Sunnah Qiyamullail

Sunnah Qiyamullail


Qiyamullail, atau Tahajjud secara khusus, merupakan salah satu sunnah yang selalu dijaga oleh Rasulullah Saw sepanjang hidupnya, bahkan dalam kondisi sakit dan malas sekali pun. 


Diriwayatkan oleh Abu Daud, dari Abdullah bin Abi Qais, dari Aisyah radhiyallahu anha mengatakan: 

لا تدع قيام اللَّيْلِ، فَإِنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم كان لا يدعه، وكان إذا مرض، أو كسل، صلى قاعِدا

"Jangan tinggalkan Qiyamullai. Sebab, Rasulullah Saw dahulu tidak meninggalkannya. Jikalau beliau sakit atau malas, maka beliau mengerjakannya dengan duduk." 


Para sahabat sendiri, diwanti-wanti oleh Rasulullah Saw untuk benar-benar menjaganya; tidak malas dan jenuh melakukannya. 


Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu anhuma berkata, "Rasulullah Saw berkata kepadaku: 

يا عبد الله ، لا تكن مثل فلان كان يقوم الليل، فترك قيام الليل

'Wahai Abdullah, jangan engkau seperti Fulan. Dahulu ia (menjaga) Qiyamullail, kemudian ia meninggalkan Qiyamullail." 


Waktunya terbentang antara sehabis Shalat Isya sampai masuk waktu Shalat Subuh. Waktunya lama dan panjang. Ada sekitar 8-9 Jam. Kita bisa mengisinya dengan 2 rakaat atau 4 rakaat atau 8 rakaat atau lebih banyak lagi. Bahkan ada riwayat yang menjelaskan, minimal sekali 1 rakaat witir. 


Dalam waktu malam yang begitu panjang, apakah kita mau mengabaikan sunnah yang mulia ini?!


Diriwayatkan oleh Abu Daud, dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu anhuma, Rasulullah Saw bersabda: 

من قام بعشر آياتٍ لم يُكتب من الغافلين، ومن قام بمائة آية كتب من القانتين، ومن قام بألف آيه كتب من المُقنطرين

"Siapa yang ber-Qiyam dengan sepuluh ayat, maka ia tidak akan dicatat (bagian) dari orang-orang yang lalai. Siapa yang ber-Qiyam dengan seratus ayat, maka ia akan dicatat (bagian) dari Ahli Ibadah. Dan siapa yang ber-Qiyam dengan seribu ayat, maka ia dicatat (bagian) dari orang-orang yang mendapatkan limpahan pahala (besar)." 


Semoga Allah SWT mudahkan kita menjaga Sunnah ini; Istiqamah menjalankannya.[]

Anda Bukan Siapa-Siapa!

Anda Bukan Siapa-Siapa!


ليس من الرشد .. أن تصنف الناس إلى أعداء وأصدقاء وكاتك مركز الكون ! فهناك الكثيرون .. لم يعلموا بوجودك أصلاً

TIDAK LOGIS... JIKALAU ANDA MEMBAGI MANUSIA MENJADI MUSUH DAN TEMAN, SEOLAH- OLAH ANDA PUSAT SEMESTA. ADA BANYAK ORANG YANG SAMA SEKALI TIDAK MENGENAL ANDA. SAMA SEKALI


Syeikh DR. Salman al-Audah

***


Kadangkala, kita itu sok "iyes"; seolah-olah manusia paling berpengaruh di muka bumi; paling punya kuasa; paling berpengaruh. Padahal, kita ini bukan siapa-siapa. Jikalau dibilang terkenal, masih banyak yang tidak kenal kita siapa. Jikalau dibilang pintar, banyak disana yang lebih pintar. Jikalau dibilang lebih shaleh, banyak orang lain yang lebih shaleh. 


Jadi apa kelebihan kita? 

Di atas langit masih ada langit. 


Maka, jangan berlagak pula membagi manusia berdasarkan "syahwat" kita. Kalau sejalan dengan pikiran itu, itu golongan selamat. Dan kalau berbeda pikiran dengan kita, maka golongan celaka. 


Lihat diri kita! Kita berasal dari apa?!

Manusia akan Mengantuk Setelah Makan

Manusia akan Mengantuk Setelah Makan


 كُلّ دابة تعمل بعد الشبع،  إلّا ابن آدم إذا شبع رقد

Semua yang Melata di Muka Bumi akan Bekerja Setelah Kenyang. Kecuali Manusia; Jikalau Kenyang, ia akan Tidur


Imam Sahnun al-Maliki

(Dalam Kitab Tartib al-Madarik: 1/ 360)

***

Maka, hendaklah manusia  beramal dulu, kemudian baru makan kalau sudah waktunya makan. Kalau makan didahulukan, maka biasanya yang ada setelahnya: ngantuk, terus tidur. Minimal, tidak konsentrasi. 


Kira-kira begitu ^_^


Pandangan terbuka dikritik. Ini pandangan pribadi Imam Sahnun sepertinya. 


Makanya, dahulu Imam Sufyan al-TSauri mengatakan: 

اشبع الحمار ثم كده

"Keledai jikalau kenyang, maka ia akan bekerja (keras)." 

Masak kalah sama keledai?!

Maka, beliau setelah kenyang akan shalat sampai lelah sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT dengan anggota badannya, dan lisannya.

Membebaskan Diri dari Fanatisme Mazhab & Taklid Buta

Membebaskan Diri dari Fanatisme Mazhab & Taklid Buta


تحررت من العصبية المذهبية والتقليد الأعمى لزيد أو لعمرو مِن المتقدمين أو المتأخرين.. هذا مع التوقير الكامل لأئمتنا وفقهائنا، فعدم تقليدهم ليس حطًّا من شأنهم؛ بل سيرًا على نهجهم، وتنفيذًا لوصاياهم بألا نقلدهم ولا نقلد غيرهم ونأخذ من حيث أخذوا

Aku Membebaskan Diriku dari Fanatisme Mazhab dan Taklid Buta kepada Zaid atau Amr dari Kalangan Ulama Terdahulu (al-Mutaqaddimun) atau dari Kalangan Ulama Terkini (al-Mutaakkhirin). Dan ini (tentunya) Disertai dengan Penghormatan Penuh kepada Para Imam Kita dan Para Ahli Fikih Kita. Tidak Taklid kepada Mereka, Bukan Berarti Menjatuhkan Kedudukan Mereka, Bahkan itu (berarti) Menempuh Jalan (Manhaj) Mereka, Menjalankan Wasiat Mereka agar Kita Tidak Taklid Kepada Mereka dan Tidak juga Taklid kepada Selain Mereka. Kita Mengambil darimana Mereka Mengambil (Pendapat Mereka)

Syeikh DR. Yusuf al-Qaradhawi
@alqaradawy | 12.00 AM · 22 Sep 2023

Point Pertama
Semua kita, siapa pun itu, berkewajiban untuk membebaskan dirinya dari Fanatisme Mazhab dan Taklid Buta kepada siapa pun, baik Ulama dari kalangan Salaf maupun Khalaf. Kita perlu membuka hati dan pikiran terhadap pandangan-pandangan lainnya, selama pandangan itu memang berada di ruang yang diperbolehkan berbeda dalam Syariah. 

Point Kedua
Kita tidak Fanatik dan Taklid Buta, bukan berarti tidak menghormati para Ulama, para Ahli Fikih, ya!
Berbeda tetap harus menghormati. Jasa mereka sangat besar untuk Islam. Mereka sudah teruji zaman. Kita? Entah bisa selamat dari fitnah kehidupan ini atau tidak, hanya Allah SWT saja yang Maha Tahu. 

Point Ketiga
Ketika kita memilih untuk tidak Fanatik atau Taklid Buta, pada dasarnya kita menjalankan wasiat mereka. Dalam banyak riwayat dijelaskan, mereka melarang siapa pun untuk taklid kepada mereka dan memerintahkan untuk mengikuti kebenaran, dari siapa pun datangnya. 

Point Keempat
Kita mengambil pandangan dari hulu pandangan mereka, yaitu al-Quran dan Sunnah. Namun tentunya, tetap dengan memperhatikan pandangan para Imam. Bukan dengan akal kita sendiri mengolah kedua wahyu tersebut (al-Quran dan Sunnah) []
Sunnah Doa Berkendara

Sunnah Doa Berkendara


Apapun yang kita lakukan di kehidupan sehari-hari, ada tuntunannya dalam Islam. Termasuk ketika kita akan mengendarai kenderaan. Diriwayatkan oleh al-Turmudzi, dari Ali bin Rabi'ah menceritakan: 

(Suatu hari) aku melihat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dibawakan kenderaan untuk dikenderainya. Kemudian ketika ia meletakkan kakinya di kenderaan, maka ia membaca:

بسمِ اللَّهِ

[Bismillah]

"Dengan nama Allah." 

(3x)


Ketika berada di punggungnya: 

الحمدُ للَّهِ

[Alhamdulillah]

"Segala puji bagi Allah SWT]


Kemudian membaca: 

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

"Maha Suci Zat yang menundukkan ini bagi kami, padahal (sebelumnya) kami tidak mampu mengendalikannya. Dan kami akan kembali kepada Rabb kami." 


Kemudian ia membaca: 

الحمدُ للَّهِ

[Alhamdulillah]

"Segala puji bagi Allah SWT]

(3x)


اللَّهُ أكبر

[Allahu Akbar]

"Allah Maha Besar"

(3x)


Kemudian membaca: 

سبحانكَ إنِّي قد ظلمتُ نفسِي فاغفر لي فإنَّهُ لا يغفرُ الذُّنوبَ إلَّا أنت

[Subhanaka Inni Zhalamtu Nafsi Faghfirly Fa Innahu La Yaghfirudz Dzunuba Illa Anta]

"Maha Suci Engkau, aku sungguh telah menzalimi diriku, maka ampunilah aku. Tidak ada yang mengampuni dosa-dosa, kecuali Engkau."


Kemudian ia tertawa. 

"Apa yang Anda tertawakan, wahai Amirul Mukminin." Kata seseorang bertanya. 


Jawabnya: 

"Aku melihat Rasulullah Saw melakukan apa yang aku lakukan, kemudian beliau tertawa. Aku pun bertanya, 'apa yang Anda tertawakan wahai Rasulullah?' 


Beliau menjawab: 

Rabbmu kagum ketika seseorang yang mengucapkan: 

 ربِّ اغفر لي ذنوبي إنَّهُ لا يغفرُ الذُّنوبَ غيرُك

"Rabbighfirli Dzunubi Innahu La Yaghfirudz Dzunuba Ghairuka"

"Ya Rabb, ampunilah dosa-dosaku. Tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain-Mu." 


Insya Allah, sunnah ini mudah dilakukan; mudah dihafalkan. Kita mau berkendera apapun; mobil, motor, sepeda, bus, kereta, pesawat, dan lain-lain, maka hendaklah sunnah ini menjadi amalan kita. []