Pujian dan Celaan

Pujian dan Celaan


 Hikmah Keseratus Empat Puluh Empat

Pujian dan Celaan

النَّاسُ يَمْدَحُوْنَكَ لِمَا يَظُنُّوْنَهُ فِيْكَ, فَكُنْ أَنْتَ ذَامًّا لِنَفْسِكَ لِمَا تَعْلَمُهُ مِنْهَا

“Orang-orang memuji berdasarkan dugaannya terhadapmu, maka celalah dirimu sesuai dengan apa yang engkau ketahui.” 


Ibn Athaillah al-Sakandari

(Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari)


Jikalau ada seseorang yang memuji Anda, maka ketahuilah bahwa ia memuji Anda berdasarkan pengetahuannya dan persangkaannya terhadap Anda. Dan persangkaan itu sebahagian besarnya jauh dari kebenaran. Janganlah Anda terlena dan larut dalam pujian. Ia adalah pedang yang siap membantai Anda kapan saja. 

Jikalau seandainya orang itu mengetahui siapa diri Anda sebenarnya, dan apa saja keburukan dan kejelekan yang Anda lakukan selama ini, maka ia akan menjauihi Anda dan tidak akan pernah memuji Anda sedikitpun.

Bersyukurlah, karena Allah Swt masih menutupi aib Anda dan tidak menyebarkannya kepada khalayak ramai. Tetapi teruslah intropeksi diri Anda. Celalah kelalaian Anda dan kesalahan yang selama ini Anda lakukan. Aib Anda, hanya Dialah yang mengetahuinya dan Anda sendiri. 

Jangan biarkan ia terus bersarang di dalam diri Anda. Buanglah jauh-jauh.

Jikalau Anda dipuji; padahal kenyatannya tidak seperti itu, maka itu adalah hinaan yang diberikan kepada Anda. Jikalau Anda larut, maka Anda akan semakin terhina. Namun jikalau Anda sadar dan segera memperbaikinya, maka Anda akan beruntung di dunia dan di akhirat. 

Eksistensi Alam

Eksistensi Alam


Hikmah Keseratus Empat Puluh Tiga

Eksistensi Alam

الْأَكْوَانُ ثَابِتَةٌ بِإِثْبَاتِهِ وَمَمْحُوَّةٌ بِأَحَدِيَّةِ ذَاتِهِ

“Alam semesta ini ada dengan penetapan Allah Swt, dan lenyap dengan ke-Esaan Zat-Nya.”


Ibn Athaillah al-Sakandari

(Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari)

 

Alam semesta yang indah dan menawan ini adalah ciptaan Allah Swt. Ia ada karena kehendak-Nya. Semua hewan yang terbang di udara, yang berenang dan menyelam di air, yang melata dan berjalan di darat, semuanya adalah ciptaan-Nya. Jikalau seandainya Dia tidak berkeinginan menciptakannya, maka Anda tidak akan mendapati apapun di dunia ini. Semua tiada dan hampa. 

Dan perlu Anda ingat, jikalau semua wujud yang Anda dapati ini disandingkan dengan wujud-Nya dan ke-EsaanNya, maka semuanya akan hilang dan sirna. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, nahwa wujud hakiki itu hanyalah Dia yang memilikinya. Tidak ada seorangpun yang mampu menyukutui-Nya dalam hal ini. 

Oleh karena itu, janganlah Anda tertipu dengan dunia dan segala keindahannya. Anda akan menyesalinya di Akhirat kelak. 

Sunnah Shalat Taubat

Sunnah Shalat Taubat


Lupa dan salah, sudah menjadi fitrahnya manusia. "Wa Ma Summiya al-Insan illa Li Nisyanihi; tidak dinamakan manusia kecuali karena lupanya". Begitu ungkapan dalam Bahasa Arab yang sering kita dengar. 
Semua kita pernah melakukan kesalahan, namun tidak semuanya bertaubat kepada Allah SWT. Ada yang memilih untuk tetap mengotori dirinya di lubang kemaksiatan. 
Diriwayatkan oleh al-Turmudzi, dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah Saw bersabda: 
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ اَلْخَطَّائِينَ اَلتَّوَّابُونَ 
"Setiap Anak Adam itu bersalah. Dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang bertaubat."
Orang-orang yang bertaubat kepada Allah SWT, juga bertingkat-tingkat. Di antara mereka yang sangat serius sekali untuk menghapus semua dosa yang pernah dilakukannya dan membersihkan catatan amalannnya. Sehingga, tidak hanya Istighfar yang terucap dari lisannya, tapi juga disertai dengan Shalat. Dikenal dengan Shalat Taubat. 
Diriwayatkan oleh al-Turmudzi, dari Abu Bakar radhiyallahu anhu, ia mendengar Rasulullah Saw bersabda: 
ما من رجل يذنب ذنبا ثم يقوم فيتطهر ثم يصلي ثم يستغفر الله إلا غفر له
"Tidaklah seorang hamba melakukan suatu dosa, kemudian ia bersuci dan mengerjakan shalat, kemudian memohon ampunan Allah SWT, kecuali Dia mengampunkannya." 
Kemudian Rasulullah Saw membacakan ayat: 
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka.." (Surat Ali Imran: 135)
Semoga Allah SWT menjadikan kita manusia-manusia yang bertaubat kepada-Nya, memudahkan kita untuk mendapatkan ridha dan ampunan-Nya. Aamiin ya Rabb. []
Tidak Sekedar Melihat Alam Semesta

Tidak Sekedar Melihat Alam Semesta

 
Hikmah Keseratus Empat Puluh Dua 

Tidak Sekedar Melihat Alam Semesta

أَبَاحَ لَكَ أَنْ تَنْظُرَ مَا فِي الْمُكَوَّنَاتِ, وَمَا أَذِنَ لَكَ أَنْ تَقِفَ مَعَ ذَوَاتِ الْمُكَوَّنَاتِ: قُلِ انْظُرُوْا مَاذَا فِي السَّمَوَاتِ. فَتَحَ لَكَ بَابَ الْأَفْهَامِ, وَلَمْ يَقُلْ: انْظُرُوْا السَّمَوَاتِ, لِئَلَّا يَدُلَّكَ عَلَى وُجُوْدِ الْأَجْرَامِ

“Allah Swt mengizinkanmu untuk melihat semua yang terdapat dalam alam semesta, akan tetapi tidak menginginkanmu untuk berhenti sampai disitu saja. Katakanlah: Lihatlah apa yang ada di langit. Dia membukakan bagimu pintu pemahaman, dan tidak mengatakan: Lihatlah langit. Semua itu dilakukan-Nya untuk menunjukkanmu tentang keberadaan benda langit.” 


Ibn Athaillah al-Sakandari

(Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari)


Allah Swt menginzinkan Anda untuk melihat apa saja yang ada di dalam alam semesta ini, agar Anda bisa merenungkannya dan memahami rahasia yang ada di baliknya. Selain itu, Anda juga bisa menyaksikan kesempurnaan ciptaan-Nya dan keagungan-Nya dari berbagai persitiwa yang terjadi. Misalnya, jikalau Anda merasakan angin bertiup, maka Anda bisa memahami bagaimana Maha Hebat-Nya yang mampu mengendalikan angin sesuai keinginan-Nya. Jikalau Anda melihat hujan turun, maka Anda mengetahui bagaimana kuasa-Nya yang mampu menurun air dari langit. Dan masih banyak lagi pelajaran yang bisa diambil dari alam semesta ini. 

Sebenarnya, izin yang diberikan-Nya kepada Anda untuk melihat ada tujuan besar di baliknya. Anda tidak dibolehkannya berhenti disitu saja, namun harus merenungkannya dan memikirkannya, agar Anda bisa mencapai Ma’rifat mengenal-Nya. Jikalau Anda hanya sekedar takjub saja dan mengagumi, maka hal itu justru akan menjadi bumerang bagi Anda, yaitu menghijab Anda dari cahaya-Nya. 

Jikalau Anda melihat pemandangan yang indah, jangan hanya sekedar berdecak kagum, namun ucapkanlah: Subhanallah, kemudian masukkanlah ke dalam relung-relung hati Anda dan renungkanlah bagaimana ke-Maha Besaran sang Penciptanya. Jikalau Anda mampu melakukannya, maka Anda juga akan mampu mendapatkan cahaya-Nya, yang akan mengantarkan Anda menuju Marifat-Nya. Namun jikalau sebaliknya, maka ia justru akan menghijab hati Anda. Semakin Anda menikmati ciptaan-Nya, maka justru Anda akan semakin jauh dari cahaya-Nya. 

Ingatlah baik-baik, Anda diperintahkan melihat alam semesta ini, agar Anda mampu memahami ke-Maha EsaanNya, mengakui adanya alam Ghaib dan mengetahui keagungan-Nya, bukan untuk menunjukkan eksistensi-Nya, karena Dia adalah Zat yang Maha Zhahir dan Maha Besar, yang tidak memerlukan alam semesta ini dan semisalnya untuk menunjukkan eksistensi-Nya. 

Penjelasan ringannya seperti ini: Jikalau Anda adalah seseorang yang mampu membaca susunan huruf, maka apa yang akan Anda lakukan jikalau melihat sebuah kata. Bukankah Anda akan membacana baik-baik dan berusaha memahami makna di dalamnya?! Begitulah keadaan orang yang akan mendapatkan cahaya-Nya. 

Sebaliknya, jikalau Anda hanya seseorang yang buta huruf, maka apa yang akan Anda lakukan jikalau melihat sebuah kata. Bukankah Anda hanya akan sekedar melihat dan menikmati keindahannya, yaitu jikalau tulisan itu indah?! Anda sama sekali tidak ada hasrat dan keinginan mengetahui apa yang ada di baliknya. 

Itulah yang membedakan antara seorang Arif dengan seorang Jahil. Fahamilah baik-baik!!!

Maha Zhahir dan Maha Bathin

Maha Zhahir dan Maha Bathin


Hikmah Keseratus Empat Puluh Satu

Maha Zhahir dan Maha Bathin

أَظْهَرَ كُلَّ شَيْءٍ لِأَنَّهُ الْبَاطِنُ, وَطَوَى وُجُوْدَ كُلِّ شَيْءٍ لِأَنَّهُ الظَّاهِرُ

“Allah Swt menampakkan segala sesuatu, karena Dia Maha Bathin. Dan Dia melipat wujud segala sesuatu, karena Dia Maha Zhahir.” 


Ibn Athaillah al-Sakandari

(Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari)


Anda bisa menyaksikan manusia berjalan, pohon-pohon bergerak dan angin berhembus, semua itu adalah rahmat Allah Swt dan karunia-Nya kepada Anda. Jikalau Dia tidak bersembunyi, maka Anda akan tidak pernah mampu menyaksikannya. Ini dilakukan-Nya untuk menunjukkan kepada Anda, bahwa Dia adalah Zat yang Maha Bathin. 

Sebaliknya, ketika Dia menampakkan diri kepada Anda, maka Anda dan seluruh yang ada di alam semesta ini akan lenyap dan larut dalam kefanaan. Ini dilakukannya untuk menunjukkan kepada Anda, bahwa Dia adalah Zat yang Maha Zhahir. 

Pelajaran berharga yang bisa Anda peroleh di bagian ini adalah mengenai wujud hakiki. Ingatlah, bahwa semua yang ada di dunia ini adalah semu dan fana. Hanya Allah Swt semata yang akan abadi dan wujudnya hakiki. Jadi, jangan pernah menyombongkan diri, karena Anda akan menghadapi kebinasaaan, baik Anda menginginkannya maupun tidak. 

Allah Swt Menampakkan Diri di Alam Semesta

Allah Swt Menampakkan Diri di Alam Semesta


Hikmah Keseratus Empat Puluh 

Allah Swt Menampakkan Diri di Alam Semesta

لَوْلَا ظُهُوْرُهُ فِي الْمُكَوَّنَاتِ مَا وَقَعَ عَلَيْهَا وُجُوْدُ أَبْصَارٍ. لَوْ ظَهَرَتْ صِفَاتُهُ اضْمَحَلَّتْ مُكَوَّنَاتُهُ

“Jikalau bukan karena penampakan Allah Swt di alam semesta, maka tidak akan ada pandangan yang menyaksikannya. Jikalau sifat-sifatNya terlihat, maka alam semesta ini akan lenyap.”


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Jikalau Allah Swt tidak menampakkan sifat-sifatNya di alam semesta ini, maka Anda tidak akan pernah bisa menyaksikannya. Mungkin Anda akan bertanya: Kenapa tidak bisa; padahal saya bisa menyaksikannya dengan jelas? 

Begini, sebenarnya alam semesta ini dengan seluruh isinya adalah sesuatu yang fana, dan hakikatnya adalah tiada. Hanya saja, Allah Swt memberikan sedikit sifat wujud-Nya kepadanya, sehingga Anda bisa menyaksikannya seperti sekarang ini. Oleh karena itu, Anda tidak boleh lalai karenanya. Ingatlah, wujud hakiki itu adalah wujud-Nya. 

Jikalau Dia ingin menampakkan sifat-sifatNya dengan wujud sebenarnya, maka tidak akan ada sesuatupun yang bertahan di dunia ini. 

Semuanya akan hancur lebur. Cobalah Anda ingat-ingat kembali bagaimana kisah Bani Israel yang ingin melihat-Nya. Gunung yang menjadi objek penglihatan mereka menjadi hancur, dan semua pingsan tak sadarkan diri. 

Tidakkah Anda menyadari bagaimana kuat dan kokohnya sebuah gunung, namun ia tetap tidak mampu memikul penampakan Zat yang Maha Kuasa dan Maha Agung.