Syukur Nikmat

Syukur Nikmat


Hikmah Keenam Puluh Lima

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النِّعَمَ فَقَدْ تَعَرَّضَ لِزَالِهَا, وَمَنْ شَكَرَهَا فَقَدْ قَيَّدَهَا بِعِقَالِهَا

“Barangsiapa yang tidak mensyukuri nikmat, maka dia menghadapkan dirinya untuk kehilangan nikmat itu. Dan barangsiapa yang mensyukurinya, maka dia telah mengikatnya dengan erat.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Jikalau Anda tidak mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah Swt, baik harta, kesehatan, anak-anak dan sebagainya, maka sebenarnya Anda sedang menghadapkan diri untuk menghilangkannya. Janganlah Anda membalas kenikmatan yang diberikan-Nya dengan maksiat yang Anda lakukan. 

Syukurilah semua nikmat yang diberikan-Nya kepada Anda. Selain mendapatkan tambahan nikmat, Anda juga akan mendapatkan pahala dan kenikmatan ruhiyyah yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun di dunia ini. Jikalau Anda bersyukur, maka sebenarnya Anda mengikat kuat nikmat yang diberikan-Nya. 

Semakin Anda bersyukur, maka akan semakin banyak nikmat yang akan diberikan-Nya kepada Anda. Syukur berbuah nikmat, dan ingkar berbuah sengsara.  

Kelembutan & Ujian

Kelembutan & Ujian


Hikmah Keenam Puluh Empat

مَنْ لَمْ يُقْبِلْ عَلَى اللهِ بِمُلَاطَفَاتِ الْإحْسَانِ, قُيِّدَ إِلَيْهِ بِسَلاَسِلِ الْاِمْتِحَانِ

“Barangsiapa yang tidak menghadap Allah Swt dengan pemberian yang halus, maka akan diikatkan padanya rantai-rantai ujian.”


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Jikalau Anda mengenal-Nya, maka Anda akan menghadap-Nya dan beribadah kepada-Nya dengan Ihsan dan penuh kelembutan. Ini adalah sifat yang sangat disukai-Nya dan sangat diharapkan-Nya dari para hamba-Nya. Bukankah Dia telah memberikan Anda limpahan nikmat-Nya dan rezki-Nya? Anda bisa bernafas, karena nikmat-Nya. Anda bisa hiduppun, karena karunia-Nya. Oleh karena itu, janganlah menghadap-Nya kecuali dengan Ihsan. 

Jikalau Anda masih saja tidak menghadap-Nya dengan Ihsan, maka Dia akan menguji Anda dengan berbagai ujian dan musibah, sehingga Anda akan mengadu kepada-Nya dengan penuh kehinaan dan kerendahan. Apakah Anda tidak perhatikan, bagaimana orang yang tertimpa musibah atau bencana kematian menghadap kepada-Nya? Seolah-olah dia beribadah dan mengetahui detik kematiannya.

Hendaklah Ihsan itu dilakukan dalam  setiap ibadah yang Anda lakukan. Janganlah menunggu turunnya musibah terlebih dahulu. Baik senang maupun menderita, Ihsan itu harus terus ada dalam ibadah.

Merdeka dan Budak

Merdeka dan Budak


Hikmah Keenam Puluh Tiga

أَنْتَ حُرٌّ مِمَّا أَنْتَ عَنْهُ آيِسٌ وَعَبْدٌ لِمَ أَنْتَ لَهُ طَامِعٌ

“Engkau merdeka dari sesuatu yang engkau putus asakan, dan engkau budak dari sesuatu yang engkau inginkan.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Ketika Anda tidak menginginkan sesuatu, maka Anda merdeka. Anda tidak dikendalikan rasa tamak untuk mendapatkannya. Janganlah loba dan tamak untuk mendapatkan apa yang dimiliki orang lain. Allah Swt telah memberikan rezki-Nya kepada para hamba-Nya sesuai kebutuhannya. Jikalau kebutuhannya sedikit, maka Dia akan memberikannya sedikit. Jikalau kebutuhannya banyak, maka Dia akan memberikannya banyak. Rezki itu sudah dijamin, dan kehidupan Anda tidak akan pernah disia-siakan. Janganlah tamak dengan materi, akan tetapi tamaklah dengan ridho-Nya. 

Sedangkan jikalau Anda tamak dengan harta orang lain, atau berkeinginan mendapatkannya, maka pada hakikatnya Anda adalah budak barang itu. Anda dipaksanya bekerja siang dan malam untuk mendapatkannya. Bahkan kadang-kadang Anda rela meninggalkan kewajiban beribadah kepada-Nya demi memenuhi nafsu duniawi Anda. Ini benar-benar sebuah tindakan yang jauh dari tuntunan-Nya.  

Benih Ketamakan

Benih Ketamakan


Hikmah Keenam Puluh Dua

مَا بَسَقَتْ أَغْصَانُ ذُلٍّ إِلَّا عَلَى بِذْرِ طَمَعٍ

“Dahan-dahan kehinaan tidak akan tumbuh dengan ditanam dengan benih ketamakan.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Anda tidak akan mendapatkan kehinaan, kecuali ketika Anda tamak dengan sesuatu selain Allah Swt, baik harta, kedudukan, jabatan dan sebagainya. Itu hanyalah godaan duniawi semata yang akan membuat Anda hina dan rendah. Anda akan terus diiringi kerugian dalam setiap amalan. Ketika Anda, misalnya, bersedekah, namun tujuannya ingin dipuji, maka Anda justru akan mendapatkan kehinaan di hadapan-Nya; walaupun Anda mendapatkan pujian semua di hadapan manusia. Begitu halnya dengan amalan-amalan dan ibadah-ibadah lainnya. 

Jikalau kita ingin tamak, maka tamaklah dengan ridho Allah Swt. Apapun yang kita lakukan, maka hendaklah bertujuan mendapatkan karunia-Nya. Dialah Penguasa di alam semesta ini. Hanyalah Dialah yang bisa membuat Anda terkenal atau terpandang di hadapan manusia. Jikalau Dia menginginkannya, maka Anda akan dibuat-Nya dikenal manusia dan dihormati. Dan jika Dia ingin menghinakan Anda, maka Dia akan merendahkan Anda; walaupuan Anda berpura-pura baik di hadapan seluruh manusia. 

Dia adalah Zat yang Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.  

Antara Dua Kelompok Pencari Allah Swt

Antara Dua Kelompok Pencari Allah Swt


Hikmah Keenam Puluh Satu

قَطَعَ السَّائِرُوْنَ لَهُ وَالْوَاصِلُوْنَ إِلَيْهِ عَنْ رُؤْيَةِ أَعْمَالِهِمْ وَشُهُوْدِ أَحْوَالِهِمْ. أَمَّا السَّائِرُوْنَ فَلِأَنَّهُمْ لَمْ يَتَحَقَّقُوْا الصِّدْقَ مَعَ اللهِ فِيْهَا, وَأَمَّا الْوَاصِلُوْنَ فَلِأَنَّهُ غَيَّبَهُمْ بِشُهُوْدِهِ عَنْهَا

“Allah Swt membuat orang-orang yang sedang berjalan menuju-Nya dan orang-orang yang telah sampai kepada-Nya, tidak mampu melihat amalan-amalan mereka dan menyaksikan keadaan-keadaan mereka. Jikalau orang-orang yang sedang berjalan menuju-Nya, karena mereka belum mewujudkan kejujuran bersama-Nya di dalam hati mereka. Sedangkan orang-orang yang sampai kepada-Nya, karena mereka sibuk menyaksikan-Nya.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Allah Swt membuat orang-orang yang sedang berjalan menuju-Nya tidak mampu melihat amalan-amalan mereka dan keadaan-keadaan mereka sendiri, karena mereka belum mewujudkan kejujuran bersama Allah Swt di dalam hatinya. Amalan-amalan yang dikerjakannya masih disusupi oleh unsur-unsur duniawi, sehingga tidak layak dibanggakan atau dijadikan pegangan.

Dia juga melakukan hal sama kepada orang-orang yang telah sampai kepada-Nya, hanya saja alasannya berbeda. Mereka tidak mampu melihat amalan-amalannya dan keadaan-keadaan yang dialaminya, karena mereka larut dalam penyaksian-Nya dan beribadah menyembah-Nya

Ketaatan Merupakan Karunia Allah Swt

Ketaatan Merupakan Karunia Allah Swt


Hikmah Keenam Puluh

لَا تُفْرِحْكَ الطَّاعَةُ لِأَنَّهَا بَرَزَتْ مِنْكَ, وَافْرَحْ بِهَا لِأَنَّهَا بَرَزَتْ مِنَ اللهِ إِلَيْكَ. قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ وَبِذَلِكَ فَالْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْنَ

“Janganlah engkau bahagia, karena engkau bisa melakukan ketaatan. Berbahagialah karena ia adalah karunia Allah Swt untukmu. Katakanalah, dengan karunia-Nya dan rahmat-Nya, maka hendaklah kalian berbahagia. Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Janganlah Anda merasa senang, karena Anda telah melakukan ketaatan yang merupakan sumber kebahagiaan hakiki. Ini merupakan sifat egoisme dan merasa hebat. Semua yang Anda lakukan itu adalah atas kehendak-Nya. 

Oleh karena itu, berbahagialah karena Dia telah memberikanmu nikmat ketaatan, sehingga Anda bisa mengerjakan shalat, berpuasa, mengeluarkan zakat, menunaikan haji dan sebagainya.. Jikalau bukan karena karunia-Nya, maka Anda tidak akan bisa melakukan semua itu. 

Sebagai hamba, seharusnya kita melihat-Nya dalam segala perbuatan yang kita lakukan, bukan melihat kepada diri sendiri. Jikalau melihat-Nya, maka kita akan merasa hina dan kecil, serta tidak mampu melakukan apapun. Sedangkan jikalau kita melihat kepada diri sendiri, maka kita akan congkak dan sombong. Kita merasa, seolah-olah semua ketaatan itu adalah jerih payah sendiri, tidak ada intervensi siapapun. Ini adalah sebuah kesalahan besar dan harus dibuang sejauh-jauhnya.