Sunnah Makan Bersama
.jpg)
.jpg)
.jpg)
Kadangkala, kita galau menghadapi sebuah urusan; bingung tentang keputusan yang akan diambil. Ada sisi baiknya. Namun, ada juga sisi buruknya.
Dalam kondisi seperti ini, Rasulullah Saw mengajarkan kita suatu sunnah, dikenal dengan Sunnah Istikharah; meminta petunjuk Rabb sekalian alam. Dengan petunjuk-Nya, jalan yang akan kita tempuh semakin jelas dan nyata.
Diriwayatkan oleh al-Bukhari, dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhuma, Rasulullah Saw mengajarkan kami Istikharah dalam segala urusan, sebagaimana beliau mengajarkan kami surat al-Quran:
"Jikalau salah seorang di antara kalian berkeinginan untuk suatu urusan, maka hendaklah ia shalat dua rakaat bukan wajib, kemudian hendaklah ia membaca:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ ارْضِنِي بِهِ
"Ya Allah, saya meminta pilihan-Mu dengan ilmu-Mu; saya memohon kuasa-Mu; saya memohon karunia-Mu yang agung. Engkau mampu, dan saya tidak mampu. Engkau tahu, dan saya tidak tahu. Dan Engkau Maha Mengetahui yang Ghaib. Ya Allah, jikalau Engkau tahu bahwa urusan ini baik bagiku untuk agamaku, kehidupanku, dan ujung urusanku, maka takdirkanlah ia bagiku, mudahkanlah dan berkahilah. Dan jikalau Engkau tahu bahwa urusan ini buruk bagi agamaku, hidupku, dan ujung urusanku, maka jauhkanlah ia dariku, dan jauhkanlah aku darinya. Takdirkanlah kebaikan bagiku dimana pun adanya, kemudian ridhailah aku dengannya."
Jabir mengatakan, "Disebutkan hajatnya."
Istikharah itu berlaku untuk segala hal. Bukan untuk masalah-masalah besar saja. Tidak selalu harus disertai mimpi setelahnya untuk menjelaskan langkah yang sebaiknya diambil. Tetapi, ketenangan hati dan kenyaman untuk suatu pilihan, kemudian kemudahan yang Allah SWT berikan, itu merupakan petunjuk. Jikalau terasa sulit, maka tinggalkan urusan tersebut.
Doa Istikharah, menurut para Ulama, bisa dibaca sebelum salam atau setelah salam. Dan bisa juga dibaca tanpa shalat, utamanya bagi perempuan yang sedang haidh misalnya atau tidak ada kesempatan untuk mengerjakan shalat karena suatu uzur. []
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
Salah satu sunnah Nabi Muhammad Saw, tidaklah beliau menyaksikan seseorang mengalami masalah atau krisis, kecuali beliau berada di sampingnya, memberikan bantuan sesuai dengan kemampuannya, baik moril maupun materil.
Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu, Rasulullah Saw bersabda:
المسلمُ أخو المسلمِ لا يظلِمُه ولا يُسلِمُه مَن كان في حاجةِ أخيه كان اللهُ في حاجتِه
"Seorang Muslim, saudara bagi Muslim lainnya; tidak menzhaliminya dan tidak membiarkannya. Siapa yang membantu hajat (kebutuhan) saudaranya, maka Allah SWT akan membantu hajatnya."
Sunnahnya tidak akan pernah habisnya setiap hari.
Banyak yang membutuhkan bantuan. Saudara, teman, sahabat, tetangga, dan selainnya. Lakukan sesuai kemampuan.
Bantuan itu bisa bermacam-macam. Bisa dengan harta, atau materi tertentu. Bisa juga dengan sikap atau perbuatan. Bisa juga dengan ide atau pandangan.
Intinya, Allah SWT akan selalu memberikan pertolongan-Nya kepada kita, kapan pun kita butuh, selama kita juga peduli dengan hajat orang lain. []
.png)
Apa yang Perlu Diingatkan dan Ditegur?
إِنَّمَا يُذَكَّرُ مَنْ يَجُوْزُ عَلَيْهِ الْإِغْفَالُ وَإِنَّمَا يُنَبَّهُ مَنْ يُمْكِنُ مِنْهُ الْإِهْمَالُ
“Yang diingatkan itu adalah yang bisa lalai, dan yang ditegur itu adalah yang teledor.”
Ibn Athaillah al-Sakandari
Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari
Orang yang layak diingatkan tentang permintaan adalah orang yang lalai. Sifat ini adalah tabiat asli manusia, yang selalu lupa dan lalai. Jikalau ia memegang hak orang lain, kemudian tidak diingatkan, maka bisa jadi ia akan lupa dan memakannya, atau memberikannya kepada keluarganya; padahal barang itu bukan haknya. Sifat seperti ini tidak berlaku bagi Allah Swt. Dia bersih dari segala sifat kekurangan.
Dan apa hak Anda yang berada di tangan-Nya, sehingga Anda mengingatkan-Nya. Bukankah segala sesuatu adalah milik-Nya; termasuk apa yang Anda pegang dan miliki selama ini. Kepemilikan Anda hanyalah bersifat semu, sedangkan pemilik hakikinya adalah diri-Nya. Jadi, Dia tidak perlu diingatkan, karena Dia tidak pernah lalai sekejappun.
Dan orang yang layak ditegur adalah orang yang lalai memberikan hak orang lain. Jikalau Anda menitipkan sesuatu kepada orang lain, kemudia ia lupa mengembalikannya, maka silahkanlah Anda menegurnya, karena itu adalah hak Anda. Sifat ini juga tidak berlaku bagi Allah Swt. Dia akan memberkan hak setiap hamba-Nya, tanpa perlu ditegur.
Intinya, jikalau Anda berdoa hanya sekedar untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan, maka ini adalah sebuah kesalahan besar. Seolah-olah Anda menuduh-Nya tidak akan memberikan bagian Anda. Jikalau Anda berdoa, maka yakinilah dan kerjakanlah sebagai bentuk Ubudiyyah Anda kepada-Nya.