Tanda Kematian Hati

 Hikmah Kelima Puluh


مِنْ عَلَامَاتِ مَوْتِ الْقَلْبِ عَدَمُ الْحُزْنِ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنَ الْمُوَافِقَاتِ وَتَرْكُ النَّدَمِ عَلَى مَا فَعَلْتَهُ مِنْ وُجُوْدِ الزَّلَّاتِ

“Di antara tanda kematian hati adalah engkau tidak bersedih ketika melewatkan ketaatan, dan tidak menyesal ketika melakukan kemaksiatan.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Di antara tanda kematian hati adalah ketika Anda tidak bersedih melewatkan moment-moment ketaatan yang diberikan oleh Allah Swt. Ketika Anda diberikan waktu untuk mengerjakan shalat, maka Anda melewatkannya begitu saja. Ketika Anda diberi kesempatan bersedekah atau berzakat, maka Anda melewatkannya begitu saja. Ketika Anda diberi kesempatan menunaikan haji, maka Anda melewatkannya begitu saja. Dan masih banyak lagi contoh ibadah yang Anda lewatkan; padahal ia sudah berada di hadapan mata. 


Kematian hati yang dimaksud disini adalah tidak adanya rasa cinta kepada-Nya, rasa rindu menghampiri-Nya dan ingin selalu bermunajat kepada-Nya. Jikalau ini dibiarkan, maka ia akan mencapai tingkat kronis, yang membuat Anda tidak sensitif lagi dengan kemaksiatan dan ketaatan. 


Jikalau hati sudah mati, maka Anda tidak akan menyesal ketika berzina, atau mencuri, atau membunuh, atau perbuatan maksiat lainnya. Hati Anda sudah mati, dan tidak ada lagi cahaya keimananannya. Keadaan seperti ini merupakan tanda, bahwa Anda berada di jurang kekufuran. Selamatkanlah diri Anda segera, yaitu dengan menjalankan ketaatan kepada-Nya. 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.