Mata Hati

 Hikmah Ketiga Puluh Delapan


شُعَاعِ الْبَصِيْرَةِ يُشْهِدُكَ قُرْبَهُ مِنْكَ, وَعَيْنُ الْبَصِيْرَةِ يُشْهِدُكَ عَدَمَكَ لِوُجُوْدِهِ, وَحَقُّ الْبَصِيْرَةِ يُشْهِدُكَ وُجُوْدَهُ لَا عَدَمَكَ وَلَا وُجُوْدَكَ

“Sinar mata hati akan membuatmu mampu menyaksikan Allah Swt dekat darimu. Mata hati itu sendiri akan membuatmu mampu melihat ketiadaanmu karena keberadaan-Nya. Dan hakikat mata hati akan membuatmu mampu melihat wujud-Nya, bukan ketiadaanmu dan bukan pula wujudmu.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Sinar mata hati Anda akan membuat Anda mampu menyaksikan kedekatan Allah Swt dari diri Anda, karena Dia lebih dekat dari urat leher Anda sendiri. Sebenarnya, Anda tidak akan mampu menyaksikan-Nya kecuali dengan cahaya mata batin. Jikalau ia padam, maka Anda tidak akan pernah mampu melakukannya. Dan ketahuilah, bahwa ia akan padam oleh maksiat. Ibarat kaca, maka ia adalah karat yang menutupinya menerima asupan cahaya matahari, lampu dan sebagainya. 


Di antara tingkatan Sinar Mata Hati, ada yang namanya Ainul Bashirah (Mata Hati itu sendiri) yang membuat Anda mampu menyaksikan wujud Anda sendiri yang hilang dan lenyap, jikalau dibandingkan dengan wujud-Nya. Wujud Anda hanyalah cahaya kecil yang tidak ada artinya jikalau dibandingkan dengan cahaya-Nya. Di hadapan-Nya, wujud Anda tidak ada artinya sama sekali. Keberadaan Anda sama dengan ketiadaan Anda. 


Tingkatan yang paling atas dikenal dengan nama Hakikat Al-Bashirah (Hakikat Mata Hati). Pada waktu itu, Anda hanya bisa menyaksikan wujud-Nya yang azali dan abadi. Anda sama sekali sekali tidak melihat keberadaan Anda dan tidak juga ketiadaan Anda. Konsentrasi Anda  hanyalah untuk menyembah-Nya semata. 


Tingkatan ini adalah tingkatan paling tinggi yang diharapkan setiap muslim dalam ibadah-Nya. Ia adalah tingkatan Ihsan, yaitu Anda beribadah kepada-Nya seolah-olah Anda melihat-Nya. Dan jikalau Anda tidak melihat-Nya, maka Dia melihatmu. 


Anda akan merasakan manisnya ibadah. Bahkan Anda tidak akan mau meninggalkannya sedikitpun. Semua jiwa dan raga larut dalam rasa cinta kepada-Nya. 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.