Nikmat Penciptaan & Nikmat Pemenuhan

Nikmat Penciptaan & Nikmat Pemenuhan


Hikmah Kesembilan Puluh Sembilan

أَنْعَمَ عَلَيْكَ أَوَّلًا بِالْإِيْجَادِ وَثَانِيًا بِتَوَالِي الْإِمْدَادِ

“Allah Swt mengaruniakanmu nikmat perciptaan terlebih dahulu, kemudian baru limpahan rezki-Nya.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Allah Swt mengaruniakan Anda nikmat penciptaan terlebih dahulu. Dia menciptakan Anda dari tanah, dan menetapkan asal penciptaan Anda dari air mani yang hina. Anda adalah bukti kekuasaan-Nya, dan tidak ada seorangpun yang mampu menandinginya. 

Setelah Anda diciptakan-Nya, maka Anda diberikan berbagai nikmat-Nya, baik makanan, minuman, kesehatan, harta dan sebagainya. Dengan semua itu, Anda bisa menjalani hidup normal layaknya manusia lainnya. Bahkan kadang-kadang Anda diberikan-Nya kelebihan yang menaikkan status sosial Anda di tengah-tengah masyarakat. 

Bersyukurlah kepada-Nya dan jangan pernah menyia-nyiakan karunia-Nya. Anda diciptakan-Nya untuk menghamba dan mengabdi kepada-Nya. Jalankanlah semua perintah-Nya dan jauhilah semua larangan-Nya.  

Dua Nikmat Utama

Dua Nikmat Utama


Hikmah Kesembilan Puluh Delapan

نِعْمَتَانِ مَا خَرَجَ مَوْجُوْدٌ عَنْهُمَا وَلَابُدَّ لِكُلِّ مُكَوِّنٍ عَنْهُمَا نِعْمَةُ الْإِيْجَادِ وَنِعْمَةُ الْإِمْدَادِ

“Ada dua jenis kenikmatan yang harus dirasakan oleh para makhluk dan harus dialaminya: Nikmat penciptaaan dan nikmat pemenuhan kebutuhan.”


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Ada dua jenis kenikmatan yang pasti dirasakan oleh seluruh manusia, baik muslim maupun kafir, baik beriman maupun musyrik. Pertama, nikmat perciptaan. Ini menujukkan ke Maha Hebatan Allah Swt. Bagaimana Dia menciptakan makhluk-Nya, yang sekaligus menunjukkan eksistensi-Nya sebagai Khalik. Sekecil apapun makhluk yang Anda lihat di alam semesta ini, ia adalah bukti keagungan-Nya. 

Anda telah diciptakan-Nya dengan sebaik-baik bentuk. Muka Anda diletakkan-Nya di depan, kepala Anda diletakkan-Nya di atas, kaki Anda di letakkan-Nya di bawah dan lain-lain. Semua bagian diletakkan di posisi yang tepat, sehingga Anda tampak gagah dan menarik. Seharusnya, Anda harus bersyukur dan hanya menggantungkan harapan kepada-Nya.  

Setelah seluruh makhluk diciptakan-Nya, maka semuanya dipenuhi kebutuhannya. Baik Kafir maupun muslim dipenuhi kebutuhan makanannya, minumannya, pakaiannya, tempat tinggalnya dan sebagainya. Tidaklah Anda menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana orang-orang kafir mendapatkan limpahan harta; padahal mereka mengingkari-Nya?! Itu adalah karunia-Nya. Hukum-Nya menetapkan, siapa yang rajin berusaha, maka akan mendapatkana hasil yang lebih banyak.  

Maksiat yang Lebih Baik dari Ketaatan

Maksiat yang Lebih Baik dari Ketaatan


Hikmah Kesembilan Puluh Tujuh

مَعْصِيَةٌ أَوْرَثَتْ ذُلًّا وَافْتِقَارًا خَيْرٌ مِنْ طَاعَةٍ أَوْرَثَتْ عِزًّا وَاسْتِكْبَارًا

“Maksiat yang melahirkan kehinaan dan kefakiran, lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan rasa bangga dan sombong.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Ketika seseorang melakukan maksiat, kemudian ia menyesalinya, merasa dirinya hina di hadapan Allah Swt dan sangat membutuhkan pengampunan-Nya, itu jauh lebih dari dari seseorang yang mengerjakan ketaatan, namun itu hanya melahirkan rasa bangga dan sombong di dalam dirinya. 

Jikalau Anda adalah seorang pendosa, maka janganlah cepat-cepat putus asa, bahkan jangan pernah melakukannya. Sesalilah semua yang telah Anda kerjakan di masa lalu dan segeralah kembali kepada-Nya. Jikalau air mata Anda masih mengalir, itu adalah tanda bahwa hati Anda masih ada harapan untuk dihidupkan lagi; jikalau selama ini telah ditutupi debu-debu kemaksiatan.

Jikalau Anda adalah seseorang yang rajin beribadah dan menjalankan berbagai ketaaran, maka janganlah berbangga diri. Itu adalah nikmat-Nya kepada Anda yang bisa diambilnya kapan saja diinginkan-Nya. Ketaatan kepada-Nya adalah sebuah kewajiban yang harus Anda jalankan sebagai hamba, dan sama sekali tidak ada ruang untuk membanggakannya. 

Selalulah merendahkan diri di hadapan-Nya dan tunjukkan rasa kebutuhan Anda kepada-Nya, karena Dia adalah Zat yang Maha Kuasa dan mampu melakukan apapun yang diinginkan-Nya

Teka-Teki Ketetapan Allah Swt

Teka-Teki Ketetapan Allah Swt


Hikmah Kesembilan Puluh Enam

رُبَمَا فَتَحَ لَكَ بَابَ الطَّاعَةِ وَمَا فَتَحَ لَكَ بَابَ الْقَبُوْلِ, وَرُبَمَا قَضَى عَلَيْكَ بِالذَّنْبِ فَكَانَ سَبَبًا لِلْوُصُوْلِ

“Barangkali Allah Swt membukakan bagimu pintu ketaatan, akan tetapi Dia tidak membukakan bagimu pintu penerimaan. Barangkali Dia menetapkanmu berbuat dosa, akan tetapi itu adalah sebab yang mengantarkanmu kepada-Nya.”


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Ketika Anda mampu dan mendapatkan kesempatan melakukan ketaatan, maka janganlah Anda membanggakannya. Janganlah Anda merasa aman dari azab-Nya. Apakah Anda yakin, bahwa semua amalan yang Anda kerjakan akan diterima-Nya?! Apa jaminannya, bahwa Anda akan mendapatkan surga-Nya dan selamat dari neraka-Nya?! Tidak ada, sekali lagi tidak ada. Kesempatan yang diberikan-Nya kepada Anda untuk mengerjakan ketaatan adalah nikmat, tetapi jangan sombong dan membanggakannya. Ia adalah kebaikan, dan jangan menjadikannya sebagai jalan menuju maksiat. Ikhlaslah dalam beribadah kepada-Nya. setidaknya Anda sudah memiliki nilai kebaikan ketika menjalankan perintah-Nya. 

Dan barangkali Dia menetapkan Anda untuk bermaksiat, namun itu adalah jalan Anda menuju ke hadirat-Nya. Coba saksikan di lingkungan sekitar Anda, berapa banyak orang-orang yang dahulunya tukang maksiat, sekarang malah lebih taat dan shaleh, serta tidak mau melakukan perbuatan maksiat lagi! Ia menyesali semua perbiuatan jahat yang pernah dilakukannya di masa lalu. Itulah yang membuatnya tersungkur di hadapan-Nya dan menangisi kehinaannya. 

Maksiat yang dilakukannya berbuah hidayah, dan bisa jadi itulah yang akan mengantarkannya menuju kematian dalam keadaan Husnul Khatimah. Dan berapa banyak orang-orang yang menjalani hidupnya dalam ketaatan semenjak kecilnya, namun ketika maut hampir menghampiri, ia berubah total, sehingga perpisahannya dengan dunia ini dilaluinya dengan Suul Khatimah. 

Kita berlindung kepada Allah Swt segala keburukan. Mudah-mudahan kita dianugerahkannya kebaikan di dalam setiap ketetapan-Nya

Tidak Memahami Hikmah Allah Swt

Tidak Memahami Hikmah Allah Swt


Hikmah Kesembilan Puluh Lima

إِنَّمَا يُؤْلِمُكَ الْمَنْعُ لِعَدَمِ فَهْمِكَ عَنِ اللهِ فِيْهِ
“Engkau merasa tersakiti ketika tidak diberikan nikmat oleh Allah Swt, maka itu karena Engkau tidak memahami rahasia-Nya di balik itu.” 

(Ibn Athaillah al-Sakandari)
[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Salah satu fithrah manusia adalah suka berkeluh-kesah ketika ditimpa suatu musibah. Ketika salah seorang saudaranya atau keluarganya meninggal, maka dia akan menangis dan bersedih. Ketika rumahnya terbakar dan hartanya hilang, maka dia akan menangis. Jikalau dalam batas-batas tertentu, menangis itu bukanlah suatu masalah. Namun jikalau berlebihan, maka disitulah letak masalahnya. 
Orang yang Arif tidak akan larut dalam kesedihan atas apapun bencana yang menimpanya. Baginya, segala yang ditetapkan oleh Allah Swt adalah kebaikan. Hanya saja, kadang-kadang ia tidak bisa memahami hikmah dan rahasia yang ada di baliknya. 
Ingatlah, hanya orang jahillah yang merasa tersiksa dengan bencana yang diturunkan-Nya. Ada satu point yang perlu Anda ingat dalam hal apapun: Ada hikmah di balik setiap ketetapan-Nya
Rahasia di Balik Pemberian Allah Swt

Rahasia di Balik Pemberian Allah Swt


Hikmah Kesembilan Puluh Empat

مَتَى أَعْطَاكَ أَشْهَدَكَ بِرَّهُ, وَمَتَى مَنَعَكَ أَشْهَدَكَ قَهْرَهُ, فَهُوَ فِي كُلِّ ذَلِكَ مُتَعَرِّفٌ إِلَيْكَ وَمُقْبِلٌ بِوُجُوْدِ لُطْفِهِ إِلَيْكَ

“Ketika Allah Swt memberimu kenikmatan, maka Dia memperlihatkan kebaikan-Nya kepadamu. Ketika Dia menghalangimu mendapatkannya, maka Dia memperlihatkan kekuatan-Nya kepadamu. Dalam semua itu, Dia memperkenalkan diri-Nya kepadamu dan menghampirimu dengan kelemah-lembuatanNya.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Ketika Allah Swt memberikan berbagai nikmat-Nya dan rezki-Nya kepadamu, maka Dia sedang menunjukkan sifat-sifat kebaikan-Nya kepada-Mu. Anda bisa bernafas, bisa berjalan, bisa makan, bisa minum dan lain-lainnya, semua itu adalah implementasi sifat-sifatNya yang Maha Mulia lagi Maha Agung. 

Sebaliknya, ketika Anda dihalangi dari suatu kenikmatan, berarti Dia sedang menunjukkan kekuatan-Nya kepadamu. Contoh ringannya, ketika Anda tidak mendapatkan suatu proyek yang bernilai jutaan rupiah; padahal biasanya Anda bisa mendapatkannya dengan mudah, berarti Dia sedang menunjukkan kepada Anda bahwa semua yang Anda peroleh adalah karunia-Nya dan dengan izin-Nya. Walaupun, misalnya, Anda sudah bekerja keras, namun Dia tidak menginginkannya, maka Anda tidak akan mendapatkannya sama sekali. 

Dia melakukan semua itu, agar Anda semakin mengenal-Nya. Anda hanyalah hamba yang tidak mampu melakukan apapun. Dialah yang menentukan segalanya. Apapun ketetapan-Nya adalah kebaikan bagi Anda; walaupun itu buruk dalam pandangan Anda. 

Dia adalah Zat yang Maha Mengatahui dan Maha Bijaksana. Dan hanya jiwa-jiwa yang mendapatkan cahaya-Nya sajalah yang mampu memahami rahasia di balik semua ketentuan-Nya.  

Beribadah untuk Mengharapkan Sesuatu dan Menghindari Sesuatu Lainnya

Beribadah untuk Mengharapkan Sesuatu dan Menghindari Sesuatu Lainnya


Hikmah Kesembilan Puluh Tiga

مَنْ عَبَدَهُ لِشَيْءٍ يَرْجُوْهُ مِنْهُ أَوْ لِيَدْفَعَ بِطَاعَتِهِ وُرُوْدَ الْعُقُوْبَةِ عَنْهُ فَمَا قَامَ بِحَقِّ أَوْصَافِهِ

“Barangsiapa yang menyembah Allah Swt untuk sesuatu yang diharapkannya atau untuk menolak siksaan dengan ketaatannya, maka ia belum menunaikan hak sifat-sifatNya.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Jikalau Anda menyembahnya untuk mendapatkan sesuatu dari-Nya, atau mengharapkan ganjaran-Nya, atau untuk menghindari siksaan yang dijanjikan-Nya, berarti Anda belum menunaikan hak-hak sifatNya. Anda harus tahu, bahwa Anda menyembah-Nya bukan untuk mendapatkan nikmat-Nya atau menghindari azab-Nya, akan tetapi semata-mata karena kebesaran Zat-Nya dan keagungan sifat-sifatNya. 

Bukankah Dia adalah Zat yang Maha Kuasa, yang mampu melakukan apapun kepada para hamba-Nya?! Walaupun, misalnya, Anda tidak menunaikan amal kebaikan dan tidak mengerjakan ibadah untuk menyembah-Nya, maka Dia akan tetap memberikan rezki-Nya kepada Anda. 

Walaupun Anda menyembahnya sepanjang hayat Anda dan dalam setiap desah nafas Anda, namun jikalau Dia menginginkan Anda mendapatkan siksaan-Nya atau terhalang dari rezki-Nya, maka Anda tetap tidak akan mendapatkannya. 

Beribadahlah kepada-Nya dengan keikhlasan hati. Janganlah beribadah semata-mata mengharapkan balasan-Nya. Anda adalah hamba-Nya, bukan hamba balasan yang telah dijanjikan-Nya. Jikalau Anda menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, Anda akan mendapatkan hak Anda dengan sendirinya.