Hasrat Ingin Melihat Allah Swt

Hasrat Ingin Melihat Allah Swt


Hikmah Keseratus Delapan Belas

عَلِمَ مِنْكَ أَنَّكَ لَا تَصْبِرُ عَنْهُ فَأَشْهَدَكَ مَا بَرَزَ مِنْهُ

“Allah Swt mengetahui, bahwa engkau tidak mampu bersabar berpisah dengan-Nya. Oleh karena itu, Dia memperlihatkanmu apa yang bersumber dari-Nya.”


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]

 

Allah Swt mengetahui, bahwa Anda tidak mampu lama-lama berpisah dengan-Nya dan ingin segera bertemu dengan-Nya seraya menyaksikan wajah-Nya. itu adalah hal lumrah, dan memang rasa itu hanya dimiliki oleh orang-orang beriman yang cahaya-Nya bertahta di dalam hatinya. 

Di balik kerinduan Anda itu, Anda tetap tidak akan bisa menyaksikan-Nya di dunia ini karena sifatnya fana dan akan segera mengalami kehancuran pada waktunya. Untuk memuaskan dahaga Anda, maka Dia memerintahkan Anda menyaksikan tanda-tanda dan bukti-bukti kebesaran-Nya di alam semesta ini. Renungilah, maka Anda akan merasa seolah-oleh melihat-Nya. 

Bersabarlah, Anda akan mendapatkan nikmat paling besar itu di Akhirat kelak

Melihat Ciptaan Allah Swt di Dunia

Melihat Ciptaan Allah Swt di Dunia


Hikmah Keseratus Tujuh Belas

أَمَرَكَ فِي هَذِهِ الدَّارِ بِالنَّظَرِ فِي مُكَوَّنَاتِهِ, وَسَيَكْشِفُ لَكَ فِي تِلْكَ الدَّارِ عَنْ كَمَالِ ذَاتِهِ

“Allah Swt memerintahkanmu di negeri ini untuk melihat makhluk-Nya, dan engkau akan menemukan kesempurnaan Zat-Nya di negeri ini.”


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]

 

Jikalau Anda adalah salah seorang hamba Allah Swt yang merindukan pertemuan dengan-Nya dan ingin berada di hadapan-Nya, maka lihatlah alam semesta yang terbentang luas ini, dan saksikan juga bagaimana perjalanan hidup makhluk-Nya. Di dalamnya, Anda akan mendapatkan berbagai tanda-tanda dan ayat-ayat yang menunjukkan ke-Maha Kuasaan-Nya dan ke-Maha Agungan-Nya. 

Cobalah Anda perhatikan pemandangan indah yang berada di sekitar Anda. Layaknya lukisan indah yang bernilai harta tinggi. Jikalau dijual, tentu tidak akan ada yang mampu membelilnya, karena nilainya sangat mahal sekali. Lihat juga bagaimana alam semesta ini berjalan sesuai dengan kodratnya. Tidak melenceng dan keluar dari jalurkanya. Jikalau itu terjadi, maka itulah akhir kehidupan manusia. 

Kenapa Anda diperintahkan-Nya untuk melihat makhluk-Nya, agar Anda bisa melihat-Nya? Jawabannya tidaklah terlalu sulit dan tidak panjang, karena Dia tidak akan mungkin menampakkan dirinya di dunia yang fana ini. Dia hanya bisa dilihat di Akhirat kelak, yang merupakan negeri keabadian. 

Anda tentu pernah mendengar kisah Bani Israel yang meminta kepada Nabi Musa Alahissalam agar diperlihatkan Tuhannya. Ketika Dia menampakkan dirinya, maka gunung meletus, sehingga mereka semuanya pingsan. 

Apa yang ada di dunia ini adalah pancaran sifat-Nya yang Maha Agung. Ketika Anda melihat alam yang indah ini, tentu Anda semakin yakin bahwa Dia Maha Indah. Ketika Anda menyaksikan kekuasaan-Nya yang mampu menghancurkan hamba-Nya dalam sejenak, atau menyembuhkan hamba-Nya yang tidak mungkin sembuh lagi menurut ilmu kesehatan, tentu Anda akan semakin meyakini ke-Maha Kuasaan-Nya. 

Dia adalah Zat yang Maha Sempurna. Tiada cela dalam ciptaan-Nya.  

Lihatlah Allah Swt, Maka Anda Akan Tenang

Lihatlah Allah Swt, Maka Anda Akan Tenang


Hikmah Keseratus Enam Belas

إِنَّمَا يَسْتَوْحِشُ الْعُبَّادُ وَالزُّهَّادُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ لِغَيْبَتِهِمْ عَنِ اللهِ فِي كُلِّ شَيْءٍ. فَلَوْ شَهِدُوْهُ فِي كُلِّ شَيْءٍ, لَمْ يَسْتَوْحِشُوْا مِنْ شَيْءٍ

“Para Ahli Ibadah dan para Zahid merasa risau dengan segala sesuatu, karena mereka tidak melihat Allah Swt dalam segala sesuatu. Jikalau mereka menyaksikan-Nya, maka mereka tidak akan merisaukan apapun.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Para Ahli Ibadah adalah orang-orang yang mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah Swt. Tidak ada sedikitpun moment, kecuali ia mengisinya dengan ketaatan dan ibadah. Sedangkan para Zahid adalah orang-orang yang meninggalkan dunia untuk mendapatkan keridhoan-Nya dan cinta-Nya. Di antara mereka ada yang orang kaya, hanya saja harta itu berada di tangannya, bukan di hatinya, sehingga ia bebas dan tidak dikendalikan hawa nafsu. 

Kedua kelompok ini adalah orang-orang yang dekat kepada Allah Swt. Jikalau mereka masih merasa risau, itu terjadi karena mereka belum menyaksikan sifat-sifatNya di dalam segala sesuatu. Ketika, misalnya, ia tertimpa musibah, maka hendaklah ia mengingat bahwa Dia adalah Zat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyaang, yang tidak akan menguji hamba-Nya di atas kemampuannya. Jikalau ia kehilangan harta, maka hendaklah ia segera menyadari bahwa Dia adalah Zat yang Maha Kaya. Harta yang hilang bisa diganti-Nya dalam sekejap mata. 

Jikalau ia mampu menyaksikan sifat-Nya dalam segala sesuatu yang ada di dunia ini, maka ia tidak akan pernah merasa sedih. Hatinya akan selalu dipenuhi ketentraman dan kebahagiaan. Ia akan sadar, bahwa semua yang ditentukan-Nya adalah kebaikan bagi-Nya; hanya saja kadang-kadang ia tidak mampu mencernanya. 

Jikalau Anda beribadah, maka beribadahlah dengan Ihsan. Bahkan dalam segala sesuatupun, Anda harus Ihsan. Artinya, jikalau Anda tidak mampu melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia melihat Anda dan menyaksikan gerak-gerik Anda.

Dia itu ghaib, akan tetapi ADA, dan lebih dekat dari urat nadi Anda

Orang yang Lalai & Orang yang Berakal

Orang yang Lalai & Orang yang Berakal


Hikmah Keseratus Lima Belas

الْغَافِلُ إِذَا أَصْبَحَ يَنْظُرُ مَاذَا يَفْعَلُ, وَالْعَاقِلُ يَنْظُرُ مَاذَا يَفْعَلُ اللهُ بِهِ

“Orang yang lalai mengawali harinya dengan melihat apa yang akan dilakukannya. Dan orang yang berakal memulai harinya dengan melihat apa yang akan Allah Swt lakukan terhadapnya.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Orang yang lalai menjalankan perintah Allah Swt dan selalu menghampiri larangan-Nya, maka ia akan memulai harinya dengan melihat apa yang akan dilakukannya pada hari ini dan apa yang akan dihasilkannya. Ia bergantung kepada dirinya sendiri dan merasa bisa menghasilkan lebih banyak rezki tanpa intervensi siapapun. 

Ini adalah sebuah kesalahan dalam berfikir. Bukan itu yang harus Anda lakukan. Akan tetapi, jalankanlah semua perintah-Nya dan jauhilah segala larangan-Nya. rezki itu berada di tangan-Nya. Berusahalah, maka Anda akan mendapatkan bagian Anda, dan jangan pernah melalaikan ibadah kepada-Nya. 

Orang yang berakal selalu meyakini, bahwa Allah Swt sudah menetapkan segala sesuatu baginya, baik rezki, jodoh, kematian dan lain-lain. Jikalau Dia menetapkan di Lauh Mahfudz bahwa ia akan mendapatkan rezki pada hari ini dengan nominal tertentu, maka ia akan mendapatkannya. Dia akan membukakan pintu rezki-Nya. Jangan takut dan jangan lalai menjalankan kewajiban. Jikalau tujuan Anda adalah ridho-Nya, maka Anda akan mendapatkan dunia dan akhirat. Jikalau tujuan Anda hanya dunia semata, maka Anda hanya akan mendapatkan dunia.  

Rezki Allah Swt Sesuai dengan Kesiapan

Rezki Allah Swt Sesuai dengan Kesiapan


Hikmah Keseratus Empat Belas

وُرُوْدُ الْإِمْدَادِ بِحَسَبِ الْاِسْتِعْدَادِ, وَشُرُوْقُ الْأَنْوَارِ عَلَى حَسَبِ صَفَاءِ الْأَسْرَارِ

“Rezki Allah Swt sesuai dengan kadar kesiapan. Terangnya cahaya sesuai dengan kadar kejernihan jiwa.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Rezki yang diberikan oleh Allah Swt kepada para hamba-Nya sesuai dengan kadar persiapan mereka menerimanya. Jikalau Anda berusaha keras, maka Anda akan mendapatkan lebih banyak rezki. Jikalau Anda hanya duduk-duduk saja dan tidak ada aktifitas lebih, tentu Anda juga akan mendapatkan sedikit saja. 

Rezki itu sama halnya dengan pahala. Semakin banyak amalan yang Anda kerjakan dengan penuh keikhlasan, tentu lebih banyak pahala yang Anda dapatkan. Sebaliknya, semakin sedikit amalan yang Anda kerjakan, tentu semakin sedikit pundi-pundi  pahala yang Anda dapatkan. Ganjaran itu sesuai dengan kadar keletihan. 

Sekarang, cobalah Anda lihat keadaan hati Anda, apakah ia layak mendapatkan limpahan cahaya-Nya atau tidak?! Intinya sama. Anda baru layak mendapatkan cahaya-Nya, jikalau hati Anda sudah bersih. Sebening apa hati Anda, maka sebesar itulah kans cahaya yang berhak Anda miliki. 

Jikalau hati Anda hitam kelam oleh maksiat, maka tidak akan ada cahayanya. Jikalau ia bersih, maka cahaya-Nya akan singgah disana menyinarinya. Jikalau setengahnya bersih dan setengahnya kotor, maka sebesar itu jugalah cahaya yang akan Anda dapatkan

Pentingnya Wirid

Pentingnya Wirid


Hikmah Keseratus Tiga Belas

لَا يَسْتَحْقِرُ الْوِرْدَ إِلَّا جَهُوْلٌ. وَالْوَارِدُ يُوْجَدُ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ, وَالْوِرْدُ يَنْطَوِي بِانْطِوَاءِ هَذِهِ الدَّارِ. وَأَوْلَى مَا يُعْتَنَى بِهِ مَا لَا يَخْلُفُ وُجُوْدُهُ. الْوِرْدُ هُوَ مَا طَالِبُهُ مِنْكَ, وَالْوَارِدُ أَنْتَ تَطْلُبُهُ مِنْهُ. وَأَيْنَ مَا هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ مِمَّا هُوَ مَطْلَبُكَ مِنْهُ

“Tidak ada yang meremehkan wirid, kecuali orang yang bodoh. Limpahan nikmat Allah Swt akan terus diperoleh sampai negeri Akhirat, sementara wirid akan dilipat seiring dilipatnya negeri ini. Dan yang paling utama untuk diperhatikan adalah sesuatu yang wujudnya tidak berganti. Wirid adalah permintaan-Nya darimu, dan karunia-Nya adalah permintaanmu dari-Nya. Dimana posisi sesuatu yang diminta-Nya darimu dengan sesuatu  yang engkau minta dari-Nya; jikalau dibandingkan.”


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Allah Swt telah mengajarkan berbagai Wirid kepada para hamba-Nya melalui lisan Rasul-Nya. Ada yang dilakukan di pagi, ada yang dilakukan di sore hari, dan ada yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Tidak ada yang mau meremehkannya, kecuali orang bodoh yang tidak mengenal syariat-Nya dan kebijaksanaan-Nya.

Jikalau Anda tidak mampu atau malas mengerjakannya, maka janganlah meremehkannya, atau meniadakannya sama sekali. Ini jelas menantang ketetapan yang disunnahkan oleh Rasulullah Saw. Ada dua gelar yang bisa disematkan di baju Anda: Pertama, Anda memang bodoh dan tidak mengetahuinya sama sekali. Kedua, Anda berpura-pura bodoh, karena mengikuti hawa nafsu. Akan tetapi intinya, Anda adalah sosok yang tidak mempergunakan otak jikalau merendahkan wirid-wirid ini. 

Anda akan mendapatkan berbagai karunia-Nya di dunia ini, seperti ketenangan hati, limpahan rekzi, kesehatan badan dan sebagainya. Dan ia juga akan Anda dapatkan di akhirat kelak. Namun bagaimana halnya dengan Wirid? Apakah Anda masih bisa membacanya di Akhirat kelak? 

Tidak. Sekali lagi tidak. Anda tidak akan memiliki kesempatan melakukannya lagi. Dunia adalah ladang amal, dan Akhirat adalah negeri balasan. Dan itulah sebenarnya yang membedakan antara Wirid dan karunia-Nya. Jikalau karunia-Nya dan nikmat-Nya bisa Anda dapatkan di dunia dan di akhirat, maka wiridnya hanya bisa Anda lakukan ketika di dunia saja. 

Perhatikanlah baik-baik! Mana yang akan Anda prioritaskan? Apakah materi atau Wirid? Jikalau materi, maka Anda akan tetap mendapatkannya di Akhirat kelak. Dan selama Anda berusaha, maka Anda akan tetap mendapatkannya di dunia ini. Sejenak waktu yang Anda gunakan untuk Wirid, sama sekali tidak akan mengurangi rezki Anda. 

Jagalah sesuatu yang tidak akan Anda dapatkan lagi di Akhirat kelak, yaitu Wirid. Itulah yang akan menolong Anda di akhirat kelak. Ketika harta dan anak-anak meninggalkan Anda di liang kubur, maka hanya pahala Wirid tadilah yang akan selalu menemani Anda dan melayani semua kebutuhan Anda. Ia hanya membutuhkan sedikit waktu Anda, namun efeknya luar biasa. 

Jikalau Anda rutin menjalankannya, tentu Allah Swt akan menyayangi Anda dan memberikan cahaya-Nya tertambat di dalam hati Anda, sehingga kedudukan Anda naik di sisi-Nya. Jikalau Dia sudah menerima Anda, maka semua penduduk langit dan bumi akan mencintai Anda dan memuji kebaikan Anda. 

Coba Anda bandingkan! Dia meminta Anda memnbaca wirid, dan Anda meminta kepada-Nya untuk dianugerahkan karunia-Nya. Manakah yang lebih baik di antara keduanya? Jikalau Anda menjalankan wirid, Anda sudah pasti mendapatkan karunia-Nya. Dan jikalau Anda hanya mengharapkan karunia-Nya, maka Anda belum tentu bisa mendapatkan pahala wirid. Dahulukanlah diri-Nya dari segala kebutuhan Anda. 

Jikalau Anda menomorkan satu-Nya, maka Dia akan selalu menyertai setiap langkah Anda, sehingga kehidupan Anda akan selalu diberkahi-Nya.