Tampilkan postingan dengan label Minhaj_Akidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Minhaj_Akidah. Tampilkan semua postingan

Kewajiban Kepada Para Ulil Amri (Pemimpin)

 Sedangkan Kepada Para Ulil Amri, Seorang Muslim: 


1- Berpandangan wajibnya menaati mereka, berdasarkan firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu." (Surat al-Nisâ’: 59) dan sabda Rasulullah Saw, “Dengarkanlah dan taatilah, walaupun yang memimpin kalian adalah budak Habsyah yang seakan-akan kepalanya zabibah (buah anggur kering).”(1) Dan sabdanya, “Siapa yang menaatiku, maka ia menaati Allah SWT. Siapa yang bermaksiat kepadaku, maka ia bermaksiat kepada Allah SWT. Siapa yang menaati amirku, maka ia menaatiku. Siapa yang bermaksiat kepada amirku, maka ia bermaksiat kepadaku.”(2)

Ia berpandangan, tidak wajib menaati mereka dalam hal bermaksiat kepada Allah SWT. Sebab, ketaatan kepada-Nya didahulukan dari ketaatan kepada mereka, sebagaimana firman-Nya, “Dan mereka tidak memaksiati-Mu dalam yang ma’ruf.” (Surat al-Mumtahanah: 12) Sebab Rasulullah Saw bersabda, “Ketaatan itu dalam yang ma’ruf.”(3) Dan sabdanya, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta.”(4) Dan sabdanya, “Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah SWT.”(5) Dan sabdanya juga, “Mendengarkan dan menaati, wajib bagi seorang muslim dalam hal yang disukai dan dibenci selama tidak diperintahkan bermaksiat. Jikalau diperintahkan bermaksiat, maka tidak usah mendengarkan dan tidak ada ketaatan.”(6)


2-Ia berpandangan haramnya melakukan pemberontakan terhadap mereka atau menyiarkan kemaksiatan yang mereka lakukan. Sebab hal itu akan menghancurkan tongkat ketaatan kepada penguasa kaum muslimin, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Siapa yang membenci sesuatu dari amirnya, maka hendaklah ia bersabar. Sebab, siapa yang keluar dari dari penguasa sejengkal saja, maka ia meninggal dalam jahiliyyah.”(7) Dan sabdanya, “Siapa yang menghinakan penguasa, maka Allah SWT akan menghinakannya.”(8)


3-Ia mendoakan kebaikan dan kebenaran bagi mereka, mendapatkan taufik dan terjaga dari keburukan, serta terjerumus ke dalam kesalahan. Sebab, kebaikan umat itu tergantung dengan kebaikan mereka, dan rusaknya umat tergantung dengan kerusakan mereka. Ia menasehati mereka tanpa merendahkan dan mengurangi kemuliaan mereka, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Agama itu nasehat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah dan Kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, para Imam kaum muslimin dan mereka semuanya.”(9)


4-Ia berjihad bersama mereka dan shalat di belakang mereka; walaupun mereka fasik dan melakukan hal-hal yang diharamkan, selama bukan kekufuran. Ini berdasarkan sabda  Rasulullah Saw kepada orang yang bertanya mengenai para amir yang buruk, “Dengarkanlah dan taatilah. Bagi mereka yang mereka pikul, dan bagi kalian yang kalian pikul.” (10)

Dan berdasarkan ucapan Ubâdah bin al-Shâmit, “Kami membaiat Rasulullah Saw untuk mendengarkan dan menaati dalam rajinnya kami, bencinya kami, sulitnya kami, dan mudahnya kami, serta tidak menentang perintahnya.” Kemudian berkata, “Kecuali kalian melihat kekufuran nyata, yang kalian memiliki burhan (keterangan) dari Allah SWT mengenai hal itu.” (11)


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (9/78)

(2) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (9/77)

(3) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (9/89), diriwayatkan oleh Muslim (39, 40) Kitab al-Imârah

(4) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (9/109) dan Muslim dalam Kitab al-Imârah (9)

(5) Diriwayatkan oleh al-Imâm Ahmad (1/131, 409) dan (5/66)

(6) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (9/78), Abu Daud (2626), al-Turmudzi (7/17) dan al-Imâm Ahmad (2/17)

(7) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (9/59) dan diriwayatkan oleh Muslim (506) Kitab al-Imârah

(8) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (2224) dan dihasankannya. 

(9) Diriwayatkan oleh Muslim (23) Kitab al-Imârah

(10) Diriwayatkan oleh Muslim (49, 50) Kitab al-Imârah

(11) Diriwayatkan oleh al-Imâm Muslim (42) Kitab al-Imârah

Kewajiban Kepada Para Imam (Ulama) Kaum Muslimin

Sedangkan Kepada Para Imam (Ulama) Kaum Muslimin, dari Kalangan Para Ahli Qiraah, Para Ahli Hadits, dan Para Ahli Fikih, Maka Seorang Muslim: 


1-Mencintai mereka, menyayangi mereka, dan memohonkan ampunan Allah SWT untuk mereka, kemudian mengakui keutamaan yang mereka miliki. Mereka adalah orang-orang yang disebutkan dalam firman Allah SWT, “dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah." (Surat al-Taubah: 100) Dan sabda Rasulullah Saw, “Sebaik-baik kalian adalah masaku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka.”(1)

Sebagian besar Ahli Qiraah, Ahli Hadits, Ahli Fikih, dan Ahli Tafsir, mereka masuk dalam tiga kurun pertama yang kebaikan mereka dipersaksikan oleh Rasulullah Saw. Allah SWT memuji orang-orang yang memohonkan ampunan bagi orang-orang yang lebih dahulu beriman kepada-Nya, dalam firman-Nya, “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami." (Surat al-Hasyr: 10) Jadi, ia memohonkan ampunan bagi semua kaum mukminin dan kaum mukminat. 


2-Tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan, tidak mencela mereka dengan kata-kata, dan tidak juga dengan pendapat. Seorang muslim memahami bahwa mereka adalah para Mujtahid yang penuh keikhlasan. Maka, menyebut mereka haruslah dengan adab. Ia juga mendahulukan pendapat mereka dari pendapat orang-orang setelah mereka, mendahulukan pandangan mereka dari pandangan orang-orang setelah mereka dari kalangan ulama, ahli fikih, ahli tafsir, dan ahli hadits. Ia tidak meninggalkan pendapat mereka kecuali demi firman Allah SWT, atau demi sabda Rasulullah Saw, atau demi pandangan para sahabat –semoga Allah SWT meridhai mereka semuanya. 


3-Apa yang dituliskan oleh Imam yang empat; Malik, al-Syafii, Ahmad, dan Abu Hanifah, kemudian ucapan mereka dan pandangan mereka terkait masalah-masalah agama, fikih, dan syariat, semua itu berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Saw. Tidak ada yang mereka sampaikan kecuali apa yang mereka pahami dari dua pondasi utama ini, atau apa yang mereka istinbathkan dari keduanya, atau apa yang mereka Qiyaskan dari keduanya ketika tidak ada nash dari keduanya atau tidak juga ada isyarat. 


4-Seorang muslim berpandangan, bahwa berpegang dengan karangan salah satu Ulama ini terkait masalah-masalah fikih dan agama, hukumnya boleh-boleh saja. Kemudian ia juga berpandangan, bahwa mengamalkannya sama dengan mengamalkan Syariat Allah SWT, selama tidak bertentangan dengan Nash yang sharih dan shahih dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Saw. Sehingga, ia tidak meninggalkan firman Allah SWT dan sabda Rasulullah Saw demi pendapat seseorang, siapapun orangnya. Dan itu berdasarkan firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya." (Surat al-Hujurat: 1) Dan firman-Nya, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." (Surat al-Hasyr: 7) Dan firman-Nya, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka." (Surat al-Ahzâb: 36) Dan sabda Rasulullah Saw, “Siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintah kami, maka ia tertolak.”(2) Dan sabdanya, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang saya bawa.”(3)


5-Ia berpandangan bahwa mereka adalah manusia yang bisa benar dan bisa salah. Kadangkala, bisa jadi salah seorang di antara mereka salah dalam menetapkan hukum suatu masalah, namun tidak ada maksud dan tidak sengaja melakukanya. Hanya karena lalai atau lupa atau tidak menguasainya. Oleh karena itu, ia tidak fanatic dengan pendapat salah seorang di antara mereka, dan boleh mengambil pendapat salah seorang di antara mereka. Ia tidak menolak pendapat mereka kecuali dengan firman Allah SWT, atau sabda Rasulullah Saw.


6-Ia memahami jikalau ada perbedaan pendapat di antara mereka dalam masalah-masalah furu’ (cabang). Ia berpandangan bahwa perbedaan mereka itu bukanlah berdasarkan kejahilan, dan tidak pula karena fanatic. Tapi, sebabnya bisa jadi pihak yang berbeda pendapat itu tidak sampai hadits kepadanya, atau berpandangan terhapusnya (naskh) hadits yang tidak diambilnya, atau bertentangan dengan hadits lainnya yang sampai kepadanya dan dikuatkannya, atau memahami dengan paham yang berbeda dengan selainnya. Sebab, bisa jadi mereka berbeda dalam memahami Madlul al-Lafdz (apa yang ditunjukkan oleh lafal), sehingga setiap mereka mengiringnya sesuai dengan pahamnya sendiri. Pemisalannya adalah pemahaman Imam al-Syafii rahimahullah tentang batalnya wudhu secara mutlak karena menyentuh perempuan, berdasarkan pehamamannya dari firman Allah SWT, “atau menyentuh perempuan." (Surat al-Mâidah: 6) Ia memahaminya berdasarkan ayat ini, maknanya adalah sentuhan. Ia tidak berpandangan dengan selainnya. Ia berpandangan wajibnya berwudhu karena menyentuh perempuan. Sedangkan yang lainnya berpandangan bahwa maksud menyentuh dalam ayat itu adalah Jima’ (hubungan suami istri), sehingga mereka tidak mewajibkan wudhu karena menyentuh perempuan semata, tapi harus ada kadar lebihnya, seperti sengaja atau adanya al-Lazzah (syahwat).  

Jikalau ada yang mengatakan, “Kenapa al-Syafii tidak menarik lagi pendapatnya agar bersesuaian dengan pendapat para Imam lainnya, sehingga wilayah perbedaan pendapat di kalangan umat bisa diselesaikan?” 

Jawabannya: Tidak boleh baginya memahami sesuatu yang berasal dari Rabbnya tanpa disusupi keraguan sedikit pun, kemudian ia meninggalkan pendapatnya semata-mata demi pendapat atau pemahamna imam lainnya, sehingga ia mengekor pendapat manusia dan meninggalkan firman Allah SWT. Dan itu adalah salah satu dosa paling besar di hadapan Allah SWT. 

Betul, jikalau pemahamannya terhadap Nash, bertentangan dengan Nash yang sharih (jelas) dari Kitabullah atau Sunnah Rasulullah Saw, maka ia harus berpegang dengan Dilalah Nash yang jelas, kemudian meninggalkan pemahamannya terhadap Lafadz yang dilalahnya bukanlah nash yang sharih dan Zhahir. Sebab, jikalau Dilalahnya itu Qath’iyyah (pasti), maka tidak akan ada perbedaan pendapat di tengah umat, apalagi di kalangan para Imam. 


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (3/224), (8/113, 176), kemudian diriwayatkan oleh Muslim (214) Kitâb Fadhâil al-Shahâbah

(2) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (3/91), (9/132). Kemudian diriwayatkan oleh Muslim (18) Kitab al-Aqdhiyah

(3) Diriwayatkan oleh al-Nawâwi dan mengomentarinya sebagai hadits hasan shahih. 

Kewajiban kepada Para Sahabat & Keluarga Nabi (Ahlul Bait)

Para Sahabat Rasulullah Saw dan Keluarganya. Maka, Seorang Muslim itu: 


1-Mencintai mereka karena Allah SWT, dan karena Rasul-Nya mencintai mereka. Allah SWT memberitahu bahwa Dia mencintai mereka sebagaimana mereka mencintai-Nya dalam firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela." (Surat al-Mâidah: 54) Sebagaimana firman-Nya menggembarkan mereka, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. " (Surat al-Fath: 29) Dan sabda Rasulullah Saw, “Allah… Allah… Terhadap para sahabatku. Jangan kalian menjadikan mereka sebagai sasaran setelahku. Siapa yang mencintai mereka, maka dengan cintaku, Allah SWT akan mencintai mereka. Siapa yang membenci mereka, maka dengan benciku, Dia akan membenci mereka. Siapa yang menyakiti mereka, maka sudah menyakitiku. Dan siapa yang menyakitiku, maka ia sudah menyakiti Allah SWT. Dan siapa yang menyakiti-Nya, maka hampir saja Dia menghukumnya.”(1)


2-Mempercayai keutamaan mereka dibandingkan dengan kaum mukminin dan kaum muslimin lainnya, berdasarkan firman Allah SWT yang memuji mereka, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. " (Surat al-Taubah: 100)

Dan sabda Rasulullah Saw, “Jangan kalian mencela para sahabatku. Walaupun salah seorang di antara kalian menginfakkan emas seperti gunung Uhud, maka tidak akan menyamai satu mud kemuliaan salah seorang di antara mereka dan tidak juga setengahnya.”(2)


3-Berpandangan bahwa Abu Bakar al-Shiddiq adalah sahabat yang terbaik di antara para sahabat Rasulullah Saw lainnya secara mutlak. Kemudian sahabat terbaik setelahnya adalah Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali radhiyallahu anhum. Ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Jikalau saya mengambil sahabat erat dari umatku, maka saya akan mengangkat Abu Bakar. Tetapi, ia adalah saudaraku dan sahabatku.”(3) Dan perkataan Ibn Umar radhiyallahu anhu, “Dahulu kami mengatakan ketika Nabi Muhammad Saw masih hidup: Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali. Kemudian hal itu sampai kepada Nabi Saw, dan beliau tidak memungkirinya.(4) Dan berdasarkan ucapan Ali radhiyallahu anhu bahwa sebaik-baik umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar, kemudian Umar. Jikalau saya ingin, saya akan menyebutkan nama yang ketiga, yaitu Utsman(5) -Semoga Allah SWT meridhai semuanya. 


4-Mengakui keistimewaan-keistimewaan dan kelebihan-kelebihan yang mereka miliki, seperti kelebihan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, yang termaktub dalam sabda Rasulullah Saw kepada Uhud yang bergetar ketika mereka berada di atasnya, “Tenanglah Uhud. Di atasmu ada Nabi, Shiddiq, dan dua syahid.” Dan sebagaimana sabdanya kepada Ali radhiyallahu anhu, “Apakah engkau ridak ridha jikalau posisimu dariku sebagaimana posisi Harun dari Musa?” Dan sabdanya, “Fathimah adalah pemimpin para wanita penghuni surga.” Dan sabdanya tentang al-Zubair bin al-Awwam, “Setiap Nabi ada penolongnya, dan penolong saya adalah al-Zubair bin al-Awwam.” Dan sabdanya tentang al-Hasan dan al-Husain, “Ya Allah, cintailah keduanya. Sebab, saya mencintai keduanya.” Dan sabdanya tentang Abdullah bin Umar, “Abdullah adalah laki-laki yang shaleh.”(6) Dan sabdanya tentang Zaid bin Hâritsah, “Engkau adalah saudara kami dan tuan kami.”(7) Dan sabdanya kepada Jafar bin Abdullah, “Engkau menyerupai rupaku dan akhlakku.”(8)  Dan sabdanya kepada Bilâl bin Rabâh, “Saya mendengar bunyi suara sandalmu di surga.” Dan sabdanya tentang Salim Mawla Abu Hudzaifah, Abdullah bin Masud, Ubay bin Kaab, dan Muadz bin Jabal, “Mintalah bacaan al-Quran dari empat orang: Abdullah bin Masud, Salim Mawla Abu Hudzaifah, Ubay bin Kaab, dan Muadz bin Jabal.”(9) Dan sabdanya tentang Aisyah, “Keutamaan Aisyah seperti keutamaan Tsarid (roti dicampur daging) dari seluruh makanan.”(10) Dan sabdanya tentang kaum Anshar, “Jikalau Anshar menempuh sebuah lembah, maka saya akan menempuh lembah yang ditempuh kaum Anshar. Jikalau bukan karena hijrah, maka saya akan menjadi salah seorang kaum Anshar.”(11) Dan sabdanya, “Tidak ada yang mencintai kaum Anshar kecuali seorang mukmin. Dan tidak ada yang membenci mereka kecuali munafik. Siapa yang mencintai mereka, maka Allah SWT akan mencintainya. Siapa yang membenci mereka, maka Dia akan membencinya.”(12) Dan sabdanya tentang Saad bin Muadz, “Arsy berguncang karena kematian Saad bin Muadz.”(13) Dan seperti kelebihan yang didapatkan oleh Usaid bin Khudhir, taktala ia bersama salah seorang sahabat Rasulullah Saw berada di rumah Nabi di malam yang gelap. Ketika keduanya pulang, ternyata ada cahaya di hadapan keduanya yang menjadi penerang mereka. Ketika keduanya berpisah, maka cahaya pun berpisah dari mereka.(14) Dan sabdanya tentang Ubay bin Kaab, “Allah SWT memerintahkanku untuk membacakan kepada kalian, ‘Lam yakunilladzina kafaru…” Ia menjawab, “Dia menyebut namaku?” Beliau menjawab, “Ya.” Maka Ubay pun menangis.(15) Dan sabdanya tentang Khalid bin al-Walîd, “Salah satu pedang Allah SWT yang terhunus.”(16) Dan sabdanya tentang al-Hasan, “Anakku adalah pemimpin. Mudah-mudahan Allah SWT mendamaikan dengannya dua kelompok dari kaum muslimin.”(17) Dan sabdanya tentang Abu Ubaidah, “Setiap umat itu ada Amînnya (orang terpercayanya), dan amin kita wahai sekalian umat adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrâh.”(18) Semoga Allah SWT meridhai semuanya. 


5-Berhenti menyebut keburukan-keburukan mereka, berdiam diri dari perbedaan yang terjadi di antara mereka, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Janganlah kalian mencela para sahabatku.” Dan sabdanya, “Janganlah kalian menjadikannya sasaran setelahku.” Dan sabdanya, “Siapa yang menyakiti mereka, maka ia sudah menyakitiku. Siapa yang menyakitiku, maka ia sudah menyakiti Allah SWT. Dan siapa yang menyakiti-Nya, maka hampir saja Dia menghukumnya.”(19)


6-Mengimani kemuliaan para istri Rasulullah Saw, bahwa mereka adalah para wanita yang suci dan bersih, ridha terhadap mereka, dan berpandangan bahwa perempuan yang paling terbaik di antara mereka adalah Khadiyah binti Khuwailid dan Aisyah binti Abu Bakar. Dan itu berdasarkan firman Allah SWT, “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka." (Surat al-Ahzâb: 6)


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (3862) dan di-Hasankannya.

(2) Diriwayatkan oleh Abu Daud (4658) dengan pensanadan yang hasan. 

(3) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (1/126)

(4) Diriwayatkan oleh Abu Daud (4628)

(5) Kanz al-Ummâl (32682), (36139)

(6) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (5/31), (9/47, 51)

(7) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (3/232), (5/29, 180)

(8) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (2/242), (5/24, 180)

(9) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (5/34, 45)

(10) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri dalam Shahîhnya (4519)

(11) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (5/38)

(12) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri dalam Shahîhnya (3783)

(13) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (3803)

(14) Kisah ini terdapat dalam Shahîh al-Bukhâri (3805)

(15) Diriwayatkan oleh Imâm Ahmad (3/130)

(16) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri dalam Shahîhnya (3757)

(17) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (4/249), (5/32)

(18) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (5/218), (9/109)

(19)   Sudah Ditakhrij sebelumnya

Adab-Adab Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar

Ada sejumlah Adab yang perlu diperhatikan dalam Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar:


1-Ia harus paham hakikat yang diperintahkan, bahwa ia adalah sesuatu yang ma’ruf dalam syariat, atau ia adalah sesuatu yang benar-benar harus ditinggalkan, sebagaimana ia juga paham dengan hakikat kemungkaran yang dilarangnya dan ingin diubahnya, bahwa orang tersebut benar-benar sudah melakukannya secara nyata, kemudian yang dingkarinya itu adalah maksiat dan hal-hal yang diharamkan dalam syariat. 


2-Ia adalah seseorang yang wara’, tidak melakukan apa yang dilarangnya, kemudian tidak meninggalkan apa yang diperintahkannya, sebagaimana firman Allah SWT, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. " (Surat al-Shaf: 2-3) Dan firman-Nya, “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (Surat al-Baqarah: 44) 


3-Ia adalah sosok yang baik akhlaknya dan santun, memerintah dengan lemah lembut. Ia melarang dengan halus. Ia tidak marah jikalau mendapati sesuatu yang buruk dari orang yang dilarang. Ia juga tidak marah jikalau disakiti oleh orang yang diperintahnya. Akan tepati, ia bersabar, memaafkan dan berlapang dada, sebagaimana firman Allah SWT, “Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)." (Surat Luqman: 17)


4-Jangan sampai ia mengetahui kemungkaran itu dengan cara al-Tajassus (mencari-cari kesalahan). Sebab, tidak layak mengetahui kemungkaran dengan cara memata-matai orang lain di rumahnya, atau membuka pakaian salah seorang di antara mereka untuk melihat apa yang ada di balik pakaian tersebut, atau membuka tutup untuk melihat apa yang ada di balik bejana. Sebab, syariat memerintahkan Umat Islam untuk menutupi aurat yang lainnya, melarang merasa-rasai dan memata-matai. Allah SWT berfirman, “Janganlah kalian mencari-cari kesalahan.” (Surat al-Hujurat: 12) Dan sabda Rasulullah Saw, “Janganlah kalian mencari-cari kesalahan.”(1) Dan sabdanya, “Siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah SWT akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat.”(2)


5-Sebelum seseorang ingin melakukan Amar Ma’ruf, hendaklah ia terlebih dahulu memberitahu objek dakwahnya tentang hal yang ma’ruf tersebut. Sebab, bisa jadi ia meninggalkannya karena tidak mengetahui bahwa itu adalah sesuatu yang ma’ruf. Sebagaimana ia juga memberitahu orang yang ingin diingkarinya, bahwa yang dilakukannya itu adalah kemungkaran. Sebab, bisa jadi perbuatannya itu akibat ia tidak tahu bahwa yang dilakukannya adalah kemungkaran. 


6-Hendaklah ia memerintah dan melarang dengan ma’ruf. Jikalau orang yang meninggalkan yang ma’ruf tadi tidak kunjung menjalankannya, dan orang yang melakukan perbuatan mungkar tadi tidak kunjung meninggalkannya, maka hendaklah ia menasehatinya dengan sesuatu yang akan melembutkan hatinya, dengan menyebutkan dalil-dalil al-Targhîb dan dalil-dalil al-Tarhîb yang ada dalam Syariat. Jikalau ia tidak juga mau menjalankannya, maka ia bisa menggunakan kata-kata yang keras dan tegas. Jikalau tidak bermanfaat juga, maka ia bisa mengubahnya dengan tangannya. Jikalau ia tidak mampu, maka ia bisa meminta bantuan pemerintah atau saudara-saudara muslim lainnya. 


7-Jikalau ia tidak mampu mengubah kemungkaran dengan tangannya dan lisannya karena khawatir akan membahayakan dirinya, atau hartanya, atau kehormatannya, kemudian ia tidak mampu lagi bersabar menghadapi keburukan yang didapatkannya, maka ia mencukupkan diri untuk mengubah kemungkaran dengan hatinya, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Siapa yang melihat kemungkaran di antara kalian, maka ubahlah dengan tangannya. Jikalau tidak mampu…” (al-Hadits)


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri dalam hadits yang awalnya, “Hati-hatilah kalian dengan prasangka…” (5/4) (7/24) dan (8/23, 185)

(2) Diriwayatkan oleh Musli dalam hadits yang awalnya, “Siapa yang melapangkan musibah dari seorang mukmin…” (38) Kitab al-Zikr.

Kewajiban Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar

Seorang muslim mengimani kewajiban menjalankan Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar, yang dibebankan kepada setiap muslim yang mukallaf, mengetahui yang ma’ruf dan menyaksikannya terabaikan, atau mengetahui yang mungkar dan menyaksikannya dikerjakan, kemudian mampu memerintahkannya atau mengubahnya dengan tangannya atau dengan lisannya. 

Kewajiban ini adalah kewajiban paling besar setelah beriman kepada Allah SWT. Sebab, Allah SWT menyebutnya di dalam Kitab-Nya yang mulia dikaitkan dengan Iman kepada-Nya, yaitu firman-Nya, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. " (Surat Ali Imrân: 110). Dan itu juga berdasarka dalil-dalil Naqli dan Aqli berikut ini. 


Dalil Naqli


1-Perintah Allah SWT dalam firman-Nya, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. " (Surat Ali Imrân: 104) 


2-Pemberitahun Allah SWT sendiri tentang orang-orang yang berhak mendapatkan pertolongan-Nya dan kewalian-Nya, yaitu orang-orang yang memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, dalam firman-Nya, “(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar." (Surat al-Hajj: 41) Dan firman-Nya, “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya." (Surat al-Taubah: 71) Dan firman-Nya yang memberitahukan tentang wali-Nya Luqman alaihissalam ketika menasehati anaknya, “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). " (Surat Luqmân: 17) Dan firman-Nya tentang celaan terhadap Bani Israel, “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.  Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. " (Surat al-Mâidah: 78-79) Dan firman-Nya yang memberitahukan tentang Bani Israel, bahwa Dia menyelamatkan orang-orang yang memerintahkan yang Ma’ruf dan mencegah kemungkaran di antara mereka, kemudian menghancurkan yang meninggalkannya, “Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. " (Surat al-A’râf: 165)


3-Perintah Rasulullah Saw dalam sabdanya, “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jikalau tidak mampu, maka dengan lisannya. Jikalau tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemah iman.”(1) Dan sabdanya, “Hendaklah kalian memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, atau hampir saja Allah SWT menurunkan hukuman-Nya bagi kalian, kemudian kalian berdoa kepada-Nya, dan doa kalian tidak dikabulkan-Nya.”(2)

 

4-Pemberitahuan Rasulullah Saw dalam sabdanya, “Tidaklah suatu kaum melakukan berbagai kemaksiatan, dan di antara ada yang mampu mencegahnya, kemudian ia tidak melakukannya, kecuali hampir saja Allah SWT menyiksa mereka semuanya dengan azab-Nya.”(3) Dan sabdanya kepada Abu Tsa’labah al-Khasyani ketika bertanya tentang tafsir firman Allah SWT, “Tidak akan memudharatkan kalian orang yang sesat itu jikalau kalian mendapatkan hidayah.” (Surat al-Mâidah: 105), beliau mengatakan, “Wahai Tsa’labah, perintahlah yang ma’ruf dan cegahlah yang mungkar. Jikalau engkau melihat kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang dicintai, dan kekaguman setiap diri dengan pendapatnya sendiri, maka cukuplah engkau dengan dirimu sendiri dan tinggalkanlah orang-orang awam. Di belakang kalian akan ada fitnah-fitnah layaknya potongan-potongan malam yang gelap. Orang yang konsisten (istiqamah) ketika itu, seperti kalian ini, akan mendapatkan pahala lima puluh orang di antara kalian.” Ada yang menyela, “Lima puluh di antara mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bukan, lima puluh orang di antara kalian. Sebab, kalian mendapatkan sahabat-sahabat dalam kebaikan, sedangkan mereka tidak mendapatkannya.”(4) Dan sabdanya, “Tidaklah ada seorang Nabi pun yang diutus sebelumku, kecuali ada para penolongnya dari umatnya dan para sahabat yang menjalankan sunnahnya, serta meneladani ajarannya. Kemudian muncullah setelah mereka generasi yang mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan, mereka mengerjakan yang tidak diperintahkan. Siapa yang berjihad melawan mereka dengan tangannya, maka ia mukmin. Siapa yang berjihad melawan mereka dengan lisannya, maka ia mukmin. Siapa yang berjihad melawan mereka dengan hatinya, maka ia mukmin. Setelah itu tidak ada keimanan lagi walaupun sebesar biji atom.”(5) Dan sabdanya ketika ditanya tentang jihad yang paling afdhal, “Kalimat yang hak di depan penguasa yang zalim.”(6)


Dalil Aqli


1-Berdasarkan pengalaman dan penelitian, jelas diketahui bahwa sebuah penyakit jikalau diabaikan dan tidak diobati, maka ia akan menyebar di seluruh badan, kemudian semakin susah diobati karena sudah melekat di tubuh dan menyebar luas. Hal yang sama juga berlaku dengan kemungkaran. Jikalau ia dibiarkan dan tidak diubah, maka orang-orang akan terus menganggapnya sesuatu yang biasa, dilakukan oleh orang-orang dewasa di antara mereka dan anak-anak kecil. Ketika itu, akan sulit mengubahnya atau menghilangkannya. Para pelakunya akan mendapatkan hukuman dari Allah SWT, dengan hukuman yang tidak mungkin bisa lari menghindarinya. Sebab, perbuatan itu adalah bentuk kezaliman terhadap sunnah-sunnah Allah SWT yang tidak akan berganti dan tidak akan berubah, “Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu." (Surat Fâthir: 43)


2-Berdasarkan kenyataan, juga dengan jelas diketahui bahwa jikalau sebuah rumah diabaikan, tidak dibersihkan, tidak dijauhkan dari segala debu dan kotoran dalam jangka waktu tertentu, maka ia menjadi rumah yang tidak layak huni. Baunya berubah menjadi busuk, udaranya tercemar, menjadi tempat berkembangnya segala jenis bakteri dan wabah karena kotoran yang sudah lama menumpuk dan debu yang sudah lama berkumpul. Begitu juga dengan kumpulan orang-orang yang beriman. Jikalau kemungkaran dibiarkan begitu saja di antara mereka dan tidak diubah, kemudian yang ma’ruf tidak diperintahkan, mereka akan berubah menjadi ruh-ruh yang hina dan jiwa-jiwa yang buruk, tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mencegah yang mungkar. Ketika itu, mereka berubah menjadi orang-orang yang tidak layak lagi untuk hidup. Kemudian, Allah SWT akan menghancurkan mereka dengan sebab-sebab dan jalan-jalan yang diinginkan-Nya. Siksaan Rabbmu sungguh keras, dan Allah SWT Maha keras hukuman-Nya. 


3-Berdasarkan pengamatan, dengan jelas diketahui bahwa jiwa manusia yang terbiasa dengan keburukan, maka ia akan menganggapnya sebagai sesuatu yang baik, sehingga menjadi tabiatnya. Dan itulah peranan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Jikalau kema’rufan ditinggalkan dan tidak diperintahkan, maka orang-orang akan terbiasa meninggalkannya, kemudian melakukannya akan menjadi sesuatu yang mungkar dalam pandangan mereka. Begitu juga halnya dengan perbuatan yang mungkar, jikalau tidak segera diubah dan dihilangkan, tidak lama setelahnya ia akan semakin banyak dan semakin menyebar, kemudian menjadi sesuatu yang biasa dan lumrah, kemudian berubah dalam pandangan para pelakunya sebagai sesuatu yang bukan kemungkaran. Bahkan, mereka akan melihatnya sesuatu yang aslinya adalah sesuatu yang ma’ruf. Ini adalah bukti padamnya bashîrah (mata hati) dan rusaknya pemikiran –kita berlindung kepada Allah SWT. Karena itulah, Allah SWT dan Rasul-Nya memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar. Keduanya wajib bagi kaum muslimin untuk mengekalkan kesucian mereka, kebaikan mereka, dan menjaga kemuliaan kedudukan mereka di antara semua umat dan manusia. 


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh Muslim (69)

(2) Diriwayatkan oleh Abu Daud (17) Kitab al-Malâhim, dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad (5/391)

(3) Ithâf Sâdah al-Muttaqîn (7/6)

(4) Diriwayatkan oleh al-Hâkim (4/322) dan Ithâf Sâdah al-Muttaqîn (7/6)

(5) Diriwayatkan oleh Muslim (80), Kitab al-Îmân

(6) Diriwayatkan oleh Ibn Majah (hadits ke-4012), diriwayatkan oleh al-Nasâi (7/161), dan diriwayatkan oleh al-Imâm Ahmad (4/315)

Para Wali Setan & Tipu Daya Mereka

Seorang muslim mempercayai bahwa setan itu memiliki para wali dari kalangan manusia. Setan itu menguasai mereka, membuat mereka lupa mengingat Allah SWT, mambuat mereka senang dengan keburukan, dan mediktekan mereka dengan kebatilan. Setan itu  membuat mereka tuli mendengarkan kebenaran, membuat mereka buta melihat tanda-tanda kekuasaan-Nya, padahal semua itu ditundukkan bagi mereka. Mereka menaati perintahnya, dan menggoda mereka dengan keburukan. Setan itu membuat mereka condong kepada kerusakan yang dihiasinya dengan keindahan. Sampai-sampai, setan itu membuat baik sebuah kemungkaran sehingga mereka menganggapnya baik, membuat buruk sebuah kemakrufan sehingga mereka menganggapnya buruk. Mereka adalah lawan dari para wali Allah SWT, musuh mereka, dan kebalikannya. Jikalau para wali Allah SWT memberikan loyalitas mereka kepada-Nya, maka para wali setan menentang-Nya. Jikalau para wali-Nya mencintai-Nya dan ridha, maka mereka membuat-Nya marah dan murka. Mereka itu mendapatkan laknat-Nya dan kemurkaan-Nya. Kalaupun mereka mampu menampakkan hal-hal yang luar biasa, seperti mampu terbang di udara, atau berjalan di atas air, maka itu tidak lain hanyalah Istidrâj dari-Nya bagi orang yang menentang-Nya, atau bantuan setan untuk orang yang memberikan loyalitasnya kepadanya. Dan itu berdasarkan dalil-dalil berikut. 


1-Pemberitahuan Allah SWT tentang mereka dalam firman-Nya, “Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. " (Surat al-Baqarah: 257) Dan firman-Nya, “Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. " (Surat al-An’âm: 121) Dan firman-Nya, “Dan (ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): "Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia", lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami". Allah berfirman: "Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)." (Surat al-An’âm: 128) Dan firman-Nya, “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk." (Surat al-Zukhruf: 36-37) Dan firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman." (Surat al-A’râf: 27) Dan firman-Nya, “Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk. " (Surat al-A’râf: 30) Dan  firman-Nya, “Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka." (Surat Fussilat: 25) Dan firman-Nya, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu?" (Surat al-Kahfi: 50)


2-Pemberitahuan Rasulullah Saw mengenai hal itu dalam sabdanya ketika melihat bintang jauh yang bersinar, kepada para sahabatnya, “Apa yang dahulu kalian katakan untuk kejadian jahiliyah seperti ini?” Mereka menjawab, “Dahulu kami mengatakan bahwa orang besar meninggal atau orang yang besar dilahirkan.” Beliau mengatakan, “Ia tidak jatuh karena meninggalnya seseorang, bukan pula karena hidupnya. Tapi, jikalau Rabb kita sudah menetapkan suatu perkara, maka para pemikul Arsy bertasbih, kemudian penduduk langit yang setelahnya ikut bertasbih, kemudian begitu juga dengan orang-orang setelahnya, sampai penduduk langit (bumi) ini ikut bertasbih. Kemudian penduduk langit bertanya kepada para pemikul Arsy, ‘Apa yang difirmankan oleh Rabb kita?’ Mereka pun diberitahu. Kemudian penduduk setiap langit menanyakan hal yang sama, sampai kabar itu berada di penduduk langit bumi ini. Para setan mendengarnya diam-diam (mencuri dengar), kemudian mereka dilempar. Kemudian mereka memberitahukannya kepada para wali mereka. Apa yang mereka kabarkan itu adalah hak (kebenaran), namun mereka menambahnya.”(1) Dan sabdanya ketika ditanya tentang para dukun, “Mereka bukanlah apa-apa.” Para sahabat berkata, “Ya, kadang-kadang mereka memberitahu kami sesuatu yang benar.” Beliau berkata, “Itu adalah kalimat yang benar yang dicuri Jin, kemudian ia membacakannya di telinga walinya, kemudian Jin itu menambahkannya dengan ratusan kebohongan.”(2) Dan sabdanya, “Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali memiliki pendampingnya.”(3) Dan sabdanya, “Setan mengalir pada diri Anak Adam di aliran darahnya, maka sempitkanlah alirannya dengan berpuasa.”(4)


3-Ratusan ribu manusia melihat dan menyaksikan kondisi-kondisi Syaithâniyah yang ganjil di setiap masa dan di setiap tempat, yang dilakukan oleh para wali setan. Di antara mereka ada yang didatangi oleh setan dengan membawa makanan dan minuman yang beraneka jenis. Ada juga yang kebutuhannya (keinginan) mampu diwujudkan oleh setan. Di antara mereka ada juga yang mampu berbicara dengannya secara ghaib, kemudian diperlihatkan kepadanya sejumlah perkara-perkara ghaib dan hal-hal tersembunyi. Di antara mereka ada yang tidak mempan ditebas senjata. Di antara mereka ada juga yang didatangi setan dalam rupa laki-laki shaleh untuk menipunya, menyesatkannya, dan menuntunnya untuk melakukan kesyirikan kepada Allah SWT dan bermaksiat kepada-Nya. Di antara mereka ada juga yang dibawanya ke negeri yang jauh, atau didatangi oleh orang-orang atau hajat dari tempat-tempat yang jauh. Dan banyak lagi amalan-amalan lainnya yang mampu dilakukan setan, para Jin pembangkang dan para khabits di antara mereka. 

Kondisi-kondisi Syathâniyah ini merupakan konklusi dari kehinaan yang ada di dalam ruh Anak Adam, karena sejumlah keburukan, kerusakan, kekufuran, dan maksiat yang dilakukannya, jauh dari nilai-nilai kebenaran dan kebajikan, kemudian juga jauh dari iman, takwa, dan keshalehan. Ketika anak Adam mencapai derajat puncak kehinaan jiwa dan keburukannya, maka ia akan menyatu dengan ruh-ruh setan yang dicap hina dan jahat. Ketika itu, sempurnalah al-Muwâlah (loyalitas) antara dirinya dengan para setan, yang sebagiannya membisikkan sebagian lainnya, yang sebagiannya melayani sebagian lainnya sesuai dengan kemampuannya. Karena itulah, ketika dikatakan kepada mereka di Hari Kiamat, “Wahai sekalian Jin, kalian sudah banyak dari manusia.” Maka, para wali mereka dari kalangan manusia mengatakan, “Rabb kami, sebagian kami menikmati sebagian lainnya.” (Surat al-An’âm: 128)

Untuk membedakan antara karamah para wali Allah SWT dengan kondisi-kondisi Syathâniyah, maka itu bisa dilihat dari sikap orang tersebut dan kondisinya. Jikalau ia adalah seseorang yang memiliki Iman dan ketakwaan, berpegangteguh dengan Syariat Allah SWT, baik lahir maupun batin, maka hal luar biasa yang dilakukannya itu adalah karamah dari Allah SWT. Jikalau ia adalah seseorang yang suka berbuat hina, jauh dari ketakwaan, larut dalam segala bentuk maksiat, hanyut dalam kekufuran dan kerusakan, maka hal luar biasa yang dilakukannya adalah sejenis Istidrâj atau pelayanan dari para wali Setannya, atau bantuannya kepada mereka. 


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi dalam Shahihnya (3224), sebagaimana juga terdapat dalam riwayat Muslim dan Ahmad

(2) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (8/58), dan diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab al-Salâm

(3) Diriwayatkan oleh Muslim (69), Kitab Shifât al-Munâfiqîn

(4) Terdapat dalam al-Bukhâri (3/64) (4/100), kemudian terdapat dalam dalam riwayat Muslim dengan lafal lainnya, “Setan mengalir pada diri Adam Adam di sepanjang darah…

Para Wali Allah SWT & Karamah Mereka

Seorang muslim mempercayai bahwa Allah SWT memiliki para wali yang dipilih-Nya untuk beribadah kepada-Nya, dimuliakan dengan ketaatan dan diagungkan dengan mencintai-Nya. Dia memberikan mereka karamah-Nya. Dia adalah wali mereka yang mencintai mereka dan dekat dengan mereka. Mereka adalah para wali-Nya yang mencintai-Nya dan memuliakan-Nya. Mereka menjalankan perintah-Nya, dan dengan perintah-Nya itu mereka memerintah. Mereka meninggalkan larangan-Nya, dan dengan larangan-Nya itu mereka melarang. Mereka mencintai dengan cinta-Nya. Mereka membenci dengan benci-Nya. Jikalau mereka meminta kepada-Nya, maka Dia akan memberikannya kepada mereka. Jikalau mereka meminta pertolongan-Nya, maka Dia akan menolong mereka. Jikalau mereka meminta perlindungan-Nya, maka Dia akan melindungi mereka. Mereka adalah ahli Iman dan takwa, ahli karamah dan busyra di dunia dan di akhirat. Setiap mukmin yang bertakwa, maka ia adalah wali Allah SWT. Hanya saja, mereka memiliki derajat yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat ketakwaan mereka dan keimanan mereka. Semakin besar derajat iman dan takwanya, maka semakin tinggi derajatnya di sisi Allah SWT dan semakin besar karamahnya. Penghulu para wali adalah para Rasul dan para Nabi, setelah mereka adalah orang-orang yang beriman. Semua karamah yang tampakkan pada diri mereka, seperti kemampuan untuk memperbanyak makanan yang awalnya sedikit, atau menyembuhkan berbagai kepedihan dan penyakit, atau kemampuan menyeberangi lautan, atau kemampuan tidak terbakar oleh api, dan selainnya, semua itu adalah bagian dari mukjizat. Hanya saja, mukjizat ini berkaitan dengan al-Tahaddi (tantangan), sedangkan al-Karâmah tidak ada hubungannya dengan hal tersebut sama sekali. Karamah yang paling besar atau paling agung adalah Istiqamah menjalankan ketaatan, yaitu dengan menjalankan segala perintah syariat, kemudian menjauhi segala yang diharamkan dan dilarang. 


Dan itu berdasarkan Dalil-dalil berikut:

1-Pemberitahuan Allah SWT mengenai para wali-Nya dan karamah yang mereka miliki dalam firman-Nya, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." (Surat Yûnus: 62-64) Dan firman-Nya, “Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). " (Surat al-Baqarah: 257)  Dan firman-Nya, “dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang-orang yang berhak menguasai(nya) hanyalah orang-orang yang bertakwa." (Surat al-Anfâl: 34) Dan firman-Nya, “Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh." (Surat al-A’râf: 196) Dan firman-Nya, “Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. " (Surat Yûsuf: 24) Dan firman-Nya, “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga." (Surat al-Isrâ’: 65) Dan firman-Nya, “Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah." (Surat Ali Imrân: 37) Dan firman-Nya, “Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul,  (ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit." (Surat al-Shaffât: 139-144) Dan firman-Nya, “Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu." (Surat Maryam: 24-26) Dan firman-Nya, “Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim", mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. " (Surat al-Anbiyâ’: 69-70) Dan firman-Nya, “Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan? (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)". Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, Kemudian Kami bangunkan mereka." (Surat al-Kahfi: 9-12)


2-Pemberitahuan Rasulullah Saw tentang para wali Allah SWT dan karamah mereka dalam sabdanya yang diriwayatkannya dari Allah SWT, “Siapa yang menentang wali-Ku, maka Aku sudah mengumandangkan perang terhadapnya. Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa yang Aku fardhukan kepadanya. Hamba-Ku akan selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah sampai Aku mencintainya. Jikalau Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, menjadi pandangannya yang dengannya ia memandang, menjadi tangannya yang dengannya ia memukul, dan menjadi kakinya dengannya ia melangkah. Jikalau ia meminta kepada-Ku, maka Aku benar-benar akan memberinya. Jikalau ia meminta perlindungan-Ku, maka Aku benar-benar akan melindunginya.”(1) Dan firman-Nya, “Saya akan membalas untuk para wali-Ku sebagaimana singa perang membalas.” Dan sabdanya, “Di antara hamba Allah SWT itu ada yang jikalau bersumpah atas nama-Nya, maka Dia akan mengabulkannya.”(2) Dan sabdanya, “Di tengah umat-umat sebelum kalian, ada orang-orang yang diajak bicara. Jikalau ada itu di antara umatku, maka ia adalah Umar.”(3) Dan sabdanya, “Dahulu ada seorang perempuan yang menyusui anaknya, kemudian ia melihat seorang laki-laki yang duduk di sofa yang mahal, kemudian ia berdoa, ‘Ya Allah, jadikan anak saya seperti ini.’ Anak itu melihatnya dengan posisi masih menyusu, kemudian berkata, ‘Ya Allah, jangan menjadikan saya sepertinya.”(4) Berbicaranya anak yang masih menyusu kepada ibunya adalah karamah bagi anak itu sendiri dan ibunya. Dan sabdanya tentang Juraij; sang ahli ibadah dan ibunya, yaitu taktala ibunya berkata, “Ya Allah, janganlah Engkau mematikannya sampai Engkau memperlihatkan kepadanya wajah para wanita binal.” Kemudian, Allah SWT mengabulkan doanya sebagai karamah dari-Nya. Juraij; anaknya berkata ketika orang-orang menuduhnya berzina, dan menuduh anak pezina itu adalah anaknya, “Siapakah bapakmu?” Ia menjawab, “Pengembala kambing.”(5)

Berbicaranya anak yang masih disusui ibunya adalah karamah bagi Juraij sang Ahli Ibadah. Kemudian juga sabdanya terkait tiga orang yang terkurung di dalam gua. Mereka berdoa kepada Allah SWT dan bertawassul kepada-Nya dengan amal-amal shaleh yang pernah mereka lakukan. Allah SWT mengabulkan doa mereka dan memberikan kelapangan, sampai mereka bisa keluar dari gua dengan selamat, sebagai karamah bagi mereka. Kemudian juga sabdanya tentang hadits tentang pendeta dan seorang anak muda, yang di dalamnya dijelaskan bahwa anak muda tersebut melempar binatang yang menghalangi jalan orang banyak dengan batu, sehingga binatang itu mati dan orang-orang bisa lewat. Dan itu adalah karamah bagi anak muda. Sebagaimana raja berusaha untuk membunuh anak muda itu dengan berbagai cara, namun selalu berujung kegagalan. Sampai-sampai, ia dilemparkan dari bukit yang tinggi, namun tidak juga meninggal. Kemudian ia dilemparkan ke laut, namun ia berhasil keluar dan berjalan layaknya manusia biasa, tidak meninggal. Itu adalah karamah bagi anak muda yang beriman dan shaleh.(6)


3-Riwayat dari ribuan para ulama. Mereka menyaksikan para wali dan berbagai karamah mereka yang tidak terhitung, di antaranya diriwayatkan bahwa para Malaikat mengucapkan salam kepada Imrân bin Hushain radhiyallahu anhu. Kemudian ada Salmân al-Fârisi dan Abu al-Darda’ radhiyallahu anhuma yang makan di sebuah piring, kemudian piring atau makanan bertasbih. Kemudian Khubaib radhiyallahu anhu suatu kali menjadi tawanan kaum musyrikin di Mekkah, kemudian ia medapatkan buah angguh yang bisa dimakannya. Padahal ketika itu tidak ada buah anggur di Mekkah. Kemudian al-Barrâ bin ‘Ăzib radhiyallahu anhu jikalau bersumpah atas nama Allah SWT terhadap sesuatu, maka Dia akan mengabulkannya. Ketika hari al-Qâdisiyyah ia bersumpah atas nama Allah SWT bahwa kaum muslimin akan mengalahkan kaum musyrikin dan ia akan menjadi syahid pertama dalam perang itu, kemudian terjadilah apa yang dipintanya. Kemudian Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu suatu kali berkhutbah di mimbar Madinah, ia berkata, “Wahai Sâriyah, ke bukit! Wahai Sâriyah, ke bukit!” Ia sedang mengarahkan panglima perang yang bernama Sâriyah. Sâriyah mendengar suaranya dan pasukan beranjak menuju bukit. Itu menjadi kemenangan mereka, dan para musuh dari kalangan kaum musyrikin mengalami kekalahan.  Ketika Sâriyah pulang, ia mengabari Umar dan para sahabat lainnya tentang suara Umar radhiyallahu anhu yang didengarnya. Kemudian ada juga al-‘Ălla’ yang berucap dalam doanya, “Ya ‘Alîm ya Hakîm, ya ‘Alîy ya ‘Ăzhîm.” Kemudian dikabulkanlah doanya. Ia mampu menyebarang lautan bersama para pasukannya, sedangkan kuda-kuda mereka tidak basah sama sekali. Kemudian ada juga Hasan al-Bashri yang mendoakan keburukan bagi seseorang yang menyakitinya, kemudian orang tersebut meninggal sesuai dengan kondisi yang didoakan. Kemudian ada juga seorang laki-laki dari al-Nakh’ yang memiliki keledai, kemudian keledainya mati dalam perjalanannya. Ia pun berwudhu dan mengerjakan shalat sebanyak dua rakaat, serta berdoa kepada Allah SWT. Dia pun menghidupkan keledainya dan kembali membawa barang-barangnya. Banyak lagi karamah-karamah lainnya yang jumlahnya tidak terhitung, yang disaksikan oleh ribuan bahkan jutaan manusia. 


Catatan Kaki: 

(1) Sudah ditakhrij sebelumnya

(2) Diriwayatkan oleh Muslim (1302) dan Imâm Ahmad (3/128, 167, 284)

(3) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (5/15), terdapat dalam Fath al-Bâri (7/42)

(4) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (4/1976) dan Musnad Ahmad (2/301, 307, 308)

(5) Sudah di-Takhrîj sebelumnya

(6) Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab al-Zuhd (73)

Wasîlah (Tawassul): Makna & Dalil

Seorang muslim mempercayai bahwa Allah SWT menyukai amalan-amalan yang paling shaleh dan perbuatan-perbuatan yang paling baik, mencintai para hamba-Nya yang shaleh, bahwa Dia mendorong para hamba-Nya untuk mendekatkan diri kepada-Nya, mencintai-Nya dan berwasîlah kepada-Nya. Karena itulah, ia mendekatkan diri kepada-Nya, bertawassul dengan amalan-amalan shaleh dan perkataan-perkataan yang baik yang dikerjakannya, sehingga ia berdoa kepada-Nya dan bertawassul dengan segala nama-Nya yang paling baik (al-Asmâ’al-Husnâ) dan segala sifat-Nya yang agung, dengan keimannya kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, dengan mencintai-Nya dan mencintai Rasul-Nya, mencintai orang-orang yang shaleh dan seluruh kaum mukminin. Ia mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan shalat-shalat Fardhu, zakat, puasa, haji, dan ibadah-ibadah sunnah, sebagaimana ia mendekatkan diri kepada-Nya dengan meninggalkan segala yang diharamkan-Nya, menjauhi segala yang dilarang-Nya. Ia tidak meminta kepada Allah SWT dengan jabatan siapapun dari makhluk-Nya, tidak juga dengan amalan salah seorang hamba-Nya. Karena, jabatan orang lain bukanlah usahanya, dan amalan orang lain bukanlah amalannya sehingga ia bisa meminta kepada Allah SWT dengan itu atau mempersembahkannya sebagai wasilah di hadapan-Nya. 

Allah SWT tidak mensyariatkan kepada para hamba-Nya untuk mendekatkan kepada-Nya dengan amalan-amalan orang lain. Zakat ruh mereka adalah iman dan amal shaleh. Dan itu berasarkan dalil-dalil Naqli dan dalil-dalil Aqli berikut. 


Dalil Naqli


1-Pemberitahuan Allah SWT mengenai hal itu dalam firman-Nya, “Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya." (Surat Fâthir: 10) Dan firman-Nya, “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh." (Surat al-Mukminûn: 51) Dan firman-Nya, “dan Kami masukkan dia ke dalam rahmat Kami; karena sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang saleh. " (Surat al-Anbiyâ’: 75) Dan firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya." (Surat al-Mâidah: 35) Dan firman-Nya, “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka." (Surat al-Isrâ’: 57) Dan firman-Nya, “Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." (Surat Ali Imrân: 31) Dan firman-Nya, “Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)." (Surat Ali Imrân: 53) Dan firman-Nya, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. " (Surat Ali Imrân: 193) Dan firman-Nya, “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. " (Surat al-A’râf: 180) Dan firman-Nya, “Sujudlah dan mendekatlah.” (al-‘Alaq: 19) 


2-Pemberitahuan Rasulullah Saw mengenai hal itu dalam sabdanya, “Allah itu baik, dan tidak menerima kecuali yang baik.”(1) Dan sabdanya, “Kenalilah Allah SWT ketika sejahtera, agar Dia mengenalmu ketika sengsara.”(2) Dan sabdanya yang diriwayatkannya dari Allah SWT, “Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku akan terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah sampai Aku mencintainya.”(3) Dan sabdanya yang diriwayatkannya dari Allah SWT, “Jikalau ia mendekatkan diri kepada-Mu sejengkal, Aku mendekatkan diri kepadanya sehasta. Jikalau ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekatkan diri kepadanya sedepa. Jikalau ia mendatangi-Ku berjalan, maka Aku akan mendatanginya berlari.”(4) Dan sabdanya tentang orang-orang yang terkurung di gua, yang pintu guanya tertutup batu besar. Salah seorang di antara mereka bertawassul dengan baktinya kepada kedua orangtuanya, orang kedua bertawassul dengan sikapnya yang menjauhi perbuatan yang diharamkan oleh Allah SWT, dan orang ketiga mengembalikan hak orang lain kepada pemiliknya setelah mengembangkan harta tersebut. Salah seorang di antara mereka berkata kepada yang lainnya, “Perhatikanlah amalan-amalan shaleh yang dahulu kalian kerjakan karena Allah SWT. Mudah-mudahan Dia melapangkannya bagi kalian.” Kemudian mereka berdoa dan bertawassul. Setelah itu, batu itu terbuka dan mereka bisa keluar dengan selamat.(5) Dan sabdanya, “Masa yang paling dekat seorang hamba dari Rabbnya adalah ketika ia bersujud.”(6) Dan sabdanya, “Ya  Allah, saya memohon kepada-Mu dengan semua nama-Mu yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang makhluk-Mu, atau Engkau simpan di ilmu ghaib di sisi-Mu, agar Engkau menjadikan al-Quran sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penyibak kesedihanku, penghilang kegelisahanku dan kegalauanku.”(7) Dan sabdanya, “Ia sudah meminta ini dengan nama Allah yang paling mulia, yang jikalau diminta dengannya, maka Dia akan memberi. Dan tidaklah berdoa dengannya, kecuali Dia akan mengabulkannya.”(8)


3-Dalam al-Quran al-Karim dijelaskan tawassul para Nabi. Mereka bertawassul dengan nama Allah SWT dan sifat-Nya, dengan keimanan dan amal shaleh. Tidak ada sedikit pun selain dengan itu. Yusuf berkata dalam tawassulnya, “Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh. " (Surat Yûsuf: 101) Dan Dzu al-Nûn yang mengatakan, “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." (Surat al-Anbiyâ’: 87) Dan Musa berkata, “Musa mendoa: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku." (Surat al-Qashas: 16) Dan berkata, “Saya berlindung dengan Rabbku dan Rabb kalian.” (Surat Ghâfir: 27) Kemudian Ibrahim dan Ismail yang berkata, “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Surat al-Baqarah: 127) Adam dan Hawa yang mengatakan, “Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. " (Surat al-A'râf: 23) 


Dalil Aqli


1-Kemahakayaan Allah SWT dan kefakiran hamba, merupakan suatu perkara yang mengharuskan seorang hamba yang fakir bertawassul kepada Rabb yang Maha Kaya, agar hamba yang fakir itu bisa selamat dari apa yang ditakutkannya, kemudian mendapatkan apa yang disukainya dan dicintainya. 


2-Ketika seorang hamba tidak mengetahui apa yang dicintai oleh Allah SWT, serta tidak mengetahui perbuatan dan perkataan apa yang dibenci-Nya, melazimkan wasilah itu hanya terkungkung untuk perkara-perkara yang disyariatkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya, berupa segala ucapan yang baik dan amal shaleh yang dikerjakan, atau segala perbuatan buruk dan amalan rusak yang dijauhi dan ditinggalkan. 


3-Status orang lain bukanlah milik dan hasil usaha orang yang tidak memilikinya, sehingga hal itu melazimkan tidak bolehnya meminta dengan status orang lain kepada Allah SWT. Sebab, status seseorang, siapapun itu -walaupun tinggi, bukanlah sesuatu yang bisa digunakan oleh yang lainnya, untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan bertawassul dengannya. Kecuali jikalau ia mengamalkan dengan anggota tubuhnya atau hartanya, apa yang sudah diamalkan oleh orang yang memiliki status hebat tadi untuk mendapatkan statusnya. Ketika itu, ia bisa menjadikannya wasilah kepada Allah SWT. Sebab, ia sudah menjadi bagian dari usahanya dan amalan kedua tangannya, asalkan ia melakukannya sejak awal karena Allah SWT dan berharap mendapatkan keridhaan-Nya. 


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri, Kitab al-Raqâq (38)

(2) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri, Kitab al-Raqâq (38)

(3) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri , Kitab al-Ijârah (12)

(4) Diriwayatkan oleh Muslim (215) Kitab al-Shalât

(5) Diriwayatkan oleh Imâm Ahmad dengan sanad hasan. Dan terdapat dalam al-Mujam al-Kabîr karangan al-Thabrani  (10/210)

(6) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi, Kitab al-Daawât (63) dan Ibn Mâjah dalam Kitab al-Dû’a (9)

(7) Diriwayatkan oleh Imâm Ahmad dengan sanad hasan. Dan terdapat dalam al-Mujam al-Kabîr karangan al-Thabrani  (10/210)

(8) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi, Kitab al-Daawât (63) dan Ibn Mâjah dalam Kitab al-Dû’a (9)

Mengenal & Mengetahui Tauhîd Ibadah

Seorang muslim mempercayai Uluhiyyah Allah SWT bagi yang terdahulu dan yang kemudian, Rububiyyah-Nya terhadap makhluk, bahwa tidak ada ilah selain-Nya, tidak ada Rabb selain-Nya. Oleh karena itu, Allah Swt mengkhususkan diri-Nya dengan semua ibadah yang disyariatkan-Nya kepada para hamba-Nya, tidak memalingkan satu bagiannya pun kepada selain-Nya. Jikalau ia meminta, maka ia meminta kepada Allah SWT. Jikalau ia meminta tolong, maka ia meminta tolong kepada-Nya. Jikalau ia bernazar, maka ia tidak bernazar untuk selain-Nya. Bagi Allah SWT lah segala amalan batinnya, baik Khauf (rasa takut), Raja’ (berharap), Inâbah (taubat), Mahabbah (cinta), Ta’zhîm (pengagungan), maupun Tawakkal. Begitu juga dengan amalan zahirnya, baik shalat, puasa, haji, maupun jihad. Dan itu berdasarkan dalil-dalil Naqli dan dalil-dalil Aqli berikut.


Dalil Naqli


1-Perintah Allah SWT mengenai hal itu dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku." (Surat Ťahâ: 14) Dan firman-Nya, “dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk)." (Surat al-Baqarah: 40) Dan firman-Nya, “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. " (Surat al-Baqarah: 21-22) Dan firman-Nya, “Ketahuilah bahwa Tidak ada Ilah melainkan Allah.” (Surat Muhammad: 19) Dan firman-Nya, “Maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Surat Fussilat: 36) Dan firman-Nya, “Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah saja." (Surat al-Taghâbun: 13) 


2-Pemberitahuan Allah SWT mengenai hal itu dalam firman-Nya, “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu." (Surat al-Nahl: 36) Dan firman-Nya, “Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus." (Surat al-Baqarah: 256) Dan firman-Nya, “Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku." (Surat al-Anbiyâ’: 25) Dan firman-Nya, ‘Katakanlah: "Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?" (Surat al-Zumar: 64) Dan firman-Nya, “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. " (Surat al-Fâtihah: 5)  Dan fiman-Nya, “Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: "Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku." (Surat al-Nahl: 20)


3-Pemberitahuan Rasulullah Saw mengenai hal itu dalam sabdanya kepada Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu taktala diutus ke Yaman, “Hendaklah yang pertama kali engkau serukan adalah agar mereka mengesakan Allah SWT.”(1) Dan sabdanya, ‘Wahai Muadz, apakah engkau tahu hak Allah SWT terhadap para hamba-Nya?” Ia menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau mengatakan, “Mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun.” Dan sabdanya kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu, “Jikalau engkau meminta, maka memintalah kepada Allah SWT. Jikalau engkau meminta tolong, maka meminta tolonglah kepada Allah SWT.” Dan sabdanya kepada orang yang mengatakan kepadanya “Jikalau Allah SWT dan engkau ingin”, “Katakanlah, jikalau Allah SWT ingin saja.”(2) Dan sabdanya, “Hal yang paling saya khawatirkan kepada kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya. Allah SWT mengatakan pada Hari Kiamat taktala membalas amalan sekalian manusia, ‘Pergilah menuju orang-orang yang dahulu kalian riya terhadap mereka ketika di dunia. Lihatlah, apakah kalian mendapatkan balasan darinya.”(3) Dan sabdanya, “Bukanlah mereka menghalalkan bagi kalian apa yang diharamkan oleh Allah SWT, kemudian kalian menghalalkannya; mereka mengharamkan apa yang dihalkan oleh Allah SWT, kemudian kalian mengharamkannya.” Ia menjawab, “Ya.” Beliau berkata, “Itulah penyembahan terhadap mereka.” Hadits ini disampaikannya kepada Adi bin Hatim ketika dibacakannya kepadanya firman Allah SWT, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah." (Surat al-Taubah: 31) Adi mengatakan, “Wahai Rasulullah, kami tidak menyembah mereka!”(4)

Dan sabdanya, “Saya tidak dimintakan pertolongan. Hanya Allah SWT lah yang dimintakan pertolongan.”(5) Hadits ini disampaikannya kepada sebagian sahabatnya yang mengatakan, “Marilah kita meminta bantuan kepada Rasulullah Saw dari munafik ini, yaitu munafik yang mengganggu mereka. 

Dan sabdanya, “Siapa yang bersumpah dengan selain Allah SWT, maka ia telah berbuat syirik.”(6) Dan sabdanya, “Jampi-jampi, jimat, dan al-Tawalah adalah syirik.”(7)


Dalil Aqli


1-Allah SWT sendirilah yang menciptakan dan memberi rezeki, bertindak dan mengatur segala yang ada di alam semesta. Semua ini melazimkan, ibadah itu hanya kepada-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal apapun. 


2-Semua makhluk adalah hamba Allah SWT dan membutuhkan-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang layak menjadi ilah yang disembah selain diri-Nya. 


3-Semua yang diseru, atau semua yang dimintai pertolongan, atau semua yang diminta perlindungan selain Allah SWT, kondisi mereka yang tidak memiliki apapun sehingga tidak sanggup memberi atau memberikan pertolongan atau memberikan perlindungan dari apapun, hal itu melazimkan tidak sahnya mereka diseru, atau tidak layaknya mereka dimintakan pertolongan, atau tidak eloknya bernazar untuk mereka, atau bergantung dan bertawakkal kepada mereka. 


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri , Kitab al-Zakâh (41, 63) dan Muslim dalam Kitab al-Îmân (29, 31)

(2) Sudah ditakhij sebelumnya

(3) Diriwayatkan oleh Imâm Ahmad (3/7) dari berbagai jalur periwayatan, dan derajatnya Hasan

(4) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi dalam shahîhnya (3095) dan dihasakannya.

(5) Diriwayatkan oleh al-Thabrani dengan derajat Hasan, terdapat dalam al-Majma’ al-Zawâid karangan al-Haitsami (10/159)

(6) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (1535) dan dihasankannya. Dan diriwayatkan oleh Imâm Ahmad (2/125)

(7) Diriwayatkan oleh Abu Daud (3883), Imâm Ahmad (1/381), Ibn Mâjah (330), dan lain-lain. al-Tawalah adalah jimat pengasih, yang membuat seorang istri semakin mencintai istrinya.

Iman Kepada Qadhâ’ dan Qadar

Seorang muslim mempercayai Qadhâ’ Allah SWT dan Qadar-Nya,(1) kebijaksanaan-Nya dan keinginan-Nya, bahwa tidaklah sesuatu terjadi di alam semesta, bahkan perbuatan para hamba yang sifatnya Ikhtiyâriyyah (pilihan) kecuali setelah Allah SWT mengetahuinya dan menakdirkannya. Dia itu adil dalam Qadhâ’-Nya dan Qadar-Nya, bijak dalam segala tindakan-Nya dan pengaturan-Nya. Kebijaksaan-Nya itu mengikuti keinginan-Nya. Apa yang diinginkan-Nya, maka akan ada. Apa yang tidak diinginkan-Nya, maka tidak akan ada. Tidak ada daya dan upaya kecuali milik-Nya. Dan itu berdasarkan dalil-dalil Naqli dan dalil-dalil Aqli berikut. 


Dalil Naqli


1-Pemberitahun Allah SWT sendiri mengenai hal itu dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. " (Surat al-Qamar: 49) Dan firman-Nya, “Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. " (Surat al-Hijr: 21) Dan firman-Nya, “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. " (Surat al-Hadîd: 22) Dan firman-Nya, “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah." (Surat al-Taghâbun: 11) Dan firman-Nya, “Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya." (Surat al-Isrâ’: 13) Dan firman-Nya, “Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." (Surat al-Taubah: 51) Dan firman-Nya, “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)." (Surat al-An’âm: 59) Dan firman-Nya, “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (Surat al-Takwîr: 29) Dan firman-Nya, “Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka." (Surat al-Anbiyâ’: 101) Dan firman-Nya, “Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu "maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)." (Surat al-Kahfi: 39) Dan firman-Nya, “Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.” (Surat al-A’râf: 43) 


2-Pemberitahuan Rasulullah Saw mengenai hal itu dalam sabdanya, “Salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk mani, kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga, kemudian menjadi segumpal daging selama itu juga, kemudian dikirimkanlah Malaikat yang meniupkan ruh, kemudian diperintahkan dengan empat kalimat; ditetapkan rezekinya, ajalnya, amalnya, sengsara atau bahagia. Demi Zat yang tidak ada ilah melainkan diri-Nya, salah seorang di antara kalian beramal dengan amalan ahli surga sampai tidak ada jarak antara dirinya dengan surga kecuali sehasta, kemudian Kitab mendahuluinya dan ia beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga ia memasukinya. Salah seorang di antara kalian beramal dengan amalan ahli neraka, sampai tidak ada jarak antara dirinya dengan neraka kecuali sehasta, kemudian Kitab mendahuluinya dan ia beramal dengan amalan ahli surga, sehingga ia memasukinya.”(2) Dan sabdanya kepada Abdullah bin Abbas, “Wahai anak kecil, saya akan mengajarkanmu beberapa kalimat; jagalah Allah, maka Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya di hadapan-Mu. Jikalau engkau meminta, maka memintalah kepada Allah. Jikalau engkau meminta tolong, maka meminta tolonglah kepada Allah. Ketahui, jikalau umat berkumpul untuk memberikanmu manfaat dengan sesuatu, maka mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali dengan sesuatu yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Jikalau mereka berkumpul untuk memudharatkanmu dengan sesuatu, maka mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali dengan sesuatu yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Qalam sudah diangkat, dan suhuf sudah kering.”(3) Dan sabdanya, “Makhluk yang paling pertama Allah SWT ciptakan adalah Qalam (pena), kemudian Dia berfirman kepadanya, ‘Tulislah.’ Ia berkata, ‘Wahai Rabb, apa yang saya tulis?’ Dia menjawab, ‘Tulislah Qadar segala sesuatu sampai Hari Kiamat.”(4) Dan sabdanya, “Adam dan Musa berdebat. Musa berkata, ‘Wahai Adam, engkau membuat kami merugi dan membuat kami keluar dari surga.’ Adam menjawab, ‘Apakah engkau Musa yang Allah SWT muliakan berbicara dengan-Nya dan menuliskan taurat dengan tangannya? Engkau mencelaku karena sesuatu yang sudah Allah SWT qadarkan kepadaku 40 tahun sebelum penciptaanku?’ Kemudian Adam mengalahkan Musa dalam perdebatan(5).” (6) Dan sabdanya mengenalkan Iman, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, semua kitab-Nya dan semua rasul-Nya, serta Hari Akhir, kemudian beriman dengan Qadar; baik maupun buruk.”(7) Dan sabdanya, “Beramallah, semuanya dimudahkan untuk tujuan penciptaannya.”(8) Dan sabdanya, “Nazar tidak akan menolak Qadhâ’.”(9) Dan sabdanya kepada Abdullah bin Qais, “Wahai Abdullah bin Qais, apakah engkau ingin saya ajarkan satu kalimat dari harta surgawi? Tiada daya dan upaya kecuali di tangan Allah.”(10) Dalam sabdanya kepada yang mengatakan jikalau Allah ingin dan engkau ingin, “Katakan, jikalau Allah SWT ingin saja.”(11)


3-Berimannya jutaan umat Nabi Muhammad Saw dari kalangan Ulama (ilmuwan), para bijak dan para shalihin, serta selain mereka, terhadap Qadhâ’ Allah SWT dan Qadar-Nya, kebijaksanaan-Nya dan keinginan-Nya, bahwa segala sesuatu itu sudah ada dalam ilmu-Nya dan sudah ada dalam Qadar-Nya, bahwa tidak ada sesuatu pun dalam kekuasaan-Nya kecuali apa yang diinginkan-Nya, bahwa apa yang diinginkan-Nya akan terjadi, apa yang tidak diinginkan-Nya tidak akan terjadi, dan bahwa Qalam (pena) akan terus menuliskan qadar segala sesuatu sampai Hari Kiamat.


Dalil Aqli


1-Akal tidak memustahilkan sesuatu pun yang berkaitan dengan Qadhâ dan Qadar, al-Masyîah (keinginan), al-Hikmah (kebijaksanaan), al-Irâdah (keinginan), dan al-Tadbîr (pengaturan). Bahkan, akal mewajibkan semua itu dan melazimkannya, karena adanya mazhahir yang nyata di alam semesta. 


2-Mengimani Allah SWT dan Qudrah-Nya, melazimkan keimanan kepada Qadha-Nya, Qadar-Nya, hikmah-Nya, dan keinginan-Nya. 


3-Jikalau seorang arsitek melukis istana di kertas kecil, menentukan waktu penyelesaiannya, kemudian bekerja untuk membangunnya. Belum habis waktu yang sudah ditentukan untuk masa penyelesaiannya, istana yang tadinya dari kertas berubah ke wujud nyatanya, sesuai dengan yang digoreskan di kertas tanpa ada kurangnya sedikit pun (jikalau sedikit) dan tidak pula berlebih. Maka, bagaimana bisa dipungkiri jikalau Allah SWT sudah menetapkan Qadar alam semesta sampai Hari Kiamat? Karena kesempurnaan Qudrah-Nya dan ilmu-Nya, maka yang di-Qadarkan tadi menjadi nyata sesuai dengan yang dikadarkan-Nya, baik kwantitasnya, tatacaranya, zamannya, dan tempatnya. Allah SWT mampu melakukan segala sesuatu. 


Catatan Kaki: 

(1) Qadhâ’ adalah hukum Allah SWT yang bersifat azali mengenai adanya sesuatu atau tiadanya. Dan Qadar adalah Allah SWT menciptakan sesuatu dengan cara yang khusus dan waktu yang khusus. Kadangkala, keduanya memiliki makna yang sama, tidak bisa dipisahkan.

(2) Diriwayatkan oleh Muslim (4/2036) Kitab al-Qadar

(3) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (2516) dan dishahihkannya. Jagalah Allah, maksudnya menjaga aturan-Nya dan memelihara segala hak-Nya.

(4) Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (5/317) dan Abu Daud (4700)

(5) Penjelasannya, celaan Musa itu tidak pada tempatnya. Jikalau ia mencela Adam karena keluar dari Surga, maka ia mencelanya untuk sesuatu yang sudah ditetapkan Allah SWT kejadiannya. Jikalau ia mencelanya karena dosanya, maka ia sudah bertaubat. Siapa yang bertaubat, maka tidak dicela lagi menurut logika dan syariat.

(6) Diriwayatkan oleh Muslim (4/2042) Kitab al-Qadar

(7) Diriwayatkan oleh Muslim dalam Hadits Jibril (1/37) Kitab al-Îmân

(8) Diriwayatkan oleh Muslim (4/2040) Kitab al-Qadar

(9) Diriwayatkan oleh Muslim (4/1261) Kitab al-Qadar, diriwayatkan oleh al-Jamâ’ah dengan lafal berbeda

(10) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (5/170) dan Muslim (4/2077) Kitab al-Dzikr dan al-Du’â

(11) Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (1/214, 282) dan Ibn Mâjah (2117)

Mengimani Siksa (Azab) Kubur

Seorang muslim mempercayai bahwa nikmat kubur dan siksanya, kemudian pertanyaan dua malaikat di dalam kubur, merupakan sesuatu yang hak dan benar. Dan itu berdasarkan dalil-dalil Naqli dan dalil-dalil Aqli berikut. 


Dalil Naqli


1-Pemberitahuan Allah SWT mengenai hal itu dalam firman-Nya, “Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar", (tentulah kamu akan merasa ngeri).  Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya." (Surat al-Anfâl: 50-51) Dan firman-Nya, “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.  Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa'at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah). " (Surat al-An’âm: 93-94) Dan firman-Nya, “Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. " (Surat al-Taubah: 101) Dan firman-Nya, “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras." (Surat Ghâfir: 46) Dan firman-Nya, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Surat Ibrâhim: 27)


2-Pemberitahuan Rasulullah Saw mengenai hal tersebut dalam sabdanya, “Jikalau seorang hamba sudah diletakkan di dalam kuburnya, kemudian para sahabatnya sudah berpaling (ia sungguh mendengar suara sandal mereka), maka dua malaikat mendatanginya dan duduk di dekatnya. Keduanya berkata kepadanya, ‘Apa pendapatmu tentang laki-laki ini (Muhammad Saw)?’ Seorang mukmin akan menjawab, ‘Saya bersaksi bahwa ia adalah hamba Allah SWT dan Rasul-Nya.’ Dikatakan kepadanya, ‘Lihatlah tempat dudukmu dari Neraka, yang sudah diganti oleh Allah SWT dengan tempat duduk dari surga.’ Ia melihat keduanya. Jikalau ia munafik atau kafir, maka keduanya akan berkata kepadanya, ‘Apa pendapatmu tentang laki-laki ini?’ Ia menjawab, ‘Saya tidak tahu. Saya dahulu mengatakan apa yang dikatakan orang banyak.’ Maka dikatakan kepadanya, ‘Engkau tidak tahu dan engkau tidak mengikuti. Kemudian ia dipukul dengan palu dari besi sekali putus, yang menyebabkannya berteriak dengan teriakan yang bisa didengar semua yang berada di dekatnya kecuali Jin dan Manusia.”(1) Dan sabdanya, “Jikalau salah seorang di antara kalian meninggal, maka diperlihatkan kepadanya tempat duduknya di pagi hari dan sore hari. Jikalau ia salah seorang penghuni surga, maka dari penghuni surga. Jikalau ia salah seorang penghuni Neraka, maka dari penghuni Neraka. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Inilah tempat dudukmu sampai Allah SWT membangkitmu pada hari kiamat.”(2) Dan sabdanya dalam doanya, “Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, dari siksa neraka, dari fitnah yang hidup dan yang mati, dari fitnah al-Masîh al-Dajjâl.”(3) Dan sabdanya ketika melewati dua kuburan, “Keduanya sedang disiksa. Keduanya disiksa bukanlah karena dosa besar.” Kemudian beliau melanjutkan, “Ya, salah satunya menyebarkan fitnah, dan yang lainnya tidak menjaga diri dari kencingnya.”


3-Berimannya milyaran Ulama (ilmuwan), orang-orang shaleh, dan orang-orang yang beriman dari umat Muhammad Saw, serta juga dari umat-umat sebelumnya, semuanya mengimani siksa kubur dan nikmatnya, serta segala hal yang berkaitan dengannya. 


Dalil Aqli


1-Ketika seseorang beriman kepada Allah SWT, malaikat-Nya, dan hari akhir, maka hal itu melazimkannya untuk juga beriman dengan siksa kubur dan nikmatnya, serta segala sesuatu yang terjadi di dalamnya. Sebab, semua itu adalah masalah ghaib. Siapa yang mengimani sebagiannya, maka ia harus mengimani sebagian lainnya. 


2-Siksa kubur dan kenikmatannya, atau pertanyaan dua malaikat di dalam kubur, tidak ada sesuatu pun yang bisa dinafikan akal atau dimustahilkannya. Bahkan, akal yang sehat akan mengakuinya dan membenarkannya. 


3-Kadangkala, seseorang yang tidur bisa menyaksikan mimpi yang membuatnya bahagia, kemudian ia menikmatinya dan merasakan kenikmatannya. Sesuatu yang akan membuatnya bersedih atau menyayangkannya jikalau bangun. Sebagaimana halnya jikalau ia menyaksikan mimpi yang dibencinya dan membuatnya gelisah. Sesuatu yang membuatnya memuji orang yang membangunkannya. Nikmat dan siksaan dalam tidur ini adalah kenyataan yang dialami oleh ruh dan efeknya terasa. Ia sama sekali tidak bisa disentuh dan disaksikan. Tidak ada seorang pun yang bisa mengingkarinya. Maka, bagaimana mungkin seseorang bisa mengingkari siksa kubur dan kenikmatannya, padahal kondisinya sama?


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (2/123)

(2) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (8/134)

(3) Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (1/211)