Tampilkan postingan dengan label Minhaj_Adab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Minhaj_Adab. Tampilkan semua postingan

Adab-Adab Tidur Menurut Islam

Seorang muslim berpandangan, bahwa tidur adalah salah satu nikmat Allah SWT yang diberikan-Nya kepada para hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya, “Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. " (Surat al-Qashas: 73) Dan firman-Nya, "dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat." (Surat al-Naba': 9) Sebab, diamnya seorang hamba selama beberapa waktu di malam hari setelah bergerak  melangkah di siang hari, merupakan sesuatu yang akan membantu kehidupan jasmaninya, tumbuh kembangnya, dan semangatnya, agar ia bisa menjalankan tugas-tugasnya yang menjadi sebab penciptaannya. Untuk mensyukuri nikmat ini, seorang muslim harus menjaga adab-adab berikut ketika tidur: 


1. Tidak menunda tidurnya setelah shalat Isya, kecuali karena darurat, seperti mengkaji ilmu, atau berbicara dengan tamu, atau mengakrabi keluarga, berdasarkan riwayat Abu Barzah bahwa Nabi Saw tidak suka tidur sebelum menunaikan shalat Isya dan berbicara sesudahnya. (1)

2. Berusaha keras untuk tidur dalam kondisi berwudhu, berdasarkan sabda Rasulullah Saw kepada al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu anhu, “Jikalau engkau menghampiri tempat tidurmu, maka berwudhulah layaknya wudhumu untuk shalat.”(2)

3. Tidur dimulai dengan berbaring di tubuh bagian kanannya dan berbantalkan tangan kanannya. Tidak masalah jikalau setelahnya berubah posisi ke tubuh bagian kirinya, berdasarkan sabda Rasulullah aw kepada al-Barra’, “Jikalau engkau menghampiri tempat tidurmu, maka berwudhulah layaknya wudhumu untuk shalat. Kemudian, berbaringlah dengan bagian tubuhmu paling kanan.” Dan sabdanya, “Jikalau engkau menghampiri tempat tidurmu, dan engkau dalam kondisi suci, maka berbantallah dengan tangan kananmu.”(3)

4. Tidak tidur menelungkup, baik siang maupun malam, berdasarkan riwayat dari Nabi Saw yang bersabda, “Itu merupakan bentuk berbaringnya penduduk neraka.” Dan sabdanya, “Ia adalah bentuk berbaring yang tidak disukai oleh Allah SWT.”(4)

5. Membaca zikir-zikir yang ada periwayatannya, di antaranya: 

Pertama, membaca: 

سُبْحَانَ اللَّهِ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَلا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ

“Maha Suci Allah. Segala puji bagi Allah. Tidak ada Ilah melainkan Allah. Allah Maha Besar.” 

Kemudian membaca: 

لا إلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ ؛ وَلَهُ الحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Tidak ada Ilah melainkan Allah SWT semata, Tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kekuasannya, bagi-Nya segala pujian, dan Dia mampu melakukan segala sesuatu.”

Berdasarkan sabda Rasulullah Saw kepada Ali dan Fatimah radhiyallahu anhuma. Pada suatu hari, keduanya meminta kepada Rasulullah Saw untuk diberikan pelayanan untuk membantu keduanya di rumah, “Apakah kalian berdua ingin saya tunjukkan sesuatu yang lebih baik dari apa yang kalian berdua minta?” Jikalau kalian berdua menghampiri tempat tidur kalian, maka bertasbihlah sebanyak tiga puluh tiga kali, bertahmidlah sebanyak tiga puluh tiga kali, dan bertakbirlah sebanyak tiga puluh tiga kali. Dan itu lebih baik bagi kalian berdua dari seorang pelayan.”(5)


Kedua, Membaca Surat al-Fatihah dan awal surat al-Baqarah sampai bagian … al-muflihun. Kemudian membaca ayat Kursi dan penutup surat al-Baqarah (lillahi maa fis samawati…) sampai akhir surat karena ada perintah untuk melakukannya. 


Ketiga, Terakhir, ia membaca doa berikut ini, yang berasal dari Nabi Saw: 

باسْمِكَ رَبِّي وَضَعْتُ جَنْبِي، وَبِكَ أرْفَعُهُ، فَإنْ أمْسَكْتَ نَفْسِي فَاغْفِرْ لَهَا، وإنْ أرْسَلْتَهَا فاحْفَظْهَا، بِمَا تَحْفَظُ بِهِ  الصَّالِحينَ من عِبَادِكَ. اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إليْكَ ، وفَوَّضْتُ أَمْرِي إلَيْكَ ، وَأَلجَأْتُ ظهْري إلَيْكَ, أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكتَابكَ الذي أَنْزلتَ ، وَنَبيِّكَ الذي أَرْسَلْتَ, اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَما أَخَّرْتُ، وَما أَسْرَرْتُ وَما أَعْلَنْتُ،وَما أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ, ربِّ قِنِي عذابَك يومَ تبعَثُ عِبادَكَ

“Dengan nama-Mu, Tuhanku, saya membaringkan tubuhku, dan dengan-Mu aku akan membangkitkannya. Jikalau Engkau menahan jiwaku, maka ampunilah diriku. Jikalau Engkau melepaskannya, maka jagalah sebagaimana Engkau menjaga orang-orang shaleh dari para hamba-Mu. Ya Allah, saya menyerahkan jiwaku kepada-Mu, saya meyerahkan urusanku kepada-Mu, saya balikkan punggungku kepada-Mu, saya memohon ampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu, aku beriman dengan kitab yang Engkau turunkan dan Nabi yang Engkau utuskan. Ya Allah, ampunilah dosaku yang terdahulu dan yang kemudian, yang aku sembunyikan dan aku tampakkan, dan apa yang Engkau lebih mengetahuinya dariku, Engkaulah yang mendahulukan dan Engkaulah yan mengakhirkan, tidak ada Ilah melainkan diri-Mu. Rabbku, jagalah diriku dari siksaan-Mu di hari Engkau membangkitkan para hamba-Mu.”(6)

Kemudian mengucapkan ketika bangun tidur: 

لا إلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ ؛ وَلَهُ الحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ, سُبْحَانَ اللَّهِ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَلا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ, لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّابِاللَّهِ

“Tidak ada Ilah melainkan Allah SWT semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kekuasaan, bagi-Nya segala pujian, dan Dia mampu melakukan segala sesuatu. Maha Suci Allah. Segala puji hanya bagi Allah. Allah Maha Bear. Tidak ada Daya dan Upaya kecuali di tangan Allah.”

Kemudian ia bisa berdoa apapun yang diinginkannya. Sebab, ini merupakan waktu Mustajab, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Siapa yang terbangun di malam hari, kemudian ia mengucapkan ketika bangun… Kemudian ia berdoa, maka dikabulkan baginya.”(7) Jikalau ia bangun kemudian berwudhu dan shalat, maka shalatnya diterima. Atau mengucapkan: 

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ، اللهُمَّ إِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ لِذَنْبِي، وَأَسْأَلُكَ رَحْمَتَكَ، اللهُمَّ زِدْنِي عِلْمًا، وَلَا تُزِغْ قَلْبِي بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنِي، وَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Tidak ada ada Ilah melainkan diri-Mu, Maha Suci Engkau. Ya Allah, saya memohonkan ampunan-Mu atas dosa-dosaku. Saya memohon rahmat-Mu. Ya Allah, tambahkanlah ilmu, dan janganlah Engkau menyesatkan hati setelah Engkau menunjukiku. Karuniakanlah kepadaku rahmat-Mu. Sesugguhnya Engkau Maha Pemberi.”


6. Kemudian jikalau hari sudah pagi, maka ia membaca zikir-zikir berikut ini: 

Pertama, Mengucapkan jikalau ia bangun sebelum bangkit dari tempat tidurnya: 

الْـحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أمَاتَنَا وإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Segapa puji bagi Allah SWT yang menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nyalah kembali.”


Kedua, Mengangkat kepalanya ke langit dan membaca, “Inna fî khalqis samâwâti wal ardhi…”  sepuluh ayat terakhir dari surat Ali Imran, yaitu ketika ia bangun untuk mengerjakan shalat Tahajjud. Ini berdasarkan riwayat Ibn Abbas radhiyallahu anhu, “Ketika saya bermalam di rumah bibiku, Maimunah; istri Rasulullah Saw, Rasulullah Saw tidur sampai pertengahan malam atau sedikit sebelumnya atau tidak lama setelahnya. Kemudian beliau bangun, mengusap wajahnya dengan tangannya, kemudian membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Ali Imran, kemudian menuju tempat air yang tergantung dan berwudhu dengan memperbagus wudhunya, kemudian mengerjakan shalat.”(8)


Ketiga, Membaca sebanyak empat kali: 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ بِحَمْدِكَ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلَائِكَتَكَ، وَجَمِيعَ خَلْقِكَ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ

“Ya Allah, saya berada di pagi hari, dengan pujian-Mu saya mempersaksikan-Mu dan mempersaksikan para pemikul Arsy-Mu dan para malaikat-Mu, serta seluruh makhluk-Mu bahwa Engkau adalah Allah yang tidak ada Ilah melainkan diri-Mu, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Mu dan Rasul-Mu.” Berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Siapa yang mengucapkannya sekali, maka Allah SWT memerdekakan seperempatnya dari Neraka. Siapa yang mengucapkannya dua kali, maka Allah SWT membebaskan setengahnya. Siapa yang mengucapkannya tiga kali, Allah SWT membebaskan tiga perempatnya. Dan siapa yang mengucapkannya empat kali, Allah SWT membebaskannya dari Neraka.”(9)


Keempat, Ketika ia menginjakkan kakinya di rumahnya dan mau berangkat, maka ia mengucapkan: 

بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Dengan nama Allah, saya bertawakkal kepada-Nya, tidak ada daya dan upaya kecuali di tangan-Nya.”

Berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Jikalau seorang hamba mengucapkan ini, maka dikatakan kepadanya, ‘Engkau dicukupkan dan engkau dijaga.’ Dan Setan menjauh darinya.”(10)


Kelima, Jikalau ia sudah melangkah meninggalkan rumahnya, maka ia mengucapkan: 

اللَّهُمَّ إِنِّي أعوذُ بِكَ أنْ أَضِلَّ أو أُضَلَّ ، أَوْ أَزِلَّ أوْ أُزلَّ ، أوْ أظلِمَ أوْ أُظلَم ، أوْ أَجْهَلَ أو يُجهَلَ عَلَيَّ

“Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu agar saya tidak tersesat atau disesatkan, atau saya tergelincir atau ditegelincirkan, atau saya menzalimi atau dizalimi, atau saya jahil atau dijahili.” Dan itu berdasarkan riwayat Umm Salamah, “Rasulullah Saw tidak keluar meninggalkan rumahku sedikit kecuali beliau mengangkat kepadanya ke langit dan berucap, “Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu agar saya tidak tersesat atau disesatkan…”(11)


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1/149), dan al-Turmudzi (168)

(2) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1/71), dan Abu Daud (5046)

(3) Diriwayatkan oleh Abu Daud (5047)

(4) Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak (4/271)

(5) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (4/102), (7/84)

(6) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1/71), al-Turmudzi (3394, 3395), dan al-Imam Ahmad (283, 295)

(7) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (2/68)

(8) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (37) dalam Kitab al-Wudhu

(9) Diriwayatkan oleh Abu Daud (5049) dengan pensanadan yang shahih

(10) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi dan dihasakannya (3426)

(11) Diriwayatkan oleh Abu Daud (5049) dengan pensanadan yang shahih

Adab-Adab Sunanul (Khishalul) Fitrah

Seorang sebagai muslim terikat dengan ajaran Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Saw. Ia menjalani hidupnya dengan cahaya keduanya, dan mengerjakan urusannya sesuai dengan yang tercantum di dalam keduanya. Ini berdasarkan firman Allah SWT, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka." (Surat al-Ahzab: 36) Dan firman-Nya, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." (Surat al-Hasyr: 7) Dan berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang saya bawa.”(1) Dan sabdanya, “Siapa yang mengerjakan sebuah amalan yang tidak ada perintah kami, maka ia tertolak.”(2)

Karena itulah, seorang muslim melazimi adab-adab berikut ini dalam Khishâl al-Fithrah, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Lima hal yang merupakan bagian dari Fitrah; Istihdâd, Khitan, mencukur kumis, mencabut bulu ketiak, dan memotong kuku.”(3)

Adab-Adabnya adalah: 

1. Istihdâd, yaitu memotong bulu kemaluan dengan benda tajam, seperti pisau dan sejenisnya. Tidak apa-apa jikalau dihilang dengan al-Nurah (penghilang bulu).

2. Khitan, yaitu memotong kulit yang menutupi kepala zakar, disunnahkan melakukannya di hari ketujuh kelahiran. Sebab, Nabi Muhammad Saw mengkhitan al-Hasan dan al-Husain; kedua anak laki-laki Fatimah al-Zahra bersama Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhuma, di hari ketujuh kelahiran keduanya. Tidak masalah ditunda sampai sebelum Baligh. Sebab, Nabi Ibrahim alaihissalam berkhitan ketika usianya sudah mencapai delapan puluh tahun. Diriwayatkan dari Nabi Saw, bahwa jikalau ada seorang laki-laki yang masuk Islam di hadapannya, maka beliau mengatakan, “Buanglah rambut kekufuran dan berkhitanlah.”

3. Mencukur kumis. Seorang muslim mencukur kumis yang mendekati kedua bibirnya. Sedangkan untuk jenggotnya, maka ia membiarkannya agar bisa memenuhi wajahnya dan memanjangkannya. Ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Cukurlah kumis, dan biarkanlah jenggot, serta berbedalah dengan orang-orang Majusi.”(4) Dan sabdanya, “Berbedalah dengan orang-orang musyrik; cukurlah kumis dan biarkanlah jenggot.”(5) Artinya, biarkanlah ia tumbuh dan biarkan menjadi banyak. Dengan begitu, diharamkan mencukurnya. Kemudian juga hendaklah ia menjauhi al-Qaza’, yaitu mencukur sebagian rambut, dan membiarkan sebagian lainnya, berdasarkan riwayat Ibn Umar radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah Saw melarang al-Qaza’.(6)

Sebagaimana ia menjauhi mengecat jenggotnya dengan warna hitam, berdasarkan sabda Rasulullah Saw ketika bapaknya Abu Bakar al-Shiddiq di Hari Fathu Makkah dihadapkan kepadanya, seakan-akan di kepala bapaknya ada   Tsughamah (pohon yang buahnya dan daunya putih), “Bawalah ia kepada istrinya, kemudian ubahlah ia dengan sesuatu, dan jauhkan darinya warna hitam.”(7) Sedangkan jikalau mengecat dengan inai dan katam (sejenis tumbuhan untuk menginai juga), maka itu lebih baik. 

Jikalau seorang muslim memanjangkan rambutnya dan tidak memotongnya, maka hendaklah ia memuliakannya dengan minyak rambut dan menggeraikannya, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Siapa yang memiliki rambut, maka muliakanlah.”(8)

4. Mencabut bulu ketiak. Hendaklah seorang muslim mencabut bulu ketiaknya. Jikalau ia tidak bisa, maka ia bisa mencukurnya, atau mengoleskannya al-Naurah dan sejenisnya, agar bisa menghilangkannya. 

5. Memotong kuku. Seorang muslim hendaklah memotong kuku-kukunya. Disunnahkan memulainya dengan tangan kanannya, kemudian tangan kirinya, kemudian kaki kanannya, kemudian kaki kirinya. Sebab, Rasulullah Saw suka memulai dengan bagian kanan ketika melakukanya.

Seorang muslim melakukan semua ini dengan niat meneladani Rasulullah Saw dan mengikutinya, agar bisa mendapatkan pahala mengikuti Rasulullah Saw dan menjalankan sunnahnya. Sebab, semua amalan itu tergantung niatnya, dan setiap orang mendapatkan apa yang diniatkannya. 


Catatan Kaki: 

(1) Disebutkan oleh al-Imam al-Nawawi dalam Kitabnya al-Arba’in, kemudian berkata, “hadits hasan shahih yang kami riwayatkan dalam Kitab al-Hujjah.” Lihatlah Kitab Misykah al-Mashabih (1/59) dengan nomor (167)

(2) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (3/91) dan Muslim (18) dalam Kitab al-Aqdhiyah

(3) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (2756) dan al-Nasai (1/14)

(4) Diriwayatkan oleh Muslim (55) dalam Kitab al-Thaharah

(5) Diriwayatkan oleh Ibn Majah (3624)

(6) Diriwayatkan oleh Muslim (16) dalam Kitab al-Thaharah

(7) Diriwayatkan oleh Abu Daud (4163) dengan pensanadan yang hasan

(8) Diriwayatkan oleh Abu Daud (4193) dan al-Imam Ahmad (2/4, 39)

Adab-Adab Berpakaian Menurut Islam

Seorang muslim berpandangan, bahwa berpakaian merupakan perintah Allah SWT dalam firman-Nya, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (Surat al-A'raf: 31) Dan menegaskan dalam firman-Nya, “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik." (Surat al-A'raf: 26) Dan firman-Nya, “dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. " (Surat al-Nahl: 81) Dan firman-Nya, “Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah)." (Surat al-Anbiya: 80) Dan Rasulullah Saw memerintahkan hal itu dalam sabdanya, “Makanlah dan minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa berlebih-lebihan dan sombong.”(1) Nabi Saw sudah menjelaskan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, apa yang disunnahkan dan apa yang dimakruhkan memakainya. Karena itulah, seorang muslim melazimi adab-adab berikut ini dalam pakaiannya: 


1. Tidak memakai sutera sama sekali, baik baju, imamah, dan selainnya. Dan ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Janganlah kalian memakai sutera. Sebab, siapa yang memakainya di dunia, maka ia tidak akan memakainya di akhirat.”(2) Dan sabdanya yang suatu kali memegang sutera dan meletakkannya di tangan kanannya, kemudian mengambil emas dan meletakkannya di tangan kirinya, “Kedua barang ini haram bagi laki-laki dari umatku.”(3) Dan sabdanya, “Diharamkan sutera dan emas bagi laki-laki dari umatku, dan dihalalkan bagi para wanita mereka.”(4)

2. Tidak memanjangkan bajunya, atau celananya, atau Burnus (peci yang ada kainnya), atau selendangnya, sampai melebihi kedua mata kakinya, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Sarung yang lebih dari dua mata kaki di Neraka.” Dan sabdanya, “Isbal untuk sarung, baju, dan ‘Imamah adalah orang yang memanjangkannya (ketiga jenis ini) karena sombong, Allah SWT tidak akan melihatnya pada hari Kiamat.”(5) Dan sabdanya, “Allah SWT tidak melihat orang yang memanjangkan pakaiannya karena sombong.”(6)

3. Mengutamakan pakaian berwarna putih dari selainnya, dengan tetap berpandangan bahwa warna apapun boleh-boleh saja, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Pakailah yang putih. Sebab, ia lebih suci dan lebih baik, serta digunakan untuk mengkafani mayat-mayat kalian.”(7) Dan berdasarkan riwayat al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu anhu, “Rasulullah Saw terlihat menawan. Saya melihatnya memakai pakaian merah. Saya tidak pernah sekali pun melihat yang lebih bagus darinya.”(8) Kemudian berdasarkan riwayat shahih dari Rasulullah Saw bahwa beliau memakai pakaian hijau, dan menggunakan ‘Imamah hitam. 

4. Seorang muslimah memanjangkan pakaiannya sampai menutupi kedua kakinya, memanjangkan khimarnya di kepalanya sehingga menutupi lehernya, kerongkongannya, dan dadanya, berdasarkan firman Allah SWT, “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." (Surat al-Ahzab: 59) Dan firman-Nya, "Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka." (Surat al-Nur: 31) Dan sabda Rasulullah Saw kepada Aisyah radhiyallahu anha, "Semoga Allah SWT merahmati para wanita Muhajirin generasi pertama. Taktala Allah SWT menurunkan wahyu 'Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya', maka mereka menyobek penutup jendela mereka dan menggunakannya sebagai khimar."(9) Berdasarkan riwayat Umm Salamah radhiyallahu anhu, “Taktala turun ayat ‘Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’, maka para wanita Anshar keluar seakan-akan di kepala mereka ada burung gagak (warna hitam) karena pakaian yang mereka gunakan.”(10)

5. Tidak menggunakan cincin emas, berdasarkan sabda Rasulullah Saw tentang emas dan sutera, “Kedua barang ini haram bagi laki-laki dari umatku.” Dan sabdanya, “Diharamkan sutera dan emas bagi laki-laki dari umatku, dan dihalalkan bagi para wanita mereka.” Dan sabdanya ketika melihat cincin emas di jari seorang laki-laki, kemudian beliau mencabutnya dan membuangnya seraya bersabda, “Salah seorang di antara kalian sengaja mengambil bara api Neraka dan meletakkannya di tangannya.” Dikatakan kepada laki-laki tersebut setelah Rasulullah Saw pergi, “Ambil cincinmu dan mannfaatkalah.” Ia menjawab, “Tidak, demi Allah. Saya tidak akan mengambilnya selama-lamanya. Rasulullah Saw sudah membuangnya.”(11)

6. Tidak masalah bagi seorang muslim menggunakan cincin perak, yang diukir di bagian mata cincinnya dengan namanya, kemudian menjadikannya sebagai stempel untuk surat-suratnya dan tulisan-tulisannya, digunakannya untuk menandatangani sukuk dan selainnya. Hal ini berdasarkan perbuatan Nabi Muhammad Saw yang menggunakan cincin dari perak, bergoreskan “Muhammad Rasulullah”, dipasang di jari kelingkingnya di tangan kirinya. Kemudian juga berdasarkan riwayat Anas radhiyallahu anhu, “Nabi Saw meletakkannya di disini (mengisyaratkannya ke jari kelingkingnya di tangan kirinya).”(12)

7. Tidak memakai pakaian berjenis al-Shamma’, yaitu semua bagian bajunya ditutup dan tidak menyisakan bagian yang bisa digunakan untuk mengeluarkan tangannya. Sebab, Nabi Saw melarang hal tersebut. Kemudian, janganlah ia berjalan dengan satu sandal, berdasarkan sabda RAsulullah Saw, “Janganlah salah seorang di antara kalian berjalan dengan satu sandal. Lepaskanlah keduanya atau pakailah keduanya.”(13)

8. Janganlah seorang muslim memakai pakaian muslimah, dan seorang muslimah janganlah memakai pakaian muslim, sebab Nabi Saw melarang hal tersebut dalam sabdanya, “Allah SWT melakat yang keperempuanan dari laki-laki, dan kelaki-lakian dari perempuan.” Sebagaimana beliau juga melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan, dan perempuan yang menyerupai laki-laki. (14)

9. Jikalau ia memakai sandal, maka mulailah dari bagian kanan. Jikalau ia melepaskannya, maka mulailah dari bagian kiri. Ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Jikalau salah seorang di antara kalian memakai sandal, maka mulailah dari bagian kanan. Jikalau ia melepas, maka mulailah dari bagian kiri. Hendaklah bagian kanan menjadi bagian pertama yang dikenakan, dan bagian terakhir yang dilepaskan.”(15)

10. Memakai pakaian dimulai dari bagian kanan, berdasarkan riwayat Aisyah radhiyallahu anha bahwa Rasulullah Saw suka berkanan-kanan dalam segala urusannya; menggunakan sandal, berjalan, dan bersuci.”(16)

11. Mengucapkan doa berikt jikalau memakai baju baru, atau ‘Imamah, atau pakaian apapun: 

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيهِ أَسْأَلُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ

“Ya Allah, segala puji bagi-Mu, Engkau memberikan pakaian ini kepadaku. Saya memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang dibuatkan padanya. Dan saya berlindug kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan yang dibuat padanya.”

Sebab, doa ini berasal dari Rasulullah Saw.(17)

12. Mendoakan sahabat muslim lainnya jikalau ia melihatnya menggunakan pakaian baru, dengan mengucapkan kepadanya: 

أَبْلِ وَأَخْلِق

“Semoga (bajunya tahan sampai) rusak, dan berakhlaklah.” 

Sebab Nabi Saw medoakan Umm Khalid dengan doa itu ketika beliau melihatnya memakai pakaian baru.(18)


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (7/182)

(2) Diriwayatkan oleh Muslim (2) dalam Kitab al-Libas

(3) Diriwayatkan oleh Abu Daud (4057)

(4) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (1720)

(5) Diriwayatkan oleh Abu Daud (4094) dan al-Nasai (8/208)

(6) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (7/182) dan Muslim (9) dalam Kitab al-Libas

(7) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (2810)

(8) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (4/288), (7/197)

(9) Diriwayatkan oleh Abu Daud (4102)

(10) Diriwayatkan oleh Abu Daud (4101)

(11) Diriwayatkan oleh Muslim (52) dalam Kitab al-Libas

(12) Diriwayatkan oleh Muslim (16) dalam Kitab al-Libas

(13) Diriwayatkan oleh Muslim (15) dalam Kitab al-Libas

(14) Diriwayatkan oleh Abu Daud (4098) dan al-Imam Ahmad (2/325)

(15) Diriwayatkan oleh Muslim (67) dalam Kitab al-Libas

(16) Diriwayatkan oleh Muslim (19) dalam Kitab al-Thaharah

(17) Diriwayatkan oleh Abu Daud (10) dalam Kitab al-Libas, dan al-Turmudzi (1767) yang dishahihkannya

(18) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (22) dalam Kitab al-Libas

Adab-Adab Safar (Melakukan Perjalanan)

Seorang muslim berpandangan, bahwa melakukan safar (perjalanan) merupakan salah satu hal lazim dalam kehidupannya dan salah satu hal penting baginya, yang tidak bisa dilepaskannya. Sebab, haji dan umrah, perang, menuntut ilmu, berdagang, dan berkunjung kepada para sahabat (hukum semuanya berada di antara wajib dan fardhu)), semuanya harus melakukan perjalanan dan safar. Karena itulah, syariat sangat memperhatikan sekali masalah safar, begitu juga dengan hukum-hukumnya dan adab-adabnya. Muslim yang shaleh, harus mempelajarinya, kemudian berusaha menjalankannya dan mengamalkannya. 


Hukum-Hukumnya


1. Men-Qashar shalat yang empat rakaat. Ia bisa mengerjakannya dua rakaat dua rakaat saja, kecuali shalat Magrib. Ia tetap mengerjakannya sebanyak tiga rakaat. Qashar itu dimulai semenjak ia meninggalkan negeri tempat tinggalnya, sampai ia kembali lagi. Kecuali jikalau ia berniat untuk Iqamah (lawan kata: Safar) selama empat hari atau lebih di negeri yang ditujunya atau disinggahinya. Maka, di negeri tersebut ia menyempurnakan rakaatnya, tidak men-Qasharnya, sampai ia kembali lagi ke negerinya. Ketika kembali, ia bisa lagi melakukan Qashar sampai berada di negerinya sendiri. Dan itu berdasarkan firman Allah SWT, “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu)." (Surat al-Nisa: 101) Dan berdasarkan ucapan Anas, “Kami pergi bersama Rasulullah Saw dari Madinah menuju Makkah. Beliau mengerjakan shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat dua rakaat, sampai kami kembali lagi ke Madinah.”(1)

2. Boleh mengusap kedua sepatu (al-Khuffain) selama tiga hari tiga malam, berdasarkan ucapan Ali radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Saw menetapkan bagi kami selama tiga hari tiga malam; jikalau musafir, dan sehari semalam; jikalau muqim. Yaitu, mengusap al-Khuffain.(2)

3. Boleh bertayammum, yaitu jikalau air tidak ada, atau susah mendapatkannya, atau mahal harganya, sesuai dengan firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu." (Surat al-Nisa: 43)

4. Rukshah (keringanan) untuk berbuka jikalau berpuasa, berdasarkan firman-Nya, “Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain." (Surat al-Baqarah: 184)

5. Bolehnya shalat sunnah di atas kendaraan kemana pun mengarahnya, berdasarkan ucapan Ibn Umar radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah Saw mengerjakan shalat sunnah ke arah menghadap untanya.(3)

6. Bolehnya menjama’ antara Shalat Zuhur dan Shalat Ashar, atau antara Shalat Maghrib dan Shalat Isya; jikalau perjalanan itu sulit. Ia bisa mengerjakan shalat Zuhur dan Shalat Ashar di waktu Zuhur, kemudian shalat Maghrib dan shalat Isya di waktu Maghrib. Atau bisa juga dengan Jama’ Ta’khir, yaitu dengan mengakhirkan Shalat Zuhur ke awal Ashar, kemudian mengerjakan keduanya bersamaan; dan mengakhirkan Shalat Maghrib ke shalat Isya, kemudian mengerjakan keduanya bersamaan, berdasarkan ucapan Mu’adz radhiyallahu anhu, “Kami berangkat bersama Rasulullah Saw dalam perang Tabuk. Beliau mengerjakan Shalat  Zuhur dan Shalat Ashar dengan cara Jama’, kemudian Shalat Maghrib dengan shalat Isya juga dengan Jama’.”(4)


Adab-Adab Safar

1. Mengembalikan barang-barang yang diambil secara zalim dan segala titipan kepada para pemiliknya. Sebab, perjalanan itu dianggap sebagai ruang kematian.

2. Mempersiapkan bekalnya yang halal, meninggalkan nafkah untuk yang wajib dinafkahinya, seperti istri, anak-anak, dan orangtua. 

3. Menyampaikan selamat tinggal kepada keluarganya, para saudaranya, dan para sahabatnya. Kemudian berdoa dengan doa ini bagi orang yang ia tinggalkan: 

أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكُمْ وَأَمَانَتَكُمْ وَخَوَاتِيمَ أَعْمَالِكُمْ

“Saya menitipkan agama kalian, amanah kalian, dan penutup amalan kalian kepada Allah SWT.”

Kemudian orang-orang yang ditinggalkan mengucapkan kepadanya: 

زَوَّدَكَ اللهُ التَّقْوَى، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَوَجَّهَكَ إلى الـخَيْرَ حَيْثُ تَوَجَّهْتَ

“Semoga Allah SWT membekalimu dengan ketakwaan, mengampunkan dosamu, dan mengarahkanmu kepada kebaikan kemanapun engkau mengarah.”

Berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Luqman al-Hakim berkata, ‘Jikalau Allah SWT dititipkan sesuatu, maka Dia akan menjaganya.’(5) Dan mengucapkan kepada orang yang mengantarkannya, ‘Saya menitipkan kepada Allah SWT agamamu, amanahmu, dan penutup amalanmu.”(6)

4. Melakukan perjalanan dengan ditemani tiga atau empat orang, setelah memilih orang yang layak melakukan perjalanan bersamanya. Sebab, perjalanan itu, sebagaimana dikatakan: Mukhbar al-Rijal (memberitahu hakikat seseorang). Dinamakan safar, sebab ia akan menghilangkan akhlak seseorang. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Satu pengendara itu satu setan. Dua pengendara itu dua setan. Dan tiga pengendara itu tiga setan.”(7) Dan sabdanya, “Jikalau orang-orang tahu apa yang saya tahu tentang kesendirian, maka pengendara tidak akan berjalan sendirian di malam hari.”(8)

5. Rombongan musafir hendaklah mengangkat amir (pemimpin) salah seorang di antara mereka, yang akan menjadi pemimpin mereka dalam musyawarah, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Jikalau ada tiga orang yang keluar dalam safar, maka jadikanlah amir (pemimpin) salah seorang di antara mereka.”(9)

6. Sebelum melakukan perjalanan, hendaklah ia mengerjakan shalat Istikharah terlebih dahulu. Sebab, Rasulullah Saw mendorong hal itu. Sampai-sampai, beliau mengajarkannya kepada para sahabatnya, sebagaimana beliau mengajarkan surat al-Quran al-Karim. Hal yang sama berlaku juga urusan-urusan lainnya.(10) 

7. Ketika ia meninggalkan rumahnya, hendaklah ia mengucapkan: 

بسم اللَّهِ، توكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أعوذُ بِكَ أنْ أَضِلَّ أو أُضَلَّ ، أَوْ أَزِلَّ أوْ أُزلَّ ، أوْ أظلِمَ أوْ أُظلَم ، أوْ أَجْهَلَ أو يُجهَلَ عَلَيَّ

“Dengan nama Allah, saya bertawakkal kepada Allah. Ya Allah, saya berlindung kepadamu agar saya tidak sesat dan disseat, atau saya tergelincir atau ditegelincirkan, atau saya menzalimi atau dizalimi, atau saya jahil atau dijahili.”(11)

Jikalau ia sudah naik kenderaan, maka ia mengucapkan: 

بسم الله بالله والله أكبر بِسْم اللَّهِ توكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ ، ولا حوْلَ ولا قُوةَ إلاَّ بِاللَّهِ, مَا شَاءَ اللَّهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنْ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالأَهْلِ والولد

“Dengan nama Allah, dengan Allah, dan Allahu Maha Besar. Saya bertawakkal kepada Allah SWT, tidak ada kuasa dan kekuatan kecuali dengan Allah SWT. Apa yang Allah SWT inginkan, akan terjadi. Jikalau ia tidak ingin, maka tidak akan terjadi. Mahasuci (Allah) Dzat Yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu mengusasinya, dan sesungguhnya kepada Tuhan kami tempat kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan dan ketakwaan dan amal yang Engkau ridhoi pada perjalanan kami ini. Ya Allah, ringankanlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah jaraknya yang jauh. Ya Allah, Engkaulah kawan (yang melindungi) perjalanan dan wakil (yang menjaga) keluarga kami. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan perjalanan dan keburukan pemandangan dan kejelekan di saat kembali, pada harta dan keluarga, serta anak."(12)

8. Berangkat di hari kamis di awal siang, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Ya Allah, berkahi umatku di paginya.”(13) Kemudian riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi Saw berangkat dalam safarnya di hari kamis. 

9. Ber-Takbir di tempat yang tinggi, berdasarkan riwayat Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, saya ingin melakukan perjalanan, maka nasehatilah diriku?” Beliau menjawab, “Engkau harus bertakwa kepada Allah SWT, dan bertakbirlah di setiap tempat yang tinggi.”(14)

10. Jikalau ia takut dengan orang lain, maka ucapkanlah: 

اللَّهُمَّ! إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُورِهِمْ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شُرُورِهِم

“Ya Allah, kami menempatkan-Mu di leher mereka, dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka.” Ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw mengenai hal itu. 

11. Berdoa kepada Allah SWT dalam perjalanannya, memohon kebaikan dunia dan akhirat. Sebab, doa dalam perjalanan itu Mustajab, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Tiga doa mustajab yang tidak perlu dikeragui; doa yang terzalimi, doa orang yang melakukan perjalanan, dan doa orangtua untuk anaknya.”(15)

12. Jikalau ia singgah di suatu tempat, maka bacalah: 

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

“Saya berlindung dengan kata-kata Allah SWT yang sempurna dari kajahatan makhluk.”

Jikalau malam mulai menghampiri, maka ia membaca: 

يَا أَرْضُ رَبِّي وَرَبُّكِ اللَّهُ ، أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّكِ وَشَرِّ مَا فِيكِ ، وَشَرِّ مَا خُلِقَ فِيكِ وَشَرِّ مَا دَبَّ عَلَيْكِ ، أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّ كُلِّ أَسَدٍ وَأَسْوَدَ وَحَيَّةٍ وَعَقْرَبٍ ، وَمِنْ شَرِّ سَاكِنِ الْبَلَدِ وَمِنْ شَرِّ وَالِدٍ وَمَا وَلَدَ

“Wahai bumi, Rabbku dan Rabbmu adalah Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Allah dari kejahatanmu dan kejahatan apa yang ada di dalammu. Begitu pula dari kejahatan makhluk yang diciptakan di dalammu dan dari kejahatan sesuatu yang merayap di atasmu. Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan setiap singa, ular hitam besar, ular, dan kalajengking, serta dari kejahatan penduduk negri ini, dan dari kejahatan orang tua dan anaknya.”(16)

13. Jikalau ia takut kesendirian, maka ucapkanlah: 

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ، رَبِّ الْمَلائِكَةِ ، وَالرُّوحِ ، جَلَّلْتَ السَّمَاوَاتِ ، وَالأَرْضَ بِالْعِزَّةِ ، وَالْجَبَرُوتِ

“Maha Suci Raja Yang Maha Suci, Rabb para malaikat dan ruh, telah diagungkan langit-langit dan bumi dengan kemuliaan dan kekuasaan.”

14. Jikalau tidur di awal malam, maka ia membentangkan lengannya. Jikalau tidur di akhir malam, maka ia menegakkan lengannya dan meletakkan kepalanya di atas telapak tangannya agar tidurnya tidak terlalu lelap, sehingga kelewatan untuk mengerjakan shalat subuh pada waktunya. 

15. Jikalau melihat kota, maka hendaklah ia mengucapkan: 

الَلهُمَ إجْعَلْ لِي فيهَا قَرَارَاً وَإرْزُقْنِي بِهَا رِزْقَاً حَلالاً  اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ المدينة ، وَخَيْرَ مَا فِيهَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا

“Ya Allah, jadikan ia bagiku sebagai tempat tinggal, berikanlah bagiku di tempat ini rezeki yang halal. Ya Allah, saya memohon kepadamu kebaikan kota ini dan kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan saya berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan apa yang ada di dalamnya.”(17) Sebab, Nabi Saw mengucapkannya. 

16. Bersegera kembali ke keluarganya dan negerinya jikalau kepentingannya dalam perjalannya tersebut sudah selesai, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Perjalanan itu adalah potongan azab, yang menghalangi salah seorang di antara kalian dari makanannya, minumannya, dan tidurnya. Jikalau salah seorang di antara kalian sudah menyelesaikan kepentingannya, maka bersegeralah kembali  ke keluarganya.”(18)

17. Jikalau sudah siap pulang, maka ia bertakbir tiga kali, kemudian mengucapkan doa: 

آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ

“(Kami) kembali, bertaubat, beribadah dan memuji kepada Tuhan kami.”(19)

18. Tidak mengetuk pintu rumahnya malam-malam. Hendaklah ia mengutus seseorang yang akan memberitahukan kabar gembira kedatangannya kepada keluarganya, agar mereka tidak kaget. Dan ini adalah salah satu petunjuk Rasulullah Saw.

19. Janganlah seorang perempuan melakukan perjalanan sehari semalam kecuali bersama mahramnya, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Tidak halal bagi perempuan yang beriman kepada Allah SWT dan Hari Akhir melakukan perjalanan yang berjarak sehari semalam, kecuali bersama mahramnya.”(20)


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh al-Nasai (1438), dan al-Turmudzi (546) yang dishahihkannya

(2) Diriwayatkan oleh Muslim (85) dalam Kitab al-Thaharah

(3) Diriwayatkan oleh Muslim (4) dalam Kitab Shalat al-Musafirin

(4) Shahih Muslim (1/490)

(5) Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (2/78)

(6) Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (2/7, 25, 38, 136)

(7) Diriwayatkan oleh Abu Daud (2607), dan al-Turmudzi (1674)

(8) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (4/70)

(9) Diriwayatkan oleh Abu Daud (2608)

(10) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (9/144)

(11) Diriwayatkan oleh Abu Daud (5094) dengan pensanadan yang shahih

(12) Diriwayatkan oleh Abu Daud (2599)

(13) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (1212), Abu Daud (2606), dan Ibn Majah (2236)

(14) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (3445) dengan pensanadan yang hasan

(15) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (1905) dengan pensanadan yang hasan

(16) Diriwayatkan oleh Abu Daud (82) dalam Kitab al-Jihad, al-Imam Ahmad (2/132), dan al-Hakim (2/100)

(17) Terdapat dalam Kanz al-‘Ummal (38157), dan ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah karangan Ibn al-Sunni (519)

(18) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (3/10), (4/71), Muslim (179) dalam Kitab al-Imarah, dan Ibn Majah (2882)

(19) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (3/9), (4/69), dan Muslim (428) dalam Kitab al-Hajj

(20) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (2/74) dalam Kitab al-Hajj

Adab-Adab Bertamu (Undangan)

Seorang muslim meyakini wajibnya memuliakan tamu dan menghormatinya dengan layak. Dan itu berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Siapa yang beriman kepada Allah SWT dan Hari Akhir, maka muliakanlah tamunya.”(1)  Dan sabdanya, “Siapa yang beriman kepada Allah SWT dan Hari Akhir, maka muliakanlah tamunya dan Jâizahnya.” Para sahabat bertanya, “ Apa Jâizahnya?” Beliau menjawab, “Siangnya dan malamnya. Dan bertamu itu selama tiga hari. Jikalau lebih dari itu, maka ia sedekah.”(2) Karena itulah, seorang muslim melazimi adab-adab berikut ini dalam menjamu tamunya:


Undangan

a) Untuk jamuannya, ia mengundang orang-orang yang bertakwa, bukan orang-orang fasik dan para pelaku maksiat, berdasarkan sabda Nabi Muhammad Saw, “Jangan bersahabat kecuali dengan orang yang beriman, dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.”(3)

b) Tidak mengkhususkan jamuannya untuk orang-orang kaya tanpa menghadirkan orang-orang yang fakir, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah yang diundang menghadirinya orang-orang kaya, tidak orang-orang fakir.”(4)

c) Dengan jamuannya, ia tidak bermaksud berbangga-bangga dan bermewah-mewah, tapi bermaksud menjalankan sunnah Rasulullah Saw dan para Nabi sebelumnya, seperti Ibrahim alaihissalam yang digelari Abu al-Dhifan (Bapak Para Tetamu), sebagaimana ia juga berniat untuk membahagiakan orang-orang yang beriman, menyebarkan kebahagiaan dan rasa senang di hati para sahabatnya. 

d) Tidak mengundang orang yang ia tahu susah untuk menghadirinya, atau orang yang akan merasa tidak nyaman dengan sejumlah sahabatnya yang hadir, sebagai upaya menjauhi sikap menyakiti orang beriman yang diharamkan. 


Adab Menghadirinya

a) Menjawab undangan dan tidak terlambat menghadirinya kecuali ada udzur, seperti memudharatkan agamanya atau badannya, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Siapa yang diundang, maka hadirilah.”(5) Dan sabdanya, “Jikalau saya diundang ke jamuan makan sebesar kura’ kambing (bagian di bawah mata kaki dan yang tidak berdaging), maka saya akan menghadirinya. Jikalau saya diberi hadiah dzara’ (kaki bagian atas yang banyak dagingnya), maka saya akan menerimanya.”(6)

b) TIdak membedakan dalam menghadirinya antara orang yang fakir dengan orang yang kaya. Sebab, jikalau ia tidak menghadiri undangan orang yang fakir, maka hal itu akan membuatnya kecewa, sebagaimana hal itu juga merupakan salah satu bentuk kesombongan, dan sombong itu tercela. Di antara riwayat yang menjelaskan masalah menghadiri undangan orang-orang yang fakir ini adalah kisah al-Hasan bin Ali radhiyallahu anhu yang suatu kali melewati kaum miskin. Mereka membentang tikar di tanah sambil makan-makan. Mereka berkata kepadanya, “Marilah kesini wahai anak laki-laki dari anak perempuannya Rasulullah Saw.” Maka ia menjawab, “Ya, Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang sombong.” Kemudian ia turun dari bighalnya dan makan bersama mereka. 

c) Tidak membedakan dalam mengadirinya antara yang jauh jaraknya dengan yang dekat. Jikalau ada dua undangan yang sampai kepadanya, maka ia harus menghadiri yang terdahulu, kemudian memohon maaf kepada yang lainnya. 

d) Jangan sampai ia tidak mau datang karena sedang berpuasa. Bahkan, ia harus datang. Jikalau tuan rumahnya senang apabila ia makan, maka hendaklah ia membatalkan puasanya. Sebab, membahagiakan orang yang beriman adalah ibadah. Jikalau tidak, maka cukup dengan mendoakan kebaikan baginya. Ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Jikalau salah seorang di antara kalian diundang, maka hadirilah. Jikalau ia berpuasa, maka doakanlah. Jikalau ia tidak berpuasa, maka makanlah.”(7) Dan sabdanya, “Sahabatmu sudah membebani dirinya untukmu, dan engkau mengatakan, “Saya berpuasa?”(8)

e) Menghadirinya dengan niat memuliakan sahabat muslimnya agar ia mendapatkan pahala, berdasarkan khabar, “Amalan-amalan sesuai dengan niatnya, dan setiap orang mendapatkan apa yang diniatkannya.”(9) Dengan niat yang shaleh, maka hal yang mubah akan berubah menjadi ketaatan yang bermuatan pahala. 


Adab Ketika Hadir

a) Tidak membuat mereka lama menunggu sehingga merasa gelisah, kemudian tidak juga datang terlalu awal sehingga mereka terkejut karena ada persiapan. Sebab, tindakan seperti itu akan menyakiti mereka. 

b) Jikalau ia masuk, maka janganlah berusaha duduk di barisan terdepan. Tapi, tawadhu’lah. Jikalau Tuan Rumah mengisyaratkannya untuk duduk di tempat tertentu, maka duduklah disitu dan jangan meninggalkannya. 

c) Segera menyajikan makanan untuk tamu. Sebab, segera menyajikan makanan merupakan bentuk penghormatan terhadapnya. Dan syariat memerintahkannya, “Siapa yang beriman kepada Allah SWT dah Hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.”(10)

d) Tidak tergesa-gesa membereskan makan, sebelum semuanya selesai makan. 

e) Menyajikan kepada tamunya kadar makanan yang cukup. Sebab, jikalau sedikit, itu mengurangi harga dirinya. Dan jikalau berlebihan, itu terlalu berlebihan dan terlihat angkuh. Kedua sikap ini, tercela. 

f) Jikalau ia menjadi tamu orang lain, maka janganlah lebih dari tiga hari. Kecuali jikalau tuan rumahnya keukeuh memintanya untuk menginap lebih lama. Jikalau ia mau pergi, maka minta izinlah terlebih dahulu. 

g) Mengantarkan tamu jikalau pulang sampai keluar rumah, karena para salaf shaleh melakukannya. Dan itu masuk dalam sikap memuliakan tamu yang diperintahkan dalam syariat. 

h) Hendaklah tamu pulang dengan hati yang senang, walaupun ada yang kurang dalam haknya. Sebab, sikap seperti itu adalah bentuk akhlak yang baik, membuat seseorang layak mendapatkan derajat orang yang berpuasa dan Qiyamullail.

i) Hendaklah seorang muslim memiliki tiga kasur; Pertama, untuk dirinya. Kedua, untuk keluarganya. Ketiga, untuk tamunya. Lebih dari tiga itu dilarang, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Kasur untuk laki-laki, kasur untuk perempuan, dan kasur untuk tamu, dan yang keempat untuk setan.”(11)


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (8/13, 39), dan Muslim (74, 75) dalam Kitab al-Iman

(2) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (8/13, 39), dan al-Darimi (2/98)

(3) Diriwayatkan oleh al-Darimi (2/103) dan al-Hakim dalam al-Hakim dalam al-Mustadrak (4/128)

(4) Diriwayatkan oleh Muslim (108, 109) dalam Kitab al-Nikah, dan Abu Daud (3742)

(5) Diriwayatkan oleh Abu Daud (1) dalam Kitab al-Ath’imah, dan al-Imam Ahmad (2/279)

(6) Shahih al-Bukhari (3/201), (7/32)

(7) Diriwayatkan oleh Muslim (106) dalam Kitab al-Nikah

(8) Sunan al-Darimi (halaman 237), Musnad al-Thayalisi (halaman 293). Lihatlah Nashb al-Rayah (2/465)

(9) Sudah ditakhrij sebelumnya

(10) Sudah ditakhrij sebelumnya

(11) Diriwayatkan oleh Abu Daud (4142), dan al-Imam Ahmad (3/324)

Adab-Adab Makan dan Minum (Jamuan)

Seorang muslim berpandangan, bahwa makan dan minum merupakan sarana untuk menuju yang lainnya, bukan tujuan. Ia makan dan minum untuk menjaga keselamatan badannya, demi membantunya beribadah kepada Allah SWT. Ibadah itulah yang akan membuatnya layak mendapatkan kemuliaan di akhirat dan kebahagiaan. Ia makan dan minum bukan sekadar untuk makan dan minum, serta juga bukan untuk syahwat semata. Karena  itulah, jikalau ia tidak lapar, maka ia tidak makan. Jikalau ia tidak haus, maka ia tidak minum. Diriwayatkan dari Nabi Saw, “Kami adalah kaum yang tidak makan sampai kami merasa lapar. Dan jikalau kami makan, maka kami tidak kenyang.”(1)

Berdasarkan hal ini, seorang muslim melazimi adab-adab syariyyah khusus dalam makan dan minumnya, sebagai beriut: 


Adab Sebelum Makan


1. Men-Thayyibkan (membaikkan) makanan dan minumannya, dengan mempersiapkannya dari yang halal dan thayyib, tidak mengandung unsur-unsur haram dan syubhat, berdasarkan firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu." (Surat al-Baqarah: 172) Maksud Thayyib (baik-baik) adalah yang halal, tidak kotor dan najis. 

2. Dengan memakannya dan meminumnya, ia berniat untuk menguatkan badannya beribadah kepada Allah SWT, agar bisa mendapatkan pahala dari makan dan minumnya. Dengan niat yang baik, hal mubah akan berubah menjadi ketaatan yang bernilai pahala bagi seorang muslim. 

3. Membasuh kedua tangannya jikalau ada kotoran, atau masih belum yakin dengan kebersihannya. 

4. Menempatkan makanannya di tikar di atas lantai, bukan di meja makan. Sebab, hal ini lebih tawadhu’, berdasarkan ucapan Anas radhiyallahu anhu, “Rasulullah Saw tidak pernah makan di atas meja makan dan tidak juga memakai mangkuk.”(2)

5. Duduk dengan tawadhu, dengan menekuk kedua lututnya dan duduk di atas kedua telapak kakinya, atau dengan menegakkan kaki kanannya dan duduk di atas kaki kirinya, sebagaimana Rasulullah Saw duduk, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Saya tidak makan sambil bertelekan. Saya hanyalah seorang hamba. Saya makan sebagaimana seorang hamba sahaya makan. Dan saya duduk sebagaimana seorang hamba sahaya duduk.”(3)

6. Ridha dengan makanan yang ada, dan  tidak mencelanya. Jikalau ia senang, maka ia memakannya. Jikalau tidak senang, maka ia meninggalkannya, berdasarkan hadist riwayat Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Saw tidak pernah mencela makanan sedikit pun. Jikalau beliau suka, beliau makan. Jikalau beliau tidak suka, beliau membiarkannya.(4)

7. Makan bersama yang lainnya, baik tamu, atau keluarga, atau anak, atau pembantu, berdasarkan khabar, “Berkumpullah di hadapan makanan kalian dan ingatlah nama Allah SWT, maka Dia akan memberkahi kalian.”(5)


Adab Ketika Makan

1. Memulainya dengan bismilah, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Jikalau salah seorang di antara kalian makan, maka sebutlah nama Allah SWT. Jikalau ia lupa menyebut nama-Nya, maka ucapkanlah: 

بِسْمِ اللَّـهِ أوَّلِهِ وآخِرِهِ

“Dengan nama Allah; awalnya dan akhirnya.”

2. Menutupnya dengan Hamdalah, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Siapa yang memakan makanan, kemudian mengucapkan: 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا، وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ

“Segala puji bagi Allah SWT yang sudah memberikanmu makan dengan ini, mengaruniakannya kepadanya tanpa kuasa dariku dan kekuatan.”

Maka, diampunkan dosa-dosanya yang terdahulu.”(6)

3. Makan dengan tiga jari tangan kanannya, mengecilkan suapannya dan membaguskan kunyahannya, makan makanan yang terdekat bukan dari tengah-tengah piring, berdasarkan sabda Rasulullah Saw kepada Umar bin Abu Salamah, “Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang terdekat darimu.”(7) Dan sabdanya, “Keberkahan itu ada di pertengahan makanan. Maka, makanlah dari kedua sisinya, jangan makan dari tengahnya.”(8)

4. Memperbagus kunyahannya, menjilat piring dan jari-jarinya sebelum mengusapnya dengan lap tangan atau mencucinya dengan air, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Jikalau salah seorang di antara kalian makan makanan, maka janganlah ia mengusap jari-jarinya sampai ia menjilatnya atau dijilatkan.”(9) Dan berdasarkan ucapan Jabir radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Saw memerintahkan untuk menjilat jari-jari dan piring, kemudian bersabda, “Kalian tidak tahu di bagian mana dari makanan kalian itu ada keberkahannya.”(10)

5. Jikalau yang dimakan itu ada yang terjatuh, maka ia menghilangkan kotorannya dan memakannya, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Jikalau suapan salah seorang di antara kalian (ada yang) terjatuh, maka ambillah, buanglah kotorannya dan makanlah. Jangan membiarkannya untuk setan.”(11)

6. Tidak meniup makanan yang panas dan tidak memakannya sampai dingin, tidak meniup air ketika minum, dan bernafas tiga kali di luar gelas minum, berdasarkan hadits Anas radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Saw bernafas tiga kali ketika minum.”(12) Berdasarkan hadits riwayat Abu Said radhiyallahu anhu bahwa Nabi Saw melarang meniup minuman.”(13) Dan berdasarkan hadits riwayat Ibn Abbas radhiyallahu anhu bahwa Nabi Saw melarang bernafas di bejana atau meniupnya.”(14)

7. Menghindari kenyang yang berlebihan, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiganya untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk bernafas”(15)

8. Mengambilkan makanan dan minuman untuk yang lebih tua terlebih dahulu, yang berada di dalam mejlis. Kemudian memutarnya ke bagian yang paling kanan dan paling kanan. Hendaklah ia menjadi orang yang paling terakhir minum, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “yang lebih tua, yang lebih tua.” Maksudnya, mulailah dengan yang lebih tua dari yang ada di majelis. Kemudian juga berdasarkan riwayat lainnya bahwa Nabi Saw mengizinkan Ibn Abbas untuk mengambil minum terlebih dahulu, sedangkan di bagian kirinya ada para tetua(16) (Ibn Abbas berada di kanan Nabi Saw, dan para tetua berada di kirinya). Maka, izinnya ini menunjukkan bahwa yang paling berhak minum terlebih dahulu adalah yang kanan, berdasarkan sabdanya, “yang paling kanan (terlebih dahulu), yang paling kanan.”(17) Dan sabdanya, “yang menuangkan minuman untuk suatu kaum adalah yang paling terakhir di antara mereka.” Yaitu, minumnya. 

9. Tidak memulai terlebih dahulu mengambil makanan atau minuman, sedangkan di majelis itu ada yang utama didahulukan karena usia yang lebih tua, atau memiliki kelebihan tertentu. Sebab, sikap seperti itu menyebabkan rusaknya adab, menyebabkan pelakunya layak disifati dengan sifat tamak yang tercela. Ada yang bersyair: 

Jikalau tangan dijulur ke perbekalan, maka saya

Bukanlah yang terdahulu di antara mereka

Sebab, orang yang paling tamak dari suatu kaum adalah yang paling dahulu

10. Tidak mengabaikan sahabatnya atau tamunya, sehingga tuan rumah sampai perlu mengatakan kepadanya, “Makanlah” atau memaksanya. Tapi, hendaklah ia makan dengan adab sesuai dengan kadar yang cukup baginya, tanpa malu atau membuatnya merasa malu. Sebab, hal itu akan membuat sahabatnya atau tamunya merasa tidak nyaman, sebagaimana hal itu juga masuk dalam kategori riya, dan riya adalah haram. 

11. Berlemah lembut kepada temannya ketika makan. Tidak berusaha makan lebih banyak dari temannya, apalagi jikalau makanannya sedikit. Sikap seperti itu, sama saja dengan memakan hak yang lainnya. 

12. Tidak memperhatikan para sahabatnya yang sedang makan, kemudian tidak juga mengawasi mereka sehingga merasa malu. Tetapi, hendaklah ia menundukkan pandangannya dan tidak usah memperhatikan. Sebab, hal itu akan menyakiti mereka, sebagaimana juga akan menyebabkan mereka merasa tidak nyaman, sehingga menyebabkannya berdosa. 

13. Tidak melakukan sesuatu yang biasanya dianggap jorok, seperti mengaduk-ngaduk makanan dengan tangannya; tidak mendekatkan kepalanya dengan tempat makanan ketika makan, kemudian makan dengan posisi seperti itu. Tujuannya,  agar tidak ada makanan yang jatuh dari mulutnya, kemudian masuk ke situ. Sebagaimana ia jangan mengambil sisa roti di giginya, kemudian ia memasukkannya ke roti yang tersisa di tempat makanan. Jangan juga ia berbicara dengan kata-kata yang kotor dan jorok, sebab bisa jadi hal itu akan menyebabkan salah seorang sahabatnya ada yang merasa tidak nyaman atau tersakiti. Dan menyakiti seorang muslim adalah haram. 

14. Makannya bersama dengan orang yang fakir, haruslah berdasarkan Itsar (mendahulukan yang lainnya dari dirinya sendiri). Kemudian jikalau ia makan bersama dengan para sahabatnya, haruslah berdasarkan kebahagiaan dan canda tawa. Kemudian jikalau bersama pejabat dan orang yang memiliki status social tinggi, maka haruslah berdasarkan adab dan penghormatan. 


Adab Setelah Makan

1. Menghentikan makannya sebelum kenyang, meneladani Rasulullah Saw. Agar, ia tidak terjerumus ke dalam sikap rakus yang menghancurkan dan kegemukan yang menghilangkan kecerdasan. 

2. Menjilat tangannya, kemudian mengusapnya atau membasuhnya. Namun membasuhnya lebih utama. 

3. Memungut makanan yang berjatuhan ketika makan, sebab ada riwayat yang mendorong hal itu. Ia juga masuk ke dalam Bab Bersyukur atas nikmat Allah SWT. 

4. Mencelah giginya dengan jari-jarinya dan berkumur-kumur untuk kebaikan mulutnya. Sebab, dengan mulutnya itu ia berzikir mengingat Allah SWT dan berbicara dengan para sahabatnya, sebagaimana kebersihan mulut juga mempengaruhi kesehatan gigi. 

5. Memuji Allah SWT setelah makan atau minum. Jikalau ia minum susu, maka ia mengucapkan: 

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَـنَا فيما رزقتنا وَزِدْنَا مِنْهُ

“Ya Allah, berkahilah apa yang Engkau berikan kepada kami, dan tambahkanlah.” 

Jikalau ia berbuka puasa bersama suatu kaum, maka hendaklah ia mengucapkan, “Orang-orang yang berpuasa berada di dekat kalian, makanan kalian dimakan oleh orang-orang yang baik, dan para malaikat mendoakan kalian.” Jikalau ia mengucapkan: 

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِيمَا رَزَقْتَهُمْ، واغْفِرْ لَهُمْ، وارْحَمْهُمْ

“Ya Allah, berkahi rezeki yang Engkau berikan kepada mereka, ampunilah mereka, dan rahmatilah.” 

Maka, ia sudah sesuai dengan sunnah dan sudah mendoakan dengan kebaikan yang banyak. 


Catatan Kaki: 

(1) Saya tidak mendapati orang yang mengtakhrijnya, barangkali ia adalah Atsar dari salah seorang sahabat radhiyallahu anhum, bukan hadits Nabi. Wallahu A’lam. 

(2) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (363), dan Ibn Majah (3292)

(3) Shahih al-Bukhari dalam Kitab al-Ath’imah (13)

(4) Diriwayatkan oleh Abu Daud (3763)

(5) Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (3/501), dan Ibn Majah (3286)

(6) Diriwayatkan oleh Abu Daud (3767) dan al-Imam Ahmad (6/246, 265)

(7) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (7/88) dan Muslim (108) dalam Kitab al-Asyribah

(8) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (1805)

(9) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (7/106) dan Abu Daud (52) dalam Kitab al-Ath’imah

(10) Diriwayatkan oleh Muslim (136) dalam Kitab al-Asyribah

(11) Diriwayatkan oleh Muslim (135) dalam Kitab al-Asyribah

(12) Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (3/211, 251)

(13) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (1887) dan dishahihkannya

(14) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (1888) dan dishahihkannya, dan Abu Daud (3728)

(15) Diriwayatkan oleh Ibn Majah (3349) dan al-Hakim dalam al-Mustadrak (4/331) yang dishahihkannya

(16) Shahih al-Bukhari dalam Kitab al-Mazhalim (12) dan Muslim dalam Kitab al-Asyribah (127)

(17) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (3/144), (143), dan Muslim (124) dalam Kitab al-Asyribah

Adab-Adab Dalam Majelis (Ilmu)

Seorang muslim, seluruh hidupnya tunduk dan mengikuti Manhaj Islami yang mencakup seluruh sisi kehidupan, termasuk masalah duduk dan cara bermajelis dengan para sahabatnya. Karena itulah, seorang muslim melazimi adab-adab berikut ini dalam duduknya dan majelisnya: 


1) Jikalau ia ingin duduk, maka ia mengucapkan salam kepada orang-orang yang ada di dalam majelis terlebih dahulu, kemudian duduk di ujung majelis. Janganlah ia menyuruh yang lainnya berdiri agar ia bisa duduk disitu, dan tidak juga duduk di antara dua orang yang berdekatan kecuali dengan izin keduanya, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Janganlah salah seorang di antara kalian menyuruh yang lainnya berdiri, kemudian ia duduk disitu. Tetapi berlapang-lapanglah atau berluas-luaslah.”(1) Ibn Umar radhiyallahu anhu, jikalau ada yang berdiri dari tempat duduknya untuk ditempatinya, maka ia tidak akan mau duduk di tempat itu. Jabir bin Samrah radhiyallahu anhu mengatakan, “Jikalau kami mendatangi Nabi Saw, maka salah seorang di antara kami duduk di ujung majelis.”(2) Dan sabdanya, “Tidak halal bagi seorang muslim memisahkan di antara dua orang kecuali dengan izin keduanya.”(3)


2) Jikalau ada yang berdiri meninggalkan tempat duduknya, kemudian ia kembali lagi kesitu, maka ia lebih berhak mendudukinya, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Jikalau salah seorang di antara kalian bangkit dari tempat duduknya, kemudian kembali lagi, maka ia lebih berhak.”(4)


3) Tidak duduk di tengah halaqah (duduk melingkar), berdasarkan kata-kata Huzaifah, “Rasulullah Saw melaknat orang yang duduk di tengah halaqah.”(5)


4) Jikalau ia duduk, maka ia menjaga adab-adab berikut ini; duduk dengan tenang, tidak menjalin jari-jarinya, tidak bermain-main dengan jenggotnya atau cincinnya, tidak mencongkel-congkel giginya atau mengupil atau sering meludah atau banyak bersin dan menguap. Hendaklah duduknya itu tenang dan sedikit bergerak. Hendaklah ucapannya itu teratur dan runtut. Jikalau ia berbicara, maka hendaklah berbicara dengan benar. Tidak banyak berbicara, menjauhi candaan dan perdebatan, tidak membicarakan kekagumannya terhadap keluarganya dan anak-anaknya, atau karyanya, atau karya sastranya, baik syair maupun tulisan. Jikalau yang lain berbicara, maka ia mendengarkan dengan baik, tidak takjub berlebihan terhadap pembicaraannya, tidak memotong kata-katanya, atau memintanya mengulang kembali. Sebab, hal itu menggangu orang yang sedang berbicara. 


Ketika seorang muslim melazimi adab-adab ini, maka ia melaziminya karena dua perkara; Pertama, agar ia tidak menyakiti sahabatnya dengan sikapnya atau perbuatannya. Sebab, menyakiti muslim lainnya adalah haram, “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari lisannya dan tangannya.” Kedua, Mendapatkan cinta para sahabatnya dan semakin mengakrabkan diri dengan mereka. Sebab, syariat memerintahkan untuk saling mencintai dan saling akrab di antara kaum muslimin, serta mendorong mereka untuk melakukannya. 


5) Jikalau ingin duduk-duduk di pinggir jalan, maka ia harus memperhatikan adab-adab berikut ini: 


I. Menundukkan Pandangan. Ia tidak membelalakkan matanya untuk melihat para wanita mukminah yang lewat, atau berdiri di pintu rumahnya, atau berada di balkon rumahnya, atau yang sedang memandang melalui jendela rumahnya untuk suatu hajat, sebagaimana ia tidak melihat dengki kepada yang lainnya atau meremehkannya.


II. Tidak menyakiti siapa pun yang lewat, tidak menyakiti siapa pun dengan lisannya dengan mencela atau menjelek-jelekkan, tidak memukul dan merampas harta yang lainnya, tidak menghalangi jalan orang yang lewat, dan tidak membegal. 


III. Menjawab salam orang lewat yang mengucapkan salam kepadanya. Sebab, menjawab salam itu wajib, berdasarkan firman Allah SWT, 

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya." (Surat al-Nisa: 86)


IV. Memerintahkan hal ma’ruf yang ditinggalkan dan diabaikan di hadapannya, sedangkan ia menyaksikannya. Sebab, dalam kondisi ini ia bertanggungjawab memerintahkannya. Amar Ma’ruf adalah kewajiban setiap muslim, dan tidak gugur hukumnya kecuali dengan menjalankannya. Misalnya, seruan mengerjakan shalat, namun tidak ada seorang pun yang ada di majelis menyambutnya. Maka, ia berkewajiban memerintahkan mereka untuk menyambut seruan shalat. Ini adalah bagian dari ma’ruf. Ketika ditinggalkan, maka ia wajib memerintahkannya. Misal lainnya, jikalau ada orang yang lapar atau orang yang tidak berpakaian lewat, maka ia harus memberinya makan dan memberinya pakaian, jikalau ia mampu melakukannya. Jikalau tidak mampu, maka ia bisa memerintahkan yang lainnya untuk memberinya makan dan memberinya pakaian. Sebab, memberi makan orang yang kelaparan dan memberi pakaian kepada orang yang tidak berpakaian adalah bagian dari hal ma’ruf, yang wajib diperintahkan jikalau diabaikan. 


V. Melarang semua kemungkaran yang disaksikannya, yang dilakukan di hadapannya. Sebab, mengubah kemungkaran sama dengan amar ma’ruf, yang menjadi tugas setiap muslim, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Siapa yang melihat kemungkaran di antara kalian, maka ubahlah dengan tangannya.”(6) Misalnya, ada seseorang di hadapannya yang berbuat criminal kepada yang lainnya. Orang itu memukul korbannya dan merampas hartanya. Maka, ia wajib dalam kondisi ini untuk mengubah kemungkaran, dengan menghalangi kezaliman dan criminal tersebut sesuai dengan kekuatannya dan kemampuannya. 


VI. Memberikan petunjuk kepada orang yang tersesat. Jikalau ada orang bertanya kepadanya mengenai sebuah rumah atau petunjuk jalan atau mengenai seseorang, maka dalam kondisi ini ia wajib menjelaskan rumahnya, atau menunjuki jalannya, atau mengenalkan siapa yang diinginkannya. 


Semua ini adalah di antara adab-adab duduk di pinggir jalan, seperti di depan rumah, warung dan café, atau ruang umum, taman-taman, dan lain-lain. Dan itu berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Hati-hatilah kalian duduk-duduk di (pinggir) jalan.” Para sahabat bertanya, “Kami tidak memiliki yang lainnya. Itu hanyalah majelis-majelis yang menjadi tempat kami berbincang-bincang.” Beliau berkata, “Jikalau kalian tidak mau kecuali di majelis-majelis itu, maka berikanlah hak jalan.” Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, tidak menyakiti, menjawab salam, memerintah yang ma’ruf, dan melarang yang mungkar.” Dalam riwayat lainnya ada tambahan, “Menunjukkan yang tersesat.”(7)


Di antara adab duduk adalah beristighfar memohon ampunan Allah SWT ketika bangkit dari tempat duduknya, sebagai penggugur dosa jikalau barangkali ada kesalahan yang dilakukannya di majelis. Nabi Saw, jikalau ingin bangkit dari majelisnya (tempat duduknya), maka beliau mengucapkan: 

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Maha suci Allah, ya Allah, dengan pujian kepada-Mu, saya bersaksi bahwa tidak ada Ilah melainkan diri-Mu, saya memohonkan ampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” 

Beliau ditanya mengenai doa itu, dan beliau menjawab, “Ia menjadi kafarat (penggugur dosa) untuk apa yang terjadi di majelis.”(8)


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh Muslim (11) dalam Kitab al-Salam dan al-Imam Ahmad (2/124)

(2) Diriwayatkan oleh Abu Daud (4825)

(3) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (2132, 2752) dan Ibn Majah (2377)

(4) Diriwayatkan oleh Muslim (31) dalam Kitab al-Salam

(5) Diriwayatkan oleh Abu Daud (4827) dengan pensanadan yang hasan

(6) Diriwayatkan oleh Muslim (69) dan al-Turmudzi (2173)

(7) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (3433)

(8) Diriwayatkan oleh Abu Daud (32) dalam al-Adab

Adab-Adab Ukhuwwah (Persaudaraan) di Dalam Islam

Seorang muslim, dengan imannya kepada Allah SWT, ia tidak mencintai kecuali karena Allah SWT, dan tidak membenci kecuali karena-Nya. Sebab, ia tidak mencintai kecuali apa yang dicintai oleh Allah SWT dan Rasul-Nya, dan tidak membenci kecuali apa yang dibenci oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Jadi, ia mencintai karena cinta Allah SWT dan Rasul-Nya, kemudian dengan benci-Nya juga ia membenci. Dalilnya dalam hal ini adalah sabda Rasulullah Saw, “Siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena-Nya, memberi karena-Nya, dan tidak memberi karena-Nya, maka ia sudah menyempurnakan iman.”(1) Berdasarkan hal ini, maka semua hamba Allah SWT yang shaleh, dicintai oleh seorang muslim dan loyalitasnya diberikan kepada mereka. Dan semua hamba Allah SWT yang fasik terhadap perintah Allah SWT dan Rasul-Nya, dibencinya dan ditentangnya. Dan ini bukanlah halangan bagi seorang muslim untuk mengangkat sejumlah orang sebagai sahabatnya di jalan Allah SWT, yang dicintainya dan disayanginya melebihi sahabatnya yang lainnya. Sebab, Rasulullah Saw mendorong untuk mengangkat saudara-saudara dan teman-teman seperti itu, berdasarkan sabdanya, “Seorang mukmin adalah orang yang bisa menerima dan diterima orang lain, dan tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak bisa diterima orang lain.”(2) Dan sabdanya, “Di sekitar ‘Arsy ada mimbar-mimbar dari cahaya yang di atasnya ada kaum yang pakaian mereka dari cahaya. Wajah mereka adalah cahaya. Mereka bukanlah para Nabi dan Para Syahid. Para Nabi dan Para Syahid “iri” terhadap mereka.” Para sahabat bertanya, “Gambarkan mereka kepada kami wahai Rasulullah Saw?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang saling mencintai karena Allah SWT, orang-orang yang saling bermajelis karena-Nya, dan orang-orang yang saling menanggung karena-Nya.”(3) Dan sabda Rasulullah Saw, “Hak cinta-Ku untuk orang-orang yang saling menanggung karena diri-Ku. Hak cinta-Ku untuk orang-orang yang saling menolong karena diri-Ku.”(4) Dan sabdanya, “Tujuh orang yang akan dinaungi oleh Allah SWT dalam naungan-Nya ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; Imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah SWT; seseorang yang hatinya bergantung dengan Masjid jikalau keluar darinya sampai kembali lagi; dua orang yang saling mencintai karena Allah SWT, kemudian berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya; laki-laki yang berzikir mengingat Allah SWT ketika sendirian kemudian kedua matanya menumpahkan airmata; laki-laki yang dipanggil oleh seorang perempuan yang terpandang dan berparas cantik, kemudian ia berkata, ‘Saya takut kepada Allah SWT’; dan seseorang yang bersedekah, kemudian ia menyembunyikannya sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.”(5)


Dan sabdanya, “Seseorang mengunjungi saudaranya Fillah. Kemudian Allah SWT mengutus seorang malaikat untuk mengintrogasinya. Ia berkata, ‘Engkau hendak kemana?” Ia menjawab, “Saya ingin mengunjungi saudaraku Fulan.” Ia berkata, “Apakah engkau ada keperluan terhadapnya?” Ia menjawab, “Tidak.” Ia berkata, “Karena kekerabatan antara dirimu dengan dirinya?” Ia menjawab, “Tidak.” Ia berkata, “Karena nikmatmu yang ada padanya?” Ia menjawab, “Tidak.” Ia bertanya, “Untuk apa?” Ia menjawab, “Saya mencintainya karena Allah SWT.” Ia (malaikat) berkata, “Allah SWT mengutusku kepadamu untuk memberitahumu bahwa Dia mencintaimu karena kecintaanmu kepada saudaramu itu. Dia mewajibkan (memastikan) bagimu surga.”(6)


Syarat persaudaraan seperti ini adalah, karena Allah SWT, jauh dari dorongan-dorongan duniawi dan hubungan-hubungan materi, pendorongnya adalah iman kepada-Nya bukan selainnya. 


Sedangkan untuk adab-adabnya, hendaklah orang yang dijadikan saudara (di jalan Allah SWT) adalah: 

1) Berakal. Sebab, tidak ada kebaikan berteman dengan orang yang bodoh dan bersahabat dengannya. Bisa jadi, orang yang bodoh nan jahil itu malah memudharatkan, bukannya memberikan manfaat. 

2) Berakhlak baik. Sebab, orang yang berakhlak buruk, walaupun ia berakal, bisa saja ditaklukkan oleh syahwatnya atau dikuasai oleh kemarahann, sehingga berbuat jahat kepadanya. 

3) Bertakwa. Sebab, orang fasik yang tidak taat kepada Rabbnya, tidak aman berada di dekatnya. Bisa saja ia melakukan tindakan criminal kepada sahabatnya, tidak peduli sama sekali dengan persahabatannya dan selainnya. Orang yang tidak takut kepada Allah SWT, tidak takut dengan selain-Nya, apapun kondisinya. 

4) Melazimi Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Saw, jauh dari khurafat dan bid’ah. Sebab, pelaku bid’ah bisa saja merusak sahabatnya dengan keburukan bid’ahnya. Menjauhi pengikut hawa nafsu dan pelaku bid’ah adalah sesuatu yang jelas, memboikotnya adalah sesuatu yang lazim, maka bagaimana bisa menjadikannya sebagai teman dan sahabat?!


Terkait adab-adab memilih teman ini, seorang shalihin sudah meringkasnya ketika memberikan nasehat kepada anaknya:

“Wahai anakku, jikalau hajat menuntutmu untuk bersahabat dengan orang lain, maka bersahabatlah dengan orang yang jikalau engkau melayaninya, maka ia akan menjagamu; jikalau engkau bersahabat dengannya, maka ia akan menghiasimu; jikalau engkau membutuhan biaya, maka ia akan mendanaimu. Bersahabatlah dengan orang yang jikalau engkau mengulurkan tangan kebaikanmu kepadanya, maka ia (juga) mengulurkannya; jikalau ia melihat kebaikanmu, maka ia menganggapnya; jikalau ia melihat keburukanmu, maka ia akan menutupinya. Bersahabatlah dengan orang yang jikalau engkau meminta kepadanya, maka ia memberimu; jikalau engkau diam, ia mulai berbicara denganmu; jikalau musibah menimpamu, maka ia akan membantumu. Bersahabatlah dengan orang yang jikalau engkau berkata, maka ia aka membenarkan; jikalau kalian berdua menghadapi suatu urusan, maka ia akan memimpinmu, dan jikalau kalian berdua bertikai, maka ia akan mendahulukanmu.”


Hak-Hak Persaudaraan di Jalan Allah SWT


Di antara hak-hak persaudaraan adalah: 

1) Membantu dengan harta. Masing-masing membantu saudaranya dengan hartanya (uang) jikalau membutuhkan. Dinar mereka dan dirham mereka adalah satu, tidak ada perbedaan di antara mereka. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, yang suatu hari didatangi seseorang seraya berkata, “Saya ingin bersaudara denganmu di jalan Allah SWT.” Ia bertanya, “Apakah engkau tahu apa hak persaudaraan?” Ia menjawab, “Terangkanlah kepadaku.” Ia berkata, “Engkau tidak lebih berhak dengan dinarmu dan dirhammu dariku.” Ia menjawab, “Saya tidak akan mampu mencapai tingkatan ini.” Ia berkata, “Menjauhlah dariku.”

2) Masing-masing menolong saudaranya untuk memenuhi kebutuhannya dan mendahulukannya dari dirinya sendiri, memastikan kondisinya sebagaimana memastikan kondisinya sendiri, kemudian mendahulukannya dari dirinya sendiri, keluarganya, dan anak-anaknya. Kemudian bertanya tentang dirinya setiap lebih dari tiga hari. Jikalau ia sakit, maka ia membesuknya. Jikalau ia sibuk, maka ia membantunya. Jikalau ia lupa, maka ia mengingatkannya. Kemudian menyambutnya jikalau mendekat, melapangkan tempat baginya jikalau duduk, dan mendengarkannya dengan baik jikalau berbicara. 

3) Menahan lisan terhadapnya, kecuali untuk yang baik-baik saja. Tidak menyebut aibnya ketika ia tidak ada dan ketika ada, tidak mencari-cari tahu rahasianya, tidak berusaha melihat hal-hal yang tersembunyi mengenai dirinya. Jikalau ia melihatnya di jalan untuk memenuhi hajatnya, maka tidak mendesaknya untuk menyebutkan hajatnya itu, tidak berusaha mencaritahu sumbernya atau asalnya, berlemah-lembut dalam memerintahkannya mengerjakan yang ma’ruf dan melarangnya dari kemungkaran, tidak mendebat kata-katanya atau berjidal dengannya; benar maupun salah. Kemudian tidak mencacinya, dan tidak juga mencelanya karena sebab lainnya. 

4) Mengucapkan kepadanya apa yang disukainya; memanggilnya dengan nama terbaiknya, menyebutnya dengan yang baik-baik saja ketika ia tidak ada dan ketika ada, tidak menasehatinya di depan khalayak sehingga membuatnya malu, sebagaimana dikatakan oleh al-Imam al-Syafii rahimahullah, “Siapa yang menasehati saudaranya dengan sembunyi-sembunyi, maka ia sudah menasehatinya dan menghiasinya. Dan siapa yang menasehatinya secara terang-terangan, maka ia sudah membuatnya malu dan membuatnya terhina.” 

5) Memaafkan ketegelinciran-ketegilincirannya, mengampunkan kesalahan-kesalahanya, menutupi aib-aibnya, dan berbaik sangka kepadanya. Jikalau ia melakukan maksiat, baik secara sembunyi maupun secara terang-terangan, maka ia tidak memutus kasih sayang kepadanya, tidak mengabaikan persaudaraannya, tetap menunggu pertaubatannya dan kesadarannya. Jikalau ia tetap melakukannya, maka ia bersikap tegas kepadanya dan memutuskannya, atau tetap bersaudara dengan terus memberikan nasehat dan terus memberikan masukan seraya berharap agar ia bertaubat kepada Allah SWT, dan Dia menerima taubatnya. Abu al-Darda’ radhiyallahu anhu mengatakan, “Jikalau saudaramu sudah berubah, dan kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya, maka janganlah engkau meninggalkannya. Sebab, saudaramu sesekali bengkok dan sesekali istiqamah.”

6) Menunaikan hak persaudaraan, mengokohkannya dan melanggengkannya. Sebab, memutusnya akan menghapus pahala. Jikalau ia meninggal, maka kasih sayang itu beralih kepada anak-anaknya dan para sahabatnya, sebagai upaya menjaga  persaudaraan dan upaya menunaikan haknya. Rasulullah Saw memuliakan seorang perempuan tua yang datang menemuinya. Ketika hal itu ditanyakan kepadanya, beliau menjawab, “Dahulu ia mendatangi ketika Khadijah masih hidup. Memuliakan masa adalah bagian dari agama.”(7) Di antara bentuk penunaian hak persaudaraan adalah, ia tidak berteman dengan musuh temannya. Sebab, Imam al-Syafii rahimahullah mengatakan, “Jikalau sahabatmu patuh kepada musuhmu, maka keduanya sudah bersekutu dalam memusuhimu.”

7) Tidak membebaninya dengan sesuatu yang memberatkannya, dan tidak memikulkan ke pundaknya sesuatu yang tidak nyaman baginya. Jangan pernah berusaha sedikit pun memanfaatkannya, baik jabatan maupun harta, atau memaksanya melakukan sejumlah pekerjaan. Sebab, pondasi persaudaraan ini adalah Allah SWT. Tidak selayaknya mengubahnya dengan selainnya, baik demi mendapatkan kemanfaatan duniawi maupun untuk menolak mudharat. Sebagaimana tidak membebaninya, maka jangan juga membuatnya terbebani. Sebab keduanya adalah celah dalam persaudaraan, mempengaruhinya dan mengurangi pahala yang menjadi tujuannya. Ia harus “menggulung karpet” sikap suka menyusahkan dan membebani. Sikap seperti ini akan membuatnya terasa “asing” dan menafikan keakraban. Dalam Atsar disebutkan, “Saya dan orang-orang bertakwa dari umatku, berlepas diri dari sikap suka membebani. Ada orang shaleh mengatakan, ‘Siapa yang gugur bebannya, abadi persahabatannya. Siapa yang ringan biayanya, abadi kasihnya.’ Tanda gugurnya beban yang menyebabkan keakraban dan menghilangkan keseganan adalah ketika seseorang melakukan empat hal di rumah saudaranya; makan di rumahnya, masuk ke toiletnya, shalat dan tidur bersamanya. Jikalau ia sudah melakukannya, maka sempurnalah persaudaraannya, terangkatlah keseganan yang menyebabkan ketidaknyamanannya, dan wujudlah keakraban dan senyuman di antara keduanya. 

8) Mendoakan anak-anaknya demi sahabatnya, serta semua yang berhubungan denganya, sebagaimana ia mendoakan kebaikan untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya. Sebab, tidak ada perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya dalam ukhuwwah (persaudaraan) yang menyatukan keduanya. Kemudian juga mendoakannya, baik ketika hidup dan ketika mati, baik ada di hadapannya maupun tidak. Rasulullah Saw bersabda, “Jikalau seseorang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, maka malaikat berkata, ‘bagimu semisalnya.”(8)  Seorang yang shaleh mengatakan, “Mana contoh saudara yang shaleh? Keluarga laki-laki itu, jikalau ia meninggal, maka mereka membagi warisannya dan menikmati apa yang sudah ditinggalkannya. Sedangkan saudaranya yang shaleh, ia bersedih sendiri, teringat dengan apa yang dahulu sudah dipersembahkan saudaranya untuknya dan apa yang sudah terjadi, kemudian mendoakannya di kegelapan malam dan memohonkan ampunan baginya, sedangkan saudaranya itu sudah berada di bahwa tanah. 


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh Abu Daud (15) dalam Kitab al-Sunnah

(2) Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad, al-Thabrani, dan al-Hakim dalam al-Mustadraknya dan dishahihkannya

(3) Disebutkan oleh al-Zubaidy dalam Ithaf al-Sadah al-Muttaqin (6/174), (2/156). Muslim meriwayatkan dengan lafadz yang lebih singkat dari ini. Lafadz yang disebutkan disini disebutkan oleh al-Ghazali dalam al-Ihya’. Al-Zain al-Iraqy mengatakan, “Diriwayatkan oleh Muslim.” Ia tidak menunjukkan bahwa lafadz ini bukanlah ladadz muslim yang terdapat dalam shahihnya. Lihatlah al-Ihya’ (2/157)

(4) Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (5/237, 239)

(5) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1/168), (2, 138) dan Muslim (3) dalam Kitab al-Zakat

(6) Diriwayatkan oleh Muslim (38) dalam Kitab al-Birr wa al-Shilat

(7) Disebutkan oleh al-Zubaidy dalam Ithaf Sadah al-Muttaqin (6/235)

(8) Diriwayatkan oleh Abu Daud (1534)