Hikmah atau tujuan lainnya adalah ujian untuk para Mukallaf, apakah akan menjalankannya atau tidak? Juga untuk kebaikan umat ini dan memudahkan mereka. Sebab, walaupun al-Naskh dialihkan ke sesuatu yang lebih sulit, ada tambahan pahalanya. Jikalau dialihkan ke yang lebih ringan, ada kemudahannya.***
Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu adalah sosok jenius yang dikaruniakan ilham oleh Allah SWT, akalnya selalu menyala, pikirannya penuh dengan ide. Nabi Saw bermimpi mengenai dirinya dan Abu Bakar, kemudian beliau bersabda:
رَأَيْتُ النَّاسَ اجْتَمَعُوا، فَقَامَ أَبُو بَكْرٍ فَنَزَعَ ذَنُوبًا أَوْ ذَنُوبَيْنِ، وَفِي نَزْعِهِ ضَعْفٌ وَاللَّهُ يَغْفِرُ لَهُ، ثُمَّ قَامَ عُمَرُ فَاسْتَحَالَتْ غَرْبًا فَأَرْوَى فَلَمْ أَرَ عَبْقَرِيًّا مِنَ النَّاسِ يَفْرِي فَرْيَهُ حَتَّى ضَرَبَ النَّاس بِعَطَنٍ
“Saya melihat orang-orang berkumpul. Abu Bakar berdiri, kemudian mengambil segayung atau dua gayung air. Pengambilannya lemah. Dan Allah SWT mengampuninya. Kemudian berdirilah Umar. Dan ember itu berubah menjadi besar, lalu ia menimba sebanyak-banyaknya. Aku belum pernah melihat seorang pemimpin yang bekerja keras melakukan seperti itu, sehingga orang-orang semuanya dapat minum sepuasnya dan membuat bendungan untuk memberi minum unta-unta mereka.”

Maksudnya, “Saya tidak melihat pemimpin bekerja seperti dirinya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Fadhail al-Shahabah) Mimpi tersebut ditakwilkan dengan tentang kekhalifahan Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu.

Dalam al-Shahihain dari Hadits Aisyah radhiyallahu anha, Nabi Saw bersabda:
لَقَدْ كَان فِيمن قَبْلَكُمْ مِنَ الأُممِ نَاسٌ محدَّثونَ، فَإنْ يَكُ في أُمَّتي أَحَدٌ، فإنَّهُ عُمَرُ
“Di umat-umat sebelum kalian ada manusia-manusia yang diajak bicara. Jikalau ada di tengah umatku, maka ia adalah Umar.”

Ada juga dalam riwayat Abu Saud al-Khudry secara Marfu’ dengan lafadz, “Ditanyakan: ‘Wahai Rasulullah, bagaimana Dia berbicara kepadanya?” Beliau menjawab, “Para Malaikat berbicara dengan lisannya.”

Sosok jenis yang mendapatkan ilham ini, dikaruniai kecerdasan yang menyala, fikih dan ilmu yang luas, serta hikmah yang keluar dari seluruh bagian tubuhnya.
كان والله أحوذيًّا، نسيج وحده، فقد أعد للأمور أقرانها
“Demi Allah, ia sosok penakluk, satu-satunya penenun. Ia mempersiapkan segala urusan lengkap dengan penyerta-penyertanya.”
Begitulah Umm al-Mukminin Aisyah radhiyallahu anha menggambarkannya.

Sedangkan Abdullah bin Masud berkata tentang dirinya:
إني لأحسب عُمر قد ذهب بتسعة أعشار العلم
“Saya menduga Umar wafat dengan membawa 9/10 ilmu.”

Abdullah bin Umar berkata:
ما نزل بالناس أمر قط فقالوا فيه، وقال عمر بن الخطاب، إلا نزل فيه القرآن على نحو ما قال عمر
“Tidak ada suatu masalah pun yang dialami manusia, kemudian mereka berucap sesuatu, dan Umar pun berucap sesuatu, kecuali al-Quran turun sesuai dengana pa yang diucapkan Umar.”

Catatan kita ini merujuk Artikel Syai min Fiqh Umar radhiyallahu anhu (sekilas tentang Fikih Umar bin al-Khattab) karya Muhamamd Mahmud.

Umar bin al-Khattab dan Para Muallaf

Umar bin al-Khattab berpandangan, pemberian zakat kepada para Muallaf adalah ketika kondisi Islam sedang lemah dan membutuhkan eksistensi mereka. Dan fikih meniadakan pemberian kpada mereka ketika kondisinya sudah kuat dan sebab keistimewaan mereka sudah hilang. Maka, ketika kekhilafahan diberikan kepadanya, ia tidak memberikan zakat lagi kepada mereka. Islam tidak membutuhkan mereka. Islam sudah kuat, ditakuti, kata-katanya didengarkan, dan manusia berbondong-bondong memasukinya.

Mengenai hal ini, ada riwayat ketika Abu Bakar memberikan sesuatu kepada Uyainah bin Hishn dan al-Aqra’ bin Habis. Kemudian, keduanya ingin Umar menjadikan saksi atas hal tersebut. Umar menyobek kertas keputusannya dan berkata, “Rasulullah Saw mengajak kalian, ketika itu Islam sedikit. Allah SWT sudah memuliakan Islam. Pergilah. Kerahkan kekuatan kalian berdua.” Keduanya mendatangi Abu Bakar mengadu, “Demi Allah, kami tidak tahu, apakah Anda yang khalifah atau Umar?” Abu Bakar berkata, “Tidak. Bahkan ia, kalau seandainya ia mau.”

Umar bin al-Khattab & Hukuman Pencuri di Masa Paceklik

Tahun paceklik menimpa kaum Muslimin di masa Umar bin al-Khattab; kekeringan dan kelaparan. Dahsyat sekali. Dinukil, Umar berwajah putih, kemudian wajahnya berubah di masa paceklik ini. Ia bersumpah tidak akan makan lauk-pauk sampai masa paceklik ini berlalu. 

Salah satu fikihnya, ia tidak memotong tangan orang yang mencuri di Masa Peceklik karena syubhat darurat yang memaksa untuk mencuri. Dan Hudud ditolak dengan syubhat (al-Hudud Tudra’ bi al-Syubhat).

Al-Zarqany berkata, “Maklum dari sejarah Umar di musim paceklik, ia tidak memotong tangan pencuri.”

Salah satu fikihnya yang lain, diriwayatkan dari Harits bin Abu Dzubab al-Dusy, “Ketika masa paceklik, Umar bin al-Khattab menunda kewajiban zakat. Tahun depan, ketika orang-orang sudah normal kehidupannya dan badan mereka sudah segar bugar seperti sedia kala, ia mengutus para pengambil zakat, dan saya salah satu di antara mereka. Ia berkata, “Ambillah dari mereka dua bagian; bagian yang ditunda, dan bagian yang tahun ini. Kemudian, bagikan salah satu bagiannya kepada yang lainnya di antara mereka.” Kemudian saya melakukannya.”

Umar bin al-Khatab Tidak Mau Merekomendasi Seseorang Tanpa Berhubungan Lansung

Seseorang memuji seseorang lainnya di depan Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu, kemudian ia bertanya, “Apakah Anda pernah menemaninya dalam perjalanan, walaupun sekali?” Ia menjawab, “Tidak.” Umar melanjutkan, “Apakah Anda pernah mempercayakannya sebuah amanah?” Ia menjawab, “Tidak.” Umar bertanya lagi, “Apakah ada hak antara Anda dengannya?” Ia menjawab, “Tidak.” Umar berkata, “Diam. Saya melihat Anda tidak memiliki ilmu tentang dirinya. Saya mengira Anda, demi Allah, hanya seperti seseorang yang saya lihat shalat di Masjid; menundukkan kepala dan mengangkatnya.”

Cerita semisal ini, disebutkan oleh Ibn Qutaibah dalam ‘Uyun al-Akhbar, seseorang berkata kepada Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu, “Fulan adalah sosok yang jujur.” Umar bertanya, “Apakah Anda pernah melakukan perjalanan bersamanya?” Ia menjawab, ‘Tidak.” Umar bertanya lagi, “Apakah pernah ada khusumat antara Anda dengannya?” Ia menjawab, “Tidak.” Umar melanjutkan, “Apakah Anda pernah mengamanahkannya sesuatu?” Ia menjawab, “Tidak.” Umar berkata, “Anda tidak ada ilmu tentang dirinya. Saya melihat Anda seperti seseorang yang pernah saya lihat mengangkat kepala dan menundukkannya di Masjid.”

Syeikh al-Islam Ibn Taimiyah rahimahullah menyebukan kisah ini sebagai hujjah pendapatnya. Ia mengatakan, “Karena itulah,  ketika ada seseorang bersaksi di hadapan Umar, kemudian ada seseorang lain yang merekomendasikannya, Umar berkata, ‘Apakah Anda tetangga terdekatnya yang mengenal sorenya dan paginya?” Ia menjawab, ‘Tidak.” Umar bertanya, “Apakah Anda pernah berhubungan dirham dan dinar dengannya; keduanya bisa menguji amanah seseorang?” Ia menjawab, ‘Tidak.” Umar bertanya lagi, “Apakah Anda pernah menemaninya dalam perjalanan yang bisa menyingkap karakter manusia?” Ia menjawab, ‘Tidak.” Umar berkata, “Anda tidak mengenalnya.” Diriwayatkan Umar berkata, “Mungkin tadi Anda melihatnya shalat beberapa rakaat di Masjid.”

Al-Thahawi memaparkan dalam Misykar al-Anwar, Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu berkata, “Janganlah kalian melihat shalat seseorang, tidak juga puasanya, tetapi lihatlah kejujurannya dalam berbicara, amanahnya ketika diberikan amanah, dan wara’nya ketika lapang. Ketahuilah, kecelakaan adalah kecelakaan Juhainah yang ridha dengan agamanya dan amanahnya.” Diceritakan, “Ia mengejar (kafilah) haji yang bangkrut, kemudian berkata, “Siapa yang memiliki hutang, maka hadirkanlah dagangannya atau bagian hartanya. Ketahuilah, hutang itu awalnya adalah kegelisahan, dan ujungnya adalah kesedihan.”

Umar bin al-Khattab, “Allah SWT Tidak akan Menghinakan Hamba-Nya untuk Dosa Pertama kalinya.”

Fikih Umar bin al-Khattab lainnya dan pandangan tajamnya, ketika ia dihadapkan dengan seorang pemuda yang mencuri, kemudian pemuda itu berkata, “Demi Allah, saya tidak pernah mencuri sebelumnya.” Umar berkata, ‘Anda berdusta. Allah SWT tidak akan menyerahkan seorang hamba untuk dosa pertama kali dilakukannya.”

Atsar ini dijelaskan oleh Ibn Katsir dalam Musnad al-Faruq dari hadist riwayat Anas. Ibn Katsir berkata, “Pensanadannya shahih.”

Ada juga nukilan lainnya dari Umar bin al-Khattab, ada seorang pencuri yang perkaranya diadili di hadapan Umar, kemudian ditetapkan untuknya hukuman potong tangan. Pencuri itu berkata, “Tunggu wahai Amir al-Mukminin, demi Allah, saya tidak mencuri kecuali karena takdir Allah SWT.” Ini kata-kata yang benar. Umar pun menjawab, “Kami tidak memotong tanganmu kecuali karena takdir Allah SWT.” Umar pun mematahkan hujjahnya.

Kemudian Syeikh Ibn Utsaimin mengomentarinya, “Kita mengomentarinya: Kami memotong tangannya karena takdir Allah SWT dan syariat-Nya. Orang yang mencuri, mencuri karena takdir-Nya. Namun, ia tidak mencuri karena syariat-Nya. Dan kami memotong tangannya karena takdir Allah SWT dan syariat-Nya.” Namun, Umar radhiyallahu anhu tidak mengomentari masalah syariat ini, agar tidak ada perdebatan panjang; adu hujjah dengan hujjah.

Umar bin al-Khattab & Mencopot Para Pejabatnya Setelah Empat (4) Tahun

Bentuk fikih Umar bin al-Khattab lainnya dan strategi jitunya adalah cara intropeksinya terhadap para amirnya dan pencopotan siapa saja yang tidak disukai rakyatnya, walaupun ia berada di atas kebenaran, seperti peristiwa yang dialami penduduk Kufah dengan Saad bin Abi Waqqash. Umar berucap, “Saya tidak ingin memberikan kepemimpinan kepada seorang lebih dari 4 tahun. Jikalau ia adil, orang-orang akan bosan terhadapnya. Jikalau ia zalim, maka kezalimannya atas mereka selama 4 tahun.

Ibn Hajar mengatakan dalam al-Fath, “Mazhab Umar, tidak memperkerjaan seseorang lebih dari 4 tahun.”

Di antara fikihnya juga, ia memberikan kepemimpinan kepada yang kurang baik (al-Mafdhul) dibandingkan yang baik (al-Fadhil). Sebab, ia melihat siapa yang paling layak memegang jabatan, bukan siapa yang paling baik bagi dirinya sendiri. Ia mengatakan, “Saya kurang nyaman jikalau menempatkan seseorang, padahal saya mendapati seseorang yang lebih kuat darinya.” Ia berdoa, “Ya Allah, saya mengadu kepada-Mu akan kekuatan pelaku maksiat dan kelemahan orang yang terpercaya.” 

Diriwayatkan, ia bertanya tentang seseorang yang ingin diberikannya jabatan, kemudian ada yang menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, ia tidak mengenal keburukan.” Umar berkata kepada orang tadi, “Celakalah engkau, apakah saya memberikannya kepemimpinan untuk terjerumus ke dalamnya?” Maksudnya, seseorang harus paham dengan kondisi manusia, tipu daya mereka. Tujuannya, agar mereka tidak menipunya dan menjerumuskannya ke dalam kebatilan, sedangkan ia tidak menyadarinya.

Umar bin al-Khattab berkata tentang dirinya sendiri, “Saya bukanlah orang baik, dan tidak ada kebaikan yang menipuku.”

Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu anhu mengatakan, “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah Saw bertanya tentang kebaikan, dan saya bertanya kepadanya tentang keburukan agar tidak terjerumus ke dalamnya.”

Dasar yang dipakai oleh Umar bin al-Khattab ketika memberikan kepemimpinan kepada Orang kurang baik (al-Mafdhul) bukan baik (al-Fadhil) adalah kerasnya dan kekuatannya dalam menjalankan pekerjaan, sesuai dengan riwayat Muslim dan Ahmad, dari Abu Dzar radhiyallahu anhu, “Wahai Rasulullah, apakah Anda tidak memberikan saya jabatan?” Beliau menepuk pundak Abu Dzar dan berkata, “Wahai Abu Dzar, Anda lemah, dan ini adalah amanah. Ia pada hari kiamat, akan menjadi kesedihan dan penyesalan. Kecuali, bagi yang memegangnya dengan haknya dan menunaikannya dengan seharusnya.”

Makna lemah dalam hadits ini, tidak mampu menunaikan kewajiban-kewajiban jabatan yang dipegang. Al-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini adalah pondasi besar untuk menjauhi kekuasaan, khususnya bagi orang-orang yang tidak mampu menjalankan tugas-tugasnya.”***

Referensi:

  1. Syarh al-Nawawi ala al-Muslim: 15/ 540
  2. Mausu’ah Atsar al-Shahabah karya Sayyid bin Kisro bin Hasan: 1/ 240
  3. Syarh Musykil al-Atsar karya al-Thahawi: 11/ 73
  4. Al-Jawab al-Shahih li Man Baddala Din al-Masih karya Ibn Taimiyah: 6/ 492
  5. Adab al-Nafs karya al-Hakim al-Turmudzi: halaman 79
  6. Uyun al-Akhbar karya Ibn Qutaibah: 3/ 178
  7. Al-Kifayah fi Ilm al-Riwayah karya al-Khatib al-Baghdady: halaman 83
  8. Al-Muntaqa Syarh Muwattha’ Malik: 6/ 65
  9. Al-Amwal karya Ibn Zanjawaih: 2/ 829
  10. Musnad al-Faruq karya Ibn Katsir: 2/ 509
  11. Syarh al-Arba’in al-Nawawiyah karya Ibn Utsaimin: halaman 78
  12. Al-Shahih al-Musnad min Atsar al-Shahabah fi al-Zuhd wa al-Raqaiq wa al-Akhlaq wa al-Adab karya Abdullah al-Khulaify: halaman 60
Perbedaan di antara manusia adalah sunnatullah; Qadha-Nya semenjak zaman Azali. Semua itu ujian bagi anak manusia, Taklíf bagi mereka yang ditunjuk sebagai khalifah di muka bumi.

Allah SWT berfirman:
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu." (Surat al-Maidah: 48)

Dalam ayat lainnya dijelaskan:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ أَنْ تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَىٰ مِنْ أُمَّةٍ ۚ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ اللَّهُ بِهِ ۚ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu." (Surat al-Nahl: 92)

Di antara masalah kontemporer dalam bab Zakat adalah menyalurkan Zakat Mal (Zakat Harta) untuk berbuka orang-orang yang berpuasa, baik lansung disalurkan ke pribadi maupun melalui lembaga-lembaga sosial; merekalah yang membeli makanan dan minuman, kemudian mengirimkannya kepada para fakir miskin, atau menyediakan makanan berbuka bagi orang-orang yang berbuka, biasanya dilakukan di Masjid atau tempat-tempat yang sudah disediakan.

Catatan kita ini akan merujuk Artikel Masud Shabry, yang berjudul Ikhraj Zakat al-Mal fi Ifthar al-Shaimin (Mengeluarkan Zakat Harta untuk Berbuka atau Menyediakan Berbuka bagi Orang-Orang yang Sedang Berpuasa).

Zakat artinya, orang yang berzakat (al-Muzakki) mengeluarkan beberapa persen hartanya setelah mencapai Nishabya dan berlalu selama setahun penuh hijriyah kepada orang-orang yang diberikan hak oleh Allah SWT, jumlahnya ada delapan, sebagaimana terdapat dalam surat al-Taubah, yaitu firman-Nya:
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Surat al-Taubah: 90)

Dengan adanya kewajiban zakat dalam harta orang kaya, maka beralihlah bagian zakat tersebut dari kepemilikannya kepada orang yang berhak memilikinya sebagaimana sudah ditentukan oleh Allah SWT. Banyak Ahli Fikih mengistinbathkan, salah satu syarat sahnya zakat adalah al-Tamlik (kepemilikan).

Makna al-Tamlik, Zakat tersebut adalah hutang di pundaknya orang kaya; hutang ini diberikannya kepada shahibnya, yaitu Allah SWT. Kemudian, Allah SWT mewakilkannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Orang yang berzakat (al-Muzakki) tidak bisa menggunakannya atau memberikannya sesuka hatinya; berupa barang atau makanan atau selainnya. Tetapi, wajib memberikan keseluruhannya kepada pemiliknya.

Para Ahlh Fikih sudah berdiskusi panjang mengenai Syarat al-Tamlik ini dalam kitab-kitab mereka. Di antara Mazhab yang longgar dalam masalah ini adalah Ahli Fikih Mazhab Hanafi, seperti al-Kasany dalam kitabnya al-Bada’i wa al-Shana’i fi Tartib al-Syara’i (2/ 39). Di antara point yang disebutkannya:

  • Pertama, Zakat mengeluarkan dan menyerahkan bagian dari Nishab kepada Allah SWT. Sang Pemilik memutuskan kepemilikan dari tangannya dan menyerahkan kepemilikannya kepada orang fakir atau kepada orang yang diwakilkan. Ia merupakan sedekah dan milik orang fakir berdasarkan ketetapan Allah SWT. Pemilik harta adalah wakil Allah SWT untuk menyerahkan kepemilikan kepada orang fakir.

Dalilnya adalah firman Allah SWT, “Apakah mereka tidah tahu, Allah SWT menerima taubat para hamba-Nya dan mengambil sedekah.” (Surat al-Taubah: 104)

Dan sabda Nabi Saw, “Sedekah ada di tangan Al-Rahman sebelum ada di telapak tangan fakir.”

Dan Allah SWT menetapkan kepemilikan tersebut dengan pemberian zakat, sebagaimana firman-Nya, “Dan tunaikanlah zakat.” (Surat al-Baqarah: 43) Memberikan itu adalah memberikan kepemilikan. Karena itulah Allah SWT menamakan zakat dengan sedekah, sebagaimana firman-Nya, “Sedekah (Zakat) itu bagi orang-orang fakir.” (Surat al-Taubah: 60) Bersedekah adalah menyerahkan kepemilikan. Artinya, sang Pemilik mengeluarkan kadar zakat kepada Allah SWT, yang mengandung kepemilikan (al-Tamlik).

  • Kedua, Ketika Zakat diserahkan kepada orang fakir, maka terputuslah kadar zakat yang dikeluarkan dari kepemilikannya dan murni menjadi hak Allah SWT. Maka, makna mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam mengeluarkan zakat adalah membatalkan kepemilikannya. Jadi, dalam hal ini bukanlah pembatalannya dengan beralihnya kepemilikan harta kepada fakir misnin, namun ia beralih kepada milik Allah SWT. Itulah hakikatnya. Pemilik harta adalah wakil Allah SWT. Hanya saja menurut Abu Hanifah, rukunnya adalah mengeluarkan bagian Nishab, baik secara makna maupun secara citra. Keduanya memiliki makna dan citra. Namun boleh selainnya berada di posisinya berdasarkan makna. (Maknanya memberikan kepada Allah SWT. Citranya memberikan kepada fakir miskin)

  • Ketiga, Citra akan batal dengan adanya izin pemilik hak, yaitu Allah SWT, sebagaimana kami jelaskan sebelumnya. Kami juga sudah menjelaskan perbedaan para Masyayikh tentang al-Sawaim, berdasarkan pendapat Abu Hanifah. Dengan begitu, menyalurkan zakat untuk kebaikan (sosial), seperti membangun Masjid, menjaga perbatasan dan sumur air minum, memperbaiki jembatan, mengafankan mayat dan menguburkannya, hukumnya tidak boleh. Sebab, pada dasarnya tidak ada al-Tamlik (kepemilikan).

  • Keempat, Begitu juga halnya jikalau zakat digunakan untuk membeli makanan, kemudian diberikan kepada para Fakir untuk makan siang dan makan malam mereka, maka tidak boleh. Sebab, tidak ada al-Tamlik (kepemilikan).

  • Kelima, Begitu juga halnya jikalau hutang mayat fakir dibayar dengan niat zakat, maka tidak sah. Sebab tidak ada al-Tamlik (kepemilikan) dari sang fakir. Ia tidak memegangnya. Jikalau hutang fakir yang masih hidup dibayarkan dengan zakat tanpa perintahnya, maka juga tidak boleh. Sebab, tidak ada kepemilikan (al-Tamlik) dari sang fakir dan tidak ada juga memegangnya. Namun jikalau diperintahkan di bab zakat, maka dibolehkan karena adanya al-Tamlik dari sang Fakir. Sebab ketika ia memerintahkannya, maka yang diperintahkan menjadi wakilnya dalam memang (al-Qabdhah), seakan-akan ia memegang zakat itu sendiri dan memindahkan kepemilikannya kepada orang yang berhutang.

Dalam Majma’ al-Anhur fi Syarh al-Abhur karya Syeikhi Zadahu (1/ 222) dijelaskan, “Zakat tidak dibayarkan untuk membangun Masjid, sebab tidak memenuhi syarat al-Tamlik (kepemilikan). Hukum yang sama berlaku untuk membangun jembatan, memperbaiki jalan, mengalirkan sungai, haji dan jihad, serta semua yang tidak ada kepemilikannya... (atau mengafankan mayit) karena tiadanya al-Tamlik (atau membayar hutang).”

Al-Zulai’i mengatakan dalam Tabyin al-Haqaiq Syarh Kanz al-Daqaiq (1/ 305), “Zakat hanya akan sempurna dengan adanya al-Tamlik (kepemilikan).”

Al-Mawardi al-Syafii berkata dalam al-Hawi al-Kabir (8/ 479), “Sedekah terhadap 8 Ashnaf dikaitkan dengan "lam" al-Tamlik; antara satu dengan lainnya dihubungkan dengan "waw" al-Tasyrik. Setiap kelompok penerima zakat yang sah memiliki, disandarkan kepada kelompok lainnya yang juga sah memiliki, maka penyandaran tadi menegaskan tetapnya kepemilikikan (Tsubut al-Milk). Sama halnya jikalau dikatakan, “Rumah ini untuk (li/ Lam al-Tamlik) untuk Zaid dan Amru.”

Ibn Quddamah al-Hanbaly berkata dalam al-Kafy fi Fiqh al-Imam Ahmad (1/ 423), “Tidak boleh dibelanjakan untuk selain mereka; membangun Masjid atau memperbaiki jalan atau mengafankan mayat. Sebab, Allah SWT mengkhususkan mereka dalam firman-Nya dengan kata-kata “Innama (hanya)”. Makna kata tersebut adalah al-Hashr (pembatasan); menetapkan yang disebutkan dan menafikan yang tidak disebut. Tidak bisa diglobalkan.”

DR. Wahbah al-Zuhaily berkata dalam al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu (3/ 1812):
“Disyaratkan kepemilikan (al-Tamlik) untuk sahnya pembayaran zakat, dengan memberikannya kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya. Tidak cukup dengan “pembolehan” atau memberi makan, kecuali dengan jalan al-Tamlik. Menurut Mazhab Hanafi, tidak diberikan kepada orang gila dan anak kecil yang belum remaja (Mumayyiz), kecuali ada yang mewakilkan keduanya untuk memegangnya dari kalangan orang-orang yang berhak menjadi wakilnya, seperti bapaknya atau pemegang wasiatnya atau selain keduanya. Sebab, Allah SWT berfirman, “Dan tunaikanlah zakat.” (Surat al-Baqarah: 2/ 43) Maksud tunaikanlah adalah al-Tamlik (memberikan kepemilikan). Dan Allah SWT menamakan zakat dengan sedekah dalam firman-Nya, “Sedekah hanya bagi orang-orang fakir.” Sedekah adalah al-Tamlik. Huruf Lam dalam ayat di atas Li al-Fuqara’ (bagi orang-orang fakir), sebagaimana dikatakan oleh Mazhab Syafii, adalah Lam al-Tamlik. Sama dengan mengatakan, “Harta ini li (untuk) Zaid.”

Dalam fatwa Dar al-Ifta’ al-Mishriyyah, suatu hari ditanya tentang hukum mengeluarkan zakat harta (zakat Mal) untuk memperbukakan (Ifthar) orang-orang yang berpuasa, dikenal dengan nama Mawaid al-Rahman.

Jawabannya:
Memperbukakan (Ifthar) orang yang berpuasa, salah satunya Mawaid al-Rahman yang tersebar luas di Negara kita, walaupun ia fenomena mulia dan mencerahkan; fenomena yang mengandung kebaikan dan solidaritas antara kaum Muslimin, tetapi jikalau pelaksanaannya dengan mangumpulkan orang fakir dan miskin, kemudian dibiayai dengan zakat, hukumnya tidak sah. Sebab, Allah SWT sudah menentukan orang-orang yang berhak menerima zakat, sebagaimana dalam firman-Nya, “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Surat al-Taubah: 60)

Paling utama adalah orang-orang fakir dan miskin. Mereka paling prioritas dalam hak zakat. Hukum asalnya, kebutuhan mereka harus dipenuhi, begitu juga dengan kehidupan mereka. Itulah sebabnya, Nabi Muhammad Saw mengkhususkan mereka dalam hadits pengutusan Muadz radhiyallahu anhu ke Yaman, “Jikalau mereka menaatimu dalam hal itu, maka beritahulah mereka bahwasanya Allah SWT mewajibkan mereka untuk membayarkan zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir.” (Muttafaq alaihi)

Ayat di atas ada ungkapan dengan "lam" yang bermakna al-Milk (kepemilikan). Karena itulah, Jumhur Ulama mensyaratkan al-Tamlik. Mereka mewajibkan adanya kepemilikan bagi orang fakir atau miskin, agar mereka bisa menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dan mereka lebih tahu apa yang mereka butuhkan. Sebagian ulama membolehkan pembayarannya dalam bentuk “barang” ketika memang ada maslahahnya, dengan diketahui apa saja yang dibutuhkan oleh sang fakir dan bisa memenuhi kebutuhuhan-kebutuhannya...”

Zakat Dikeluarkan dari Jenisnya, Kecuali Zakat Barang Perdagangan. Ada Perbedaan Pendapat

Para Ulama beradu pendapat; apakah boleh mengeluarkan emas sebagai ganti perak, atau sebaliknya. Padahal, keduanya sama-sama Naqdan. Mereka berbeda pandangan dalam dua garis besar; tidak boleh dan boleh.

Ibn Quddamah berkata dalam al-Mughni (3/ 41) setelah menjelaskan perbedaan pendapat para ulama dan menguatkan pendapat bolehnya mengeluarkan emas untuk perak dan sebaliknya, karena adanya kesamaan (al-Isytirak) di antara keduanya:
“Berbeda dengan jenis lainnya yang ada kewajiban zakatnya; setiap jenis ada tujuan khususnya yang tidak bisa didapatkan dari jenis lainnya. Begitu juga dengan jenis-jenisnya. Hikmahnya tidak akan tercapai dengan mengeluarkan jenis yang tidak wajib. Hanya akan tercapai dengan jenis yang diwajibkan. Sampai disini, tujuan itu sudah tercapai. Harus tercukupi. Tidak ada gunanya pengkhususan sesuatu sebagai pembayaran, jikalalau jenis lainnya memiliki hikmah yang sama dengannya.

... Kemudian ia berkata, “Berdasarkan hal ini, tidak boleh mengganti jikalau menyebabkan mudharat bagi sang Fakir, seperti memberikan kepadanya sesuatu yang seharusnya tidak diberikan, sebagai ganti sesuatu yang harusnya diberikan. Sebab, jikalau tidak boleh mengeluarkan salah satu jenis sebagai ganti jenis lainnya, maka dikeluarkan bersamaan hukumnya lebih tidak boleh lagi. Jikalau ia memilih untuk memberikan dari jenisnya, kemudian sang Fakir memilih untuk mengambil jenis lainya karena mudharat yang akan menimpanya ketika mengambil jenis yang seharusnya, maka sang Pemilik (harta zakat) tidak lazim mengabulkan permintaannya. Sebab jikalau ia menunaikan jenis yang diwajibkan kepadanya, maka ia tidak dibebankan dengan selainnya.”

Bahkan, Ibn Quddamah terang-terangan menyatakan dalam al-Mughny (3/ 34) terlarangnya menyeluarkan zakat dari selain jenis harta yang ada kewajiban zakatnya, “Zakat diambil dari setiap jenis sesuai dengan kadar khusus baginya, tidak diambil dari jenis lainnya. Jikalau kita menyatakan terkait jenis-jenisnya; diambil dari setiap jenis khusus baginya, maka utamanya dihitung dari jenis-jenis yang berbeda dengan tujuan-tujuan yang berbeda. Kecuali emas dan perak; mengeluarkan salah satu dari keduanya sebagai ganti yang lainnya, ada dua riwayat pendapat.”

Membagi-bagi Makanan Kepada Fakir-Miskin di Bulan Ramadhan

Membagikan makanan untuk para fakir dan miskin di bulan Ramadhan, dibolehkan oleh sebagian Ahli Fikih, sebagaimana dikatakan oleh al-Kasany, “Begitu juga, jikalau ia membeli makanan dengan zakat, kemudian memberi makan kepada orang-orang fakir; siang dan malam, tidak memberikan makanan pokok, hukumnya tidak boleh karena tidak adanya al-Tamlik (Kitab al-Bada’i wa al-Shana’i fi Tartib al-Syara’i: 2/ 39)

Artinya, mengeluarkan zakat ke Lembaga-Lembaga Sosial dan menyalurkan sebagai Bekal Ramadhan; mencakup bahan-bahan makanan dan selainnya, dibolehkan menurut Mazhab Hanafi. Walaupun hukum asalnya mengeluarkan dari jenis yang ada kewajiban zakatnya kepada para fakir dan miskin, agar sempurna al-Tamlik. Tidak ada seorang pun yang berhak meminta pendapat sang fakir tentang apa yang diinginkannya. ***
Dengan semakin besarnya perhatian terhadap Ekonomi Islam, apalagi ditambah berbagai krisis ekonomi dunia sekarang ini, pastinya mempengaruhi ekonomi Negara-Negara di Dunia. Perhatian besar ini berpangkal dari anggapan kemampuannya memberikan solusi untuk berbagai masalah Ekonomi.

Banyak para Ulama berpandangan, Ekonomi Islam dalam mayoritas bentuknya adalah Fikih Muamalah Maliyah (Hukum Bisnis Syariah), sekadar membahas hal-hal haram dalam Muamalah Maliyah. Misalnya, masalah riba dan pengaruh negatifnya terhadap Ekonomi, al-Ghisy, al-Tadlis, dan al-Gharar. Kemudian berbicara tentang Investasi Islami dan akad-akad yang dipakai di Bank-Bank Islam, mulai dari al-Tamwil, al-Mudharabah dan al-Murabah, al-Musyarakah dan al-Ijarah, dengan segala jenisnya; konsen membahas hukum-hukum fikih Bisnis Syariah.

Catatan kita akan merujuk Artikel karya Masud Shabry, berjudul Hal al-Iqtishad al-Islamy huwa Fiqh al-Muamalat (Apakah Ekonomi Islam adalah Fikih Muamalah (Hukum Bisnis Syariah)?)

Pengertian Ekonomi Islam

Ekonomi Islam bukan sekadar Fikih Muamalah (Bisnis Syariah). Jikalau sekadar itu, justru akan menjadi citra jelek Ekonomi Islam. Fikih Muamalah adalah bagian dari Ekonomi Islam. Dan porsinya besar.

Ekonomi Islam adalah studi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang memilih sesuatu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, dengan menggunakan sumber daya terbaik sesuai dengan ajaran Islam.

Dalam bidang Ekonomi, Islam telah mempersembahkan sejumlah dasar, nilai, dan landasan. Tujuannya, untuk menjaganya dari penyimpangan dan keluar dari Maqashidnya, yaitu mewujudkan Maslahah Manusia, memenuhi kebutuhan mereka, meraih kehidupan bahagia, dan memanfaatkan Sumber Daya.

Islam tidak memberikan Program Praktis. Sebab, Islam berkarakter Fleksibel ketika berhubungan dengan fenomena-fenomena sosial, salah satunya Fenomena Ekonomi. Program Ekonom Islam selalu berkembang dan berubah sesuai dengan kebutuhan zaman dan tempat, adat dan kebiasaan.

Nah, disinilah peran Para Ekonom Muslim. Mereka bertugas membuat program sesuai dengan lingkungan di masanya. Mereka menyatukan Islam dalam setiap gerakan ekonomi; antara Konsistensi dan Fleksibelitas; Konsisten dalam tujuan dan maksud; Fleksibel dalam sarana dan proses. Itulah salah satu keagungan pemikiran Islam di bidang kehidupan, salah satunya bidang ekonomi.

Ekonomi Islam mengkaji point yang sama dengan kajian Ekonomi Klasik.
  1. Ekonomi Micro; Mengkaji Ekonomi Personal dan Kelompok (Lembaga), kemudian mengkaji tatacara membuat keputusan-keputusan ekonomi yang sesuai.
  2. Ekonomi Macro: Ekonomi di dua skala; Nasional dan Internasional, khususnya berhubungan dengan nilai bunga, pajak, pertambahan, pertumbuhan, pengangguran, dan berbagai masalah besar lainnya.

Tetapi, semua dilakukan berdasar frame keislaman, aturan-aturan syariah, dan ajaran Islam di bidang Ekonomi.

Sebagian besar Fikih Muamalah mengkaji masalah harta dan uang, serta bagaimana mengembangkannya. Teori Ekonomi Islam, lebih luas dari sekadar itu; juga mengkaji Sumber Daya Alam dan bagaimana menggunakannya dengan sebaik-baiknya, sebagaimana juga mengkaji masalah pekerjaan, produksi, dan penyalurannya.

Tujuan-Tujuan Ekonomi Islam

Ekonomi Islam bertujuan mewujuskan sejumlah tujuan, di antara bentuk paling pentingnya.
  1. Mewujudkan pertumbuhan ekonomi dalam skala Nasional dan Internasional
  2. Mengatur pergerakan pasar dan tidak bermain-main dengan harga
  3. Mewujudkan kecakapan ekonomi
  4. Mengamankan kesempatan kerja untuk para pekerja
  5. Menambah produksi
  6. Menjamin kebebasan ekonomi dan kondusifitas ekonomi bagi pribadi dan masyarakat
  7. Membagi pemasukan dan modal dengan seadil-adilnya.

Objek Ekonomi Islam

Di antara Objek Urgen yang dikaji Ekonomi Islam adalah:

Pertama, Kebebasan Ekonomi
Seorang Muslim memiliki kebebasan mengambil keputusan ekonomi terkait Bisnis Syariahnya dengan semua jenisnya. Begitu juga dengan kerja, produksi, investasi, konsumsi, dan selainnya. Hanya saja, kebebasan ini terikat dengan point-point bermuarakan Hifzh al-Mal (menjaga harta) dari satu sisi, dan dengan point-point yang bertujuan mencegah terjadinya mudharat kepada orang lain di sisi lainnya. Finishnya, mewujudkan Teori Ekonomi Islam. Sebab, ia adalah kaki bagi manusia dalam mewujudkan sistem ekonomi global.

Kedua, Pasar
Islam memperhatikan peran pasar dalam pergerakan ekonomi di Masyarakat, dengan cara mengkhususkan Sumber Daya dan membaginya kepada person-person yang ada di masyarakat, menyediakan lingkungan yang baik untuk mewujudkan sebuah pasar; persaingan, pertambahan produksi, suplai, dan demand.

Ekonomi Islam berpandangan, ada 3 faktor produksi, yaitu kerja, modal, dan wilayah, semuanya masuk dalam proses pembagian produksi. Tetapi, kerja tetaplah menjadi ruang yang paling besar.

Bentuk Kerjasama:
Ekonomi Islam menentukan bentuk kerjasama dan keikutsertaan di antara faktor-faktor produksi, dengan beberapa pilihan:
  1. Kerjasama Keuntungan; ia menjadi bagian dari produsen
  2. Upah; harus diberikan kepada seseorang atas kerja yang dilakukannya.

Ketiga, Produksi
Maksudnya, sejumlah barang dan jasa untuk memenuhi hajat anak manusia dengan cara lansung maupun tidak lansung. Unsurnya ada 4, yaitu Tanah, Kerja, Sistem, dan Modal. Produksi dalam Ekonomi Islam memiliki beberapa kelebihan di bandingkan dengan lainnya, di antaranyanya:
  1. Menyerukan penambahan prokduksi dan merespon kebutuhan manusia, berupa barang dan jasa yang beraneka ragam.
  2. Halal. Kelebihan produk Muslim adalah jaminan kehalalannya. Hanya memproduksi yang dihalalkan oleh Allah SWT dan menjauhi segala sesuatu yang diharamkan-Nya. 
  3. Kemampuan Ekonomi. Maksudnya, kemampuan menggunakan Sumber Daya yang ada dengan sebaik-baiknya. Kemampuan memberikan kelebihan barang dan pelayanan, dengan jumlah yang lebih minim dari Sumber Daya.

Keempat, Pembelanjaan
Maksudnya, menggunakan harta (uang) untuk berbagai hal. Jenis-Jenis Pembelanjaan:
  1. Pembelanjaan Konsumsi, yaitu pembelajaan untuk membeli barang-barang dan jasa-jasa yang lazim untuk memenuhi kebutuhan manusia.
  2. Pembelanjaaan Sosial (Saling Tolong-Menolong), yaitu pembelanjaan di jalan kebaikan tanpa berpikir untung-rugi; jual-beli. 
  3. Pembelanjaan Produktif (Pengembangan), yaitu menggunakan harta (uang) untuk hal-hal yang akan menambah jumlahnya dan akan membuatnya semakin tumbuh. Jenis inilah yang paling banyak diperhatikan dan paling besar porsinya dalam Fikih Muamalah Maliyah (Hukum Bisnis Syariah).

Kelima, Pembagian Modal dan Keuntungan

Para Ahli Fikih membagi kepemilikan menjadi dua jenis:
  1. Kepemilikan Umum, yitu segala sesuatu yang tidak boleh dimiliki oleh personal. Negara juga tidak boleh menjualnya kepada personal dan Lembaga. Ia adalah Sumber Daya Alam, seperti sungai, laut, samudra, angkasa, minyak dan gas, serta hutan. Intinya, segala sesuau yang kemanfaatannya dikembalikan untuk kemaslahatan bersama.
  2. Kepemilikan Khusus, yaitu segala sesuatu yang diizinkan bagi pribadi dan Lembaga untuk memilikinya. Islam memberikan kelapangan dalam sarana-sarana kepemilikan khusus, seperti dengan cara bekerja dan berniaga, atau dalam fikih dikenal dengan nama Uqud al-Mu’awadhat; begitu juga dengan cara Uqud al-Tabarru’at, seperti sedekah, hibah, zakat, wakaf, dan wasiat; atau dengan beralihnya kepemilikan, seperti warisan.

Keenam, Keadilan Sosial
Maksudnya, mewujudkan keadilan dalam pembagian modal dan pemanfaatan Sumber Daya di antara personal-personal yang ada di Masyarakat tanpa ada yang merasa lebih berhak atau statusisasi.

Keadilan Sosial terbagi dua.
  1. Solidaritas Umum, yaitu memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok bagi anggota masyarakat, berupa makanan, minuman, dan pakaian. Peranan ini bergantung dengan peranan utama personal, yaitu kerja yang menjadi mata pencahariannya. Kemudian juga bergantung dengan peranan Negara, Kmudian berganung dengan peranan antara personal dan Negara, untuk mewujudkan persaudaraan Islam, sebagaimana terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Thabrani dan al-Hakim, dishahihkan oleh al-Zahabi, dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah Saw bersabda, “Tidak beriman kepadaku, orang yang tidur di malam hari dalam kondisi kenyang, kemudian tetangganyya kelaparan, padahal ia mengetahuinya.” Masalahnya tidak berhenti ketika hajatnya sudah terpenuhi, namun ia tidak memiliki kelebihan dan tidak meminta-meminta. Tidak sampai disitu saja. 
  2. Keseimbangan Sosial, dibagi menjadi dua: Pertama, Keseimbangan Alami. Teori Materialistic mengklaim, perbedaan di antara manusia, sebabnya adalah strata sosial. Berbeda dengan teori Islam yang berpandangan, sebabnya adalah berbedanya kemampuan masing-masing pribadi manusia. Karena itulah, al-Quran menetapkan tabiat perbedaan di antara anak manusia di berbagai ayatnya, di antaranya firman Allah SWT, “Mereka tidaklah sama.” Dan firman-Nya, “Mereka akan terus berbeda.” Kedua, Kesembangan Kerja, yaitu perbedaan manusia dalam hal kerja dan usaha, menyebabkan pembagian harta dan modal sesuai dengan kemampuan dan usaha dari setiap person.

Inilah sejumlah pemikiran dan pandangan terkait Ekonomi Islam. Jelaslah, Ekonomi Islam bukan sekadar berbicara tentang Fikih Muamalah Maliyah (Hukum Bisnis Syariah). Ekonomi jauh lebih luas tuntutannya, ruangnya, dan kerjanya dibandingkan dengan Fikih Muamalah Maliyah. Dan Fikih Muamalah Maliyah adalah bagian dari Ekonomi Islam, mayoritasnya berada di bawah kajian tentang Pembelanjaan Prokdukif.***
Di antara masalah serius yang menyertai penyebaran wabah Virus Corona (Covid 19) adalah masalah puasa bagi orang yang terjangkit Virus Corona; Apa yang wajib dilakukan oleh orang yang sakit jikalau tidak berpuasa selama beberapa hari di bulan Ramadhan, kemudian Allah SWT menyembuhkannya? Apa yang seharusnya dilakukan oleh orang yang terjangkit Virus ini, kemudian tidak berpuasa dan meninggal di tengah bulan Ramadhan; apakah walinya wajib berpuasa menggantikan puasa (Qadha) yang ditinggalkannya, atau memberi makan fakir miskin atas namanya (Fidyah), atau tidak ada kewajiban apapun?

Catatan ini merujuk Artikel karya Hamid al-Atthar, yang berjudul Qadha' Ramadhan liman Mata bi Sabab Maradh Kuruna (Qadha Puasa Ramadhan bagi Orang yang Meninggal/ Wafat karena Sakit Corona/ Covid 19).

Jawabannya, jikalau orang yang sakit mendapati Bulan Ramadhan, maka ada dua kondisi yang pasti menyertainya:

  • Pertama, Penyakitnya Lazim dan terus-menerus (penyakit abadi) yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, seperti Kanker. Maka, tidak ada kewajiban baginya untuk berpuasa. Kondisinya tidak bisa diharapkan mampu berpuasa. Baginya, cukup memberi makan satu orang Miskin untuk setiap hari yang tidak dipuasainya.
  • Kedua, Penyakitnya terjadi di tengah bulan Ramadhan, ketika sedang berpuasa, dan bisa diharapkan kesembuhannya. Jikalau sakitnya tidak memudharatkan orang yang sakit, diharamkan baginya tidak berpuasa. Jikalau ia berbuka, maka ia menqadha’ sejumlah hari yang tidak dipuasainya ketika sembuh. Jikalau ia meninggal sebelum kesembuhannya, maka kewajiban Qadha’ gugur darinya. Sebab, kesempatannya untuk berpuasa di hari-hari lainnya (Qadha’) tidak didapatinya.

Artinya, orang yang terkena Virus Corona jikalau tidak berpuasa selama beberapa hari selama bulan Ramadhan, kemudian Allah SWT menyembuhkannya, maka ia menqadha’ hari-hari yang ditinggalkannya setelah berakhirnya Bulan Ramadhan. Sedangkan bagi yang meninggal karena Virus ini di bulan Ramadhan, maka bebannya sudah selesai dan tidak ada kewajiban walinya untuk menqadha’ puasanya dan tidak pula membayarkan fidyah. Inilah pendapat Ahli Fikih 4 Mazhab. Jikalau bukan karena perbedaan pendapat Thawus dan Qatadah, maka tentulah ia menjadi Ijma’.

Syeikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin mendetail pendapat yang ada dalam masalah ini, sebagaimana terdapat dalam Majmu’ al-Fatawa wa Rasail al-Utsaimin.

Siapa yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan karena sakit, kemudian ia meninggal sebelum bisa menqadhanya, maka tidak ada kesulitan dalam kasusnya; baik Nash maupun Atsar, maupun pendapat para Ulama.

Mengenai Nashnya, Allah SWT berfirman, “Siapa yang sakit atau dalam perjalanan, maka (qadha) di hari-hari lainnya. Allah menginginkan kemudahan bagi kalian, dan tidak menginginkan kesulitan. Agar kalian menyempurnakan jumlah hari dan membesarkan Allah sesuai dengan hidayah-Nya kepada kalian. Dan mudah-mudahan kalian menjadi orang-orang yang bersyukur.” Allah SWT mewajibkannya untuk menqadha selama beberapa hari di hari lainnya. Jikalau ia meninggal sebelum berada di hari-hari lain tersebut, maka ia meninggal sebelum zaman adanya kewajiban. Hukumnya, seperti hukum orang yang meninggal sebelum masuknya bulan Ramadhan; tidak ada juga kewajibannya untuk membayar Fidyah atas namanya di Ramadhan akan datang, walaupun ia meninggal sejenak sebelum masuknya Ramadhan.

Kemudian, jikalau orang yang sakit masih menderita sakit, maka tidak ada kewajibannya untuk berpuasa. Jikalau ia meninggal sebelum kesembuhannya, maka ia meninggal sebelum wajib baginya berpuasa. Tidak ada kewajibannya membayar Fidyah. Sebab membayar Fidyah adalah ganti puasa. Jikalau tidak ada kewajibannya untuk berpuasa, maka tidak wajib baginya penggantinya. Inilah ketetapan dilalah al-Quran. Jikalau tidak mungkin baginya berpuasa, maka tidak ada kewajiban apapun di pundaknya.

Untuk sunnah, Nabi Saw bersabda, “Siapa yang meninggal, kemudian ada kewajiban puasanya, maka walinya berpuasa untuknya.” (Muttafaq alaihi dari Aisyah radhiyallahu anhu).

Manthuq (teks) haditsnya jelas (Zhahir). Mafhumnya (konteks) siapa yang meninggal dan tidak ada kewajiban puasa atas dirinya, maka tidak dipuasakan. Berdasarkan sebelumnya Anda bisa memahami, orang yang sakit jikalau sakitnya berkelanjutan, maka tidak ada kewajibannya untuk berpuasa, baik Ada’ (pada waktunya) maupun Qadha’ (di luar waktunya).

Atsarnya, riwayat Abu Daud (2/ 65: Cetakan al-Halaby), dari Ibn Abbas radhiyallahu anhuma, “Jikalau seseorang sakit di bulan Ramadhan, kemudian ia meninggal dan belum berpuasa, maka ia memberi makan fakir-miskin dan tidak ada kewajiban qadhanya. Jikalau nazar, maka walinya yang melakukan Qadha.”

Dalam riwayat ini ada ‘An’anah dari Sufyan. Kalau pun benar, maka ucapannya “belum berpuasa” menunjukkan kemampuannya untuk berpuasa. Jikalau bukan itu maknanya, maka tidak ada guna penyebutannya. Sebab, orang yang tidak berpuasa karena sakit, sudah jelas ia tidak berpuasa. Dalam Skrip “ia tidak Shahih”. Orang yang mengkajinya menjelaskan “tidak shahih”. Dengan begitu, maksud Atsar Ibn Abbas adalah penjelasan tentang perbedaan antara Puasa Ramadhan dengan Puasa Nadzar. Jenis kedua diqadha, dan jenis pertama tidak.

Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (3/ 142: Cetakan al-Mishriyyah, ada Syarh Ibn al-Araby), dari Ibn Umar radhiyallahu anhu secara Marfu’ (ia mengatakan: Shahihnya dari Ibn Umar secara Mauquf) berkata, “Siapa yang meninggal dan ada kewajiban puasa bulan Ramadhan, maka hendaklah memberi makan (fakir-miskin) untuk setiap harinya.” Dan ucapannya “Ada kewajiban puasa bulan Ramadhan” tidak terdapat dalam hadits riwayat Aisyah yang jalurnya Marfu’. Dalam sanad hadits Ibn Umar ada Asy’ats bin Sawar, dikomentari dalam al-Taqrib, “Lemah.”

Sedangkan Atsar Abu Hurairah dalam masalah ini, saya tidak mendapatinya dalam Abu Daud dan al-Turmudzi, barangkali ia ada dalam al-Baihaqi. Kebetulan, saya tidak memiliki skrip Sunan al-Baihaqi.

Untuk pendapat Ulama, Ibn Quddamah mengatakan dalam al-Mughni (3/ 241: cetakan al-Manar), “Secara umum, siapa yang meninggal, kemudian ada kewajiban puasa Ramadhannya, maka ia tidak lepas dari dua kondisi:

  • Pertama, Meninggal sebelum bisa berpuasa; bisa jadi karena sempitnya waktu, atau karena udzur sakit, atau safar (perjalanan), atau tidak mampu berpuasa, maka tidak ada kewajiban apapun di pundaknya sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Dihikayatkan dari Thawus dan Qatadah, keduanya berkata, “Wajib memberi makan orang miskin.” (Ibn Quddamah menjelaskan ‘illatnya, kemudian membatalkan hujjahnya, kemudian melanjutkan...)

  • Kedua, Meninggal setelah ada kesempatan untuk menqadha. Kewajibannya, memberikan satu orang miskin untuk setiap hari yang tidak dipuasainya. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama, diriwayatkan dari Aisyah dan Ibn Abbas. (ia memaparkan siapa saja yang berpendapat dengan pendapat ini, kemudian berkata..) “Abu Tsaur berkata, ‘walinya berpuasa untuknya. Dan ini adalah pendapat al-Syafii.” (kemudian ia berdalil dengan hadits Aisyah yang kita sebutkan sebelumnya)

Dikatakan dalam Syarh al-Muhazzab (6/ 343: Cetakan Maktabah al-Irsyad), “Furu’ dalam Mazhab Ulama, siapa yang meninggal, kemudian ada kewajiban puasanya yang tidak sempat dikerjakannya karena sakit atau safar atau udzur selain kedanya, kemudian tidak bisa menqadhanya sampai meninggal, kami menyatakan dalam mazhab kami tidak ada kewajiban apapun atas dirinya; tidak dipuasakan dan tidak memberi makan fakir-miskin karenanya. Tidak ada perbedaan pendapat di antara kami. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Malik, dan jumhur ulama. Al-Abdary mengatakan, ‘Ia adalah pendapat seluruh ulama kecuali Thawus dan Qatadah. Keduanya berpandangan wajib memberikan makan fakir-miskin karena untuk setiap harinya. (kemudian ia menjelaskan sebabnya dan bantahannya. Ia melanjutkan...) Al-Baihaqi dan para pengikut lainnya berhujjah untuk pendapat kami ini dengan hadist Abu Hurairah, dari Nabi Saw bersabda, “Jikalau saya memerintahkan kalian dengan suatu perintah, maka lakukanlah sesuai kemampuan kalian.” (Hr al-Bukhari dan Muslim)

(kemudian ia menjelaskan kondisi orang yang bisa menqadhanya dan menjelaskan perbedaan pendapat para ulama apakah dipuasakan atau memberi makan fakir-miskin). Ia berkata, “Ibn Abbas, Ibn Umar, Aisyah, Malik, Abu Hanifah berkata diberikan makan fakir-miskin karenanya. Diriwayatkan dari Ibn Abbas, ia membedakan antara puasa Nazar dengan Puasa Ramadhan. Jenis pertama dipuasakan. Jenis kedua diberikan makan fakir-miskin.”

Dikatakan dalam al-Furu’ (3/39, Cetatan Ali Tsani), “Jikalau ia menunda Qadha’ sampai meninggal karena uzur, maka tidak ada kewajiban apapun. Ada nashnya kesepakatannya menurut tiga Imam karena tidak adanya dalil.”

Dalam al-Muntaha dan Syarhnya dijelaskan (1/ 581, Cetakan Muqbil), “Tidak ada kewajiban apapun atas dirinya. Artinya, siapa saja menunda Qadha karena uzdur, walaupun meninggal, maka secara Nash tidak ada kewajiban apapun. Itu adalah hak Allah SWT dan kewajiban syariat. Ia meninggal sebelum bisa mengerjakannya. Ia gugur tanpa ganti layaknya haji.”

Dan banyak lagi yang lainnya, sebagaimana terdapat dalam al-Iqna’ dan Syarhnya, halaman 325.

Dengan begitu jelaslah, tidak ada masalah sama sekali. Tidak ada Qadha puasa bagi orang yang uzurnya berlanjut sampai meninggal. Begitu juga, ia tidak berkewajiban memberi makan fakir-miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkannya, kecuali jikalau sakitnya tidak diharapkan kesembuhannya. Ketika itu, hukumnya sama dengan orangtua yang sudah tidak mampu berpuasa. Ia memberi makan satu orang Miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya. Hukumnya wajib sebagai ganti puasa.

Ini sudah hampir menjadi Ijma’ jikalau tidak ada perbedaan pandangan dari Thawus dan Qatadah.***
Pada awalnya, Fikih bertujuan untuk melakukan al-Tarjih (memilih yang paling kuat) di antara berbagai riwayat dan pendapat berbeda-beda. Namun, kondisi yang berubah-ubah memancing berbagai persoalan dan masalah baru. Mulailah para Ahli Fikih (al-Fuqaha’) mengeluarkan hukum-hukum baru berdasarkan hukum-hukum yang sudah dikenal sebelumnya. Begitulah. Ini menjadi masa baru dalam sejarah fikih. Dikenal dengan masa al-Takhrij.

Menjadikan al-Takhrij sebagai pegangan dalam kodifikasi masalah undang-undang dan Muamalah, hukumnya sah-sah saja. Sebab, masalah dan persoalan baru selalu muncul dalam Muamalah dan perundang-udangan. Solusinya, kembali kepada Qiyas dan Ijtihad. Sedangkan jikalau memperlebar dan memperluas cakupan kaedah al-Takhrij, sampai mencakup ibadah, jelas sebuah kesalahan Ijtihadi yang menyebabkan Ibadah berubah menjadi "Cabang Ilmu". Konklusinya, agama menjadi keilmuan yang rumit, tidak mengenalnya dan menguasainya kecuali Ahli Fikih.

Padahal, Nabi Muhammad Saw sudah memberitahu kita, agama yang dibawanya mudah dan gampang, “Saya diutus dengan yang lurus lagi toleran.” Para Ahli Fikih sudah membuat Furu’ (cabang-cabang) masalah Ibadah dengan sempurna, sebagaimana ada juga Furu’ dan pembaharuan dalam berbagai cabang keilmuan (berupa pendalaman di setiap cabang keilmuan). Inilah yang dilakukan oleh Mayoritas Ahli Fikih. Di antara Ahli Fikih, ada yang terlalu banyak teori dalam Ushul Fikih; ia mengumpulkan masalah, menjawabnya, mengartikannya, dan membagi bagian-bagiannya.

Catatan kita ini merujuk Artikel Abd al-Wahhab al-Qursy, berjudul Min Jarair al-Ikhtilaf baina al-Fuqaha’ (Di antara Sengitnya (Hilangnya Etika) Perbedaan Pendapat di Kalangan Ahli Fikih).

Metode seperti ini menjadi sebab larut dalam masalah-masalah Ta’abudiyyah yang tidak terjadi di zaman para Sahabat. Ketika Imam al-Syafii pertama kali sampai di Kufah, ia tidah tahan melihat cara shalat seorang pemuda, kemudian berkata kepadanya, “Shalatlah dengan baik, agar Allah SWT tidak menyiksa wajah Anda yang ganteng di Neraka.” Pemuda itu menjawab, “Saya sudah shalat di Masjid ini selama 15 tahun di hadapan Muhammad bin Hasan dan Abu Yusuf, tetapi keduanya tidak berkomentar apapun tentang shalatku. Sedangkan Anda mencela shalat saya?!” Ketika itu, kedua Imam sedang berada di luar Masjid. Pemuda tadi menghampiri kedua Imam dan bertanya, “Apakah kalian menyaksikan kerusakan dalam shalat saya?” Keduanya menjawab, “Tidak, demi Allah.” Pemuda tadi memberitahu keduanya tentang seseorang di Masjid yang mengkritik shalatnya. Keduanya berkata, “Hampiri ia lagi dan tanyakan, ‘Bagaimana Anda mengerjakan shalat?” Pemuda tadi menghampiri Imam al-Syafii dan bertanya, “Wahai orang yang mencela shalat saya, bagaimana Anda memulai shalat?” Imam al-Syafii menjawab, “Dengan dua Fardhu dan satu sunnah.” Pemuda tadi kembali ke kedua Imam dengan membawa jawaban Imam al-Syafii. Keduanya berkata, “Ia sosok yang memiliki banyak ilmu.” Keduanya mengirim pemuda tersebut kembali untuk bertanya kepada Imam al-Syafii, “Apakah kedua Fardhu dan satu sunnah tersebut?” Ia menjawab, “Fardhu pertama adalah niat. Fardhu kedua adalah Takbir al-Ihram. Sedangkan sunnahnya adalah mengangkat kedua tangan.”

Kalau masalah ini berhubungan dengan dua sahabat Nabi, maka diskusi dengan metode tanya jawab ini tidak akan terjadi.

Al-Fadhl bin Musa meriwayatkan, pada suatu hari al-A’masy; Ahli Hadits terkenal sedang sakit. Kemudian Abu Hanifah membesuknya bersama al-Fadhl bin Musa. Abu Hanifah berkata kepada al-A’masy, “Wahai Abu Ahmad, jikalau tidak memberatkan Anda, saya ingin membesuk Anda.” Al-A’masy menjawab, “Demi Allah, ia berat bagiku. Anda berada di rumah Anda, maka bagaimana Anda akan menemui saya...” Ketika keluar, Abu Hanifah berkata kepada al-Fadhl, “Al-A’masy tidak puasa Ramadhan sekali pun dan tidak mandi junub.” (Padahal al-A’masy berpandangan keluarnya air mani menyebabkan wajib mandi, dan juga bersahur berdasarkan hadits riwayat Hudzaifah).

Abu Hanifah mengucapkan kata-kata berbahaya ini, hanya karena al-A’masy berbeda pandangan dengannya dalam dua masalah, yaitu masalah Sahur dan Mandi Junub. Tidak terbayang di benak kita, seorang sahabat akan mengatakan hukum-hukum seperti ini, hanya karena berbeda pandangan masalah-masalah furu’. Dan ini tidak mengurangi rasa hormat kita terhadap sosok Imam Abu Hanifah.

Larut dalam kajian dan masalah seperti ini, kadangkala menyebabkan munculnya "cabang ilmu baru" yang tidak dikenal para sahabat mulia dan tidak ada seorang pun mengetahuinya. Misalnya, wudhu’ itu adalah 4 Fardhu, 13 sunnah, dan 8 sunnah.

Timbangan Keilmuan yang dibuat fikih untuk Ilmu Agama, kadangkala menyebabkan mucnulnya hal-hal ganjil, di antaranya ucapan Abu Hanifah kepada Imam al-Auza’i, “Jikalau bukan karena keutamaan sahabat Nabi Saw, maka saya akan mengatakan ‘Alqamah lebih ahli fikih dari Abdullah bin Umar.” Ide ini tidak akan bergelayut di akal Abu Hanifah jikalau bukan karena prasangkanya Abdullah bin Umar berbeda dengan ‘Alqamah di bidang yang berkembang pada zamannya, yaitu Fikih.

Kadangkala, logika seperti ini muncul dengan bentuk yang lebih berani. Misalnya, al-Dhahhak yang tidak suka minyak wangi, kemudian dikatakan kepadanya tentang para sahabat Nabi yang berparfumkan al-Misk. Ia menjawab, ‘Kita lebih paham dari mereka.”

Dahulu para sahabat, enggan menjawab pertanyaan. Mereka menahan diri atas masalah-masalah baru. Contohnya, Kharijah bin Zaid bin Tsabit meriwayatkan, pada suatu hari Zaid ditanya tentang sesuatu, kemudian ia menjawab, “Apakah sudah terjadi?” Jikalau mereka menjawab “belum terjadi”, maka ia tidak menjawab pertanyaan mereka. Jikalau mereka menjawab “sudah terjadi”, barulah ia menjawab.

Diriwayatkan oleh Masruq, “Saya berjalan bersama Ubay bin Kaab, kemudian ada seseorang bertanya, ‘Wahai paman, begini dan begini.’ Ia menjawab, ‘Wahai keponakanku, apakah sudah terjadi?’ Ia menjawab, ‘Belum.’ Ia berkata, ‘Biarkanlah kami, sampai masalahnya terjadi.”

Ketika Fikih berkembang, orang-orang mulai membuat masalah-masalah furu’ dan memaksa diri mereka untuk menjawabnya. Contohnya, Imam Khadnady ditanya tentang pengikut Mazhab Syafii yang meninggalkan shalat selama setahun atau dua tahun, kemudian ia beralih ke Mazhab Abu Hanifah al-Nu’man, “Bagaimana ia menqadhanya; apakah sesuai dengan Mazhab Syafii atau Mazhab Abu Hanifah?”

Hal-hal seperti ini tidak ada dan tidak dikenal di zaman sahabat. Jikalau pertanyaan tadi ditanyakan kepada para sahabat, maka ia akan melaknat orang yang bertanya seraya berkata, "Apakah Anda ingin mengubah agama Muhammad menjadi Yahudi?” Namun, abad terakhir orang-orang sudah berani banyak bertanya, dan para Ahli Fikih menjawabnya. Sebab, ia menempatkan fikih sebagai Ilmu Islam paling Agung. ***

Referensi:
  • Ibn al-Qayyim al-Jaudiyah, I’lam al-Muwaqqi’in, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut: 1411 H – 1991 M
  • Ibn Abd al-Barr, Jami’ Bayan al-Ilm wa Fadhlihi, Idarah al-Thiba’ah al-Amiriyyah: Kairo
  • Rihlah al-Imam al-Syafii berdasarkan karya dan riwayat muridnya al-Rabi’ bin Sulaiman dl-Jizy, al-Mathba’ah al-Salafiyah: 1350 H
  • Waliyullah al-Dahlawy: Hujjatullah al-Balighah, Juz 1, Bab Asbab Ikhtilaf al-Shahabah wa al-Tabiin fi al-Furu’, Dar al-Jil, cetakan ke-1, Beirut; Lebanon, 1426 H – 2005 M
Rasa malu berkaitan erat dengan hati (al-Qalb). Jikalau hati hidup, dipenuhi cahaya Allah SWT, maka rasa malu berbuat maksiat dan keburukan akan semakin besar. Jikalau hati mati, maka rasa malu berbuat maksiat tidak akan ada sama sekali. Padam.

Kadangkala, kita tidak habis pikir dengan seseorang yang begitu cueknya melakukan kemaksiatan di hadapan orang banyak. Santai. Tidak peduli. Padahal, kita yang melihatnya saja merasa malu.

Esensi dan Hakikat Sikap Malu (al-Hayā’) Menurut Islam

Sikap malu merupakan sikap yang mendorong seseorang melakukan semua perbuatan baik dan menjauhi semua perbuatan buruk. Salah satu sifat mulia. Ia adalah pangkal segala akhlak yang mulia. Ia adalah hiasan keimanan dan syiar Islam, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rasulullah Saw:
إن لكل دين خُلقًا، وخُلُقُ الإسلام الحياء
“Setiap agama ada akhlaknya, dan akhlak Islam adalah malu.” (HR Malik)

Wahab bin Munabbih mengatakan:
الإيمان عريان، ولباسه التقوى، وزينته الحياء
“Iman itu tidak berpakaian. Pakaiannya adalah ketakwaan, dan perhiasannya adalah sikap malu.”

Ada juga ulama lainnya yang mengatakan:
من كساه الحياء ثوبه لم ير الناس عيبه
“Siapa yang dipakaikan pakaian malu, maka manusia tidak akan melihat aibnya.”

Karena banyaknya keistimewaan dan keutamaan yang dimiliki oleh sikap malu, maka syariat memerintahkan umat Islam untuk berakhlak dengan sifat ini dan mendorong mereka menjadikannya sebagai hiasan diri, bahkan menjadikannya sebagai bagian dari keimanan.

Rasulullah Saw bersabda:
الإيمان بضعٌ وسبعون شعبة، فأفضلها قول: لا إله إلا الله، وأدناها: إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان
“Iman itu 75 cabang. Paling afdhalnya adalah ucapan La Ilāha Illallāh. Paling rendahnya adalah mencampakkan gangguan di jalan. Dan sikap malu merupakan salah satu cabang keimanan.” (Muttafaq alaihi)

Dalam riwayat lainnya dijelaskan:
الحياء والإيمان قرنا جميعًا، فإذا رفع أحدهما رفع الآخر
“Sikap malu dan keimanan itu satu tanduk. Jikalau salah satunya dicabut, maka yang lainnya ikut tercerabut.” (HR Abu Nuaim)

Rahasia kenapa malu itu bagian dari iman; sebab keduanya mengajak kepada kebaikan dan mendekatkan diri kepada Alah SWT, menjauhkan dari keburukan dan kejahatan.

Jikalau Anda melihat seseorang yang asal berani aja, lisannya kotor dan suka berbuat keji, salah satu sebab ia berlaku seperti itu karena hilangnya rasa malu.

Rasulullah Saw bersabda:
إن مما أدرك الناس من كلام النبوة الأولى: إذا لم تستحِ فاصنع ما شئت
“Di antara kalam kenabian pertama yang diperoleh manusia adalah ‘Jikalau engkau tidak malu, maka berbuatlah sesuka hatimu.” (HR al-Bukhari)

Ini Bukanlah Sikap Malu

Ada orang yang tidak mau melakukan kebaikan, menyampaikan kebenaran, menjalankan amar makruf dan nahi mungkar, dengan alasan malu. Ini, tanpa perlu dipertanyakan dan diragui, merupakan pemahaman yang salah tentang makna sikap malu.

Sebaik-baik manusia, Nabi Muhammad Saw adalah manusia yang paling pemalu, bahkan lebih pemalu dari anak gadis pingitan. Namun, rasa malu tidak menghalanginya menyampaikan kebenaran, melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, bahkan murka demi Allah SWT ketika aturan-Nya dilanggar.

Malu seharusnya tidak menghalangi seseorang menuntut ilmu dan bertanya masalah-masalah agama. Jikalau kita lihat sejarah, maka kita akan mendapati Umm Sulaim al-Anshāriyah radhiyallāhu anha bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, Allah SWT tidak malu dari kebenaran, apakah seseorang perempuan mandi jikalau bermimpi?”

Rasa malu sama sekali tidak menghalanginya untuk bertanya, dan rasa malu tidak menghalangi Nabi Muhammad Saw untuk menjawab, “Ya, jikalau ia melihat air.” (HR Muttafaq alaih)

Jenis-Jenis Malu

Para ulama membagi malu menjadi 4 bagian.

  • 1# Malu Kepada Allah SWT

Ketika rasa malu tertanam dalam diri seorang hamba;  Allah SWT melihatnya dan bersamanya di setiap waktu, maka ia akan malu jikalau sampai menyaksikannya bermalas-malasan menjalankan kewajiban dan melakukan kemaksiatan.

Allah SWT:
أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ
Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?" (Surat al-'Alaq: 14)

Dalam ayat lainnya dijelaskan:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (Surat Qaaf: 16)

Banyak lagi ayat-ayat lainnya yang menunjukkan bagaimana Allah SWT melihat para hamba-Nya dan selalu mengawasi-Nya.

Nabi Muhammad Saw bersabda kepada para sabahatnya:
استحيوا من الله حق الحياء
“Malulah kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya.”
Para sahabatnya berkata, “Wahai Rasulullah, kami merasa malu.”

Beliau melanjutkan:
ليس ذاكم، ولكن من استحيا من الله حق الحياء فليحفظ الرأس وما وعى، والبطن وما حوى، وليذكر الموت والبلى، ومن أراد الآخرة ترك زينة الدنيا، فمن فعل ذلك فقد استحيا من الله حق الحياء
“Bukan itu. Tapi, siapa yang malu kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya, maka jagalah kepalanya dan apa yang diakalinya, jagalah perutnya dan isinya, ingatlah kematian dan musibah. Siapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Siapa yang melakukannya, maka ia sudah malu kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya.” (Hr al-Turmudzi)

Ada seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan untuk melakukan kemaksiatan, kemudian laki-laki tersebut berkata, “Tidak ada yang melihat kita kecuali bintang-bintang.” Kemudian perempuan itu menjawab,”Mana penciptanya?”

  • 2# Malu kepada Para Malaikat

Ada sahabat yang mengatakan, “Bersama kalian, ada yang tidak meninggalkan kalian. Maka, malulah kepada mereka. Muliakanlah mereka.”

Allah SWT sudah mewanti-wanti makna ini dalam firman-Nya:
وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ
Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu)."

كِرَامًا كَاتِبِينَ
yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu)."

يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ
mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Surat al-Infithar: 10-12)

Ibn al-Qayyim al-Jauziyah menjelaskan, “Maksudnya, mereka malu dari para malaikat yang selalu menjaga, memuliakan mereka, mengagungkan mereka. Mereka malu layaknya orang semisal kalian melihat yang lainnya. Para malaikat juga merasa terganggu dengan sesuatu yang membuat anak Adam merasa terganggu. Jikalau anak Adam terganggu dengan orang yang berbuat maksiat dan berlaku buruk di hadapannya, walaupun ia melakukan semisalnya, maka bagaimana menurut kalian dengan para malaikat yang mulia?!”

  • 3# Malu Kepada Manusia

Hudzaifah bin al-Yaman mengatakan, “Tidak ada kebaikan pada diri orang yang tidak malu kepada orang lain.”

Mujāhid mengatakan, “Jikalau seorang muslim tidak mendapatkan dari saudaranya kecuali rasa malu yang menghalanginya berbuat maksiat, maka itu sudah cukup baginya.”

Nabi Muhammad Saw menjadikan sifat malu sebagai hokum atas perbuatan seseotang, standar sekaligus ukuran, sebagaimana sabdanya:
ما كرهت أن يراه الناس فلا تفعله إذا خلوت
“Apa yang engkau tidak suka dilihat anak manusia, maka janganlah melakukanya ketika engkau sendirian.” (Hr Ibn Hibban)

  • 4# Malu Terhadap Diri

Siapa yang malu kepada orang lain, namun tidak malu kepada dirinya sendiri, maka sama saja ia menganggap dirinya lebih hina dari orang lain. Selayaknya seorang anak manusia jikalau ingin melakukan keburukan, hendaklah ia membayangkan dirinya sendiri yang melakukannya dan dilihatnya dengan mata kepalanya.

Jikalau ia malu melihat dirinya melakukan maksiat, maka ia akan lebih malu dari orang lain yang menyaksikanya bermaksiat. Makanya, ada Ulama Salaf yang mengatakan, “Siapa yang ketika sendirian melakukan suatu amalan yang ia malu melakukannya di hadapan orang lain, maka dirinya tidak ada harganya.”

Astaghfirullah… kami memohon ampunan-Mu, ya Allah. Ampuni kami.

Sikap malu adalah sikap mulia, akhlak agung, etika yang seharusnya tertanam dalam diri setiap anak manusia, apalagi seorang muslim. Sebagai manusia yang Beragama, berislam, tidak selayaknya kita melepaskan sikap satu ini dalam setiap perbuatan kita.

Semoga Allah SWT mengkaruniakan kita sikap dan sifat mulia ini, bukan malu yang tercela.***
Bulan Ramadhan tahun ini dipenuhi ciri khusus berbeda dibandingkan dengan kondisi kehidupan sehari-hari dan kebiasaan yang biasanya dijalani seorang anak manusia. Kondisi seperti ini membuka ruang besar bagi kita untuk mengasah kebiasaan membaca. Bulan ini merupakan kesempatan baik untuk menjalaninya dengan metode aktif, berjalan seiring dengan ruh Ramadhan, tidak bercerai dengan nilai-nilainya yang bermuatankan kesabaran, kesungguhan, dan belajar.

Bulan Ramadhan sudah menghampiri kita. Mukmin yang cerdas adalah mukmin yang memanfaatkan waktu-waktunya dengan sungguh-sungguh dan serius, beralih dari satu ibadah ke ibadah lainnya, merasakan setiap detik bulan yang mulia; dari puasa ke Qiyamullail ke Tilawah ke Sedekah. Dan agar tidak jauh-jauh dari Maidah Ramadhan (hidangan Ramadhan), yaitu al-Quran al-Karim, kami mengundang Anda untuk berkeliling membaca di susunan buku-buku beraneka ragam dan taman-taman zikir nan bijak.

Allah SWT berfirman tentang bulan yang mulia ini, “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan al-Quran, petunjuk bagi manusia, penjelasan dari hidayah dan pembeda.” Jikalau al-Quran diturunkan di bulan Ramadhan, maka bagiannya yang pertama kali diturunkan adalah firman-Nya Iqra’ (Bacalah). Tugas kita adalah mendorong manusia untuk membaca selama bulan Ramadhan, bukan malah meminta mereka menjauhinya.

Catatan kita ini merujuk Artikel Ramadhan 2020 Dakwah li Tahdits Fi’l al-Qiraah (Ramadhan 2020: Seruan untuk Memperbaharui Kerja Membaca), karya Nur al-Din Qilalah.

Kesempatan yang Tidak akan Tergantikan

Kepada orang-orang yang menolak untuk menjalin hubungan kasih dengan buku sampai hari ini, maka bulan Ramadhan adalah kesempatan untuk memulai; kesempatan agar Allah SWT memberikan kepadanya karunia-Nya dan nikmat-Nya. Banyak daftar buku yang mudah dibaca bagi orang yang ingin memulai langkah pertama di dunia Baca (Dunia Literasi); sebuah dunia yang amat indah. Hendaklah Ramadhan ini menjadi pintu masuk, kemudian menjadi jembatannya penyeberangan menuju dunia buku, menjadi cahayanya menuju Alam Ilmu Pengetahuan.

Apakah makna membaca? Apakah maksud membaca? Apa yang saya baca? Dan bagaimana saya membaca di bulan Ramadhan?

Kata-kata “Iqra’” adalah seruan untuk menghapuskan buta huruf dan awal mula masa keilmuan. “Iqra’” adalah kata-kata pertama dalam Risalah Ilahi yang ditujukan kepada anak manusia. Kata-kata inilah yang menjadi awal risalah, dan dengannya juga ditutup kenabian. Kata-kata menakjubkan seperti apakah yang mampu memutus hubungan langit dan bumi?

Membaca mampu membuat “gila” banyak orang dan membuat rindu banyak ulama. Sampai-sampai, buku menjadi sahabat dan teman bicara mereka ketika begadang di malam hari dan berjalan di suang hari, ketika safar dan berjalan, ketika dekat dan jauh, bukan sekadar hiasan di rak-rak. Ia menjadi bekal yang posisinya lebih urgen dari air dan kurma.

Sejumlah Ide Untuk Membaca Produktif

Setiap tahun, ketika masuk Bulan Ramadhan; tamu mulia, mulailah muncul suara-suara yang menyeru manusia untuk menjauhi “membaca” dan konsen membaca al-Quran semata. Mulailah dihitung berapa kali dikhatamkan. Mereka bertanding melakukannya. Buku-buku lainnya dijauhi. Akibatnya, seseorang kehilangan kesempatan "besar" lainnya di bulan mulia ini.

Ada yang  berkata, “Orang-orang tidak menjauhi “membaca” di bulan Ramadhan untuk sekadar bermain, tetapi untuk membaca al-Quran.”

Kita katakan, “Setiap orang memiliki kemampuan terbatas dengan jumlah waktu yang terbatas juga. Dan ia tidak mampu melewati batasan tersebut dalam membaca al-Quran. Misalnya, anggap saja setiap harinya di bulan Ramadhan Anda mampu membaca al-Quran 3 jam di siang hari, maka di sisa waktu lainnya apakah yang Anda lakukan? Apakah tidur, istirahat, sibuk bermedsos dan menonton televisi?

Membaca di bulan Ramadhan memiliki kenikmatan khusus dan keindahan yang tidak akan diketahui kecuali oleh orang yang mengenalinya. Dalam bulan Ramadhan, Allah SWT akan membukakan makna-makna yang tidak Anda ketahui sebelumnya. Ramadhan adalah bulan kebaikan, keberkahan, rahmat, bulan al-Quran, bulan Iqra’, dan lain-lain. Tidak layak rutinitas "membaca" dijauhi di bulan ini. Tidak tepat jikalau hanya diisi dengan Tilawah al-Quran.

Agar bisa membaca dengan sukses selama bulan Ramadhan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pilihlah buku yang bisa Anda baca dengan fokus dan mudah, walaupun Anda sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan yang biasanya Anda kerjakan dan kebiasaan-kebiasaan yang biasanya Anda jalani. Ramadhan adalah stasiun perubahan, maka kembangkanlah untuk membentuk dan menperdalam kebiasaan "membaca" setiap hari. Selain membaca al-Quran al-Karim, baca jugalah buku-buku lainnya di berbagai bidang selama bulan Ramadhan, sebagaimana Anda melakukannya di bulan-bulan lainnya. Tidak ada salahnya jikalau ditambahkan dengan Buku Sastra, Kisah, Sejarah.

Agar semua orang membaca di bulan Ramadhan; bulan Membaca ini, sebagian penulis dan motivator mengusulkan daftar buku-buku yang selayaknya dibaca di bulan Ramadhan. Ada yang sesuai, dan ada juga yang tertarik dengan buku-buku lainnya. Namun, keistimewaan semua buki ini adalah keserderhanaan bahasanya dibandingkan dengan buku-buku pemikiran dengan ungkapan-ungkapan njelimet, mengaduk-aduk logika, membutuhkan konsentrasi lebih yang tentunya akan membuat seseorang akan kehilangan sebagian Ramadhannya.

Al-Quran adalah Penghulunya Segala Kitab; Buku

Tidak diragui, al-Quran al-Karim adalah penghulu segala Kitab di segala masa dan tempat. Ramadhan adalah penghulu segala bulan. Al-Quran diturunkan kepada Nabi kita Muhammad Saw di bulan Ramadhan. Allah SWT berfirman, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Sekali selama bulan Ramadhan, Nabi Muhammad Saw bertadarrus al-Quran bersama Jibril; Malaikat yang Amin. Untuk mengulang bacaan al-Quran beliau. Itulah yang menjadi poros bacaan seorang Mukmin selama Ramadhan. Kami menegaskan, kata-kata al-Quran yang pertama kali turun, yaitu Iqra’ adalah kata-kata perintah yang menfaedahkan Ilzam (keharusan). Para ulama mengungkapkan sejumlah renungan bersama Kitabullah di bulan Ramadhan, dilakukan oleh semisal Imam al-Syafii, Imam al-Bukhari, dan banyak lagi yang lainnya.

Ada banyak kitab-kitab Tafsir. Bisa digunakan untuk mencari makna-makna ayat dan surat, serta mengenal Asbab al-Nuzul untuk memahaminya dan mentadabburinya, khususnya Tafsir-Tafsir yang menjadi rujukan utama seperti Tafsir Ibn Katsir; Kitab Konfrehensif yang tidak mungkin diabaikan seorang pembaca.

Ada juga kitab-kitab hukum al-Quran, seperti al-Qurthubi; Kitab Ahkam yang penting untuk mengetahui hukum-hukum terkait puasa dan ibadah lainnya. Ada kitab-kitab al-Mufradat, yaitu kitab-kitab yang berusaha mengkaji kata-kata sulit, mengklasifikasi kata-kata al-Quran sesuai dengan makna dan dilalahnya, agar mudah dipahami dan mudah diserap oleh logika. Ada juga kitab-kitab Adab al-Quran, yaitu kitab-kita yang konsen mengkaji bentuk Bayan-Balaghah dalam al-Quran al-Karim. Ada juga kitab-kitab I’jaz, yaitu kitab-kitab yang mengkaji tentang berbagai jenis I’jaz dalam al-Quran al-Karim. Dan al-Quran adalah mu’jizat dalam berbagai sisinya; kefasihannya, balaghahnya, nuzhumnya, tarkibnya, dan uslubnya.

Jenis-Jenis Membaca al-Quran di Bulan Ramadhan

Membaca al-Quran memiliki banyak tujuan, berbeda sesuai dengan jenis bacaan yang diikuti oleh sang Qari’ (pembaca). Berikut ini, kita akan menjelaskan jenis-jenis Bacaan secara mendetail.

  1. Qiraat al-Tsawab wa al-Khatam (Bacaan untuk Paham & Khatam). Tujuannya, berusaha membaca al-Quran sebanyak mungkin, agar bisa berulang-ulang mengkhatamkannya. Selain itu juga, agar bisa mendapatkan pahala besar setiap kali membaca satu huruf Kitabullah, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Siapa yang membaca satu huruf Kitabullah, maka ia mendapatkan satu kebaikan, dan satu kebaikan dengan sepuluh kali pemisalannya. Saya tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf. Tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.
  2. Qiraat al-Tadabbur wa al-Taammul (Membaca dengan Tadabbur dan Perenungan). Jenis ini bertujuan untuk memikirkan Kalamullah dan kandungan-kandungannya; perintah, larangan, dan petunjuk. Dan inilah jenisnya yang terbaik, sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT, “Kitab yang Kami turunkan kepadamu, diberikahi, agar mereka mentadabburi ayat-ayatNya dan agar orang-orang yang berpikir mengingatnya.” 
  3. Qiraat al-Hifzh wa al-Muraja’ah (Membaca untuk Hafalan dan Muraja’ah). Jenis ini dilakukan oleh orang-orang yang hafal al-Quran di luar kepala. Selain itu, mereka bertujuan untuk mengokohkan al-Quran di dalam dada mereka dengan mengulang-ngulang hafalan dan mengulang-ngulang ayat. Ini merupakan tanggungjawab besar di pundak para penghafal al-Quran. Jenis ini, akan sangat berfaedah bagi para penulis Mushaf; sambil menulis, sambil mengulang hafalan. Rasulullah Saw bersabda, “Peganglah al-Quran. Demi jiwa Muhammad yang berada dalam genggaman-Nya, ia lebih mudah lepas dari unta dalam ikatannya.”

Satu Surat Untuk Direnungi

Ada yang menasehati untuk hanya membaca al-Quran al-Karim. Katanya: "Pilihlah salah satu surat al-Quran dan jadikan ia sebagai subjek studi Anda. Tadabburilah makna-maknanya dan tetaplah berada di bawah bayangannya. Tulislah karya-karya para Ahli Tafsir mengenai surat tersebut. Bacalah alam semesta yang ada di sekitar Anda ketika membacanya, maka Anda akan mendapatkan penafsiran yang agung. Kendalikanlah akal Anda dan hati Anda. Sinarilah ayat-ayat tersebut dengan cahaya hati (bashirah) sebelum mata (mata)."

Syeikh Muhammad al-Ghazali mengatakan, “Saya harus menyelami kedalaman ayat untuk mengetahui ikatannya dengan ayat sebelumnya dan ayat sesudahnya, kemudian juga untuk mengenal adanya keterikatan dan keterhubungan antara satu surat dengan surat lainnya.” Hiduplah bersama salah satu surat al-Quran di bulan Ramadhan. Pergaulilah. Jadikanlah setiap kali hubungan Anda dengannya sebagai titik masuk ke dunia al-Quran al-Karim menuju dunia yang Allah SWT inginkan kita ada di dalamnya.

Berusahalah agar Anda meninggalkan Ramadhan dengan satu surat yang Anda tadabburi keindahannya. Anda akan mendapati kenikmatan yang akan memaksa Anda mendaki setapak demi setapak mentadabburi ayat setelahnya. Siapa yang merasakannya, maka ia akan mengetahuinya. Siapa yang mengetahuinya, maka ia akan menciduknya.

DR. Ahmad Khairi al-Umary mengatakan dalam kitabnya berjudul Alladzina lam Yuladu Ba’d tentang al-Quran di bulan Ramadhan, “Al-Quran, saya sampaikan kepada Anda sekarang ini, janganlah berhubungan dengannya layaknya orang Yahudi yang suka melakukan riba. Janganlah bersikap semenjak awal Ramasdhan dan berucap, ‘Satu juz setiap hari, dan sekali khatam seperti biasanya di akhir bulan.’

Kalau itu bermanfaat, ya memang bermanfaat. Tapi, saya katakan kepada Anda, ‘Jangan letakkan batasan, dinding dan penghalang di hadapan Anda.

Mushaf dibagi menjadi juz dan hizb agar Anda mudah mulai menghafalnya,  bukan agar Anda menjadikannya sebagai halangan. Bacalah dengan kerinduan bagi siapa saja yang mampu menghafalnya dan ingin mengetahui apa yang akan didapatkannya. Agar Anda menjadi sosok yang super. Hendaklah sebab turunnya, menjadi sebab kenaikan (perkembangan) Anda.

Waktu untuk Membaca Buku-Buku al-Kisah

Jikalau sebagian orang lebih suka mengkaji buku-buku Agama dan Sufi karena mengandung faedah bagi diri. Ada juga sebagian lainnya yang menganggap membaca hanya akan menyia-nyiakan waktu; selayaknya diisi dengan ibadah dan membaca al-Quran; membaca bisa dilakukan nanti saja. Namun, sejumlah intelektual berpandangan, membaca itu berfaedah. Selain itu, iacjuga merupakan salah satu jenis ibadah.

Banyak yang menyukai gaya membaca yang beraneka ragam; buku-buku novel, puisi, cerita polisi, cerita komedi, dan tentunya buku-buku agama dan al-Quran. Sebagian lainnya berpandangan, tidak ada perbedaan antara bulan Ramadhan dengan bulan lainnya, kebiasaan membaca harus tetap yang utama di setiap bulan sepanjang tahun.***
Tujuan yang diinginkan Fikih adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan dari realita kehidupan manusia sehari-hari, baik dalam kehidupan beragama maupun dalam kehidupan bermuamalah, baik ada yang mempertanyakannya maupun tidak. Sebab, fikih merupakan tiang syariat penyanggah realita dan kondisi-kondisi yang meliputinya. Realita ini mencakup realita pribadi dan masyarakat, negara dan lembaga. Bahkan, fikih tidak akan tumbuh dan buahnya tidak akan matang kecuali jikalau dijaga dengan baik. Ketika Nabi Muhammad Saw bersabda, “Siapa yang Allah SWT ingin kebaikan baginya, maka Dia akan membuatnya paham agamanya.” Dengan begitu jelaslah, memahami agama (fikih) adalah mendapatkan ilmu, memahaminya, dan mengamalkannya berdasarkan hidayah dan ilmu. Dan makna ini tidak akan terwujud jikalau fikih lepas dari realita hidup.

Catatan kita kali ini akan merujuk Artikel yang ditulis oleh Idris Ahmad, yang berjudul al-Fiqh wa Fahm Waqi’ al-Hayah (Fikih & Memahami Realita Hidup)

Fikih itu menerangi jalan, menjaga dari syubhat, menjadi perangkat mengenal hikmah pensyariatan. Jikalau terjadi suatu peristiwa, maka fikih dengan dalil-dalil pensyariatannya akan melakukan kajian, kemudian menetapkan hukumnya berdasarkan Muqtadha’nya. Semua itu berkaitan dengan realita.

Fikih yang dihasilkan oleh seorang Ahli Fikih, harus berjalan aktif dan sesuai dengan Masalah-Masalah Kontemporer dan Perkembangan-Perkembangan yang menjadi realita. DR. Ahmad al-Raisauny menjelaskan hubungan kuat antara Fikih dan Realita dengan sebuah pemisalan, “Pemisalan Fikih dan Realita, seperti jalinan tali terdiri dari dua buhul, satu bagian mengikat bagian lainnya, dari pangkal sampai ujung. Jikalau realita menyatu dengan masalah-masalahnya, perisiwa-peristiwanya, tuntutan-tuntutannya dan petanyaan-petanyaannya terhadap fikih, kemudian fikih menyatu dengan ijtihad-ijtihadnya, fatwa-fatwanya, dan nasehat-nasehatnya atas realita, maka kehidupan akan berjalan dengan kokoh, kuat, dan menyatu. Jikalau realitas berjalan jauh dari Fikih, dan Fikih berjalan jauh dari realita, maka jalinan tadi akan kehilangan sifatnya, dan dengan begitu hilanglah kekuatannya dan kekokohannya.

Memisahkan antara Fikih dan Realita hanya akan melahirkan Lemahnya Teori (al-Tanzhir) dan Disabilitas Fikih. Bahkan, fikih yang jauh dari realita akan lebih membuat pesimis manusia dibandingkan dengan fatamorgana yang tidak ada harapannya. Fikih dengan jenis seperti ini memang merupakan salah satu jenis ilmu, namun ia terputus dari realita. Akibatnya, ilmu Fikih hanya menjadi pengulangan maklumat semata dan teori-teori fikih yang sudah memenuhi lembaran-lembaran kitab atau gudang-gudang akal, tidak memiliki realita yang akan membenarkannya dari sisi Aktifasi.

Inilah yang pernah diingatkan oleh khalifah kedua Umar bin al-Khattab; pemilik pandangan tajam, dalam surat yang ditujukannya kepada Abu Musa al-Asy’ary radhiyallahu anhuma; Gubernurnya di Kufah, “Amma Ba’du.  Qadha adalah kewajiban yang lurus, sunnah yang diikuti. Pahamilah jikalau ia sudah mendekatimu. Tidak ada manfaat berbicara benar, namun tidak goalnya..

Perhatikanlah surat ini, menunjukkan pentingnya memahami agama; nikmat besar yang tidak ada tandingannya; berwujud memahami agama (al-Fiqh fi al-Din) dan Ijtihad atas realitas (al-Ijtihad fi al-Waqi’. Dengan inilah Khalfah Umar memulai wasiatnya kepada Abu Musa al-Asy’ary, menjadi landasan inti risalahnya, agar berujung dengan pengejawantahan dasar ini, yaitu paham dan niat baik dalam beramal, membuat keputusan dan menyelesaikan perbedaan.

Ibn al-Qayyim mengatakan, “Paham yang benar dan maksud yang baik merupakan salah satu nikmat Allah SWT kepada hamba-Nya. Bahkan, tidak ada nikmat yang lebih baik dan lebih mulia, yang diberikan kepada seorang hamba setelah Islam, melebihi keduanya.  Bahkan, keduanyalah yang mengendalikan Islam dan menopangnya. Dengan keduanya, seorang hamba akan merasa aman dari jalan orang-orang yang dimurkai, yaitu orang-orang yang rusak niat mereka; dan juga merasa aman dari jalan orang-orang sesat, yaitu orang-orang yang rusak pemahamannya; serta menjadi bagian dari orang-orang yang mendapatkan nikmat, yaitu orang-orang yang baik pemahamannya dan maksudnya.” (Lihatlah Kitab I’lam al-Muwaqqi’in: 1/ 69)

Dengan wasiat konfrehensif yang diterima wujudnya oleh para ulama ini, Ibn al-Qayyim membuat sejumlah landasan pemahaman yang benar dalam berbagai Masalah Pensyariatan. Ia berpandangan, landasan-landasan ini adalah kaedah diterimanya hukum yang shahih:
“Seorang Mufti atau Hakim tidak mungkin berfatwa dan menetapkan kebenaran, kecuali dengan dua jenis pemahaman:
  1. Memahami realita dan fikihnya, serta mengistinbathkan ilmu tentang hakikat apa yang terjadi, berdasarkan indikasi, isyarat dan alamat yang melingkupinya.
  2. Memahami point wajib dari Realitas, yaitu memahami hukum Allah SWT yang ditetapkan-Nya dalam kitabNya atau berdasarkan firman-Nya atas realitas ini, kemudian diejawantahkannya antara satu dengan lainnya.

Kemudian Ibn al-Qayyim mengatakan, “Orang yang merenungi masalah para sahabat, maka ia akan mendapatinya banyak disini. Orang yang menempuh selain jalan ini, ia sudah melalaikan hak-hak manusia, kemudian menyematkannya kepada Syariah yang merupakan risalah pengutusan Rasul-Nya.” (Lihatlah Kitab I’ilam al-Muwaqqi’in: 1/ 69)

Berpegang teguh dengan dua landasan ini dalam berijtihad; Fikih dan Memahami Realitas, akan mempercepat pertumbuhan fikih dan mendorong perkembangannya. Bahkan, Ahli Fikih yang kaku terhadap Teks dan tidak berusaha mengejawantahkannya di Dunia Realitas Nyata, tidak berusaha mencari jawaban atas tantangan-tantangan yang dihadapi manusia dalam kehidupannya sehari-hari, maka keilmuannya tidak akan berkembang. Fikih, dengan tabiatnya sebagai ilmu realistis-praktis, tidak akan tumbuh sesuai dengan makna yang dimaksudkan, kecuali berada dalam realitas hidup, bergerak, dan terbaharukan. DR. Ahmad al-Raysuni mengatakan, “Banyaknya Madrasah dan berlimpahnya karya bukanlah timbangan perkembangan Fikih... Ini bisa jadi, namun ia tidak mampu melewati batas mengulang-ngulang, tidak bisa keluar dari batas Taklid dan Rigid. Kadangkala malah menjadi penghalang jalan kemajuan dan perbaikan, yaitu dengan banyak kejumudan atas realitas dan kejumudan atas fikih; sebagiannya menguatkan sebagian lainnya. Tidak mungkin memperbaiki salah satunya, kecuali dengan menyentuh keduanya.” (Lihatlah Kitab al-Ijtihad, al-Nash, al-Waqi’, al-Maslahah, halaman 61)

Mengawinkan Fikih dengan Relita, bukanlah perkara baru. Ia memiliki dasar dalam sumber-sumber pensyariatan, landasannya merujuk berbagai realita yang kita saksikan dan kita lihat di al-Quran al-Karim secara mendalam. Tidaklah muncul Mazhab-Mazhab Fikih kecuali karena adanya pergesekan dan percampuran dengan realitas hidup yang dijalani oleh para Mujtahid Mazhab.

Kita akan menutup Artikel ini dengan memaparkan sebuah pemisalan dalam al-Quran al-Karim, yang akan mewujudkan tujuan dari penjelasan kita ini.

Dalam al-Quran, dijelaskan kondisi para Munafik dalam berbagai Dialog, kemudian juga dijelaskan jawaban-jawaban atas segala pertanyaan mereka, disingkapkan segala tipu daya mereka, sebagai bentuk penguatan dan pembenaran firman Allah SWT:
وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ
Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa." (Surat al-An'am: 55)

“Kemudian ada ayat-ayat yang merinci dan menjelaskan jalan yang ditempuh para Musuh Allah SWT, mengungkap maksud dan tujuan mereka. Kita akan melihat satu surat yang akan menegaskan kepada kita tentang hakikat ini dan membuatnya semakin terang benderang, yaitu surat al-Taubat. Salah satu nama surat ini adalah al-Fadhihah, sebab mengungkap hakikat para munafik, menyibak tipu daya, penyesatan dan konpsirasi mereka.

Allah SWT berfirman:
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ
Di antara mereka ada orang yang berkata: "Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah". Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir." (Surat al-Taubah: 49)

وَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنَّهُمْ لَمِنْكُمْ وَمَا هُمْ مِنْكُمْ وَلَٰكِنَّهُمْ قَوْمٌ يَفْرَقُونَ
Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu)." (Surat al-Taubah: 56)

يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ لِيُرْضُوكُمْ وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَقُّ أَنْ يُرْضُوهُ إِنْ كَانُوا مُؤْمِنِينَ
Mereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, padahal Allah dan Rasul-Nya itulah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang mukmin." (Surat al-Taubah: 62)

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ ۚ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik." (Surat al-Taubah: 67)

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ ۚ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ
Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan". Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya)." (Surat al-Taubah: 107)

Ayat-ayat ini merupakan di antara ayat-ayat agung yang mengungkap hakikat kaum Munafikin, menyingkap kebusukan mereka, memanfaatkan agama ini dengan cara mendirikan Masjid-Masjid, tujuannya untuk menipu dan membuat ragu-ragu, untuk menipu konspirasi-konspirasi yang mereka buat. (Lihat Kitab Fiqh al-Waqi’, karya Nashir Sulaiman al-Umar)

Semua ayat-ayat ini mengungkap tipu daya kaum Munafikin dan jalan yang mereka tempuh, berseberangan dengan kehidupan yang ditempuh oleh Rasulullah Saw di Madinah. Beliau menyibak shaf kaum Musliminin dengan sejumlah contoh. Setelahnya, turunlah ayat-ayat yang menyibak hakikat mereka, memperkokoh pandangan kaum Muslimin terhadap memahami realita, kemudian menjelaskan sejumlah hukum terkait kaum Munafikin setelah mengetahui tipu daya, keraguan, dan konspirasi mereka, yang berusaha menghancurkan Islam dan memecah belah jamaah umat Islam.***
Catatan SesudahnyaNewer Posts Catatan SebelumnyaOlder Posts Home