Apa yang Perlu Diingatkan dan Ditegur?

 
Hikmah Keseratus Tujuh Puluh Lima

Apa yang Perlu Diingatkan dan Ditegur?

إِنَّمَا يُذَكَّرُ مَنْ يَجُوْزُ عَلَيْهِ الْإِغْفَالُ وَإِنَّمَا يُنَبَّهُ مَنْ يُمْكِنُ مِنْهُ الْإِهْمَالُ

“Yang diingatkan itu adalah yang bisa lalai, dan yang ditegur itu adalah yang teledor.” 


Ibn Athaillah al-Sakandari

Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari


Orang yang layak diingatkan tentang permintaan adalah orang yang lalai. Sifat ini adalah tabiat asli manusia, yang selalu lupa dan lalai. Jikalau ia memegang hak orang lain, kemudian tidak diingatkan, maka bisa jadi ia akan lupa dan memakannya, atau memberikannya kepada keluarganya; padahal barang itu bukan haknya. Sifat seperti ini tidak berlaku bagi Allah Swt. Dia bersih dari segala sifat kekurangan. 

Dan apa hak Anda yang berada di tangan-Nya, sehingga Anda mengingatkan-Nya. Bukankah segala sesuatu adalah milik-Nya; termasuk apa yang Anda pegang dan miliki selama ini. Kepemilikan Anda hanyalah bersifat semu, sedangkan pemilik hakikinya adalah diri-Nya. Jadi, Dia tidak perlu diingatkan, karena Dia tidak pernah lalai sekejappun. 

Dan orang yang layak ditegur adalah orang yang lalai memberikan hak orang lain. Jikalau Anda menitipkan sesuatu kepada orang lain, kemudia ia lupa mengembalikannya, maka silahkanlah Anda menegurnya, karena itu adalah hak Anda. Sifat ini juga tidak berlaku bagi Allah Swt. Dia akan memberkan hak setiap hamba-Nya, tanpa perlu ditegur. 

Intinya, jikalau Anda berdoa hanya sekedar untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan, maka ini adalah sebuah kesalahan besar. Seolah-olah Anda menuduh-Nya tidak akan memberikan bagian Anda. Jikalau Anda berdoa, maka yakinilah dan kerjakanlah sebagai bentuk Ubudiyyah Anda kepada-Nya. 

Posting Komentar

0 Komentar