Jangan Berputus Asa Karena Suatu Dosa

Jangan Berputus Asa Karena Suatu Dosa


Hikmah Keseratus Lima PuLuh 

Jangan Berputus Asa Karena Suatu Dosa

إِذَا وَقَعَ مِنْكَ ذَنْبٌ فَلَا يَكُنْ سَبَبًا لِيَأْسِكَ مِنْ حُصُوْلِ الْاِسْتِقَامَةِ مَعَ رَبِّكَ, فَقَدْ يَكُوْنُ ذَلِكَ آخِرُ ذَنْبٍ قُدِّرَ عَلَيْكَ

“Jikalau engkau terjerumus ke dalam perbuatan dosa, maka janganlah hal itu menyebabkanmu putus asa untuk memperoleh sikap Istiqamah bersama Tuhanmu, karena bisa jadi itu adalah dosa terakhir yang ditakdirkan untukmu.” 


Ibn Athaillah al-Sakandari

(Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari)


Jikalau Anda melakukan suatu dosa, atau telah lama terjerumus ke dalam kubangan dosa, maka janganlah Anda putus asa untuk mendapatkan rahmat-Nya dan Istiqamah di jalan-Nya. Jikalau Anda menyangka, bahwa dosa-dosa yang Anda lakukan selama ini membuat Anda tidak layak mendapatkan pengampunan-Nya, maka itu adalah kesalahan besar dalam berfikir. 

Tidak. Selama Anda tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun, maka Anda bisa kembali kepada-Nya dan mengharapkan ampunan-Nya; selama nyawa Anda belum sampai di kerongkongan dan matahari belum terbit di sebelah barat. Jangan pernah menyangka, bahwa Anda telah ditakdirkan menjadi Ahli Maksiat dan penghuni neraka.

Takdir itu urusan-Nya, dan tidak ada seorangpun yang mengetahuinya; termasuk para Malaikat yang berada di sekeliling Arsy-Nya. Bisa jadi dosa yang Anda lakukan sekarang ini adalah dosa terakhir yang ditakdirkan bagi Anda. Bersegeralah kembali kepada-Nya. Taubatlah dengan sebenar-benarnya. Mudah-mudahan Anda mendapatkan rahmat-Nya dan berhak menempati surga-Nya. 

Sifat Kenak-kanakan Anda

Sifat Kenak-kanakan Anda


Hikmah Keseratus Empat Puluh Sembilan

Sifat Kenak-kanakan Anda

مَتَى كُنْتَ إِذَا أُعْطِيْتَ بَسَطَكَ الْعَطَاءُ, وَإِذَا مُنِعْتَ قَبَضَكَ الْمَنْعُ, فَاسْتَدِلَّ بِذَلِكَ عَلَى ثُبُوْتِ طُفُوْلِيَّتِكَ وَعَدَمِ صِدْقِكَ فِي عُبُوْدِيَّتِكَ

“Ketika engkau diberi, maka engkau akan bahagia. Ketika engkau ditolak, maka engkau akan cemberut. Berdasarkan hal itu ketahuilah, bahwa engkau masih kanak-kanak dan ibadahmu belum tulus.” 


Ibn Athaillah al-Sakandari

(Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari)


Perhatikanlah diri Anda baik-baik. Jikalau Anda bahagia ketika mendapatkan apa yang Anda inginkan, dan bersedih ketika tidak berhasil mendapatkan apa yang Anda harapkan, maka itu menunjukkan bahwa Anda masih kekanak-kanakan dan ibadah yang Anda jalankan belum benar. 

Kenapa Anda masih dikatakan masih kanak-kanak?!

Cobalah Anda perhatikan anak Anda sendiri. Jikalau Anda memberikannya hadiah, atau sesuatu yang diinginkannya, bukankah ia akan bahagia. Dan ketika Anda tidak memberikan apa yang diinginkannya, bukankah ia akan menangis. Yah, itulah sifat dan karakter dasar anak-anak. Dan jikalau Anda bersikap seperti itu kepada Allah Swt, artinya Anda belum dewasa sebagai hamba-Nya. Keyakinan dan rasa tawakkal Anda belum mencapai kesempurnaannya. Masih banyak yang harus Anda intropeksi baik-baik. 

Sikap seperti itu juga menunjukkan ketidak tulusan Anda beribadah kepada-Nya. Jikalau ibadah yang Anda kerjakan selama ini tulus dan benar-benar mengharapkan ridho-Nya, maka Anda tidak akan merasakan perbedaan antara diberi dan ditolak. Bagi Anda, keduanya sama saja. Jikalau Dia memberikan apa yang Anda minta, maka Anda bersyukur kepada-Nya, semakin rajin menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Jikalau permintaan Anda ditolak, maka Anda akan intropeksi diri. Jikalau ada kesalahan yang selama ini 

Anda lakukan, maka Anda akan berusaha menjauhinya. Jikalau rasanya tidak ada kesalahan yang Anda lakukan, maka ketahuilah bahwa Dia menginginkan sesuatu yang lebih baik bagi Anda, atau bisa jadi Dia menunda pengabulannya bagi Anda. 

Bagaimanapun, semua yang ditentukan-Nya dan ditakdirkan bagi hamba-Nya adalah point terbaik. Bersyukurlah dan jangan pernah mencela!!

Sikap Orang Zuhud dan Arif Jika Dipuji

Sikap Orang Zuhud dan Arif Jika Dipuji


Hikmah Keseratus Empat Puluh Delapan

Sikap Orang Zuhud dan Arif Jika Dipuji

الزُهَّادُ إِذَا مُدِحُوْا, انْقَبَضُوْا لِشُهُوْدِهِمُ الثَّنَاءَ مِنَ الْخَلْقِ. وَالْعَارِفُوْنَ إِذَا مُدِحُوْا انْبَسَطُوْا لِشُهُوْدِهِمْ ذَلِكَ مِنَ الْمَلِكِ الْحَقِّ

“Jikalau orang-orang zuhud dipuji, maka mereka akan resah karena menurutnya  berasal dari makhluk. Jikalau orang-orang arif dipuji, maka mereka akan senang karena menurutnya berasal dari Penguasa Sebenarnya.” 


Ibn Athaillah al-Sakandari

(Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari)


Orang zuhud adalah orang yang berusaha melepaskan dirinya dari ikatan-ikatan materi dan kenikmatan dunia, kemudian berusaha mengerahkan segenap tenaganya dan usahanya untuk beribadah kepada Allah Swt, demi menggapai ridho-Nya. Jikalau orang seperti ini dipuji, maka dadanya akan sesak dan tidak rela menerimanya. Ia berpendapat, bahwa pujian itu berasal dari makhluk, bukan dari Khalik. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa pujian yang ditujukan kepadanya itu mengandung unsur kesyirikan, karena yang berhak menerimanya hanyalah Zat Penguasa Semesta Alam. 

Pujian yang diharapkannya hanyalah dari Allah Swt semata, karena semua yang diberikan-Nya dan diucapkan-Nya, tidak ada yang menipu. Semuanya benar. Ini berbanding terbalik dengan ucapan dan pujian makhluk, yang masih disusupi oleh dusta dan kemunafikan. 

Tindakan sebaliknya justru ditunjukkan oleh orang Arif, yaitu sosok yang terkenal bijaksana dalam menghadapi masalah apapun yang dihadapinya, bahkan mencapai Marifat yang didambakan setiap Salik. Ia meyakini, bahwa semua yang terjadi di dunia ini adalah kehendak-Nya, termasuk pujian yang disampaikan orang-orang kepadanya. 

Jikalau ada orang yang memujinya, maka ia akan bahagia sekali, karena menggangapnya karunia dari Zat yang Maha Memiliki. Dialah yang telah menciptakan orang-orang tersebut dan menuntun mereka untuk memujinya. Dialah yang menuntun orang-orang untuk mencintainya dan menerima keberadaannya. 

Jikalau Dia mencintai salah seorang hamba-Nya, maka Dia akan menyeru Jibril dan memberitahukannya tentang rasa cinta-Nya. Kemudian Jibril menyeru penduduk langit dan memberitahukan bahwa Allah Swt mencintai Fulan dan memerintahkan mereka mencintainya. Jikalau penduduk langit sudah mencintainya, maka Dia akan memberikan kepadanya penerimaan di bumi, sehingga ia dicintai dan dipuji penduduknya. Artinya, pujian itu sebenarnya berasal dari Rabb Semesta Alam. 

Itulah dua sikap berbeda yang ditunjukkan oleh para Zahid dan para Arif.  

Pujian yang Tidak Layak Anda Miliki

Pujian yang Tidak Layak Anda Miliki


Hikmah Keseratus Empat Puluh Tujuh 

Pujian yang Tidak Layak Anda Miliki

إِذَا أَطْلَقَ الثَّنَاءَ عَلَيْكَ وَلَسْتَ بِأَهْلٍ, فَأَثْنِ عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ

“Jikalau engkau dipuji; padahal engkau tidak layak mendapatkannya, maka pujilah Allah Swt yang layak mendapatkannya.” 


Ibn Athaillah al-Sakandari

(Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari)


Jikalau Anda dipuji; padahal Anda tidak merasa layak mendapatkannya, maka pujilah Allah Swt, Zat yang telah menanugerahkan Anda kehormatan besar ini. Bersyukurlah kepada-Nya yang telah menutupi segala aib Anda dan tidak menyebarkannya di hadapan khayalah ramai. 

Bukankah mudah bagi-Nya untuk menjatuhkan Anda?!

Dia adalah Zat yang Maha Mengatahui segala sesuatu, termasuk segala aib dan keburukan yang selama ini Anda lakukan. Jikalau, misalnya, Anda seorang pejabat yang dipuji dan di sanjung dimana-mana. Semua orang mengatakan, bahwa Anda shaleh. Padahal, Anda sering melanggar aturan-Nya dan melalaikan perintah-Nya. Maka ingatlah, bahwa Dialah yang menutupi maksiat Anda dan menampakkan ketaatan Anda. 

Jangan terlena dan jangan lalai. Segeralah memperbaiki kesalahan dan kembali kepada-Nya. Jikalau Anda terus-menerus bermaksiat kepada-Nya, maka bisa jadi suatu hari Dia akan membongkar aib Anda; walaupun Anda melakukannya di tempat tertutup yang tidak mungkin disaksikan seorang manusiapun. 

Manusia Paling Bodoh

Manusia Paling Bodoh


Hikmah Keseratus Empat Puluh Enam

Manusia Paling Bodoh

أَجْهَلُ النَّاسِ مَنْ تَرَكَ يَقِيْنَ مَا عِنْدَهُ لِظَنِّ مَا عِنْدَ النَّاسِ

“Manusia yang paling bodoh adalah orang yang meninggalkan keyakinannya dengan prasangkaan orang lain.” 


Ibn Athaillah al-Sakandari

(Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari)


Apakah Anda mengetahui manusia yang paling bodoh di seantero jagad raya ini?!

Yah, orang yang paling bodoh adalah orang yang tertipu oleh pujian. Ia menyadari bahwa dirinya tidak seperti yang diucapkan orang lain. Hanya saja ia tertipu, sehingga merasa hebat dan melupakan kekurangannya. 

Ingatlah, Anda lebih mengetahui kekurangan Anda dan kelebihan Anda. Jangan tertipu dan terlena oleh pujian orang lain. Jikalau, misalnya, orang lain mengatakan Anda pintar memperbaiki mobil; padahal Anda tidak mengetahuinya sama sekali, maka jangan terlena. Yakinlah bahwa Anda tidak ahli dalam masalah mobil. Apa yang diucapkannya hanyalah prasangka belaka, karena Anda kebetulan mampu memperbaiki mobilnya atau mobil orang lain. 

Nah, sekarang cobalah perhatikan diri Anda dan pujian yang pernah disampaikan kepada Anda. Setelah itu tanyakanlah, apakah semua itu sesuai kenyataan atau tidak? Jikalau iya, Alhamdullah; segala puji bagi Zat yang telah memberikan Anda kemampuan melakukannya. Jikalau tidak, maka segeralah ber-Istighfar dan berdoalah kepada-Nya: Mudah-mudahan apa yang disangkakan orang lain kepada Anda akan menjadi kenyataan. 

Sikap Seorang Mukmin Jikalau Dipuji

Sikap Seorang Mukmin Jikalau Dipuji


Hikmah Keseratus Empat Puluh Lima

Sikap Seorang Mukmin Jikalau Dipuji

الْمُؤْمِنُ إِذَا مُدِحَ, اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ تَعَالَى أَنْ يُثَنَّى عَلَيْهِ بِوَصْفٍ لَايَشْهَدُهُ مِنْ نَفْسِهِ

“Jikalau seorang mukmin dipuji, maka ia akan malu kepada Allah Swt, yaitu jikalau dipuji dengan sifat yang tidak ada dalam dirinya.” 


Ibn Athaillah al-Sakandari

(Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari)


Jikalau cahaya keimanan telah tertanam dalam hati seorang hamba, kemudian ia dipuji, maka ia akan merasa malu kepada Allah Swt, yaitu Zat yang paling layak dipuji. Dia lah yang telah menganugerahkannya karunia besar, sehingga aibnya tertutup dan kebaikannya tampak oleh manusia. Jikalau saja Dia menampakkannya; walaupun hanya sebahagian kecilnya, maka tidak akan ada orang yang mau memujinya dan menyanjungnya. 

Ia sadar, bahwa semua sifat yang ada di dalam dirinya adalah karunia-Nya. Anda saja Dia mencabutnya dan menggantinya dengan sifat buruk, maka tentu keadaannya akan berbeda. Semua kebaikan dan kehormatan itu berasal dari-Nya, sehingga hanya Dialah yang layak menerima pujian. 

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin (Segala Puji bagi Allah Swt, Tuhan Semesta Alam)

Ingatlah, jangan terlena oleh pujian. Jikalau ada yang memuji Anda, maka sadarilah bahwa Anda adalah manusia lemah yang penuh dengan kesalahan, aib dan cela. Jadikanlah pujian itu sebagai sarana intropeksi diri, bukan sarana menyombongkan diri.