Memahami Sebab Terhalangnya Nikmat

Memahami Sebab Terhalangnya Nikmat


Hikmah Kedelapan Puluh Lima

مَتَى فَتَحَ لَكَ بَابَ الْفَهْمِ فِي الْمَنْعِ, عَادَ الْمَنْعُ عَيْنَ الْعَطَاءِ

“Ketika Allah Swt membukakan bagimu pintu pemahaman, kenapa engkau tidak diberikan-Nya nikmat, maka itu adalah nikmat yang sesungguhnya.”


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]

  

Ketika Anda mampu memahami, mengapa Allah Swt tidak memberikan Anda curahan nikmat-Nya, berarti Anda telah mendapatkan kenikmatan besar, yaitu kebijaksanaan dan kemampuan mengenal hikmah di balik ketetapan-Nya. 

Bisa jadi jikalau Dia memberikan Anda nikmat sekarang ini, maka Anda akan kufur dan ingkar kepada-Nya, bahkan keluar dari jalur ketaatan. Ini tentu merupakan sebuah bencana besar bagi seorang muslim. Tugas utama seorang hamba adalah ibadah kepada-Nya, tidak ada yang lainnya. Seluruh geraknya dan usahanya adalah untuk mendapatkan ridho-Nya. 

Dia lebih mengetahui kapan Anda harus mendapatkan nikmat-Nya. jikalau ia adalah milik Anda dan bagian Anda, maka Anda akan mendapatkannya. Walaupuan seluruh manusia di dunia ini menghalanginya, maka mereka tidak akan mampu melakukannya. Dan jikalau nikmat itu bukan milik Anda, maka walaupun seluruh manusia di dunia ini berusaha memberikannya kepada Anda, maka Anda tidak akan pernah berhasil memilikinya. 

Hikmah-Nya pasti ada di balik setiap ketetapan-Nya

Kenikmatan Dunia dan Taufik Allah Swt

Kenikmatan Dunia dan Taufik Allah Swt


Hikmah Kedelapan Puluh Empat

رُبَمَا أَعْطَاكَ فَمَنَعَكَ, وَرُبَمَا مَنَعَكَ فَأَعْطَاكَ

“Barangkali Allah Swt  memberikanmu (nikmat dunia), namun menghalangimu (nikmat akhirat). Dan barangkali Dia menghalangimu (nikmat dunia), namun memberimu (nikmat akhirat).” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Bisa jadi Allah Swt memberikan Anda berbagai kenikmatan di dunia ini. Anda memiliki uang yang banyak, harta yang melimpah, rumah mewah, mobil mahal dan sebagainya, namun semua itu justru membuat Anda lalai dan tidak pernah bersyukur kepada-Nya. Ini adalah bencana bagi Anda. Dia mengazab Anda dengan sesuatu yang tidak Anda sadari. Anda menyangka nikmat, padahal bencana. 


Jikalau Anda merasakan kesengsaraan hidup di dunia ini; padahal Anda telah taat menjalankan semua perintah-Nya, maka bisa jadi Anda akan mendapatkan kenikmatan yang lebih baik di Akhirat kelak, yaitu surga-Nya. kesengsaraan yang Anda rasakan di dunia akan segera lenyap ketika Anda melangkahkan kaki di surga-Nya. Seluruh kenikmatan yang selama ini belum Anda dapatkan, maka Anda akan  merasakannya disana. 


Lebih baik dari itu adalah apabila Anda mendapatkan kebaikan dunia dan kebaikan akhirat. Dan itu adalah harapan setiap muslim. Mudah-mudah kita semua mendapatkannya

Intervensi Nafsu Dalam Lapang dan Sempit

Intervensi Nafsu Dalam Lapang dan Sempit


Hikmah Kedelapan Puluh Tiga

الْبَسْطُ تَأْخُذُ النَّفْسُ مِنْهُ حَظَّهَا بِوُجُوْدِ الْفَرْحِ, وَالْقَبْضُ لَا حَظَّ لِلنَّفْسِ فِيْهِ

“Nafsu mengambil peranan dalam masa lapang, yaitu dengan kebahagiaan. Dan nafsu tidak ada peranan dalam masa sempit.”


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Biasanya, ketika seseorang mendapatkan kelapangan, baik harta maupun nikmat lainnya, ia senang dan bahagia. Jikalau tidak hati-hati, maka ini adalah jalan masuknya nafsu. Ketika itu ia akan meremehkan orang-orang yang kurang darinya, baik kurang harta maupun kurang bahagia atau sedang menderita. Ini adalah bentuk adab yang buruk terhadap makhluk. 


Lebih parah lagi, jikalau tidak hati-hati, maka ia akan terjerumus dalam sikap kurang ajar terhadap Allah Swt, misalnya merasa hebat dan sombong karena berhasil mendapatkan kelapangan. Ia merasa, bahwa semua yang didapatkannya adalah hasil kerja kerasnya dan buah keringatnya. Padahal kenyataannya tidaklah seperti itu. Semua yang didapatkannya adalah karunia-Nya. 


Ini berbanding terbalik dengan kesempitan. Dalam keadaan ini, tidak ada intervensi nafsu. Jiwanya sudah dipenuhi keresahan, kegelisahan dan kebutuhan kepada-Nya. Bagaimana mungkin ia akan menjauhi-Nya; padahal ia justru sangat membutuhkan-Nya. Ia akan semakin menjaga adab-adabnya bersama-Nya, sehingga bisa mendapatkan curahan rahmat-Nya dan rezki-Nya.  

Antara Kelapangan dan Kesempitan

Antara Kelapangan dan Kesempitan


Hikmah Kedelapan Puluh Dua

الْعَارِفُوْنَ إِذَا بُسِطُوْا أَخْوَفُ مِنْهُمْ إِذَا قُبِضُوْا, وَلَا يَقِفُ عَلَى حُدُوْدِ الْأَدَبِ فِي الْبَسْطِ إِلَّا قَلِيْلٌ

“Orang-orang Arif lebih takut jikalau dilapangkan daripada disempitkan. Tidak ada yang mampu menjaga batasan-batasan adab ketika lapang, kecuali sedikit.”


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Orang-orang yang Arif lebih takut menghadapi kekayaan daripada kemiskinan. Dalam kehidupan sehari-hari Anda bisa menyaksikan, jutaan kaum muslimin yang tergelincir dalam jurang kemaksiatan karena rayuan harta. Seseorang yang dulu shaleh dan rajin ke Mesjid, tiba-tiba kehidupannya berubah 180 derajat. Tidak mau ke Mesjid, bahkan cenderung menjauhi. Seseorang yang dulunya rajin berdakwah dan beribadah, sekarang harus larut dalam kefuturannya dan kelalaiannya, karena tuntunan harta selalu membuatnya sibuk. 

Berbeda halnya dengan kemiskinan. Di satu sisi, ia memang mendekatkan kepada kekufuran; sebagaimana sabda Rasulullah Saw. Namun di sisi lain, jikalau keimanan kuat, keadaan justru lebih akan mendekatkan kepada-Nya. Seorang yang hidup sempit dan menderita, lebih besar kemungkinan mendekatkan diri kepada-Nya, karena ia merasa hina dan butuh kepada-Nya. 

Semenjak zaman dahulu sampai sekarang ini, masih menjadi perdebatan hebat di antara para ulama tentang siapa yang paling mulia di sisi-Nya: Orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang bersabar.

Masing-masing kelompok ini memiliki kedudukan istimewa di sisi-Nya. Selama orang kaya mau mensyukuri nikmat-Nya, yaitu dengan mengeluarkan zakatnya dan memamfaatkannya di jalan kebenaran, tentu ia akan mendapatkan keutamaan di sisi-Nya. Di sisi lain, jikalau seorang miskin mampu bersabar menghadapi kesempitan hidupnya, tentu ia layak menempati surga Ar-Rahman.

Namun ada satu hal yang bisa memuliakan orang kaya yang bersyukur, yaitu ketika ia bisa melakukan semua ibadah yang dilakukan oleh orang miskin, seperti shalat, zikir, puasa dan sebagainya, plus ia bisa menyumbangkan hartanya di jalan-Nya. Dan point terakhir ini tidak bisa dilakukan oleh orang miskin. 

Intinya, apapun yang menimpa Anda, baik kelapangan maupun kesempitan, maka bersikap bijaklah. Jikalau lapang, jangan sombong dan terlena. Jikalau sempit, maka janganlah putus asa. Kembalilah kepada-Nya, karena itulah adalah sebaik-baik tempat kembali

Kembali Kepada Allah Swt

Kembali Kepada Allah Swt


Hikmah Kedelapan Puluh Satu

بَسَطَكَ كَيْ لَا يُبْقِيَكَ مَعَ الْقَبْضِ وَقَبَضَكَ كَيْ لَا يَتْرُكُكَ مَعَ الْبَسْطِ وَأَخْرَجَكَ عَنْهُمَا كَيْ لَا تَكُوْنَ لِشَيْءٍ دُوْنَهُ

“Allah Swt memberikanmu kelapangan, agar  engkau tidak selamanya berada dalam kesempitan. Dan Dia menyempitkanmu, agar engkau tidak selamanya berada dalam kelapangan. Dia mengeluarkanmu dari kedua keadaan di atas, agar engkau tidak bergantung dengan selain-Nya.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Allah Swt memberikan kelapangan hidup, agar Anda tidak selamanya menjalani hidup menderita. Dia memberimu rezki, agar Anda bisa makan, minum, memiliki rumah, kekayaan dan sebagainya. Dia juga menganugerahkan Anda keindahan, kebahagiaan dan ketenangan jiwa. Semua itu merupakan salah satu bentuk nikmat-Nya kepadamu. 

Pada saat yang bersamaan, Dia juga memberikan kesempitan hidup, agar Anda tidak selamanya berada dalam kelapangan. Kadang-kadang Anda merasakan kesusahan hidup, sehingga tidak mendapatkan apapun yang akan Anda dimakan. Perut lapar, namun uang tidak ada. Atau Anda memiliki uang, namun Anda ditimpakan penyakit, sehingga Anda tidak bisa menikmati apa yang diberikan-Nya. 

Silih bergantinya antara kebahagiaan dan kesempitan hidup memiliki hikmah tersendiri, yang kadang-kadang sulit dicerna kecuali oleh orang-orang yang diberikan hidayah-Nya. Coba Anda bayangkan, ketika Anda berada dalam masa sulit, siapakah yang pertama kali Anda ingat?  Pasti Allah Swt, karena itu adalah fithrah manusia, yang akan kembali kepada Pencipta-Nya ketika sulit. 

Jikalau seandainya Anda terus-menerus berada dalam kelapangan, tentu Anda akan mudah tergelincir dan merasa hebat, karena Anda tidak pernah merasakan kesusahan sedikitpun. Namun biasanya, kenikmatan itu baru akan terasa nikmat ketika ada kesusahan. 

Oleh karena itu, semua yang menimpa Anda, baik kebahagiaan dan kesusahan, tujuannya hanyalah untuk mendekatkan Anda kepada-Nya. Ingatlah hal itu dan jangan lupakan. Maka Anda akan bahagia selama-lamanya.  

Permintaan Orang yang Arif

Permintaan Orang yang Arif


Hikmah Kedelapan Puluh 

مَطْلَبُ الْعَارِفِيْنَ مِنَ اللهِ تَعَالَى الصِّدْقُ فِي الْعُبُوْدِيَّةِ وَالْقِيَامُ بِحُقُوْقِ الرُّبُوْبِيَّةِ

“Permintaan orang-orang Arif kepada Allah Swt adalah kebenaran dalam Ubidiyyah dan menjalankan hak-hak Rububiyyah.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Orang yang Arif tidak terobsesi meminta sesuatu yang berhubungan dengan dunia. Rasanya sudah menyatu dengan ibadah, sehingga dalam fikirannya yang ada hanyalah ketaatan. Jikalau ada permintaannya, maka itu selalu berhubungan dengan upaya mendekatkan diri kepada-Nya. 

Sosok seperti ini hanyalah meminta kejujuran dalam ibadahnya, yaitu menempatkan-Nya sebagai Zat yang Maha Esa dan satu-satunya Penguasa di alam semesta ini. Ia menyadari bahwa dirinya tidak mampu memberikan mamfaat maupun mudharat kepada siapapun. Ia hanyalah hamba yang lemah dan tidak mampu mnelakukan apapun tanpa seizin-Nya. Oleh karena itu, ia selalu berusaha mengagungkan-Nya dan memuliakan-Nya, menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Ketaatan kepada-Nya adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dengan apapun. 

Ia menghempaskan dirinya di hadapan-Nya untuk menyembah-Nya dan menghadapkan diri kepada-Nya. Jikalau ada yang diinginkan-Nya di dunia ini, maka itu hanyalah keridhoan-Nya. Hak Ubudiyyah adalah hak-Nya semata. Tidak ada seorangpun yang layak dan berhak memilikinya. Itu adalah hak Zat yang Maha Kuasa.  

Harapan dan Amalan

Harapan dan Amalan


Hikmah Ketujuh Puluh Sembilan 

الرُّجَاءُ مَا قَارَنَهُ عَمَلٌ, وَإِلَّا فَهُوَ أُمْنِيَّةٌ

“Harapan adalah sesuatu yang diikuti oleh amalan. Jikalau tidak, maka ia hanyalah angan-angan.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Penyakit orang ingin sukses yang paling berbahaya adalah khayalan tanpa aksi. Berapa banyak orang yang memimpikan sesuatu yang besar dan agung, namun tidak ada aksinya, sehingga cita-cita itu hanya berada dalam penjara angan-angan belaka. 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendapati seorang miskin yang berhasrat menjadi orang kaya dan memperbaiki taraf kehidupannya. Namun karena tidak ada aksi, akhirnya ia hanya merasa dan terus-menerus mencicipi derita kemiskinannya. Jikalau ingin sukses, maka buatlah rencana, matangkanlah dan beraksilah. 

Begitu juga halnya dalam ibadah. Jikalau Anda menginginkan surga atau menjadi hamba-Nya yang dicintai-Nya, kemudian Anda hanya duduk-duduk merenung belaka, tanpa mau mengerjakan amal shaleh, tentu hal itu tidak ada gunanya, bahkan Anda termasuk dalam golongan orang-orang yang bejat dan tidak menggunakan akalnya. 

Jikalau akal Anda berfungsi dengan baik, tentu Anda tidak larut dalam mimpi-mimpi kosong. Padi di sawah tidak akan tumbuh hanya dengan melihat saja, namun harus ditanam terlebih dahulu. 

Ingatlah, berharaplah dan bermimpilah, setelah itu beramallah.