Penyebab Amalan Anda Diterima

Penyebab Amalan Anda Diterima


Hikmah Keseratus Tiga Puluh Tiga

لَوْ لَا جَمِيْلُ سِتْرِهِ, لَمْ يَكُنْ عَمَلٌ أَهْلًا لِلْقَبُوْلِ

“Jikalau bukan karena keindahan tutup Allah Swt, maka tidak akan ada amalan yang layak diterima.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Jikalau Anda merasa bahwa semua amalan yang Anda lakukan layak diterima karena kesucian diri Anda dari aib dan kesalahan, maka Anda salah kaprah. Ketahuilah, bahwa amalan Anda layak diterima oleh Allah Swt, karena Dia menutupi aib Anda. 

Janganlah Anda pernah merasa lebih suci dan bersih dari orang lain. Jangan pernah merasa Anda tidak berdosa. Jangan pernah merasa Anda lebih shaleh. Bisa jadi orang yang Anda anggap remeh, lebih baik dari Anda di hadapan-Nya. Dan bisa jadi Anda sendiri lebih buruk di hadapan-Nya; walaupun Anda sudah merasa hebat. 

Apakah Anda tidak menyadari, berapa banyak aib dan kesalahan yang Anda lakukan dalam setiap detik kehidupan Anda? Jikalau seandainya kesalahan itu berbau, maka tidak akan ada yang berani mendekati Anda karena baunya yang luar biasa busuk. Santai sajalah dan jangan merasa lebih baik dari orang lain. Biarkanlah Dia yang menilai, karena Dialah Zat yang Maha Menguasai segala sesuatu. 

Semua amalan yang Anda dikerjakan layak diterima-Nya, karena rahmat-Nya semata-mata. Jikalau hanya mengandalkan diri Anda sendiri, maka tidak akan satu amalanpun yang layak diterima. Semuanya busuk, dan tempat terbaiknya adalah tong sampah. 

Rendahkanlah diri Anda. Tawadhullah kepada Allah Swt dan para hamba-Nya.  

Mencapai Allah Swt

Mencapai Allah Swt


Hikmah Keseratus Tiga Puluh Dua

لَوْ أَنَّكَ لَا تَصِلُ إِلَيْهِ إِلَّا بَعْدَ فَنَاءِ مَسَاوِيْكَ وَمَحْوِ دَعَاوِيْكَ, لَمْ تَصِلْ إِلَيْهِ أَبَدًا. وَلَكِنْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُوَصِّلَكَ إِلَيْهِ, غَطَّى وَصْفَكَ بِوَصْفِهِ وَنَعْتَكَ بِنَعْتِهِ, فَوَصَّلَكَ إِلَيْهِ بِمَا مِنْهُ لَا بِمَا مِنْكَ إِلَيْهِ

“Jikalau engkau meyakini bahwa engkau tidak akan sampai kepada Allah Swt kecuali setelah lenyapnya keburukan-keburukanmu dan terhapusnya persangkaan-persangkaanmu, maka engkau tidak sampai kepada-Nya selama-lamanya. Akan tetapi jikalau Dia ingin menyampaikanmu kepada-Nya, maka Dia akan menutupi sifatmu dengan sifat-Nya, dan watakmu dengan watak-Nya. Kemudian Dia akan menyampaikanmu kepada-Nya dengan apa yang berasal dari-Nya, bukan dengan apa yang engkau persembahkan untuk-Nya.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Jikalau Anda menyangka, bahwa Anda tidak akan pernah mencapai Marifat, kecuali setelahnya lenyapnya segala keburukan yang ada di dalam diri Anda, baik lahir maupun batin, atau setelah terhapusnya segala persangkaan buruk yang diucapkan lisan Anda, maka ketahuilah bahwa Anda tidak akan pernah mencapai Marifat-Nya. Tidak sekarang, dan tidak juga esok hari, bahkan tidak untuk selama-lamanya. 

Apa yang Anda banggakan dari kebaikan Anda? Apakah Anda menyangka, bahwa semua kebaikan dan ibadah yang Anda lakukan akan mampu mengantar Anda menuju Marifat-Nya? Tidak, sekali lagi tidak. Walaupun Anda mempersembahkan seluruh hidup Anda untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka itu tidak akan menjamin Anda sedikitpun bisa meraihnya. 

Ketahuilah, bahwa rahmat-Nya lah yang akan mengantarkan Anda menuju Marifat-Nya, bukan selainnya. Jikalau Dia menginginkan Anda sampai kepada-Nya, maka Anda akan sampai; walaupun amalan Anda masih sedikit dan kecil dalam pandangan Anda. 

Jikalau Anda adalah orang yang masuk dalam kategori pilihan-Nya, maka Dia akan menyampaikan Anda kepada-Nya dengan cara-Nya sendiri, yaitu dengan menutupi sifat Anda yang hina dengan sifat-Nya yang mulia, dan watak Anda yang rendah dengan watak-Nya yang agung. Pada saat itu, Anda akan mendapatkan kebahagiaan luar biasa. Anda menjadi bagian dari para hamba-Nya yang dekat kepada-Nya. 

Jikalau Anda berkata, maka kata-kata yang Anda keluarkan adalah mutiara yang berada di bawah aturan-Nya. Jikalau Anda berbuat dan bertindak, maka tidak keluar dari jalur yang tentukan-Nya. 

Point penting yang perlu Anda ingat. Anda tidak akan pernah sampai kepada-Nya dengan amalan yang Anda kerjakan. Tidak, dan tidak akan pernah selama-lamanya. Anda hanya akan sampai kepada-Nya dengan rahmat-Nya.  

Cepatnya Pengabulan Doa

Cepatnya Pengabulan Doa


Hikmah Keseratus Tiga Puluh Satu

مَا طُلِبَ لَكَ شَيْءٌ مِثْلُ الْاِضْطِرَارِ, وَلَا أَسْرَعَ بِالْمَوَاهِبِ إِلَيْكَ مِثْلُ الذِّلَّةِ وَالْاِفْتِقَارِ

“Tidak ada sesuatu yang bisa membuat permintaanmu terkabulkan layaknya keadaan darurat, dan tidak ada sesuatu yang membuatmu mendapatkan pemberian lebih cepat layaknya rasa hina dan rasa butuh.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]

 

Jikalau Anda menginginkan permintaan Anda dikabulkan oleh Allah Swt, maka salah satu point yang perlu Anda ingat adalah Anda sangat membutuhkan-Nya. Tampakkanlah kepada-Nya bahwa Anda membutuhkan-Nya. Anda hanyalah hamba yang lemah dan fakir, yang tidak memiliki apapun. 


Cobalah Anda perhatikan kisah-kisah kehidupan sehari-hari yang beredar luas di kalangan masyarakat. Kapanlah seorang manusia merasa dekat kepada-Nya? Jawabannya adalah ketika membutuhkan. Ketika Anda lapar dan tidak pernah mencicipi makanan selama beberapa hari, maka kepada siapakah Anda mengadu di setiap desah nafas Anda. Bukankah kepada-Nya?! Ketika Anda sakit keras dan di ujung kematian, bukankah Anda memohon kepada-Nya?!


Yah, kebutuhan Anda yang luar bisa kepada-Nya adalah jalan pengabulan doa Anda. Pada saat itu Anda benar-benar hina dan rendah di hadapan-Nya. Tidak ada tempat yang bisa Anda jadikan sandaran kecuali diri-Nya. Dan tidak ada tempat yang bisa Anda jadikan tempat mengadu kecuali kepada-Nya. Di saat itulah Dia akan menunjukan kuasa-Nya kepada Anda.  

Adab Baik Bersama Allah Swt

Adab Baik Bersama Allah Swt


Hikmah Keseratus Tiga Puluh

مَا الشَّأْنُ وُجُوْدُ الطَّلَبِ, وَإِنَّمَا الشَّأْنُ أَنْ تُرْزَقَ حُسْنَ الْأَدَبِ

“Yang penting bukanlah sekedar meminta, akan tetapi yang paling penting adalah engkau dikaruniai adab yang baik.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Ibadah memang penting, dan lebih penting lagi adalah adab bersama Allah Swt. Jikalau Anda beribadah tanpa ada adabnya sama sekali, maka nilai yang Anda dapatkan adalah nol besar. Anda mungkin terbebas dari kewajiban yang dibebankan-Nya, akan tetapi Anda tidak berhak mendapatkan pahala, bahkan bisa jadi amalan yang Anda lakukan sia-sia belaka. 


Jagalah adab bersama-Nya dalam hal dan perbuatan apapun yang Anda lakukan. Bukan cuma lahirnya, akan tetapi juga batinnya. Jikalau Anda beribadah, maka jangan hanya melakukannya di hadapan orang banyak; sedangkan jikalau sendirian Anda tidak melakukannya. Jikalau bersedekah, maka lakukanlah secara sembunyi dan secara terang-terangan. 


Mungkin kebanyakan di antara kita, lebih bisa menampakkan keshalehan di hadapan orang banyak, namun ketika sendirian justru yang terjadi sebaliknya. Jikalau shalat di hadapan orang banyak, mungkin kita mampu mengerjakan shalat sunnah dengan jangka waktu yang panjang dan jumlah rakaat yang banyak. Akan tetapi ketika sendirian, maka jumlah rakaatnya sedikit dan waktunya pun sempit. Ini memang hal yang lumrah, karena iman terus mengalami fluktuasi: naik dan turun. Namun sebagai hamba-Nya, kita harus tetap berusaha mempertahankannya berada di puncak, baik ketika sendirian maupun di hadapan khalayak. 


Marilah kita selalu menjaga adab yang baik bersama-Nya, karena itulah ibadah hakiki.  

Memimpikan Hal Luar Biasa

Memimpikan Hal Luar Biasa


Hikmah Keseratus Dua Puluh Sembilan

كَيْفَ تُخْرَقُ لَكَ الْعَوَائِدُ وَأَنْتَ لَمْ تَخْرَقْ مِنْ نَفْسِكَ الْعَوَائِدُ

“Bagaimana mungkin engkau akan mendapatkan hal-hal yang luar biasa; sementara engkau tidak melepaskan kebiasan-kebiasaan buruk dari dirimu.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Anda mungkin ingin mendapatkan hal-hal luar biasa, yang kita kenal dengan nama karamah, layaknya para wali. Anda mungkin berharap bisa menembus api, atau terbang di udara, atau berjalan di atas air, atau hal-hal menakjubkan lainnya. 


Ingatlah, Anda tidak akan pernah bisa mendapatkannya selama Anda belum meninggalkan nafsu syahwat Anda dan mengerahkan segenap usaha Anda untuk Allah Swt semata. Jikalau Anda beribadah, maka janganlah menyusupinya dengan keinginan-keinginan duniawi. Ikhlaslah, dan janganlah riya. Jikalau Anda menunaikan haji, maka janganlah sekedar ingin dipuji saja, atau dihormati di tengah masyarakat. Jikalau Anda mengerjakan shalat, maka jangan semata-mata karena ingin dianggap shaleh.


Tidak, sekali lagi tidak. Tinggalkan semua hasrat-hasrat kotor Anda yang dibisikkan setan. Jikalau Anda menurutinya, maka selama-lamanya akan berada di jurang kebobrokan dan kehinaan. Anda hanya akan menjadi hamba-Nya yang biasa saja, dan tidak memiliki kedudukan istimewa di hadapan-Nya. 


Dambakanlah hal-hal yang luar biasa, dan tinggalkanlah hal-hal yang membuat Anda binasa.  

Mengklaim Memiliki Sifat Allah Swt

Mengklaim Memiliki Sifat Allah Swt


Hikmah Keseratus Dua Puluh Delapan

مَنَعَكَ أَنْ تَدَّعِي مَا لَيْسَ لَكَ مِمَّا لَيْسَ لِلْمَخْلُوْقِيْنَ, أَفَتُبِيْحُ أَنْ تَدَّعِي وَصْفَهُ وَهُوَ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ

“Allah Swt melarangmu untuk menklaim sesuatu yang bukan milikmu. Apakah engkau boleh mengklaim sifat-Nya, padahal Dia adalah Tuhan semesta alam.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Apakah Anda pernah mencoba menklaim memiliki barang orang lain? Apakah yang terjadi? Bukankah mereka akan marah?! Allah Swt melarang Anda mengklaim sesuatu yang bukan milik Anda, baik harta, istri, anak-anak dan sebagainya. Coba saja Anda bayangkan, bagaimana jikalau Anda menklaim istri teman Anda adalah istri Anda. Bukankah Anda ia akan menghajar Anda habis-habisan?!


Sekarang, marilah kita analogikan dengan seseorang yang mengklaim memiliki sifat-sifat yang khusus hanya dimiliki oleh Allah Swt. 


Misalnya, seorang laki-laki mengklaim bahwa bahwa ia bisa menciptakan makhluk hidup layaknya manusia. Tentu ini melanggar salah satu sifat-Nya, yaitu menciptakan. Tentu Dia akan murka kepada Anda. Sama halnya dengan Firaun yang menklaim bahwa dirinya adalah Tuhan. 


Ini adalah bentuk perampasan hak-Nya.  

Rububiyyah dan Ubudiyyah

Rububiyyah dan Ubudiyyah


Hikmah Keseratus Dua Puluh Tujuh

كُنْ بِأَوْصَافِ رُبُوْبِيَّتِهِ مُتَعَلِّقًا وَبِأَوْصَافِ عُبُوْدِيَّتِكَ مُتَحَقِّقًا

“Bergantunglah dengan sifat-sifat Rububiyyah Allah Swt, dan wujudkanlah sifat-sifat Ubudiyyahmu.” 


(Ibn Athaillah al-Sakandari)

[Kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari]


Sebagaimana Anda ketahui, bahwa Allah Swt memiliki sifat-sifat mulia yang sangat banyak sekali. Masing-masing nama-Nya memiliki sifat sendiri, ditambah dengan sifat lainnya yang tidak ada penamaannya. Sebagai hamba-Nya, Anda harus memberikan hak setiap sifat-Nya itu. 

Misalnya, jikalau Anda melihat seseorang meninggalkan perintah-Nya dan melanggar larangan-Nya, atau melanggar sesuatu yang berkaitan dengan kehormatan-Nya, maka marahlah karena diri-Nya. Bukanlah salah satu sifat-Nya adalah murka kepada sesuatu yang dibenci-Nya. 

Jikalau Anda melihat seorang miskin yang sedang meminta-minta dan kelaparan, maka berikanlah sebahagian rezki-Nya yang dititipkan kepada Anda. Bukankah salah satu sifat-Nya adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang?! Jikalau Anda melihat seseorang yang shaleh dan taat menjalankan perintah-Nya, maka cintailah dirinya. Bukankah salah satu sifat-Nya adalah mencintai para hamba-Nya yang shaleh?!

Yah, berikan hak setiap sifat-Nya, dan janganlah Anda melalaikannya begitu saja. Dan ingatlah, ketika Anda melakukannya, maka niatkanlah untuk ibadah dan menunjukkan pengabdian Anda kepada-Nya. Insya Allah, Anda akan mendapatkan kedudukan khusus di sisi-Nya.