Tampilkan postingan dengan label Minhaj_Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Minhaj_Akhlak. Tampilkan semua postingan

Masalah Khiyar Dalam Pernikahan

Masalah Khiyar Dalam Pernikahan


Al-Khiyar (hak menentukan pilihan) ditetapkan bagi masing-masing pasangan suami istri untuk tetap berada ikatan pernikahan atau membatalkannya karena adanya salah satu sebab berikut ini: 


AIB

Aib seperti gila, atau kusta, atau kebotakan, atau penyakit kelamin yang menyebabkan hilangnya kenikmatan dalam berhubungan badan, seperti kondisi suami yang dikebiri, atau gila, atau impoten yang tidak mampu menggauli istrinya dan berhubungan badan.


Dalam kondisi ia ingin melakukan al-Faskh terhadap pernikahannya, maka dilihat; jikalau al-Faskh dilakukan sebelum berhubungan badan, maka suami bisa menarik kembali mahar yang sudah diberikannya kepada perempuan tersebut. Jikalau setelah berhubungan badan, maka tidak bisa meminta apapun kembali, sebab maharnya sudah menjadi miliknya. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa maharnya bisa diminta kembali kepada karib kerabat perempuan yang menipunya, jikalau pihak yang melakukan penipuan sudah tahu sebelumnya dengan aib tersebut. Dalil masalah ini adalah Atsar dari Umar yang terdapat dalam al-Muwattha’, berkata, “Perempuan mana saja yang dijadikan sebagai alat penipuan oleh seorang laki-laki, ia mengidap Gila atau kusta atau kebotakan, maka ia berhak mendapatkan mahar yang sudah diberikannya, dan mahar laki-laki tersebut ada pada laki-laki yang menipunya.”


AL-GHARAR

Al-Gharar (Penipuan): Misalnya, ia menikahi Muslimah, ternyata ia perempan Ahli Kitab; atau menikahi perempuan merdeka,  ternyata ia budak; atau menikahi perempuan yang sehat, ternyata ia sakit celek atau pincang, berdasarkan ucapan Umar radhiyallahu anhu, “maka ia berhak mendapatkan mahar yang sudah diberikannya, dan mahar laki-laki tersebut ada pada laki-laki yang menipunya.”


KESULITAN MEMBAYAR MAHAR

Kesulitan Membayar Mahar Ketika itu Juga: Orang yang kesulitan membayar mahar istrinya ketika itu (tunai), bukan ditunda, maka pihak perempuan berhak melakukan al-Faskh sebelum berhubungan badan. Sedangkan jikalau sudah berhubungan badan, maka ia tidak lagi memiliki hak untuk melakukan al-Faskh, bahkan akad terus berlanjut dan mahar berada dalam tanggungan suami. Perempuan tersebut tidak boleh menahan dirinya untuk melayani suaminya selama-lamanya. 


KESULITAN MEMBERI NAFKAH

Kesulitan Memberikan Nafkah: Orang yang kesulitan menafkahi istrinya, maka ia menunggu dalam jangka waktu sesuai kemampuannya, kemudian ia memiliki hak untuk melakukan al-Faskh terhadap pernikahannya melalui keputusan al-Qadha’ al-Syar’i. Pendapat ini dipegang oleh Abu Hurairah, Umar, Ali, dan para Tabiin seperti al-Hasan, Umar bin Abdul Aziz, Rabiah, dan Malik –semoga Allah SWT merahmati mereka semuanya. 


HILANG & TIDAK JELAS KEBERADAANNYA

Jikalau suami itu hilang dan tidak diketahui keberadaannya, kemudian tidak meninggalkan nafkah bagi istrinya, tidak mewasiatkan seorang pun untuk menafkahinya, tidak ada orang lain yang menafkahinya, dan ia juga tidak memiliki sesuatu pun yang bisa digunakannya untuk menafkahi dirinya, maka ia bisa menuntut suaminya, ia memiliki hak al-Faskh atas pernikahannya melalui perantara al-Qadhi al-Syar’i. Ia bisa mengajukan masalahnya kepada al-Qadhi, kemudian sang al-Qadhi akan menasehatinya dan mengingatkannya untuk bersabar. Jikalau ia tidak mau, maka al-Qadhi menulis al-Mahdhar (catatan kehadiran) melalui perantara para saksi yang mengenal perempuan tersebut dan mengenal suaminya. Mereka bersaksi bahwa suaminya tidak jelas keberadaannya dan perempuan tersebut mengalami kesulitan, kemudian hubungan keduanya ditetapkan al-Faskh, dan al-Faskh ini dianggap sebagai Talak Raj’i. Jikalau suaminya kembali lagi dalam masa ‘Iddah, maka perempuan itu kembali lagi kepadanya. 


Tatacara Penulisan al-Mahdhar (Catatan Kehadiran)

Setelah al-Basmallah dan memuji Allah SWT, kemudian shalawat dan salam kepada Rasulullah Saw…

Sudah hadir di hadapan kami dua orang saksi; Fulan… dan Fulan… Keduanya merupakan orang yang diperbolehkan untuk melakukan kesaksian karena sifat adil keduanya dan kesempurnaan akal keduanya. Keduanya bersaksi sebagai bentuk ketaatan dengan tidak mengharapkan apapun selain keridhaan Allah SWT. Keduanya bersaksi bahwa mereka mengenal Fulan… dan Fulanah dengan pengenalan yang benar dan sesuai syariat. Keduanya bersaksi bahwa Fulan… dan Fulanah adalah dua pasangan suami istri yang sudah menikah dengan pernikahan yang sesuatu syariat dan shahih. Keduanya sudah berhubungan badan dan berkhalwat. Kemudian suaminya menghilang dalam jangka waktu ini… meninggalkannya tanpa nafkah dan tanpa sandang, tidak meninggalkan untuknya sesuatu pun untuk menafkahi dirinya ketika ia tidak ada, tidak ada juga yang berbuat kebajikan untuk menafkahinya ketika ia tidak ada, tidak juga mengirim sesuatu yang sampai kepadanya. Perempuan tersebut tidak memiliki harta untuk menafkahi dirinya dan digunakannya. Perempuan tersebut tetap setia di tempat yang ditinggalkan oleh suaminya dan terpaksa untuk melakukan al-Faskh atas pernikahannya. Keduanya mengetahui hal itu dan bersaksi, esok siap bertanggungjawab di hadapan Allah SWT. 

Kemudian istri yang disebutkan; Fulanah, maju ke depan, bersumpah atas nama Allah SWT yang Maha Agung, tidak ada Tuhan melainkan diri-Nya, dengan sumpah yang sesuai syariat bahwa  suaminya yang disebutkan; Fulan, sudah meninggalkannya dalam jangka waktu ini, meninggalkannya tanpa nafkah dan tanpa sandang… tidak meninggalkan baginya sesuatu pun untuk menafkahi drinya ketika ia tidak ada, tidak ada juga yang berbuat kebajikan untuk menafkahinya, tidak juga mengirim sesuatu kepadanya, dan ia tidak memiliki harta untuk menafkahi dirinya dan digunakannya. Orang yang menjadi saksinya adalah orang yang benar dalam persaksiannya. Ia masih tetap setia menaatinya dan terpaksa untuk melakukan al-Faskh atas pernikahannya. 

Berdasarkan hal itu, kami mengabulkan permintaan untuk melakukan al-Faskh atas pernikahannya, berdasarkan bukti dan sumpah yang sudah dijelaskan di atas. Kemudian ia mengucapkan dengam lafadz yan sharih (jelas), “Saya melakukan al-Faskh atas pernikahan saya dengan suami saya; Fulan.” Dan itu menjadi talak satu raj’i, menyebabkan terjadinya al-Faskh atas pernikahannya dengan suaminya yang disebutkan. Dan itu dilakukan pada tanggal ini…


BERSTATUS MEREKA YANG SEBELUMNYA BERSTATUS BUDAK

Status Merdeka setelah Status Budak: Jikalau istri adalah seorang budak wanita yang berada di bawah ikatan suaminya yang berstatus budak laki-laki, kemudian ia dimerdekakan, maka ia memiliki al-Khiyar (hak pilih) untuk melakukan al-Faskh atas pernikahannya dengan suaminya yang berstatus budak. Syaratnya, ia tidak menyerahkan kuasa dirinya kepada suaminya tersebut setelah mengetahui akan mendapatkan status merdeka. Jikalau ia menyerahkan kuasa dirinya kepada suaminya setelah mengetahuinya, maka ia sama sekali tidak memiliki hak melakukan al-Faskh, berdasarkan riwayat Aisyah radhiyallahu anha dalam riwayat Muslim bahwa Barirah dimerdekakan, suaminya adalah seorang budak, kemudian Nabi Muhammad Saw memberikan pilihan (al-Khiyar). Jikalau suaminya itu berstatus merdeka, maka beliau tidak akan memberikannya hak al-Khiyar. []

Sikap Lemah & Malas Menurut Islam

Seorang muslim tidak lemah dan tidak pula malas. Tetapi, ia bertekad kuat dan bersemangat, bekerja dan rajin. Sebab, sikap lemah dan malas merupakan dua sikap yang tercela. Nabi Muhammad Saw berlindung dari keduanya. Seringkali beliau mengucapkan, “Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dari pengecut, kesombongan, dan kekikiran.”(1) Nabi Saw menasehati umatnya agar beramal dan bersemangat mengerjakannya, “Bersemangatlah untuk sesuatu yang bermanfaat bagimu, minta pertolongan Allah SWT dan jangan lemah. Jikalau sesuatu menimpamu, maka janganlah katakanlah, ‘Jikalau saya melakukan begini, maka pasti hasilnya akan begini.’ Tetapi, katakanlah, ‘Allah SWT yang menakdirkan. Apa yang diinginkan-Nya, maka akan dilakukan-Nya.’ Sebab, kata-kata ‘seandainya’ akan membuka pintu setan.”(2)


Karena itulah, seorang muslim tidak boleh terlihat lemah dan malas, sebagaimana ia tidak boleh terlihat pengecut dan kikir. Bagaimana mungkin seorang muslim akan meninggalkan amalannya, atau tidak bersemangat mengerjakan sesuatu yang akan memberikan manfaat baginya? Sebab, ia merupakan seorang yang mempercayai teori kausalitas dan sunnatullah di alam semesta ini. Bagaimana mungkin seorang muslim akan malas? Sebab, ia mengimani seruan Allah SWT untuk berlomba-lomba, “Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi." (Surat al-Hadid: 21) Dan menyuruhnya untuk berpacu dalam firman-Nya, “dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba." (Surat al-Muthaffifin: 26)


Seorang muslim tidak akan bersikap pengecut atau penakut. Sebab, ia meyakini Qadha Allah SWT, mengimani Qadar-Nya, dan mengetahui bahwa apa yang menimpanya bukanlah untuk membuatnya tersalah, kemudian kesalahan yang dilakukannya bukanlah untuk membuatnya tertimpa musibah. Tidak, sama sekali. Seorang muslim tidak berpangku tangan dalam mengerjakan amal shaleh, sebab ia mendengar seruan al-Quran, “Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menenerima pahala)nya." (Surat Ali Imran: 115) Dan firman-Nya, "Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya." (Surat al-Muzammil: 20)


Tanda-Tanda Lemah dan Malas

1. Seseorang mendengarkan panggilan azan untuk mengerjakan shalat, kemudian ia pura-pura sibuk untuk menyambut panggilan itu dengan tidur, berbicara, dan mengerjakan pekerjaan yang tidak penting, sehingga hampir saja waktu shalat berlalu. Kemudian ia bangkit dan mengerjakan shalat sendirian di akhir waktu shalat. 

2. Seseorang menghabiskan waktu sejam atau berjam-jam di café-café dan kursi-kursi santai, atau berkeliling di jalan-jalan dan pasar-pasar, padahal ia memiliki sejumlah pekerjaan yang harus diselesaikannya segera, namun ia tidak juga menyelesaikannya. 

3. Seseorang meninggalkan amalan bermanfaat seperti mempelajari ilmu atau menanami lahan atau membangun rumah atau membangun gedung dan berbagai amalan-amalan bermanfaat lainnya di dunia dan di akhirat, dengan alasan sudah tua atau tidak layak melakukannya, atau amalan tersebut membutuhkan waktu yang lapang dan masa yang panjang, kemudian ia membiarkan hari-hari dan tahun-tahun berlalu tanpa mengerjakan amalan bermanfaat di dunia dan di akhirat. 

4. Dibukakan baginya salah satu pintu kebajikan dan kebaikan, seperti kesempatan menunaikan ibadah haji, ia mampu melakukannya, namun ia tidak mau menunaikannya. Atau seperti ada orang yang membutuhkan, ia mampu membantunya, kemudian ia tidak membantunya. Atau seperti kesempatan masuknya bulan Ramadhan, ia tidak memanfaatkan malam-malamnya untuk Qiyam. Atau seperti keberadaan kedua orangtuanya yang sudah tua, atau salah satu dari keduanya, ia mampu berbakti kepada keduanya, menyambung silaturrahim dengan keduanya, atau berbuat kebaikan kepada keduanya, kemudian ia tidak berbakti kepada keduanya dan tidak juga berbuat baik karena tidak mau dan malas-malasan, atau karena pelit dan bakhil, atau durhaka. Kita berlindung kepada Allah SWT dari segala keburukan. 

5. Seseorang bermukim di negerinya dengan kondisi hina dan rendah, ia tidak berusaha merantau mencari negeri lainnya karena enggan dan malas-malasan, yaitu negeri yang disana ia bisa menjaga agamanya, memelihara kehormatannya dan kemuliaannya. 


Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, kami berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut dan kebakhilan, dan kami berlindung kepada-Mu dari segala akhlak yang tidak diridhai, amalan yang tidak bermanfaat. Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam. 


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (4/28), (8/98), Muslim (2079), dan al-Nasai (8/257, 258)

(2) Diriwayatkan oleh Muslim (34) dalam Kitab al-Qadar

Sikap ‘Ujub & Ghurur; Kagum & Tertipu dengan Diri Sendiri)

Seorang muslim berhati-hati dengan sikap ‘Ujub(1) dan Ghurur. Ia berusaha keras agar keduanya tidak menjadi sifatnya sedikit pun. Sebab, keduanya merupakan penghalang paling besar untuk mendapatkan kesempurnaan, sebab paling besar untuk menghancurkan kondisi dan harta. Berapa banyak nikmat yang berubah menjadi azab karena keduanya, berapa banyak kejayaan yang berubah menjadi kehinaan karena keduanya, dan berapa banyak kekuatan yang berubah menjadi kelemahan karena keduanya. Cukuplah keduanya menjadi penyakit mematikan. Cukuplah keduanya menjadi kesengsaraan bagi pelakunya. Karena itulah, seorang muslim berhati-hati dengan keduanya dan menghindarinya. Karena itulah keduanya diharamkan dalam al-Quran dan Sunnah, diperingatkan untuk menghindarinya dan berhati-hati dengan keduanya. Allah SWT berfirman, “serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu." (Surat al-Hadid: 14) Dan firman-Nya, "Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah." (Surat al-Infithar: 6) Dan firman-Nya, “dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun." (Surat al-Taubah: 25) Dan sabda Rasulullah Saw, “Tiga hal yang menghancurkan: kekikiran yang diperturutkan, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri.”(2) Dan sabdanya, “Jikalau engkau menyaksikan kekikiran yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri, maka berpeganglah dengan dirimu sendiri.”(3) Dan sabdanya, “Orang yang pintar adalah orang yang meredahkan nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Dan orang yang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berharap banyak hal kepada Allah SWT.”(4)


Contoh-Contohnya 

1. Iblis laknatullah alaihi kagum dengan kondisinya, tertipu dengan dirinya sendiri dan asalnya. Ia mengataka, “Engkau menciptakanku dari api, dan Engkau menciptakannya dari tanah.” Maka, Allah SWT mencampakkannya dari rahmat-Nya dan dari hadapan kesucian-Nya. 

2. Kaum ‘Add kagum dengan kekuatan yang mereka miliki dan tertipu dengan kekuasaan yang mereka pegang. Mereka mengatakan, “Siapakah yang lebih kuat dari kami?” Kemudian, Allah SWT menimpakan mereka azab yang membinasakan di kehidupan dunia dan Akhirat. 

3. Nabi Allah SWT Sulaiman pernah bersikap lalai dan mengatakan, “Malam ini, saya akan menghampiri 100 wanita, dan setiap wanita akan melahirkan seorang anak yang akan berjihad di jalan Allah SWT.” Ia lalai dan tidak mengucapkan, “Insya Allah”, maka Allah SWT tidak memberikannya anak itu. 

4. Dalam Perang Hunain, para sahabat radhiyallahu anhum kagum dengan jumlah mereka yang banyak. Mereka mengatakan, “Kita tidak akan terkalahkan hari ini oleh jumlah yang sedikit.” Kemudian, mereka mengalami kekalahan yang pahit, sampai-sampai bumi yang luas terasa sempit, kemudian mereka mundur. Sampai, mereka kembali kepada Allah SWT, dan Dia memberikan kemenangan bagi mereka. 


Di Antara Tanda al-Ghurur

1. Dalam Ilmu: Kadangkala seseorang kagum dengan ilmu yang dimilikinya, tertipu dengan banyaknya pengetahuan yang dikuasainya, kemudian membuatnya tidak mau lagi menambah ilmu dan tidak mau lagi bertanya, atau membuatnya meremehkan ahli ilmu yang lainnya, atau menyepelekan selainnya. Dan ini cukuplah sebagai kehancuran baginya. 

2. Dalam Harta: Kadangkala seseorang kagum dengan banyaknya harta yang dimilikinya, tertipu dengan banyaknya barang yang dipegangnya, kemudian bersikap mubazir dan Israf (berlebih-lebihan), bersikap sombong kepada yang lainnya dan meremehkan kebenaran, sehingga ia hancur. 

3. Dalam Kekuatan: Kadangkala seseorang kagum dengan kekuatan yang dimilikinya, tertipu dengan agungnya kekuasaan yang dipegangnya, kemudian ia bersikap lalim dan zalim, bertaruh dan membahayakan yang lainnya. Semua ini akan menjadi kehancurannya. 

4. Dalam Keturunan; Kadangkala seseorang kagum dengan keturunannya, tertipu oleh nasabnya dan asalnya, kemudian ia tidak mau menggapai hal-hal yang mulia, lemah untuk mendapatkan hal-hal yang sempurna. Hal itu menyebabkan pekerjaannya menjadi lamban. Nasabnya sama sekali tidak membuatnya menjadi cepat. Akhirnya, ia menjadi hina dan kerdil, rendah dan tercela. 

5. Dalam Ibadah; Kadangkala seseorang kagum dengan amalan yang dikerjakannya, tertipu dengan banyaknya ketaatan yang dilakukannya, sehingga membuatnya bersikap manja terhadap Rabbnya, hanya sekadar mengangkat tangan kepada Zat pemberi nikmatnya. Hal ini membuat amalannya menjadi batal, ia menjadi hancur karena kekagumannya, dan menjadi sengsara karena ketertipuannya. 


Terapinya

Terapi untuk penyakit ini adalah mengingat Allah SWT disertai pengetahui bahwa apa yang diberikan-Nya pada hari ini, baik ilmu, atau harta, atau kekuatan, atau kemuliaan, atau keturunan, bisa jadi dicabut-Nya esok hari jikalau Dia menginginkannya. Ketaatan seorang hamba kepada Rabbnya, walaupun banyak, tidak setara dengan nikmat yang sudah diberikan-Nya kepada hamba-Nya. Allah SWT tidak akan diuntungkan dengan apapun, sebab Dia merupakan sumber segala keutamaan, pemberi segala kebaikan. Dan Rasulullah Saw bersabda, “Tidak ada seorang pun di antara kalian yang akan diselamatkan oleh amalannya.” Para sahabat bertanya, “Tidak juga engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak juga saya. Hanya saja, Allah SWT meliputiku dengan rahmat-Nya.” (5)


Catatan Kaki: 

(1) Maksudnya, sombong karena kagum dengan diri sendiri atau amalan yang dikerjakan

(2) Disebutkan oleh al-Haitsami dalam Majma’ al-Zawaid (1/91), dan statusnya dhaif (lemah)

(3) Disebutkan oleh al-Zubaidi dalam Ithaf Sadah al-Muttaqin (8/407), kemudian disebutkan oleh al-Thabari dalam tafsirnya (7/63)

(4) Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (4/24), kemudian juga oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak (1/57)

(5) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (8/122)

Sikap Riya; Sikap Terlarang Menurut Islam

Seorang muslim tidak bersikap riya. Sebab, riya adalah kemunafikan dan kesyirikan. Seorang muslim merupakan seorang mukmin yang bertauhid. Sehingga, sifat riya dan munafik itu bertentangan dengan keimanannya dan ketauhidannya. Bagaimana pun, seorang muslim bukanlah seorang munafik dan bukan pula seorang yang suka berbuat riya. Seorang muslim berkewajiban membenci akhlak tercela yang satu ini dan menjauhinya, berdasarkan pengetahuannya bahwa Allah SWT dan Rasul-Nya membencinya dan memurkainya. Sebab, Dia berfirman dalam Kitab-Nya mengancam orang-orang yang berbuat riya dengan azab dan hukuman, “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna." (Surat al-Maun: 4-7) Dan firman-Nya yang diriwayatkan oleh Rasulullah Saw, “Siapa yang mengerjakan suatu amalan dengan mempersekutukannya dengan selain-Ku, maka semuanya untuknya (selain Allah) dan Aku berlepas diri darinya. Dan Aku paling tidak membutuhkan persekutuan.”(1) Dan sabda Rasulullah Saw, “Siapa yang berbuat riya, maka Allah SWT akan memperlihatkannya. Dan siapa yang ingin didengarkan, maka Allah SWT akan memperdengarkannya.”(2) Dan sabdanya, “Hal yang paling saya khawatirkan terhadap kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah Saw?” Beliau menjawab, “Riya. Allah SWT berfirman pada Hari Kiamat ketika Dia membalas amalan para hamba-Nya, ‘Pergilah menuju orang-orang yang dahulu kalian berbuat riya karena mereka ketika di dunia. Lihatlah, apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka!”(3)


Hakikat riya adalah, keinginan para hamba Allah SWT dalam ketaatan yang mereka lakukan, untuk mendapatkan ketenaran di mata khalayak dan kedudukan di antara mereka. 


Riya Memiliki Tanda-Tanda

I. Seorang hamba bertambah taat jikalau dipuji dan disanjung, kemudian berkurang ketaatannya atau ditinggalkannya jikalau dicela atau direndahkan. 

II. Rajin beribadah jikalau bersama khalayak ramai, dan bermalas-malasan jikalau sendirian. 

III. Rajin bersedekah. Dan jikalau tidak dilihat khalayak, maka ia tidak bersedekah. 

IV. Mengucapkan kebenaran dan kebaikan, atau mengerjakan berbagai ketaatan dan kebaikan, namun ia tidak melakukannya karena Allah SWT tetapi karena ingin pujian manusia, atau ia sama sekali tidak menginginkan-Nya dalam ibadah itu, semata-mata mengerjakannya karena manusia. 


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (2/301), dan lafadz Muslim adalah, “Aku adalah sekutu paling kaya dari persekutuan. Siapa yang mengerjakan suatu amalan yang mempersekutukan selaian-Ku bersama-Ku, maka Aku meninggalkannya dan persekutuannya.”

(2) Diriwayatkan oleh Muslim (47) dalam Kitab al-Zuhd

(3) Diriwayatka oleh al-Imam Ahmad (5/228, 229), kemudian disebutkan juga oleh al-Iraqy dalam al-Mughny ‘a Haml al-Asfar (3/286)

Suka Menipu (al-Ghisy) Menurut Islam

Seorang muslim berhutang kepada Allah SWT untuk memberikan nasehat kepada setiap muslim lainnya, kemudian menjalani hidup dengan nasehat tersebut. Ia tidak akan menipu orang lain, atau tidak akan berkhianat. Sebab, menipu dan khianat merupakan sifat tercela dan buruk yang melekat pada diri seseorang. Keburukan tidak layak menjadi akhlak seorang muslim dan tidak juga layak menjadi sifatnya, apapun keadaannya. Sebab, kesucian dirinya bersumber dari keimanan dan amal shaleh, bertentangan dengan sifat-sifat tercela ini, yang isinya hanya keburukan dan tidak ada kebaikannya sama sekali. Seorang muslim dekat dengan kebaikan dan jauh dari keburukan. 


Akhlak Menipu Memiliki Sejumlah Fakta yang akan Kami Peringatkan Disini 

I. Seseorang memperlihat kepada saudaranya bahwa keburukan atau kejahatan atau kerusakan merupakan sesuatu yang indah, agar ia terjerumus ke dalamnya. 

II. Memperlihatkan bentuk lahir yang baik lagi shaleh, kemudian menyembunyikan bentuk batinnya yang keji lagi rusak. 

III. Memperlihatkan lahir yang berbeda dengan apa yang disembunyikannya dan dibatinkannya, sebagai bentuk tipuan. 

IV. Sengaja merusak hartanya, atau istrinya, atau anaknya, atau pelayannya, atau temannya dengan menuduhnya melakukan keburukan atau membuat fitnah yang ditujukan kepadanya. 

V. Berjanji akan menjaga jiwa atau harta atau rahasia, kemudian mengkhianatinya dan menipunya. 


Ketika seorang muslim menjauhi al-Ghisy (tipuan), al-Ghadr, dan khianat, maka ia melakukannya karena taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Sebab, ketiga hal ini diharamkan dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Saw. Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (Surat al-Ahzab: 58) Dan firman-Nya, “maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri." (Surat al-Fath: 1) Dan firman-Nya, "Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri." (Surat Fathir: 43)


Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang merusak istri orang lain atau budaknya, maka ia bukanlah bagian dari kami.”(1) Dan sabdanya, “Empat hal, siapa yang ada di dalam dirinya, maka ia adalah munafik murni. Siapa yang ada di dalam dirinya salah satu di antaranya, maka di dalam dirinya ada unsur kemunafikan sampai ia meninggalkannya; jikalau dipercaya dikhianat, jikalau berbicara dusta, jikalau berjanji tidak menepati, dan jikalau berkhusumat berlebihan.”(2) Rasulullah Saw ketika melewati bejana besar makanan, kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalam bejana besar tersebut dan jari-jarinya merasakan basah, maka beliau bersabda, “Apa ini wahai pemilik makanan?” Ia menjawab, “Terkena hujan wahai Rasulullah Saw.” Beliau bersabda, “Kenapa engkau tidak menempatkannya di atas makanan, agar orang-orang bisa melihatnya? Siapa yang menipu, bukanlah bagian dariku.”(3)


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatka oleh Abu Daud (4883)

(2) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1/15), (3/173), dan Muslim (106) dalam Kitab al-Iman

(3) Diriwayatka oleh Muslim (164) dalam Kitab al-Iman

Sikap Hasad (Dengki) Menurut Islam

Seorang muslim tidak mendengki, dan dengki itu tidak layak menjadi akhlaknya dan sifatnya, selama ia mencintai kebaikan bagi semua orang dan mendahulukan mereka dari dirinya sendiri. Sebab, sifat dengki menafikan dua akhlak yang mulia, yaitu cinta kebaikan dan Itsar (mendahulukan orang lain dari diri sendiri). 


Seorang muslim membenci sifat dengki dan memurkainya. Sebab, sifat dengki merupakan bentuk perlawanan terhadap Allah SWT yang sudah menetapkan pembagian karunia-Nya kepada para hamba-Nya. Allah SWT berfirman, “ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?" (Surat al-Nisa: 54) Dan firman-Nya, "Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain." (Surat al-Zukhruf: 32)


Hasad (dengki) terbagi dua: Pertama, seseorang berharap hilangnya nikmat berupa harta atau ilmu atau kedudukan atau kekuasaan dari orang agar ia bisa mendapatkannya. Kedua, ini merupakan bentuk paling buruk di antara keduanya; berharap hilangnya nikmat dari orang lain, walaupun ia sendiri tidak mendapatkannya dan tidak berhasil memperolehnya. 


Dan al-Ghibtah tidaklah sama dengan Hasad. Al-Ghibtah adalah, berharap mendapatkan nikmat seperti nikmat yang didapatkan orang lain, seperti ilmu atau harta atau keshalehan, tanpa berharap hilangnya nikmat-nikmat itu dari orang lain, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Tidak ada kedengkian kecuali terhadap dua orang; seseorang yang Allah SWT berikan harta, kemudian ia menggunakannya untuk kebenaran; dan seseorang yang Allah SWT berikan al-Hikmah (ilmu), kemudian ia mengamalkannya dan mengajarkannya.”(1) Maksud Hikmah disini adalah al-Quran al-Karim dan Sunnah Nabi Saw. 


Hasad, dengan kedua jenisnya, adalah perbuatan yang benar-benar haram. Tidak boleh seorang pun bersikap hasad kepada orang lain. Allah SWT berfirman, “ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?" Dan firman-Nya, “karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri." (Surat al-Baqarah: 109) Dan firman-Nya, “dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki." (Surat al-Falaq: 5) Celaan Allah SWT terhadap sifat yang tercela ini menunjukkan keharamannya dan larangannya. 


Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah kalian saling membenci. Janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling membelakangi, dan janganlah kalian saling memutuskan, jadilah para hamba Allah SWT yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari.”(2) Dan sabdanya, “Hati-hatilah kalian dengan hasad. Sebab, hasad (kedengkian) memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu api atau rumput.”(3)


Jikalau seorang muslim terlintas dalam pikirannya untuk berbuat hasad karena sifat manusiawinya dan tidak terjaganya dari kesalahan, maka ia menolaknya dari dirinya dan membencinya agar sifat hasad itu tidak menjadi kegelisahan baginya atau tidak menjadi keinginan kuat yang tertanam di dalam dirinya, sehingga ia berkata karena hasad dan berbuat karenanya, yang menyebabkannya menjadi hancur. Jikalau ia takjub dengan sesuatu, maka hendaklah ia mengatakan, “Ma Sya Allah, La Haula wa La Quwwata Illa Billah (Allah SWT berkehendak. Tidak ada daya dan upaya kecuali di tangan Allah SWT).” Dengan begitu, ia tidak terpengaruh dan selamat. 


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1/28), (2/134)

(2) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (8/23, 25), Muslim (7) dalam Kitab al-Birr wa al-Shilat, dan Abu Daud (4910)

(3) Diriwayatkan oleh Abu Daud (51) dalam al-Adab

Sikap Zalim; Sikap Tercela Menurut Islam

Seorang muslim tidak akan menzalimi orang lain, dan tidak juga mau dizalimi. Ia tidak akan melakukan kezaliman kepada seorang pun, dan tidak terima jikalau ada orang lain yang menzaliminya. Sebab, kezaliman dengan ketiga jenisnya, diharamkan berdasarkan al-Quran dan Sunnah. Allah SWT berfirman, “kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya." (Surat al-Baqarah: 279)


Allah SWT, “dan barang siapa di antara kamu yang berbuat zalim, niscaya Kami rasakan kepadanya azab yang besar." (Surat al-Furqan: 19) Dan Allah SWT berfirman, sebagaimana diriwayatkan Nabi-Nya, “Wahai para hamba-Ku, Aku mengharamkan kezaliman terhadap diri-Ku, dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.”(1) Dan sabda Rasulullah Saw, “Takutlah kalian dengan kezaliman, sebab kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.”(2) Dan sabdanya, “Siapa yang berlaku zalim dengan sejengkal tanah, maka Allah SWT akan mengalungkan tujuh lapis bumi kepadanya.”(3) Kemudian beliau membaca, “Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras."(4) (Surat Huud: 102) Dan sabdanya, “Dan takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, sebab tidak ada hijab antara dirinya dengan Allah.”(5)


Tiga Jenis Kezaliman 

1. Kezaliman hamba kepada Rabbnya, yaitu dengan kufur kepada-Nya. Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim. " (Surat al-Baqarah: 254) Kemudian mempersekutukannya dalam ibadah, dengan menujukan ibadah-ibadahnya kepada selain-Nya. Allah SWT berfirman, “sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (Surat Luqman: 13)


2. Kezaliman seorang hamba kepada orang lain, yaitu kepada para hamba Allah SWT dan makhluk-Nya, dengan merusak kehormatan mereka atau menyakiti tubuh mereka atau harta mereka tanpa hak. Nabi Saw bersabda, “Siapa yang melakukan kezaliman terhadap saudaranya, baik kehormatannya maupun lainnya, maka hendaklah ia menghalalkannya pada hari ini sebelum datang masa ketika tidak ada lagi dinar dan dirham. Ketika itu, jikalau ia memiliki amal shaleh, maka diambil darinya sesuai dengan kadar kezalimannya. Jikalau ia tidak memiliki kebaikan, maka diambillah keburukan-keburukan sahabatnya dan dipikulkan kepadanya.”(6) Dan sabdanya, “Siapa yang mengambil hak muslim lainnya dengan sumpahnya, maka Allah SWT mewajibkan Neraka baginya dan diharamkan dari surga.” Kemudian ada yang berkata, “Jikalau sesuatu yang sepele wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bahkan walaupun hanya sebatang kayu arak (untuk siwak).”(7) Dan sabda Rasulullah Saw, “Seorang muslim akan tetap berada dalam kelapangan agamanya selama ia tidak menumpahkan darah yang haram.”(8) Dan sabdanya, “Setiap muslim terhadap muslim lainnya, haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.”(9)


3. Kezaliman seorang hamba terhadap dirinya sendiri; mengotorinya dengan berbagai jenis dosa, criminal, dan keburukan, dari berbagai jenis maksiat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Allah SWT berfirman, “Mereka tidak menganiaya Kami, tapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri." (Surat al-A'raf: 160) Orang yang melakukan dosa besar dan kekejian adalah orang yang berlaku zalim terhadap dirinya sendiri, sebab ia mengarahkan dirinya kepada kekejian dan kegelapan yang akan mempengaruhinya, yang akan menyebabkanya layak mendapatkan laknat Allah SWT dan jauh dari-Nya. 


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (2490)

(2) Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (2/92), dan al-Hakim dalam al-Mustadrak (1/11)

(3) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (3/171), (4/130), dan Muslim (142) dalam Kitab al-Musaqah

(4) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (6/94)

(5) Diriwayatkan oleh al-Dar Quthny (2/136), kemudian disebutkan oleh al-Baihaqy dalam al-Sunan al-Kubra (3/369), (6, 83)

(6) Disebutkan oleh al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra (3/369), (6/83)

(7) Diriwayatkan oleh Muslim (218) dalam Kitab al-Iman

(8) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (9/2)

(9) Diriwayatkan oleh Muslim (10) dalam Kitab al-Birr wa al-Shilat

Sikap Tawadhu’ & Sikap Sombong

Seorang muslim bersikap Tawadhu, tetapi tidak merendahkan dirinya dan tidak juga menghinakan. Sikap Tawadhu menjadi salah satu akhlak teladannya dan salah satu sifat yang mulianya, sebagaimana Sikap Sombong tidak ada pada dirinya, begitu juga dengan sifat semisalnya. Sebab, seorang muslim bersikap Tawadhu agar menjadi mulia. Ia tidak menyombongkan diri agar tidak direndahkan. Sunnatulah menetapkan, bahwa orang-orang yang tawadhu akan ditinggikan, dan orang-orang yang sombong akan direndahkan. Rasulullah Saw bersabda, “Sedekah tidak akan mengurangi harta. Allah SWT tidak akan menambahkan bagi seorang hamba dengan kemaafan, kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seseorang tawadhu karena Allah SWT, kecuali Dia akan meninggikannya.”(1) Dan sabdanya, “Hak Allah SWT, tidaklah sesuatu dari dunia ini meninggi, kecuali Dia akan merendahkannya.”(2)  Dan sabdanya, “Orang-orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari kiamat, seperti debu yang berbentuk manusia. Mereka dinaungi kehinaan dari segala penjuru, mereka digiring menuju penjara neraka Jahannam yang bernama (Bulus), mereka merasakan panasnya seperti panasnya air mendidih karena api neraka yang mengelilinginya, dan mereka diberikan minum dari sirup-sirup penghuni neraka, bagaikan tanah liat yang rusak.”(3) Ketika telinga seorang muslim dan hatinya dihadapkan dengan kabar-kabar yang benar dari kalamullah dan kalam Rasulullah Saw seperti ini, yang kadang-kadang memuji orang-orang yang tawadhu, kadang-kadang mencela orang-orang yang sombong, sesekali memerintahkan untuk bersikap tawadhu, dan sesekali melarang bersikap sombong, maka bagaimana ia tidak akan tawadhu dan menjadikan tawadhu itu sebagai sikapnya? Bagaimana ia tidak akan menjauhi sombong dan mencela orang-orang yang bersikap sombong? 
Allah SWT berfirman memerintahkan Rasul-Nya untuk bersikap Tawadhu’, “dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman." (Surat al-Syuara: 215) Dan firman-Nya, "Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong." (Surat al-Isra: 37) Dan firman-Nya yang memuji para wali-Nya dengan sifat Tawadhu, " Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir." (Surat al-Maidah: 54) Dan firman-Nya tentang balasan bagi orang-orang yang tawadhu, "Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi." (Surat al-Qashas: 83) Rasulullah Saw memerintahkan sikap Tawadhu dalam sabdanya, "Allah SWT mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap Tawadhu,  tidak ada seorang pun yang berbangga-bangga kepada yang lainnyaa, dan tidak ada seorang pun yang berbuat zalim kepada yang lainnya."(4) Dan beliau mendorong untuk bersikap Tawadhu dalam sabdanya, “Tidaklah Allah SWT mengutus seorang Nabi, kecuali ia mengembala kambing.” Para sahabatnya bertanya, “Dan engkau?” Beliau menjawab, “Ya, dahulu saya mengembalakannya di tanah milik penduduk Makkah.”(5)  Dan sabdanya, “Kalau saya diundang untuk makan kuraa’ (bagian di bawah mata kaki hewan dan yang tidak berdaging (sedikit daging-nya) atau Dzira' (kaki bagian atas dari hewan), maka saya akan menghadirinya. Jikalau saya dihadiahi Dzira' atau Kura', maka saya akan menerimanya."(6) Dan sabdanya untuk menjauhi sikap sombong, “Apakah kalian ingin saya beritahu tentang penduduk Neraka; Semua yang kasar, penimbung lagi kikir, dan sombong.”(7) Dan sabdanya, “Tiga orang yang tidak akan Allah SWT ajak bicara pada hari Kiamat, Dia tidak akan menyucikan mereka, tidak aka melihat mereka, dan mereka akan mendapatkan siksa yang pedih; Orang tua yang berzina, penguasa yang dusta, dan orang miskin yang sombong.”(8) Dan sabdanya, “Allah SWT berfirman, ‘Kemuliaan adalah sarung-Nya, kesombongan adalah selendang-Nya. Siapa yang menandingi-Ku, maka Aku akan mengazabnya.”(9) Dan sabdanya, “Ketika seseorang berjalan dengan pakaian mewah berbangga diri, mengurai rambutnya dan sombong berjalannya, tiba-tiba bumi menelannya, kemudian  ia terus berteriak ketakutan sampai hari kiamat."(10)

Di antara Bentuk Sikap Tawadhu


1. Jikalau seseorang maju tampil ke depan, padahal bersamanya ada orang-orang yang kemampuannya setara dengannya, maka ia adalah orang yang sombong. Jikalau ia mundur, maka ia adalah orang yang tawadhu. 
2. Jikalau ia bangkit dari tempat duduknya untuk orang yang berilmu dan memiliki keutamaan, serta membiarkan orang tadi duduk di posisinya, kemudian ia berdiri dan mengambilkan sandalnya, serta mengantarkannya ke pintu keluar, maka ia adalah orang yang tawadhu. 
3. Jikalau ia berdiri untuk seseorang yang biasa, menyambutnya dengan senang dan bahagia, bertanya kepadanya dengan lemah lembut, menghadiri undangannya, membantu memenuhi kebutuhannya, dan tidak memandang dirinya lebih baik darinya, maka ia adalah orang yang Tawadhu. 
4. Jikalau ia mengunjungi orang yang lebih rendah status sosialnya, atau semisalnya, dengan membawakan barangnya atau ikut membantu memenuhi kebutuhannya, maka ia adalah orang yang  Tawadhu. 
5. Jikalau ia duduk bersama orang-orang yang fakir, miskin, sakit, dan orang-orang yang membutuhkan, kemudian menghadiri undangan mereka dan makan bersama mereka, serta berjalan bersama mereka, maka ia adalah orang yang Tawadhu. 
6. Jikalau ia makan atau minum tanpa berlebih-lebihan, dan memakai pakaian tanpa sombong, maka ia adalah orang yang Tawadhu

Di antara Contoh Mulianya Sikap Tawadhu’ 


1. Diriwayatkan, bahwa pada suatu malam, Umar bin Abdul Aziz didatangi oleh seorang tamu. Ketika itu, ia sedang menulis. Dan lampu, hampir saja padam. Tamu tadi berkata, “Saya mengambil lampu itu dulu untuk memperbaikinya?” Ia menjawab, “Bukanlah bentuk kebaikan bagi seseorang jikalau ia menjadikan tamunya sebagai pembantu?” Tamu itu berkata, “kalau begitu, saya akan membangunkan budak?” Ia menjawab, ‘Ia baru saja tertidur. Janganlah engkau membangunkannya.” Kemudian Umar bin Abdul Aziz mengambil pelita tersebut dan mengisinya dengan zait. Tamu itu berkata kepadanya, “Engkau melakukannya sendiri wahai Amirul Mukminin?” Ia menjawab, “Saya pergi, dan saya tetaplah Umar. Saya kembali, dan saya tetaplah Umar. Tidak ada yang kurang dariku. Sebaik-baik manusia adalah orang yang Tawadhu di hadapan Allah SWT.”
2. Diriwayatkan, bahwa pada suatu hari Abu Hurairah radhiyallahu anhu memikul seikat kayu dari pasar, padahal ketika itu ia adalah gubenur di Madinah di masa pemerintahan Marwan. Ia mengatakan, “Lapangkanlah jalan bagi Gubenur, agar ia bisa lewat. Ia sedang memikul seikat kayu.” 
3. Suatu kali Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu terlihat membawa daging di tangan kanannya, dan di tangan kirinya ada cambuk yang selalu dibawanya, padahal ketika itu ia adalah Amirul Mukminin dan Khalifah kaum muslimin. 
4. Diriwayatkan, bahwa Ali radhiyallahu anhu membeli daging dan meletakkannya di dalam lipatan kainnya. Kemudian ada yang bertanya kepadanya, “Bolehkah dibawakan untukmu wahai Amirul Mukminin?” Ia menjawab, “Tidak, kepala keluarga lebih berhak untuk membawanya.”
5. Abu Salamah mengatakan, “Saya mengatakan kepada Abu Said al-Khudry, ‘Bagaimana pendapatmu tentang pakaian, minuman, kenderaan, dan makanan yang dibuat orang-orang sekarang ini?” Ia menjawab, “Wahai anak saudaraku, makanlah karena Allah SWT dan minumlah karena-Nya, berpakaianlah karena-Nya. Segala sesuatu yang dirasuki rasa congkak atau berbangga-bangga atau riya atau sum’ah (ingin di dengar orang), ia adalah maksiat dan berlebih-lebihan. Perbaikilah pelayanan yang ada di rumahmu, sebagaimana perbaikan yang dilakukan oleh Rasulullah Saw di rumahnya; memberi makan binatang ternak, mengikat unta, membersihkan rumah, memerah susu domba, menjahit sandalnya, menambal pakaiannya yang sobek, makan bersama pelayannya, membuat adonan, membeli sesuatu di pasar, rasa malu tidak menghalanginya untuk menjinjingnya atau meletakkannya di ujung pakaiannya, berangkat menuju keluarganya, menyalami yang kaya dan fakir, dewasa dan kecil, mengucapkan salam terlebih dahulu kepada setiap orang yang ditemuinya; kecil maupun besar, berkulit hitam atau merah, merdeka atau budak dari kalangan Ahli Shalat, yaitu orang-orang yang beriman

Catatan Kaki: 
(1) Diriwayatkan oleh Muslim (69) dalam Kitab al-Birr wa al-Shilat
(2) Diriwayatkan oleh Abu Daud (4802) dan al-Nasai (6/228)
(3) Diriwayatkan oleh al-Turmuzi (2492), dan al-Imam Ahmad (2/178)
(4) Diriwayatkan oleh Muslim (64) dalam Kitab al-Jannah
(5) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (3/116)
(6) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (3/201), (7/32)
(7) Diriwayatkan oleh Muslim (46, 47) dalam Kitab al-Jannah, dan al-Imam Ahmad (3/145)
(8) Diriwayatkan oleh Abu Daud (4087, 4088)
(9) Diriwayatkan oleh Muslim  (136) dalam Kitab al-Birr wa al-Shilat
(10)Diriwayatkan oleh al-Bukhari (7/183)

Suka Berderma (Dermawan) & Memberi

Suka Berderma merupakan akhlak seorang muslim, dan suka memberi merupakan ciri khasnya. Seorang muslim bukanlah seorang yang bakhil dan pelit. Sebab, kebakhilan dan pelit merupakan dua sifat tercela yang pangkalnya adalah keburukan jiwa dan kegelapan hati. Dengan keimanannya dan amal shalehnya, jiwa seorang muslim suci dan hatinya bercahaya. Maka, kesucian jiwanya dan kebersihan hatinya, bertentangan dengan sifat pelit dan bakhil, sehingga ia tidak bakhil dan tidak pelit. 

Walaupun sifat pelit merupakan penyakit hati yang secara umum menimpa seluruh anak manusia, namun seorang muslim dengan keimanannya dan amal shalehnya seperti zakat dan shalat, Allah SWT menjaganya dari keburukan penyakit berbahaya yang satu ini agar demi mempersiapkannya mendapatkan kemenangan dan memperoleh keuntungan di akhirat kelak. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat,  yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)." (Surat al-Maarij: 19-25) Dan firman-Nya, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka." (Surat al-Taubah: 103)  Dan firman-Nya, "Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung." (Surat al-Hasyr: 9)

Akhlak yang mulia, diperoleh dengan Riyadhah dan Tarbiyah. Maka, seorang muslim berusaha menumbuhkan akhlak baik yang ingin dijadikannya sebagai akhlaknya, dengan cara selalu memikirkan Targhib (dorongan) untuk berhiaskan akhlak mulia dan Tarhib (ancaman) dari akhlak buruk yang terdapat dalam syariat yang lurus. Untuk menumbuhkan sifat dermawan di dalam dirinya, ia menyimpuhkan hatinya untuk merenungi dan mentadabburi semisal firman Allah SWT, “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" (Surat al-Munafiqun: 10) Dan firman-Nya, "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa." (Surat al-Lail: 5-11) Dan firman-Nya, "Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi?" (Surat al-Hadid: 10) Dan firman-Nya, "Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan). " (Surat al-Baqarah: 272) Dan sabda Rasulullah Saw, “Sesungguhnya Allah SWT itu Maha Pemberi dan suka sifat derma. Dia mencintai akhlak-akhlak yang mulia dan membenci akhlak-akhlak yang rendah/ hina.”(1) Dan sabda Rasulullah Saw, “Tidak ada kedengkian kecuali dalam dua hal; seseorang yang diberikan harta oleh Allah SWT, kemudian ia menggunakannya dalam kebenaran; seseorang yang Allah SWT berikan hikmah, kemudian ia mengamalkannya dan mengajarkannya.”(2) Dan sabdanya, “Manakah yang paling disukai di antara kalian; harta warisannya atau hartanya sendiri?” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun di antara kami kecuali hartanya lebih dicintainya.” Beliau menjawab, “Hartanya itu adalah apa yang terdahulu, dan harta warisannya adalah apa yang terakhir.”(3) Dan sabdanya, “Takutlah dengan Neraka, walaupun dengan sepotong kurma.”(4) Dan sabdanya, “Tidaklah para hamba berada di pagi hari, kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah seorang di antara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti kepada yang berinfak.’ Dan yang lainnya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kehancuran bagi yang tidak mau berinfak.”(5) Dan sabdanya, “Takutkanlah dengan kekikiran, sebab kikir itu sudah menghancurkan orang-orang sebelum kalian, menggiring mereka untuk menumpahkan darah di antara mereka, dan menghalalkan hal-hal yang diharamkan kepada mereka.”(6) Dan sabdanya, “Semuanya tersisa kecuali bahunya.” Ini diucapkan oleh Aisyah radhiyallahu anha ketika ditanya tentang apa yang tersisa dari domba yang mereka sembelih. Maka, ia menjawab bahwa tidak ada yang tersisa kecuali bahunya. Maksudnya, ia sudah menyedekahkan semuanya dan tidak ada dagingnya yang tersisa kecuali bahunya. Dan sabda Rasulullah Saw, “Siapa yang bersedekah setara dengan sebuah kurma dari hasil usahanya yang baik, dan Allah SWT tidak menerima kecuali yang baik, maka Allah SWT akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya, kemudian menumbuhkannya untuk pemiliknya sebagaimana salah seorang di antara kalian menumbuhkan ternaknya sampai seperti gunung.”(7)


Di antara Bentuk Kedermawanan


1. Seseorang memberikan sesuatu tanpa meyebut-menyebut dan menyakiti orang yang diberinya. 

2. Orang yang memberi, merasa senang dengan orang yang meminta kepadanya, dan bahagia memberikannya. 

3. Orang yang bersedekah , tidak berlebihan dan tidak juga kikir. 

4. Orang yang memiliki banyak harta, memberi dengan jumlah yang banyak. Dan orang yang memiliki sedikit harta, memberi dengan jumlah yang sedikit, dengan jiwa yang ridha dan wajah ceria, serta kata-kata yang baik. 


Di antara Contoh Mulia Kedermawanan


1. Diriwayatkan, bahwa Muawiyah radhiyallahu anhu mengirim utusan kepada Aisyah radhiyallahu anha dengan membawa uang yang jumlahnya sekitar 180.000 dirham. Kemudian, ia membuat jamuan dan membaginya kepada orang-orang. Ketika sudah sore, maka ia berkata kepada budak perempuannya, “Bawakanlah sajian berbukaku.” Maka, budak perempuannya itu membawakan roti dan zait. Aisyah berkata, “Apakah engkau tidak bisa membeli daging dengan uang yang engkau bagikan hari ini, sedirham saja agar kita bisa menyajikanya untuk berbuka?” Ia menjawab, “Jikalau engkau tadi mengingatkanku untuk begitu, maka saya akan melakukannya.”

2. Diriwayatkan, bahwa Abdullah bin Amr membeli rumah Khalid bin Utbah bin Mu’ith yang berada di pasar Makkah seharga 70.000 dirham. Ketika malam hari, Abdullah mendengar tangisan keluarga Khalid. Ia pun bertanya mengenai hal itu, dan dikatakan kepadanya, “Mereka menangisi dirham.” Kemudian ia berkata kepada budaknya, “Datangi mereka dan beritahukan bahwa rumah dan dirhamnya, semuanya untuk mereka.”

3. Diriwayatkan, bahwa ketika al-Imam al-Syafii rahimahullah sakit yang menyebabkan kematiannya, ia berwasiat agar dimandikan oleh Fulan. Ketika meninggal, maka orang-orang memanggil orang yang namanya diwasiatkan tadi untuk memandikannya. Ketika hadir, ia berkata, “Berikan kepadaku surat wasiatnya.” Maka, mereka memberikannya kepada laki-laki tersebut. Ternyata, dalam surat wasiatnya itu ada hutang yang harus dibayarkan oleh al-Imam al-Syafii yang jumlahnya 70.000 dirham. Kemudian laki-laki tadi menulisnya agar dilunasi kepada para pemiliknya. Setelahnya ia berkata, “Inilah cara saya memandikannya.” Dan ia pun pergi. 

4. Diriwayatkan, bahwa taktala Rasulullah Saw bersiap untuk memerangi Rum. Ketika itu, kaum muslimin berada dalam kesempitan yang nyata dan kesulitan yang tidak terhinggakan, sehingga pasukan Rasulullah Saw dinamakan dengan Jaisy al-‘Usrah (pasukan yang kesulitan). Kemudian, Utsman bin Affan radhiyallahu anhu bersedekah sejumlah 10.000 dinar, 300 unta dengan pelananya dan perlengkapannya, ditambah 50 kuda. Dengan itu, ia sudah menyiapkan setengah pasukan. 


Catatan Kaki: 

(1) Disebutkan oleh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari (1/30), disebutkan juga dalam Kanz al-Ummal (275057, dan disebutkan juga oleh al-Suyuthi dalam Jam’ al-Jawami’ (4784)

(2) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1/28), (2/134)

(3) Disebutkan oleh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari (11/260), kemudian juga disebutkan dalam al-Targhib wa al-Tarhib (2/7)

(4) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (2/146), (4/24)

(5) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (2/142)

(6) Diriwayatkan oleh Muslim (4)

(7) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (2/134), (9/154), dan al-Imam Ahmad (2/331)

Sikap Jujur (al-Shidq) Menurut Islam

Seorang muslim itu adalah sosok yang jujur, mencintai kejujuran dan melaziminya, baik lahir maupun batin, dalam segala ucapannya maupun dalam segala perbuatannya. Sebab, kejujuran akan mengantarkannya kepada kebajikan, dan kebajikan akan mengantarkannya ke surga. Dan surga adalah tujuan paling tinggi seorang muslim dan puncak harapannya. Dusta adalah lawan dari jujur dan anonimnya, mengantarkan kepada maksiat. Dan maksiat akan mengajarkannya ke Neraka. Dan Neraka adalah tempat yang paling ditakuti seorang muslim dan paling dihindarinya. 

Seorang muslim, tidak memandang “kejujuran” sekadar sifat baik yang harus ada di dalam dirinya, tapi juga melihatnya ke sisi yang lebih jauh. Ia berpandangan, bahwa jujur  merupakan salah satu penyempurna keimanannya dan pelengkap keislamannya. Sebab, Allah SWT memerintahkannya untuk bersikap jujur dan memuji orang-orang yang menghiasi dirinya dengan sifat ini, sebagaimana Rasulullah Saw memerintahkannya dan menyerukannya. Allah SWT berfirman memerintahkan sikap jujur ini, “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. " (Surat al-Taubah: 119) Dan pujian-Nya terhadap pelakunya, "ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah." (Surat al-Ahzab: 23) Dan firman-Nya, "laki-laki dan perempuan yang benar." (Surat al-Ahzab: 35) Dan firman-Nya, "Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (Surat al-Zumar: 33) Dan sabda Rasulullah Saw yang memerintahkannya, “Kalian harus jujur, sebab kejujuran akan mengantarkan kepada kebajikan, dan kebajikan akan mengantarkan ke surga. Seseorang akan terus bersikap jujur sampai ia ditetapkan di sisi Allah SWT sebagai orang yang jujur. Hati-hati dengan Dusta. Sebab, dusta akan mengantarkan kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan akan mengantarkan ke Neraka. Seseorang akan terus berdusta, sampai ia ditetapkan di sisi Allah SWT sebagai pendusta.”(1)

Kejujuran itu memilih buah baik yang akan dipanen oleh orang-orang yang jujur, dan inilah jenis-jenisnya: 

1. Ketentraman jiwa dan ketenangan hati, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Jujur itu ketenangan.”(2)

2. Berkah dalam penghasilan dan bertambahnya kebaikan, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Dua yang berjual beli berada dalam khiyar (hak pilih) selama keduanya belum berpisah. Jikalau keduanya bersikap jujur dan saling terbuka, maka diberkahilah perdagangan keduanya. Jikalau keduanya saling menutupi dan saling berdusta, maka dihapuslah keberkahan perdagangan keduanya.”(3)

3. Mendapatkan kedudukan para syahid, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Siapa yang meminta kesyahidan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya, maka Allah SWT akan mengantarkannya ke posisi para syahid, walaupun ia meninggal di atas tempat tidurnya.”(4)

4. Selamat dari hal yang tidak disukai. Dihikayatkan, bahwa ada seseorang yang lari ke rumah seseorang shaleh. Ia berkata, “Sembunyikan diriku dari orang yang sedang mencariku.” Ia berkata, “Tidurlah disini.” Kemudian ia meletakkan ikatan daun kurma di atas badannya. Ketika para pencarinya mencarinya dan menanyakannya, maka ia menjawab, “Ini dia di bawah ikatan daun kurma.” Mereka menyangka bahwa orang shaleh ini mempermainkan mereka. Maka, mereka meninggalkannya. Kemudian, laki-laki tadi selamat karena berkah kejujuran orang yang shaleh. 


Kejujuran itu ada Tanda-Tandanya 


1.   Jujur dalam Berkata. Jikalau seorang muslim berkata, maka ia tidak mengatakan kecuali yang hak dan jujur. Jikalau ia memberitahukan suatu kabar, maka ia tidak memberitahukannya kecuali sesuai dengan realitanya. Sebab, perkataan dusta merupakan bentuk kemunafikan dan salah satu tandanya. Rasulullah Saw bersabda, “Tanda munafik itu ada tiga; Jikalau berbicara, dusta; jikalau berjanji, menyelisihi; dan jikalau dipercaya, khianat.”(5)

2. Jujur dalam Muamalah. Jikalau seorang muslim bermuamalah dengan yang lainnya, maka ia tidak menipu, tidak berdusta, dan tidak berbohong, apapun kondisinya. 

3. Jujur dalam Azzam. Jikalau seorang muslim berazzam untuk melakukan sesuatu yang layak dilakukannya, maka ia tidak ragu-ragu melakukannya, bahkan ia terus melangkah mengerjakannya tanpa menoleh kepada apapun, atau peduli dengan yang lainnya sampai ia menyelesaikan pekerjaannya. 

4. Jujur dalam Janji. Jikalau seorang muslim berjanji kepada yang lainnya, maka ia akan menjalankan janjinya. Sebab, mengingkari janji adalah salah satu tanda kemunafikan, sebagaimana sudah dijelaskan di hadits sebelumnya. 

5. Jujur dengan Kondisi. Seorang muslim tidak berpenampilan dengan penampilan palsu, zahirnya tidak menyelisihi batinnya. Ia tidak memakai pakaian menipu, tidak bersikap riya, dan tidak membebani dirinya dengan sesuatu yang tidak dimilikinya, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Orang yang merasa kenyang dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya, seperti orang yang memakai dua pakaian palsu.”(6)  Artinya, orang yang berhias dan bergaya dengan sesuatu yang tidak dimilikinya, seperti orang yang memakai dua pakaian rombeng agar ia terlihat zuhud, padahal ia tidak zuhud dan tidak juga miskin.


Di antara Contoh Mulia Kejujuran


1. Diriwayatkan oleh al-Turmudzi dari Abdullah bin al-Hamsa’ berkata, “Kami bertransaksi dengan Rasulullah Saw sebelum beliau diutus menjadi Nabi. Masih ada jualan miliknya yang tersisa. Kemudian saya berjanji akan mendatanginya di tempatnya. Namun saya terlupa dan baru ingat setelah tiga hari. Kemudian saya mendatanginya, dan ternyata beliau masih berada di tempatnya, seraya berkata, “Wahai Anak Muda, engkau menyusahkanku. Saya berada di sini semenjak tiga hari menunggumu.”

Apa yang terjadi kepada Nabi kita Muhammad Saw juga terjadi kepada kakek buyutnya Ismail bin Ibrahim sang Khalilullah, sampai Allah SWT memuji dalam Kitab-Nya yang mulia, “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi." (Surat Maryam: 54)

2. Suatu hari, al-Hajjaj bin Yusuf berkhutbah/ berpidato dengan durasi yang lama, kemudian salah seorang yang hadir berkata, “Shalat dulu, sebab waktu tidak menunggumu, Rabb tidak memberikanmu izin menunda.” Al-Hajjaj bin Yusuf memerintahkan penjaganya agar orang tersebut dipenjara. Kemudian, datanglah kaumnya dan menyatakan bahwa laki-laki itu gila. Al-Hajjaj mengatakan, “Jikalau ia mengaku gila, maka saya akan membebaskannya dari penjara.” Laki-laki itu menjawab, “Tidak layak bagiku mengkufuri nikmat yang sudah diberikan oleh Allah SWT kepadaku, dengan menyematkan sifat gila kepada diriku yang Allah SWT selamatkan diriku darinya.” Ketika al-Hajjaj menyaksikan kejujurannya, maka ia membebaskannya. 

3. Diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah, bahwa suatu kali ia mencari hadits dari seseorang. Ia menyaksikan kuda orang itu berlari, dan orang tersebut mengarahkan selendangnya kepada kuda, seakan-akan di dalam selendangnya itu ada gandum, dan kudanya mengejarnya untuk mengambilnya. Al-Bukhari bertanya, “Apakah ada gandum bersamamu?” Ia menjawab, “Tidak, tetapi saya membuatnya seolah-olah ada.” Al-Bukhari berkata, “Saya tidak akan mengambil hadits dari orang yang berdusta kepada binatang ternak.” Inilah pemisalan mulia dari al-Bukhari terkait kejujuran. 


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh Muslim (105) dalam Kitab al-Birr wa al-Shilat

(2) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (2518) dan dishahihkannya dengan lafadz, “Tinggalkanlah apa yang membuatmu ragu kepada apa yang tidak membuatmu ragu. Kejujuran itu adalah ketenangan, dan dusta itu adalah keraguan.”

(3) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (3/76, 77, 84, 85)

(4) Diriwayatkan oleh Muslim (157) dalam Kitab al-Imarah

(5) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1/15), (3/236), Muslim (107, 109) dalam Kitab al-Iman, dan al-Imam Ahmad (1/357)

(6) Diriwayatkan oleh Muslim (126, 127) dalam Kitab al-Libas

Sikap Ihsan (Berbuat Baik) Menurut Islam

Seorang muslim tidak memandang “Ihsan” sekadar akhlak mulia yang menjadi etikanya, tetapi ia memandangnya sebagai bagian dari akidahnya, bagian terbesar dari keislamanannya. Sebab, pondasi agama Islam adalah tiga perkara; Iman, Islam, dan Ihsan, sebagaimana penjelasan Rasulullah Saw kepada Jibril alaihissalam dalam hadits yang Muttafaq alaihi, yaitu taktaka Jibril alaihissalam bertanya kepadanya tentang Iman, Islam, dan Ihsan. Setelah ia pergi, maka beliau bersabda, “Itu adalah Jibril, mendatangi kalian untuk mengajarkan agama kalian.” Beliau menamakan tiga hal tadi sebagai agama. Allah SWT memerintahkan “Ihsan” itu bukan di satu tempat saja dalam al-Quran al-Karim. Dia berfirman, “Berbuat baiklah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Surat al-Baqarah: 195) Dan firman-Nya, “Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil dan Ihsan.” (Surat al-Nahl: 90) Dan firman-Nya, “serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia." (Surat al-Baqarah: 83) Dan firman-Nya, “Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu." (Surat al-Nisa: 36) 

Dan sabda Rasulullah Saw, “Allah SWT menetapkan Ihsan dalam segala sesuatu. Jikalau kalian membunuh, maka membunuhlah dengan baik. Jikalau kalian menyembelih, maka menyembelihlah dengan baik. Hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan membuat sembelihannya nyaman.”(1)

Ihsan dalam Bab Ibadah: Mengerjakan ibadah; apapun itu, baik shalat, atau puasa, atau haji, atau selainnya dengan cara yang benar, menyempurnakan segala syaratnya dan rukunnya, menjaga segala sunnahnya dan segala adabnya. Seorang hamba tidak akan mampu melakukannya, kecuali ketika sedang menjalankan ibadah dirinya dipenuhi perasaan yang kuat selalu diawasi oleh Allah SWT, sampai seakan-akan ia melihat-Nya dan meyaksikan-Nya, atau minimal ia merasa bahwa Allah SWT melihatnya dan menyaksikannya. Hanya dengan ini, ia bisa memperbagus ibadahnya dan meperbaikinya, sehingga bisa menjalankannya sesuai dengan bentuk yang diinginkan oleh Syariat dan bentuk yang sempurna. Inilah yang ditunjukkan oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya, “Ihsan itu engkau menyembah Allah SWT seakan-akan engkau melihat-Nya. Jikalau engkau tidak melihat-Nya, maka Dia melihatmu.”(2)

Sedangkan Ihsan dalam Bab Muamalat: Kepada kedua orangtua, dengan berbakti kepada keduanya, yaitu dengan menaati keduanya. Kemudian juga berbuat baik kepada keduanya, tidak menyakiti keduanya, mendoakan dan memohonkan ampunan bagi keduanya, menunaikan janji keduanya, dan memuliakan sahabat keduanya. 

Kepada para kerabat, dengan berbakti kepada mereka dan menyayangi mereka, menjaga hak-hak mereka, berlemah lembut dan santun kepada mereka, berbuat yang baik terhadap mereka, tidak menyakiti mereka, atau berlaku keji kepada mereka, baik dengan ucapan maupun perbuatan. 

Kepada anak-anak Yatim, dengan menjaga harta-harta mereka, memelihara hak-hak mereka, mendidik mereka dan tidak menyakiti mereka, tidak memaksa mereka, mengusap wajah mereka, dan membelai kepala mereka. 

Kepada orang-orang yang miskin, dengan menghilangkan rasa lapar mereka, menutup aurat mereka, mendorong yang lainnya untuk memberi mereka makan dan tidak merendahkan kehormatan mereka, sehingga mereka tidak meresa dihinakan dan tidak pula disepelekan. Mereka tidak merasa diperlakukan buruk atau disakiti. 

Kepada Ibn Sabil, dengan memenuhi kebutuhannya, menutupi kekurangannya, menjaga hartanya, memelihara kehormatannya, dengan menunjukinya jikalau meminta petunjuk, dan memberikan arahan jikalau tersesat. 

Kepada Pelayan, dengan memberikan upahnya sebelum kering keringatnya, tidak mewajibkannya atau membebaninya dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukannya, menjaga kehormatannya, menghargai pribadinya. Jikalau ia adalah pembantu rumah tangga, maka dengan memberinya makan dengan makanan yang diberikannya kepada keluarganya sendiri, memberinya pakaian dari jenis yang mereka pakai. Dan kepada Seluruh Manusia, dengan berkata lemah lembut kepada mereka, berbasa-basi dalam bermuamalah dan berbicara dengan mereka, setelah memerintahkan mereka melakukan kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran, dengan menunjuki orang yang tersesat di antara mereka, mengajarkan orang yang jahil di antara mereka dan bersikap adil terhadap mereka, mengakui hak-hak mereka, tidak menyakiti mereka, tidak melakukan sesuatu yang akan membahayakan mereka atau melakukan sesuatu yang akan menyakiti mereka. 

Kepada Hewan, dengan memberikannya makanan jikalau kelaparan, mengobatinya jikalau sakit, tidak membebaninya dengan sesuatu yang tidak mampu dan tidak kuasa dipikulnya, dengan sikap lemah lembut terhadapnya jikalau bekerja, atau memberikannya kesempatan beristirahat jikalau lelah. 

Jikalau bekerja dengan Badan (Tenaga), maka haruslah dikerjakan dengan professional, memproduksi dengan sebaik mungkin, tidak menipu dalam bekerja, berdasarkan sabda Rasulullah Saw dalam al-Shahih, “Siapa yang menipu kami, maka bukanlah dari kami.”(3)


Di antara Bentuk Ihsan


1. Dalam Perang Uhud, Kaum Musyrikin membunuh paman Nabi Muhammad Saw dan memutilasinya, membuat gerahamnya patah dan melukai wajahnya, sehingga salah seorang sahabatnya memintanya untuk mendoakan kehancuran kaum Musyrikin dan orang-orang yang zalim, namun beliau menjawab, “Ya Allah, ampunilah kaumku, sebab mereka tidak tahu.”

2. Suatu hari, Umar bin Abdul Aziz berkata kepada budak perempuannya, “Kipasilah saya sampai saya tertidur.” Kemudian ia mengipasinya sampai tertidur, dan ia sendiri juga tertidur. Ketika Umar bin Abdul Aziz terbangun, maka ia mengambil kipas itu dan mengipasi budak perempuannya. Ketika budak itu bangun dan melihat Umar mengipasinya, maka ia berteriak. Umar bin Abdul Aziz berkata, “Engkau hanyalah seorang manusia seperti diriku, merasakan panas sebagaimana saya merasakannya. Maka, saya ingin mengipasimu sebagaimana engkau mengipasiku.”

3. Salah seorang Salaf marah sekali kepada seorang budak dan ingin memukulnya. Kemudian, budak itu berkata, “Dan orang-orang yang menahan kemaran.” Ia menjawab, “Saya sudah menahan marahku.” Ia berkata lagi, “Dan orang-orang yang memaafkan orang lain.” Ia menjawab, “Saya sudah memaafkanmu.” Budak itu berkata lagi, “Dan Allah SWT mencintai orang-orang yang berbuat baik.” Ia menjawab, “Pergilah, engkau merdeka karena Allah SWT.”


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh Muslim (57) dalam Kitab al-Zabaih

(2) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (6/144)

(3) Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab al-Iman (164) dan Musnad Ahmad (3/498)

Sikap Malu (al-Haya') dalam Islam

Seorang muslim selalu menjaga dirinya dan memiliki sikap malu. Malu itu sudah menjadi sikapnya. Malu merupakan sebagian dari iman, dan iman adalah akidah seorang muslim dan tiang kehidupannya. Rasulullah Saw bersabda, “Iman itu tujuh puluh lima atau enam puluh lima cabang. Paling afdhalnya adalah La Ilaha Illallah, dan paling rendahnya adalah membuang duri di jalanan. Dan sikap malu adalah salah satu cabang keimanan.”(1) Rahasia di balik penetapan “Sikap Malu sebagai bagian dari iman” adalah, sebab keduanya menyerukan kebaikan, menjauhkan dari keburukan. Iman itu mendorong kaum mukmin untuk menjalankan ketaatan dan meninggalkan maksiat. Dan sikap malu menghalangi pelakunya untuk tidak lalai bersyukur kepada Zat yang Maha Memberikan nikmat dan memberikan hak kepada yang berhak mendapatkannya, sebagaimana sikap malu itu juga menghalanginya melakukan perbuatan yang buruk atau berkata buruk, sebagai upayanya menjaga diri dari celaan dan cacian. Berdasarkan hal ini, sikap malu adalah kebaikan. Dan ia tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan. Sebagaimana riwayat shahih dari Rasulullah Saw, “Sikap Malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan.”(2) Dan sabdanya dalam riwayat Muslim, “Sikap Malu itu, semuanya baik.”


Kebalikan dari Sikap Malu itu adalah al-Badza’ (Tidak Tahu Malu), suka berkata dan berbuat keji, berkata-kata kasar. Seorang muslim itu bukanlah seseorang yang suka berbuat keji atau pelaku kekejian. Sebab, itu adalah salah satu sifat penduduk Neraka. Dan seorang muslim, Insya Allah, salah salah satu penghuni surga. Tidak dikenal dalam akhlaknya, sikap “Tidak Tahu Malu dan Kasar.” Dalil masalah ini adalah sabda Rasulullah Saw, “Sikap Malu merupakan bagian dari keimanan, dan iman itu berada di surga. Dan Sikap Tidak Tahu Malu merupakan bagian dari Kekasaran, dan kekasaran berada di Neraka.”(3)


Teladan seorang muslim dalam akhlak yang agung dan mulia ini adalah Rasulullah Saw; penghulu orang-orang yang terdahulu dan kemudian. Sebab, beliau lebih pemalu dari gadis perawan yang dipingit, sebagaimana hal itu diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Said, yang menjelaskan, “Jikalau beliau melihat sesuatu yang tidak disukainya, maka kami mengetahuinya dari wajahnya.”


Ketika seorang muslim menyeru untuk menjaga sikap Malu dan menumbuhkannya di dalam diri, maka itu artinya ia menyerukan kebaikan dan menunjukkan kebajikan. Sebab, sikap malu merupakan bagian dari iman, dan iman adalah kumpulan fadhilah (keutamaan) dan unsur kebaikan. Dalam al-Shahih dijelaskan, bahwa Rasulullah Saw melewati seorang laki-laki yang menasehati saudaranya untuk bersikap malu, kemudian beliau bersabda, “Biarkan dirinya, sebab Malu merupakan bagian dari iman.”(4) Dengan begitu, Rasulullah Saw menyeru seorang Muslim untuk mempertahankan sikap Malu di dalam dirinya dan melarangnya untuk menanggalkannya. Walaupun, sikap Malunya itu akan membuatnya kehilangan sejumlah haknya. Sebab, hilangnya sejumlah hak yang dimiliki oleh seseorang, jauh lebih baik daripada ia kehilangan sikap Malu yang merupakan bagian dari keimanannya dan keistimewaannya sebagai manusia, serta merupakan inti kebaikannya. Semoga Allah SWT merahmati seorang perempuan yang kehilangan anaknya. Kemudian, ia berhenti di suatu kaum dan bertanya kepada mereka tentang anaknya. Ada di antara mereka yang menjawab, “Ia bertanya tentang anaknya dengan menggunakan cadar?” Ia berkata, “Kehilangan anakku lebih baik bagiku dari kehilangan rasa Malu, wahai para lelaki.”(5)


Sikap malu yang ada dalam diri seorang muslim, tidak menghalanginya untuk menyampaikan kebenaran atau mencari ilmu, atau memerintahkan kebaikan, atau mencegah kemungkaran. Usamah bin Zaid, orang yang dicintai oleh Rasulullah Saw dan anak dari orang yang dicintainya, pernah memberikan syafaat (keringanan) kepada seorang perempuan di dekat Rasulullah Sae. Beliau berkata kepadanya dengan penuh kemarahan, “Apakah engkau memberikan syafaat (keringanan) dalam hukum Allah SWT wahai Usamah? Demi Allah, jikalau Fulanah mencuri, maka saya akan memotong tangannya.”(6) 


Sikap Malu tidak menghalangi Umm Sulaim al-Anshariyyah untuk mengatakan, “Wahai Rasulullah, Allah SWT tidak malu dengan kebenaran, apakah perempuan itu harus mandi jikalau bermimpi?” Rasulullah Saw menjawab, dan beliau tidak terhalang untuk menjawabnya karena Sikap Malu, “Ya, jikalau ia melihat air.”(7) Suatu kali Umar berkhutbah tentang mahalnya mahar, kemudian seorang perempuan mengatakan, “Allah SWT memberikannya kepada kami, dan engkau melarangnya wahai Umar? Bukanlah Allah SWT berfirman, “sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun." (Surat al-Nisa: 20) Sikap Malu tidak menghalanginya untuk membela hak para wanita, dan Sikap Malu tidak menghalangi Umar untuk mengucapkan maaf dengan berkata, “Semua orang lebih pintar darimu, wahai Umar.” Sebagaimana suatu kali ia berkhutbah di tengah khalayak kaum muslimin. Ketika itu, ia memakai dua pakaian. Ia memerintahkan seluruh rakyatnya untuk mendengarkan dan patuh. Kemudian ada salah seorang di antara kaum muslimin yang berkata, “Kami tidak akan mendengarkan dan tidak akan mematuhinya wahai Umar. Engkau memakai dua pakaian, sedengkan kami hanya memakai satu pakaian saja.” Kemudian Umar memanggil dengan suara keras, “Wahai Abdullah bin Umar.” Anaknya menjawab, “Ya, bapakku.” Ia berkata, “Demi Allah, bukankanlah salah satu pakaianku ini adalah pakaianmu yang engkau berikan kepadaku?” Ia menjawab, “Ya, demi Allah.” Kemudian laki-laki tadi berkata, “Sekarang, kami akan mendengarkan dan akan patuh wahai Umar.” Lihatlah, bagaimana Sikap Malu tidak menghalangi laki-laki tadi untuk berkata, dan tidak juga menghalangi Umar untuk mengakui. 


Seorang muslim merasa malu terhadap makhluk Allah SWT, sehingga ia tidak memperlihatkan auratnya kepada mereka, tidak melalaikan hak mereka, tidak menyelisihi kebaikan yang mereka sampaikan, tidak berbicara buruk kepada mereka atau dengan sesuatu yang tidak mereka sukai. Ia juga merasa malu terhadap Khalik (Allah SWT), sehingga ia tidak lalai menaati-Nya, tidak lalai bersyukur atas nikmat-Nya. Sebab, ia menyaksikan bagaimana kuasa-Nya terhadap dirinya dan pengetahuan-Nya tentang dirinya, sebagai bentuk implementasi dari ucapan Ibn Mas’ud, “Malulah kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya. Jagalah kepala dan kesadarannya, jagalah perut dan isinya, ingatlah kematian dan kehancuran.”(8) Dan sabda Rasulullah Saw, “Dan Allah SWT lebih berhak untuk dimalui dari manusia.”(9)


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab al-Iman (58)

(2) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (8/35) dan Muslim dalam Kitab al-Iman (60)

(3) Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab al-Iman (59), dan al-Imam Ahmad (912, 501) dengan sanad yang shahih. Maksud kekasaran berada di Neraka, bahwa pelakunya berada di Neraka sebagaimana orang yang beriman berada di Surga. 

(4) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1/12), (8/35), Abu Daud (4795), dan al-Nasai (8/121)

(5) Diriwayatkan Abu Daud (2488)

(6) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (4/213), Abu Daud (4373), dan al-Turmudzi (1430)

(7) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1/78), (4/160)

(8) Diriwayatkan oleh al-Mubdziry secara Marfu’, dan dikuatkan Mauqufnya di Ibn Mas’ud radhiyallahu anhu

(9) Diriwayatkan oleh Abu Daud (4017) dan al-Turmudzi (2794). Hadits lengkapnya: Dari Abu Hurairah berkata, “Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, aurat kami, bagian manakah yang boleh diperlihatkan dan yang harus dijaga?’

Sikap al-Rahmah (Kasih Sayang)

Seorang muslim itu penyayang. Dan sikap kasih sayang adalah salah satu akhlak yang melekat pada dirinya. Sebab, pondasi kasih sayang itu adalah kejernihan jiwa dan kesucian ruh. Seorang muslim, dengan kebaikan yang dilakukannya, dengan amal shaleh yang dikerjakannya, dengan keburukan yang dijauhinya, dan dengan segala kerusakan yang dihindarinya, ia selalu berada dalam kesucian jiwa dan kebaikan ruh. Siapa yang kondisinya seperti ini, maka sikap al-rahmah (kasih sayang) tidak akan hilang dari hatinya. Karena itulah, seorang muslim mencintai al-Rahmah, melakukannya, dan menasehati dan menyeru yang lainnya untuk melakukannya, sebagai pembenaran dari firman Allah SWT, “Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.  Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan." (Surat al-Balad: 17-18) Kemudian juga mengamalkan sabda Rasulullah Saw, “Allah SWT hanya menyayangi para hamba-Nya yang penyayang.”(1) Dan sabdanya, “Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, maka semua yang ada di langit akan menyayangi kalian.”(2) Kemudian juga berdasarkan petunjuk Rasulullah Saw, “Siapa yang tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi.” Dan sabdanya, “Tidak dicabut kasih sayang itu kecuali dari orang yang sakit (sengsara).”(3) Dan implementasi sabdanya, “Pemisalan seorang muslim dalam kasih sayang mereka, cinta kasih mereka, dan lemah-lembut di antara mereka, layaknya sebuah tubuh yang jikalau ada bagiannya merasa sakit, maka seluruh bagian tubuh lainnya akan begadang dan demam.”(4)


Al-Rahmah (Kasih Sayang), walaupun hakikatnya adalah kelembutan hati dan jiwa yang melahirkan sikap mengampunkan dan berbuat baik, namun ia bukan semata-mata perasaan hati yang tidak ada pengaruh eksternalnya. Bahkan, ia memiliki pengaruh-pengaruh eksternal dan ciri-ciri hakiki yang tampak jelas di alam nyata. Di antara pengaruh eksternal dari sikap al-Rahmah ini adalah memaafkan jikalau ada kesalahan, mengampunkan orang yang melakukan kesalahan, membantu orang yang membutuhkan, membantu orang yang lemah, memberi makan orang yang kelaparan, memberikan pakaian kepada orang yang tidak punya pakaian, mengobati orang yang sakit, dan menghibur orang yang sedang berduka. Semua ini adalah efek al-Rahmah (Kasih Sayang). Dan, masih banyak yang lainnya. 


Di antara Tanda-Tanda al-Rahmah (Kasih Sayang) yang Tampak Nyata dan Jelas Dilihat dan Disaksikan adalah Sebagai Berikut: 

1-Diriwayatkan oleh al-Bukhari, dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata, “Kami bersama Rasulullah Saw menemui Abu Yusuf al-Qiyyim. Ia adalah suami Khaulah binti al-Mundzir; ibu susuan Ibrahim. Kemudian Rasulullah Saw menggendong Ibrahim anaknya dan menciumnya. Setelah itu, kami menemuinya. Ibrahim menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua mata Rasulullah Saw meneteskan air mata. Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhu mengatakan, “Dan engkau wahai Rasulullah?!” Beliau menjawab, “Wahai Ibn Auf, ia adalah al-Rahmah (Kasih Sayang).” Kemudian beliau melanjutkan, “Mata mengucurkan airnya, dan hati bersedih. Kita tidak  mengucucapkan kecuali apa yang diridhai Rabb kita. Sesungguhkan kami bersedih karena berpisah denganmu wahai Ibrahim.”(5)

Kunjungan Rasulullah Saw kepada anaknya yang masih kecil di rumah susuannya dan menciumnya, kemudian membesuknya ketika menghembuskan nafas terakhirnya, dan tetesan air matanya karena bersedih, semua itu adalah bagian dari tanda-tanda al-Rahmah di dalam hati. 

2-Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Ada seorang laki-laki yang berjalan dan merasa haus sekali.  Kemudian ia masuk ke dalam sebuah sumur dan minum. Ketika keluar, ia mendapati seekor anjing yang menggais-gais tanah karena haus. Ia berkata, ‘Anjing ini merasakan apa yang saya rasakan.’ Maka, ia mengisi Khuff (sepatunya) dengan air, kemudian menggigitnya dan naik ke atas, kemudian memberi minum anjing tadi. Allah SWT berterimakasih kepadanya dan mengampunkan dosanya.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, apakah perbuatan kami terhadap binatang-binatang ternak juga mendapatkan pahala?” Beliau menjawab, “Di setiap yang memiliki jantung yang basah, ada pahalanya.”(6)

Turunnya laki-laki tadi ke dalam sumur, kemudian bersusah payah mengeluarkan air dan memberikannya kepada anjing yang kehausan, semua ini merupakan bagian dari tanda-tanda kasih sayang yang ada di dalam hatinya. Jikalau bukan karena itu, ia tidak akan melakukan apa yang sudah dilakukannya. 

Ini berkebalikan dari hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi Saw bersabda, “Seorang perempuan disiksa karena seekor kucing yang dikurungnya sampai mati. Hal itu menyebabkanya masuk Neraka.” Dikatakan kepadanya, “Engkau tidak memberinya makan dan tidak memberinya minum ketika mengurungnya, dan engkau tidak juga membiarkannya makan serangga tanah.”(7)

Perbuatan perempuan ini merupakan salah satu tanda kasarnya hati dan tercerabutnya rasa kasih sayang. Rasa Kasih Sayang itu tidak akan dicabut kecuali dari hati yang sakit. 

3-Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Qatadah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Saya mengerjakan shalat dan ingin memanjangkannya, kemudian saya mendengar tangisan anak kecil. Maka, saya mempercepatnya karena saya tahu derita perasaan ibunya karena tangisannya.”(8)

Nabi Saw tidak jadi memanjangkan shalatnya, padahal beliau sudah berazzam melakukannya, kemudian derita perasaan sang ibu karena tangisan anaknya, merupakan salah satu tanda al-Rahmah (Kasih Sayang) yang Allah SWT tempatkan di dalam hati orang-orang yang mengasihi dari kalangan hamba-Nya. 

4-Diriwayatkan, bahwa Zainal Abidin Ali bin al-Husain radhiyallahu anhu sedang berjalan menuju Mesjid, kemudian ada seorang laki-laki yang mencacinya. Para pelayannya menghampiri laki-laki tersebut untuk  memukulnya dan menghajarnya. Namun, Zainal Abidin melarang mereka dan menghalangi mereka, karena kasihan dengan laki-laki tadi, seraya berkata, “Wahai engkau, saya lebih buruk dari yang engkau katakana tadi. Apa yang tidak engkau ketahui tentang diriku, lebih banyak dari yang engkau ketahui. Jikalau engkau membutuhkannya, maka saya akan menyebutkannya kepadamu.” Laki-laki itu merasa malu dan segan. Kemudian Zainal Abidin membuka bajunya (untuk diberikan kepadanya) dan memerintahkan agar ia diberi 1000 dirham. 

Sikap pemaaf ini, dan sikap baik ini, tidak lain adalah salah satu tanda kasih sayang yang bertahta di dalam hati cucu Rasulullah Saw.


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (2/100), (8/166)

(2) Disebutkan oleh al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra (9/41)

(3) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (1923), Abu Daud (4942), dan al-Imam Ahmad (2/310, 442)

(4) Diriwayatkan oleh Muslim (66) dalam Kitab al-Birr wa al-Shilat

(5) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (2/105)

(6) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (3/174), (8/11)

(7) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (54) dalam Kitab al-Anbiya, dan Muslim (151, 152) dalam Kitab al-Salam

(8) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (709)