Menjalankan Perintah Allah Swt

Menjalankan Perintah Allah Swt


Hikmah Ketujuh Puluh Enam

خَيْرُ مَا تَطْلُبُهُ مِنْهُ مَا هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ

“Sebaik-baik yang engkau minta kepada Allah Swt adalah sesuatu yang diminta-Nya darimu.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering meminta dan memohon kepada Allah Swt, baik materi, ketenangan jiwa, terlepas dari bencana dan sebagainya. Dan sebaik-baik permintaan kita kepada-Nya adalah kemampuan kita untuk menjalankan perintah-Nya.

Jikalau Anda diperintahkan-Nya untuk mengerjakan shalat, maka kerjakanlah. Jikalau Anda diperintahkan-Nya berpuasa pada bulan Ramadhan, maka kerjakanlah. Jikalau Anda diperintahkan-Nya mengeluarkan zakat, maka keluarkanlah. Intinya, apapun yang diperintahkan-Nya, maka kerjakanlah, karena itu adalah jalan pembuka yang akan menuntun Anda menuju karunia-Nya; walaupun Anda sendiri tidak mengungkapkannya. 

Semua perintah-Nya dan larangan-Nya bertujuan mengeluarkanmu dari siksaan-Nya dan memasukkanmu dalam lingkaran nikmat-Nya. Jadi, janganlah enggan untuk menjalankan setiap detail perintah-Nya, karena itu adalah gerbang menuju rahmat-Nya

Nikmat Ketaatan

Nikmat Ketaatan


Hikmah Ketujuh Puluh Lima

مَتَى رَزَقَكَ الطَّاعَةَ وَالْغِنَى بِهِ عَنْهَا فَاعْلَمْ أَنَّهُ قَدْ أَسْبَغَ عَلَيْكَ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

“Ketika Allah Swt mengaruniakan ketaatan kepadamu dan merasa cukup dengannya, berarti Dia telah mencurahkan berbagai nikmat-Nya kepadamu, baik lahir maupun batin.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Jikalau Allah Swt mengaruniakan Anda rasa ketaatan kepada-Nya, sehingga Anda melalui setiap detik kehidupan dengan unsur-unsur ibadah kepada-Nya, kemudian Anda merasa cukup dengannya, berarti Anda telah mendapatkan kenikmatan-Nya yang besar. 

Ketaatan itu bukan dalam bentuk lahir semata, seperti mengerjakan shalat, menunaikan zakat dan sebagainya, namun juga ketaatan hati, seperti kerinduan menjalankan perintah-Nya, takut melanggar perintah-Nya dan sebagainya. 

Anda harus sadar, bahwa semua kenikmatan yang Anda peroleh adalah karunia-Nya dan kebaikan-Nya kepada Anda, bukan karena ketaatan yang Anda lakukan. Jangan pernah menyangka, bahwa ketaatan Andalah yang menyebabkan semua ini. Tidak, sama sekali tidak. Ini semata-mata hanyalah karunia-Nya, dan sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan limpahan harta dan materi yang diidam-idamkan oleh para pemburu dunia. 

Ketaatan adalah nikmat terbesar di dunia ini, yang akan mengantarkan Anda menuju nikmat-Nya yang lebih besar lagi di Akhirat kelak. Salah satunya adalah surga, yang kenikmatannya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata

Mengetahui Posisi di Hadapan Allah Swt

Mengetahui Posisi di Hadapan Allah Swt


Hikmah Ketujuh Puluh Empat

إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ قَدْرَكَ عِنْدَهُ فَانْظُرْ فِيْمَاذَا يُقِيْمُكَ

“Jikalau engkau ingin mengetahui kedudukanmu di sisi Allah Swt, maka lihatlah bagaimana Dia menempatkanmu.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Jikalau Anda ingin mengatahui kedudukan Anda di hadapan Allah Swt, maka lihatlah bagaimana Dia memposisikan Anda dalam kehidupan sehari-hari di dunia ini. Jikalau Dia menempatkan Anda dalam posisi ketaatan kepada-Nya, taat menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, selalu rindu beribadah kepada-Nya, berkhalwat bersama-Nya dan bermunajat menghadapkan wajah kepada-Nya, berarti Anda telah mendapatkan kedudukan yang tinggi dan mulia di hadapan-Nya. Bersyukurlah dan tingkatkan terus keadaan Anda. 

Jikalau Anda ditempatkan-Nya dalam posisi suka bermaksiat, selalu melanggar perintah-Nya dan mengerjakan larangan-Nya, hati selalu kasar dan tidak ada rasa rindu beribadah kepada-Nya, berarti Anda mengalami posisi yang buruk di hadapan-Nya. Itu adalah kesengsaraan yang harus segera Anda sikat habis. Bertobatlah kepada-Nya, dan tinggalkanlah segala kemaksiatan yang Anda lakukan. 

Apapun posisi yang Anda jalani, jangan pernah berputus asa. Janganlah merubah penampilan Anda. Jikalau Anda terbiasa dengan pakaian-pakaian lahir keshalehan, maka pertahankanlah. Hanya saja, keimanan Anda harus terus ditingkatkan, sehingga Anda bisa ditempatkan-Nya di posisi tertinggi dan terpuji.  

Sunnah Membantu Istri

Sunnah Membantu Istri


Mengucapkan terimakasih kepada Istri yang sudah banyak berkhidmah di rumah kepada suami dan anak-anaknya, memang amat sangat diperlukan. Namun, idealnya tidak sampai disitu saja. 
Salah satu Sunnah Nabi Muhammad Saw adalah membantu istri untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. 
Dalam hadits riwayat al-Bukhari, dari al-Aswad, yang suatu hari bertanya kepada Aisyah radhiyallahu anha tentang apa yang dilakukan Nabi Muhammad Saw di rumahnya. Maka, ia menjawab: 
كان يكونُ في مِهْنَةِ أهلِهِ ، فإذا حضرتِ الصَّلاةُ خرجَ
"Ia (membantu) pekerjaan istrinya. Jikalau shalat sudah masuk (waktunya), maka beliau berangkat." 
Tidak butuh waktu lama, dan tidak juga butuh tenaga yang besar. Tapi ada ruh "kerjasama (al-Musyarakah)" di balik Sunnah ini. Ya, mungkin membantu mengangkatkan jemuran atau sesekali membantu menjemurkan, atau menemani atau menjaga anak-anak. 
Termasuk salah satunya, jikalau memang sudah sangat dibutuhkan dan ada kemampuan,  menyediakan Asisten Rumah Tangga (ART). Dan yang paling mengetahui kemaslahatan masing-masing keluarga, tentu keluarga itu sendiri.
Itulah salah satu Sunnah Nabi Muhammad Saw. Semoga kita semuanya diberikan kemudahan. Jangan lupa diniatkan, ketika melakukan ini lillahi ta'ala, mengikuti Sunnah Nabi Saw. [] 
Buah Amalan di Dunia

Buah Amalan di Dunia


 Hikmah Ketujuh Puluh Tiga

مَنْ وَجَدَ ثَمَرَةَ عَمَلِهِ عَاجِلًا فَهُوَ دَلِيْلٌ عَلَى وُجُوْدِ الْقَبُوْلِ آجِلًا

“Barangsiapa yang mendapatkan buah amalannya ketika di dunia, maka itu tanda penerimaannya di akhirat.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Jikalau Anda melihat seorang hamba mendapatkan cahaya kehidupan di dalam hatinya, ada semangat dalam kehidupan sehari-harinya dan tambahan rezki dalam hartanya, maka ketahuilah bahwa itu adalah karunia Allah Swt kepadanya di dunia atas amal kebajikan yang dilakukannya. 

Coba Anda perhatikan lingkungan sekitar Anda. Jikalau Anda mendapatkan seseorang yang shaleh, kemudian terkenal dan diberikan kemudahan harta, maka ketahuilah bahwa itu adalah tanda penerimaannya di antara penduduk langit. 

Jikalau Allah Swt mencintai seorang hamba, maka Dia akan memberitahu Jibril bahwa Dia mencintai si Fulan. Kemudian Jibril mengumumkannya kepada penduduk langit, sehingga merekapun mencintainya. Akhirnya, Dia menganugerahkan baginya penerimaan di kalangan penduduk bumi. Mereka mencintainya, memuji keshalehannya dan kebaikannya

Akhirat: Negeri Pembalasan

Akhirat: Negeri Pembalasan


Hikmah Ketujuh Puluh Dua

إِنَّمَا جَعَلَ الدَّارَ الْآخِرَةَ مَحَلًّا لِجَزَاءِ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِأَنَّ هَذِهِ الدَّارَ لَا تَسَعُ مَا يُرِيْدُ أَنْ يُعْطِيَهُمْ, وَلِأَنَّهُ أَجَلَّ أَقْدَارَهُمْ عَنْ أَنْ يُجَازِيَهَمُ فِي دَارٍ لَا بَقَاءَ لَهَا

“Allah Swt menciptakan negeri Akhirat sebagai tempat pembalasan bagi para hamba-Nya yang beriman, karena negeri ini tidak mampu menampung apa yang ingin Dia berikan kepada mereka. Karena Dia juga ingin memuliakan mereka, yaitu dengan tidak memberikan balasan kepada mereka di negeri yang tidak abadi.”


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]

 

Allah Swt akan membalas semua amalan para hamba-Nya yang mukmin dan menjalankan semua perintah-Nya di akhirat kelak. Disana, mereka akan merasakan segala jenis kenikmatan. Rumah yang luas dan indah, makanan yang enak dan minuman yang menyegarkan. Siapapun yang merasakannya, maka tidak akan pernah merasa lapar atau haus selama-lamanya. Tidak ada aturan dan ikatan yang mengikatnya lagi. Mereka bebas melakukan apapun yang dilarang selama di dunia. Surga adalah sarang kebaikan. 

Dia sengaja membalas mereka di Akhirat, karena dunia ini tidak mampu menampung nikmat-nikmat yang akan Dia berikan kepada hamba-Nya. Jikalau Anda ingin menghitung, maka Anda tidak akan mampu menghitung dan mendetail nikmat yang ingin diberikan-Nya kepada para hamba-Nya. Ibarat tabungan, maka pahala itu adalah uang yang akan Anda tunai hasilnya di Akhirat kelak. 

Dunia ini hanyalah negeri fana. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Jikalau Dia membalas mereka di dunia ini, tentu nikmat yang diberikan-Nya tidak akan abadi. Ia akan hancur bersama hancurnya seluruh materi pada Hari Kiamat kelak. 

Oleh karena itu, Dia menundanya sampai hari Akhirat kelak. Pada saat itu, yang ada hanyalah kehidupan abadi. Jikalau Anda menginginkan khamar, maka Anda akan mendapatkannya. Hanya saja antara khamar dunia dengan khamar surga, ada perbedaan rasa yang sangat luar biasa. Khamar dunia membuat Anda mabuk, sedangkan khamar surga membuat Anda ketagihan dan merasakan kenikmatan luar biasa. 

Dunia adalah ladang amal, dan Akhirat adalah ladang pembalasan.