Resep Meringankan Pedihnya Musibah

Resep Meringankan Pedihnya Musibah


Hikmah Keseratus Enam

لِيُخَفِّفْ أَلَمُ الْبَلَاءِ عَلَيْكَ عِلْمُكَ بِأَنَّهُ سُبْحَانَهُ هُوَ الْمُبْلِي لَكَ. فَالَّذِي وَاجَهَتْكَ مِنْهُ الْأَقْدَارُ هُوَ الَّذِي عَوَّدَكَ حُسْنَ الْاِخْتيَارِ

“Agar bisa meringankan derita musibah yang menimpamu, maka hendaklah engkau mengetahui bahwa Allah Swt adalah Zat yang mengujimu. Zat yang mengarahkanmu menghadapi berbagai takdir adalah Zat yang membiasakanmu untuk selalu mengambil pilihan terbaik.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Jikalau Anda sering tertimpa musibah, atau sedang menghadapi bencana, maka ada satu resep yang bisa Anda mamfaatkan untuk meringankan kepedihan Anda, yaitu mengetahui bahwa Allah Swt lah yang telah menguji Anda. Dia adalah Tuhan yang Maha Bijaksasa. 

Setiap ketetapan-Nya pasti mengandung hikmah dan maslahat bagi para hamba-Nya. tidak ada satupun ketetapannya yang bertujuan menyiksa dan merugikan mereka. 

Sebagai hamba, hak Anda hanyalah menerima ketentuan Penguasanya. Yakinlah, bahwa semua yang ditakdirkan-Nya adalah kebaikan. 

Sebenarnya, itulah yang membedakan antara seseorang yang menghambakan dirinya kepada Zat yang Maha Kuasa dengan seseorang yang menghambakan dirinya kepada makhluk yang Maha Lemah. Jikalau yang pertama selalu berbuat untuk kebaikan hamba-Nya; sedangkan yang kedua bertindak berdasarkan hawa nafsunya belaka, sehingga tidak ada hikmah di balik tindakannya. 

Ketahuilah, bahwa Zat yang menetapkanmu untuk menghadapi berbagai ketentuan-Nya adalah Zat yang menuntunmu untuk selalu mengambil pilihan terbaik. 

Bukanlah Dia sudah mengajarkan Anda untuk menghadapi segala keburukan dengan kesabaran?!

Yah, bersabarlah, maka Anda akan mendapatkan keuntungan dan balasan yang lebih baik. Siapa tahu, di balik musibah itu ada nikmat yang tidak terkira banyaknya dan tidak terbayangkan indahnya.  

Alam Nyata dan Alam Batin

Alam Nyata dan Alam Batin


Hikmah Keseratus Lima

أَنَارَ الظَّوَاهِرَ بِأَنْوَارِ أَثَارِهِ, وَأَنَارَ السَّرَائِرَ بِأَنْوَارِ أَوْصَافِهِ. لِأَجْلِ ذَلِكَ أَفَلَتْ أَنْوَارُ الظَّوَاهِرِ وَلَمْ تَأْفَلْ أَنْوَارُ الْقُلُوْبِ وَالسَّرَائِرِ. وَلِذَلِكَ قِيْلَ: إِنَّ شَمْسَ النَّهَارِ تَغْرُبُ بِلَيْلٍ, وَشَمْسُ الْقُلُوْبِ لَيْسَ تَغِيْبُ

“Allah Swt menerangi alam nyata dengan cahaya makhluk-Nya, dan menerangi alam batin dengan cahaya sifat-Nya. Oleh karena itu, cahaya alam nyata terbenam; sedangkan cahaya hati dan alam batin tidak pernah terbenam. Ada pepatah mengatakan: Matahari siang akan terbenam di malam hari, dan matahari hati tidak akan hilang.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Allah Swt menyinari alam semesta ini dengan cahaya makhluk-Nya. Apakah Anda tidak menyaksikan, bagaimana matahari, bulan, bintang-bintang dan lampu-lampu menerangi alam semesta ini. Jikalau bukan karenanya, maka Anda akan berada dalam kegelapan dan tidak tahu arah dalam perjalanan, bahkan untuk hiduppun Anda tidak akan bisa. 

Dan Dia menerangi alam batin dengan cahaya sifat-Nya yang tidak akan pernah padam selama-lamanya. Cahaya itu abadi. Jikalau ditempatkan dalam dada seorang hamba, maka ia akan mampu menyingkap hikmah dan rahasia di balik suatu peristiwa. Hanya saja, cahaya itu hanya berhak dimiliki oleh orang-orang yang diizinkan-Nya, bukan setiap hamba-Nya. 

Kedua cahaya itu memiliki perbedaan yang besar dan sangat signifikan. Jikalau cahaya makhluk, maka ia akan terbenam pada waktunya, bahkan ia akan mengalami kehancuran pada hari Kiamat kelak, karena takdir setiap makhluk adalah fana dan tidak ada yang abadi. 

Berbeda dengan cahaya hati. Ia tidak akan binasa dan hancur seiring berjalannya waktu. Cahayanya akan terus abadi, seiring abadinya Zat yang memilikinya. Oleh karena itu, beruntunglah seseorang yang mendapatkan cahaya-Nya. Ia berhasil mendapatkan cahaya di alam nyatanya dan juga berhasil menerangi alam jiwanya.  

Perilaku Seorang yang Arif

Perilaku Seorang yang Arif


Hikmah Keseratus Empat

الْعَارِفُ لَا يَزُوْلُ اضْطِرَارُهُ وَلَا يَكُوْنُ مَعَ غَيْرِ اللهِ قَرَارُهُ

“Orang yang arif tidak akan hilang rasa butuhnya kepada Allah Swt, dan tidak akan merasa tenang selain bersama-Nya.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Orang yang Arif mengetahui, bahwa Allah Swt Maha Kaya dan Maha Kuasa, dan ia hanyalah hamba fakir`yang selalu membutuhkan bantuan-Nya dan limpahan raezki-Nya. setiap kali bertambah ilmunya dan Marifatnya tentang keagungan-Nya, maka semakin ia mengetahui kehinaannya dan kerendahannya di hadirat-Nya. 

Jikalau ada sesuatu yang dibutuhkannya, maka ia segera menghampiri-Nya. mengungkapkan segala isi hatinya dan keluh kesah di dalam jiwa-Nya. pada saat itu, ia akan merasa tenang; walaupun himpitan hidup yang membebaninya belum juga terlepaskan. Ia akan menghabiskan sebahagian besar waktunya dalam bermunajat kepada-Nya. Bahkan setiap desahan nafasnya adalah untuk-Nya. 

Orang yang Arif akan selalu menjaga adabnya bersama Penciptanya. Tidak ada di dalam dirinya rasa sombong, jikalau mendapatkan karunia-Nya. Ia sadar, bahwa semua yang didapatkannya adalah titipan semata dan hak orang lain yang harus ditunaikannya.

Bagaimanapun, seorang hamba tetaplah hamba, dan ia akan selalu membutuhan bantuan Tuhannya

 

Anda Meminta, Allah Swt Memberi

Anda Meminta, Allah Swt Memberi


Hikmah Keseratus Tiga

مَتَى أَطْلَقَ لِسَانَكَ بِالطَّلَبِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ يُرِيْدُ أَنْ يُعْطِيَكَ

“Ketika Allah Swt menggerakkan lisanmu untuk meminta, maka ketahuilah bahwa Dia ingin memberimu.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Ketika Allah Swt ingin memuliakan para hamba-Nya, maka Dia akan menanamkan dalam hati mereka rasa butuh kepada-Nya, sehingga mereka meminta dan memohon sesuatu kepada-Nya. Mereka akan berdoa kepada-Nya dengan setulus hati dan segenap jiwa, agar harapannya terkabulkan dan impiannya terwujud. 

Ketika Anda berharap kepada-Nya, maka Anda tidak akan pernah merugi. Tangan Anda tidak akan pernah kosong. Apa yang Anda minta, maka Dia akan memberikannya. Hanya saja Dia memberikannya sesuai dengan keinginan-Nya. kadang-kadang sesuai dengan waktu yangg Anda inginkan. Kadang-kadang ditundanya sampai waktu yang telah ditetapkan-Nya. kadang-kadang ditundanya sampai di akhirat kelak. Dan kadang-kadang digantinya dengan yang lebih baik. 

Bagaimanapun, Dia lebih mengetahui apa yang terbaik bagi para hamba-Nya. Apa yang menurut Anda baik, belum tentu baik di dalam pandangan-Nya. ikuti sajalah skenario yang telah ditetapkan-Nya, maka Anda akan beruntung. Itu pasti!! 

Pintu Kemesraan dengan Allah Swt

Pintu Kemesraan dengan Allah Swt


Hikmah Keseratus Dua

مَتَى أَوْحَشَكَ مِنْ خَلْقِهِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ يُرِيْدُ أَنْ يَفْتَحَ لَكَ بَابَ الْأُنْسِ بِهِ

“Ketika engkau merasa bosan dengan makhluk Allah Swt, maka ketahuilah bahwa Dia ingin membukakan bagimu pintu kemesraan bersama-Nya.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Berkumpul dengan manusia memang tidak selalu menyenangkan. Kadang-kadang mereka melakukan sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan ideologi yang Anda fahami. Akhirnya, Anda berusaha untuk menjauhi mereka, atau justru mereka yang berusaha menjauhi Anda, karena Anda selalu menghalangi mereka dan tidak pernah mendukung apa yang Anda kerjakan. 

Pada saat seperti ini, kembalilah kepada Allah Swt dan janganlah pedulikan kesesatan mereka. Bisa jadi Dia sedang membukakan pintu kedekatan-Nya dengan Anda, sehingga Anda bisa berkhalwat dengan-Nya dan mendapatkan limpahan cahaya-Nya.

Menghabiskan waktu bersama-Nya, tentu jauh lebih baik daripada harus menghabiskan waktu dalam senda-gurau dan canda-tawa yang tidak ada nilai ibadahnya sama sekali

Sebaik-baik Waktu Seorang Hamba

Sebaik-baik Waktu Seorang Hamba


Hikmah Keseratus Satu

خَيْرُ أَوْقَاتِكَ وَقْتٌ تَشْهَدُ فِيْهِ وُجُوْدَ فَاقَتِكَ وَتَرُدُّ فِيْهِ إِلَى وُجُوْدِ ذِلَّتِكَ

“Sebaik-baik waktumu adalah ketika engkau menyadari kefakiranmu dan kembali mengakui kehinaanmu.”


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Iman memang selalu mengalami fluktuasi. Kadang-kadang naik, dan kadang-kadang turun. Dan sebaik-baik waktu yang dimiliki seorang hamba adalah ketika ia merasakan kefakirannya kepada Allah Swt dan merasa hina di hadapan-Nya. 

Ketika Anda mendapatkan rezki yang banyak dan kebahagiaan yang besar, biasanya Anda lupa kepada-Nya, karena larut dalam buaian harta. 

Sebenarnya, ketika Anda lalai mengingat-Nya, maka itu adalah waktu terburuk yang pernah Anda miliki. Janganlah Anda terlalu bergembira ketika mendapatkan suatu kenikmatan, dan jangan pula terlalu bersedih ketika tertimpa suatu bencana. Biasa-biasa sajalah, tidak usah berlebih-lebihan. 

Allah Swt menguji Anda bukanlah untuk menghinakan Anda atau menjatuhkan Anda ke dalam jurang kehancuran. Dia melakukannya untuk menguji orosinalitas keimanan Anda; Apakah iman Anda itu kuat atau tidak?! Apakah Anda mudah dihancurkan atau tidak?!

Dia tidak akan menguji Anda, tanpa ada tujuan, hikmah dan rahasia di baliknya. Cukuplah Anda meyakininya, maka Anda tidak akan bersedih, bahkan itu moment yang tepat untuk intropeksi diri. Anda hanyalah hamba yang fakir dan hina di hadapan-Nya. Dialah Zat yang Maha Kuasa dan mampu melakukan apapun yang diinginkan-Nya.