Sunnah Berusaha Mendapatkan Lailatul Qadar
.jpg)
.jpg)
.png)
Keinginan Mengetahui Keistimewaan Diri
اسْتِشْرَافُكَ أَنْ يَعْلَمَ الْخَلْقُ بِخُصُوْصِيَّتِكَ دَلِيْلٌ عَلَى عَدَمِ صِدْقِكَ فِي عُبُوْدِيَّتِكَ
“Keinginanmu agar para makhluk mengetahui kekhususanmu adalah tanda ketidaktulusanmu dalam ibadahmu.”
Ibn Athaillah al-Sakandari
(Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari)
Keingian Anda agar dikenal sebagai orang istimewa di hadapan Allah Swt adalah tanda ketidak tulusan ibadah Anda. Jikalau Anda tulus, maka Anda tidak akan memperdulikan pandangan orang lain. Konsentrasi Anda hanya tertuju untuk-Nya. Walaupun orang lain tahu atau tidak, bagi Anda bukanlah sebuah masalah.
Hanya Dia lah yang akan menilai amalan Anda, bukan manusia. Jikalau, misalnya, Anda ingin dikenal orang lain, namun Dia tidak menginginkannya, maka Anda tidak akan pernah dikenal; walaupun Anda telah promosi kesana dan kemari. Sebaliknya, jikalau Dia menginginkan Anda untuk terkenal; walaupun Anda tidak menginginkannya, maka Anda akan terkenal dengan sendirinya. Keutamaan dan kemuliaan itu berada di tangan-Nya. Dia akan memberikannya kepada siapapun yang diinginkan-Nya.
Hati-hatilah dengan jebakan ini, karena sudah banyak orang yang terjerumus ke dalamnya. Hanya orang-orang pilihan-Nya lah yang mampu menghindarinya.
.png)
Riya
رُبَمَا دَخَلَ عَلَيْكَ الرِّيَاءُ مِنْ حَيْثُ لَا يَنْظُرُ الْخَلْقُ إِلَيْكَ
“Bisa jadi riya itu menyusup ke dalam dirimu dari arah yang tidak terlihat oleh para makhluk.”
Ibn Athaillah al-Sakandari
(Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari)
Riya adalah salah satu bentuk kesyirikan yang dibenci oleh Allah Swt. Ia tidak tampak jikalau dilihat dengan mata telanjang, namun ia bisa dirasakan oleh pelakunya sendiri. Sikap ini harus dijauhkan dan dihindari oleh setiap hamba, agar amalan yang dikerjakannya tidak sia-sia dan beterbangan layaknya debu ditiup angin.
Riya ini biasanya akrab dengan sikap menampakkan ibadah atau ketaatan di hadapan orang banyak. Misalnya, ketika Anda shalat, maka Anda sengaja mengerjakannya di hadapan khalayak ramai dengan penuh kekhusyuan dan dipanjangkan waktunya, agar mereka mengira Anda orang shaleh yang layak dicontoh dan dihormati.
Namun ada satu sikap yang lebih sulit lagi dicerna, yaitu ketika Anda menghindari riya justru untuk riya. Apakah Anda bisa memahaminya?
Jikalau belum, begini gambarannya. Ketika Anda mengerjakan shalat, Anda sengaja menghindari khalayak agar tidak disangka riya.
Kemudian Anda sengaja berkhalwat dan menyendiri, namun di balik semua itu Anda justru ingin dilihat orang lain dan dipuji. Anda ingin menjadi buah bibir manusia: “Lihatlah si Fulan bin Fulan. Ia sangat rajin beribadah dan berkhalwat. Kita memang tidak menyaksikan ibadahnya di depan umum, karena ia melakukannya secara sembunyi-sembunyi.”
Jikalau ada rasa ingin dipuji di baliak khalwat yang Anda lakukan, maka disanalah riya yang tidak dilihat oleh khalayak. Justru sikap ini lebih
berbahaya lagi dari riya yang dilakukan di hadapan orang banyak. Jikalau Anda tidak segera menyadarinya, maka Anda akan larut di dalamnya. Akhirnya, amal ibadah yang Anda kerjakan akan sia-sia belaka. Apalah gunanya amalan yang tidak ada nilainya sama sekali di hadapan sang Khalik?!
Berhati-hatilah. Jangan sampai Anda masuk ke dalam perangkat setan.
.png)
Peran Nafsu Dalam Maksiat dan Ketaatan
حَظُّ النَّفْسِ فِي الْمَعْصِيَةِ ظَاهِرٌ جَلِيٌّ, وَحَظُّهَا فِي الطَّاعَةِ بَاطِنٌ خَفِيٌّ. وَمُدَاوَاةُ مَا يَخْفَى صَعْبٌ عِلَاجُهُ
“Peran nafsu dalam maksiat itu jelas dan nyata, sedangkan perannya dalam ketaatan itu tidak tampak dan tersembunyi. Memperbaiki sesuatu yang tersembunyi tentu lebih sulit.”
Ibn Athaillah al-Sakandari
(Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari)
Peran nafsu dalam maksiat sangat kentara sekali. Bahkan semua maksiat yang Anda lakukan, maka motor utamanya adalah nafsu. Jikalau Anda mencuri, maka itu adalah dorongan nafsu mendapatkan harta. Jikalau Anda berzina, maka itu adalah dorongan nafsu syahwat. Jikalau Anda mencaci dan menghina orang lain, maka itu adalah dorongan nafsu dominasi. Siapapun bisa mengenal hal ini, bahkan anak kecil sekalipun.
Namun jikalau Anda ingin membahas peran nafsu dalam ketataan, maka itu sangat sulit diketahui, kecuali oleh Allah Swt dan Anda sendiri. Jikalau Anda bertanya kepada orang lain, maka ia tidak akan mengetahuinya sama sekali. Bagaimana mungkin ia akan mengetahui ada nya peran nafsu dalam diri Anda, ketika Anda beribadah? Ini adalah urusan hati, dan merupakan perkara ghaib.
Banyak di antara Ahli Ibadah yang mampu menghindarkan dirinya dari peranan nafsu dalam maksiat, namun tidak banyak yang mampu menyelamatkan dirinya dari peranan nafsu dalam keataatan. Sebagaimana Anda ketahui, jikalau ada seorang hamba yang rajin beribadah dan selalu menjalankan ketaatan kepada-Nya, maka segenap manusia akan menghormati dan mengagungkannya.
Acap kali hal-hal seperti ini justru mendorong ibadah Anda disusupi oleh nafsu, yaitu nafsu ketenaran. Hati-hatilah dengan masalah sepele seperti ini, karena justru akan menyedot amal kebajikan Anda, sehingga tidak ada lagi yang tersisa sedikitpun.
Beribadahlah dengan tulus karena mengharapkan ridho-Nya. Jangan sampai nafsu berperan dalam ketaatan Anda, karena itu akan sangat merugikan Anda. Bukan saja di dunia, namun juga di akhirat kelak. Di dunia, Anda hanya akan mendapatkan kelelahan semata. Tidak ada pahala yang Anda dapatkan. Di akhirat, Anda akan mendapatkan siksaan-Nya, karena Anda telah memperserikatkan-Nya dengan tujuan lainnya, yaitu ketenaran. Ibadah yang Anda lakukan, tidak ada artinya sama sekali.
.png)
Mengetahui Rahasia Para Hamba
مَنْ اطَّلَعَ عَلَى أَسْرَارِ الْعِبَادِ وَلَمْ يَتَخَلَّقْ بِالرَّحْمَةِ الْإِلَهِيَّةِ, كَانَ اطِّلَاعُهُ فِتْنَةً عَلَيْهِ وَسَبَبًا لِجَرِّ الْوَبَالِ عَلَيْهِ
“Barangsiapa yang mampu mengetahui rahasia para hamba; namun ia tidak berakhlak dengan kasih sayang ilahy, maka kemampuannya itu justru akan menjadi fitnah baginya dan sebab yang akan mendatangkan bencana baginya.”
Ibn Athaillah al-Sakandari
(Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari)
Rahasia seorang manusia, tentu mengandung dua unsur utama, ada yang baik dan ada yang buruk. Jikalau Ada seseorang yang mengetahui rahasia seorang hamba, atau manusia lainnya, kemudian ia tidak berakhlak dengan kasih sayang Allah Swt, maka kemampuannya itu justru akan menjadi fitnah baginya dan akan mendatangkan bencananya.
Apakah Anda tidak memperhatikan bagaimana sifat Allah Swt, Zat yang Maha Mengetahui segala sesuatu?
Dia mengetahui apa aja yang ada di bumi ini. Semua yang Anda lakukan, baik dan buruk diketahui-Nya dengan sejelas-jelasnya. Namun Dia tidak membocorkan keburukan Anda kepada orang lain, sehingga Anda menjadi malu dan tidak mau berhadapan dengan khalayak. Dia justru menampakkan kebaikan Anda, sehingga Anda dihormati dan disegani; padahal di balik semua itu ada bau busuk yang ditutupi-Nya.
Begitulah hendaknya sikap seorang hamba terhadap saudaranya. Jikalau Anda mengetahui rahasia saudara Anda, maka simpanlah baik-baik dan jangan menyebarkannya. Dalam sebuah hadits dijelaskan, bawa barangsiapa yang menutupi aib sadaranya, maka Dia akan menutupi aibnya di akhirat kelak.
Jikalau Anda menyebarkannya, maka kemampuan Anda itu justru akan menjadi fitnah di hadapan manusia, karena Anda akan dicelanya dan dicacinya. Tidak ada seorangpun manusia di dunia ini yang selamat dari kesalahan, termasuk Anda sendiri. Selain itu, tindakan Anda ini juga akan mendatangkan musibah. Semakin banyak orang yang benci kepada Anda, karena Anda menyebarkan rahasia buruknya, maka semakin terancam jiwa Anda. Bisa jadi Anda dilukai, dijelek-jelekkan, bahkan di bunuh. Itu baru di dunia, di akhirat kelak, Anda akan mendapatkan azab yang lebih pedih.
Renungkanlah baik-baik. Jangan sampai tindakan buruk Anda, justru akan menjadi penyesalan yang tiada berguna lagi.
.png)
Antara Rahasia Malakut dan Rahasia Hamba
رُبَمَا أَطْلَعَكَ عَلَى غَيْبِ مَلَكُوْتِهِ وَحَجَبَ عَنْكَ الْاِسْتِشْرَافَ عَلَى أَسْرَارِ الْعِبَادِ
“Bisa jadi Allah Swt memperlihatkan kepadamu keghaiban malakut-Nya, akan tetapi menghijabmu untuk mengetahui rahasia-rahasia para hamba-Nya.”
Ibn Athaillah al-Sakandari
(Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari)
Mungkin Anda mampu mengetahui rahasia-rahasia yang ada di alam semesta ini; padahal ia jauh dari Anda, namun Anda tidak mampu mengetahui rahasia-rahasia yang ada di dalam diri seorang hamba; padahal ia dekat dari Anda. Ini adalah ketetapan Allah Swt yang pasti ada hikmahnya. Hanya saja kadang-kadang Anda mampu mengetahuinya, dan kadang-kadang Anda lemah memikirkannya.
Cobalah Anda fikirkan sejenak. Anda mampu mengetahui keghaiban malakut-Nya, namun tidak mampu mengetahui rahasia para hamba-Nya. Ada ada sebenarnya?
Jenis yang pertama begitu jauh dari Anda, bahkan Anda tidak mampu menjangkaunya sama sekali dengan tangan Anda. Sedangkan jenis kedua begitu dekat dari Anda, bahkan ia berada di hadapan Anda. Anda bisa menyentuhnya, menyalaminya, bahkan memukulnya. Hanya saja, Anda tidak mampu menyelami apa yang ada di dalam jiwanya.
Walaupun begitu, Anda harus tetap tulus dan ikhlas dalam menjalankan ibadah kepada-Nya. Berusaha terus dengan penuh kesungguhan untuk mendapatkan cahaya-Nya. Hanya dengan itu Anda akan mampu menyibak rahasia di balik sebuah benda atau peristiwa.
.png)
Tanda Wali Allah Swt
سُبْحَانَ مَنْ لَمْ يَجْعَلِ الدَّلِيْلَ عَلَى أَوْلِيَائِهِ إِلَّا مِنْ حَيْثُ الدَّلِيْلُ عَلَيْهِ وَلَمْ يُوْصِلْ إِلَيْهِمْ إِلَّا مَنْ أَرَادَ أَنْ يُوَصَّلَهُ إِلَيْهِ
“Maha Suci Allah Swt yang tidak menjadikan tanda wali-waliNya, kecuali dengan tanda diri-Nya. Dan tidak akan sampai kepada meraka, kecuali orang yang diinginkan-Nya untuk sampai kepada-Nya.”
Ibn Athaillah al-Sakandari
(Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari)
Para wali Allah Swt adalah orang-orang yang memiliki kedudukan khusus di sisi-Nya. Mereka telah mendapatkan cahaya-Nya, mengetahui hikmah dan rahasia yang ada di balik sebuah peristiwa. Jikalau ada yang bertanya kepada Anda, apakah ciri-ciri seorang wali?
Jawablah, bahwa ia tidak memiliki tanda-tanda khusus yang diketahui seluruh manusia. Allah Swt menjadikan diri-Nya sebagai tanda bagi para wali-Nya. Artinya, jikalau Anda mengenal-Nya, maka Anda akan mengenal wali-Nya.
Sangat tepat jikalau ada seorang ulama yang mengatakan:
“Jikalau Anda melihat seseorang, kemudian Anda lansung mengingat Allah Swt, maka ketahuilah bahwa ia adalah wali-Nya.”
Tidak semua orang bisa menemui wali-Nya, karena sulit menemukannya di tengah keramaian. Ia berpenampilan layaknya manusia biasa. Hanya orang-orang yang telah ditentukan Allah Swt yang bisa menemui-Nya, agar bisa memohon doanya demi kebaikannya di dunia dan di akhirat. Ia akan selalu menunjuki manusia menuju kebenaran. Belajarlah kepadanya, agar Anda sampai kepada-Nya.