Penyebab Allah Swt Terhijab Dari Anda

Penyebab Allah Swt Terhijab Dari Anda


Hikmah Keseratus Enam Puluh Enam

Penyebab Allah Swt Terhijab Dari Anda

إِنَّمَا حَجَبَ الْحَقُّ عَنْكَ شِدَّةُ قُرْبِهِ مِنْكَ

“Allah Swt terhijab dari dirimu karena sangat dekat-Nya denganmu.” 


Ibn Athaillah al-Sakandari

(Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari)


Allah Swt terhijab dari Anda, karena kedekatan-Nya yang luar biasa kepada Anda. Kedekatan yang dimaksud disini adalah kedekatan yang sesuai dengan keagungan-Nya dan kemuliaan-Nya, bukan seperti kedekatan biasa layaknya manusia; seperti yang Anda bayangkan. 

Cobalah Anda perhatikan, bagaimana jikalau sesuatu itu berada tepat di hadapan Anda, bahkan menempel ketat. Apakah Anda bisa menyaksikannya? Tentu tidak, bahkan ia akan menutupi pandangan Anda. Berbeda halnya dengan sesuatu yang memiliki jarak dengan mata Anda, maka Anda akan mampu melihatnya dengan jelas. 

Misalnya, jikalau ada gajah tepat berada di pelupuk mata Anda, tentu pandangan Anda akan tertutup dan sama sekali tidak mampu menyaksikan belalainya, badannya yang gemuk dan telingan yang besar. Namun jikalau gajah itu berada agak jauh dari Anda; walaupun hanya semeter, maka Anda akan mampu menyaksikan badannya dengan semua sisinya. 

Begitulah kira-kira pemisalannya. Dan Allah Swt tentu lebih Mulia dan lebih Agung dari contoh rendahan ini. 

Hubungan Dengan Allah Swt

Hubungan Dengan Allah Swt


Hikmah Keseratus Enam Puluh Lima

Hubungan Dengan Allah Swt


مَنْ عَرَفَ الْحَقَّ شَهِدَهُ فِي كُلِّ شَيْءٍ. وَمَنْ فَنِيَ بِهِ غَابَ عَنْ كُلِّ شَيْءٍ. وَمَنْ أَحَبَّهُ لَمْ يُؤْثِرْ عَلَيْهِ شَيْئًا

“Barangsiapa yang mengenal Allah Swt, maka ia akan menyaksikan-Nya di dalam segala sesuatu. Barangsiapa yang fana dengan-Nya, maka ia akan lenyap dari segala sesuatu. Barangsiapa yang mencintai-Nya, maka ia tidak akan mengutamakan apapun selain-Nya.”


Ibn Athaillah al-Sakandari

(Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari)

 

Barangsiapa yang mengenal Allah Swt, maka ia akan melihatnya di dalam segala sesuatu. Setiap kali menyaksikan alam semesta ini, maka akan semakin besar keyakinannya. Tidak ada yang mampu mengatur hembusan angin, turunnya hujan, perputaran cakrawala, kecuali Zat yang Maha Kuasa. 

Barangsiapa yang fana dengan cahaya-Nya, yang tertambat di dalam hati setiap hamba, maka ia akan lenyap dari segala sesuatu. 

Pandangannya hanya tertuju kepada-Nya. Apakah Anda tidak menyaksikan, bagaimana seandainya jikalau matahari terbit; apakah bulan dan bintang-bintang masih mampu menampakkan sinarnya?! Tidak. Hanya cahaya mataharilah yang mendominasi semesta ini, tiada yang mampu menyainginya. 

Dan barangsiapa yang mencintai-Nya, maka Dia tidak akan mendahulukan apapun selain diri-Nya. Ketika ada bentrokan antara kepentikan pribadinya dengan kepentingan di jalan-Nya, maka ia akan mendahulukan-Nya. 

Misalnya, ketika ada panggilan dakwah, sedangkan pada saat bersamaan panggilan dunia juga menyerunya, maka ia akan mendahulukan-Nya. Atau ketika ada panggilan untuk berkorban harta di jalan-Nya, kemudian ada juga rayuan untuk memberli mobil baru, maka ia lebih mendahulukan kepentingan-Nya, bukan kepentingan pribadinya, atau lebih tepat hawa nafsunya. Begitulah di antara contoh real yang bisa Anda temukan di dalam kehidupan sehari-hari. 

Intinya, kerahkan seluruh kemampuan Anda dan hidup Anda untuk mengenal-Nya, karena itulah kehidupan sebenarnya.

Harapkanlah Allah Swt Semata

Harapkanlah Allah Swt Semata


Hikmah Keseratus Enam Puluh Empat

Harapkanlah Allah Swt Semata

غَيِّبْ نَظْرَ الْخَلْقِ إِلَيْكَ بِنَظْرِ اللهِ إِلَيْكَ. وَغِبْ عَنْ إِقْبَالِهِمْ إِلَيْكَ بِشُهُوْدِ إِقْبَالِهِ عَلَيْكَ

“Hilangkanlah pandangan makhluk kepada dirimu dengan pandangan Allah Swt. Lupakanlah sambutan mereka untukmu dengan menyaksikan penyambutan-Nya.”


Ibn Athaillah al-Sakandari

(Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari)


Jikalau Anda adalah orang yang senang diperhatikan orang lain, terutama dalam ibadah, maka segeralah Anda bertaubat dan kembali ke jalan yang benar. Apa yang akan Anda dapatkan dari manusia, selain pujian? Apakah mereka akan memberikan Anda harta yang melimpah, atau salah satu mobil mewahnya, atau salah seorang istri cantiknya? Tidak, sekali lagi tidak. Mereka tidak akan memberikan semua itu kepada Anda. Anda hanya akan dibuatnya lalai dan lupa diri. Dan ingatlah, di Akhirat kelak Anda akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah Swt. 

Jikalau Anda ingin diperhatikan, maka berusahakan mendapatkan perhatian Allah Swt, Zat yang Maha Mengetahui dan mampu melakukan apapun yang diinginkan-Nya. Kemuliaan dan kehormatan yang Anda inginkan berada di tangan-Nya. Berapa banyak manusia di dunia ini yang mengharapkan kemuliaan, namun Dia tidak pernah memberikannya kepada mereka. Di antara mereka ada yang rela menipu dan korupsi, agar bisa mendapatkan banyak harta dan dihormati manusia, namun justru yang didapatkannya kehinaan. Di antara mereka ada yang berlomba-lomba ingin jadi pemimpin dan pejabat, namun ia justru dijatuhkan karena niatnya tidak tulus dan ikhlas. Dan banyak lagi contoh lainnya. 

Dan berapa banyak orang-orang yang tidak ingin terkenal, namun Dia membuatnya tersohor dan dihormati manusia, karena ibadahnya dan seluruh amalannya dilakukan penuh keikhlasan, semata-mata hanya mengharapkan ridho-Nya. Dia Maha Mengatahui apa yang ada di dalam hati Anda, sebagaimana Dia mengetahui apa yang ada di dalam perbuatan lahir Anda. Dia mengetahui niat Anda ketika melakukan sesuatu, apakah demi ketenaran atau tidak. 

Dan ingatlah, Dia tidak ingin dipersekutukan dengan siapapun ketika disembah. Jikalau Anda melakukannya, maka bersiap-siaplah memasuki neraka-Nya yang sangat panas membara. Anda akan menyesalinya dan tidak akan mampu keluar darinya. 

Janganlah berharap dengan ibadah Anda, orang-orang akan menghampiri Anda. Jangan, sekali lagi jangan. Jikalau mereka berada di sekeliling Anda, apakah yang akan Anda dapatkan darinya. Mungkin Anda akan mendapatkan sedikit pujian, namun kerugian yang Anda dapatkan akan lebih besar. 

Berharaplah Allah Swt yang menghampiri Anda. Dialah yang memberikan Anda rezki dan kehidupan di dunia ini. Apakah Anda tidak memiliki rasa malu; jikalau Anda berpaling dari-Nya kepada para makhluk yang justru menyembah-Nya. Apakah Anda tidak malu jikalau Anda memakan rezki-Nya dan menikmati karunia-Nya, kemudian Anda membelakangi-Nya dan meninggalkan-Nya?!

Jikalau Anda melakukannya, berarti Anda tidak menggunakan otak Anda yang merupakan salah satu karunia-Nya. 

Sunnah Berusaha Mendapatkan Lailatul Qadar

Sunnah Berusaha Mendapatkan Lailatul Qadar


Ada sejumlah waktu yang Allah SWT lebih muliakan dibandingkan yang lainnya, sebagaimana Dia memuliakan sejumlah hal dibandingkan yang lainnya. 
Afdhal al-Anbiya'; Nabi terbaik adalah Nabi Muhammad Saw. Afdhal al-Malaikah; Malaikat terbaik adalah Jibril alaihissalam. Afdhal al-Kalam; kalam terbaik adalah kalamullah. Afdhal al-Syuhur; sebaik-baik bulan adalah bulan Ramadhan. dan Afdhal al-Layali; sebaik-baik malam adalah malam Lailatul Qadar; malam yang lebih baik dari 1000 bulan. 
Dalam al-Quran dijelaskan: 
لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ
Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan." (Surat al-Qadar: 3)
Maka, salah satu sunnahnya adalah kita berusaha untuk mendapatkan malam yang mulia ini, agar kita tidak kehilangan keutamaannya. 
Diriwayatkan oleh al-Bukhari, dari Aisyah radhiyallahu anha, Rasulullah Saw bersabda: 
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ في الوَتْرِ مِنَ العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
"Carilah Lailatul Qadar di bagian ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan." 
Ketika kita 10 hari terakhir bulan Ramadhan, yang biasanya diisi dengan Ibadah I'tikaf, salah satu hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah Qiyamullail; menghidupkan malam dengan Shalat Tarawih, Shalat Tahajjud, dan berbagai ibadah lainnya. Termasuk juga mengkaji dan mentadabburi makna-makna al-Quran, berharap ampunan dan rahmat Allah SWT. 
Diriwayatkan oleh al-Bukhari, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi Muhammad Saw bersabda: 
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيمانًا واحْتِسَابًا، غُفِر لَهُ مَا تقدَّم مِنْ ذنْبِهِ
"Siapa yang menegakkan malam Lailatul Qadar dengan Iman dan mengharapkan ridha Allah SWT, maka diampunkan dosa-dosanya yang terdahulu." []
Keinginan Mengetahui Keistimewaan Diri

Keinginan Mengetahui Keistimewaan Diri


Hikmah Keseratus Enam Puluh Tiga

Keinginan Mengetahui Keistimewaan Diri

اسْتِشْرَافُكَ أَنْ يَعْلَمَ الْخَلْقُ بِخُصُوْصِيَّتِكَ دَلِيْلٌ عَلَى عَدَمِ صِدْقِكَ فِي عُبُوْدِيَّتِكَ

“Keinginanmu agar para makhluk mengetahui kekhususanmu adalah tanda ketidaktulusanmu dalam ibadahmu.” 


Ibn Athaillah al-Sakandari

(Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari)


Keingian Anda agar dikenal sebagai orang istimewa di hadapan Allah Swt adalah tanda ketidak tulusan ibadah Anda. Jikalau Anda tulus, maka Anda tidak akan memperdulikan pandangan orang lain. Konsentrasi Anda hanya tertuju untuk-Nya. Walaupun orang lain tahu atau tidak, bagi Anda bukanlah sebuah masalah. 

Hanya Dia lah yang akan menilai amalan Anda, bukan manusia. Jikalau, misalnya, Anda ingin dikenal orang lain, namun Dia tidak menginginkannya, maka Anda tidak akan pernah dikenal; walaupun Anda telah promosi kesana dan kemari. Sebaliknya, jikalau Dia menginginkan Anda untuk terkenal; walaupun Anda tidak menginginkannya, maka Anda akan terkenal dengan sendirinya. Keutamaan dan kemuliaan itu berada di tangan-Nya. Dia akan memberikannya kepada siapapun yang diinginkan-Nya. 

Hati-hatilah dengan jebakan ini, karena sudah banyak orang yang terjerumus ke dalamnya. Hanya orang-orang pilihan-Nya lah yang mampu menghindarinya.  

Riya

Riya


 Hikmah Keseratus Enam Puluh Dua

Riya

رُبَمَا دَخَلَ عَلَيْكَ الرِّيَاءُ مِنْ حَيْثُ لَا يَنْظُرُ الْخَلْقُ إِلَيْكَ

“Bisa jadi riya itu menyusup ke dalam dirimu dari arah yang tidak terlihat oleh para makhluk.”


Ibn Athaillah al-Sakandari

(Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari)


Riya adalah salah satu bentuk kesyirikan yang dibenci oleh Allah Swt. Ia tidak tampak jikalau dilihat dengan mata telanjang, namun ia bisa dirasakan oleh pelakunya sendiri. Sikap ini harus dijauhkan dan dihindari oleh setiap hamba, agar amalan yang dikerjakannya tidak sia-sia dan beterbangan layaknya debu ditiup angin. 

Riya ini biasanya akrab dengan sikap menampakkan ibadah atau ketaatan di hadapan orang banyak. Misalnya, ketika Anda shalat, maka Anda sengaja mengerjakannya di hadapan khalayak ramai dengan penuh kekhusyuan dan dipanjangkan waktunya, agar mereka mengira Anda orang shaleh yang layak dicontoh dan dihormati. 

Namun ada satu sikap yang lebih sulit lagi dicerna, yaitu ketika Anda menghindari riya justru untuk riya. Apakah Anda bisa memahaminya?

Jikalau belum, begini gambarannya. Ketika Anda mengerjakan shalat, Anda sengaja menghindari khalayak agar tidak disangka riya. 

Kemudian Anda sengaja berkhalwat dan menyendiri, namun di balik semua itu Anda justru ingin dilihat orang lain dan dipuji. Anda ingin menjadi buah bibir manusia: “Lihatlah si Fulan bin Fulan. Ia sangat rajin beribadah dan berkhalwat. Kita memang tidak menyaksikan ibadahnya di depan umum, karena ia melakukannya secara sembunyi-sembunyi.” 

Jikalau ada rasa ingin dipuji di baliak khalwat yang Anda lakukan, maka disanalah riya yang tidak dilihat oleh khalayak. Justru sikap ini lebih 

berbahaya lagi dari riya yang dilakukan di hadapan orang banyak. Jikalau Anda tidak segera menyadarinya, maka Anda akan larut di dalamnya. Akhirnya, amal ibadah yang Anda kerjakan akan sia-sia belaka. Apalah gunanya amalan yang tidak ada nilainya sama sekali di hadapan sang Khalik?!

Berhati-hatilah. Jangan sampai Anda masuk ke dalam perangkat setan.