Cahaya Allah

Hikmah Kelima Belas


الْكَوْنُ كُلُّهُ ظُلْمَةٌ وَإِنَّمَا أَنَارَهُ ظُهُوْرُ الْحَقِّ فِيْهِ. فَمَنْ رَأَى الْكَوْنَ وَلَمْ يَشْهَدْهُ فِيْهِ أَوْ عِنْدَهُ أَوْ قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ فَقَدْ أَعْوَزَهُ وُجُوْدُ الْأَنْوَارِ وَحُجِبَتْ عَنْهُ شُمُوْسُ الْمَعَارِفِ بِسُحُبِ الْآثَارِ

“Seluruh alam semesta adalah kegelapan, dan yang menyinarinya adalah keberadaan Allah Swt di dalamnya. Barangsiapa yang melihat alam, kemudian tidak melihat-Nya di dalamnya, atau di sisinya, atau sebelumnya atau sesudahnya, berarti ia telah disilaukan oleh sinar dan terhijab dari matahari Marifat oleh awan-awan alam.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]

***


Seorang hamba yang hatinya bergantung dengan alam semesta, yaitu selain Allah Swt, baik harta, jabatan, keluarga, istri dan sebagainya, maka ia akan terhijab dari cahaya-Nya. Hatinya akan gelap dan tidak mampu melihat hakikat yang berada di balik suatu rahasia. Jikalau terus dibiarkan dan tidak dibersihkan, maka cahaya hatinya lama-kelamaan akan padam, sehingga ia tidak bisa lagi merasakan efek dosa yang menimpanya. 


Dan hanya satu Zat yang bisa meneranginya, yaitu keberadaan Allah Swt. Akan tetapi ini bukanlah bermakna Wihdatul Wujud/ Hulul, yaitu menyatunya seorang hamba dengan Allah Swt. Ini adalah faham melenceng yang sama sekali tidak dilegalisir dalam Aqidah Ahli As-Sunnah Wal Jama’ah. Maksudnya, ketika hati itu sudah dihiasi dengan sifat-sifatNya yang layak dimiliki, seperti penyayang, pengasih, suka membantu dan sebagainya, maka ia akan mendapatkan cahaya-Nya. Ia akan mampu melihat kebenaran. Hati kecilnya selalu akan menujukkan kebenaran. 


Dan jikalau seorang hamba melihat alam semesta, kemudian tidak melihat-Nya, maka itu adalah tanda kebutaan hatinya dan tertutupnya pandangan batinnya. Bukanlah Dia berfirman dalam Al-Quran Al-Karim: 

“Dan Dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi.” [Az-Zukhruf: 84]


Begitu juga halnya jikalau ia tidak bisa melihat-Nya di sisinya, padahal Dia lebih dekat dari urat lehernya. Sebagaimana firman-Nya: 

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” [Qaaf: 16]


Atau ia juga tidak bisa memahami, bahwa Dia adalah Zat yang Maha Awwal dan Maha Akhir. Tidak ada seorangpun atau apapun sebelum-Nya, dan tidak ada seorangpun atau apapun sesudah-Nya. Ingatlah firman-Nya dalam Al-Quran Al-Karim: 

“Dialah yang Awal dan yang Akhir.” [Al-Hadid: 3]


Melihat-Nya di alam semesta ini bukan berarti Anda melihat-Nya dengan mata telanjang. Maksudnya, Anda mampu melihat kebesaran-Nya melalui ciptaan-Nya. Ketika Anda melihat pemandangan yang indah, maka Anda takjub dan semakin mengetahui ke-Maha Besaran-Nya. Jikalau Anda melihat hujan lebat yang diiringi angin topan, maka Anda kagum dengan ke-Maha Dahsyatan-Nya. 


Sedangkan orang yang tertutup cahaya hatinya, maka ia tidak akan mampu memahami semua ini. Jikalau ia melihat pemandangan yang indah, maka ia hanya bisa menikmatinya saja tanpa merenungkan siapa Penciptanya. Jikalau ia mencicipi makanan yang enak, maka ia hanya bisa merasakan saja tanpa berusaha memikirkan siapa yang telah memberikan kenikmatan itu kepadanya. 


Di alam semesta ini terbentang ayat-ayat Allah Swt. Oleh karena itu, para Ulama membagi ayat-Nya menjadi dua bagian: Ayat Quraniyyah dan Ayat Kauniyyah. Ayat Quraniyyah adalah ayat-ayat yang terdapat dalam Mushaf. Sedangkan ayat-ayat Kauniyah adalah ayat-ayat yang terdapat di alam semesta ini. Dan itu tidak akan mampu dilihat dan diketahui oleh orang-orang yang hatinya terhijab, [] 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.