Tidak Beradab kepada Allah Swt

Hikmah Keenam Puluh Tujuh


مِنْ جَهْلِ الْمُرِيْدِ أَنْ يُسِيْءَ الْأَدَبِ فَتُؤَخَّرُ الْعُقُوْبَةُ عَنْهُ فَيَقُوْلُ: لَوْ كَانَ هَذَا سُوْءَ أَدَبٍ لَقُطِعَ الْأَمْدَادُ وَأَوْجَبَ الْإِبْعَادُ. فَقَدْ يُقْطَعُ الْمَدَدُ عَنْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُ وَلَوْ لَمْ يَكُنْ إِلَّا مَنْعَ الْمَزِيْدِ, وَقَدْ يُقَامُ مَقَامُ الْبُعْدِ وَهُوُ لَا يَدْرِي وَلَوْ لَمْ يَكُنْ إِلَّا أَنْ يُخَلِّيَكَ وَمَا تُرِيْدُ

“Di antara tanda kebodohan murid adalah ketika ia tidak sopan, kemudian hukumannya tidak disegerakan. Dia berkata: Jikalau ini tidak sopan, tentu bantuan akan diputus dan harus dijauhkan. Bisa jadi bantuan itu diputuskan darinya; sedangkan ia tidak menyadarinya. Walaupun itu tidak lain hanyalah tidak ada tambahan. Bisa jadi juga ia dijauhkan; sedangkan ia tidak menyadarinya. Walaupun itu tidak lain hanyalah membiarkanmu berbuat sesuka hatimu.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Di antara tanda kebodohan seorang murid adalah ketika ia bersikap kurang ajar kepada Allah Swt, baik dalam perkataannya, perbuatannya, lahirnya dan batinnya. Padahal, ini adalah ilmu yang harus diketahuinya dan dikenalnya, yaitu jikalau ia ingin menuju-Nya. Jikalau ia tidak mengenal-Nya, maka bagaimana ia akan sampai kepada-Nya?!


Misalnya, ketika ia meninggalkan shalat, maka ini adalah bentuk maksiat kepada-Nya. Pada saat itu, Dia memang tidak mengazabnya, sehingga ia berkata, “Jikalau ini maksiat, tentu Dia akan memutuskan nikmat-Nya dariku dan menjauhkanku dari-Nya. Tetapi kenyataannya, tidak.” 


Kepada orang yang seperti ini kita mengatakan, bahwa Anda telah mendapatkan azab-Nya, hanya saja Anda tidak menyadarinya. Bisa jadi nikmat yang Anda dapatkan, tidak pernah bertambah sedikitpun. Itu azab yang paling minimal. Namun bisa juga lebih dari itu, yaitu kehilangan harta benda, atau dirampok, atau kebakaran dan sebagainya. Itu adalah cara-Nya untuk menghilangkan nikmat-Nya darimu. Dia mampu melakukan apa saja yang diinginkan-Nya. 


Jikalau Anda merasa, bahwa Anda sama sekali tidak dijauhkan dari rahmat-Nya, maka Anda salah besar. Bisa jadi, ketika Anda dibiarkannya bermaksiat kepada-Nya, maka itu adalah azab bagi Anda. Apakah Anda tidak menyadari, bahwa semakin banyak maksiat yang Anda lakukan, maka semakin besar kesempatan Anda menghuni neraka-Nya. Apakah Anda tidak tahu, bahwa jikalau Anda diuji-Nya untuk membuat Anda sadar adalah sebuah kenikmatan yang tersembunyi. Sadarilah itu. Jikalau Anda masih merasa aman, maka itu adalah kesalahan yang nyata dalam berfikir.  

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.