Ketika masuk Bulan Ramadhan, salah satu pertanyaan berulang adalah tentang sakit dan puasa. Orang-orang yang sakit atau kerabat mereka bertanya-tanya tentang Batasan sakit yang memungkinkan dan membolehkan tidak berpuasa di Bulan Ramadhan? Kapan orang yang sakit wajib berpuasa Ramadhan, dan kapan dimakruhkan? Dan kapan pula diharamkan?

Dalam catatan ini, kita akan merujuk Artikel Hamid al-Atthar berjudul Dhabit al-Maradh alladzi Yubih al-Fithr fi Ramadhan (Batasan Sakit yang Membolehkan untuk Tidak Berpuasa di Bulan Ramadhan).

Kita akan memaparkan pendapat-pendapat para Ulama sebagai jawaban atas masalah-masalah di atas.

Terlebih dahulu, kita paparkan dahulu ayat-ayat yang mewajibkan kita berpuasa. Secara umum, ia membahas tentang orang sakit yang diberikan keringanan (Rukhsah) tidak berpuasa, sebagaimana firman Allah SWT: 
أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Surat al-Baqarah: 184)

Para Ulama berijma’, secara umum sakit merupakan udzur yang membolehkan untuk tidak berpuasa. (Lihatlah Kitab al-Mughny (3/155) karya Ibn Quddamah al-Maqdisy)

Hanya saja, Para Ulama berbeda pendapat tentang Batasan (Rincian/ Detail) Sakit yang menyebabkan bolehnya tidak berpuasa. Pendapat paling rajih (kuat) dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan semua penyakit yang menyebabkannya semakin parah karena berpuasa, atau dikhawatirkan akan terlambat kesembuhannya karena berpuasa. Kedua kondisi inilah yang menyebabkan bolehnya tidak berpuasa di Bulan Ramadhan.

Sedangkan pendapat yang menyatakan semua penyakit tanpa kecuali, merupakan pendapat yang tidak bisa diterima. Banyak penyakit yang sama sekali tidak merasakan efek apapun jikalau berpuasa, seperti sakit kepala atau sakit tangan atau sakit kaki, dan selainnya. Siapa saja yang mengalami penyakit sejenis ini, ia tidak boleh meninggalkan puasa Ramadhan.

Pembagian Orang yang Sakit

  • Pertama, Orang yang sakitnya Lazim dan Kontinyu, tidak bisa diharapkan kesembuhannya, seperti penyakit kanker. Kondisi seperti ini, tidak melaziminya untuk berpuasa. Kondisinya tidak bisa diharapkan akan mampu menjalankan puasa. Ia bisa memberi makan seorang Miskin untuk setiap hari yang tidak dipuasainya. Caranya, bisa dengan mengumpulkan sejumlah orang Miskin sesuai dengan hari yang tidak dipuasainya, kemudian ia memberikan mereka makan atau bekal, sebagaimana yang dilakukan oleh Anas bin Malik radhiyallahu anhu ketika ia berusia tua. Atau, bisa juga dengan membagikan makanan lansung kepada orang-orang Miskin sesuai dengan jumlah hari yang tidak dipuasainya. Setiap orang Miskin mendapakan ¼ Sha’ Nabi, yaitu seukuran 1,5 kg + 10 gram Gandum yang bagus. Sebaiknya disertai dengan Daging atau Minyak yang bisa digunakannya sebagai lauk. Hukum yang sama berlaku juga bagi orang tua (sepuh) yang sudah tidak mampu berpuasa. Ia memberi makan satu orang Miskin untuk setiap harinya.

  • Kedua, Orang yang mengalami sakit tiba-tiba, tidak sejak awal, bisa diharapkan kesembuhannya, seperti demam dan sejenisnya. Kondisi orang seperti ini, bisa dibagi tiga.

  1. Ia tidak kesulitan untuk berpuasa dan tidak pula memudharatkannya. Ia wajib berpuasa. Tidak ada uzur.
  2. Ia mengalami kesulitan untuk berpuasa. Namun tidak memudharatkannya. Ia dimakruhkan untuk berpuasa. Sebab, ia bisa mengambil keringanan (Rukhshah) dan tidak usah menyulitkan diri sendiri. 
  3. Puasa bisa memudharatkannya. Ia haram berpuasa. Sebab,  perbuatannya tersebut akan mendatangkan mudharat terhadap dirinya sendiri.
Allah SWT berfirman:
وَلاَ تَقْتُلُو”اْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً
“Dan janganlah kalian bunuh diri kalian. Allah Maha Pengasih atas kalian.”

Dan firman-Nya:
وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُو”اْ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Jangan campakkkan dengan tangan kalian kepada kehancuran. Berbuatbaiklah. Allah SWT menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Dalam hadits Nabi Saw dijelaskan:
لا ضرر ولا ضرار
“Tidak mudharat dan tidak memudharatkan.” (HR Ibn Majah dan al-Hakim. Imam al-Nawawi berkata, “Jalan periwayatannya banyak. Sebagiannya menguatkan sebagian lainnya.”

Mudharat akibat puasa bisa diketahui dengan apa yang dirasakannya terhadap dirinya, atau dengan pemberitahuan Dokter yang terpercaya.

Ketika orang yang masuk Jenis ini tidak berpuasa di bulan Ramadhan, maka ia men-Qadha hari-hari yang tidak dipuasainya setelah sembuh. Jikalau ia meninggal sebelum kesembuhannya, maka kewajiban Qadha pun gugur. Sebab, kewajibannya untuk berpuasa di hari-hari lainnya tidak tercapai oleh usianya. (Lihat Majmu’ al-Fatawa wa Rasail Ibn Utsaimin, 20/ 106)

Penyakit yang Dibolehkan untuk Tidak Berpuasa Ramadhan?

Dalam Kitab al-Mughny karya Ibn Quddamah dijelaskan, “Sakit yang menyebabkan bolehnya tidak berpuasa adalah sakit keras yang akan semakin parah karena berpuasa atau dikhawatirkan kesembuhannya akan semakin lama. Ditanyakan kepada Imam Ahmad, ‘Kapankah orang yang sakit boleh tidak berpuasa?’ Ia menjawab, ‘Jikalau ia tidak mampu berpuasa.’ Ditanya lagi, ‘Seperti demam?’ Ia menjawab, ‘Sakit apa lagi yang lebih keras dari demam?!’

Diriwayatkan dari seorang Salaf, ia membolehkan tidak berpuasa untuk jenis sakit apapun, walaupun sakit jari atau sakit gigi, berdasarkan keumuman ayat yang menjelaskan masalah sakit. Kemudian juga berdasarkan dalil musafir yang boleh tidak berpuasa walaupun sebenarnya tidak ada keharusan baginya mengambil keringanan. Jikalau Musafir bisa, maka orang yang sakit pun bisa.

Kemudian Ibn Quddamah mengatakan, “Sakit itu tidak ada batasannya. Penyakit itu berbeda-beda. Ada yang jikalau berpuasa, maka akan membahayakan. Ada juga yang tidak berefek sama sekali, seperti sakit gigi, luka di jari, kudis, dan semisalnya. Sakit itu tidak ada batasannya. Mungkin menjadi pointnya adalah hikmahnya, yaitu khawatit akan memudharatkan. Itulah pointnya.” (Kitab al-Mughny, 3/ 155-156)

Al-Qurthuby mengatakan, “Jumhur Ulama berpandangan, jikalau sakit itu membuatnya kesakitan atau dikhawatirkan akan semakin parah atau dikhawatirkan akan semakin bertambah, maka sah-sah saja jikalau tidak berpuasa. Ibn Athiyyah mengatakan, ‘Ini adalah Mazhab orang-orang cerdas di kalangan pengikut Malik. Dan itulah pandangan mereka. Sedangkan Malik sendiri berpandangan, yaitu sakit yang menyulitkan orangnya dan membuatkan kesakitan.” (Lihat Tafsir al-Qurthuby, 2/ 276)

Kemudian Imam al-Nawawi mengatakan, “Syarat sakit yang dibolehkan untuk tidak berpuasa adalah jikalau puasa tersebut akan menyulitkannya, sehingga akan menyebabkan kesulitan.” ( Lihat Kitab al-Raudhah, 2/ 234-235)

Imam al-Nawawi berkata di bagian lainnya, “Orang sakit yang tidak mampu berpuasa karena sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, tidak lazim baginya berpuasa ketika itu dan lazim baginya menqadha’ berdasarkan ucapan penulis, yaitu jikalau kesulitan yang nyata menghampirinya karena berpuasa. Tidak disyaratkan harus mencapai kondisi puncak yang tidak memungkinkannya berpuasa. Para sahabat kami mengatakan, ‘Syarat dibolehkannya tidak berpuasa, jikalau puasa tersebut menyebabkan kesulitan yang tidak mungkin dipikulnya.” Mereka mengatakan ini sebagai rincian sebelumnya, tentang Bab al-Tayammum. Sahabat kami berkata, ‘Sedangkan jikalau sakit ringan yang tidak akan menyebabkan kesulitan nyata bagi pelakunya, maka tidak boleh baginya tidak berpuasa. Tidak ada perbedaan pendapat di antara kami mengenai hal ini. Dan pendapat berbeda di kalangan Ahli Zhahir.” (Lihatlah Kitab al-Majmu’, 6/ 258)

Al-Kasany, “Sakit yang diberikan keringanan (Rukhshah) adalah sakit yang dikhawatirkan akan semakin parah karena berpuasa. Itulah yang diisyaratkan dalam al-Jami’ al-Shaghir. Jikalau seseorang berpuasa, kemudian ia khawatir penyakitnya akan semakin sakit atau demamnya semakin parah, maka ia berbuka. Al-Kirkhy menyebutkan dalam Mukhtasharnya, sakit yang menyebabkan bolehnya tidak berpuasa adalah sakit yang dikhawatirkan akan menyebabkan kematian atau menambah penyakit. Apapun sakitnya.

Diriwayatkan dari Abu Hanifah, jikalau kondisinya dibolehkan untuk menunaikan shalat wajib dengan duduk, maka tidak masalah jikalau ia tidak berpuasa. Faktor penyebab bolehnya tidak berpuasa secara mutlak, bahkan wajib adalah sakit yang dikhawatirkan akan membahayakan. Sebab, jikalau tetap dilakukan, maka sama saja dengan bunuh diri, bukan menegakkan hak Allah SWT. Dan itulah kewajiban sebenarnya. Dan kondisi seperti ini, tidak ada kewajiban. Hukumnya haram. Tidak berpuasa menjadi sesuatu yang Mubah, bahkan wajib.”

Kemudian al-Kasany melanjutkan, “Begitulah. Sakit saja bukanlah sebab keringanan (Rukhsah). Sebab keringanan sakit dan safar (perjalanan) karena kesulitan berpuasa, untuk memudahkan keduanya dan memberikan keringan, sesuai dengan firman Allah SWT, ‘Allah SWT menginginkan kemudahkan bagi kalian, dan tidak menginginkan kesulitan.’ (Surat al-Baqarah: 185) Ada penyakit yang bisa mendapatkan manfaat dengan puasa dan meringankannya. Dan kondisi ini, puasa menjadi mudah bagi orang yang sakit, jauh lebih mudah dari makan. Bahkan bisa jadi makan itu memudharatkannya, membuatnya kesulitan. Di antara bentuk ibadah adalah meringankan sesuatu yang memudahkan orang sakit mendapatkannya dan menyempitkan ruang yang akan memperparah sakitnya.” (Lihatlah Kitab al-Bada’i wa al-Shana’i, 2/ 245-246)

Pendapat Terpilih

Setelah memaparkan pendapat-pendapat Ulama, pendapat yang benar dalam masalah ini adalah: Sakit yang dibolehkan oleh Allah SWT untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan adalah orang yang jikalau berpuasa, maka puasa tersebut akan menyulitkannya dengan kesulitan yang tidak tertanggungkan. Siapa saja yang kondisinya seperti ini, maka ia silahkan tidak berpuasa dan menqadha’ di hari-hari lainnya sebanyak puasa yang ditinggalkannya. Jikalau kondisinya tidak seperti itu, maka ia tidak diizinkan untuk tidak berpuasa. Jikalau kondisi sudah payah, kemudian masih saja berpuasa, maka ia sudah membebani dirinya dengan kesulitan dan menutupi kemudahan. Dan ini bukanlah point yang diinginkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya, “Allah SWT menginginkan kemudahan  bagi kalian, dan tidak menginginkan kesulitan.” (Surat al-Baqarah: 185)

Sedangkan orang yang tidak akan mengalami kesulitan karena berpuasa, kondisinya sehat dan mampu berpuasa, maka ia wajib menjalankannya. Berdasarkan al-Quran dan Sunnah jelaslah, setiap penyakit yang akan memudharatkan pelakunya karena berpuasa, baik semakin bertambah maupun semakin lambat kesembuhannya, maka dibolehkan baginya untuk tidak berpuasa dan menqadhanya di hari-hari lainnya sebanyak yang ditinggalkannya.

Jikalau orang yang sakit mampu berpuasa tanpa mengakibatkan kesulitan dan kesusahan karena sakit yang dideritanya, dan ia juga tidak khawatir penyakitnya akan bertambah karena puasa yang dikerjakannya, maka ia harus berpuasa. Sebab, sekadar sakit bukanlah sebab keringan (Rukhsah ) bagi orang yang sehat, sebagaimana orang yang bersafar diharuskan berpuasa jikalau jaraknya Qasharnya tidak tercapai. Keringanan karena sakit dan safar karena adanya kesulitan akibat puasa, untuk memudahkan keduanya dan meringankan. (Lihatlah Fatwa Yas-alunaka karya Syeikh DR. Hisyam al-Din ‘Ifanah) Sebagaimana firman Allah SWT, “Allah menginginkan kemudahan bagi kalian, dan tidak menginginkan kesulitan.” (Surat al-Baqarah: 185)

Ini menujukkan, keringanan untuk tidak berpuasa bagi orang yang sakit, berhubungan dengan kekhawatiran akan membahayakan, berdasarkan riwayat Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Nabi Saw bersabda:
إن الله وضع عن المسافر شطر الصلاة وعن الحامل والمرضع الصوم
“Allah SWT menggugurkan bagi orang yang dalam perjalanan, setengah shalat. Kemudian menggugurkan puasa bagi perempuan yang hamil dan menyusui.”
Sebagaimana diketahui, keringanan bagi ibu hamil dan menyusui karena khawatir akan membahayakan dirinya atau anaknya; walaupun keduanya tidak sakit. Begitu juga dengan orang yang sakit, keduanya dibolehkan tidak berpuasa karena khawatir akan membahayakan. Ketika sifat “membahayakan” itu hilang, maka tidak boleh baginya untuk tidak berpuasa. (Lihat Kitab Ahkam al-Maridh, halaman 94-95)

Syeikh Yusuf al-Qaradhawi mengatakan, “ Hal itu diketahui dengan dugaan kuat (Ghalabah al-Zhan). Dan dugaan kuat tersebut bisa digunakan untuk hukum-hukum praktis. Ia bisa diketahui dengan dua hal:
  1. Bisa dengan pengalaman, yaitu pengalaman orang yang sakit; mencoba berpuasa sehari atau beberapa hari, kemudian merasakan kesulitan atau bertambah sakitnya. Atau dengan pengalaman selainnya yang bisa dipercaya, kondisinya sama dengan kondisi yang dialaminya, serta penyakit yang dideritanya sama.
  2. Bisa dengan rekomendasi dokter muslim terpercaya agamanya dan keilmuannya dalam bidang kedokteran; spesialis penyakit yang dideritanya. Tidak cukup sekadar dokter yang pinter, tapi harus spesialis dan pakar. Di zaman sekarang ini, kita mengenali spesialisasi yang mendetail dalam ilmu kedokteran, sampai-sampai para dokter jenius seperti orang awam di hadapan spesialisasi-spesialisasi yang detail tersebut. (Lihatlah Kitab Fiqh al-Shiyam, halaman 66)

Sebagai penutup, kami tegaskan, setiap orang yang sakit diberikan kepadanya keringanan untuk tidak berpuasa, agar tidak menyulitkan dirinya sendiri dengan nyeyel tetap berpuasa. Ia seharusnya mengambil keringanan yang diberikan oleh Allah SWT. Tidak usah berpuasa. Berdasarkan firman Allah SWT, “Allah menginginkan kemudahan bagi kalian, dan tidak mengingina kesulitan.” (Surat al-Baqarah: 185)

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Umar radhiyallahu anhu, Nabi Saw bersabda:
إن الله يحب أن تؤتى رخصه كما يكره أن أن تؤتى معصيته
“Sesungguhnya Allah SWT suka diambil keringanan-Nya sebagaimana suka diambil Azimah-Nya.” (HR Ahmad)

Kita memohon kepada Allah SWT agar Dia memberikan kesembuhan kepada orang-orang yang sakit di antara kita, dengan kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit sedikit pun. Amin. ***
Dalam Islam, Ibadah bukanlah syiar yang bisa dilakukan seseorang kapan pun diinginkannya, dengan tatacara sesuai keinginannya. Sebab, ia adalah tujuan utama penciptaan manusia, sebagaimana firman Allah SWT, “Dan tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Surat al-Dzariyat: 56)

Catatan kita kali ini akan merujuk Artikel yang berjudul al-‘Ibadah baina Fatawa al-Fuqaha’ wa Shawafi al-Umara’ (Ibadah; Antara Fatwa Ulama (Ahli Fikih) dan Keputusan (Ketetapan) Pemerintah), karya Abd al-Wahhab al-Qursy.

Rasulullah Saw berwudhu’. Para sahabat melihatnya. Mereka menirunya. Beliau sama sekali tidak menjelaskan ini rukun dan ini adab. Begitu juga dengan shalat. Beliau mengerjakannya. Para sahabat melihatnya. Mereka pun shalat sebagaimana beliau shalat. Haji pun sama. Beliau haji. Orang-orang melihatnya dan melakukan cara yang sama. Ini mayoritas kondisi yang terjadi.

Nabi Muhamad Saw sama sekali tidak menjelaskan Fardhu Wudhu’ itu ada enam atau empat. Beliau sama sekali tidak menghukumi orang yang berwudhu’ tanpa al-Muwalah (berurutan antara satu anggota wudhu' dengan anggota wudhu' lainnya) dengan sah atau rusak. Para sahabat pun jarang bertanya kepadanya tentang masalah-masalah ini. Diriwayatkan dari Ibn Abbas radhiyallahu anhu:
ما رأيت قومًا كانوا خيرًا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم ما سألوه إلا عن ثلاثة عشرة مسألة حتى قبض
“Saya tidak melihat suatu kaum pun yang lebih baik dari para sahabat Rasulullah Saw. Mereka tidak bertanya kecuali tiga belas masalah, sampai beliau wafat.”

Benar. Kadangkala terjadi sesuatu yang “ganjil” dalam tatacara ibadah. Contohnya, kisah yang diriwayatkan oleh Abu Daud, suatu hari Rifa’ah bin Rafi’ radhiyallahu anhu bersin. Ketika itu, ia sedang shalat di belakang Nabi Muhammad Saw. Ia berucap keras:
الحمدلله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه مباركًا عليه كما يحب ويرضى
‘Segala puji bagi Allah SWT; pujian yang banyak lagi baik, diberkahi dalam kebaikan dan keburukan, sebagaimana dicintai-Nya dan diridhai-Nya.”
Setelah selesai shalat, Nabi bertanya, “Siapa yang berbicara dalam shalat?” Tidak ada seorang pun yang menjawab. Beliau sampai mengulangnya tiga kali. Kemudian Abu Rifa’ah mengatakan, “Saya wahai Rasulullah.” Beliau berkata, “Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya. Berpacu tiga puluh lima lebih malaikat untuk membawanya ke langit.”

Beberapa perbedaan seperti ini, bisa saja terjadi. Sebab, paling penting dalam Islam adalah hakikat ibadah, bukan sekadar bentuk dan gerakan. Karena itulah Nabi Muhammad Saw pura-pura abai dengan beberapa perbedaan kecil yang terjadi dalam ibadah. Beliau ingin menegaskan hakikat utama ibadah.

Diriwayatkan oleh Usamah bin Syarik radhiyallahu anhu, “Saya berangkat menunaikan haji bersama Rasulullah Saw. Orang-orang menghampirinya. Ada yang berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya bersa’i setelah berthawaf, atau saya menunda sesuatu, atau mendahulukan sesuatu.’ Beliau menjawab:
لا حرج إلا على مسلم اقترض عرض مسلم وهو ظالم فلك الذي حرج وهلك
“Tidak ada masalah. Kecuali jikalau seorang Muslim berlaku zhalim merusak kehormatan Muslim lainnya. Itulah yang bermasalah dan menghancurkan.”

Al-Quran al-Karim menegaskan pentingnya shalat. Namun, di dalamnya sama sekali tdiak dijelaskan bentuk tertentu. Kita justu mengenal bentuknya dari Sunnah Nabi. Berbagai riwayatnya menunjukkan, ada perbedaan luas dalam perkara-perkara Juz’iyyah seputar shalat. Perbedaan ini bukanlah sebuah kekurangan dalam shalat, sehingga kita harus membuat ilmu tersendiri untuk memperbaikinya dan melebur kesalahannya.

Perbedaan ini justru menunjukkan shalat adalah amalan yang hidup. Dan amalan yang hidup tidak tunduk kepada instrumen rutinitas. Ada sejumlah Ahli Fikih yang berusaha memusnahkan perbedaan dan kelapangan ini, kemudian menggantinya dengan sistem ibadah rutinitas.

Sistem yang dibuat-buat ini menghalangi orang-orang yang mengerjakan shalat untuk mendapatkan manfaat shalat sebenarnya dan menikmatinya. Mereka menyangka: Shalat hanyalah sesuatu yang bersifat sekunder. Sama dengan Olahraga. Ia bukanlah mata air ketuhanan yang ditetapkan untuk membekali kehidupan dengan kehangatan, dan dinamika yang harus melekat pada diri seorang Muslim.

Layak kita katakan: Walaupun al-Tarjih (menguatkan di antara pendapat-pendapa yang berbeda) dan membuat rutinitas dalam Furu’ Ibadah yang dipinta, tetapi cara yang ditempuh oleh para Ahli Fikih bukanlah cara yang tepat. Setiap Ahli Fikih membuat Lembaga Khusus, kemudian melakukan penelitian dan al-Tarjih dengan kemampuan dirinya.

Perbedaan itu, nyata dalam ibadah. Tidak mungkin tabiat dan akal berbeda akan sampai ke satu konklusi ketika melakukan al-Tarjih. Ketika seorang Ahli Fikih melakukan al-Tarjih atas suatu pendapat, maka akan muncul Ahli Fikih lainnya melakukan al-Tarjih atas pendapat lainnya yang berbeda. Dengan begitu, muncullah berbagai kerangka dan berbagai jenis ibadah, walaupun tujuan awalnya ingin membentuk satu kerangka saja.

Solusi paling jitu untuk membatasi saling kontradiksi antara fatwa-fatwa para Ahli Fikih adalah menjalankan sistem Shawafi al-Umara’. Istilah ini menarik. Walaupun diabaikan penggunaannya di buku-buku al-Gharib, al-Muthalah, al-Mudhaf, dan al-Mansub. Kebiasaan yang berlaku di tengah khalayak, sebelum munculnya para Ahli Fikih nan Taklid, dalam masalah apapun yang tidak didapati hukum sharihnya dalam al-Quran dan Sunnah, mereka mengajukan masalahnya kepada para pemimpin. Kemudian para pemimpin mengumpulkan para Ulama. Keputusan yang dibuat, dijalankan oleh Pemerintah.

Dengan Metode ini, tidak mungkin seorang pun mengingkarinya atau menyelishinya. Wibawa dan Tugas Negara adalah menghilangkan perbedaan. Salah satu contohnya bisa dilihat dengan peristiwa Kodifikasi al-Quran al-Karim di Generasi pertama umat Islam. Jikalau kerja ini tidak dilakukan di bawah Bimbingan Resmi Negara; jikalau para penulis tidak mau melakukan Kodifikasi al-Quran berdasarkan Ijtihad pribadi masing-masing, maka Umat ini pasti akan menghadapi banyak perbedaan dan pertikaian. Dan tidak akan selesai, sampai Hari Kiamat.

Begitulah. Mengatur masalah-masalah Fikih adalah sesuatu yang dibutuhkan. Dan harus dikerjakan di bawah bimbingan resmi adiminitrasi Negara atau Lembaga Ulama. Contoh lainnya, ketika terjadi perbedaan di kalangan sahabat tentang jumlah Takbir dalam shalat Jenazah, Umar bin al-Khattab menyatukan mereka dan menetapkan jumlahnya sebanyak 4 kali Takbir.

Dahulu Abdullah bin al-Muqaffa’ pernah mengusulkan kepada Khalifah Dinasti Abbasiah; Abu Jafar al-Manshur, untuk membuat aturan yang disepakati. Kemudian diterbitkan atas nama Dinasti Abbasiah. ***

Referensi:
  1. Sunan Abu Daud, Kitab al-Manasik
  2. Jami' Bayan al-Ilm wa Fadhlihi, karya Ibn Abd al-Barr
Karantina kesehatan, Isolasi, dan Lockdown yang di alami hampir semua Negara dunia di hari ini akibat Virus Corona, kemudian keputusan sebagian besar Negeri Muslim yang melarang warga negaranya untuk menunaikan shalat berjamaah di Masjid, menjadi fenomena tersendiri, menyebabkan Masjid-Masjid menjadi kosong di Bulan Ramadhan nanti, tidak ada Shalat Jamaah dan Shalat Tarawih, begitu juga dengan I’tikaf yang disunnahkan di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.

Kaum Muslimin menunaikan shalat di rumah masing-masing. Sebagiannya menyediakan tempat khusus yang dikenal dengan nama Mushalla. Disitulah mereka menunaikan Shalat berjamaah bersama semua anggota keluarganya. Menyaksikan fenomena ini, terlintas dalam pikiran sebagian kita, utamanya yang memiliki semangat menegakkan sunnah dan menjalankan hidayah, untuk mengadakan Itikaf Ramadhan di rumah saja. Pertanyaannya, apakah itu dibolehkan? Sebab kontradiksi dengan firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 187:
وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam Masjid.”

Catatan kita kali ini akan merujuk Artikel Mas’ud Shabry, yang berjudul I’tikaf Ramadhan fi al-Buyut bi Sabab Kuruna.

Pengertian I’tikaf

I’tikaf adalah berdiam (al-Mukts) dan menahan diri (al-Ihtibas). Maksudnya secara bahasa, seseorang menahan dirinya melakukan sesuatu yang biasanya dilakukan.

Maksudnya menurut para Ahli Fikih, seorang Muslim berdiam diri di Masjid dengan niat ibadah. Al-Bajirmy dalam Hasyiyah ‘Ala Syarh al-Minhaj (2/91) berkata, “I’tikaf adalah seseorang berdiam diri di Masjid disertai niat. Hukum asalnya, sebelum Ijma’, adalah ayat
وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid."
Dan ayat:
وَعَهِدْنَا إلَى إبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِي لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ
"Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud.”

Ibn al-Quddamah mengartikannya dalam Kitab al-Mughni (3/186), I’tikaf secara bahasa adalah melazimi sesuatu dan menahan diri, baik yang dilazimi itu kebaikan maupun selainnya. Misalnya, firman Allah SWT:
مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ
"Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?"
Dan firman-Nya:
يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ
"Maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka.”
Menurut Syara’, tinggal di Masjid sesuai dengan deskripsi yang kami sebutkan. Dan ia adalah Taqarrub dan ketaatan. Allah SWT berfirman, “(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid’ dan ayat “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud.”

Ibn Quddamah beralasan, penamaan I’tikaf sesuai dengan riwayat Ibn Majah dalam Sunannya, dari Ibn Abbas, dari Nabi Saw bersabda tentang orang yang beritikaf, “Ia mengitikafi dosa-dosa. Kebaikan-kebaikan mengalir kepadanya layaknya pelaku semua kebajikan.” Haditsnya Dhaif.

Al-Shawy menulis dalam Hasyiyah ‘Ala al-Syarh al-Shaghir (1/ 725) sebuah makna yang indah tentang I’tikaf. Ia berkata, “’Akafa-Ya’kifu-‘Akfan-‘Ukufan, maksudnya rutin menghampiri sesuatu. I’takafa dan In’akafa, maksudnya sama. Dikatakan, beritikaf untuk kebaikan dan berin’ikaf untuk keburukan.”

Hikmah I’tikaf

Al-Shawy menjelaskan alasan para Ulama membahas I’tikaf setelah Puasa, “Ketika pembicaraan tentang Furu’ puasa sudah selesai, yang di antara hikmah pensyariatannya adalah untuk menyucikan cermin akal dan menyerupai para Malaikat mulia di waktunya, ia menyertakannya dengan pembahasan mengenai I’tikaf sempurna yang serupa juga dengan para Malaikat; menghabiskan waktu dalam ibadah, menahan diri dari syahwat, dan menahan lisan dari ketidaklayakan.”

Maka, “I’tikaf adalah orang yang beri’tikaf menyerahkan dirinya sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah SWT, mendekatkan diri kepada-Nya, menjauhkannya dari kesibukan duniawi yang merupakan penghalang seorang hamba mendekatkan diri kepada-Nya. Ketika itu, orang yang beri’tikaf menghabiskan waktunya untuk mengerjakan shalat, baik hakikat dan makna. Sebab, tujuan utama I’tikaf adalah menunggu shalat berjamaah, meniru para Malaikat yang tidak bermaksiat kepada-Nya atas apa yang dilarang dan melakukan apa yang diperintahkan, bertasbih siang dan malam tanpa lelah.”

Hukum I’tikaf

I’tikaf di bulan Ramadhan dan bulan lainnya, hukumnya sunnah. Jikalau seorang Muslim melakukannya, ia berhak mendapatkan pahala. Kecuali jikalau ia mewajibkannya bagi dirinya sendiri, dengan cara Nazar dan selainya, maka hukumnya berubah menjadi wajib. Dalam Kitab al-Mughny karya Ibn Quddamah (3/186) dijelaskan, “Ibn al-Mundzir mengatakan, ‘Ulama berijma’ hukum I’tikaf itu sunnah, tidak wajib. Kecuali jikalau seseorang mewajibkannya kepada dirinya sendiri dengan cara bernazar. Hukumnya menjadi wajib. Di antara dalil sunnahnya adalah perbuatan Nabi Muhammad Saw dan kelaziman beliau melakukannya, untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan meraih pahala-Nya. Para istrinya juga beri’tikaf bersamanya dan setelah kematiannya. Dalil ketidakwajibannya, para sahabatnya tidak beri’tikaf. Dan Nabi Muhamad Saw juga tidak memerintahkan mereka melakukannya. Hanya sahabat tertentu saja yang melakukannya karena keinginan sendiri.

Nabi Muhammad Saw bersabda:
من أراد أن يعتكف، فليعتكف العشر الأواخر
“Siapa yang ingin beri’tikaf, maka beri’tikaf di sepuluh hari terakhir.” Jikalau seandainya hukumnya wajib, maka tidak akan dikaitkan dengan lafadz “Ingin”. Sedangkan jikalau sudah dinazarkan, maka hukumnya wajib, berdasarkan sabda Nabi Muhammad Saw:
من نذر أن يطيع الله فليطعه
‘Siapa yang bernazar melakukan ketaatan kepada Allah SWT, maka lakukanlah.” (HR al-Bukhari)

Diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu, “Wahai Rasulullah, saya bernazar untuk beri’tikaf semalam di Masjid al-Haram.” Beliau menjawab:
أوف بنذرك
“Tunaikan nazarmu.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Syarat-Syarat & Rukun-Rukun I’tikaf

Rukun I’tikaf menurut Jumhur Ulama ada empat;
  1. Orang yang Beritikaf (al-Mu’takif)
  2. Niat
  3. Tempat beri’tikaf (al-Mu’takaf fihi)
  4. Berdiam diri di Masjid
Sedangkan Mazhab Hanafi berpandangan, rukun I’tikaf hanya berdiam diri di Masjid. Selainnya, hanyalah syarat dan tambahan, bukan rukun. Mazhab Maliki menambahkan syarat lainnya, yaitu berpuasa.

Ahli Fikih bersepakat, Hukum I’tikaf itu sah dilakukan oleh laki-laki, perempuan, dan anak kecil yang sudah Mumayyiz. Mereka mensyaratkan sahnya I’tikaf wajib dan sunnah beberapa hal, yaitu:
  1. Islam
  2. Akal
  3. Tamyiz
  4. Suci dari Haidh dan Nifas, dan Junub.

I’tikaf Perempuan (Wanita)

Para Ahli Fikih bersepakat sahnya I’tikaf seorang perempuan. Mereka hanya berbeda pendapat tentang lokasi I’tikafnya. Jumhur ulama mensyaratkan I’tikafnya di Masjid, berdasarkan riwayat Ibn Abbas radhiyallahu anhuma. Suatu hari, ia ditanya tentang perempuan yang bernazar untuk beri’tikaf di Masjid (Mushalla) rumahnya, ia menjawab, “Bid’ah. Amalan yang paling dibenci oleh Allah SWT adalah Bid’ah. Mushalla (Masjid) di rumah bukan Masjid, baik secara hakikat maupun secara hukum. Makanya, ia bisa diganti, kemudian orang yang junub bisa tidur di tempat tersebut. Selain itu, jikalau dibolehkan, maka sudah dilakukan sejak lama oleh Ummahat al-Mukminin radhiyallahu anhunna, walaupun cuman sekali, untuk menjelaskan kebolehannya kepada Khalayak.”

Mazhab Hanafi berpendapat, juga Mazhab Syafii yang Qadim (lama), boleh bagi perempuan untuk beri’tikaf di Masjid rumahnya (Mushalla). Sebab, itulah tempat yang dijadikannya sebagai tempat shalat. Mereka memakruhkannya beri’tikaf di Masjid Jami’ (al-Jama’ah) dan berpandangan rumahnya lebih baik baginya dari Masjid yang ada di lingkungannya. Masjid yang ada di lingkungannya, baginya lebih baik dari Masjid Agung. Perempuan tidak boleh beri’tikaf di selain tempat shalatnya di rumahnya.

Tempat I’tikaf Laki-Laki

Mayoritas Ahli Fikih berpandangan, hukumnya tidak sah jikalau laki-laki beri’tikaf kecuali di Masjid. Dan lebih utama di Masjid al-Jami’. Mereka bersandarkan firman Allah SWT, “(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid.” (Surat al-Baqarah: 187)

Dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab karya al-Nawawi (3/ 189) dijelaskan, “Tidak sah melakukan I’tikaf selain di Masjid; jikalau yang beri’tikaf itu laki-laki. Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai masalah ini. Dasarnya, firman Allah SWT, “tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid.” (Surat al-Baqarah: 187) Dikhususkan I'tikaf di Masjid. Jikalau I’tikaf boleh dilakukan di selain Masjid, maka pengharaman “campuri” tidak akan khusus disitu. Dalam I’tikaf, hubungan suami istri diharamkan secara mutlak.”

Masalah ini bukanlah masalah Ijma’ sebagaimana diklaim sebagian Ahli Fikih terdahulu dan kotemporer. Banyak ulama yang menukil pendapat berbeda. Walaupun hakikatnya, Mayoritas Ulama mensyaratkannya di Masjid. Ada nukilan pendapat yang membolehkan, sebagaimana terdapat dalam Fath al-Bary karya Ibn Hajar (4/272), Nail al-Awthar karya al-Syaukani (4/317), Badr al-Tamam Syarh Bulugh al-Maram karya Husain bin Muhammad al-La’i dikenal juga al-Maghribi (5/ 148), mengomentari ucapan Aisyah, “Tidak ada I’tikaf kecuali di Masjid Jami’.” Ini merupakan dalil Masjid sebagai syarat I’tikaf.

Para Ulama bersepakat disyariatkannya I’tikaf di Masjid, kecuali pendapat Muhammad bin Umar Lubabah al-Maliki. Ia membolehkan I’tikaf dimana pun. Mazhab Hanafi membolehkan perempuan untuk ber’itikaf di Masjid Rumahnya (Mushalla rumah), yaitu tempat yang disediakannya untuk mengerjakan shalat. Ini merupakan pendapat lama (al-Qadim) dari Imam al-Syafii.

Ini merupakan salah satu pendapat pengikut Mazhab Syafii dan Mazhab Maliki. Mereka menyatakan, hukumnya boleh bagi laki-laki dan perempuan untuk beri’tikaf di Masjid (Mushalla) rumahnya. Sebab, ibadah sunnah lebih baik dilakukan di rumah. Abu Hanifah dan Ahmad berpandangan I’tikaf dilakukan di Masjid yang mengadakan Shalat Lima waktu. Abu Yusuf mengkhususkan Masjid seperti itu untuk I’tikaf wajib. Jikalau tidak wajib, maka bisa dilakukan di Masjid mana pun. Jumhur Ulama berpandangan secara umum, ia bisa dilakukan di Masjid mana pun.

Pendapat yang Kuat (al-Rajih)

Tidak diragui, pensyaratan Masjid merupakan sesuatu yang zhahir berdasarkan Nash al-Quran, perbuatan Nabi Muhammad Saw dan para sahabat. Ini hukum Asalnya dan kaedah utamanya. Sesuai dengan kondisi-kondisi yang biasanya ada, yaitu memakmurkan Masjid. Di Masjid, tujuan I’tikaf bisa dicapai; Menahan diri dari syahwat dan syubhat, bisa konsen beribadah. Ketika seseorang I’tikaf di rumahnya, ia akan terhalang dari tujuan I’tikaf.

Syarat-Syarat Pendapat Bolehnya I’tikaf di Rumah

Kondisi saat ini menuntut kaum Muslimin untuk berdiam diri di rumah, melakukan karantina demi kesehatan, semakin memguatkan pendapat sebagian Mazhab Maliki yang menyatakan bolehnya beri’tikaf di Masjid Rumah (Mushalla), dengan syarat:

  1. Dilakukan di Masjid (Mushalla) rumah, bukan di semua tempat yang ada di rumah. Artinya, di rumah harus ada Masjid (Mushalla) atau tempat khusus yang digunakan untuk shalat. Sekali lagi, tempat yang tidak digunakan kecuali untuk shalat.
  2. Orang yang beri’tikaf (al-Mu’takif) melazimi Masjid (Mushalla) rumahnya. Tidak meninggalkannya kecuali karena darurat, seperti buang hajat dan selainnya. Ia berdiam diri di lokasi tersebut selama masa I’tikaf. Sedangkan jikalau berada disana cuman beberapa Jam, kemudian beraktifitas normal seperti biasanya, maka tidak bisa disebut I’tikaf. 
  3. Seorang Muslim menyibukkan dirinya dengan ibadah-ibadah I’tikaf di Masjid (Mushalla) rumahnya; Membaca al-Quran, Zikir, Shalat. Dengan begitu, tujuan I’tikaf akan terwujud. 
  4. Pilihan ini berdasarkan kondisi yang dijalani. Jikalau udzurnya sudah hilang, maka hukumnya kembali ke hukum Asal, yaitu Masjid disyaratkan untuk I’tikaf. Dan Masjid (Mushalla) rumah hanya dibolehkan untuk perempuan. Sesuai dengan pendapat Mazhab Hanafi dan pendapat lama (al-Qadim) Imam al-Syafii. 
  5. Pendapat bolehnya I’tikaf di rumah kaum Musliminin karena melihat kondisi yang ada sekrang ini. Pembolehannya untuk menegakkan dan menjaga syiar agama. Menegakkan sebagiannya, jauh lebih baik dari menggugurkan semuanya.

Hukum ini, bersifat pilihan (al-Ikhtiyar). I’tikaf, hukum asalnya sunnah. Bukan wajib. Dalam kondisi normal, kaum Muslimin bisa saja berdiam beberapa waktu di Masjid (Mushalla) rumahnya beribadah kepada Allah SWT. Tapi, ini tidak bisa dinamakan I’tikaf. Walaupun, ia tetap mendapatkan pahala ibadah yang dilakukannya.

Masalah ini lapang. Luas. Dalam kondisi Normal, tidak semua juga kaum Muslimin beri’tikaf di Masjid. Tujuan pembahasan ini, menjelaskan hukum bolehnya beri’tikaf di Masjid (Mushalla) rumah dengan syarat-syarat yang sudah disebutkan. Tentunya, bagi siapa yang ingin. Siapa saja konsisten dengan pendapat Jumhur Ulama yang mensyaratkan Masjid untuk I’tikaf, silahkan saja. Para Ahli Fikih sudah menetapkan kaedah, “Tidak diingkari yang berbeda. Diingkari yang disepakati.”

Jikalau kita melihat alasan-alasan di balik bolehnya I’tikaf di Masjid (Mushalla) rumah dengan syarat-syarat yang sudah disebutkan, maka kita akan mendapatinya lebih baik dan lebih bagus dari pendapat yang menyatakan gugurnya I’tikaf secara total. Apalagi, kaum Muslimin meninggalkan Masjid karena terpaksa, bukan karena pilihan pribadi.

Ijtihad dalam masalah-masalah kontemporer atau terbaharukan, haruslah bisa membedakan antara kondisi terpaksa yang membutuhkan keringanan, dengan kondisi lapang dan pilihan (al-Ikhtiyar) yang seharusnya tegak di atas hukum Asal dan ‘Azimah. Selain itu, ia juga akan mendorong kaum Muslimin untuk tetap beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Jikalau dinafikan I’tikaf secara total, kaum Muslimin akan sibuk di rumah-rumah mereka dengan Sinetron dan acara Ramadhan, menghabiskan waktu mereka dengan maksiat. Na’udzubillah. Pendapat yang membolehkan I’tikaf di rumah lebih utama berdasarkan alasan-alasannya, kemudian juga mengefektifkan tujuan I’tikaf. Hanya saja, ini adalah hukum khusus di zaman khusus. Babnya adalah Rukhshah; keringanan. Bukan hukum Asal atau al-‘Azimah. ***
Ilmu Ushùl al-Fiqh dilahirkan di abad kedua hijriyah. Mayoritas ulama berpandangan, Imam al-Syāfii adalah orang yang pertama kali mengkodifikasinya. Sebagian lainnya berpandangan, seperti Ibn al-Nadím dalam Kitabnya al-Fahrasat, orang yang pertama kali mengkodifikasinya adalah al-Qādhi Abù Yùsuf muridnya Abù Hanífah. Tapi satu hal yang pasti, kitab al-Risālah karya Imam al-Syāfii adalah kitab pertama yang sampai kepada kita tentang Ushùl al-Fiqh.

Berdasarkan penelitian, Ushùl al-Fiqh sudah ada bersamaan dengan al-Tasyri’ dan al-Tanzíl, sebagai sebuah Keahlian dan Metode. Ilmu al-Fiqh, kelahirannya lebih dahulu sebagai ilmu dibandingkan dengan Ushùl al-Fiqh.

Sebagian kaum muslimin mengenal ilmu Ushùl al-Fiqh sebagai ganti dari logika Aristoteles. Ia merupakan ilmu pengantar menuju al-Ijtihād al-Fiqhí, bertujuan untuk mengetahui hokum-hukum Allah SWT mengenai halal dan haram, sebagaimana ia juga merupakan ilmu yang bisa digunakan untuk melakukan al-Tarjíh atas berbagai pendapat yang berbeda-beda.

Sebagian besar kitab para pakar Ushùl al-Fiqh membatasi konklusi Ushùl al-Fiqh hanya sebagai jalan atau metode untuk mengetahui hokum syariah. Namun sebenarnya tidak sekadar itu saja.
   
Ada tulisan menarik berjudul Ushùl al-Fiqh min al-Ijtihād al-Syar’í ila al-Tafkír al-Insāní, karya Mas’ùd Shabrí. Dalam tulisannya dijelaskan, ilmu Ushùl al-Fiqh tidak sesempit itu. Walaupun ilmu ini tumbuh di lingkungan syariah dan hanya digunakan untuk al-Ijtihād al-Fiqhí, namun dengan dalilnya, ushulnya, kaedahnya dan metode Istinbāth yang dimilikinya, ia semestinya tidak hanya berada di ruang syariah, tapi juga harus masuk ke ruang al-Insāniyah (kemanusiaan), sehingga ilmu ini berhak menjadi keahlian yang bisa dipelajari, bisa digunakan untuk Berpikir dengan Benar di seluruh bidang kehidupan.

Melatih diri dengan keahlian-keahlian yang ada di dalam Ushùl al-Fiqh, akan membuat seseorang mampu berpikir dengan cara yang benar. Ushùl al-Fiqh adalah Filsafat Islam. Ia adalah jalan untuk membentuk seorang pemikir.

Seorang muslim tidak bisa disebut sebagai pemikir kecuali jikalau ia mengenal Ushùl al-Fiqh. Bukan sekadar studi biasa, sekadar menunjukkan mukaddimah, dalil, dan metode Istinbāth, mengetahui syarat-syarat al-Mujtahid dan al-Ijtihād, taklid, fatwa, dan selainnya, tapi bermesraan dengan Ushùl al-Fiqh dalam semua bahasannya, mengubahnya dari teori menjadi pemikiran, dari pemikiran menjadi keahlian.

Dalam catatan berikut, kita akan menjelaskan sejumlah keahlian (al-Mahārat) dalam Ushùl al-Fiqh yang bisa digunakan sebagai Metode Berpikir dalam kehidupan sehari-hari, apapun bidang apapun yang ditekuni.

Teori Pembuktian (Nazhariyyah al-Burhān)

Salah satu keistimewaan Ushùl al-Fiqh adalah Teori Pembuktian, bahasa kerennya Nazhariyyah al-Burhān. Maksudnya, ucapan atau pendapat seseorang tidak bisa diterima begitu saja, tetapi harus ada dalil-dalilnya, bukti-buktinya, dan hujjah-hujjahnya, untuk menunjukkan kebenaran pendapatnya.

Masalah ini banyak diungkapkan dalam al-Quran, sebagaimana firman Allah SWT:
وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ ۗ تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani". Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar." (Surat al-Baqarah: 111)

Dalam ayat lainnya dijelaskan:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)." (Surat al-An'am: 116)

Dalam ayat lainnya:
وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا ۚ إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ
Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan." (Surat Yunus: 36)

Jenis-Jenis al-Idrāk (Pengetahuan)

Di antara keahlian Ushùl al-Fiqh yang bisa digunakan dalam Metode Berpikir adalah jenis-jenis al-Idrāk. Maksudnya, menganalogikan Metode Pengetahuan kita dengan Fakta-Fakta dan Pengetahuan-Pengetahuan yang ada. Pengetahuan yang menghampiri kita, statusnya tidaklah sama. Ada yang sifatnya al-Ilm (Ilmu) dan al-Yaqín (keyakinan), kemudian ada juga yang sifatnya al-Zhann (Dugaan). Dan al-Zhaan sendiri juga bertingkat-tingkat. Ada al-Zhann al-Qawí (Dugaan Kuat), ada al-Zhann al-Mutawassith (Dugaan Pertengahan), dan ada al-Zhann al-Dha’íf (Dugaan Lemah).

Penerimaan kita terhadap segala macam pendapat dan pengetahuan tidak selalu bersifat al-Qath’i (Pasti). Kita harus menghargai perbedaan pendapat dengan orang lain. Bisa jadi kita tidak sependapat dengan mereka, namun kita berusaha saling memahami dan saling mengenal, agar bisa mengetahui kenapa mereka berbeda dengan kita dan agar bisa tahu juga kenapa kita bisa berbeda dengan mereka.

Di antara bentuk al-Idrāk adalah al-Syakk (Ragu-Ragu), yaitu berdiam diri untuk melakukan al-Tarjíh (Menguatkan) di antara dua masalah, agar bisa mengkajinya lebih dalam.

Ini merupakan salah satu keahlian social yang sudah hilang dalam dialog-dialog yang sering kita lakukan dan kita saksikan. Jarang kita mendengar seseorang mengatakan, “Masalah ini membutuhkan penelitian lebih lanjut.” Biasanya, mereka tergesa-gesa menyampaikan pendapat dan berusaha memenangkan pendapatnya tanpa mengkaji dahulu atau berpikir atau meneliti.

Ada juga jenis al-Wahm (Mitos), yaitu Metode penyampaian ilmu dan pengetahuan berstatus lemah atau al-Dha’íf, tidak bisa naik kecuali sampai derajat al-Zhann (Ragu-Ragu). Pengetahuan yang berasal dari Metode al-Wahm, sama sekali tidak dianggap wujudnya.

Tafsír al-Nushùs (Menafsirkan Teks)

Di antara keahlian berpikir yang bisa didapatkan dari Ushùl al-Fiqh adalah Nazhariyyah Tafsír al-Nushùs (Metode Menafsirkan Teks). Para Pakar Perundang-undangan memanfaatkan teori Ushul ini untuk menafsirkan teks Undang-Undang. Kaedahnya berguna untuk memahami kalam Allah SWT dan kalam Rasulullah Saw, atau dikenal oleh para Pakar al-Maqāshid dengan sebutan Maqāshid al-Khithāb. Metode ini mampu melahirkan berbagai macam ilmu, seperti Ilmu al-Tafsír, Ilmu al-Quran, dan Ilmu Syarh al-Hadíts.

Kaedah-kaedah bisa digunakan untuk memahami kalam manusia, baik yang tertulis maupun yang didengar, sehingga al-Maqāshid yang ingin disampaikan oleh al-Mutakallim (orang yang bicara) bisa dibedakan antara al-‘Aām (Umum) dan al-Khās (Khusus), antara al-Muthlaq dengan al-Muqayyad, antara al-Sharíh dengan al-Muawwal, antara yang al-Mu’tabar dan al-Mulghā, kalam yang bisa ditakwilkan dengan kalam yang tidak bisa ditakwilkan, serta berbagai kaedah lainnya.

Mahārat al-Tarjíh (Keahlian Menimbang-nimbang Pendapat Paling Kuat)

Di antara keahlian Ushùl al-Fiqh yang juga bisa digunakan dalam berpikir adalah Mahārat al-Tarjíh. Biasanya digunakan oleh seorang pakar Ushul untuk memilih pendapat terkuat di antara dua pendapat atau lebih, dalam masalah-masalah yang menjadi ruang perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Keahlian ini penting untuk menjelaskan maksud al-Mutakallim (orang yang berbicara) ketika kalamnya mengandung banyak pandangan atau sudut pandang. Dengan cara ini, kita bisa mengetahui maksudnya melalui al-Tarjíh di antara dua interpretasi.

Bukan asal al-Tarjíh, namun berdasarkan al-Qarínah (indikasi), dalil, tanda, alamat, dan uslub yang digunakan dalam kalam, kemudian waktunya, serta berbagai unsur lainnya yang membuat kita menetapkan al-Tarjíh atas suatu pendapat di bandingkan pendapat lainnya.

Mahārat al-Takhríj

Para Pakar Ushùl al-Fiqh mengartikannya, menjelaskan hokum Allah SWT tentang masalah-masalah baru berdasarkan Ushul dan berdasarkan Masalah-Masalah Terdahulu (al-Masāil al-Qadímah).

Mahārat al-Takhríj berperan melahirkan makna-makna, melahirkan pandangan-pandangan dan keputusan-keputusan, menyelesaikan masalah-masalah, dan melahirkan pandangan-pandangan baru, berdasarkan tumpukan pengalaman masa lalu. Ia sama dengan Metode atau system berpikir yang membuat seseorang mampu menetapkan hokum atas sesuatu berdasarkan Ushul dan Kaedah Berpikir.

Mahārat al-Istisqrā’

Para Pakar Ushùl al-Fiqh dan Ahli Mantiq mengartikan al-Istisqrā’: meneliti al-Juziyyāt al-Far’iyyāt (masalah cabang) untuk masalah al-Kulliyyah. Tujuannya, untuk menetapkan hokum al-Kuliyyah dan menguatkannya, seperti mengkaji ayat-ayat dan hadits-hadits yang menunjukkan al-Taysír (kemudahan) dan Raf’i al-Harj (menghilangkan kesulitan). Dengan begitu, kita menetapkan agama tegak di atas al-Taysír (kemudahan) dan Raf’i al-Harj (menghilangkan kesulitan), dan ini menjadi al-Hukm al-Kulli.

Pengkajian ini tidak berhenti sampai batas Ijtihād semata, tetapi bisa juga digunakan untuk masalah-masalah politik atau social atau ekonomi, atau budaya, atau sastra atau seni atau masalah-masalah kehidupan lainnya. Tujuannya, untuk mengetahui dan memastikan adanya al-Hukm al-Kulli (Hukum Global) yang bisa digunakan membedah masalah-masalah besar.

Mahārat al-Ta’líl

Para Pakar Ushùl al-Fiqh mengartikan al-‘Illah adalah sifat yang al-Zhāhir (nyata) tidak tersembunyi, jelas yang tidak ada perbedaannya, lazim menyusun hokum demi kemaslahatan al-Mukallaf, baik mendatangkan al-Maslahah maupun menolak al-Madharrah.

Al-‘Illah dikenal dengan berbagai nama, di antara yang paling terkenal adalah al-Sabab, al-Bā’its, al-Manāth, al-Dalíl, al-Muqatadhā, dan lain-lain.

Manfaat Teori al-Ta’líl adalah mengatur cara berpikir, sehingga hukumnya tegak di atau al-Dzauq (taste) atau keinginan. Bahkan, setiap pikiran atau pandangan haruslah tegak di atas al-Ashl (pondasi), memiliki sebab al-Zhāhir agar terhindar dari kesalahan.

Itulah sejumlah kaedah Ushùl al-Fiqh yang bisa digunakan sebagai Metode berpikir, bukan sekadar al-Ijtihād al-Fiqhí.

Hal ini mendorong kita untuk memaparkan ilmu dengan sudut pandang baru. Tidak sekadar menggunakannya dalam studi agama, namun juga dalam studi logika. Semua tentu ada tingkatannya. Ada yang sifatnya umum bagi setiap anak manusia. Ada yang sifatnya khusus hanya bagi para ulama yang sudah mencapai tingkatan Ijtihad.

Namun satu hal yang perlu kita tegaskan kepada masing-masing kita, mempelajari Ushùl al-Fiqh itu penting.***
Beberapa hari lagi, kita akan memasuki Bulan Ramadhan. Pertanyaan paling besar yang bergelayut di kepala kita; Umat Islam adalah “Apakah kita akan menghabiskan Bulan Ramadhan tahun ini dengan Kondisi Luar Biasa (KLB) karena Virus Corona, layaknya semua Negara-Negara yang ada di Dunia? Dimana syiar agama dan keceriaan keluarga yang biasanya ada setiap kali menyambut dan menjalani bulan mulia ini? Bagaimana kita akan melalui kondisi seperti ini? Apakah wabah ini akan mempengaruhi bulan paling mulia, bulan mubarakah? Kemudian pertanyaan yang tidak kalah pentingnya, apakah Ramadhan yang seringkali dikaitkan dengan kesehatan dan ketaatan, mampu memusnahkan wabah ini? Tidak ada satu muka bumi pun, kecuali wabah ini sudah pernah menapakinya.

Catatan kita kali ini, akan merujuk Artikel yang ditulis oleh Nur al-Din Qilalah, berjudul Hal sa Yaqdhi Ramadhan ‘ala Kuruna?

Setelah pintu-pintu Masjid ditutup bagi kaum Muslimin yang ingin menunaikan shalat; setelah Muazzin mengumandangkan azan dengan:
ألا صلوا في بيوتكم، ألا صلوافي رحالكم
“Shalatlah di rumah kalian. Shalatlah di rumah kalian.”
Setelah Shalat Jumat dibatalkan (semuai itu berdasarkan aturan tegas Negara dan tindakan preventif mencegah kerumunan, meminimalisir perkumpulan); setelah sejumlah Negara menerbitkan aturan larangan keluar rumah kepada warga negaranya, dan itu terjadi rata-rata tidak lama sebelum masuknya bulan Ramadhan, maka kaum Muslimin mulai bertanya-tanya bagaimana mereka akan shalat Jamaah dan bagaimana mereka akan menjalankan shalat Tarawih?

Sebulan sebelum ini, mungkin tidak ada seorang pun yang membayangkan bulan Ramadhan tahun ini akan sepi dari ritual-ritual dan acara-acara yang setiap tahun menyertainya; Shalat Tarawih Berjamaah di Masjid, Berbuka Bersama, Ibadah Haji dan Umrah, Pesta Pernikahan, Arisan dan Kumpul-Kumpul Keluarga, Halal bi Halal, Syawalan, baik dilakukan di Masjid, di Rumah, maupun tempat-tempat umum. Tidak ada seorang pun yang membayangkan semua ini akan terjadi. Tidak ada yang membayangkan Ramadhan tahun ini akan sepi, sendiri, dan menyendiri.

Sebagian besar Negara sudah membuat aturan ketat untuk menghadapi kondisi terupdate di bulan Ramadhan 2020 ini. Sudah ada keputusan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama (NU), dan berbagau Organisasi Masyarakat lainnya di berbagai Negara, bukan hanya di Indonesia, untuk melakukan Lockdown Masjid selama bulan Ramadhan, tidak mengadakan Shalat Tarawih dan I’tikaf, sebagaimana juga tidak diadakan kegiatan Berbuka bersama, ceramah dan kajian, seminar dan diskusi.

Debat Seputar Puasa di Musim Wabah Corona

Problematika yang muncul, bukan saja sekadar kaitan puasa dengan Agama dan Budaya. Berbagai perubahan besar yang menyertai Ramadhan tahun ini, menyebabkan masalahnya semakin luas dan lebar, sampai-sampai yang dipermasalahkan adalah kewajiban puasa itu sendiri di bulan Ramadhan di tengah Wabah Corona. Pointnya; Apakah harus tetap berpuasa dalam kondisi seperti ini atau boleh tidak?

Ada kelompok yang berpandangan, keringnya kerongkongan akibat berpuasa, menyebabkan kemungkinan terinfeksi Virus Corona semakin besar, sehingga boleh-boleh saja tidak menjalankan kewajiban puasa Ramadhan di tahun ini. Gantinya, dengan memberikan makan kaum fakir miskin.

Mereka berpandangan, puasa tahun ini harus ditiadakan. Tubuh yang lemah, menyebabkannya lebih rentan dimasuki Virus dan memudahkan penyebarluasannya. Jikalau puasa tetap dijalankan, sama saja dengan menantang bahaya. Virus Corona akan semakin menyebar luas di kalangan kaum Muslimin.

Apalagi di bulan Mei, kata mereka, sebagian besar negeri kaum Muslimin; Timur Tengah, Indonesia, Malaysia, dan selainnya, berada dalam cuaca panas. Kerongkongan akan mudah kering.

Keringanan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan tahun ini menimbulkan perdebatan sengit, khususnya keringanan puasa bagi yang sudah berusia lanjut dan sakit-sakitan. Orang-orang yang memiliki penyakit kambuhan, yang tahun sebelumnya bisa berpuasa dengan baik tanpa masalah, mungkin saja tidak berpuasa Ramadhan karena khawatir Virus akan masuk ke dalam paru-paru mereka.

Itu pandangan kelompok pertama...

Kelompok lainnya berpandangan, puasa tetap dijalankan selama belum ada penelitian ilmiah yang mengaitkan puasa dengan infeksi Virus Corona. Inilah pendapat yang dipegang oleh berbagai Lembaga Ilmiah dan Syariah. Selama belum ada penelitian ilmiah, maka hukum asalnya wajib berpuasa di bulan Ramadhan.

Niat Dahulu dan Berpuasa yang Sehat!

Ada kelompok ketiga, menyeru untuk tidak ikut serta dalam debat kusir. Cukup berniat puasa, menjalankan kewajiban agama, berharap agar Wabah Corona ini diangkat oleh Allah SWT dari semua Negeri dan penduduk bumi.

Maklum dalam agama kita, menjaga jiwa (Hifzh al-Nafs) lebih didahulukan dari menjalankan ritual ibadah. Karena itulah dibolehkan bagi yang sedang sakit atau khawatir dirinya akan sakit, untuk tidak berpuasa selama bulan Ramadhan. Dan bukanlah kebajikan dan bukan pula ibadah yang baik, jikalau ada yang berpuasa sedangkan ia dalam kondisi sakit.

Kelompok ini berpandangan, keputusan terkait masalah ini sebaiknya diserahkan kepada Para Dokter dan Para Pakar yang berpengalaman. Merekalah yang memiliki kecakapan untuk menetapkan hukum apakah puasa bisa menyebabkan terinfeksi Virus atau tidak. Jikalau mereka menetapkan hal itu berdasarkan kajian ilmiah kedokteran, maka tidak ada masalah jikalau khalayak diseru untuk tidak berpuasa, bahkan bisa jadi hukumnya wajib tidak berpuasa. Perang melawan Wabah Corona pada hari ini dan meminimalisir penyebarannya, lebih utama dari apapun.

DR. Muhammad al-Fayid, seorang Pakar asal Moroko tentang Industri Microbiology, merupakan satu dari sekian banyak pakar yang optimis adanya kaitan positif antara puasa dengan Virus Corona. Ia Optimis sekali. Bahkan, ia salah satu yang berpandangan, Bulan Ramadhan akan mampu memusnahkan Virus Corona.

Ia menasehati orang yang akan berpuasa untuk mencukupkan diri dengan menu biasa saja di malam hari agar bisa menghilangkan racun dari tubuh. Tidak mengkonsumsi semua jenis makanan instant (kaleng) dan tidak juga yang berminyak (lemak), semampu mungkin menjauhi semua jenis gula, tidak banyak mengkomsumsi makanan-makan mengenyangkan seperti daging. Cukup dengan makanan-makanan alami sayur-sayuran dan makanan-makanan yang akan memperkuat imunitas tubuh.

Sinetron Ramadhan dan Seruan Memperbaiki Diri

Secara umum, semua bersepakat Ramadhan tahun ini akan kehilangan berbagai hal istimewa yang biasanya melekat, seperti kebersamaan. Kondisi ini akan memaksa kaum Muslimin untuk beribadah sendiri-sendiri bersama keluarga kecil di rumah, sebagai ganti dari ibadah berjamaah yang biasanya dilakukan di tahun-tahun sebelumnya.

Puasa tahun ini akan menjadi fakta khusus dan istimewa, tidak pernah terjadi sebelumnya sepanjang sejarah Islam. Namun di sisi lain, ada juga manfaatnya. Ramadhan tahun ini menjadi moment untuk melakukan perubahan berbagai kebiasaan, seperti kumpul-kumpul, nge-mall, bergadang sampai sahur. Ini adalah langkah awal untuk mengubahnya di masa yang akan datang.

Para Seniman berpandangan, Khususnya para Artis, Virus Corona di Bulan Ramadhan akan mempengaruhi juga kegiatan-kegiatan seni dan film. Banyak shooting yang gagal dilakukan. Mereka khawatir akan kehilangan job main sinetron dan mengisi acara. Ditutupnya Masjid-Masjid dan dilarangnya Shalat Tarawih menjadi kekhawatiran tersendiri bagi mereka.

Dan para pecinta Film dan Sinetron tidak bisa membayangkan jikalau layar televisi mereka selama Bulan Ramadhan, tidak ditayangkan Sinetron Religi dan Sejarah, plus Komedi (Jenaka). Manusia pada hari ini, di kondisi saat ini, sangat membutuhkan Komedi dan Lawakan. Virus Corona ini membuat mereka semakin kreatif membuat konten-konten di Media Sosial.

Tapi intinya, satu-satunya tayangan yang akan mendapatkan rating tinggi di semua media cetak dan elektronik, Televisi dan Radio, Situs dan Websire adalah “Sinetron” Corona, yang semuanya berharap agar Episode terakhirnya ada di bulan Ramadhan ini, bahkan sebelum masuk bulan Ramadhan. Amin. ***
Ulama atau Ahli Fikih memiliki kedudukan mulia di masa lalu, masa sekarang, dan masa akan datang. Mereka akan terus dimuliakan oleh Allah SWT sepanjang masa. Itu janji-Nya. Dan janji-Nya hak. Masalahnya, pengertan al-Fuqahā’ atau al-Ulamā’ perlu diulang dan dikaji lagi. Ada yang mengartikan, al-Fuqahā’ adalah ulama yang paham hokum-hukum syariat. Dan untuk terwujud sifat “paham” ini, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi, di antaranya:

  1. Al-Istizhār (Mampu Memaparkan). Para Ulama mensyaratkan, seorang Ahli Fikih adalah seseorang yang mampu memaparkan al-Quran al-Karím, Sunnah Nabi Muhammad Saw, Ijmā’ ulama, pendapat para sahabat, paham dengan Bahasa Arab, paham kaedah-kaedah fikih dan ushul Istidlāl. 
  2. Al-Fahm (Paham) dan al-Istidlāl (Mampu Berdalil). Maksudnya, alat logika ketika mengkaji hokum fikih haruslah benar dan istimewa, mampu mengetahui Metode al-Istidlāl, terlatih menggunakan al-Qiyās al-Shahíh, memahami al-Quran dan sunnah sesuai tuntunan syariat, terlatih menggunakan metode al-Ijtihād seperti al-Istihsān, al-Istishāb, dan al-Istislāh, mampu mengkadar al-Mashālih, melakukan al-Tarjíh di antara Maslahah-Maslahah dan Mudharat-Mudharat yang saling kontradiksi, kemudian mampu melakukan al-Muwāzanah dengan instrumen al-Maqāshid terhadap teks-teks syariat.

Maksud al-Fuqahā’ dalam bahasan ini adalah seorang Mujtahid bukan al-Muqallid, tidak terpenjara oleh konklusi fikih masa lalu. Ini bukan berarti meninggalkan warisan al-Fuqahā’ masa lalu yang luar biasa, tapi warisan tersebut bukanlah warisan suci. Kita mengambil yang bermanfaat. Hal paling agung dari Ijtihad-Ijtihad Fikih masa lalu adalah Minhaj al-Ijtihād (Metode Ijtihad) di kalangan ulama. Dan inilah yang kurang dimiliki oleh kalangan kontemporer.

Peran al-Fuqahā’ pada hari ini dan batasan al-Madlùl, bukan sekadar untuk kepentingan ilmiah, tapi juga moral dan etika yang tidak kalah penting. Salah satu tanggung jawab besar al-Fuqahā’ pada hari ini adalah mengetahui muara pendapat-pendapatnya, fatwa-fatwanya, dan kalamnya yang sudah disampaikan kepada khalayak.

Al-Quran al-Karim menggambarkan tanggung jawab ini dengan firman-Nya:
قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya." (Surat al-Qashash: 26)

Kemudian ungkapan Nabi Yusuf alaihissalam:
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan." (Surat Yusuf: 55)

Orang-orang awam menduga semua orang yang berbicara masalah agama adalah Ulama, Ustadz. Seolah-olah standarnya adalah mampu berbicara masalah agama, bisa berkhutbah, dan bisa bertabligh. Apalagi di zaman sekarang ini, ketika begitu banyak channel youtube, channel televise, dan media social.

Semua orang, sekarang ini, bisa berbicara masalah agama dan atas nama agama. Kadangkala, kondisi seperti ini malah menjadi aib bagi Islam sendiri. Harus dibedakan antara dai pemberi nasehat atau ustadz dengan ulama Ahli Fikih yang mampu berijtihad. Harus dibedakan antara orang yang spesialisasinya Tafsir dengan yang spesialisasinya ilmu hadits, antara yang spesialisasinya ilmu social politik Islam dengan orang yang spesialisasinya ilmu akidah atau ilmu syariah. Semua tidaklah sama dalam kemampuan. Masing-masing ada lebihnya, ada kurangnya. Catatan kita ini merujuk Artikel Mas’ud Shabry, yang berjudul ‘Alamat Faqih al-Ummah.

Peran al-Fuqahā’ atau al-Ulamā’ di Tengah Masyarakat

Peran al-Fuqahā’ atau al-Ulamā’ di Tengah Masyarakat muslim bukan sekadar menjelaskan halal dan haram. Seorang Ahli Fikih Mujtahid adalah dokter umat ini, ahli pikir peradabannya, arsitek peradabannya, dan penasehat rakyatnya menuju jalan kebaikan dan ketakwaan, serta mengamalkan yang Allah SWT ridhai.

Masalahnya, proses pembentukan al-Fuqahā’ pada hari ini, tidak mampu membentuk sosok seperti di atas, tidak mampu menjalankan peran-peran yang jauh lebih sulit dari sebelumnya. Sebab, kondisi-kondisi yang ada di sekitarnya, kondisi-kondisi peradaban dan global yang dijalani umat Islam pada hari ini, sama sekali tidak mendukung. Misalnya, kondisi lemah dan rendah, tidak mampu mengambil berbagai keputusan.

Artinya, kita membutuhkan reinstall proses pembentukan al-Fuqahā’ di tengah umat, agar bisa menyatukan antara ilmu dengan amal, hafalan dan pemahaman, al-Tarbiyah dan al-Harakah, al-Shalāh dengan al-Ishlāh, agama dan dunia, bersama-sama maupun sendirian.

Ciri-Ciri al-Fuqahā’ yang Benar

Di antara tanda-tanda al-Fuqahā’ adalah sebagai berikut:

1# Menjaga Diri (al-Wara’) dari Segala Hal yang Diharamkan oleh Allah SWT.

Sifat pertama seorang al-Fuqahā’ adalah menjauhi semua yang diharamkan oleh Allah SWT, khususnya dosa besar.

Al-Sya’bi mengatakan, “Kami bukanlah ulama dan bukan pula ahli fikih, namun kami hanyalah kaum yang apabila mendengar sebuah hadits, kami akan menyampaikan apa yang kami dengar. Orang yang Ahli Fikih adalah orang yang menjaga dirinya dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT. Dan ulama adalah orang yang takut kepada Allah SWT."

Imām Ahmad bin Hanbal dalam al-Zudh, halaman 306, mengatakan, “Orang yang Ahli Fikih adalah orang yang takut terhadap Allah SWT.”

Ahli Fikih yang benar adalah orang yang paling takut kepada Allah SWT, paling konsisten menjalankan perintah-Nya, sebagaimana dijelaskan oleh Ibn al-Jauzi dalam kitabnya Ighāsat al-Lahfān min Mashāyid al-Syaithān (1/343):
“Orang yang Ahli Fikih adalah orang yang takut kepada Allah SWT dengan menjaga segala aturan-Nya, mengagungkan segala haram-Nya, dan konsisten menjalankannya, bukan orang yang berkilah untuk membolehkan hal-hal yang diharamkan-Nya dan menggugurkan hal-hal yang diwajibkan-Nya.”

Sebagian sahabat menasehati sebagian lainnya untuk menjaga Fiqh al-Kahsyah (Rasa Takut kepada Allah SWT) sebelum Fiqh al-Qirthās (Fikih di atas Kertas), sebagaimana riwayat dari Abu al-Qamah al-Laitsi berkata, “Umar bin al-Khattāb menulis surat Abu Musa al-Asy’ari rahimahullah menjelaskan Ahli Fikih bukanlah dengan banyaknya pemaparan, luasnya penjelasan, banyaknya riwayat, namun fikih tersebut adalah rasa takut kepada Allah SWT.”

Dari Laits berkata, “Saya bertanya kepada al-Sya’bi, kemudian ia menghadapkan wajahnya kepadaku. Kami mengajukan kepadanya sejumlah pertanyaan. Kemudian ia berkata, ‘Wahai sekalian ulama, kalian menahan hadits-hadits kalian dari kami, kemudian kalian mengajukan banyak pertanyaan kepada kami? Kemudian al-Sya’bi menjawab, ‘Wahai sekalian ulama, wahai sekalian Ahli Fikih. Kami bukanlah ulama, dan bukan pula Ahli Fikih. Tetapi, kami adalah kaum yang mendengar sebuah hadits, kemudian kami memberitahukan apa yang kami dengar. Ahli Fikih adalah orang yang menjaga diri (al-Wara’) dari segala hal yang diharamkan oleh Allah SWT. Dan orang yang Alim adalah orang yang takut kepada-Nya.”

2# Tidak menyebabkan Orang Lain Putus Asa dari rahmat Allah SWT

Orang yang Ahli Fikih tidak sekadar menyingkap hukum fikih, tetapi menggengam tangan anak manusia menuju Allah SWT, kemudian membuat mereka berharap rahmat-Nya, karunia-Nya, dan keampunan-Nya; mendekatkan mereka kepada Rabb mereka, dan membuat mereka mencintai-Nya. Itulah tujuan fikih paling agung, bahkan agama.

Imam Ibn Taimiyah mengatakan dalam Kitab al-Istiqāmah (2/ 190):
“Orang yang Ahli Fikih sebenarnya, tidak membuat orang lain berputus asa dari rahmat Allah SWT, tidak membuat mereka berani bermaksiat kepada-Nya. Menganggap halal segala hal yang diharamkan-Nya adalah kekufuran, dan putus asa dari rahmat-Nya adalah kekufuran.”

Makna serupa juga dinukil oleh al-Ajiry dalam Akhlāq al-Ulamā’, halaman 72, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata, “Apakah kalian ingin saya beritahukan siapa Ahli Fikih sebenarnya? Orang yang tidak membuat orang lain berputus asa dari rahmat Allah SWT, tidak meringankan mereka untuk bermaksiat kepada-Nya, tidak membuat mereka merasa aman dari hukuman-Nya, tidak membiarkan al-Quran untuk selainnya. Tidak ada kebaikan dalam ibadah yang tidak ada kefakihannya. Tidak ada kebaikan dalam kefakihan, yang tidak ada kepahamannya. Dan tidak ada kebaikan dalam bacaan yang tidak ada tadabburnya.”

3# Mampu Menimbang-nimbang di antara yang Terburuk dari Dua hal yang Buruk

Ahli Fikih sebenarnya tidak tegak bersama teks setengah-tengah, atau tegak di atas pemahaman yang rusak terhadap cabang-cabang masalah agama tanpa melihat masalah-masalah kuliyyahnya. Tetapi, ia melakukan al-Muwāzanah (timbang-menimbang) untuk memilih mana yang terburuk di antara dua hal yang buruk, tidak melarang kemungkaran yang akan melahirkan kemungkaran yang lebih besar.

Sebagaimana dijelaskan oleh Syeikh al-Islām Ibn Taimiyah dalam al-Majmù al-Fatāwa (30/ 223):
“Bukanlah Ahli Fikih, seseorang yang sengaja melakukan larangan Nabi Muhammad Saw untuk menolak sebuah kerusakan, kemudian ia  berpaling ke kerusakan yang lebih dahsyat. Ini sama saja dengan orang yang menyewa pasir panas dengan api.”

4#Beretika

Keahlian Fikih yang membuat pikiran seorang Ahli Fikih berkutat di seputar Istikhrāj hokum syariah, mengetahui batas-batas yang jelas seputar hokum perbuatan manusia; wajib, sunnah, haram, makruh, dan boleh, bisa jadi membuat akhlaknya dan etikanya kering. Makanya, wajib bagi seorang Ahli Fikih memperhatikan akhlaknya dan etikanya, agar menjadi teladan orang lain dalam akhlak dan interaksi, sebagaimana ia juga menjadi teladan dalam ilmu dan pengetahuan.

Di antara akhlak paling urgen dalam hal ini adalah al-Tawādhu’ (Rendah Hati) kepada orang lain dan para pengkaji ilmu, sebab ilmu merupakan pintu menuju kebaikan dan ridha Allah SWT, juga bisa menjadi pintu yang membuat seseorang sombong dan angkuh kepada yang lainnya, karena merasa memiliki apa yang tidak dimiliki selainnya.

Generasi Salaf memahami makna ini. Abu Hazim menjelaskan, “Seorang ulama tidaklah disebut ulama sampai ada pada dirinya tiga hal; tidak merendahkan ulama yang keilmuannya berada di bawahnya, tidak mendengki orang yang keilmuannya di atasnya, dan tidak mengambil dunia atas ilmunya.”

Mathar al-Warāq mengatakan, “Saya bertanya kepada al-Hasan tentang suatu masalah yang difatwakannya, kemudian saya berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Said, para Ahli Fkih enggan akan dirimu.’ Ia menjawab, “Apa maksudnya wahai Mathar? Apakah engkau tidak melihat seorang Ahli Fikih pun dengan matamu? Apakah engkau tahu siapakah Ahli Fikih? Orang yang Ahli Fikih adalah orang yang wara’, zuhud, menjalankan sunnah Rasulullah Saw, tidak merendahkan orang yang lebih rendah darinya, tidak mencela orang yang di atasnya, dan tidak mengambil gandum atas ilmu yang Allah SWT ajarkan atas dirinya.”

5# Bagus Ibadahnya

Suatu hal yang lumrah di kalangan Ahli Fikih jikalau mereka sibuk dengan ilmu dibandingkan ibadah. Ini sesuatu yang salah. Sebab, bagaimana ia akan mendapatkan kemenangan jikalau tidak bisa menjalankan shalat beberapa rakaat di malam hari? Berapa banyak masalah rumit yang tidak mampu diurai dengan perangkat-perang Ijtihad sama sekali, tapi selesai dengan futuhāt Allah SWT atas diri Ahli Fikih.

Makna inilah yang diriwayatkan dari al-Hasan, suatu hati didatangi seseorang yang bertanya meminta fatwa, “Wahai Abu Said, pada Ahli Fikih lainnya memfatwakan sesuatu yang berbeda dengan pendapatmu.” Kemudian al-Hasan marah dan berkata, “Apa maksudnya? Apakah engkau melihatnya sebagai Ahli Fikih?” Laki-laki itu terdiam dan berkata, “Wahai Abu Said, siapakah Ahli Fikih itu?” Ia menjawab, “Orang yang zuhud atas dunianya, mengejar akhiratnya, mengetahui agamanya, rajin beribadah. Itulah Ahli Fikih.”

6#Menyebarkan Ilmunya

Bukanlah Ahli Fikih, seseorang yang hidup di antara buku-buku dan goresan tinta semata, agar bisa menulis dan mengkaji, tanpa berperan menyebarkan ilmunya. Karena itulah kita mendapati Nabi Saw melarang seseorang untuk menyembunyikan ilmnya, sebagaimana terdapat dalam hadits shahih Ibn Mājah, “Siapa yang menyembunyikan ilmu bermanfaat, maka ia akan datang pada hari kiamat dengan ditombak tombak neraka.”

Kemudian al-Hasan al-Bashri mengatakan, “Saya tidak melihat seorang Ahli Fikih yang berdebat dan bertikai. Ia hanya menyebarkan ilmunya. Jikalau diterima, segala puji bagi allah SWT. Jikalau tidak, segala puji bagi-Nya.”

7#Mengamalkan apa yang Diketahuinya.

Para ulama berpandangan, salah satu sifat Ulama adalah lazim menjalankan fatwanya dan menyampaikannya kepada khalayak. Mengamalkan ilmu merupakan salah satu sifat wali Allah SWT yang bertakwa kepada-Nya dan para hamba-Nya yang shaleh. Allah SWT akan memakaikannya pakaian amal atas ilmunya dan rasa takutnya kepada-Nya, sehingga ilmu itu menjadi cahaya di hati mereka dan akal mereka.

Abdullah bin al-Mubārak ditanya, “Apakah para ulama memiliki ciri yang dikenali?” Ia menjawab, “Ciri Ulama: Orang yang mengamalkan ilmu, menganggap sedikit ilmunya yang banyak, beramal, belajar ilmu yang dimiliki orang lain, menerima kebenaran dari siapapun, mengambil ilmu dimana pun didapatkannya. Inilah tanda ulama dan sifatnya.”

Ibrāhim bin al-Junaid berkata, “Ada seorang intelektual dicela karena meninggalkan majelis. Ia ditanya, ‘Kenapa engkau tidak menulis hadits?’ Ia menjawab, ‘Saya sudah mendengar dua hadis. Saya akan dihisab nanti atas keduanya.”

Bagus sekali catatan al-Imām Ahmad tentang sifat seorang Ahli Fikih yang Mujtahid, “Tidak layak seseorang melakukan fatwa sampai terkumpul di dalam dirinya lima hal:
  1. Ada niatnya. Jikalau tidak ada niatnya, maka tidak ada cahayanya, dan tidak ada cahaya dalam kalamnya.
  2. Beretika, berwibawa, dan tenang. 
  3. Kuat ilmunya dan kuat pengetahuannya. 
  4. Kapabel. Jikalau tidak, maka ia akan dikunyah orang lain. 
  5. Mengenal orang lain.

8# Takut Jikalau Ilmunya Tidak Diterima

Di antara ciri Ahli Fikih, tidak menganggap dirinya ulama. Ia takut jikalau tidak diterima ilmunya, kemudian ilmunya menjadi penyesalan atas dirinya, walaupun orang-orang menganggapnya sebagai salah seorang petinggi ulama, sebagaimana firman Allah SWT:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka." (Surat al-Mu'minun: 60)

9# Tidak Tamak Berhubungan dengan Para Pejabat dan Para Penguasa


Banyak bertemu para pejabat dan para penguasa adalah sesuatu yang menghancurkan. Ini merupakan fakta dan sejarah. Ini bukan berarti menjauhi para penguasa. Sebab, mereka juga membutuhkan para ulama. Maksudnya, tidak bermesra-mesraan dengan penguasa, tetapi cukup menjawab saja jikalau mereka bertanya suatu masalah ilmu. Ketika ada bersama mereka, tujuan ulama tersebut adalah mengingatkan mereka terhadap Allah SWT, agar  bersikap adil di antara rakyatnya, serta beramal untuk kemenangan Islam dan kaum muslimin.

Ibn al-Jauzy mengatakan dalam Kitabnya Talbís Iblís, halaman 109:
“Di antara Talbís Iblís kepada para Ahli Fikih adalah bergabungnya mereka dengan para pejabat dan para penguasa, toleran kepada mereka, tidak melakukan inkār al-Munkar padahal mampu melakukannya, bahkan mungkin memberikan keringanan hokum kepada mreka agar bisa mendapatkan tujuan duniawi, sehingga menyebabkan tiga kerusakan.
  1. Al-Amír (Penguasa). Ia akan mengatakan, ‘Jikalau saya tidak berada di atas kebenaran, maka Ahli Fikih itu akan mengingkariku. Bagaimana saya tidak berada di atas kebenaran, sedangkan ia makan hartaku?!’
  2. Kedua, Orang Awam yang akan mengatakan ‘Tidak masalah penguasa tersebut. Tidak masalah hartanya dan perbuatannya. Sebab, Fulan yang Ahli Fikih ada bersamanya.’
  3. Ketiga, merusak agamanya sendiri.”

10# Mewakafkan Dirinya dan Ilmunya untuk Umat Islam

Pada hari ini, banyak kita saksikan para ulama yang menjauhkan diri mereka dari peran sebenarnya. Pikiran mereka hanyalah mendapatkan jabatan untuk bisa mengisi kantongnya dan kantong keluarganya, atau mendapatkan harta sebanyak-banyaknya, atau ingin mendapatkan ketenaran, atau memiliki banyak murid dan followers, atau dikenal sebagai ulama, agar bisa menghadiri berbagai acara dan seminal, dan lain-lain.

Pada Hari ini, kita membutuhkan Fuqahā’ al-Ummah atau Ulamā’ al-Ummah, yang paham penyakit-penyakit umat ini dan paham juga obatnya, paham dengan krisis yang pernah dilalui umat, mampu menyingkap mutiara umat ini, menunjukkan wajah peradaban Islam, lebih banyak memikirkan agamanya dan umatnya dari dirinya sendiri, menasehat para ulama lainnya dan para penuntut ilmu, mendorong mereka untuk mengamalkan agama Allah SWT, menyebarkan ilmu bermanfaat dan amal shaleh, ikhlas untuk ilmu dan agama dengan ilmu Allah SWT yang dititipkan di dalam dadanya.

Selain itu tentunya, ia juga menjelaskan kepada umat Islam mengenai hokum Allah SWT terkait masalah-masalah baru dan kontemporer yang terjadi di tengah umat, tidak terikat kepentingan ke penguasa, tidak juga ke kalangan awam. Ia hanyalah penyampaikan risalah Allah SWT dan Rasul-Nya.

Ulama itu layaknya pohon, tidak memberikan kepada orang lain kecuali buah terbaiknya.***
Dalam kehidupan sehari-hari, Metode Menakut-nakuti atau Mengancam dan sejenisnya, menjadi sesuatu  yang lumrah dilakukan. Ini berlaku dalam semua bidang kehidupan. Jikalau ancamannya sesuatu yang tidak menghilangkan nyawa atau tidak membahayakan, mungkin tidak begitu masalah. Walaupun mungkin dari sisi Teori Pendidikan, tetap masalah. Tapi jikalau ancamannya sampai menghilangkan nyawa, atau menakutkan, jelas ini tidak boleh. Haram dilakukan.

Kita mulai contohnya dari kehidupan keluarga. Ada suami yang menakut-nakuti istrinya, “Kalau kamu tidak nurut, saya ceraikan kamu.” Atau “Kalau kamu tidak turuti perintah saya, saya tidak akan memberikan uang bulanan.” Dan banyak lagi cara lainnya.

Ada juga bapak yang menakut-nakuti anaknya, “Jikalau kamu tidak belajar dengan baik, kamu akan bapak kirim ke kampung, tinggal bersama Mbahmu.” Atau “Kalau kamu masih malas-malasan, kamu tidak akan Bapak kasih uang jajan.” Itu baru sedikit.

Di kantor juga ada. Ketika Direktur atau pimpinan menakut-nakuti bawahannya, “Jikalau pekerjaan ini tidak beres, kamu akan saya pecat.” Atau “Jikalau kamu datang telat lagi, maka gaji kamu akan saya potong.” Dan banyak lagi.

Di sekolah atau di kampus, juga berlaku. Dosen kepada Mahasiswanya. Atau Guru kepada muridnya. “Kalau kamu masih bicara dalam kelas, saya akan keluarkan kamu.” Atau “Jikalau kamu tidak bisa diam ketika belajar, nilai kamu akan saya kasih ‘D’.” Dan banyak lagi.

Hanya saja, ada jenis menakut-nakuti yang paling dahsyatnya dan paling berbahaya, yaitu menakut-nakuti dengan dalih (ingat dalih, bukan dalil) agama, sebab orang yang melakukannya merampas kesucian para pengucapnya, melakukan cap halal dan haram. Sehingga, seorang orang yang berbeda pendapat dengannya, dicap sebagai pelaku maksiat, durhaka kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, bahkan bisa jadi ia mengklaim orang yang  bertentangan dengannya sudah keluar dari ajaran Islam, atau disebut ahli bid'ah. Minimal.

Catatan kali ini akan merujuk Artikel Mas’ud Shabri, yang berjudul al-Takhwif al-Fiqhy.

Semakin rendah tingkat keilmuan seseorang, semakin kuat jugalah nepotismenya dan semakin sering juga ia menggunakan metode menakut-nakuti dengan dalih agama. Seolah-olah ia beranggapan pandangannya dan pendapatnya adalah agama dan wahyu, dan yang lainnya hanyalah pengikut hawa nafsu.

Realita dan Fakta di Masyarakat

Bukan sekali dua kali, saya beberapa kali mendengar dan juga mendengar aduan dari beberapa teman, ada sejumlah Ustadz, Khatib, Dai, Muballigh, yang menyampaikan kepada khalayak ramai dan jamaah bahwa Zakat Fitrah tidak boleh dengan Uang.

Ia menjelaskan, tidak ada riwayat tsabit dari Nabi Muhammad Saw yang menjelaskannya mengeluarkan Zakat dalam bentuk uang, tidak ada juga riwayat dari sahabat. Kemudian, ia paparkan sejumlah hadits.

Sampai disini tidak ada masalah. Sebab saya juga pernah menyampaikan kata-kata serupa di tengah masyarakat. Bedanya, saya tidak menyatakan “tidak boleh” secara mutlak. Saya cuman bilang “asalnya zakat fitrah itu dengan makanan pokok” bukan dengan uang. Kalau dengan kata “tidak boleh”, saya tidak melakukannya.

Kita balik lagi. Sampai disini, tidak masalah. Khatib atau Ustadz atau Da'i ini berpegang dengan pendapat Jumhur Ulama yang menyatakan Zakat fitrah dengan Makanan Pokok. Masalahnya muncul, ketika ucapannya itu disambung dengan merendahkan dan menghinakan pendapat Imam Abu Hanifah, dengan mengatakan:
“Jikalau ada wahyu, kemudian ada pendapat manusia, mana yang akan diikuti? Apakah akan mengikuti wahyu Allah SWT dan pendapat Rasulullah Saw atau pendapat Fulan atau Fulan, walaupun banyak ilmunya?”

Gila! Jikalau ia menguatkan pendapat Jumhur Ulama, silahkan saja. Tidak masalah. Hanya saja tidak usah pakai menakut-nakuti umat dengan pandangan fikih. Jadinya apa? Orang-orang berpikir pendapat Abu Hanifah bertentangan dengan wahyu, menyelisihi Syariah. Padahal, Abu Hanifah, siapa yang meragukan ilmunya? Beliau memang dikenal Ahli Ra’yi, tapi bukan logika kosong tanpa dalil. Antara si Dai atau Ustadz dengan Abu Hanifah, bagaimana bumi dan langit? Jauuhh…

Apakah orang ini tidak tahu, mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang adalah pendapat Mu’âwiyah radhiyallahu anhu, diamalkan di zaman para sahabat banyak yang masih hidup dan bernafas.  Ia juga merupakan pendapat Amír al-Mukminín Umar bin Abdul Aziz, kemudian juga pendapat ulama besar di kalangan Salaf al-Hasan al-Bashri, juga merupakan pendapat al-Imâm al-Bukhâri, salah satu riwayat dari al-Imâm Ahmad, dan merupakan pendapat yang dipilih oleh Syeikh al-Islâm Ibn Taimiyah ketika memang dibutuhkan. Nah, apakah mereka semuanya menyelisihi wakyu!

Tidak masalah jikalau seseorang menguatkan suatu pendapat atas pendapat lainnya, kemudian  menjelaskan dalil-dalil yang menjadi sandaranya, dengan syarat jangan membuat orang lain takut dengan pendapat ulama lainnya yang berbeda dengan pendapatnya, tidak menuduh ulama lainnya menyelisihi wahyu dan agama, tidak menuduhnya berdasarkan logika semata dan hawa nafsu. Semua itu tentu akan berpengaruh negative ke masyarakat awam.

Metode Lainnya Untuk Menakut-nakuti Atas Nama Agama

Ada juga Metode menakut-nakuti Umat dengan mencomot hokum dari sebuah ayat atau sebuah hadits, tanpa melihat al-Ta’wíl (kontekstual) yang ada padanya; apakah maknanya al-Haqíqah atau al-Majâz? Apakah ada indikasi yang memalingkannya dari makna al-Zhâhir atau tidak? Apakah ia Muthlaq atau Muqayyad? Apakah hukummya al-‘Umùm atau al-Khusùs? Apakah hubungan dengan dalil-dalil lainnya dari al-Qurân dan Sunnah? Bagaimana menggunakan perangkat al-Tarjíh jikalau al-Zhâhir mengalami kontradiksi? Kemudian juga perlu diperhatikan adab perbedaan pendapat (Adâb al-Khilâf), tidak merendahkan yang lainnya dan tidak meremehkan pendapat mereka. Tetapi, sebagaimana dikatakan oleh al-Imâm al-Syâfii, “Pendapat saya benar, namun ada kemungkinan salah. Dan pendapat selain saya salah, tetapi ada kemungkinan benarnya.”

Ketika melakukan al-Ijtihâd, hal pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan dalil-dalil dalam satu masalah, kemudian berusaha menyatukannya. Jikalau tidak bisa, maka dilakukan al-Naskh. Jikalau tidak bisa, maka dilakukan al-Tarjíh dengan perangkat-perangkatnya.

Itulah sebabnya mengapa para ulama memberikan perhatian khusus ke masalah yang dinamakan dengan al-Wahdah al-Maudhù’iyyah dalam al-Qurân al-Karím. Sebab ketika semua ayat dikumpulkan dalam satu tema, ia akan memberikan deskripsi sempurna tentang tema terkait.

Ada juga Metode untuk menakut-nakuti dengan pandangan fikih, dengan cara melakukan al-Istihzâ’ dan al-Sukhriyah (Merendahkan dan Meremehkan). Caranya, dengan menuduh orang lain atau Ustadz lain atau Ulama lain atau Dai lainnya bukanlah orang yang berilmu atau bukan ulama, bukan ahli fikih, atau sekadar cendekiawan saja yang ilmunya parsial, atau ia tidak layak dijadikan sebagai standar Islam dan ahli fikih, atau ia sesat dan pelaku bid'ah, atau ia lebih buruk dari Yahudi dan Nasharni. Dan masih banyak sebutan menakutkan lainnya, tujuannya merendahkan dan menghinakan.

Metode selanjutnya yang sering digunakan untuk menakut-nakuti umat dengan pandangan fikih adalah dengan mengatakan “jikalau kalian tidak mau mengamalkan pendapat ini, yang sesuai dengan al-Quran dan Sunnah (kata mereka), maka Allah SWT akan menyiksa kalian.”

Jelas saja, yang mereka lakukan itu memudharatkan Islam dan umat Islam. Mereka menyempitkan ruang Islam yang luas, menyulitkan umat dengan sesuatu yang sudah dimudahkan oleh Allah SWT. Dan yang paling berbahaya lagi, mereka melayani para musuh Islam di sisi lainnya. Kenapa? Sebab umat Islam menjadi rigid, kaku. Tidak berkembang. Kolot.

Metode selanjutnya untuk menakut-nakuti umat dengan pandangan fikih adalah menggosip dan mengghibah dalam majelis-majelis yang mereka adakan. Mereka mengklaim gossip seperti ini bukanlah sesuatu yang diharamkan. Sebab, ia al-Tahdzír agar tidak masuk ke jurang bid'ah dan kemungkaran, walaupun mereka benar.

Parahnya, ada juga yang lansung menyebut subjeknya. Padahal Nabi Muhammad Saw saja, jikalau melihat sebuah kemungkaran yang dilakukan oleh salah seorang sahabatnya, maka beliau hanya akan mengatakan di depan khalayak ramai, “Mâ Bâlu Aqwâm Yaf’alùn Hakadza (apa yang terpikir oleh suatu kaum yang melakukan ini?” Jikalau ini dilakukannya dalam al-Mukhâlafah al-Sharíhah (penyelisihan yang jelas dan nyata), maka bagaimana seharusnya tindakan kita dalam hal-hal yang khilâfiyah, kedua pendapat tegak di atas dalil dan al-Ijtihâd?!

Efeknya tidak sampai disitu, masalah-masalah furu’ fikih masuk ke ruang lowongan kerja. Jikalau memang instansinya khusus miliki suatu kelompok, ya tidak ada masalah. Usaha miliki Muhammadiyah, untuk kader Muhammadiyah. Usaha milik NU, untuk kader NU. Tidak ada masalah. Tapi, kalau sampai Instansi milik pemerintah, namun dikhususkan untuk suatu kelompok, itu jelas masalah. Pemerintah milik rakyat. Dan rakyat itu terdiri dari semua kelompok. Ini semakin membuat perpecahan. 

Kita harus mampu membedakan antara al-Ikhtilâf al-Mahmùd (perbedaan yang terpuji) yang tegak di atas dalil dan al-Intishâr li al-Ra’yi (memenangkan pendapat) selama kita meyakininya, dengan menggunakan al-Takhwíf al-Fiqhí (menakut-nakuti dengan fikih) berdasarkan sangkaan demi memenangkan kebenaran.***
Entah bahasa apa yang cocok untuk mengartikan al-Takyíf dalam bahasa Indonesia. Ada yang mengartikannya dengan “Adaptasi”. Ada juga yang mengartikannya dengan “Dialektika”. Ada juga yang saya dapati mengartikannya dengan “Rekayasa”.  Untuk yang terakhir, maknanya terlalu peyoratif. Saya tidak setuju. Sebab, makna al-Takyíf al-Fiqhí  itu positif.

Nanti, kita bisa menentukan artinya yang cocoknya atau mendapati makna aslinya setelah membaca Makalah karya Syeikh Ahmad al-Raysuní dengan judul “al-Masalah al-Fanniyah fí al-Nazhr al-Maqâshidí min Khilâl Madkhal al-Takyíf wa al-Tawzhífí”, disampaikan dalam seminar bertajuk “al-Funùn fi Dhau Maqâshid al-Syarí’ah”, diadakan oleh Pusat Studi Maqâshid al-Syaríah London, tanggal 4-5 November 2016. Lokasi acaranya di Kota Istanbul. 

Al-Takyíf merupakan istilah undang-undang, kemudian dipinjam dan digunakan dalam kajian fikih. Awal mula digunakannya istilah al-Takyíf al-Fiqhí di kalangan ulama kontemporer, sepadan dengan makna al-Takyíf al-Qanùni (al-Takyíf atas Undang-Undang).

Maksud al-Takyíf al-Fiqhí atau al-Takyíf al-Qanùni adalah menentukan pengertian al-Tasharruf (tindakan) atau masalah atau kejadian yang dilihat dengan pandangan fikih atau undang-undang atau peradilan, kemudian membaginya dan menempatkannya di bab yang sesuai, agar bisa diolah dan ditetapkan hukumnya sesuai dialektikanya dan susunannya.

Bagi kalangan awam yang sudah mencapai usia al-Taklîf, fatwa merupakan salah satu sarana penting untuk mengetahui hokum sebuah masalah dan sebuah kejadian. Kalau di zaman Nabi, kalau ada sebuah masalah, bisa lansung ke tanyakan kepadanya dan lansung dapat jawabannya. Setelah beliau meninggal, fatwa ulamalah jalan selanjutnya. Dengan adanya fatwa, orang awam tidak perlu susah-susah lagi untuk mengkaji dan meneliti. Selain menyulitkan, mereka juga tidak memiliki perangkat mengkaji dan meneliti.

Fatwa mulai muncul setelah kematian Nabi Muhammad Saw, dengan tetap bersandar kepada salah satu Ushùl al-Syarî’ah, yang merupakan hasil saringan dari al-Ijtihâd orang-orang terpilih umat ini yang sudah memenuhi syarat untuk melakukan al-Ijtihâd. Dan al-Ijtihâd itu sendiri, tidak akan pernag terputus sampai Hari kiamat kelak, sebagaimana dinyatakan dalam kajian Ushùl al-Fiqh.

Fikih tidak pernah lepas dari perbedaan. Itulah tabiat fikih. Sebab, pangkalnya adalah al-Ijtihâd; beda kepala beda pula hasil Ijtihadnya. Tapi, mereka berbeda bukan asal berbeda. Ada dalilnya dan Ushulnya yang menjadi tempat mereka berpijak. Hanya saja kadang-kadang, ada pendapat fikih yang terasa jauh sekali dari tabiat asli fikih, perbedaannya terlalu kentara jikalau dibandingkan pendapat-pendapat fikih kebanyakan.

Dalam kondisi seperti ini, pendapat fikihnya tidak bisa dianggap lagi wujudnnya. Ia sudah masuk ke dalam Pendapat al-Syâdz (al-Fatwa al-Syâdzah). Nah, masalah ini yang akan kita bahas, merujuk artikel yang ditulis oleh Nabîl al-Abdhulî, yang berjudul Tarîkh al-Fatâwa al-Syâdzah wa Atsaruha fi al-Fiqh al-Islâmî (Sejarah Fatwa-Fatwa Nyeleneh dan Pengaruhnya Terhadap Studi Fikih).

Pengertian Fatwa Nyeleneh (al-Fatâwâ al-Syâdzah)

Ibn Manzhùr mengatakan, “Memberikan fatwa dalam suatu masalah  untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Bentuk isimnya adalah al-Fatwâ. Dan al-Fatwâ sendiri adalah menjelaskan hokum-hukum yang sulit. Kata asalnya adalah al-Fatâ, yaitu pemuda yang berusia muda lagi kuat, seakan-akan ia menguatkan sesuatu yang sulit menjelaskannya. Seorang pemberi fatwa (al-Muftí) dikatakan berfatwa apabila ia menghasilkan hokum.” (Lihatlah Lisân al-‘Arab karya Ibn Manzhùr, Materi “Fatâ”)

Makna al-Syâdz Secara Bahasa

Ibn Fâris berkata, “Al-Syín dan al-Dzâl yang menunjukkan al-Infirâd (sendirian) dan al-Mufâraqâh (memisahkan diri).” (Lihat Maqâyis al-Lughah, Materi Syadzza)

Ibn Manzhùr mengatakan, “Syadzza – Yasudzzu – Sudzzuzan. Maknanya, jikalau menyendiri dari khalayak. Jarang itu disebut al-Syâdz.” (Lihat Kitab Lisân al-Arab, Materi Sya-Dza-Dza)

Makna al-Syâdz Menurut Istilah

Untuk mengartikan al-Syâdz, harus diperhatikan bidang penggunaannya. Sebab, Deskripsi yang dimaksud di kajian Ushùl al-Fiqh, berbeda dengan Deskripsi yang dimaksudkan oleh para Ahli Hadits (al-Muhadditsín), Ahli Nahwu (al-Nuhâh), dan Para Pakar Bacaan (al-Qurrâ’).

Bagi Ahli Hadits, al-Syâdz memiliki sejumlah makna:
  1. Seorang perawi yang terpercaya (al-Tsiqah) meriwayatkan hadits yang menyelisihi orang banyak. (Lihatlah Kitab Muqaddimah Ibn al-Shalâh, halaman 55)
  2. Hadits yang tidak memiliki kecuali satu pensanadan saja. (Lihatlah Kitab Muqaddimah Ibn al-Shalâh, halaman 56)

Bagi Para Pakar Bacaan (al-Qurrâ’), al-Syâdz adalah:
Ibn al-Jazrí mengatakan, “Semua bacaan yang sesuai dengan Bahasa Arab walaupun satu wajah, sesuai dengan salah satu sunnah Mushaf al-Utsmâniyah walaupun kemungkinan, kemudian sanadnya shahih, maka ia adalah Bacaan yang Benar (al-Qirâah al-Shahíhah). Jikalau salah satu rukunnya bermasalah, maka ia disebut al-Syâdz.” (Lihatlah Kitab al-Nasyr fí al-Qirâat al-‘Asyr, 1/ 9)
Jadi, makna al-Syâdz bagi para Pakar Bacaan (al-Qurrâ’) adalah ketika seorang al-Qâri menyelisihi salah satu dari tiga rukun di atas.

Bagi Para Pakar Bahasa (Ahli al-Lughah), al-Syâdz adalah seperti perbedaan Ibn Jinní dengan Para Pakar Bahasa lainnya dalam masalah penetapan al-Majâz di sebagian besar bahasa. (Lihatlah Kitab al-Khashâis, 2/ 449)

Sedangkan pengertian Fatwa Nyeleneh (al-Fatwâ al-Syâdz), maka harus dilihat dua hal:
  1. Melihat pendapat para Ahli Fikih (al-Fuqâhâ’) dan pandangan fikih mereka.
  2. Mengkaji kitab para para Ushùl al-Fiqh (al-Ushùliyyùn).

Kita mulai dulu dari yang kedua. Al-Âmidí mengatakan, “al-Syâdz adalah orang yang melakukan penyelisihan (al-Mukhâlif) setelah setuju (al-Muwâfaqah). (Lihat Kitab al-Ihkâm fí Ushùl al-Ahkâm, 1/ 238)

Al-Ghazâli Abù Hâmid menjelaskan, “al-Syâdz adalah ungkapan untuk sesuatu yang keluar dari Ijmâ’ setelah memasukinya.” (Lihat Kitab al-Musthashfa: 371)

Biasanya, kajian tentang al-Syâdz seringkali didapatkan dalam masalah-masalah al-Ijmâ’ di kitab-kitab Ushùl al-Fiqh. Khususnya masalah apakah al-Ijmâ’ itu hujjah terhadap perbedaan? Masalah ini adalah masalah Ushùliyah. Tujuan kita dalam hal ini adalah menjelaskan al-Fatwa al-Syâdzah dari sisi Fikih.

Pengkaji masalah ini, tidak mendapatkan pengertian konprehensif  tentang al-Fatwa al-Syâdzah di kalangan ulama terdahulu. Semuanya terpencar, berada di luar standar syariat, maqâshidnya, dan ushùlnya. Maka, Anda mendapati para Ahli Fikih menyajikan hokum al-Syâdz di berbagai bahasan dengan bentuk yang berbeda-beda. Kadangkala, mereka menyajikan masalah ini ketika membahas konksekwensi orang yang menyelisihi al-Nash al-Sharíh Ghair Mansùkh wa Lâ Muhtamal (Nash yang jelas, tidak Mansukh dan Tidak Muhtamal). Kadangkala, mereka menyajikannya terhadap orang yang menyelisihi al-Qiyâs al-Jalí yang memiliki al-‘Illat al-Manshùshah. Kadangkala juga menyajikannya terhadap orang yang pendapatnya menyelishi al-Ijmâ’ al-Sharíh.

Hampir bisa dipastikan Anda tidak akan mendapati Kitab yang khusus membahas al-Fatwâ al-Syâdzah di kalangan Ulama Terdahulu (al-Mutaqaddimín), Justru yang melakukannya adalah ulama kontemporer (al-Mu’âshirín), seperti Syeikh Yùsuf al-Qarâdhawi dalam Kitabnya al-Fatwâ al-Syâdzah. Hanya saja, ia lebih konsen membahas masalah al-Syudzùz saja layaknya para ulama lainnya yang mengkaji masalah ini.

Tujuan Artikel ini adalah membuat pengertian yang tepat untuk al-Fatwâ al-Syâdzah, bukan sekadar mengartikan masing-masing katanya.

Pengertian al-Fatwâ al-Syâdzah

Pengertian al-Fatwâ al-Syâdzah adalah pendapat fikih yang bertentangan dengan al-Ijmâ’ al-Sharíh, tidak sejalan dengan Maqâshid al-Syarí’ah, dan dimustahilkan oleh akal atau logika. Sebagian besar al-Fatwâ al-Syâdzah itu keluar dari al-Ijmâ’. Ini jelas. Ia sama sekali tidak memperhatikan realita, muaranya, tidak menimbang-nimbang (al-Muwâzanah) antara al-Maslahah dengan al-Mafsadah yang merupakan kandungan Maqâshid al-Syarí’ah, atau dimustahilkan oleh akal dan tabiat yang benar.

Ini bukan bertujuan menyatakan bahwa sebuah fatwa atau pendapat fikih dikatakan al-Syâdz, dengan sekadar menimbang dengan tiga point di atas. Tapi, ketiga unsur di atas harus ada dalam sebuah fatwa, barulah ia layak disebut sebagai al-Fatwâ al-Syâdzah. Kalau sudah terdapat semuanya dalam sebuah fatwa, maka ia bisa dipastikan sebagai al-Fatwâ al-Syâdzah, walaupun dikeluarkan oleh seorang Mujtahid yang sudah rekomendid lagi terkenal.

Kemunculan al-Fatwâ al-Syâdzah

Untuk mengetahui kemunculan al-Fatwâ al-Syâdzah, harus kembali melihat masa para sahabat radhiyallahu anhum, kemudian juga harus melihat apakah Nabi Muhammad Saw hadits bersama mereka atau tidak.

  • Pandangan-Pandangan Nyeleneh (al-Arâ’ al-Syâdzah) di Masa Kenabian

Peneliti buku –buku sejarah Nabi Muhammad Saw akan mendapati jarangnya pendapat-pendapat nyeleneh yang  berasal dari para sahabat. Sebab, mereka berada di masa kenabian. Masalah agama apa saja yang mereka sulit menemukan jawabannya, mereka bisa lansung  bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.

Di antara pendapat yang bisa dianggap al-Syâdz atau Nyeleneh adalah riwayat berikut ini, dari Abù Daùd dalam al-Sunan, dari Jâbir radhiyallahu anhu berkata, “Kami berangkat dalam suatu perjalanan, kemudian salah seorang di antara kami terkena batu, sehingga menyebabkan luka di kepalanya. Malamnya, ia bermimpi basah. Ia bertanya kepada para sahabatnya, ‘Apakah pendapat kalian, saya bisa mendapatkan al-Rukhshah (keringanan) untuk bertayammum?’ Mereka menjawab, ‘Kami tidak mendapati keringanan untukmu, engkau mampu menggunakan air.’ Kemudian ia mandi dan meninggal. Ketika kami sampai kepada Nabi Saw dan beliau diberitahu masalah tersebut, beliau berkata:
قَتَلُوهُ قَتَلَهُمُ اللَّهُ، أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا، فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ، إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ وَيَعْصِرَ – أَوْ يَعْصِبَ شك الراوي – َعلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً، ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهَا وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ
“Mereka membunuhnya. Semoga Allah SWT membunuh mereka. Kenapa mereka tidak bertanya jikalau tidak tahu. Obat kebodoan adalah bertaya. Cukup baginya bertayammum dan mengambil perban ke lukanya, kemudian mengusap kain perban tersebut dan memandikan bagian tubuhnya yang lain.” (Diriwayatkan oleh Abù Daùd dalam Kitab al-Thahârah, Bab fí al-Majrùh Yatayammam)

Tujuan menyajikan hadits ini adalah menunjukkan pendapat Nyeleneh atau al-Syâdz yang bertentangan dengan kaedah-kaedah syariat dan Maqâshidnya sudah ada semenjak zaman kenabian. Hanya saja, nasehat kenabian segera meluruskan kesalahan tersebut.

  • Pandangan-Pandangan Nyeleneh (al-Arâ’ al-Syâdzah) di Masa Sahabat

Setelah masa kenabian, mulailah tampak tanda-tanda kemunculan pendapat-pendapat al-Syâdz dari kalangan para sahabat, seperti Fatwa Ibn Abbâs yang membolehkan Ribâ al-Fadhl (Lihat Kitab Bidâyat al-Mujtahid karangan Ibn Rusydi, 3/ 148), kemudian membolehkan Nikâh al-Mut’ah (Lihatlah Kitab Bidâyat al-Mujtahid karangan Ibn Rusydi, 3/ 80). Ada pendapat yang menyatakannya sudah menarik kembali pendapatnya. Kemudian, ia juga menjadikan Nenek berada di posisi ibu dalam warisan ketika tidak ada ibu. (Lihat Kitab Bidâyat al-Mujtahid karangan Ibn Rusydi, 2/ 258)

Ada juga Umar bin al-Khattâb yang ketika wudhu memasukkan air ke dalam matanya. Ibn Abd al-Barr mengatakan, “Ini adalah salah satu perbuatannya yang tidak diikuti. Ada sejumlah hal-hal al-Syâdz lainnya yang dilakukannya, berdasarkan sikap al-Wara’. (Lihatlah Kitab al-Istidzkâr karangan Ibn Abd al-Barr, 1/ 254). Hal yang sama juga berasal dari Aisyah radhiyallahu anha yang mengingkari Ibn Arqam melakukan perbuatan al-Syâdz ketika membolehkan Ba’I al-‘înah (Lihatlah Kitab Nail al-Awthâr karangan al-Syaukanî 8/ 335), yaitu seseorang menjual sebuah barang sampai jangka waktu yang ditentukan, kemudian membelinya lagi darinya dengan harga lebih murah dari harga jualnya, sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Mu’jam Lughah al-Fuqahâ’ karya Muhammad Qal’ajî, halaman 114)

Fenomena adanya pendapat-pendapat yang al-Syâdz pada masa ini, bisa dilihat dari cerita Ibn Khaldùn dalam catatan sejarahnya tentang Khalîfah Abu Ja’far al-Manshùr ketika memberikan titah kepada al-Imâm Mâlik agar menulis al-Muwattha’.

Ia berkata:
“Wahai Abu Abdillah, tidak ada seorang pun yang di muka bumi yang lebih alim dari pada saya dan dirimu. Saya sudah sibuk dengan kekhalifahan. Hendaklah engkau menulis sebuah Kitab yang bisa dimanfaatkan khalayak ramai. Dalam buku ini, jauhilah keringanan-keringan yang dibuat oleh Ibn Abbas, kekerasan-kekerasan (al-Syadâid) dalam hokum yang ditetapkan oleh Ibn Umar, dan pendapat-pendapat al-Syâdz dari Ibn Mas’ùd. Masukkanlah ia.”

Kemudian Mâlik berkata, “Demi Allah, hari itu ia sudah mengajarkanku tentang penulisan.” (Lihatlah Tarîkh Khaldùn, 1/ 18)

Pointnya disini, peringatan khalifah kepada Mâlik untuk tidak terjerumus ke dalam pendapat yang al-Syâdz, sebab ia adalah sesuatu yang harus dijauhi, perlu ditakwilkan oleh para pemilik pendapat tersebut, tidak masuk dalam kategori al-Masyhùr.

  • Pandangan-Pandangan Nyeleneh (al-Arâ’ al-Syâdzah) di Masa Tabi'in

Di bagian ini, pengkaji kitab-kitab induk fikih bisa mendapati semakin bertambahnya pendapat-pendapat al-Syâdz. Secara ringkas, beberapa di antaranya akan dipaparkan disini. Tujuan memaparkannya bukan untuk membuatnya terkenal, tetapi sebagai contoh untuk permasahan yang sedang dibahas.

Di antara pendapat al-Syâdz di masa ini adalah fatwa al-A’masy yang menyatakan azan subuh disyariatkan sampai masuk waktu pagi, dikomentari oleh al-Hâfifz Ibn Hajar, “Jikalau tidak azan sampai masuk pagi, maka lazimnya boleh makan setelah terbitnya fajar.” (Lihatlah Kitab Fath al-Bâri karangan Ibn Hajar, 2/ 422) Begitu juga dengan pendapat al-Sya’bi yang tidak mensyaratkan al-Thahârah untuk shalat Jenazah. (Lihatlah Kitab Fath al-Bâri karangan Ibn Hajar, 4/ 380)

Ibn Rusydi mengatakan, “Diriwayatkan dari al-Zuhri, yang difardhukan  ketika berwudhu' adalah sampai ke mata kaki. (Lihatlah Kitab Bidâyat al-Mujtahid, 1/ 59), kemudian ia melanjutkan, “Namun Asyhab berpendapat al-Syâdz, wajib mengusap bagian dalam perut al-Khuff.” (Lihatlah Kitab Bidâyat al-Mujtahid, 1/ 19)

  • Pandangan-Pandangan Nyeleneh (al-Arâ’ al-Syâdzah) di Tingkat Mazhab-Mazhab Fikih

Bisa diktakan, Mazhab yang paling banyak pendapat al-Syâdz adalah Mazhab Ahli al-Zhâhir, yaitu Mazhab yang para pengikutnya berpegang dengan Zhawâhir al-Nash, tidak melampui al-Qiyâs dan semisalnya. Salah satu tokohnya yang terkenal adalah Ibn Hazm rahimahullah.

Sebagian besar pendapat Mazhab ini dalam masalah-masalah al-Furù’, bertentangan dengan Mazhab Jumhùr al-Ulâmâ. Pendapat-pendapat mereka menjadi al-Syâdz  karena mereka memakai Ushùl yang tidak pernah ditinggalkannya dan tidak boleh diabaikan.

Al-Hâfidz Ibn Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Sejumlah Ahli al-Zhâhir melakukan al-Syâdz. Mereka menyelisihi Jumhùr al-Ulâmâ dan jalan yang ditempuh kaum mukminin lainnya. Mereka menyatakan, ‘Orang yang sengaja meninggalkan shalat pada waktunya, tidak ada kewajiban baginya untuk mengerjakannya di selain waktunya, sebab ia bukanlah orang yang tidur dan tidak pula lupa. Rasulullah Saw hanya bersabda, “Siapa yang ketiduran dari shalatnya atau lupa, maka hendaklah ia mengerjakan shalatnya jikalau ia ingat.” ( HR Abu Daud, Nomor 435, Kitab al-Shalât).” (Lihatlah Kitab al-Istidzkâr, 1/ 64)

Ia lebih lanjut mengatakan, “Daùd juga berpendapat al-Syâdz dan menyelisihi Jumhur Ulama, dengan membolehkan membaca al-Quran bagi yang dalam kondisi junub.” (Lihatlah Kitab al-Istidzkâr, 3/ 462)

Al-Syaukâni mengatakan, “Ibn Hazm berpendapat al-Syâdz, dengan mengatakan, ‘Kencing laki-laki mana pun, maka cukup dipercikkan air, baik anak-anak maupun sudah dewasa. Ia menafikan al-Qayyid (ikatan lafadz) yang menjadi muara al-Muthlaq alaihi.” (Lihatlah Kitan Nail al-Awthâr, 1/ 118)

Ibn Rusyd mengatakan, “Ahli al-Zhâhir berpandangan, al-Rafats (kata-kata jelek) membatalkan puasa. Pendapat ini al-Syâdz.” (Lihatlah Kitab Bidâyat al-Mujtahid, 1/ 346)

Ada sejumlah pendapat fikih lainnya yang tersebar di sejumlah Kitab, pendapat berbagai Ahli Fikih. Beberapa di antaranya sebagai berikut:

Ibn Abd al-Barr mengatakan, “Sebagian ulama berpendapat al-Syâdz, dengan menyatakan bolehnya akikah bagi yang sudah tua.” (Lihatlah Kitab al-Istidzkâr, 9/ 315)

Ibn Rusyd mengatakan, “Ada sejumlah orang berpendapat al-Syâdz dengan mengatakan kedua telinga dibasuh bersama muka.” (Lihatlah Kitab Bidâyat al-Mujtahid, 1/ 16)

Ia juga menjelaskan, “Ada sejumlah orang yang berpendapat al-Syâdz, dengan mengatakan bolehnya menyembelih hewan kurban sampai akhir bulan Dzu al-Hijjah. Ini adalah pendapat al-Syâdz.” (Lihatlah Kitab Bidâyat al-Mujtahid, 1/ 351)

Abù Hanîfah berpendapat al-Syâdz, dengan mengatakan orang yang membunuh dengan Palu, maka tidak ada diyatnya.” (Lihatlah Kitab Bidâyat al-Mujtahid, 2/ 332)

Sebab-Sebab Munculnya Fatwa yang Nyeleneh (al-Fatwa al-Syâdzah)

Jikalau melihat sejumlah kitab Ushùl al-Fiqh, kemudian sejumlah Kitab kontemporer seputar sebab kemunculan pendapat al-Syâdz (al-Fatwa al-Syâdzah), maka akan didapati tiga sebab utamanya:
  1. Faktor Ilmiah
  2. Faktor yang Berhubungan dengan Kepribadi al-Muftî (Orang yang Memberikan Fatwa)
  3. Faktor Kondisi

1#Faktor-Faktor Ilmiah
Ada sejumlah faktor ilmiah yang membelakangnya:
  1. Bertentangan dengan al-Ijmâ’. Pangkalnya adalah ketidaktahuan mengenai apa saja yang sudah menjadi Ijma’para ulama, atau memang sengaja menyelisihinya. Imâm al-Ghazâlî mengatakan, “Disyaratkan bagi seorang Mujtahid, untuk mengetahui masalah-masalah yang sudah menjadi al-Ijmâ’, agar ia tidak berfatwa bertentangan dengan al-Ijmâ’, sebagaimana ia harus memahami Nash agar tidak menyelisihinya.” (Lihatlah Kitab al-Mustashfâ, 2/ 364)
  2. Lemahnya Kemampuan Ushùl al-Fiqh. Jikalau tidak memiliki kemampuan Ushùl al-Fiqh, seseorang akan menyelisihi al-Qiyâs al-Jalî, tidak bisa melakukan al-Jam’u antar Nash, baik Muqayyad maupun Muthlaq, dan sebagainya. 
  3. Lemahnya Kemampuan al-Maqâshid. Orang yang tidak memiliki kemampuan al-Maqâshid, ia akan terjerumus ke dalam kesalahan dan pendapat al-Syâdz. Itu bisa dipastikan. Sebab, ia sama sekali tidak mengetahui ikatan hokum dan al-Manâth, mengabaikan fakta dan realita fatwa. Al-Syâthibî mengatakan, “Selayaknya seorang Mujtahid memperhatikan al-Maâlât sebelum menjawab  pertanyaan.” (Lihatlah Kitab al-Muwâfaqât, 4/ 332)
  4. Mengingkari Salah Satu Ushul, seperti mengingkari kehujjahan al-Qiyâs. Orang yang mengingkarinya akan terjerumus ke dalam kegelapan al-Syâdz. Tidak diragui. Imâm al-Syâfii mengatakan, “al-Ijtihâd dan al-Qiyâs adalah dua nama untuk satu nama.” (Lihatlah Kitab al-Risâlah, halaman 477) Abù Ma’âli al-Juwainî mengatakan, “Al-Qiyâs adalah Manâth al-Ijtihâd, pokok pandangan, ia yang menjadi pangkal cabang-cabang fikih, Uslùb al-Syarîah, ia yang mengantarkan ke independensi rincian hokum realita. Ia yang menjadi pokok yang menyentuh semua realita.” (Lihatlah Kitab al-Burhân, 2/ 3)

2#Faktor-Faktor Pribadi
Ada beberapa hal  yang terkait dengan faktor pribadi ini, yaitu:
  1. Hobi Menyelisihi yang lainnya dan Ingin Terkenal
  2. Tergesa-gesa menyampaikan hokum suatu masalah
  3. Takjub dengan diri sendiri dan pendapat pribadi

3#Faktor-Faktor Kondisi
Ada sejumlah faktor kondisi yang melatarbelakangi lahirnya pendapat al-Syâdz (al-Fatwa al-Syâdzah), yaitu:
  1. Faktor Politik, seperti tekanan penguasa dan selainnya.
  2. Fatwa di Stasiun Televisi atau Radio atau via Telepon, sebab tidak diketahui dengan detail bagaimana kondisi orang yang meminta fatwa (a-Mustaftî) dan kebiasaan (al-Urf) di negerinya, serta kondisi yang melingkupinya. 
  3. Mengikuti pendapat public

Pendapat al-Syâdz (al-Fatwa al-Syâdzah) akan selalu ada dan akan tetap ada. Entah sampai kapan, hanya Allah SWT saja yang tahu. Apalagi di masa-masa ketika Islam dan Umat Islam begitu inferior di hadapan peradaban-peradaban bangsa lainnya. Pendapat al-Syâdz (al-Fatwa al-Syâdzah) akan terus dimunculkan oleh orang-orang yang mengaku sebagai Pakar Agama, Intelektual Muslim atau Cendekiawan Muslim.

Maka, tugas kita adalah mengajarkan anak-anak kita dan generasi Umat Islam tentang ajaran Islam yang benar dan lurus, serta menjauhkan mereka dari pendapat al-Syâdz (al-Fatwa al-Syâdzah). Diberitahu, tentu harus. Tapi juga harus dijelaskan pendapat-pendapat seperti ini tidak boleh diikuti.***
Catatan SesudahnyaNewer Posts Catatan SebelumnyaOlder Posts Home