Ketentuan Azali Sangatlah Mulia

Ketentuan Azali Sangatlah Mulia


Hikmah Keseratus Tujuh Puluh

Ketentuan Azali Sangatlah Mulia

جَلَّ حُكْمُ الْأَزَلِ أَنْ يَنْضَافَ إِلَى الْعِلَلِ

“Ketentuan azali Allah Swt sangatlah mulia jikalau disandarkan pada berbagai sebab.” 


Ibn Athaillah al-Sakandari 

Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari 


Ketentuan Allah Swt yang termaktub di Lauh Mahfudz semenjak zaman azali, apakah Dia akan memberikan rezki-Nya kepada Anda atau tidak, tidak layak disandingkan dengan rangkaian sebab-musabbab yang baru muncul kemudian hari. 

Dia adalah Zat yang Maha Mulia dan Maha Pemberi. Jikalau Dia ingin memberi, maka Dia tidak membutuhkan doa Anda. Cukuplah dengan mengatakan “Terjadi”, maka akan terjadilah apa yang diinginkan-Nya. 

Sekali lagi, doa yang Anda panjatkan adalah salah satu bentuk Ubudiyyah Anda kepada-Nya, yaitu Ubudiyyah seorang hamba kepada Tuhannya. Ia bukanlah rangkaian sebab, karena segala sesuatu di dunia ini sudah ada dalam ketetapan-Nya. 

Jangan Rendahkan Fakir

Jangan Rendahkan Fakir


Ada Syair Zaman Jahiliyah berucap


Laa Tahin al-Faqir

Jangan menghina (merendahkan) orang fakir


'Allaka Tarka' Yauman

Bisa jadi suatu hari Anda merendahkan diri


Wa al-Dahr Yarfa'ahu

Dan Zaman mengangkatnya (meninggikanya)


Jikalau diperhatikan kata-kata yang ada dalam syair, secara akidah mungkin ada beberapa kata yang bermasalah. Maklum saja, syair jahiliyyah. Namun maknanya, benar.

Jangan pernah kita merendahkan siapa pun. Sebab, Allah SWT mempergilirkan hari. Tilka al-Ayyam-u Nudawiluha Bain al-Nas; Itulah hari-hari yang kami pergilirkan di antara manusia. 

Bisa jadi sekarang kita di atas,  namun besok di bawah. Begitu sebaliknya. Tidak ada yang abadi di satu keadaan. 

Dalam riwayat dijelaskan: “Cukup bagi seseorang menjadi keburukan baginya ketika ia merendahkan muslim lainnya.”


IG: @dapakihati

Sunnah Berdoa Menjelang Berbuka

Sunnah Berdoa Menjelang Berbuka


Salah satu keutamaan yang diberikan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang berpuasa adalah doa yang makbul ketika akan berbuka puasa. Dan ini tidak hanya khusus puasa wajib, baik Ramadhan dan selainnya, namun juga puasa sunnah. 
Al-Baihaqi meriwayatkan, dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu anhu, ia mendengar Rasulullah Saw bersabda: 
للصائم عند إفطاره دعوة مستجابة
"Bagi orang yang berpuasa, ketika berbukanya, ada doa Mustajab." 
Dalam riwayat Ibn Majah dijelaskan, Abdullah bin 'Amr menjalankan sunnah ini dengan berdoa: 
اللّهُـمَّ إِنَّـي أَسْـأَلُـكَ بِرَحْمَـتِكَ الّتي وَسِـعَت كُلَّ شيء، أَنْ تَغْـفِرَ لي
"Ya Allah, aku memohon kepada-MU dengan rahmat-Mu yang melingkupi segala sesuatu, agar Engkau mengampunkanku." 
Sunnah ini juga diriwayatkan oleh riwayat Abdullah bin Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhuma, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syu'ab al-IMan, mengatakan: 
"Bagi setiap mukmin ada doa yang Mustajab ketika berbuka; bisa jadi Allah SWT segerakan di dunia atau disimpankan baginya di akhirat." 
Dalam doa yang dibaca oleh Abdullah bin Umar menjelang berbukanya: 
يا واسع المغفرة اغفر لي
"Wahai Zat yang Maha Luas ampunan-Nya, ampunilah diriku." 
Semoga kita diberikan kemudahan oleh Allah SWT untuk mengamalkannya. []
Antara Doa dan Ketentuan Allah Swt

Antara Doa dan Ketentuan Allah Swt


 Hikmah Keseratus Enam Puluh Sembilan

Antara Doa dan Ketentuan Allah Swt

كَيْفَ يَكُوْنُ طَلَبُكَ اللَّاحِقُ سَبَبًا فِي عَطَائِهِ السَّابِقِ

“Bagaimana mungkin permintaanmu yang datang kemudian menjadi sebab pemberian Allah Swt yang sudah ditentukan sebelumnya.”


Ibn Athaillah al-Sakandari

Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari


 Jikalau Anda mendapatkan sesuatu pada hari ini, apakah itu karena permintaan Anda kepada Allah Swt dalam setiap doa Anda?

Tidak, sama sekali tidak. Bagaimana mungkin permintaan yang baru saja Anda panjatkan kepada-Nya bisa mendatangkan sesuatu yang sudah ditakdirkan-Nya bagi Anda. Mustahil. Apa yang Anda dapatkan hari ini, di masa lalu dan di masa depan, semua itu sudah ditetapkan-Nya di Lauh Mahfuzd. Tugas adalah berdoa kepada-Nya sebagai bentuk Ubudiyyah Anda, bukan jalan untuk memperoleh apa yang Anda inginkan. 

Inilah salah satu kesalahan yang banyak terjadi di kalangan masyarakat awam. Mereka memandang doa itu bukanlah bentuk Ubudiyyahnya kepada sang Khalik, tetapi menganggapnya sebagai sarana yang menyebabkannya mendapatkan apa yang dipintanya. 

Kenapa Anda Meminta Kepada Allah Swt?

Kenapa Anda Meminta Kepada Allah Swt?


Hikmah Keseratus Enam Puluh Delapan

Kenapa Anda Meminta Kepada Allah Swt?

لَا يَكُنْ طَلَبُكَ تَسَبُّبًا إِلَى الْعَطَاءِ مِنْهُ فَيَقِلَّ فَهْمُكَ عَنْهُ, وَلْيَكُنْ طَلَبُكَ لِإِظْهَارِ الْعُبُوْدِيَّةِ وَقِيَامًا بِحُقُوْقِ الرُّبُوْبِيَّةِ

“Jangan sampai permintaanmu engkau jadikan sebab pemberian, sehingga pemahamanmu minim tentang Allah Swt. Jadikanlah permintaanmu untuk menampakkan Ubudiyyah dan menjalankan hak-hak Rububiyyah.”


Ibn Athaillah al-Sakandari

Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari


Ketika Anda meminta kepada Allah Swt, kemudian Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan, maka janganlah menyangka bahwa Anda mendapatkannya karena doa Anda kepada-Nya. Seolah-olah, Dia tidak akan memberikan Anda, kecuali jikalau Anda meminta kepada-Nya. Ini adalah pemikiran bodoh dan tolol yang tidak layak dimiliki seorang hamba. 

Jikalaupun Anda tidak meminta kepada-Nya, maka Dia akan tetapkan memberikannya kepada Anda, karena Dia adalah Zat yang Maha Mulia dan Maha Dermawan. Tidak ada yang sulit baginya. Dengan kata-kata “kun”, maka segala keinginan-Nya dan perintah-Nya akan terwujud. 

Anda memang dituntut berdoa kepada-Nya, namun itu bertujuan untuk menunjukkan kefakiran Anda dan kehinaan Anda di hadapan-Nya. Anda adalah seorang hamba yang harus menjalankan hak Ubudiyyah kepada-Nya, dan juga harus menjalankan hak-hak Rububiyyah. 

Renungkanlah itu baik-baik, karena benang merah di antara kedua jenis sikap berdoa tadi sangat tipis sekali. 

Cahaya Allah Swt yang Agung

Cahaya Allah Swt yang Agung


Hikmah Keseratus Enam Puluh Tujuh 

Cahaya Allah Swt yang Agung 

إِنَّمَا احْتَجَبَ لِشِدَّةِ ظُهُوْرِهِ وَخَفِيَ عَنِ الْأَبْصَارِ لِعِظَمِ نُوْرِهِ

“Allah Swt terhijab karena sangat jelas sekali, dan tersembunyi dari pandangan makhluk karena keagungan cahaya-Nya.” 


Ibn Athaillah al-Sakandari

(Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari)


Allah Swt terhijab, karena lantaran sangat jelas sekali. Semua yang ada di dunia ini menunjukkan keagungan-Nya dan ke-Maha Hebatannya. Jikalau eksistensi-Nya, maka tanpa alam semesta inipun, tidak ada yang meraguinya. Terlalu kecil dan hina alam ini untuk menunjukkan eskistensi-Nya yang Maha Agung. 

Pandangan manusia yang lemah, tidak mampu melihat-Nya, karena cahaya-Nya yang luar biasa. Jikalau Anda sekarang berada di siang hari dan matahari sedang terik, maka cobalah Anda melihat matahari dengan pandangan lansung. Apakah Anda mampu melakukannya? Tidak, sama sekali tidak. Dan cahaya-Nya lebih hebat lagi dari cahaya makhluk-Nya itu.