Kuasa Allah Swt Dalam Kebaikan dan Keburukan

Kuasa Allah Swt Dalam Kebaikan dan Keburukan


Hikmah Keseratus Dua Puluh Enam

لَا نِهَايَةَ لِمَذَامِّكَ إِنْ أَرْجَعَكَ إِلَيْكَ, وَلَا تَفْرُغُ مَدَائِحُكَ إِنْ أَظْهَرَ جُوْدَهُ عَلَيْكَ

“Tidak  terhingga celaan bagimu jikalau Allah Swt mengembalikanmu pada dirimu. Dan tidak akan kosong pujian bagimu jikalau Dia menampakkan kemuliaan-Nya kepadamu.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Jikalau semua celaan ditujukan kepada Anda, maka tidak akan ada habisnya. Anda berasal dari tanah dan air mani yang hina-dina, kemudian Anda dikembalikan lagi menjadi tanah. Cobalah Anda perhatikan isi perut Anda, adakah kebaikan di dalamnya dan apakah isinya? Semuanya hanyalah kotoran. Jikalau Anda mau menghitungnya satu persatu, maka Anda tidak akan mampu melakukannya sampai kematian menghampiri Anda. Jadi, janganlah pernah membanggakan apapun yang Anda lakukan dan apapun yang Anda miliki. Prinsipnya, Anda hanyalah hamba yang hina dan kecil di hadapan-Nya. 

Kemudian cobalah Anda perhatikan lagi, bagaimana Dia memuliakan Anda; padahal Anda memiliki jutaan cela dan hina. Dia menjadikan Anda sebagai khalifah-Nya di muka bumi dan mengurus alam semesta yang memberikan berbagai kenikmatan kepada Anda. Semua itu menunjukkan kepada Anda, bahwa hanya Dialah yang Maha Kuasa dan layak menyombongkan diri. Anda tidak memiliki hak sama sekali.  

Allah Swt Memperlihatkan Karunia-Nya

Allah Swt Memperlihatkan Karunia-Nya


Hikmah Keseratus Dua Puluh Lima

إِذَا أَرَادَ أَنْ يُظْهِرَ فَضْلَهُ عَلَيْكَ, خَلَقَ فَنَسَبَ إِلَيْكَ

“Jikalau Allah Swt ingin memperlihatlan karunia-Nya kepadamu, maka Dia akan menciptakan (amalan), kemudian menyematkannya kepadamu.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Janganlah Anda pernah membanggakan amalan-amalan yang Anda kerjakan; apalagi merasa paling bertakwa dan paling selamat. Sebesar apapun amalan yang Anda lakukan, maka itu tidak akan mampu menyelamatkan Anda dari azab-Nya dan mengantarkan Anda menuju surga-Nya. Hanya rahmat-Nya semata-mata yang mampu menyelamatkan Anda. Bagi-Nya, semua itu tidak sebanding dengan selembar sayap nyamuk. 

Ketaatan yang Anda rasakan pada saat sekarang ini adalah nikmat-Nya yang paling besar dan berharga buat Anda. Jikalau Dia tidak menginginkan Anda taat, maka Andapun sama sekali tidak akan tergerak menjalankannya. 

Oleh karena itu, syukurilah anugerah ini, yaitu ketika Dia memberikan Anda taufik buat beribadah, dan menyematkan Anda sebagai bagian dari hamba-hambaNya yang mau menyerahkan diri kepada-Nya. 

Janganlah Anda meremehkan orang lain yang berada di sekitar Anda, yang belum mau atau belum sempat menjalankan ketaatan. Serulah mereka terus-menerus, dan jangan menghakimi. Kuncinya hanya satu, jikalau Dia menginginkannya taat menjalankan perintah-Nya, maka ia akan sendirinya akan berubah dan menjadi hamba-Nya yang shaleh. 

Allah Swt yang Akan Membalas

Allah Swt yang Akan Membalas


Hikmah Keseratus Dua Puluh Empat

لَا تَطْلُبْ عِوَضًا عَلَى عَمَلٍ لَسْتَ لَهُ فَاعِلًا, يَكْفِي مِنَ الْجَزَاءِ لَكَ عَلَى الْعَمَلِ أَنْ كَانَ لَهُ قَابِلًا

“Janganlah menuntut balasan terhadap suatu amalan yang engkau tidak mengerjakannya. Cukuplah balasan bagiku untuk suatu amalan, jikalau Allah Swt menerimanya.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Janganlah Anda menuntut balasan terhadap amalan yang tidak Anda kerjakan. Jikalau Anda menjawab, bahwa Anda telah mengerjakan ini dan ini, apakah Anda sudah boleh menuntut balasan dari Allah Swt?

Tidak, sama sekali Tidak. Anda tidak boleh menuntut balasan-Nya atas amalan yang Anda kerjakan. Walaupun Anda bergerak dan beramal, akan tetapi siapakah memberikan kemampuan Anda untuk mengerjakannya?! Siapa pula Anda, sehingga Anda sombong dan membanggakan amalan yang Anda kerjakan?! Ingatlah, bahwa amalan yang Anda kerjakan sama sekali tidak akan mampu menyelamatkan Anda; walaupun Anda beribadah seumur hidup Anda. Karena yang mampu menyelamatkan Anda adalah rahmat-Nya. Hanya saja, amalan itu adalah jalan untuk mendapatkan-Nya. 

Jikalau amalan yang Anda kerjakan diterima-Nya, maka itu cukup bagi Anda sebagai balasan. Amalan yang Anda kerjakan itu sama sekali tidak sebanding di hadapan-Nya dengan sehelai sayap nyamuk. Sangat kecil dan hina sekali. Oleh karena itu, janganlah Anda pernah membanggakannya. Penerimaan-Nya adalah anugerah besar buat Anda.  

Meminta Balasan Amalan

Meminta Balasan Amalan


Hikmah Keseratus Dua Puluh Tiga

مَتَى طَلَبْتَ عِوَضًا عَلَى عَمَلٍ طُوْلِبْتَ بِوُجُوْدِ الصِّدْقِ فِيْهِ, وَيَكْفِي الْمُرِيْبُ وُجْدَانُ السَّلَامَةِ

“Ketika engkau meminta balasan suatu amalan, engkau dituntut tulus mengerjakannya. Bagi orang yang ragu-ragu, cukuplah baginya keselamatan.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Ketika Anda mengerjakan suatu amal ibadah, kemudian Anda minta balasannya kepada Allah Swt, maka lihatlah terlebih dahulu amalan yang Anda kerjakan itu: Apakah ikhlas atau tidak? Jikalau ikhlas, maka Anda berhak mendapatkan apa yang Anda tuntut. Jikalau tidak, maka itu adalah sebuah kesia-siaan. 

Kenyataannya, amalan yang Anda lakukan itu sama sekali tidak ikhlas. Ketika Anda mengharapkan balasan dari amalan yang Anda kerjakan, itu adalah sebuah sinyalemen bahwa amalan Anda telah disusupi oleh unsur-unsur duniawi atau meteri, sehingga nilai keikhlasannya berkurang, bahkan lenyap sama sekali. 

Bagi orang yang masih ragu-ragu mengenai keikhlasan amalannya, maka baginya yang penting adalah keselamatan. Selama tidak abadi di neraka, maka sudah cukup menenangkan hatinya. Dalam fikirannya, amal ibadah yang telah dikerjakannya, layak untuk diminta balasannya. Ia tidak sadar, bahwa itu adalah salah satu bentuk kekurang ajarannya kepada Allah Swt.  

Sunnah Menyatakan Ridha atas Allah SWT, Islam, dan Rasul-Nya

Sunnah Menyatakan Ridha atas Allah SWT, Islam, dan Rasul-Nya


Man Rabbuka; Siapa Tuhanmu?
Ma Dinuka; Apa Agamamu?
Wa Man Nabiyyuka; Siapa Nabimu?
Itulah tiga pertanyaan akan dipertanyakan kepada kita kelak di Alam Barzakh; Alam kubur. Hal ini dijelaskan dalam riwayat Abu Daud, dari al-Barra' bin 'Azib radhiyallahu anhu, yaitu ketika Rasulullah Saw  berbicara mengenai dua malaikat yang akan bertanya di dalam kubur. 
Tidak ada seorang pun di antara ketika, kecuali akan melalui fase ini. Kelihatannya mudah. Padahal berat. Walaupun kita hafalkan jawabannya di dunia, namun hafalan tersebut tidak akan berguna pada akhirnya. 
Kemudahan itu hanya akan diberikan oleh Allah SWT kepada orang yang diinginkan-Nya, yaitu orang-orang yang selama hidupnya di dunia menyibukkan diri dengan ketiga hal tersebut. 
Nabi Saw mengajarkan kita suatu zikir yang bisa kita baca setiap pagi dan sore, yang akan mengingatkan kita akan tiga pertanyaan di atas nantinya di Alam Barzakh. 
Diriwayatkan oleh al-Thabrani, Rasulullah Saw bersabda, "Siapa yang membaca ketika pagi: 
رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وِبِالإِسْلَامِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا
'Aku ridha Allah SWT sebagai Rabb, Islam sebagai Agama, dan Muhammad sebagai Nabi'
Maka, aku akan menjadi penjaminnya. Aku akan menuntun tangannya sampai aku memasukkannya ke dalam surga." 
Dalam riwayat al-Turmudzi dijelaskan, siapa yang membaca zikir di atas ketika sore, maka ia berhak mendapatkan keridhaan Allah SWT. 
Maka, semoga Allah SWT mudahkan lisan kita mengucapkannya di dunia, kemudian Allah SWT mudahkan kita memahaminya dan mengamalkannya, sehingga dimudahkan nantinya di Alam Barzakh menjawab 3 pertanyaan di atas. [] 
Allah Swt Maha Mengetahui Tentang Anda

Allah Swt Maha Mengetahui Tentang Anda


Hikmah Keseratus Dua Puluh Dua

عَلِمَ وُجُوْدَ الضَّعْفِ مِنْكَ فَقَلِّلْ أَعْدَادَهَا, وَعَلِمَ احْتِيَاجَكَ إِلَى فَضْلِهِ فَكَثَّرَ أَمْدَادَهَا

“Allah Swt mengetahui kelemahan yang ada di dalam dirimu, sehingga Dia meminimalkan bilangannya, dan Dia mengetahui kebutuhanmu akan karunia-Nya, sehingga Dia memperbanyak pahala-Nya.”


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari)]


Allah Swt Maha Mengetahui, bahwa Anda itu lemah dan tidak mampu mengerjakan shalat dalam jumlah yang banyak. Oleh karena itu, Dia menetapkan jumlahnya bagi umat Islam ini sebanyak lima kali sehari-semalam: Subuh, Zuhur, Ashar, Maghrib dan Isya. 

Jikalau dihitung dan diperhatikan sekilas, jumlah sebesar itu tidak akan mampu mengantarkan Anda mendapatkan rahmat-Nya dan karunia-Nya yang Maha Agung. Oleh karena itu juga, Dia memberikan Anda kesempatan untuk memperbanyak pundi-pundi pahala Anda dengan ibadah-ibadah sunnah, seperti shalat sunnah witir, shalat sunnah Tahayyatul Mesjid, shalat sunnah Tahajjud dan sebagainya. 

Semua itu tidak membutuhkan waktu yang banyak untuk mengerjakannya. 

Artinya, Anda sebagai umat Muhammad Saw dimuliakan-Nya dengan limpahan pahala-Nya; walaupun beban kewajiban yang dipikulkan di pundak Anda tidak terlalu banyak dan tidak terlalu berat.  

Peranan Shalat

Peranan Shalat


Hikmah Keseratus Dua Puluh Satu

الصَّلَاةُ مَحَلُّ الْمُنَاجَاةِ وَمَعْدِنُ الْمُصَافَاةِ, تَتَّسِعُ فِيْهَا مَيَادِيْنُ الْأَسْرَارِ وَتَشْرِقُ فِيْهَا شَوَارِقُ الْأَنْوَارِ. 

“Shalat adalah tempat bermunajat dan lahan membersihkan diri. Di dalamnya ada medan rahasia yang luas dan kilauan cahaya yang bersinar terang.”


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari)]


Shalat yang Anda kerjakan lima kali sehari-semalam adalah tempat bermunajat seorang hamba kepada Allah Swt. Itu adalah masa ketika ia menghabiskan waktunya berkhalwat bersama kekasihnya, mengadukan segala hajatnya dan menyampaikan segala keluh-kesahnya. 

Shalat juga merupakan lahan seorang hamba untuk membersihkan hatinya dari semua bentuk dosa dan maksiat yang akan mengotori hatinya, membuatnya terhijab dan semakin jauh dari hidayah-Nya. Jikalau mata buta, itu adalah sebuah musibah. Namun jikalau mati yang buta, maka musibahnya lebih besar lagi. 

Ketika Anda mengerjakannya, maka Anda sedang membaca dan mengkaji kitab segala rahasia yang ada di alam semesta ini, baik di langit maupun di bumi. Bukankah Anda mengenal Malaikat, Jin dan sejenisnya dari Al-Quran? Bukankah Anda dapat mengetahui beragai jenis ilmu pengetahuan yang sebelumnya tidak diketahui manusia dari Al-Quran?  Bukanlah Anda mengetahui hidayah, taufik, kelapangan jiwa dan sebagainya dari Al-Quran? Yah, Al-Quran adalah medan segala rahasia. Jikalau Anda mampu mengkajinya dan mendalami, maka Anda akan mengetahui rahasia-rahasia itu.

Pancaran cahaya Allah Swt ada di dalam shalat yang Anda kerjakan. Semakin Anda rajin mengerjakannya, maka semakin besar harapan Anda mendapatkan cahaya-Nya. Jikalau Anda sudah mendapatkan-Nya, maka segala rasa duniawi yang masih tersimpan di dalam diri Anda akan lenyap sedikit demi sedikit, sehingga Anda benar-benar merasakan kelezatan ibadah bersama-Nya.