(Dimuat di Opini Koran Harian Haluan, Edisi 2 Oktober 2014)

 

Sudah lima tahun berlalu. Tepatnya 30 September 2009, terjadilah gempa dahsyat yang meluluhkanlantakkan Padang dan wilayah sekitarnya. Gempa yang berkekuatan 7,6 Skala Richter (SR) itu membuat 1.128 jiwa melayang di tiga kota dan empat kabupaten di Sumatera Barat. Posisi gempanya pada waktu itu adalah 50 Km Barat Laut kota Padang, dan terjadi pukul 17.16 WIB.


Banyak duka yang menyayat hati anak minang. Ada anak yang kehilangan ibu atau bapaknya atau semua keluarganya. Ada saudara yang kehilangan saudara kandungnya. Ada orangtua yang kehilangan anaknya. Semua ini adalah kepiluan, yang tidak akan mungkin bisa diredam oleh pergantian zaman.

Untuk mengenang peristiwa dahsyat ini, tidak salah jikalau Pemerintah Kota (pemkot) Padang membangun sebuah tugu dan museum gempa pada tanggal 30 September 2010 yang lalu di jalan Bundo Kanduang. Dan nama-nama kurban yang gugur pada peristiwa itu, semuanya ditulis disana. Paling tidak, usaha ini sedikit banyaknya bisa mengobati luka keluarga dan kerabat yang ditinggalkan.

Persiapan Agar Semakin Dimatangkan


Kejadian tahun 2009 itu bukanlah puncak gempa yang akan menimpa Minang. Ada kejadian besar lainnya, yang tentu membutuhkan persiapan lebih hebat lagi. Tentunya, persiapan ini bertujuan agar korban yang nantinya jatuh lebih sedikit. Bahkan, jikalau bisa (dan memang harus berusaha untuk bisa), tidak ada kurban lagi yang berjatuhan.

Menarik untuk melihat kembali pendapat Jamie Mc Lengley dari Easth Observatoring of Singapura dalam suatu acara yang diadakan oleh BPBD Padang di Rocky Hotel, yang beritanya dimuat salah satu media Sumatera Barat. Ia menjelaskan bahwa gempa dan tsunami yang akan menimpa Padang selanjutnya, jauh lebih besar dari sebelum-sebelumnya. Dan potensi tsunaminya juga tidak kalah hebatnya dari tsunami yang menimpa Aceh.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena benturan lempeng Indo-Australia, yang terus bergerak di bawah lempeng sunda. Kedua lempeng ini saling menekan dengan rata-rata kecepatannya 5.7 cm pertahun. Dan akibatnya, muncullah lengkungan yang menyimpan energi sangat besar dan dapat meledak kapan saja. Jikalau ini terjadi, maka akan terjadilah kejadian luar biasa sebab ia akan memuntahkan kekuatannya.

Itu hanyalah prediksi ahli, yang tentunya berdasarkan penelitian dan kajian ilmiah. Terlepas benar atau tidaknya, ia harus dijadikan cermin untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan. Tidak perlu terlalau galau, namun rasa waspada harus tetap ada. Untuk menghadapi hal ini, ada dua elemen penting yang harus berperan besar:

Pertama, Pemerintah
Pangkal dari segala kejadian buruk adalah kejahilan dan kurangnya pengetahuan. Jikalau diperhatikan, warga yang tinggal di zona merah di kota padang dan sekitarnya, sangat banyak sekali. Dan di antaranya jumlahnya yang segitu banyaknya, berapa persen sajakah di antara mereka yang melek dan paham dengan gempa dan tsunami? Seberapakah besarkah di antara mereka yang paham bagaimana menghadapi kondisi tersebut? Ini perlu diperhatikan pemerintah. Sosialisasi harus terus dilakukan dan digiatkan. Dengan adanya beberapa kali simulasi gempa, itu merupakan hal positif dan sangat baik sekali.

Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah jalur evakuasi. Jikalau tiba-tiba terjadi gempa besar, jalan mana yang harus ditempuh juga harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Semua tanda dan arah jalan harus disediakan dan dipastikan dalam kondisi baik dan terjaga. Begitupun dengan alat-alat pemberitaan dini terjadinya gempa dan tsunami, harus juga dipastikan keberadaannya.  

Dan yang juga penting untuk diperhatikan adalah persiapan tenda dan shelter jikalau bencana itu menimpa. Sejauh hari, harus dipersiapkan dengan sebaiknya. Sebab, yang namanya bencana alam, tidak ada yang bisa memastikan datangnya.

Kedua, warga atau rakyat
Warga harus lebih mandiri. Jangan hanya bergantung dengan pemerintah. Harus ada upaya bahu-membahu. Jikalau ada penyuluhan dari pemerintahan atau simulasi, maka ikutilah. Jangan malas-malasan. Bagaimana pun, apa yang dilakukan oleh pemerintah itu adalah untuk kebaikan rakyatnya juga. Kenali gempa dan tanda-tanda tsunami dengan sebaik-baiknya. Jikalau tanda-tanda itu sudah terlihat, maka segeralah bergerak. Tidak udah menunggu aba-aba terlebih dahulu.

Kemudian juga, yang tidak kalah pentingnya, jikalau ada yang berada di jalur/zona merah, maka kenalilah jalur evakuasi dengan sebaik-baiknya. Agar ketika gempa atau tsunami terjadi, jalan itu bisa ditempuh dengan lancar tanpa hambatan. Kemudian jikalau ada alat-alat peringatan dini yang dipasang oleh pemerintah, jangan ada yang merusaknya atau mencuri. Bagi saya, ini merupakan tindakan criminal yang bukan saja melukai pemerintah namun juga membahayakan rakyat lainnya.

Pada akhirnya, semuanya harus mempersiapkan diri. Bukan saja fisik dan mental, namun lebih dari itu adalah keimanan. Ini adalah ujian dari Allah SWT, agar warga Minang selalu waspada dan semakin memperbanyak ibadahnya kepada-Nya. Dalam setiap peristiwa, pasti ada hikmahnya. Tetaplah berbaik sangka kepada-Nya. Jangan pernah menganggap diri hina, sebab Dia sudah memuliakan para hamba-Nya. []

 (Dimuat di Opini Republika, Edisi 26 September 2014)


Tanggal 23 September kemaren adalah hari al-Yaum al-Wathany bagi Arab Saudi yang ke 84 tahun. Hari al-Yaum al-Wathany adalah hari penyatuan kerajaan, di mana berdasarkan ketetapan King Abdul Aziz nomor 2716, bulan Jumadi al-Ula tahun 1351 H, yang juga menetapkan pergantian nama Kerajaan Hijaz, Nejad, dan lain-lainnya menjadi Kerajaan Arab Saudi (al-Mamlakah al-Arabiyyah as-Suudiyah).

Sebagai salah seorang yang pernah mengecap pendidikan atas beasiswa dari Arab Saudi, tentu saya berterimakasih banyak kepada pemerintahan Arab Saudi. Dan saya yakin, banyak teman-teman yang pernah atau sedang menempuh pendidikan dengan beasiswa yang sama, ingin juga mengucapkan tahniah (selamat).

Sepanjang sejarah berdirinya kerajaan Arab Saudi, maka hubungannya dengan Negara Indonesia tidak dapat dipandang sebelah mata. Banyak jasa dan kebaikan yang diberikan oleh pemerintahan Arab Saudi kepada rakyat Indonesia, yang bisa kita simpulkan dalam beberapa point berikut ini:

Pertama, Pendidikan
Semenjak zaman pra kemerdekaan, umat Islam yang berada dan belajar di Arab Saudi sudah tidak terhitung jumlahnya. Ada beberapa ulama sekaliber dunia asal Indonesia yang bisa kita dengar dan baca kontribusinya, seperti Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Imam Nawawi al-Bantany, Abdurrahman Shidiq al-Banjary, Syeikh Mahfudz al-Tarmisi, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Dan tidak dipungkiri keberadaan mereka disana, dengan sendirinya memberikan efek positif bagi nama baik Indonesia di mata dunia. Dan jangan lupa, walaupun mereka berada disana, namun para muridnya kembali ke Indonesia untuk mengajarkan ilmu yang mereka dapatkan dan menggelorakan jihad di bumi tercinta ini.

Ada dua organisasi besar di Indonesia, yaity Nahdhatul Ulama (NU) yang didirikan oleh KH. Hasyim al-Asy’ari, dan Muhammadiyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan. Keduanya adalah alumni pendidikan Mesjidil Haram, yang berada di Arab Saudi.

Itu di zaman dahulu kala, sekarang jumlah kaum muslimin yang berada dan belajar di Arab Saudi atau lembaga yang berafiliasi dengannya, jumlahnya banyak sekali. Mungkin ribuan. Tahun ini saja, ada 150 orang yang diterima untuk melanjutkan studi strata sarjananya di Islamic University di Madinah. Belum lagi yang lainnya, yang belajar di Umm al-Qura University, el-Imam Ibn Saud Unversity, Malik Saud Univesity, Petrolium, dan mahad-mahad yang ada di wilayah haram makky. Dan jangan lupa, di Indonesia sendiri ada mahad afiliasi ke el-Imam Ibn Saud University, yaitu Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA), yang konsen dan tekun mengejarkan bahasa Arab dan Studi Islam.

Para intelektual yang pernah mengecap pendidikan Saudi, sudah berjuang di berbagai bidang untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Ada yang jadi ulama, dan ini jumlahnya sudah tidak terhitung dengan berbagai mahad yang mereka pimpin; ada yang jadi anggota dewan; ada yang jadi pemimpin sukses, seperti Ahmad Heryawan gubernur Jawa Barat yang sudah meraih berbagai prestasi; ada juga yang menjadi akademisi yang mengabdikan ilmunya di kampus-kampus; dan ada juga yang memilih hidup di wilayah-wilayah Indonesia terdalam untuk mengajarkan ilmu kepada orang-orang yang belum mengecapnya.

Kedua, ekonomi
Tidak bisa diingkari, banyak warga Indonesia yang mengais hidupnya di Arab Saudi. Beberapa masalah memang sering menguat ke permukaan, seperti kasus kekerasan dan sejenisnya. Namun, saya rasa tidak semuanya seperti itu. Jikalau dilihat, kenyataannya banyak juga yang sukses dan mendapatkan majikan yang baik. Bahkan, tidak jarang yang berdikari dan sukses sebagai pengusaha disana.

Hanya saja sekarang, yang perlu diperbaiki adalah manajemennya. Pemerintah harus mendidik terlebih dahulu para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang akan dikirimkan kesana. Diajarkan keahlian bahasa dan keahlian bekerja, sehingga mereka mampu menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya dan tidak mengundang amarah majikan.
Dan bagi pemerintahan Arab Saudi sendiri, hendaklah mereka bersikap tegas kepada penduduknya yang melakukan tindakan kriminal kepada para TKI maupun tenaga kerja asing lainnya. Jangan sampai seolah-olah masalah yang terjadi diabaikan begitu saja.

Ketiga, pembangunan
Banyak mesjid dan sekolah (mahad-mahad) atau universitas yang mendapatkan bantuan pembangunan dari Arab Saudi. Dan ini bisa disaksikan ketika berkunjung ke berbagai kampus di seantero Indonesia. Proposal yang diajukan ke pemerintahan Arab Saudi untuk pembangunan tertentu, biasanya mendapatkan respon positif. Selama itu untuk kebaikan, biasanya Arab Saudi legowo untuk memberikannya, dan itu pun tak pandang bulu.


Stigma Wahabi


Salah satu stigma yang selalu menempel pada Arab Saudi adalah stigmanya sebagai Negara pendidik para teroris, yang kadangkala disebut dengan istilah wahabi. Saya rasa, istilah ini bias dan liar. Padahal, hakikatnya istilah Wahabi itu merujuk pada upaya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, salah seorang pendakwah tauhid di wilayah Arab Saudi. Kegiatan yang dilakukannya sama dengan para pengemban tauhid di wilayah lainnya, yaitu membersihkan masyarakat dari khurafat, mitos, perbuatan-perbuatan yang tidak ada contohnya dari Nabi SAW, dan sejenisnya.

Silahkan dibaca kurikulum pendidikan Arab Saudi, maka tidak akan pernah didapatkan ajaran yang mengajarkan kekerasan. Dan jangan lupa, banyak para ulama dan kyai tamatan pendidikan Arab Saudi, yang menjadi pemimpin dalam organisasi Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah.
Jikalau pun ada yang bersikap dan bertindak keras dan kasar, itu hanyalah oknum. Jangan digeneralisir. Ajaran yang diajarkan dalam pendidikan Arab Saudi adalah ajaran yang berdasarkan kepada ajaran Islam sebenarnya, berdasarkan al-Quran dan SUnnah, tidak ada ajaran untuk nepotisme kepada mazhab tertentu dan pendapat tentu.
Yah, tidak ada doktrinisasi. []